Berkunjung ke Macao-Shenzhen-Hong Kong vice versa itu repot, karena cuma dalam waktu 4 hari. Repotnya karena melewati proses antrian pemeriksaan di bagian imigrasi. Kesimpulan singkat perjalanan saya kali ini adalah tour-dari-imigrasi-ke-imigrasi-bolak-balik-dekok. Kalau langsung bablas saja sih bisa cepat sepertinya. Tiga region yang saya kunjungi ini tergolong dekat satu sama lain, apalagi kalau mau banding-bandingan dengan China Mainland yang segede gede banget itu. Soal imigrasi tur ini dikarenakan Macao dan Hong Kong adalah ‘Special Administative Region of the people’s Republic of Chine’ dan orang-orang yang keluar masuk region tersebut sama saja dengan proses melewati negara lain.
Hari pertama saya tiba di Macao, dengan pesawat Viva Macao -yang pramugarinya tidak melulu berwajah oriental tapi juga ada yang berwajah barat. Wah malah ada satu pramugara yang cuakep banget euy, membuat perjalanan lima jam Jakarta – Macao serasa lima menit saja (ingat hukum Relativitas dari Om Einstein!). Di Viva Macao ini, pemberitahuan dan pengumuman dikumandangkan/disuarakan/dibacakan dengan 4 bahasa; Inggris, Portugis, Mandarin, dan Cantonese. Portugis? aha ternyata pas mendarat saya baru tahu bahwa Macao, yang dijajah selama 450 tahun oleh Portugis (lamaan Portugis ya dengan Belanda di Indonesia, selisihnya sampai seratus tahun), memakai dua bahasa dimana-mana; di papan penunjuk jalan, di toilet, judul gedung, pokoknya dimana-mana deh -yaitu Portugis dan Mandarin. Menurut Henry Wu; pemandu wisata kita dari Shenzhen (yang ternyata bisa bahasa Sunda karena pernah tinggal di Karasak – Bandung), dan juga menurut Ca Ca (pemandu wisata dari Macao yang suka tertawa heboh dan aneh sendiri); banyak penduduk Macao yang menguasai lebih dari dua bahasa selain Portugis dan Mandarin. Ternyata bahasa Portugis pun masih dipakai sebagai bahasa resmi di pemerintahan selain bahasa Mandarin tentu saja. Bahasa Inggris dipakai untuk perdagangan, wisata, dan bisnis, dan Bahasa Cantonese sebagai bahasa sehari-hari yang dipakai secara umum. Oooo begitu tah.
Macao adalah kota yang cantik, romantis, judi, dan panas. Cantik, karena banyak bangunan khas Cina dan juga khas Eropa; yang berlengkung-lengkung indah seperti di Katedral itu. Romantis, karena mengingatkan saya pada Chow Yun Fat, si Chubby cakep di film God of Gamblers itu. Juga karena jalanan berbatu-batu di antara bangunan-bangunan menjulang mirip lukisan tentang kota tua Eropa yang saya suka. Judi, ya karena dimana-mana casino pabalatak. Hotel-hotel berbintang di brosurnya rata-rata menyebutkan siap sedia dengan casino yang berada di satu gedung dengan hotel. Panas? hooi..memang panas banget! Setelah jalan-jalan sedikit , saya selalu langsung sakaw es krim. O ya ternyata tulisan Macao sering tidak konsisten. Kadang Macau kadang Macao. Mana yang bener yah? Menurut cerita penduduk awal Macao adalah nelayan dari Fujian dan petani dari Guangding, yang dulu masih disebut Ou Mun yang berarti ‘gerbang perdagangan’ karena lokasinya yang berada di mulut Sungai Mutiara yang mengalir dari Guangzhou (Canton).
Pada tahun 1550-an orang-orang Portugis mencapai Ou Mun yang oleh penduduk lokal disebut juga sebagai A Ma Gao ‘tempat A Ma’ sebagai penghormatan kepada Goddess of Seafarers -Dewi Para Pelaut- yang kuilnya berdiri tegak di jalan masuk pelabuhan. Orang Portugis mengadopsi nama Ma Gao yang kemudian secara bertahap berubah menjadi Macao atau Macau. Macao tidak luas, hanya sekitar 28,6 km persegi. Jumlah jamleh dari Macao Peninsula, Pulau-pulau Taipa, Coloane, dan COTAI; daratan hasil reklamasi, termasuk bandara Macao ternyata berdiri di atas tanah hasil reklamasi.
Mata uang Macao adalah ‘The Pataca’ (MOP$) terdiri dari 100 Avos dan merupakan mata uang resmi Macao, walaupun di sana, Yuan (RMB) dan Hongkong Dollar (HKD) tetap diterima. MOP 103,20 sama dengan HKD 100 dan berarti IDR 120.000 lah sekitar-sekitar. Secara kasar 8 Patacas sama juga dengan USD 1. Silahkan itung-itungan deh. Kalau saya pribadi rada pabaliut dengan kurs ini. Entah darimana idenya, sewaktu saya sedikit belanja, saya berpikir bahwa 1 yuan itu sama dengan Rp 1850,-jadi sempat serasa diboongi yang katanya harga2 barang-barang di China lebih murah dari Indonesia, kok sama saja. Baru besoknya saya sadar setelah diberitahu teman. Sempat kesal juga sama pedagang, karena pas berantem adu tawar harga, saya pinjem kalkulatornya, dan sewaktu saya kali mengali dengan angka-angka rupiah yang nolnya banyak itu, pedagangnya ngintip, terus dia bilang gini “AHA…I KNOW YOUR COUNTRY!”. Dih.

Pikuniku atau picknique atau piknik atau botram pada hari Minggu kemarin, seperti halnya kebiasaan warga kampung Gajah Bandung seperti biasa dilaksanakan dengan tidak terencana dan terorganisir. Soalnya kalau direncanakan -anehnya- sering tidak jadi. Di pagi hari cerah dan indah itu saya sedang mengetes kemampuan pendengaran saya pada tingkat maksimal dalam menikmati musik berisik, yang mana membuat Drea dan Dimas memilih main layangan di depan rumah daripada menjadi korban kebisingan yang dibuat oleh saya.
Pada acara Telkomsel PIC Gathering kemarin, saya berkesempatan ikut serta pergi kemping ke Situ Gunung, Sukabumi. Pergi dari kantor hari Sabtu kemarin jam 7 pagi. Ternyata Sukabumi – Bandung itu dekat lho. Cuma sekejap. Bener-bener tidak terasa perjalanannya. Soalnya begitu lepas tol Pasteur, saya tidur, dan bangun-bangun sudah sampai di lokasi *malu*. Pake acara mimpi segala malah.