Feeds:
Posts
Comments

Satu Tempat, Satu Deskripsi

karena saya ini orangnya random banget, iseng-iseng saya mau mendeskripsikan dengan sesingkat-singkatnya nama tempat dan apa yang paling berkesan di tempat tersebut, versi saya. yak mulai. dari indonesia dulu. cerita kenapa hal tersebut jadi highlight nanti belakangan akan saya kumpulkan menjadi tulisan.

subang, goyang dombret

karawang, sendal jepit kiri semua

bandung, tempat sekolah

belgia, moules frites dan bir

singapore, mrt

ciamis, naik gunung

miyajima, oyster dan kijang

jayapura, perbatasan PNG

jakarta, kamu

bogor, kamu

yogyakarta, kamu

solo, kamu

surabaya, kamu

bali, kamu

makassar, kamu

samarinda, kamu

jepang, kamu

belanda, kamu

bangkok, kamu

dst, kamu, kamu, dan kamu

Work from Home

menurut saya salah satu solusi dalam mengatasi kemacetan dan polusi asap kendaraan adalah work from home. saya pendukung 100% kerja di rumah, selama memang pekerjaannya memungkinkan untuk itu. apalagi jaman penyakit menular begini. mau dijejerin pro dan con, tetap menurut saya solusi terbaik bagi kesehatan, kemacetan, kebahagiaan keluarga, dan penghematan, adalah yang ya work from home.

cara kerja dari mana saja ini adalah apa yang dicita-citakan dari sejak kapan jaman tahun dulu, mobile office, work from home, hybrid working place, semua itu sudah digadang-gadang sebagai solusi. berapa banyak kendaraan yang dapat dikurangi bila tidak diwajibkan ke kantor tiap hari? berapa banyak ongkos transportasi yang bisa dihemat? berapa banyak oksigen terselamatkan di paru-paru saya dengan tidak menghirup bau ketiak di moda transportasi kereta? amit-amit, cukup sekali saya kegencet hidup-hidup di KRL.

bila perlu ke kantor, ya tentu saja itu hal yang penting dipenuhi. bila memang perlu. misalnya apa sih yang perlu? ya bener-bener perlu tatap muka. misalnya pertemuan rahasia secret agent. lah tapi kan saya bukan agen CIA. atau KGB. btw emang masih ada itu organisasi? keperluan lainnya, misalnya benerin laptop kantor yang ga bisa diremote. hmm apa lagi ya? temu kangen atau makan bersama sesekali boleh lah. kali aja pengen tatap muka saking kangennya sama temen kantor.

tapiii.. selama semua berjalan dengan baik dengan wfh, ya kenapa harus wfo? saya sih orangnya nurut2 aja kalau emang sudah jadi aturan. tapi kan penasaran aja apa sih benefitnya. selama ini dengan wfh sejujurnya malah lebih banyak waktu untuk kerja dibanding jaman waktu wfo. dulu di jalan aja sampai ada istilah tua di jalan saking macetnya ibukota, belum lagi nunggu lift aja sampai kayak antri minyak goreng. ruang meeting juga antri. mau makan siang juga antri, banyak waktu buat ngantri dan macet-macetan.

jadi bila dengan wfh bisa dapat 12 jam kerja, kenapa harus wfo yang efektifnya paling cuma 6 jam? walau sih maunya saya ya wfh juga jam kerjanya normal seperti wfo. ada waktu dimana lewat jam kerja kita juga ingin istirahat, me time, atau meluangkan waktu bersama keluarga. dan itu hak sebagai pekerja, pegawai dan manusia.

Tentang Patah Hati

engga ada yang lucu dengan patah hati. apalagi kalau ngalamin sendiri. tapi kalau temen yang lagi patah hati, entah kenapa ada aja unsur geli gimana gitu ya, apalagi jaman kuliah dulu, hal gak lucu aje seringnya dianggap lucu. brutal kadang-kadang. apalagi becandanya.

di suatu hari yang tentunya saya sudah lupa hari apa dan kapan tepatnya, pokoknya jaman kuliah tingkat dua atau tiga lah, dimana di jaman itu punya duit ga punya duit rasanya happy aja selama tukang teh botol dan mie ayam di kampus masih mau diutangin. nah saat itu kayaknya pagi-pagi sebelum kuliah, saya mampir ke base camp, istilah gaya-gayaan buat rumah kontrakan yang isinya teman-teman kuliah saya yang semuanya laki-laki.

fyi, kampus saya emang mayoritas laki-laki. bahkan di jurusan saya yang notabene judulnya niaga aja kebanyakan juga laki-laki. apalagi di teknik mesin dan sekitarnya. sudahlah disana laki semua, mahluk-mahluk gondrong yang anehnya jarang mandi tapi rambutnya dirawat baik-baik, dengan maskeran lidah buaya atau bahkan merah telur, -serius. saya pernah nguping soalnya obrolan mereka.

nah di base camp yang ga jauh dari rumah yang saya kontrak (tingkat dua saya udah engga ngekost, saya ngontrak rumah kecil), duduklah teman sekelas saya yang bernama panggilan Atom. kenapa dipanggil atom? karena atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur yang tidak dapat dibagi lagi. itu kata Dalton. tapi bukan Dalton bersaudara si cerita Lucky Luke ye. Atom duduk terpekur di ruang depan tempat dimana kita biasa main gaple, engga ada kursi disitu cuma ada karpet. banyak debu bekas rokok dan juga bolong-bolong. sudahlah jangan harap disini bersih sehat dan hygienis. jorok adalah kata singkat padat yang menjelaskan kondisi rumah yang dihuni pria semua ini.

“maneh kunaon tom?” sapa saya. yang artinya kamu kenapa. karena terlihat dia gemetar dengan tubuh kecilnya yang ringkih dan berjaket jeans favoritnya yang sejak sma sudah jadi jaket kebesaran dia. kebesaran dua arti, emang dia bangga dengan jaketnya dan emang kegedean ukurannya. atom teman sma saya juga, yang mana dulu dia juga anggota geng motor, serem lah pokoknya. kecil kecil cabe rawit. tapi saya lupa dulu geng motornya apa ya namanya.

“diputusin euy ku si rina”, jawabnya sedih banget sesedih-sedihnya. wajahnya pucat badan lemas tak bertenaga seperti orang yang sudah diare semalaman dan butuh oralit dan infus elektrolit di UGD sesegera mungkin. oh ya arti kalimat ucapan atom adalah diputuskan oleh pacarnya yang bernama rina. saya sih ga tau orangnya yang mana dan seperti apa. cuma setau saya dia emang udah pacaran lama banget, bahkan bahasannya selulus kuliah mau langsung merit.

“waduh” saya ikut jongkok. “gimana dong” bingung juga gimana ya menghibur cowok yang patah hati. kalau temen perempuan mah ya suka nangis-nangis gitu. ini sih nangis mah engga, cuma kayaknya shock berat. selagi saya ikut duduk terpekur di sebelah atom, datang lagi teman saya berikutnya, nana dan tupeh, nana sering disebut nana dalem, atau seonggok tahi oleh atom dan tupeh. dan tupeh dipanggil seonggok sampah. kita tidak pernah bisa paham apa ide yang mendasari panggilan-panggilan sayang mereka ini. mereka akan saling memanggil “haiii seonggok tahiiiii” dan dijawab lagi, “hoiiii seonggok sampah”, sungguh tidak lucu ya. tapi biarlah selama mereka bahagia.

trus kami semua duduk sebelah atom. lalu atom bercerita, intinya dia masih dalam kondisi kaget, tidak terima, tidak percaya, dan bingung menghadapi kondisi ini. kami hanya bisa manggut-manggut tanda simpati. sambil memesan gorengan dari warung sebelah. lapar juga pagi-pagi belum sarapan. ya bisa dibilang atom ini ada di tahapan denial kalau menurut Kubler Ross grieving cycle.

kami merasa perlu sekali menemani atom di tahap ini. dan kami selalu bisa menemukan alasan untuk tidak kuliah alias membolos. kewajiban kami tentunya adalah menghibur teman yang patah hati. jadi pagi sampai siang kami lanjutkan dengan main gaple. soal main gaple di base camp ini ada cerita lagi tersendiri. ya gitu deh cerita saya, lain kali dilanjut kembali.

Resolusi (again) 2022

sepertinya setelah mampu menata keuangan dengan baik memasuki 2022, karena telah memiliki tambahan asset, tabungan, side jobs, dan 25 tahun kerja di Telkomsel, ini saatnya untuk merapikan lagi apa yang bisa diraih dan ditata ulang kembali di tahun 2022. terkait tambahan asset dan saving tentunya telah dilaporkan pajaknya ya..

namun rupanya Mysa beauty salon yang 2 tahun ini sempat bertahan melalui masa-masa pandemik, rupanya harus pindah lokasi karena di lokasi yang ada sekarang bertambah pesaing yang juga membuka usaha yang sama.

hal lainnya saya akan memperbanyak nonton film lucu, kembali lagi membaca buku-buku, melukis dan menggambar yang dulu menjadi hobi namun sekarang terbengkalai, belajar fotografi dan videografi, menyelesaikan online course lagi, menulis lagi di blog dan mencoba kembali menulis artikel-artikel tentang travelling.

oh ya akan kembali bertanam hidroponik sebagai tambahan kesibukan di pagi hari. kalau masih saja saya kurang kerjaan. Juga cita-cita tahun ini adalah membeli rumah baru di Kotabaru Parahyangan, yang mana harus bisa tercapai di akhir tahun 2022 karena saya ingin membeli dengan cash, tentu saja butuh kerja keras dan menabung lagi, tapi saya yakin pasti bisa.

oh ya, akhirul kata, menjadi perempuan mandiri, cerdas, percaya diri, banyak uang, itu menyenangkan. caranya gimana? saran saya, kurangi lah nonton sinetron dan sering-sering lah nonton sitkom Big Bang Theory.

Resolusi (again) 2022

kalau aku sih, untuk saat ini adalah mother, loving, crazy, uncanny, tired.

Work from Home

Kerja jadi bisa dari mana saja.

Pandemik Covid ini selain tentunya membawa duka cita dan kesulitan besar bagi semua orang, namun tidak dapat dipungkiri di tempat saya bekerja, ternyata hanya pandemik ini yang berhasil membawa digital transformation khususnya dalam hal ini adalah mobile office, memungkinkan di waktu yang sangat singkat.

Saya flashback ke tanggal di pertengahan Maret 2020, di hari terakhir kami bekerja di kantor saat itu. Situasi sangat hectic, beberapa rekan kerja sibuk set up laptopnya agar bisa terkoneksi sebagaimana seharusnya untuk keperluan otorisasi dan akses saat bekerja di rumah nanti, juga membereskan apa-apa di locker yang sekiranya perlu dibawa.

Dari awalnya kami masih menggunakan banyak kertas kerja, dokumen tercetak, juga approval dengan tandatangan basah, semua harus pindah ke digital dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Sudah seperti bunyi teks proklamasi. Pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Bulan-bulan pertama bekerja di rumah, oh sungguh luar biasa. Meeting koordinasi seperti tidak ada habis-habisnya. Mungkin banyak dari jajaran manajemen yang masih shock tidak lihat anak buahnya di depan mata. Bisa jadi mereka tidak yakin, ini pada kerja atau bobo siang ya?. Kenyataannya kerja di rumah banyak disampaikan sebagai aspirasi (saya tidak bilang mengeluh disini), bahwa memakan waktu kerja lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di kantor. Jam kerja menjadi seolah tanpa memiliki batas yang jelas.

Eh tapi panjang-panjang saya memberikan prolog di atas, sebenarnya bukan mau bahas digital transformation. Oh tidak. Saya malah mau membahas bahwa setelah bekerja sekian lama di rumah dengan tempo atau pace yang lebih teratur dan terbiasa dengan segala meeting online dan sebagainya, saya menemukan bahwa, yang namanya WFH ya emang bisa bekerja dari mana saja. Sejauh ada koneksi internet tentunya. Dan selama kurun waktu WFH ini saya sudah 2 kali malah WFB, Work from Bali dalam waktu yang cukup lama dibanding dulu-dulu yang cuma bisa ke Bali kalau cuma ambil cuti saja.

Sebetulnya WFB ini ga cuma di Bali, ye kannnn? Di Bandung juga WFB, Work from Bandung. Cuma kan saya emang aslinya tinggal di Bandung, jadi ya ga seru aja kalau namanya orang Bandung mah. Sesekali sih emang saya pernah staycation di hotel biar ga bosan-bosan amat di rumah. Sekali di Trans Hotel Gatot Subroto, sekali waktu lainnya di Hotel Padma Ciumbuleuit. Kenapa di hotel tersebut? nanti saya akan review terpisah, kenapa hotel-hotel tersebut ok banget buat staycation.

Wawancara Kerja

Saya ingin cerita beberapa pengalaman wawancara kerja saya jaman saya berada di masa keemasan. Golden age kalau kata orang. Bukan karena saya lagi lucu-lucunya atau lagi cantik-cantiknya (karena sekarang juga masih lucu dan masih cantik, *lirik Papa), tapi karena kan tahun 90-an itu masa jaya-jayanya banyak hal. Kata orang sih. Contohnya 90-an jaman kejayaan musik metal, juga jaman kejayaan orang lahir dengan nama Jaya. Juga semboyan angkatan laut kita, Jales Veva Jaya Mahe……..,krikk krikkk…..Sudahlah, makin engga nyambung ya.

Jadi pengalaman kerja saya banyak, tentunya pengalaman wawancara kerja saya juga banyak. Tapi yang ingin saya ungkap dan ungkit disini adalah pengalaman yang unik dan menarik (baca: memalukan). Karena kalau engga memalukan, pastinya gak akan unik dan menarik kan ya?

Ada yang saya ingat wawancara di Bank, Bank asing dengan logo merah-merah gitu lah. Pokoknya kan saat itu kalau kerja di bank rasanya gimana ya, keren banget. Karena customer servicenya aja pasti cantik-cantik dan menarik, bikin kita minder kalau buka tabungan cuma seuprit. Pakaiannya pasti rapi, rok pendek sepatu hak tinggi dan sikap yang manis. Kecuali bagian teller. Kalau teller suka judes. Terbukti pada saya. Pas saya udah kerja dan kebagian jadi kasir/teller, saya judes bukan main kata orang. Mungkin stress karena takut salah serahin uang terus kudu nombok.

Nah saya wawancara tuh disitu, udah dandan abis dengan parfum wangi ngembat punya Mama saya, parfum mahal untuk special ocassion. Pakai baju rapi, rok ketat dan kemeja sesuai standar kerja di bank, sepatu juga hak tinggi runcing, entah dapat minjem atau apa saya lupa. Karena saya sehari-hari pakai sendal jepit swallow atau sepatu boot.

Pendek kata, setelah wawancara berlangsung manis dan menyenangkan, si pewawancara melirik kertas lamaran saya, trus dia berkata, “Mba sebenernya melamar ke bank apa?” Saya jawab, “Ya bank ini, Bank XXX” dengan tegas, berwibawa dan fasih saya menjawabnya. Kan kudu pede katanya kalau wawancara. Si bapaknya bilang, “Kok disini tertulis ditujukan ke Bank YYY?” saya yakin wajah saya pasti memerah sampai ke akar rambut.

Saya tak kuasa menjawab, sudah pasti saya salah memasukkan surat lamaran. Bank XXX tertukar dengan Bank YYY. Dan yakin sih, ga bakal diterima jadinya

Itu baru satu pengalaman memalukan saya. Masih banyak yang lainnya.

Saya baru saja membaca deck presentasi teman saya yang keren dan hebat, abangku Abdi Januar Putra, dan saya sangat tergerak membaca kalimat ini, “Understand how 8 step model Kotter more articulate for Transformation than ADKAR or 7S McKinsey Models”.

Kan jadi kepikiran, loh kenapa model Kotter ini lebih enak diterapkan? Otak saya yang gampang karatan ini jadi memikirkan, apa sih bedanya konsep Kotter ini dibanding Adkar dari pendiri Prosci Jeff Hiatt, dan 7S nya McKinsey. Apa karena 7S McKinsey yang dibesut oleh Tom Peters dan Robert Waterman tahun 1980-an ini sudah cukup jadul dan dunia manajemen sudah berubah cepat? Atau terlalu kaku? Atau singkat katanya, udah ga asik lagi? Dan bagaimana dengan ADKAR yang release di tahun 1998, ada apa dengan ADKAR?

Hal ini membuat saya ingin membandingkan walau secara awam, apa sih yang membuat dari sebagian kita memilih Kotter dalam Change Management atau Transformation ini?

Pertama saya tampilkan ADKAR model di bawah ini:

Sebagaimana semua tahapan dari problem solving tentunya hal awal yang dicanangkan adalah temu kenali masalah. Seperti kita ketemu teman kita yang dekil, kuyu kusut dan terlihat tidak semangat, tentunya kita tanya duluan, “hey Bro ada apa dengan kamu?”, tidak ujug-ujug menyediakan makan, karena siapa tahu problemnya adalah baru diputuskan pacar, yang mana yang ingin dia lakukan pertama kali adalah curhat, atau bahkan mandi, karena sudah tidak mandi tiga hari. Makan tentunya juga adalah suatu step yang akan dilakukan sambil curhat, walaupun dalam hal ini mandi lebih penting dilakukan duluan. Bau soalnya. First thing first tentu saja. Yang mana tahapan selanjutnya, sebagaimana juga pola manajemen, diakhiri dengan evaluasi. Learb frim early mistakes.

Ok, lalu bagaimana dengan 7S McKinsey? Kalau lihat sepintas rasanya kaku banget ya, model yang diperkenalkan oleh dua orang konsultan bernama Tom Peters dan Robert Waterman ini.

Mc kinsey 7s model - strategic implementation- Manu Melwin Joy
ber

Toxic Relationship

Saya baru mendapat hadiah buku dari Direktur Keuangan di perusahaan saya bekerja. Judulnya The Art of Thinking Clearly, 99 Sesat Pikir. Karangan Rolf Dobelli. Buku ini datang di suatu sore di saat saya akan mandi, bertandatangan Pak Sonny (nama Bapak lengkap Leonardus Wahyu WM, sebutan pak Sonny darimana saya tidak tahu), dengan ucapan terima kasih atas kontribusi selama ini.

Jujur saja saya sudah lama tidak membaca buku, tapi untuk alasan sentimentil karena saya senang sekali dapat hadiah berupa buku, saya langsung membacanya (dan lupa kalau mau mandi). Di judulnya disebutkan bahwa sesat pikir ini adalah dalam investasi, bisnis dan masalah pribadi. Baca dua halaman pertama, karena bahasa terjemahannya enak, saya lanjut membacanya bahkan sambil berdiri depan lemari (karena tadinya mau ambil baju).

Kalau saya sudah mulai membaca buku, biasanya memang tidak bisa berhenti. Jadi malamnya saya lanjutkan lagi membaca setelah tugas harian saya selesai.

Ada yang saya note terkait dengan Bagian nomor 5, Anda Harus Melupakan Masa Lalu, terkait dengan sesat pikir biaya yang sudah dikeluarkan. Katanya sesat pikir yang paling berbahaya adalah saat kita berpikir bahwa kita telah menginvestasikan banyak waktu, uang, tenaga, atau kasih sayang ke dalam sesuatu, apakah itu hubungan dengan orang atau sesuatu hal terkait bisnis. Investasi yang sudah kita keluarkan menjadi alasan untuk melanjutkan, bahkan bila kita sudah jelas gagal atau menghadapi kegagalan. Semakin sudah banyak yang kita investasikan , semakin besar biaya yang sudah dikeluarkan, semakin banyak waktu yang sudah dihabiskan, menjadi dorongan pembenaran untuk melanjutkan, walau sudah hancur-hancuran.

Investor atau hubungan antar suami dan dan istri sering menjadi korban sesat pikir seperti ini. Entah ini dalam urusan pekerjaan ataupun toxic relationship. Dimana seharusnya saat kondisi sudah tidak memungkinkan untuk diteruskan dengan berbagai faktor dan kerugian yang terpeta di depan mata, namun kita tidak ambil tindakan untuk berhenti, karena faktor sesat pikir biaya tadi. Disini apa yang dimaksud Anda Harus Melupakan Masa Lalu memegang kunci penting untuk keberanian mengambil keputusan.

%d bloggers like this: