Feeds:
Posts
Comments

Di Tepi Jalan Itu..

Aku ingat aku pernah merajuk padamu. Aku bilang belasan tahun bersamamu tidak sekalipun kamu ajak aku untuk makan malam romantis bercahaya temaram, diiringi musik klasik dan kita berpakaian rapi. Aku bergaun hitam semacam di film Breakfast in Tiffany, dan kau..entahlah..sulit membayangkan kamu berpakaian rapi. Candle light dinner seperti di film-film itu.

Kamu tidak menjawab, hanya mengerang.

Tapi dua malam lalu sepulang kerja, kita berjalan berdua. Sempat kau lingkarkan lenganmu di bahuku sambil kau mengucapkan selamat untuk sesuatu, lalu kau mengajakku makan ketoprak di warung pinggir jalan, tempat kuli-kuli bangunan dan tukang ojeg biasa menghabiskan sisa penat mereka, menikmati makanan murah terjangkau saku.

Seperti biasa kau memesan dengan ekstra pedas, dan untukku sedang pedasnya. Kita berdua makan bersisian di bangku kayu reyot, di tenda dalam yang disampirkan pada gerobak, dengan dua gelas teh manis hangat di wadah plastik. Sambil makan kita bercakap-cakap, dan kau menumpahkan isi kepalamu itu, tentang pekerjaan-pekerjaan kita, rencanamu, dan kejadian-kejadian di kantor hari ini dan yang lalu. Seperti biasa aku pendengar yang baik bagimu, sesekali menanggapi dan berdiskusi. Bagiku tidak hanya suaramu yang aku suka untuk aku dengarkan, tapi bau tubuhmu dekat denganku, selalu menguarkan rasa kedekatan itu, bahwa aku dan kamu telah seringkali tak terpisahkan barang sesenti.

Hampir dua jam aku duduk bersama kamu, sehabis makanan kita habis kita masih mengobrol sambil menghirup teh yang terasa sangat menyamankan dada kehangatannya. Aku menatap langit di kejauhan yang kelam walaupun tak berawan. Bulan entah dimana dan bintang tak pernah tampak di langit ibu kota ini. Kudengar suara-suara kuli bangunan di gedung tinggi sekali yang sedang dibangun, mereka bercakap entah apa. Dan kita terlonjak kaget saat ada serpihan beton yang jatuh di dekat gerobak.

Entah kenapa ada perasaan sentimentil menyeruak di dadaku. Bukan restoran mewah dengan dinding beludru. Atau juga steak dengan medium welldone ataupun salmon dengan saus lemon. Juga pemain musik dengan biola yang mengalun lembut. Bukan itu ternyata. Langit beku dan lampu-lampu gedung yang mulai dinyalakan sejak senja datang, percakapan kuli-kuli dan para tukang sepulang kerja, deru mesin campur debu, ternyata mengalahkan semua itu. Rasanya aku juga kini tidak menginginkan seikat mawar, dengan sebungkus gado-gado  pagi hari yang kadang kau belikan, karena kamu tahu aku sering lupa makan, itu juga mengalahkan sterling silver rose dengan sisipan bunga tulip belanda.

Disini di sisi gerobak ini aku menyadari satu hal. Karena dekat dengan kamu. Mendengarmu bercerita, merasakan bahwa kau mempercayakan banyak hal kepadaku, itu lebih dari candle light dinner yang tadinya kuinginkan. Tidak perlu sofa untuk bersandar dengan gelas kristal di tangan, bangku kayu reyot pun lebih dari cukup, karena kamu, karena ada kamu. Semua menjadi berharga di hadapanku.

Foto itu..

i really like this pic..

seperti melihat masa lalu yang indah, romantis, momen bahagia yang tidak dapat terulang lagi.

seperti melihat kamu.

I love him dearly since I was..

and he loves me.

 

Sebulan lebih tak ada tanya tidak juga terdapat kata, apalagi bertemu. Kamu menghilang dan aku pun diam saja. Menjadi dekat secara jarak ternyata tidak mendekatkan kita untuk hal lainnya.

Namun tiba-tiba di suatu hari, kau katakan lewat pesan pendek, “Nah kamu tidak usah cemas lagi, sekarang kamu bisa melihatku setiap hari..”.

Tahukah kamu pesan pendek itu, ” I love you” dan balasanmu “love you too” adalah kebahagiaanku selama 2×24 jam berikutnya.

 

Cukuplah saya katakan bahwa saya memiliki kisah yang up and down dengan makanan pedas. Dalam kasus ini adalah Cakalang Rabe. Makanan Manado.

Rumit dan penuh komplikasi. Saya menyukainya sekaligus membencinya, pada saat sakit perut akibat memakannya. Seperti saat ini. Rasanya menyebalkan. Pengen putus dan engga kenal lagi sama si Cakalang Rabe. Andaikan saja dia cowok. Sayangnya dia ikan asap dari jenis ikan yang bersaudara dengan tongkol dan dibumbui dengan amat royalnya oleh mereka itu, mereka disini maksudnya adalah para penggagas masakan Manado sehingga pedas seperti sekarang.

Kalau sudah mules begini rasanya ingin berhenti saja dari segala macam makanan pedas di dunia ini. Apa daya kalau sudah ketemu muka lagi ya dimakan lagi. Seksi soalnya. Pedas dan merangsang. Kombinasi maut ya kan?

Dan hampir saja saya ingin menuntut restoran yang jual cakalang rabe  ini untuk kasus pembohongan publik. Masa di menu nyantumin gambar cabe tiga biji buat menunjukkan level pedasnya. Harusnya mah 42 biji kali. Wong pedesnya minta ampun.

Tadi siang di kantor saya sudah merasakan efeknya di perut. karena pagi-pagi sarapan cakalang rabe. Ini memang rada di luar rencana. Sebabnya semalam saat di Beer Garden saat saya nongkrong cantik dengan teman- teman saya, kami membicarakan makanan Manado. saya jadi ingat punya seporsi cakalang di kulkas. Sambil ngobrol dengan mereka pun saya memikirkan cakalang tersebut. Padahal obrolan sedang seru-serunya. Diantaranya adalah pembahasan sejarah pakaian dalam yang dikeluarkan oleh Agent Provocateur.

Juga pembahasan mengenai video editing bagaimana menghilangkan warna ketiak item di video klip di talent yang cakep tapi rupanya lupa mengurus warna kulit di bagian ketiak itu. saya curiga dia dulu engga pakai deodorant, tapi pakai kapur sirih campur jeruk nipis. Resep ampuh orang tua dulu tapi efek sampingnya bikin ketiak gosong.

Ini postingan jelas engga mutu dan ngawur. dimaklumi saja ya..kan saya nulisnya lagi sakit perut.

Pake handphone atau email atau sosmed emang enak. Tinggal copy paste dan klik broadcast terkirim sudah pada semua nama yang ada di address book kita. atau tag massal. Ada banyak cara deh buat ucapin selamat atau minal aidin walfaidzin di hari raya Idul Fitri.

Udah berlalu masa kita beli kartu lebaran bikin ucapan yang ditulis tangan dan ditandatangani. atau kalau pegel ya cuma ditandatangani dan dicap. ucapannya standar yang dicetak di kartu.

kalau saya emang punya cara sendiri. dari jaman kartu ucapan masih musim saya biasanya bikin sendiri. Kadang ditambahi gambar buatan sendiri. Kadang pakai puisi. Yang jelas semua ditulis tangan. Dan setiap orang yang saya kirim pasti beda ucapannya satu sama lain.

Pastinya orang-orang yang saya kirim artinya orang-orang yang saya anggap dekat atau spesial. soalnya kan pegal juga ya kalau bikin banyak. Atau membalas orang yang kirim saya ucapan selamat juga. Jadi semua saya anggap personal. Bukan produk massal.

Jaman sekarang karena kirim kartu udah engga musim, ya saya juga kirim juga sms atau lewat line dan whatsapp. Tapi tetap saja, saya anti copy paste. Saya ketik satu-satu nama orang dan ucapan yang berbeda untuk setiap orang. Pegel sih jempol. Tapi buat saya karena niatnya mempersonalisasi ucapan dan permintaan maaf kalau pas hari raya Idul Fitri ya engga apa-apalah jempol pegal setahun sekali.

Tapi saya juga engga nyalahin kok yang mau broadcast dan sms massal ucapan selamat. Yang penting pakai Telkomsel yaa…

 

Hidup itu Penuh Kejutan

2955728583_359989d5f7

forrest gump box of chocolate

“life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”

Ini apa yang dikatakan Tom Hanks saat berperan sebagai Forrest Gump, saat dia duduk menunggu bis.

Benar juga sih apa yang dikatakannya. Saya merasakan dalam dua bulan ini terjadi banyak perubahan. Pindah tempat kerja, pindah kota, walau masih di perusahaan yang sama. Yang tadinya bangun pagi tidur lagi, sekarang bangun pagi terus lari pagi, setiap hari. Hal ini salah satunya. Belum hal-hal lainnya.

Saya masih ingat di suatu sore di minggu pertama bulan April 2016, ya tepatnya bulan kemarin. Masih anget tai ayam kan ya? Jadi kepikiran yang bikin istilah anget-anget tai ayam pasti  banyak memiliki keterlibatan dengan ayam dan kotorannnya. Saya mendapat telepon dari HCM perusahaan saya, karena katanya saya tidak mereply email.

Sore itu saya sedang cuti untuk belanja bahan bangunan karena kamar anak saya plafonnya ambrol setelah Bandung dilanda hujan es. Ya hujan es. Ya di Bandung. Jangan heran karena Bandung beberapa kali mengalami hujan es sebesar kelereng. Segera saya membalas email tersebut yang mana isinya adalah undangan mengikuti assesment untuk pengisian posisi di departemen Commerce and Consultant Buyer. Ada sih beberapa posisi lainnya di Divisi Finance, tapi saya sudah lama meninggalkan dunia akunting, jadi ya saya memilih Divisi Procurement saja, tepatnya kalau di Head Office, Procurement ini sub direktorat.

Hari Jum’at saya mendapat undangan untuk presentasi di hari Senin besoknya. Apa yang saya lakukan? Saya ajak suami dan anak saya ke Puncak.  Loh kok ke Puncak? ya engga kenapa-kenapa juga, kebetulan hari Sabtu ada nikahan saudara suami saya di Cianjur. Sekalian saja menginap di puncak. Lagipula saya butuh tempat menyenangkan buat menyusun strategi.

Strategi pertama saya dalam membuat presentasi adalah:

  1. Cari template yang bagus.
  2. Cari font yang bagus
  3. Cari quote yang bagus

Loh isinya gimana? Isinya gimana nanti saja. Kalau templatenya udah indah, niscaya isinya menyesuaikan. Hehehehe.

Singkat cerita Senin saya berangkat ke Jakarta. Anehnya hari itu saya tidak mengalami mules atau demam panggung atau whatsoever. Malah sibuk ketawa dalam hati lihat orang lain yang akan presentasi terlihat tegang (dan pasti mules). Saya lebih merasa percaya diri karena berpikir what will be will be, que sera sera. Tinggal masalah klik tidaknya apa yang presentasikan dengan pemikiran para assesor. Kalau tidak dapat kliknya, ya bukan rejeki saya, dan selalu masih ada next time. Begitu sih pikiran saya.

Skip cerita, minggu depannya saya sudah terima SK promosi dan pindah ke Head Office. Berkat kegeeran saya (saya sebut ini visioner), karena saya selalu merasa bahwa suatu saat saya akan pindah kerja ke Kantor Pusat, jauh-jauh hari saya sudah cari kost sekitar kantor. Ada beberapa yang sudah saya survey malah setiap saya ada kesempatan ke Jakarta. Jadi pas harus pindah, saya sudah punya target tempat kost. Jaraknya sekitar 400 meter kalau ditarik garis lurus, tapi menjadi 800 meter karena memutari jalan-jalan komplek yang rumahnya segede-gede Gaban ini.

Surprise ya? April saya masih orang bandung yang celeno, Mei sekarang saya sudah tinggal di Jakarta, kota dimana yang suka saya amit-amitin saking macetnya. Tapi ternyata tidaklah buruk. Kadang kita terlalu berasumsi terlalu banyak. Iya macet, tapi saya tidak mengalami namanya macet, lha ke kantor jalan kaki kok. Panas suhu kota Jakarta juga saya cuma rasakan hari-hari awal pindah, sekarang setelah hampir 3 minggu, saya malah kedinginan di Bandung.

Alhamdulillah, teman-teman rekan kerja saya di kantor pusat sangat sangat baik. Mereka semua ramah, lucu, hangat,  di luar harapan saya  banyak hal-hal menarik  lainnya yang saya temui di kantor pusat. Harapan saya semoga saya tidak mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayai saya, semoga teman-teman dan rekan kerja bisa saling kerjasama dengan saya dan bisa menghasilkan yang terbaik buat perusahaan, keluarga saya di Bandung juga baik-baik saja saya tinggalkan selama hari kerja dalam satu minggu. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Surprise is the greatest gift which life can grant us.” – Boris Pasternak

 

 

 

“You don’t write because you want to say something, you write because you have something to say.”

― F. Scott Fitzgerald

Manusia bisa bicara ribuan tahun yang lalu sebelum Masehi. Tapi saat bangsa Sumeria di Mesopotamia mencatat hasil panen mereka dalam sistem tulisan, nah disanalah sejarah peradaban mulai tercatat dan dimulai.

Tulisan merupakan penemuan yang bisa dikatakan paling penting dalam peradaban umat manusia. Dengan tulisan, buah pemikiran, pengetahuan, hukum, perjanjian, ajaran agama, dapat diturunkan dari generasi ke generasi, dari abad ke abad. Melampaui jarak dan waktu, melintasi berbagai kebudayaan dan bahasa manusia, merupakan warisan terbesar umat manusia dari jaman ke jaman.

Menulis itu terasa sulit, kalau tidak terbiasa. Lalu bagaimana agar kita bisa menulis? Pertama-tama, mulailah sekarang juga. Jangan nanti atau lusa atau penundaan lainnya. Menulislah saat kita ingin menulis. Menulis apa? Apa saja. Apapun bisa ditulis. Tulislah sesuatu yang ingin dikatakan dari pikiran kita.

Seringkali saat saya masuk ke Periplus dan melihat buku-buku disana, saya terkagum oleh banyaknya buku berbahasa Inggris, yang ditulis oleh orang asing, entah itu orang Inggris atau bukan, yang jelas dari namanya bukan orang Indonesia, menulis tentang Indonesia. Banyak sekali. Terutama tentang kebudayaan di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari ujung utara sampai selatan Indonesia. Arsitektur, batik, sejarah, gamelan, seni ukir, perhiasan, suku-suku di pedalaman, hutan, kota, bahkan tempat-tempat menarik di tiap pelosok. Betapa menariknya Indonesia sebagai bahan tulisan!

wpid-37467041.png
Berbagai kisah perjalanan baik berupa human interest ataupun penjelajahan alam ditulis oleh orang-orang asing dalam bahasa Inggris, dan buku-bukunya dicetak dengan sangat bagus. Harganya jangan tanya. Buku-buku dengan kualitas cetakan prima dan sampul keras itu sangat menguras kantong.

Adakah kita sebagai bangsa Indonesia dapat memulai untuk menuliskan keindahan dan keragaman ini dalam bentuk tulisan sebagai suatu kebiasaan sehari-hari? Rekaman dalam bentuk tulisan tentang budaya Indonesia yang sangat kaya, yang dapat kita wariskan kepada anak cucu kita nanti, baik berupa digital atau format buku klasik, masa kebanyakan bisa kita cari di penulis yang bukan bangsa Indonesia itu sendiri?

Terus gimana caranya agar bisa menulis? Yang lucu tentang menulis adalah bahwa menulis akan lebih mudah jika kita suka membaca. Benar apa yang pernah dikatakan Stephen King, “If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write”.

Jadi membaca sangat penting agar kita bisa menulis. Membaca janganlah diartikan secara harfiah hanya membaca buku atau tulisan, tapi ‘membaca’ dengan pikiran dan perasaan. Kita memiliki kepedulian terhadap lingkungan, itu membaca. Kita peduli terhadap penderitaan orang lain, itu membaca. Kita mengagumi keindahan alam ciptaan Allah SWT dengan segenap pikiran dan perasaan, itu juga membaca.

Bacalah, lalu tuliskan, dan selamat! Anda telah dapat mewariskan pemikiran Anda pada peradaban berikutnya.

#bikinkerenindonesia #nuliskreatiftsel

Kalau mau bikin satu negara dan bangsa keren, caranya gimana? Kan bikin keren satu RT saja susah.

Itu kata orang pesimis. Kalau kata orang keren (seperti saya, misalnya). Itu hal yang sangat bisa dilakukan.

Bikin keren negara dan bangsa, tidak hanya dari sisi pembangunan saja. Tapi yang lebih penting lagi, tentu saja, sumber daya terbesar dan merupakan kekayaan utama bangsa Indonesia, apa itu? Orangnya.

Iya, sumber daya manusia adalah harta besar bangsa Indonesia. Dengan orang-orang yang banyak dan keren, bikin Indonesia keren itu mudah. Orangnya banyak banget soalnya. Manusia berwarganegara Indonesia berapa banyak sekarang?

Statistik di BPS menunjukkan pada tahun 2016 proyeksi jumlah penduduk Indonesia telah melebihi 250 Juta jiwa. Banyak kan? Banyak bingit malah.
jumlah-penduduk-indonesia

Dengan sumber daya manusia sebanyak ini tentunya kita memiliki modal besar sekali untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Tetapi Indonesia yang lebih baik dan keren seperti apa yang kita inginkan sebenarnya?

Keren dalam hal apa dulu nih?

Bangsa yang keren yang kita harapkan tentunya bangsa yang adil makmur sejahtera sebagaimana harapan yang tercantum dalam  Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional sebagai pengganti GBHN. Kalau jaman dulu yang terkenalnya GBHN kan ya.

Adil makmur sejahtera seperti apa? Kota besar dengan pencakar langit? Sistem transportasi massal yang mumpuni? Negara macet tanpa kepepet di setiap pergi pulang di hari kerja? Atau kekuatan militer dahsyat yang ditakuti negara lain?

Keren bisa banyak hal. Tapi yang pasti tiada mungkin sebuah negara menjadi keren tanpa orang-orangnya keren dulu. Gimana mau bikin negara dan bangsa jadi keren kalau diri sendiri engga keren. Pastinya negara yang keren dibuat dan dibangun oleh penduduknya yang keren.

Jadi bagaimana kita bikin diri sendiri keren dulu? Itu hal pertama yang harus kita pikirkan.

Pastinya kekerenan seseorang tidak ditentukan oleh bagusnya baju yang dia pakai, kacamata hitam bermerk apa yang bertengger di hidungnya, atau mobil jenis apa yang dia punya. Bukan, bukan itu. Keren bukan dihitung dari materi yang dimiliki.

Tapi keren tidaknya seseorang diukur dari sikap dan perilaku.

Mental. Iya itu, keren adalah masalah mental.

Semua orang tanpa kecuali bisa bersumbangsih untuk membuat Indonesia jadi keren.  Kontribusi bisa bermacam bentuk, dari berbagai bidang seperti berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, pendidikan, olahraga, berbagai karya, yang semua sifatnya untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik juga sebagai prestasi Indonesia di mata dunia internasional.

Lalu bagaimana dengan kita yang tidak merasa bisa menyumbangkan prestasi?

Mau balap kayak Rio Haryanto kagak punya mobil F1, motorpun tak ada. Mau bikin robot dan ikut olimpiade Fisika apadaya rangking di sekolah ada di kasta bawah. Tentu saja bisa berprestasi adalah hal yang keren, tapi kalau belum nyampe sampai kesitu apa lagi yang bisa kita buat dong?

Balik lagi ke yang tadi, kualitas mental. Sebelum kita menyumbangkan prestasi yang diakui, kita bisa juga bahkan sangat bisa untuk tetap bikin keren Indonesia tercinta ini, dengan sikap mental kita yang baik.

Sudahkah kita mengelola sampah kita dengan baik? Sudahkah kita mengurangi penggunaan plastik? Sudahkah kita menjaga alam sekitar dan lingkungan kita dengan tidak merusak alam dan tidak membuang sampah sembarangan? Sudahkah kita membudayakan antri? Sudahkah kita peduli dengan orang lain? Sudahkah kita berbagi dengan sesama?

Kita bisa bikin keren Indonesia dengan berbagai cara, dengan sikap mental dan perbuatan kita yang positif itu sudah bisa untuk berkontribusi #bikinkerenindonesia.

Tulisan ini diposting dalam rangka mengikuti #nuliskreatiftsel

 

 

Filosofi Ngosrek

Ngosrek toilet.

Atau panci dan wajan mehong di dapur.

Mehong itu bahasa Sunda, artinya suatu kondisi dimana suatu permukaan tampak hitam berminyak dan berjelaga. Ingat puisinya Rangga di AADC? Bagai berjelaga jika kusendiri? Nah itu dia. Hitam. Kelam. Selain pada pantat kuali kata mehong bisa kita terapkan pada wajah seseorang. Si Mehong, misalnya. Adalah panggilan saya pada seseorang yang berkulit hitam, tapi kurang manis sih. Tak usahlah saya sebutkan siapa. Tidak penting kok.

Saya punya kebiasaan yang tidak umum. Tapi sesuatu yang tidak umum itu sebenarnya biasa saja sih kalau dipikir-pikir. Orang saja yang suka ngegede-gedein ngasih cap ke saya ‘nyeleneh’. Padahal saya normal. Banget malah.

Dan engga cuma saya kok yang punya kebiasaan ngosrek WC kalau lagi galau. Dodi misalnya. Dia juga sama kayak saya.

Sebenarnya sih bukan karena galau juga. Cuma saja mood untuk menggosok atau menyikat atau mengosrek ini memang suka muncul tiba-tiba. Kadang terkait dengan kegalauan atau kecemasan, kadang tidak juga. Ya kepengen aja ngosrek.

Saya emang gak tahan kalau di kamar mandi, mau mandi nih ceritanya, terus ngelihat wastafel kotor. Pasti suka iseng saya bersihkan dulu itu wastafel. Tapi engga cuma wastafel di rumah sih. Kadang di hotel juga saya suka iseng gosok wastafelnya kalau ada noda. Biasanya pakai sikat gigi jelek yang disediakan hotel itu.

Paling engga tahan kalau di toilet terus kotor. Pernah di Kantor Polisi Cimahi, sewaktu nemenin teman saya bikin SIM, pas nebeng ke toiletnya saya melihat banyak tanah di lantai toilet. Pertama saya iseng guyur pakai air, lama-lama gemes, akhirnya saya bersihkan dengan sikat yang ada disitu.

Kadang di rumah kalau sebel sama suami, saya ujung-ujungnya ke dapur dan menggosok panci dan wajan. Biasa aja kan? Namanya kesal gitu loh. Tapi emang jamnya engga menentu, karena kesalnya tengah malam, ya saya pernah gosok pantat perabotan dapur itu jam 1 malam. Pagi-pagi dapur udah kinclong dah.

Seperti halnya hari ini.

Karena Senin besok saya resmi bekerja di Kantor Telkomsel Pintar, atau Telkomsel Smart Office, saya jadi merasa punya keinginan untuk menyikat tangga ke lantai dua dan tiga di rumah. Entahlah, mungkin saya resah. Tapi engga resah-resah amat sih.

Kost udah dibayar, baju udah siap dibawa. Kerjaan? Ya gitu deh. Kerjaan baru. Jabatan baru. Tapi ya apa juga yang mesti dikhawatirkan. Engga ada sih. Sebenarnya saya senang juga, lebih karena saya selalu merasa excite dengan hal-hal baru. Tapi keinginan ngosrek ini begitu kuat.

Saya merasa pikiran saya fokus saya menyikat WC atau benda apapun. Saat kotoran hilang disitu saya merasa puas. Bagi saya dan orang-orang yang punya kebiasaan sama dengan saya (Ya Dodi misalnya), ngosrek ini merupakan cara kami untuk bermeditasi. Ya, seperti Dalai Lama. Tarik napas, buang. Tarik napas. Jepit. Tahan. Ok, ini bukan meditasi. Ini senam Kegel.

Intinya, ada filosofi dalam ngosrek. Kedamaian, kegembiraan, kejernihan pikiran, kebersihan, kesehatan dan sanitasi. Itu pasti.

Ini bukan masalah penyimpangan. Atau semacam obsessive compulsive. Bukan, sama sekali bukan. Ini pengejewantahan jiwa dari kami, orang-orang keren penyuka keresikan dan kebersihan.

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 637 other followers

%d bloggers like this: