Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya’ Category

Katana dan Samurai

Siapakah mereka? Mereka adalah teman-teman tetangga saya. Tukang maen remi dan truf. Tentu saja bukan. Tapi sebentar sebelum saya cerita-cerita soal nama-nama berbahasa Jepang di atas saya mau cerita pengalaman saya minggu kemarin sewaktu pergi ke Ace Hardware.

Saya berada di lorong yang berisi alat-alat pembersih dan cairan macam-macam itu pembersih perabot dan alat rumah tangga. Melihat wajah saya yang terlihat bingung memilih-milih dan mencari sesuatu, seorang penjaga eh customer service menghampiri saya dengan ramah dengan maksud membantu.

“Cari apa bu?”

“Oh eh, itu pembersih karat….” Jawab saya, terdengar gugup. Aneh kan coba masa harus gugup ditanya begitu saja.

“oh pembersih karat, perlu untuk  bersihin panci barangkali bu?

“mmmm … bukan, saya perlu untuk…. eh anu..bersihin pisau”

“pisau? diasah saja barangkali bu”

duh saya males banget ditanya-tanya begini jadinya.

“anu pisau saya ga bisa sembarang diasah, eh anu sebenernya bukan pisau tapi,… emh itu pedang… pedang katana, saya cari pembersih katana, sebenernya saya cari choji oil, oh ya sudah deh sepertinya engga ada”.

Penjaga yang malang itu cuma terlihat bengong, sepertinya tampang ibu-ibu yang dandan serampangan seperti saya emang ga pantas nyari-nyari pembersih pedang. Choji oil atau bukan. Ya gitu deh. Lagian ibu-ibu kayak saya pantasnya emang beli pembersih perhiasan atau pembersih karpet dan sofa kali.

Jadi gini. Saya memang penggemar pedang, pisau, keris, Damascus dagger, belati, pisau komando, kujang, mandau, Bowie knife, sebutlah apa saja. Tapi bukan berarti punya banyak. Saat ini saya bukan kolektor. Milik saya hanya beberapa bilah pisau (pisau dapur untuk memasak), beberapa keris warisan, belati kecil model patrem yang saya beli di Toraja. Dan sebilah katana kesayangan saya.Disclaimer: saya bukan anggota geng motor.

Orang sering salah sebut katana dengan sebutan samurai.

Begini yah, katana itu artinya pedang. Pedang atau semua senjata berbilah itu sendiri namanya Nihonto. Katana itu adalah sebutan khusus untuk pedang yang digunakan oleh para samurai. Samurai itu sendiri adalah sebutan untuk prajurit militer milik para bangsawan Jepang  jaman dulu.

Termasuk Nihonto adalah semua senjata berbilah seperti Yari : tombak, Naginata : pedang yang bergagang kayu panjang yang digunakan prajurit wanita, dan Wakizashi: pedang pendek, lebih pendek dari Katana, namun lebih panjang dari Tanto: pisau. Gimana sudah cukup pusing mengenal nama-nama senjata Jepang ini? Kalau belum mari kita lanjutkan.

Daisho,pedang berpasangan

Katana biasanya digunakan berpasangan. Katana berpasangan namanya Daisho (seperti nama restoran yah?). Daisho adalah kependekan dari Daito : pedang yang panjang, dan Shoto : pedang pendek. Digabung dengan sebutan Daisho. Daito -nya adalah Katana, dan Shoto – nya adalah Wakizashi. Dipakai oleh para samurai dengan diselipkan di pinggang seperti gambar disamping. Katana tidak boleh dibawa-bawa masuk ke ruang istana pada jaman dulu, hanya pedang pendek yang boleh dibawa masuk.

Wakizashi bukan digunakan untuk senjata tempur. Dia digunakan sebagai back up, pedang cadangan. Digunakan untuk memenggal kepala musuh, atau untuk harakiri: bunuh diri ala Jepang untuk mati demi kehormatan.

Sedangkan Naginata, pedang bergagang panjang ini, awalnya digunakan oleh tentara infanteri, atau apalah namanya tentara yang jalan kaki itu, dan prajurit biarawan atau biksu. Namun pada jaman Edo, Naginata jarang digunakan lagi oleh pria, senjata ini menjadi simbol para samurai wanita dan merupakan lambang status. Anak perempuan daripara  samurai banyak mempelajari penggunaan Naginata ini. Diyakini bahwa Naginata lebih cocok digunakan oleh wanita karena dapat menyerang lawan dari jarak cukup jauh, dengan penggunaan tenaga yang lebih ringan. Saat itu wanita samurai diharapkan dapat membela rumah dan istana saat para pria pergi berperang. Adalah Lady Hangaku atau Hangaku Gozen, yang bernama Itagaki, yang memimpin 3000 prajurit untuk mempertahankan Toeizakayama castle, dia tercatat sejarah banyak sekali membunuh lawan dengan keterampilannya memakai Naginata, sebelum akhirnya dikalahkan oleh musuh yang banyaknya 10.000 orang.

Demikian cerita saya tentang Katana dan Samurai malam ini. Maaf mau tidur dulu, tunduh euy.

Advertisements

Read Full Post »

Pop Culture

Lovely Marilyn – Bert Stern

Despair Che

Darth Vader – Mustafar

Bengong depan Museum Asia Afrika

Read Full Post »

Tongkonan adalah rumah adat Toraja, yang menurut saya incredibly beautiful. Ini foto-foto rumah adat Toraja yang saya ambil sewaktu berkesempatan jalan-jalan ke Toraja beberapa tahun lalu (engga pake ngedit-ngedit karena ga bisa). Masih terkenang suasana mistisnya dan keindahan alam disana. I Love Toraja!

 

 

Beautiful Traditional House of Toraja

Skulls at Toraja Grave

I am the far right

Me at the far right, wearing black T-shirt

Read Full Post »

Annyeonghaseyo!

Touch Korea Tour dan Buzz Korea yang diselenggarakan oleh Korea Tourism Organization Indonesia adalah program promosi wisata Korea Selatan. Saat ini Korea Tourism Organization (Indonesia) atau disingkat KTO menyelenggarakan lomba penulisan blog dengan berbagai tema namun merupakan bagian tak terpisahkan dari program promosi tempat wisata Korea Selatan.  Promosi tempat wisata Korea Selatan ini adalah sebagai efek dari Gelombang Korea, atau Hallyu (Korean Wave),  seringkali disebut juga Korean Fever atau Demam Korea. Dimana awalnya adalah maraknya Korean Pop atau K-Pop dan program entertainmen berupa Film dan Drama Korea, yang sangat diminati dan digemari berbagai bangsa di berbagai belahan dunia, menjadikan banyaknya minat yang tertuju kepada budaya dan bahasa Korea, serta tempat-tempat di Korea Selatan khususnya sebagai  tujuan dari paket tour dan wisata Korea. Posting blog ini ditujukan sebagai keikutsertaan program Touch Korea Tour. Dapat pembaca baca selengkapnya di halaman Facebook dari Korean Tourism Organization (Indonesia)Yuk ikutan yuk!!

Tulisan keempat ini adalah keikutsertaan saya dalam program  Touch Korea Tour. Dengan tema 10 (iya SEPULUH) alasan kenapa harus saya yang dipilih sebagai peserta atau tim pengalaman Touch Korea Tour dan ikut jalan-jalan berkunjung ke Korea Selatan mengikuti program paket wisata beserta seleb Korea yaitu artis K-Pop terkenal yaitu Miss A dan 2 PM.

Jujur saja saya bingung.

Saya bingung sendiri kenapa harus saya ya?. Kalau nyari sepuluh alasan kenapa bukan saya mah gampang. Misalnya saya ibu-ibu beranak banyak dan lucu-lucu bersuami satu orang yang ganteng pisan, dan pastinya pada pengen ikut saya ke Korea. Tuh kaaan, repot  jadinya. Atau kan saya ibu-ibu sekaligus wanita karir yang kalau cuti seminggu pasti bos saya bakal panik nyariin saya (geer banget ya hehehe). Atau yang terakhir lagi, saya kan udah berusia (ehem), matang. Maksudnya sudah bukan abege lagi. Gak malu apa ikut-ikutan blog lomba bersaing dengan para kaum muda dan ikut-ikutan menggemari K-Pop? Uh Oh. Dilematis sekali.

Tapi saya sendiri yang akan menjawab kenapa saya yang harus ikut sebagai anggota Tim Pengalaman Touch Korea Tour. Saksikan ya…

Kesatu. Saya ingin membuat bangga. Bikin bangga siapa aja sih? Gini yah, orang tua saya pasti bangga, anak saya pasti bangga, suami saya (yang ganteng tea, keukeuh nya? hehehe) juga pasti bangga. Tetangga saya, se-RT,  se-RW, dan sekelurahan juga pasti bangga. Teman-teman kantor saya juga akan sangat bangga (sekaligus minta oleh-oleh). Komunitas saya di internet, yaitu Kampung Gajah atau Id-Gmail yang gokil pasti bangga. Bahkan mungkin juga komunitas urang Sunda akan saya ceritakan pula, saya harap mereka ikut bangga. Saya pun akan bercerita pada komunitas-komunitas lain seperti Id-Apple, yang mungkin akan ikut bangga. Teman dan saudara saya satu Facebook, alumni seangkatan di Politeknik ITB dan juga teman-teman saya di SMA 2 Bandung (haiii Zombeer..!)  dan para pengikut Twitter saya. Bayangkan, bagaimana tidak bangga, seorang seperti saya bisa ikut tim Pengalaman Touch Korea Tour. Against All Odds kan  istilahnya.

Kedua. Saya doyan makanan apa saja, ga susah makan istilahnya. Mau makan di food court mall hayu, makanan pinggir jalan juga hayu, asal jangan ditengah jalan. Apalagi makanan Korea, itu mah saya doyan! Duuuuh sekarang saja saya di rumah nyetok Kimchi dan cabe bubuk merah Korea untuk bikin Gochujang (pasta cabe ala Korea), dan berbagai ramen instan Korea.  Gimana kalau saya di Korea, pasti dengan senang hati saya akan mencoba berbagai makanan disana. Dan juga kepada panitia, jangan khawatir, saya makannya dikit kok, ga bakalan malu-maluin dengan ngabisin jatah orang.

Ketiga. Saya sehat dan dalam keadaan sadar dan tidak dibawah tekanan siapapun untuk ikut serta dalam program wisata Korea Selatan ini. Intinya dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Mens sana in corpore sano. A sound mind in a healthy body. Saya akan mengikuti program ini dengan semangat seorang yang berjiwa sehat dan berbadan (cukup) kuat, dan jarang masuk angin. Apalagi katanya Korea Selatan kan dingin. Kalau engga sehat kan bahaya, bisa murungkut kedinginan.

Keempat. Saya punya hobi menulis. Terutama nulis di blog. Ini saja adalah postingan ke 245 saya kalau tidak salah, di blog ini. Bayangkan betapa mulia hobi saya. Karena untuk menulis sebanyak itu ditingkahi pekerjaan dan urusan keluarga, juga membeli sayur dan mengejar-ngejar tukang sayurnya, adalah memerlukan effort yang cukup. Saya menulis kadang di kamar mandi, kadang di perjalanan di travel Jakarta-Bandung vice versa, kadang di rumah saat jam menuju tengah malam. Nah ini yang luar biasa. Soalnya suami saya suka nyetel TV dan lupa matiin. Pas saya lagi nulis kebetulan channel di acara yang serem-serem (seperti Dunia Lain dsb), tahu-tahu saya terkaget-kaget oleh suara ketawa makhluk halus dan kunti, atau musik seram lainnya. Bayangkan. Menulis dalam kondisi seperti benar-benar membutuhkan mental baja. Padahal sungguh, saya sering setengah mati ketakutan. Eh jadi ngelantur. Maksudnya karena saya hobi nulis, pengalaman berharga saya dalam mengikuti Touch Tour Korea dan Buzz Korea oleh Korean Tourism Organization Indonesia (KTO) ini akan saya dokumentasikan dalam blog dan akan menjadi bahan yang sangat bagus untuk mempromosikan program tour wisata ke Korea Selatan.

Kelima. Saya pengguna barang elektronik buatan Korea. Agak ga nyambung ya? Abis banyak banget mesti sepuluh, kan lieur  jadinya. Oh ya Tipi saya di rumah merknya SAMSUNG. Udah bertahun-tahun belum ganti. Dan awet ternyata. Belum pernah rusak. Remotenya saja yang sudah tidak berbentuk seperti remote saking seringnya dipakai rebutan. Jadi saya dikategorikan sebagai pengguna, pemakai dan pencinta barang elektronik buatan Korea. Jadi ga cuma cinta artisnya. saya juga menyukai handphone Samsung terutama Samsung Galaxy Note. Keren banget ya? Samsung Group atau Samseong Geurup adalah perusahaan multinasional Korea Selatan. Produknya dikenal secara internasional dan merupakan perusahaan konglomerasi sangat besar berpusat di Seoul, Korea Selatan. Didirikan tahun 1938 dan pada tahun 1990 telah menjadi perusahaan berskala internasional yang produknya mendunia. Kalau saya ke Korea, kan saya jadi bisa melihat headquarter office-nya Samsung disana.

Keenam. Saya bisa berbahasa Inggris. Trus kalau bisa bahasa Inggris kenapa ya? Jadi gini nih ya. Kali aja saya diperlukan untuk menulis dan mempromosikan pengalaman perjalanan wisata saya ke Korea Selatan dalam bahasa Inggris. Sepertinya ga akan malu-maluin atau sampai harus nyari tukang ketik penterjemah. Ya engga cas cis cus banget atau gimana gitu (usaha merendah hihihi), pokoknya mah bisa lah.  Saya senang belajar bahasa asing juga, jadi bahasa Korea juga akan dengan sangat senang hati merupakan agenda saya berikutnya untuk pembelajaran bahasa asing. Sementara ini karena kalo ikut kursus belum sempat, saya sudah beli CD khusus pelajaran bahasa Korea.

Ketujuh. Saya janji engga akan malu-maluin. Dalam hal apapun.

Kedelapan. Saya senang belajar budaya dan sejarah Korea Selatan, sebagaimana saya juga menyenangi budaya dan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Buat saya semua adalah bangsa adalah bersaudara. Kecuali bangsa yang tidak bersahabat dan tidak mau diajak bersaudara. Jadi saya ingin mengenal lebih dalam mengenai Korea Selatan, juga sebaliknya saya ingin mengenalkan Indonesia  kepada bangsa Korea.

Kesembilan. Saya akan memotret dan membuat foto-foto bagus saat wisata di Korea Selatan, sehingga saya engga akan ngambilin foto-foto dari Wikipedia lagi untuk referensi blog saya. Karena buat saya,  jangan sampai deh kejadian saya mencuri hak cipta orang lain. Oh ya saya juga ga akan lupa membuat eh merekam video perjalanan ke Korea ini untuk di-embed di blog atau di-upload di Youtube. Biar blog promosi Korea Selatan saya nanti akan tambah keren.

Kesepuluh. Saya akan membuat blog khusus untuk bercerita tentang segala hal tentang Korea Selatan. Pokoknya khusus tentang Korea Selatan, baik artisnya, lagu-lagunya (ini akan banyak melibatkan kontribusi dari anak saya yang penggemar K-pop), sejarah, budaya, makanan, dan sebagainya. Saya janji. Bahkan hari ini saya sudah membuat nama domainnya.

Nah itulah 10 alasan kenapa saya layak dipilih menjadi anggota tim pengalaman Touch Korea Selatan bersama-sama artis Hallyu kebanggaan Korea Selatan.

Annyeongsehayo!

Gambar Samsung  Galaxy Note dari : engadget.com

Foto diri saya di atas ga ada hubungan dengan posting ini, kecuali sekedar numpang beken

Read Full Post »

To na indanriki’ lino
To na pake sangattu’
Kunbai lau’ ri puyo
Pa’ Tondokkan marendeng

Kita ini hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di puyo-lah negeri kita yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Ini cerita perjalanan saya ke Tana Toraja, dataran tinggi nan indah di Sulawesi Selatan belum lama berselang. Rasanya basi sekali menceritakan perjalanan ke daerah yang sudah ditulis puluhan ribu kali oleh orang banyak, baik orang dalam negeri ataupun dari mancanegara. Namun saya nekat. Lagipula dengan mengalami sendiri tentu berbeda cerita pada setiap individu. Kami yang pergi kesana memiliki motto, tidaklah lengkap pengalaman kami ke Sulawesi Selatan, apabila tidak mengunjungi Tana Toraja, sang Prima Donna Sulawesi Selatan, salah satu ikon turisme dan pariwisata Indonesia.

Perjalanan dari Makassar kami tempuh melalui darat. Dengan mobil Kijang Inova pinjaman, kami disini adalah perempuan berempat, semua teman sekantor, semua berisik, dan semua ibu-ibu yang sudah beranak. Lalu ditambah satu orang driver yang pendiam, dan satu orang teman kantor kami di Telkomsel Makassar, yang asli orang Toraja, dan juga pendiam. Kami bergerak meninggalkan Makassar selepas Maghrib. Menempuh perjalanan belasan jam melalu pegunungan. Karena perjalanan ditempuh pada malam hari kami tidak bisa melihat pemandangan alam di luar, yang pasti bayang-bayang gelap pegunungan menunjukkan betapa indah dan hebatnya tanah di Sulawesi Selatan diciptakan. Toraja dapat dicapai melalui perjalanan udara. Dari Makassar ke Toraja, penerbangan dua kali dalam seminggu yaitu hari Selasa dan Jum’at.

Jalanan tidak dapat dikatakan mulus di beberapa tempat, namun dikatakan rusak juga tidak. Masih dapat ditolerir oleh saya yang duduk paling belakang. Sinyal Telkomsel pun selalu ada untuk bersms, menelepon, chatting di YM dan sekali-kali membuka Facebook. Maklum perjalanan jauh, dan saya sulit tidur dengan kondisi badan terlonjak-lonjak seperti sekarung beras. Andaikan kami pergi di siang hari tentu kami dapat membuka jendela dan menikmati AG (Angin Gelebug) bukannya AC si udara kalengan melulu selama berjam-jam. Tapi membuka jendela di daerah antah berantah di tengah malam rasanya bukan ide cemerlang.

Jam 3 pagi barulah kami sampai di kota Makale, ibu kota kabupaten Toraja. Ancar-ancarnya kami sudah melewati patung Penunggang Kuda yaitu Patung Pongtiku sang pahlawan Toraja. Pongtiku disebut juga sebagai Ne Baso. Adalah pahlawan nasional yang berjuang mengusir Belanda dari Tana Toraja. Namanya diabadikan pula sebagai nama Bandara di Toraja. Melewati Makale ini penat dan pegal langsung lenyap seketika. Kami menginap di penginapan kecil yang nyaman (hore ada air hangat dan bersih!). Udara subuh terasa dingin seperti di Bandung. Hanya beberapa jam saja kami tidur. Pagi-pagi kami sarapan dan semua bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat yang unik dan menarik.

Kebetulan pada saat kami disana, pemandu kami mengajak ke salah satu ritual upacara kematian. Agama adat dan kepercayaan Toraja disebut Aluk Todolo. Disana kematian merupakan puncak pencapaian dari kehidupan. Penguburan merupakan acara yang terpenting bahkan lebih penting daripada pernikahan. Menurut kebudayaan di Tana Toraja makin kaya dan makin berpengaruh orang yang meninggal maka akan makin memakan waktu upacaranya; bisa berminggu berbulan dan akan makin tinggi biaya pemakamannya.

Salah satu ritual upacara yang kami kunjungi ini adalah pembantaian kerbau. Kerbau yang dikorbankan disana adalah jenis kerbau air atau lumpur (yang betul air atau lumpur ya?). Kerbau Tedong Bonga adalah termasuk kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis) merupakan endemik spesies yang hanya terdapat di Tana Toraja, yang paling mahal dan paling bernilai adalah kerbau bule. Kerbau bule harganya bisa ratusan juta. Banyak sekali kerbau yang dibantai. Saya tidak sanggup menghitung, bahkan melihat pun hanya kuat sekali dua kali. Bukan pemandangan yang sanggup saya tanggung melihat leher kerbau ditebas dengan sejenis parang atau machete; parang untuk kegunaan sehari-hari dan untuk perang berbeda. Untuk perang namanya la’bo’ pinae. Gagangnya dari tanduk kerbau yang diukir indah

Kerbau dibunuh dengan sekali (atau beberapa kali) tebasan yang mematikan, mencipratkan darah segar seperti semburan air mancur berwarna merah yang kemudian menggenang di tanah, dimana kerbau tersebut kemudian tergeletak, sekarat, kemudian mati dan bertumpuk dengan kerbau lainnya, bercampur darah dan kotorannya sendiri. Saya tidak tega melihatnya. Namun adat adalah adat. Banyak turis mancanegara yang hadir saat itu mengabadikan momen ini. Apabila sang penebas berhasil menebas leher dengan sekali tebasan yang mematikan, penonton akan bersorak sorai. Demikian pula bila gagal.

Setelah merasa pening dan mual melihat darah sebanyak itu, kemudian kami duduk-duduk menikmati makanan kecil khas Toraja di bangunan bambu yang dibuat untuk sementara. Sudah mendengar dan merasakan kopi Toraja adalah kopi jenis Arabica yang luar biasa enak? Rasanya ratusan kali lebih nikmat ternyata apabila disesap di udara Toraja yang hangat, di pedesaan, dan ditengah keramahan masyarakat Toraja.

Si mati itu sendiri ditempatkan di sebuah bangunan yang berbentuk rumah adat Toraja yang disebut Tongkonan. Bentuk Tongkonan seperti perahu. Bentuk seperti perahu itu karena masyarakat percaya bahwa pada jaman dahulu kala leluhur suku Toraja datang ke Tana Toraja dengan perahu besar. Saya naik ke atas ke tempat peti mati dengan tangga bambu yang disandarkan. Peti mati besar sekali dan dihiasi oleh ukiran dan ornamen khas Toraja, catnya warna-warni dengan motif khas. Warna-warna yang mendominasi adalah hitam, merah putih dan kuning.

Di depan peti mayat ada patung yang menyerupai orang yang meninggal, sesosok wanita tua mengenakan pakaian adat Toraja berwarna terakota dan bercaping bambu menutupi sebagian kepala sang patung; adalah potret nyata dalam wujud 3 dimensi orang yang meninggal. Dibuat mirip sekali dan dalam posisi duduk di depan peti mati. Patung ini disebut Tau-tau. Tau-tau adalah patung yang dibuat untuk menggambarkan mendiang. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur rapasan (pelengkap upacara acara adat), adalah pembuatan tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayu nangka yang kuat dan pada saat penebangannya dilakukan secara adat.

Ada 3 orang wanita tua yang menunggui peti mati. Berbaju dengan model adat dan berwarna hitam seperti bulugagak. Mereka semua mengenakan kalung etnik Toraja yang berwarna cerah. Rambut mereka semua sudah memutih dan keriput di wajah menunjukkan ketuaan usia mereka. Di halaman rumah, tampak babi yang sudah mati ditusuk (tidak dipotong lehernya) tampak bergeletakan dan bulunya sudah hangus dibakar. Katanya sebagai bahan makanan untuk pesta yang dapat berlangsung berhari-hari bahkan minggu ini. Kain kuning bercorak dibentangkan di pinggir-pinggir bangunan bambu. Semua pemandangan ini adalah eksotis.

Dari sana kami bergerak menuju Lemo, desa yang memiliki tebing batu tempat pemakaman. Tempatnya indah. Disekitarnya adalah sawah yang menghijau.. Hijaunya sangat murni disini mungkin karena sinar matahari yang cerah dan udara pegunungan yang menyaring sinarnya. Lebah terdengar mendengung mencari bunga kopi. Tampak petani tampak membajak sawah, dan pepohonan hijau rapat dimana-mana. Terdapat toko-toko souvenir di jalanan batu yang menurun menuju ke tebing batu, namun tidak seperti tempat wisata yang pernah saya kunjungi, mereka tidak sibuk meneriakkan atau menawarkan dagangan mereka. Suasana hening. Mirip di desa Tenganan tempat suku Bali Aga. Tak terdengar orang ramai bercakap, tampaknya orang-orang senang bekerja dalam keheningan.

Dibawah tebing batu tampak usungan-usungan kayu berbentuk Tongkonan yang dibiarkan tergeletak, bunga-bunga dan papan-papan ucapan selamat tinggal bagi yang baru dikuburkan. Tebing-tebing banyak sudah berisi peti mati dan ada juga tebing batu yang tampak baru dibolongi dan masih dalam proses pengerjaan, tampak dibingkai kayu, pekerjaan itu dilakukan dengan menaiki tangga yang tinggi. Pekerjaan melubangi tebing batu itu tentu bukan pekerjaan yang ringan bahkan bisa berbulan-bulan, apalagi dikerjakan di ketinggian belasan meter dari atas tanah. Menilik tingginya kuburan di tebing tentu sulit sekali memasukan jenazah kesana. Pemandu kami bercerita, ada dongeng yang menyebutkan jaman dahulu orang yang meninggal oleh dukun dibuat berjalan sendiri ke kuburnya. Suasana jadi terasa mistis mendengar dongeng tersebut.

Suvenir di Toraja adalah barang seni yang indah. Kain tenun khas Toraja, ukira-ukiran kayu, barang-barang hiasan dari perak, banyak yang berbentuk kerbau. Boneka-boneka berwajah orang tua dari kayu mengenakan pakaian adat berbagai ukuran, gelang dan kalung etnik yang khas, pakaian, T-shirt, dan badik berbagai ukuran. Juga hiasan kepala untuk wanita dari untaian manik-manik dan benang-benang emas yang cantik. Saya tidak dapat mengingat semua. Kami banyak membeli oleh-oleh disini, harganya ada yang murah ada yang mahal. Saya membeli beberapa kain untuk dililitkan di leher (namanya syal yah?).

Sebetulnya banyak sekali tempat menarik untuk dikunjungi di Toraja, namun kami hanya mengunjungi beberapa saja, mengingat terbatasnya waktu. Kami menyebut perjalanan ini sebagai Wisata Kuburan. Adalah hal yang aneh dan unik tentu saja, bahwa mengunjungi kuburan-kuburan menjadi sesuatu yang menarik wisatawan. Tentu saja ini karena kekuatan adat dan budaya di Tana Toraja ini yang tidak ada duanya.

Dari sana kami ke To’doyan melihat kuburan bayi di pepohonan. Pohon Tarra adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi. Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi. Getah pohon dianggap sebagai pengganti susu ibu. Lubang-lubang di pohon tempat menguburkan jasad bayi ditutup dengan lembaran dari ijuk yang hitam.

Bayi yang meninggal dan belum tumbuh gigi dianggap suci sehingga dikuburkan di pohon sampai kemudian jasadnya akan menyatu dengan pohon itu sendiri dan rohnya mencapai puya atau surga menurut adat Toraja. Menurut kepercayaan Toraja, bayi terlalu kecil untuk menunggangi kerbau ke puya, sehingga pohon tara adalah media tempat arwah bayi mencapai puya.

Selanjutnya kami bergerak ke desa tradisional yaitu desa Kete Kesu. Tempat ini sangat ikonik. Ada rumah adat Tongkonan tua dan lumbungnya, berjajar dan seringkali foto-fotonya dapat kita lihat sebagai poster khas wisata Tana Toraja. Di Tongkonan ini yang konon ada yang berusia lebih dari 150 tahun, dihiasi oleh tanduk kerbau yang berderet sampai ke atap dan juga di pinggirnya digantungkan jajaran tulang rahang kerbau yang sudah memutih dimakan usia. Di belakang tongkonan ada tangga batu ke tempat kuburan di tebing-tebing. Kuburan ini merupakan kuburan tertua, umurnya mencapai 750 tahun. Tampak peti mati yang disebut Erong yang sudah pecah karena lapuk menunjukkan isi berupa tulang belulang dan tengkorak manusia yang putih. Beberapa tengkorak ada yang sudah pecah. Banyak rokok yang berserakan di antara tulang-tulang ini, katanya untuk sesaji. Untuk perempuan yang belum menikah, peti matinya berbentuk babi.

Selanjutnya beberapa tempat makam tebing batu kami kunjungi. Salah satunya desa Londa. Londa adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua. Tebing di Londa tampak sangat tinggi. Dari kejauhan tampak berlubang-lubang. Di bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja di suatu ceruk yang dibentuk persegi panjang. Boneka-boneka si mati berjajar menatap kami.
Boneka-boneka merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan dikuburkan di tempat tersebut.Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya. Kami menjelang sore disana, memandang patung-patung tersebut menimbulkan kesan tersendiri di kesunyian dan hujan gerimis yang mulai turun.

Sempat pula kami makan di restoran yang menyajikan ikan mas yang dimasak dengan bumbu khas daerahdisana. Saya pikir bumbunya memakai kluwek sehingga menjadi bersaus warna hitam yang gurih. Di restoran lainnya kami menemukan hidangan goreng burung. Menurut info sih, burung belibis. Seperti juga di Makassar, sambali di Toraja pun enak sek

ali,pedas dan segar. Mungkin terasinya yang memberi rasa khas yang berbeda. Anehnya perjalanan pulang kami rasakan lebih cepat daripada perginya. Mungkin masing-masing dari kami merasakan puas telah berkunjung ke Tana Toraja. Di perjalanan pulang saya tertidur dan sempat ngelindur dan berteriak sewaktu tidur. Saya bermimpi dicegat banyak orang tua yang tertawa-tawa menjahili saya.

Notes: to anybody one who wants to use any picture from this blog post, please give the credit to me as the photographer and give link to this page as the source. Thank you very  much for your kind attention

Read Full Post »

Astana Gede Kawali

Pakena Gawe Rahayu Pakeun Heubeul Jaya dina Buana. Kalimat ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi warga Bandung dan Jawa Barat pada umumnya. Mungkin Anda pernah membacanya di spanduk-spanduk atau di tugu batas daerah. Kalimat ini terdapat pada prasasti di Astana Gede, Kawali, Ciamis. Diperkirakan berasal dari abad ke 14 Masehi pada waktu pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kencana, Putra dari Prabu Siliwangi, Sri Baduga Maharaja yang gugur di Bubat.

Lengkapnya kalimat pada prasasti tersebut adalah:

Teks di bagian muka:
nihan tapa kawali nu sang hyang mulia tapa bhagya parĕbu raja wastu mangadĕg di kuta kawali nu mahayuna kadatuan sura wisesa nu marigi sakuliling dayĕh. nu najur sakala desa aja manu panderi pakĕna gawe ring hayu pakĕn hebel ja ya dina buana

Teks di bagian tepi tebal:
hayua diponah-ponah
hayua dicawuh-cawuh
inya neker inya angger
inya ninycak inya rempa

Artnya sebagai berikut:

Teks di bagian muka:
Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia.

Teks di bagian tepi tebal:
Jangan dimusnahkan!
Jangan semena-mena!
Ia dihormati, ia tetap.
Ia menginjak, ia roboh.

Minggu lalu saya berkunjung kembali ke Astana Gede, dimana terakhir saya kesana adalah sekitar 20 tahun yang lalu. Kawasan seluas 5 hektar itu sekarang lebih terawat dengan baik. Peninggalan-peninggalan bersejarah dan prasasti disana kini dipagari dan diberi keterangan dan terjemahan untuk tulisan di prasasti yang terdapat disana. Oleh kuncen disana saya diberi tahu bahwa pada bulan Maret ini akan diselenggarakan acara Nyiar Lumar di situs Kabuyutan Astana Gede.

Read Full Post »

Isi pengumuman hari ini di partisi kaca tengah ruang kantor yang jadi mading darurat:

 Dalam rangka memperingati HUT RI ke 62, diadakan lomba permainan rakyat Agustusan untuk seluruh karyawan Kantor Regional Jawa Barat.

 Dilaksanakan : Hari ini

Pukul: 15.00 WIB

Lokasi: Tempat Parkir Lantai 6

Peserta: seluruh karyawan termasuk OB, Driver, dan Outsource, untuk pembagian kelompok silahkan mengikuti Divisinya masing-masing.

 Jenis Lomba:

1. Lompat Tali Karet

2. Futsal (khusus untuk Perempuan/Wanita/Ibu-ibu saja)

3. Perepet Jengkol

4. Trilomba: Estafet Belut, Memasukkan jarum ke benang, balap kelereng (standar pisan)

5. Pesan Berantai (garing ah tidak unik)

6. Bakiak (komentar sama dengan nomor 5)

7. Ambil koin di tepung pakai mulut (sungguh pelecehan harkat sebagai manusia)

PS: Mohon maaf atas pengumuman mendadak ini, and I love you all…

saya membaca pengumuman ini dengan antusias, karena dari tahun ke tahun saya sempat jadi juara bertahan untuk mencekik belut, gaple (sayang sekarang ga ada gaple yah), dan permainan konyol lainnya.  Tapi..aaargggghhh..hari ini saya pakai rok ke kantor. Gimana mau lompat tali?

O yah, bagi yang belum tahu Perepet Jengkol Jajahean itu permainan anak-anak sebanyak 4 orang yang mengkaitkan kaki ke belakang sehingga saling mengunci. Semua bertepuk tangan dan melompat-lompat memutar sambil bernyanyi:

Perepet Jengkol Jajahean

Kacepet ……….. Jejeretean

Nah isi titik-titik di atas ada beberapa kontroversi, ada yang bilang panto ada yang bilang botol ada pula yang bilang benda lainnya. Sampai blog ini ditulis, kami masih berdebat soal isi titik-titik di lagu tersebut yang harus dinyanyikan.

Barusan googling nemu ini dari link http://www.mail-archive.com/urangsunda@yahoogroups.com/msg24690.html , ternyata yang benar liriknya sebagai berikut:

Kaulinan budak lalaki bari dikawihkeun, nu maenna 3-5 urang,
gerakanana engkle bari muter, biasana dipaenkeunna di buruan imah
atawa di sakolaan. Ieu kaulinan bisa jadi lomba mun dipaenkeun ku
sababaraha kelompok. Tiap-tiap kelompok kudu mertahankeun ulah nepi
ka leupas si kakaitan suku teh. Nu meunang nyaeta nu bisa nahan/ lila
teu leupas-leupas. Maenna, tiap-tiap budak milih kelompokna, tuluy
patukang-tukang bari pacekel-cekel leungeun, salajengna suku kenca
atawa suku katuhu eta budak dikaitkeun kana leungeun nu keur pacekel-
cekel tea, disusul deui ku suku budak nu sejen, budak nu pamungkas
ngaitkeun suku kudu bari ngonci suku-suku nu sejen, meh teu gancang
leupas. Sanggeus dikonci, tuluy leungeun barudak nu pacekel-cekel
dileupaskeun. satuluyna engkle bari muter, salian ti muter bari
emprak jeung ngawih. Ngawihna kieu: “Perepet jengkol jajahean,
kadempet kohkol jejeretean”. Mun diantara budak, sukuna aya nu
leupas, nya lasut, sedengkeun nu masih kuat mah nya dituluykeun. Mun
kabeneran aya keneh sababaha kelompok nu kuat, kelompok-kelompok eta
patubruk-tubruk; sing saha nu teu bisa nahan tuluy labuh, eta nu eleh.


Perepet Jengkol
Laras: Salendro, Surupan 1 = Barang

2  1  5   1    2   1  5  1  1  2  1   5   1   2   2  1  5  1  1
pe re pet jeng kol ja ja he an ka dem pet koh kol je je re te an

5-na 5 nu titikna dihandap..

(ES, 2000: 510)

Buat yang tidak mengerti, silahkan temui saya untuk penterjemahan secara live.

Read Full Post »

Pecinan di Kuala Lumpur

Sewaktu saya mengikuti suatu training di Kuala Lumpur yang penuh penderitaan karena tugas yang tak henti-henti, akhirnya pada hari kesekian saya mendapatkan juga waktu luang untuk kabur dan jalan-jalan. Dan salah satu kebodohan saya yang lain dari sekian banyak kebodohan lainnya (sampai-sampai Abi ngajak bikin daftar Every Stupid Things We’ve Done) adalah saya tidak bawa kamera.

Saya menginap di Hotel Istana yang terletak di pusat kota. Kalau niat jalan kaki kemana-mana enak sebenarnya. Misalnya kalau mau jalan kaki ke Twin Tower. Tapi ya itu deh, yang bikin jadwal training rupanya pemuja sistem kerja rodi. Sebenarnya Stasiun Monorail terdekat sangat dekat dari hotel, terletak di seberang jalan yang kalau mau kita bisa “engkle” –loncat-loncat dengan satu kaki, untuk mencapai kesana. (more…)

Read Full Post »

%d bloggers like this: