Feeds:
Posts
Comments

Mati gaya di rumah? Udah bosen joget di tik tok? kenapa engga coba bercocok tanam saja? Dan yang paling tepat di lahan sempit dan cuma seuprit ya hidpronik. Hemat tidak makan tempat, hasil adequate.  Usaha minimal hasil maksimal. Daripada pergi ke pasar resiko terpapar corona, mendingan nanam sendiri. Bisa diatur sesuai kebutuhan.  Serius. Saya ga boong.

Mungkin banyak yang mikir kalau tanam ala hidroponik ini ga praktis, ribet, susah dan sulit dipraktekan. Padahal gampang banget. As easy as one two three. As easy as ei bi si. Dikerjain di rumah sama anak-anak juga seru. Sekalian mengenalkan sama anak-anak, gini loh cara bertanam sayur buat makanan kalian. Sekalian mengenalkan anak-anak belajar biologi. Ini biji loh, ini jenis dicotyl, artinya berkeping dua. Gitu. Jadi engga cuma teori tapi lihat asli dan prakteknya.

Ok lets go, mari kita mulai apa sih yang harus disiapkan pertama kali bertanam hidroponik untuk pemula?

Kesatu, niat.

hehehehe, serius. Ga ada yang lebih bener dari memulai sesuai selain mencanangkan niat. Intinya orang kalau udah niat, akan melaksanakan apa yang dicanangkan sebagai bagian dari pengejawantahan dari niat tersebut. Kalau udah niat, akan ada waktu, usaha, dan energi yang dialokasikan untuk mencapai tujuan.

Kedua, bikin rencana

Kenapa perencanaan itu penting? karena tanpa membuat rencana yang bener, nanti bisa ga sesuai dengan budget misalnya. Jadi dibikin dulu rencananya. Mau dimana tuh ditempatkan perangkat hidroponiknya. Akses ke sumber air seberapa banyak dan berapa jauh dari keran, misalnya. Dimana kira-kira posisi yang tepat yang tidak diganggu kucing dan bisa mendapat matahari cukup? berapa luas space yang dipunyai di rumah? Nah kalau sudah punya rencana tersebut, taro lah punya lahan 2×3 meter dekat tempat jemuran misalnya, dari situ bisa menyusun anggaran.

Ketiga, bikin anggaran

Secara sederhana saja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga agar makan sayur setiap hari, bagi pemula dan menanam hidroponik untuk sayuran sehat segar konsumsi sendiri, maka saya menyarankan untuk memiliki 10 bak hidroponik sistem wick. Kenapa sistem wick? Biar ga pake listrik. Namanya juga laigi pandemik. Hemat-hemat biaya listrik juga lah. Pengalaman saya sih kalau buat konsumsi sendiri ga apa-apa yang ga pake listrik juga. Secara pertumbuhan bisa tetap bagus kok. Berapa kira-kira biayanya? Bila membeli jadi di toko online untuk seperangkat alat shalat dibayar kontan, eh untuk seperangkat hidroponik lengkap, harga untuk 10 bak sekitar 600.000 rupiah. Eh kok lumayan ya. Ok kalau ga mau banyak-banyak dulu, beli saja 4 bak dulu. 4 bak sekitar 200.000 rupiah udah sama benih dan segala macam. Atau kalau mau hemat gunakan saja baskom-baskom bekas di rumah atau botol-botol aqua bekas. Itu juga bisa-bisa saja. Balik lagi, kalau udah niat, semua jalan bisa ditempuh loh.

Keempat, mulai saja…engga usah banyak mikir lagi

Setelah punya alatnya, segera semai benih yang ada sesuai petunjuk. Jadi yang kata saya tadi 10 bak, itu agar kita bisa punya sayur beberapa jenis. Saya sarankan yang umum dikonsumsi sehar-hari. Yaitu kangkung, bayam, caisim, pakchoy, selada. Masing-masing jenis 2 bak dengan lubang tanam 6 sd 8 lubang. Itu sudah mencukupi kebutuhan sayuran sehari-hari. Untuk kangkung dan bayam, bisa ditanam di satu kotak rockwoll beberap biji sekaligus. Kalau mau bagus, tanam benih dengan rapi di rockwool pakai tusuk gigi. Bila ingin cepat berkecambah, benih kangkung bisa direndam dulu dengan air hangat kuku selama 2 jam. Lalu tanam di dalam rockwol yang sudah dibasahi.

Apa sih rockwool? Rockwool adalah bahan peredam suara, hehehe. Ini bener kok. Tapi jenis rockwool buat tanaman biasa dijual di toko-toko tanaman dan hidroponik. Bukan di toko bangunan. Rockwool bisa dipotong-potong ukuran 2×2 cm semungil mungkin kalau Anda orangnya kayak saya, suka dengan pengiritan cuyyy.

Jadi saya perkenalkan nama-nama atau istilah dalam hidroponik ya, tak kenal maka tak sayang soalnya:

Rockwool

adalah benda warna kuning kecoklatan seperti busa yang agak-agak bikin gatel dan berdebu. Ada juga Rockwool yang digunakan untuk peredam suara. Tapi rockwool jenis yang ini , adalah media tanam ini bagus banget buat pembibitan tanaman hidroponik. Biar ga gatel basahi dulu sebelum dipotong-potong agar debunya tidak bertebaran. Soalnya saya nemu beberapa rockwool yang kualitasnya rendah, ih ngeberudul banget dan gampang ambyar. Rockwool ini biasa dipotong kotak-kotak dan dilubangi dengan tusuk gigi untuk menanam benih yang sudah kita siapkan tentunya.

Netpot

Adalah pot kecil dengan bentuk kecil. Apa pula ini deskripsi ya. Jadi dibilang netpot ya karena kayak net, berlubang-lubang tidak tertutup. Warnanya macem-macem. Kalau lagi centil saya suka nyari yang warna-warni. Diameter netpot macam-macam, ada yang 3cm ada yang 5 cm bahkan lebih. Tergantung ukuran lubang buat naro netpotnya. Biasanya sih buat sayuran sekitar 5cm. Ada juga yang gede ukuran diameternya 10 cm, biasanya isiannya adalah hydroton, bola-bola tanah liat, Yang gede gini biasanya buat hidroponik jenis Dutch Bucket, dan digunakan buat tanaman hidroponik yang gedean tumbuhnya. Macam tomat dan cabe-cabean.

Sumbu

Sumbu yang dimaksud ini adalah seutas kain dari flanel yang dipotong seperti pita. Dipasang di netpot, agar tanaman mendapatkan air dan nutrisi dengan sistem kapiler. Bila nanti akarnya sudah menjangkau air sih, sumbu ini tidak terlalu berfungsi lagi. Namun sumbu ini bisa digunakan berulang-ulang setelah panen, so bersihkan dan cuci lagi sebelum digunakan kembali. Kalau mau rajin, kita bisa motong-motong kain flanel sendiri berbentuk pita sepanjang 15 atau 20 cm. Kalau kurang rajin, beli jadi saja yang sudah sepaket dengan netpot di toko online hidroponik kesayangan Anda.

Bak Tanam

Bak untuk tanaman hidroponik ini adalah bak plastik berbentuk kotak persegi panjang. Di atasnya diberi tutup dari bahan plastik tebal yang sudah dibolongi seukuran netpot agar terpasang rapi dan nyangkut disitu dengan aman. Bak plastik ini apakah khusus? Tidak juga, kalau mau bisa dibeli di toko perabot, tutupnya bolongin sendiri pakai bor, tapi cape, saya pernah coba bor sendiri, ga rapi pula. Saran saya jangan beli yang bening, Plastik bening akan bikin airnya lumutan kena sinar matahari.

Pupuk Mix A dan B

Ini adalah khusus pupuk untuk hidroponik. Ada pupuk mix untuk sayur, ada juga untuk buah. Kenapa dipisah A dan B? karena kalau disatuin di depan akan bereaksi dan menggumpal. Jadi gimana? ya jangan disatuin. Makanya dinamakan A dan B. Biasanya dijual dalam bentuk kering ada juga yang sudah dicampur air. Bila kita membeli yang kering, larutkan masing-masing A dan B di botol terpisah. Pas mau dipake baru disatukan di bak air dengan kadar larutan secukupnya sesuai aturan pakai.

Benih Tanaman

Nah ini penting, setelah semua alatnya ada yang kita perlukan tentu benihnya dong. Sayuran sangat mudah tumbuh, asal benihnya bagus, @ atau 3 hari saja biasanya sudah berkecambah. Beli lah benih pada pedagang yang terpercaya dan perhatikan tanggal pengepakan dan kapan kadaluarsa. Karena benih ada masa kadaluarsanya. Bila ingin memastikan tumbuh baik, benih bisa direndam dulu 3 jam dengan air hangat kuku, kalau tidak juga tidak apa. Lalu benih kita tanam di rockwool, bagusnya sih rapiin ya, pakai pinset jejerinnya. Tusuk dulu rockwoolnya dengan tusuk gigi agar benih tertanam dengan rapi.

Untuk pertama kali, bisa dicoba benih kangkung, bayam, caisim, dan pakcoy. Karena tanaman ini mudah ditanam, enak dimakan. Umum banget buat orang Indonesia mengkonsumsi sayuran yang saya sebutkan barusan.

Air

Namanya juga hidroponik. Ya jelas butuh air. Hydro berarti air, dan Ponic adalah model rambut, ok itu poni. Ponic artinya bercocok tanam

Tidak terasa hampir tiga bulan saya di rumah aja, karena corona ini, tapi diam di rumah dengan senang hati malahan. Maklum semenjak pindah kerja ke ibukota empat tahun yang lalu, kesempatan di rumah hanya dua minggu sekali atau kalau pas cuti. Nah sekarang bisa berbulan-bulan di rumah. Gimana engga hepi.

Untuk saya pribadi ini kesempatan banyak buat berkumpul dengan keluarga, nyobain berkreasi resep masakan, belajar mengejar kursus online saya yang tak terurus dan ketinggalan, dan kembali menjalankan hobi saya yang terbengkalai, yaitu bercocok tanam.

Barangkali bisa menjadi ide buat yang lain untuk mengisi waktu di rumah sehingga menjadi produktif, ini apa-apa yang saya lakukan selama masa karantina.

Bercocok tanam: konvensional atau hidroponik.

Begitu kembali ke kota Bandung, saya berpikir, bila saya harus mengurangi ke luar rumah untuk berbelanja kebutuhan makanan maka selain stok makanan seperlunya, saya pikir saya perlu kembali menanam sayur. Kenapa sayur? karena sayuran buat keluarga kami adalah makanan pokok, namanya juga orang Sunda, ga nemu sayur sehari bisa sakaw. Jadi beberapa hari saya di Bandung, saya langsung memperbaiki kembali peralatan hidroponik saya yang terbengkalai dan langsung membibitkan sayuran standar untuk masakan sehari-hari yaitu: kangkung, bayam, pakchoi, caisim.

Untuk kebutuhan salad biar gaya kayak orang bule, saya menanam aneka lettuce, dan arugula. Selain itu saya menanam aneka jenis cabe, mentimun, buncis, bumbu-bumbu masakan aneka rupa (jahe, kencur, bawang merah, bawang putih, bawang daun), bahkan menanam jagung juga, yang terakhir ini karena iseng, terinspirasi lagu menanam jagung di kebun kita. Setelah 3 minggu, semua sayuran saya bergiliran dapat dipanen, bahkan saya bagi-bagikan pula untuk keluarga saya, dan tetangga.

Berolahraga: biar sehat dan turun berat badan

Saya mencanangkan eh mentargetkan untuk melakukan olahraga setiap pagi dan sore selama masing-masing 30 menit. Apakah itu aerobik, zumba, yoga, apapun yang ada di youtube dan gerakannya engga susah diikuti. Ada yang pernah posting di Instagram, usaha itu tidak pernah membohongi hasil. Makanya saya coba buktikan apakah usaha saya membuahkan hasil.

Ternyata setelah dua bulan menjalankan olahraga rutin tadi, pagi sebelum kerja, atau siang pas jam istirahat, sore setelah jam kerja atau jam 7 malam setelah beres urusan masak dan dapur, saya memperoleh penurunan berat badan sebanyak 5 kg. Horeee!! Tahukah anda betapa sulitnya saya menurunkan berat badan di Jakarta? Selain waktu terburu-buru untuk pergi ke kantor sehingga tidak sempat olahraga, malampun tidak sempat karena seringnya saya masak dulu buat my other half sepulang kantor.

Belajar/Kursus Online

Jaman sekarang mau belajar atau kursus online gampang banget dan murah, yang murah gratisan ya belajar mandiri aja lewat macam-macam media pembelajaran gratis. Kalau ingin dapat sertifikasi, juga bisa. Saya sendiri yang berbayar nyoba ambil di Udemy. Saya coba ambil kursus menggambar dengan cat air dan yoga dan pernafasan untuk kesehatan

Saya juga pernah coba di edx. Kalau di edx, belajarnya bisa gratis, kalau mau dapat sertifikat itu sebagai opsional, kita membayar setelah kursus bila ingin dapat sertifikat.

Dari perusahaan juga saya mendapat akses untuk belajar online di Harvard Management Mentor, affiliate dari Harvard Business School. Menurut saya mater-materi disitu sangat nyaman dipelajari secara online. Selama karantina ini saya menyempatkan online untuk belajar online 1 jam di malam hari. Biasanya jam 10 sampai dengan jam 11, nyari ngantuk sih sebenernya.

So far saya udah dapat sertifikat-sertifikat ini:

Memasak dan Mencoba Resep Baru

Terakhir makanan iseng modifikasi ala saya adalah tahu bulat isi keju mozarella. Enak? enak sih menurut saya dan anak-anak. Mengikuti prinsip ibu saya, makanan kalau udah pakai keju dan susu pasti enak. Tantangannya adalah bagaimana kejunya tidak meleleh selagi digoreng sebelum tahunya crispy di luar.

Ngomongin tahu tapi yang diposting foto salmon

Makanan lainnya kesukaan anak-anak saya adalah chicken strip ala saya dengan bumbu rahasia tapi engga rahasia-rahasia amat. Kuncinya hanya Anda harus punya herbs segar. Kalau engga pakai bumbu herbs segar tidak akan seenak buatan saya.

Ini saya share resepnya ya:

Dada ayam 1 kg potong-potong sebesar dua jari. Cuci bersih, beri perasan jeruk nipis, diamkan sebelum dibilas. Ini gunanya biar ayam tidak berbau amis. Kalau jeruk nipis atau lemon tidak ada, saya pakai jeruk purut. Jeruk purut tidak ada saya pakai sedikit cuka.

Tumbuk bawang putih 5 siung, bawang merah 5 siung, jahe 2 cm, sedikit pala, sesendok teh merica hitam.

Nah ini bumbu rahasianya. Petik rosemary satu batang ambil daunnya, segenggam thyme segar, dan setangkai dill. Rajang halus, aduk bersama tumbukan bumbu-bumbu di atas. Beri garam, sedikit gula pasir, sedikit kaldu blok bila suka. Bumbui ayam dengan bumbu tersebut, diamkan dua jam di pendingin.

Siapkan tepung, campur garam dan merica. Bila ingin berwarna menarik beri sedikit bubuk kunyit, bila ingin sedikit hot and spicy, beri bubuk cabe gochugaru korea satu sendok makan.

Gulingkan ayam di tepung bumbu, bila suka bisa dicelup dulu ke dalam kocokan telur sebelum digulingkan di tepung. Goreng di minyak panas dengan terendam alias deep fried. Harumnya akan menyebar ke seluruh dapur anda.

Menyalurkan Hobi

Mungkin ada di antara kita yang hobinya adalah tidur. Masa karantina ini adalah saat yang tepat untuk menyalurkan hobi tersebut. Ada juga yang jadi belajar menjahit dan menyulam seperti anak saya, Dinda. Selain itu juga dia menciptakan beberapa lagu dan merekamnya. Anak saya satu lagi, Drea hobinya ya tidur. Walau sesekali melukis. Saya sendiri, hobi saya ya berkebun tadi, sudah dibahas di atas. Siapa tau di masa pandemik ini, banyak yang jadi menemukan bakat-bakat yang terpendam.

Nah kalau ini contoh-contoh kegiatan pandemik yang menurut saya kurang produktif:

Posting selfie tak berhenti-henti di sosmed. OMG, do you think like people care about your eyelashes and your contour and highlight on your nose that so extremely white like mandrill?. Saya lihat ini juga jadi fenomena di kalangan artis maupun non artis, mungkin saking gabutnya jadi posting selfie melulu tiap hari.

Jadi ratu tiktok. Ya kali kalau isinya bermanfaat atau bener-bener bagus. Kalau cuma mangap-mangap dan joget-joget nanggung, please deh. Ga usah mempermalukan diri sebegitu jauhnya. Kecuali mau menunjukkan kalau diri anda stress.

Ah udah deh gitu aja. Suka-suka orang juga sih mau ngapain ya. Ngapain kudu bingung sama kelakuan orang lain.

Sesekali Tentang Relationship

Seiring berjalan waktu, kadang kita berpikir tentang hubungan yang sudah berjalan sekian lama, akan kah terus bertahan atau selesai sampai disini saja? Apalagi jelang usia hubungan yang sudah berjalan terhitung tahun. Ketidakpastian tentang hubungan umumnya adalah hal terbesar yang membuat perempuan merasa gelisah. Banyak yang bilang perempuan itu terlalu banyak menganalisa tentang perasaan dan perubahan sikap pasangannya, sementara yang laki-laki merasa biasa saja, tidak ada yang berubah, dan tuntutan perhatian dari pasangannya adalah berlebihan.

Lalu apakah yang harus dilakukan kedua belah pihak agar hubungan tetap berjalan dengan baik atau istilahnya “healthy relationship”?.

Btw, saya juga bukan pakar hubungan antar manusia, ini nulis beginian hasil baca-baca dari berbagai artikel saja.

Mau meluangkan waktu untuk pasangannya.  Menurut saya pribadi ini hal yang penting, untuk menjaga hubungan tetap berjalan dengan baik,  tentunya harus ada komitmen. Perhatian dan hal-hal kecil mungkin yang sering diabaikan oleh pasangan yang sudah merasa seiring waktu sudah tidak perlu lagi untuk menyempatkan diri lagi untuk memberikan atensi, atau berpikir bahwa perhatian hanya penting di awal saja.  Bila terpisah jauh hendaknya mengabari atau menelepon beberapa menit saja sudah bisa membuat pasangan merasa dihargai dan diingat.

Seperti Ivan Lanin tweetkan, ” Cinta itu urusan hati. Sebaik apapun struktur kalimatmu, hati yang tertutup tidak akan dapat menerimanya. Luluhkan dengan perhatian dan waktu”.

Take and Give. Jangan hanya selalu menuntut, tapi juga selalu siap untuk berbagi. Baik itu mendengarkan atau berbagi sesuatu.  Pasanganmu selalu memasak untukmu? Sesekali gantian dong, atau bantu. Dan tidak ada salahnya sekali tempo mengajak dine out di tempat istimewa.

Saya engga akan nulis soal Corona. Sudah banyak yang nulis.  Saya tidak akan nulis soal kesedihan, keprihatinan, atau koar-koar nyalahin pemerintah atau siapapun, karena saya merasa itu tidak akan mengubah situasi. Cukup lah menurut untuk tinggal di rumah, tidak pergi kemana-mana, tidak belanja makanan atau hand sanitizer seperti orang kalap, secukupnya saja  makanan biasa untuk seminggu atau dua minggu, dan menyumbang semampu kita untuk tenaga medis kita (untuk ini saya sungguh berdoa dan bersimpati semoga mereka diberi keselamatan, kesehatan, dan untuk jasa mereka sungguh Tuhan yang dapat membalasnya).

Ini hari ke-9 kami mengisolasi diri di rumah sejak Corona merebak di Indonesia. Bagaimana kami sekeluarga? Baik-baik saja, puji syukur kepada Allah pemilik alam semesta ini.  Apakah kita bete tinggal di rumah? Tidak sama sekali. Kami semua adalah penganut aliran home sweet home. Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain di rumah, asal tidak mati listrik, air, ada internet, dan ada makanan.  Cukup sedih bila mengingat mungkin tidak semua orang beruntung seperti kami. Ada yang masih harus keluar rumah untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya. Ya ampun, mau nulis yang happy balik lagi ke kesedihan dan keprihatinan. Duh, bagaimana ya. Sulit memang rasanya tidak memikirkan kondisi orang-orang lain saat ini.

Anak saya yang laki-laki mengisi hari-hari dengan belajar, mengerjakan tugas, main gitar, main game, olahraga ringan macam push up dan skipping, chatting dengan temannya di Cina dan US. Yang di Cina bercerita kalau mereka obey the government, so mereka rupanya berhasil melalui wabah ini dengan selamat. Yang di US cerita kalau sudah menimbun makanan seharga $5000 dan katanya cukup untuk dua bulan, bahkan berbaik hati mengirim uang ke anak saya via paypal, kasihan takut ga bisa bayar rent atau buy some food katanya.  Terharu juga atas solidaritas antar negara walau engga kenal sama sekali ini. Cuma kenal di chat games dan order gambar saja, tapi sangat peduli.

Anak saya yang kedua, mengerjakan tugas kuliah, main piano, nyetel musik, masak, tidur, bikin lagu, begitu saja bolak-balik. Dan yang bungsu, nah ini yang rada tidak jelas bentuk rupanya. Kadang dia melukis, menggambar, bikin tugas video dari sekolah, atau main biola.  Perlu diketahui anak saya yang bungsu ini sejak bayi hobinya tidur. Sampai SMA pun masih hobi tidur.  Tidur tidak masuk kategori hobi sebenernya, tapi anak saya ini mengkategorikannya sebagai hobi. Tidur buat dia adalah setengah dari 24 jam dalam sehari.

Saya sendiri? Saya hanya berharap setelah diam di rumah aja ini berakhir, berat badan saya tidak bertambah, dan bangsa Indonesia dan juga orang-orang baik di bumi ini selamat sampai wabah ini berakhir.

Saya pribadi berpendapat mungkin kita sudah terlalu jahat pada bumi yang kita tempati ini, bukan corona virusnya, tapi kita adalah virus bagi bumi kita, kita sudah menyakiti bumi kita sedemikian rupa sehingga bumi mempertahankan diri dengan Covid ini. Maafkan kami ini.

Malam Terakhir

Karena katamu, kamu punya janji kepadaku, dan sedapat mungkin janji itu akan kamu tepati.

Walau aku lupa sebenarnya sebelumnya kita membahas apa ya? Sepertinya karena aku yang selalu mengumbar pertanyaan, akan kah, kapan kah, dapat kah, mungkin karena hal itu. Jadi sebelum pulang kau katakan itu kepadaku.

Jelang tiga tahun bersamamu menjalani berbagai macam hal, dari hal menyenangkan sampai menjengkelkan. Dari tertawa sampai menangis, through thick and thin, up and down, dan entahlah apa lagi. Memang baru tiga tahun, lama atau sebentar kah itu aku juga tidak tahu.

Pernah kita bahas suatu malam,  kenapa kita masih saja bersama dan sampai pada kesimpulan; you are still the one. Kayak judul lagu memang. Tapi memang seperti itu. Kamu bilang belum pernah senyaman itu untuk menjalani hidup dengan perempuan manapun kecuali dengan aku (walau sering ribut juga), dan aku pun demikian.  Masih cuma kamu, kesayangan aku.

Dan saat ini terpisah lama dari kamu, aku belajar merasakan apa itu rindu.

Remember Happiest Moment

“This ancient and mysterious charm conjures a magical guardian, a projection of all your most positive feelings. The Patronus Charm is difficult, and many witches and wizards are unable to produce a full, corporeal Patronus, a guardian which generally takes the shape of the animal with whom they share the deepest affinity. You may suspect, but you will never truly know what form your Patronus will take until you succeed in conjuring it.”—Miranda Goshawk

Sebenarnya banyak happiest-happiest moment saya, kalau dulu ya pas komplit nenek kakek saya masih ada, saudara-saudara kumpul semua saat lebaran. Itu salah satu happiest moment saya, mengingat orang-orang yang sudah tiada itu. Lalu pas saat anak-anak saya lahir dan mencium kening mereka di menit-menit setelah dilahirkan. Itu juga.

Tapi kalau soal happy place, rasanya sulit menemukan tempat di dunia ini yang bikin sebahagia saya selain saat menginjakkan kaki di Edinburgh.  Mungkin seperti paman saya sebelum meninggal, saya bawakan dia buah peach. Dia genggam erat sambil mencium wangi buah peach itu dan dia bilang, wangi buah itu mengingatkan saat-saat dia sangat berbahagia saat bersekolah di Birmingham, dimana bunga peach bermekaran dan dia sering memetik buah peach di kebun disana.  Ada momen-momen bahagia disana, mungkin sama seperti yang saya rasakan.

Masih terbayang saat 3 tahun lalu itu, momen kami turun dari stasiun kereta dan terpana memandang langit yang biru sekali dengan awan putihnya, udara campuran sejuk dan hangat khas musim semi, dan kami terpapar indahnya pemandangan kota Edinburgh.

Hari itu hari Kamis dan kami tiba di Edinburgh setelah menginap semalam di Manchester.  Kami tiba siang hari di Edinburgh lalu check in di hotel Mercure di Princess Street yang ramai tak jauh dari Sir Walter Scott Monument.  Setelah beristirahat sejenak kami memutuskan untuk berjalan-jalan.

 

Bukan infrakstruktur senam ya. Ini bahasan instrospeksi, yaitu tentang menilai diri kita sendiri. Kenapa kemampuan menilai diri sendiri itu penting? Tentu saja penting, tanpa mampu menilai diri sendiri kita akan mudah memberikan judgement pada orang lain. Padahal ternyata kita ternyata tidak lebih baik dari orang yang kita nilai. Nah kan malu.

Intinya dengan introspeksi, kita akan dapat memperbaiki kualitas diri. Bisa bersikap dan bertingkah laku dengan baik dan sepantasnya dalam lingkungan social dan masyarakat. Kenapa pula hal itu penting? Karena manusia adalah mahluk social. Tidak hanya penting dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tentunya berinteraksi dengan orang terdekat dan keluarga pun penting untuk menjalin hubungan yang harmonis.

Kalau ada yang mengatakan pada kita bahwa kita harus introspeksi diri, tentunya ada sikap kita yang mungkin salah atau tidak berkenan di mata orang lain. Kita jangan egois dalam  menerima kritikan tersebut, kritikan kadang lebih baik dari pujian. Tergantung kita menyikapinya.

Sebelum mengkritisi dengan maksud mencela orang lain, lihat lah diri kita sendiri. Sudah kah kita lebih baik dari yang kita cela? Ingat selalu bahwa mulutmu adalah harimaumu. Saat kita mencela orang lain, tentunya kita tidak mengharapkan celaan itu berbalik kepada diri kita sendiri, dan ternyata sungguh memalukan apabila ternyata sikap dan perilaku kita juga dibawah standar, alias tidak layak dan tidak punya prestasi yang membanggakan.

Berpikirlah dua kali, tiga kali, bahkan empat kali, sebelum menelurkan pernyataan dari mulut yang tidak dapat ditarik kembali. Sungguh menyedihkan kiranya seseorang yang mencela orang lain ternyata dirinya tidak lebih dari benalu di masyarakat, tidak punya prestasi, tidak bisa dibanggakan bahkan oleh keluarganya sendiri.

Yang diperlukan seorang tukang cela, adalah cermin, dan lem untuk mengerem mulutnya.

 

I am in love with Kyoto.

I want to ride my bicycle.

Kyoto – Hari Pertama
Apa hubungannya Kyoto ibu kota lama Jepang ini dengan lagu Queen? Jadi menurut informasi dari hasil tanya-tanya dan browsing katanya menjelajah Kyoto itu paling enak dengan bersepeda. Waduh. Saya sih suka bersepeda. Tapi sedang tidak dalam mood untuk cape. Saya ingin menyimpan tenaga saya untuk makan-makan dan foto-foto.

Setelah mencari beberapa alternatif ternyata banyak sewa sepeda di Kyoto itu sepeda listrik. Horayy! Engga usah mikir keringetan dan cape nanjak di jalanan. Dan ternyata tempat sewa sepedanya banyak di sekitar hotel saya yang tidak jauh dari Stasiun Kyoto.

Oh ya dalam menyusun itinerary jalan-jalan ke Jepang ini saya mencari hotel yang jaraknya bisa koprol dari stasiun utama. Hotel dan penginapan yang saya booking rata-rata hotel harga sedang yang jaraknya radius 400 meter dan maksimal 1 km dari stasiun utama, atau paling tidak dekat subway. Karena jalan-jalan saya kali ini bukan ala backpacker. Mungkin lain waktu backpackeran deh, kalau untuk sekarang koper friendly route aja deh.

Hotel kami dekat Stasiun Kyoto dengan berjalan kaki sekitar 400 meter. Trotoar mulus sehingga tidak sulit membawa koper beroda. Setelah menitipkan koper, kami menyewa sepeda listrik. Saat itu sepeda-sepeda sedang laku disewa, banyak temat sudah sold out, kami beruntung ada dua orang yang mengembalikan sepeda saat kami tiba.

Tempat sewa sepeda kami bernama Kyoto Ecotrip. Biaya sewa sebesar Y1800 sampai dengan Y2000 untuk sepeda listrik. Kami diberi peta lengkap dan petunjuk jalur mana yang boleh dilewati sepeda dan tidak. Tujuan pertama kami adalah daerah Gion, lalu akan lanjut ke Nishiki Market. Tapi si mas rental sepeda bilang kalau di Nishiki Market sepeda tidak boleh dinaiki harus dituntun. Ok deh.

Bila tidak ingin bersepeda tentunya banyak alternatif lainnya seperti bis dan subway. Berikut adalah tempat-tempat menarik di Kyoto untuk dikunjungi sesuai itinerary saya:

09.00 berangkat ke Kyoto dari Osaka dengan Hikari kurang lebih hanya 18 menit, kereta lain sekitar 30 menit.
09.30 Tiba di Kyoto
10.00 Menitipkan koper di hotel
10.30 Menyewa sepeda
11.00 Menuju Gion dengan sepeda waktu tempuh sekitar 30 menit
12.00 Tiba di Yasaka Shrine
13.00 Makan siang
14.00 Berjalan-jalan dan menyusuri tempat menarik sekitar area Gion
15.00 Menyusuri Kamo River dengan sepeda
16.00 Menyusuri Nishiki Market
17.00 Mengembalikan sepeda

Ternyata area Gion sangat nyaman untuk bersepeda, banyak sekali orang bersepeda. Hanya saja tidak boleh parkir sembarangan atau melalui jalur sembarangan. Jadi tetap harus tertib mengikuti aturan lalu lintas. Banyak pula tempat sewa kimono di daerah Gion, kisaran sewa mulai harga IDR 300.000, tambah mahal tergantung jenis kimono dan asesoris yang ingin dikenakan termasuk hairdo.

Karena lelah, kami memutuskan untuk melanjutkan menelusuri Kyoto esok hari. Dengan moda transportasi kereta dan bis. Dekat stasion Kyoto juga ada mall Aeon, kita bisa mampir sejenak untuk ngopi-ngopi cantik. Untuk membeli snack dan lainnya, banyak terdapat 7 Eleven, Family Mart, dan Lawson. Bisa membeli onigiri atau nasi instant buat yang kangen makan nasi, hehehe.

Kyoto – Hari Kedua

Ginkakuji Kuil Perak

Tujuan pertama kami hari ini adalah Ginkakuji atau Kuil Perak. Menuju kesana menggunakan bis nomor 100 dari Kyoto Stasiun. Perjalanan cukup lama, hampir 1 jam karena melewati banyak halte. Kalau ingin lebih cepat bisa naik subway kemudian ganti dengan bis. Tapi kami males ganti moda transportasi mending sekali naik saja walaupun lebih lama.

Turun dari bis ternyata kami berjalan menyusuri Philosopher Path menuju Ginkakuji Shrine. Bunga Sakura sudah lewat musimnya disini..daun-daun hijau sudah menggantikannya. Bila sedang musim bunga sakura, Philospher Path adalah salah satu tempat menikmati keindahan bunga sakura di Kyoto.

Sampai di Ginkakuji, kami menikmati taman yang sangat indah. Ada jalan setapak ke atas bukit pula dimana kita bisa menikmati pemandangan kuil dan tamannya, dilatar belakangi dengan pemandangan kota Kyoto dari kejauhan. Cantik sekali.

Dari Ginkakuji kami lalu berangkat ke Kinkakuji, kuil emas. Naik bis satu kali dengan nomor 102. Memang saat saya berlibur ini sedang musim libur. Orang Jepangnya sendiri sedang liburan. Kebayang dimana-mana antri dan penuh.

%d bloggers like this: