Feeds:
Posts
Comments

Apa yang tebersit di benak Anda ketika mendengar tentang Yogyakarta? Pastinya, gambaran kawasan ini lebih dari sekadar indah dan sarat budaya. Banyak kata yang bisa melukiskan Jogja. Misalnya; Jogja itu rindu, kenangan, dan keromantisan.

Rindu, seolah ingin kembali untuk menikmati nuansa hangat di Yogyakarta. Kenangan; mungkin ada selembar kisah masa lalu tak terlupakan di sana. Keromantisan; ini yang dirasakan setiap detik ketika berada di kota seribu pantai. Bahkan, menjelang malam hari, sisi romantis Jogja semakin terlihat.

Lalu, adakah tempat wisata malam di Jogja? Sekali lagi, Yogyakarta itu komplet. Mulai dari rekreasi pegunungan, pantai, hingga perkotaan. Berikut ini rekomendasi tempat yang bisa dikunjungi saat malam hari.

1.       Bukit Bintangyogya

Sumber : naradatour.com

Objek wisata Bukit Bintang berjarak 30 km dari pusat kota. Tempat ini dapat ditempuh dengan berkendara selama 60 menit. Kawasan tersebut menyajikan pemandangan lautan lampu dari ketinggian 150 meter di atas permukaan laut. Pengunjung bisa menyaksikannya ketika malam hari sambil duduk di kursi berbahan beton.

2.       Alun-Alun Kidul

Alun-alun kidul terletak di belakang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Saat malam hari, alun-alun disulap menjadi tempat wisata yang asyik. Banyak orang mengunjungi kawasan tersebut untuk sekadar berkumpul, menyewa mobil kayuh, atau mencicipi kuliner khas Jogja.

3.       Taman Pelangi Monjali

Anda ingin melihat pelangi di malam hari? Cobalah mengunjungi Taman Pelangi Monjali. Kawasan wisata ini berlokasi di Jalan Lingkar Utara, Yogyakarta. Untuk memasuki area, setiap pengunjung harus membeli tiket senilai Rp10.000 per orang.

4.       Titik Nol Kilometer

Titik nol kilometer merupakan denyut jantung Jogja sekaligus tempat wisata malam yang paling berkesan. Area ini menawarkan pemandangan gedung-gedung tua bergaya art deco. Selain itu, pengunjung bisa mencicipi aneka jajanan tradisional dan alunan musik di sana.

5.       Sindu Kusuma Edupark

Sindu Kusuma Edupark adalah kawasan wisata yang menghadirkan berbagai jenis permainan di wahana luar ruangan. Mulai dari kincir ria, segway, trampolin, bumper car, kereta, hingga komidi putar. Ada pula wahana di dalam ruangan, seperti Teater 7 Dimensi, Tengoro Budoyo, dan Kampung Seni.

6.       Plengkung Gading

Plengkung Gading berada satu lokasi dengan alun-alun kidul di Keraton Ngayogyakarta. Bentuknya berupa tembok yang difungsikan sebagai benteng keraton. Bagian atas bangunan ini digunakan untuk area berkumpul pengunjung. Mereka harus melewati anak tangga supaya mencapai tempat tersebut.

7.       Malioboro

Malioboro merupakan nama sebuah jalan di jantung Kota Jogja. Kawasan tersebut menjadi pusat perbelanjaan favorit para wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan, ketika malam hari, Malioboro tak pernah sepi. Tempat ini dijadikan sentra kuliner, pertunjukan seni, serta area pertemuan. Selain itu, pengunjung bisa menyewa delman atau becak untuk mengelilingi Malioboro hingga alun-alun keraton.

8.       Pasar Seni Gabusan

Pasar Seni Gabusan adalah sentra perdagangan kerajinan tangan terbesar di Yogyakarta. Lokasinya di Jalan Parangtritis, Bantul. Di pintu masuk pasar terdapat replika pesawat dan gong. Saat malam hari, replika tersebut menjadi spot paling menarik untuk berfoto. Tak hanya itu, Pasar Seni Gabusan kerap kali digunakan sebagai tempat penyelenggaraan perhelatan besar, seperti Bantul Expo dan upacara sekaten.

Itulah delapan tempat wisata di Yogyakarta yang paling ramai ketika malam hari. Jika memerlukan tempat menginap, Anda bisa mencari hotel murah di Jogja. Untuk menemukan referensi terbaik, silakan kunjungi situs web Airy Rooms.

Airy Rooms menyediakan kamar hotel bertarif ramah kantong. Setiap kamar dibekali tujuh fasilitas wajib, seperti televisi, AC, pancuran air hangat, perlengkapan mandi, air minum kemasan, sambungan WiFi gratis, dan tempat tidur bersih. Nah, mengenai transaksi pembayaran, bisa menggunakan Mobile Banking, lewat gerai Indomaret, atau kartu kredit. Praktis, kan? Jadi, kapan liburan ke Jogja?

Minggu depan saya akan pergi ke Yogya.. nantikan kisah seru saya selanjutnya yaa….

 

IMG_0652Kota tua Edinburgh di Skotlandia, banyak mengatakan sebagai kota tua tercantik di seluruh Inggris Raya. Walaupun orang Skotlandia ternyata tidak sudi menyebut diri mereka sebagai British, mereka selalu menyebut diri mereka Scottish. Kata pemandu wisata kuburan yang saya dengar ceritanya, itu adalah masalah prinsip.

Menyusuri Edinburgh tidak cukup sehari. Bahkan saya tidak tahu harus berapa hari saking menyenangkannya menyusuri kota tersebut bagi saya, yang mana melihat tumpukan batu atau setangkai bunga saja bisa bikin saya terpesona. Apalagi kota cantik seperti Edinburgh.

Kota Edinburgh terbagi dua bagian yang mudah untuk pemetaan. Old Town dan New Town. Dari namanya saja ketahuan mana yang bangunan baru dan mana bagian dari kota tua peninggalan abad lalu. Kota ini pun dekat dengan teluk sehingga camar-camar banyak beterbangan di antara gedung-gedung melintasi jalan. Hinggap di patung-patung raja yang bercelana ketat itu dan tanpa dosa membuang kotoran di kepala patungnya.

Princess Street yang terbentang panjang dari stasiun kereta sampai terus melewati monumen Skotlandia, taman, dan museum, merupakan jalan yang ramai dengan wisatawan, hotel, dan toko-toko aneka jenis. Juga mall. Primark. Mall standar di UK yang menjual berbagai produk fashion murah meriah.

Banyak spot di Edinburgh dimana kita dapat menemukan pengamen jalanan dengan rok Skotlandia kotak-kotak yang disebut kilt itu dan memainkan alat musik bagpipe yang suaranya mirip terompet orang Baduy. Dimana-mana juga bisa berpapasan dengan sekelompok orang di jam berapapun yang entah pulang dari pesta apa, mabuk dan berteriak-teriak. Ada istilah yang saya temukan di kertas larangan di hotel yaitu ‘No stag and hen party’. Apaan tuh…pesta kijang jantan dan ayam betina? Oh ternyata istilah untuk bachelor dan bachelorette party.

Di bulan Mei yang agak sedikit basah tapi agak dingin dan agak hangat, Edinburgh penuh dengan turis. Harga hotel naik 2 sampai dengan 3 kali lipat untuk week end. Jadi kamar hotel kecil yang biasanya bertarif IDR 1 sd 1.5 juta menjadi hampir IDR 3 sd 4 juta. Ampun dije deh. Di jalan banyak lewat bis model hop and hop yang membawa kita sepuasnya berkeliling kota untuk turun di tempat mana kita suka dan naik lagi di jadwal bis berikutnya yang lewat. Jadi kalau mau naik turun bis seharian juga bisa.

Di siang hari pertama datang, tanpa banyak beristirahat lagi kami langsung berangkat untuk jalan-jalan setelah check in dan ganti pakaian. Karena sana sini pemandangan indah dan enak untuk berjalan kaki, kami berempat berjalan jauh sekali rasanya.

IMG_0620

perut gede. lupa tahan napas

Dari Princess Street melewati taman lalu ke daerah Grass Market, St Giles Cathedral, Cowgate, dan tahu-tahu kami melewati sebuah cafe kecil bernama Elephant Cafe dimana banyak orang berfoto di depan kaca etalase. Saya pun sempat berfoto. Kafe kecil tempat JK Rowling menulis itu tampak menyenangkan. Kafe ini disebutkan sebagai tempat kelahiran Harry Potter. Setelah jauh berjalan kami sampai di University of Edinburgh dengan taman rumput yang luas dan hijau dimana banyak orang sedang berjemur, tiduran, duduk-duduk, bakar-bakar sesuatu mungkin barbeque, baca buku, dan aneka kegiatan lainnya yang bisa dilakukan di lahan luas berumput.

IMG_20170527_185730

Castle Edinburgh yang berdiri kokoh di bukit karang juga sangat menarik untuk dikunjungi. Pawai pria meniup bagpipe dengan pakaian khas dan memakai rok itu tidak boleh dilewatkan! Rugi banget kalau tidak sempat lihat. Dimana-mana kalau ada bubaran pesta atau acara resmi selalu dapat dilihat para pria ganteng memakai rok ini. Kadang atasan pakaiannya model tradisional tapi untuk acara resmi atasannya adalah kemeja dan jas. Dan menurut pegawai toko yang saya tanya, menurutnya dilarang keras pakai celana dalam! Ih, beneran nih? Kan jadi penasaran.

IMG_20170526_215023_BURST9

Makanan khas Scotlandia adalah haggis. Ini adalah cacahan jeroan domba. Rasanya, ya gitu deh. Jangan sampai tidak mencicipinya ya. Robert Burn penyair terkenal bahkan membuat puisi tentang haggis ini. Selain haggis, Scotland adalah negara penghasil whiskey, jadi ada wisata khusus untuk tour ke tempat distilasi whiskey juga. Toko-toko yang menjual aneka jenis whiskey bertebaran di penjuru kota. Menyusuri Edinburgh sungguh tak cukup cuma seminggu.

img_20170526_215259.jpg

 

Menjadi salah satu hewan terlucu di dunia, cukup banyak orang yang memiliki impian bertemu panda. Saking terkenalnya hewan ini, beragam koleksi boneka ataupun aksesoris berbau panda sangat diminati oleh sebagian besar orang. Intinya, ikonik banget deh! Jadi, kalau kamu punya kesempatan mengunjungi Negeri Tirai Bambu alias China atau Tiongkok, yuk, jangan lupa mengunjungi penangkaran Panda. Sekarang makin gampang untuk sampai ke negeri ini karena sudah ada China Airlines yang sediakan maskapai penerbangan dengan harga terjangkau.

panda

via: chinadiscovery.com

Jalan-jalan ke Chengdu China untuk Kunjungi Penangkaran Panda

Sebenarnya tidak hanya di Chengdu saja sih, China punya beberapa tempat penangkaran panda di beberapa provinsi lainnya. Akan tetapi, salah satu tempat yang paling populer adalah Panda Base Chengdu, China. Bagaimana sih tempatnya dan bagaimana cara ke sana?

Berada di provinsi Sichuan, kota Chengdu cukup mudah untuk dicapai. Dari Indonesia sendiri sudah terdapat maskapai langsung ke Chengdu atau bisa pula transit dan rute pulangnya menggunakan maskapai China Airlines. Sementara itu, lokasi penangkaran panda berada sekitar 10 km saja dari pusat kota. Alamatnya berada di Nothern Suburb, tepatnya Panda Base Road no. 26. Di kawasan ini terdapat penangkaran, laboratorium serta museum panda. Oh ya, asyiknya di kawasan ini adalah sekelilingnya asri dan tenang. Sebagai informasi, masuk ke kawasan ini bisa bayar tiket dengan sejumlah biaya sekitar 58 CNY jika belum naik atau berkunjung bersama grup karena harganya akan lebih murah lagi. Jadwal buka dari jam 8 pagi sampai dengan 6 sore.

panda1

via: chinadiscovery.com

Di Panda Base Chengdu terdapat dua jenis panda yaitu Giant Panda yaitu panda yang biasa kamu kenal dengan karakteristik warna bulu hitam-putih dan Red Panda yakni hewan langka panda merah berukuran lebih kecil daripada Giant Panda serta memiliki ekor panjang. Wah, baru tahu, ya, ada Red Panda?

panda2

via: weekendnotes.com

Tempat penangkaran panda disana juga didesain dengan konsep menggemaskan. Kandang Giant Panda dan Red Panda tersebar di berbagai sudut. Kandang-kandang tersebut dibentuk menyerupai rumah-rumah buatan seperti goa dengan banyak pintu dan jendela. Di bagian halamannya disediakan bilik-bilik bambu bersamaan dengan potongan bambu muda yang memang sengaja ditaruh disana agar mudah dimakan oleh panda. Tingkah polah panda-panda tersebut sangat menggemaskan! Namun, berbeda dengan Red Panda yang cenderung lebih aktif di siang hari, Giant Panda lebih sering beristirahat sehingga bisa jadi tidak terlihat oleh pengunjung.

Kamu bisa menelisik lebih jauh lagi ke kandang-kandang anak panda yang dikarantina di kandang kaca yang ditutup gorden. Ada juga yang dikandang di tempat teralis besi. Lucu! Anak-anak panda tersebut bermain mainan anak-anak seperti misanya kuda-kudaan dari bahan plastik dan lainnya. Hihihi. Meski terkesima dengan tingkah-polah lucu dari panda-panda ini, kamu dan teman-teman sebaiknya tetap tenang dan tidak berisik, ya. Petugas bakal menegur kalian kalau dianggap mengganggu para panda yang ada di penangkaran.

Juga Kunjungi Tempat Lainnya di Chengdu!

panda4

via: chinadiscovery.com

Selesai melihat-lihat panda, saatnya kamu kunjungi bagian lain dari Panda Base ini, seperti misalnya museum atau laboratorium. Di luar objek wisata ini, ada banyak lagi spot wisata menarik lainnya di Chengdu. Jadi, pastikan kamu sediakan waktu beberapa hari disana. Jika memungkinkan sediakan waktu lima atau enam hari. Contohnya saja, ada Dujiangyan yaitu sungai irigasi yang sudah dibangun sejak 256 SM. Lalu ada pula situs sejarah Jinsha hingga wisata alam Gunung Qingcheng serta beberapa wisata religi. Sedikit tips lagi bagi yang ingin jalan-jalan ke Chengdu China, sebaiknya berangkat sekitar September atau Oktober karena saat itu merupakan peralihan dari musim panas ke gugur. Mulai sekarang bisa cek tiket China Airlines buat tahun depan, ya!

 

Tahun 2017 akan segera berlalu dan saya yang berubah menjadi pemalas dalam updating blog ini menjadi terlupa untuk sedikit bercerita. Padahal dari semua perjalanan saya di tahun 2017 ini, kota tua Edinburgh menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Engga gampang kalau ngemodal sendiri kesana soalnya. Belum lagi waktu untuk pergi. Susah bingits deh. #lirik bos besar di kantor.

Tanggal 19 Mei 2017 saya berangkat ke London. Tidak gampang juga menuju kesana. Soalnya waktunya kepepet abis untuk bikin visa. Belum lagi rekening yang setipis kulit bawang membuat saya degdegan untuk pengajuan kesana. Bayangkan, pokoknya bayangkan saja deh isi buku tabungan yang seuprit. Namun undangan perusahaan disana dan bantuan rekening koran perusahaan yang angkanya fantastis rupanya membuat pengajuan visa UK ini selancar jalan tol di waktu subuh tanpa ada truk gandeng.

Cerita persiapan ke UK ini bisa menjadi tulisan blog sendiri. Tapi saya skip dulu karena ingin cerita pengalaman ke Edinburgh. Tempat dimana JK Rowling dapat ide menulis Harry Potter di Elephant Cafe. Tempat dimana jaman dulu banyak cerita seram, dan wisata kuburan menjadi salah satu tujuan wisata yang ngehits disana

Kami, saya dan teman-teman satu kantor, berangkat ke Edinburgh setelah mampir semalam di Manchester. Kami naik kereta dari stasiun di Manchester yang jaraknya cuma sekoprol saja dari hotel Double Tree. Berangkat pagi jam 8, dan tiba di Edinburgh sekitar jam 12 siang. Perjalanan sangat menyenangkan di kereta, karena saya banyak melihat pemandangan ladang-ladang dan rumah-rumah model Inggris yang banyak diceritakan di buku-buku Enyd Blyton dan Harry Potter.

Begitu keluar dari stasiun Waverly Edinburgh, kami diterpa udara dingin sejuk, pemandangan langit yang biru sebiru-birunya, awan yang berarak putih dan pemandangan kota tua yang sangat indah. Kami menginap di hotel Mercure di Princess Street yang ramai, ramai oleh turis dan ramai dengan toko-toko.

IMG_20170527_185119DSCN1425

Wisata kuburan dan bawah tanah yang ingin saya ceritakan ini sudah jauh hari saya pesan sebelum berangkat ke UK. Saya temukan rekomendasi ini setelah browsing di beberapa site tentang wisata di Edinburgh.

Bila beli tiket online lumayan dapat potongan harga. Dan ternyata saat saya di Edinburgh banyak wisatawan yang ingin ikut serta ditolak untuk buy on the spot karena slotnya sudah penuh.

Saya sengaja memilih Kamis malam untuk jalan-jalan ke vault atau ruang bawah tanah ini dan ke kuburan tua di Royal Mile yang katanya banyak hantu. Dari tiga teman sekantor saya yang pergi bareng hanya satu orang yang mau menemani saya untuk jalan malam ke kuburan ini. Itupun tiketnya saya yang bayarin. Harga tiketnya GBP 12 sekitar IDR 150.000 lah kira-kira pada saat itu.

Saya dan teman saya itu berdua paling kuat jalan kaki kemana-mana. Bukan soal kuat kuatan sih. Cuma mikirnya mumpung di negeri orang sedapat mungkin keluyuran sebanyaknya agar mendapat experience yang maksimal. Sebenernya lemes juga jalan kaki melulu. Dan bikin cepat lapar.

Siang hari sambil menunggu jam empat sore dimana kami menunggu sebuah restoran khas Kathmandu buka, dua teman saya yang lain balik ke hotel dulu untuk istirahat. Sementara saya dan teman saya yang jangkung dan bertattoo memilih untuk jalan-jalan seputaran Royal Mile dan Katedral St Giles.

Di sebelah restoran Bobby Friar dengan patung anjing di depannya ada jalan masuk ke kuburan. HAH KUBURAN! Pikir saya girang. Entah kenapa saya memang punya hobi untuk masuk jalan-jalan ke kuburan. Kuburan kuno sih. Kalau yang baru sih yah agak-agak males.

DSCN1429

Saya ajak teman saya untuk masuk dan melihat-lihat. Suasana sepi dan menyenangkan. Lah kok? Iya memang menyenangkan. Di antara batu-batu nisan dan patung malaikat terhampar rumput hijau dengan bunga putih kecil-kecil yang cantik. Bulan Mei memang musim semi. Banyak orang tiduran di rumput sambil berjemur dan membaca buku.

Saya ikutan tiduran di rumput dekat sebuah batu nisan besar. Nyaman sekali menikmati angin yang sejuk dan sinar matahari yang hangat. Teman saya sih ikutan saja duduk-duduk sebelah saya sambil bengong. Suara burung berkicau di sebuah pohon dan saya bilang itu suara burung jalak bali. Teman saya protes…masa iya jauh-jauh dari Bali itu burung sampai ke Edinburgh. Menurutnya itu suara burung murai.

Oh ya di Edinburgh ini kami menemukan restoran khas makanan Nepal yang rasa nasi kambingnya bukan main enak. Satu porsinya besar sekali sehingga beberapa porsi yang kami pesan kami habiskan berempat. Teh susu dengan rempahnya pun sangat memuaskan. Enak diminum di udara Edinburgh yang dingin.

Jam enam sore sesuai petunjuk tiket yang saya beli online tersebut, kami menunggu di depan gereja. Di depan di jalanan berbatu ada Heart of Midhlothian. Suatu blok paving berbentuk hati. Banyak orang yang lewat di bentuk hati tersebut meludahinya. Ih jorok!. Saya keheranan dan langsung browsing mencari tahu kenapa.

Ternyata Heart of Midhlothian adalah spot dimana di jaman dulu penjahat dihukum mati disana. Orang meludahi spot tersebut agar mendapat keberuntungan. Setelah membaca itu apakah saya ikut meludah? Tentu tidak. Saya tidak suka meludah sembarangan. Walau di Edinburgh sekalipun.

Tour Kuburan yang saya ikuti berdua dengan teman saya ini adalah City Of the Dead Tour, tour guidenya pria tinggi besar dan memakai pakaian hitam serta jaket kulit hitam yang melebihi lutut. Orangnya sih ganteng dan baik hati, dan lucu pula. walaupun setengah mati mengartikan bahasa Inggris dengan logat Scottish tak urung saya bisa ikut tertawa juga.

img_20170526_213852.jpg

Setelah menyusuri ruangan bawah tanah yang seram di bawah jalanan Royal Mile, kami naik menyusuri jalan berbatu untuk pergi ke …lah kuburan yang tadi siang saya tidur-tiduran di halaman rumputnya. Tapi dengan tour guide ini bisa melihat lebih jauh karena dia punya kunci pintu gerbang ke kuburan-kuburan dengan peti-peti batu dan ternyata ada penjara bawah tanah di dalamnya. Untung kami pergi jelang musim panas. Jam 8 malam masih terang. Kebayang di musim lain, tentunya gelap banget nih di kuburan.

I Leave My Heart in Hongdae

Hongdae adalah nama daerah di kota Seoul, Korea Selatan. Tepatnya di distrik Mapo-Gu. Dinamakan Hongdae karena  diambil dari Hongik Daehakgyo, Hongik University (학교), dan daerah ini sangat menyenangkan bagi anak muda karena banyak sekali kafe yang cantik dan trendy serta ramai di malam hari penuh dengan art performance, pemusik indie, dan musisi underground.

Selain banyak kafe yang sangat menyenangkan untuk duduk-duduk dan ngupi-ngupi centil, disana pun banyak terdapat penginapan berupa guest house dan hostel yang murah namun sangat bersih dan nyaman. Transportasi pun sangat mudah karena terdapat stasiun subway yang dekat dan kalau berjalan kaki kemana-manapun nyaman dan menyenangkan karena trotoar yang lebar, jalanan yang bersih, dengan trafik yang sepi dari mobil dan kendaraan bermotor lainnya.

Saya bahagia sekali di awal tahun 2017 lalu bisa liburan ke Korea bersama anak-anak. Kami menginap di Hongdae dan tidak ingin pindah ke daerah lain, kecuali di hari terakhir kami menginap di Incheon hanya karena tidak mau bangun pagi untuk pergi ke bandara. Kami menginap di Studio 41 dan Pencil hostel, keduanya di Hongdae. Karena kami berempat kami mengambil kamar dengan 4 tempat tidur, lengkap dengan dapur mini. Ada pula mesin cuci sehingga kami tidak mesti pusing membawa baju kotor kalau pulang nanti.

Kami betah sekali di Hongdae sehingga rasanya malah jadi malas kemana-mana. Daerah ini cocok untuk anak-anak saya yang berusia remaja. Dimana-mana seliweran oppa oppa ganteng dan gadis-gadis yang cantik dengan pakaian musim dingin yang modis. Mantel-mantel berwarna gelap tampak kontras dengan kulit Korea yang putih dan mulus.

Hari pertama kami tiba di hari Senin tanggal 2 Januari, dimana kemeriahan tahun baru telah lewat. Suasana pagi di bandara cukup sepi. Kami pun tidak terburu-buru ke tempat kami menginap karena masih ingin bersantai di bandara Incheon yang megah. Hal pertama yang kami lakukan adalah membeli wifi egg router yang telah saya pesan sebelumnya melalui internet. Bila kita memesan jauh hari sebelumnya akan mendapat potongan harga lumayan dan barangnya sudah disiapkan sehingga kita tidak menunggu lama. Bila dirupiahkan biaya sewa egg router ini sekitar Rp 300.000,- untuk seminggu bila tidak salah. Saya lupa persisnya. Bonnya juga sekarang sudah hilang.

Setelah urusan router dan membeli kartu subway kami lalu langsung pergi ke Hongdae. Saya tadinya agak cemas juga keluar dari stasiun MRT menuju penginapan, kebayang deh menyeret koper sejauh 1 km di udara sekitar 0 derajat celcius. Tapi ternyata kekhawatiran saya langsung sirna. Trotoar disana sangat mulus dan banyak taman indah untuk duduk-duduk bila lelah, sehingga bawa koper sepanjang jalan tidak terasa.

img_20170106_093952

Saat udara sangat dingin di malam hari kami menyempatkan masuk ke salah satu kafe cantik disana. Kalau soal harga engga jauh sih dengan kafe di Indonesia, ya segitu-gitu juga lah,  tapi kok rasanya enak banget ya disini, entah karena suasana atau karena kami sedang kedinginan, menghirup kopi panas dan coklat dengan marshmallow ini luar biasa rasanya.

Beberapa malam kami seringkali menghabiskan waktu berjalan-jalan di seputaran Hongdae melihat keramaian, melihat performance di jalan, atau sekedar memperhatikan orang yang lalu lalang. Kami mencicipi berbagai jajanan pinggir jalan, terutama Oden, karena enak sekali makan Oden sambil menghirup kuahnya di udara Hongdae yang menusuk tulang saking dinginnya. Ada juga kue berbentuk ikan yang berisi kacang merah yang sedap, juga tteokbokki bersaus merah pedas yang jadi kesukaan anak saya Dinda. Rasanya kami jarang masuk restoran karena kenyang makan jajanan pinggir jalan seperti ini. Tapi di hari terakhir di Hongdae saya menemukan resto kecil yang dagingnya semua sapi. Yay! dia tidak jual daging babi. Akhirnya kami makan disana. Rasanya lezat sekali dagingnya digunting-gunting dipanggang di bara api. Dimakan berserta gulungan selada dan tambahan irisan acar bawang bombay. Luar biasa enak.

 

img_20170106_171832

img_20170107_141652

Pesona Kota Pontianak

Pontianak bagi saya sangat fenomenal dalam sejarah hidup saya, karena kota Pontianak adalah tanah yang pertama kali saya dapat kunjungi di bumi Borneo yang kaya pesona ini. Mungkin sebagai tujuan wisata, Pontianak tidak sangat gencar dipromosikan sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia, tetapi sebagaimana mengutip kalimat dari Marcel Proust,

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”

Dalam hal ini saya terjemahkan menjadi keindahan dapat ditemukan dimana saja, tergantung bagaimana mata kita melihatnya.

Pertama berkeliling di kota Pontianak, rasanya menyenangkan melihat daerah yang terbentang luas tanpa terkungkung gedung beton yang tinggi, rasanya paru-paru dan mata terbebaskan untuk menghirup udara bebas dan memandang sejauh kita bisa. Matahari memang terasa terik menyengat, patut dibayangkan bagaimana tidak, Pontianak terletak pas di garis khatulistiwa, dimana berada titik 0 garis lintang melewati. Tanggal 20 Maret dan 23 September adalah  equinox dimana pada saat itu tidak terdapat bayangan bila kita berdiri di bawah sinar matahari, juga biasanya terdapat sun outage yang merupakan gangguan distorsi sinyal di geostationery satellite akibat interferensi radiasi matahari yang tinggi.

dscn0589

Kota Pontianak awal didirikan oleh  Syarif Abdurrahman Alkadrie pada tahun 1771 di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas Besar. Sungai Kapuas, sungai terbesar dan terpanjang di Kalimantan mengaliri kota ini menjadi urat nadi perekonomian sebagai sarana transportasi dimana kapal-kapal besar dapat melewatinya. Komoditi terbesar daerah ini adalah karet dan sawit, yang mana fluktuasi perekonomian tergantung pada tinggi rendahnya harga komoditi ini. Selain itu daerah Pontianak juga terkenal dengan produksi tanaman lidah buaya yang melimpah dan diolah  menjadi bahan baku kosmetik, berbagai penganan dan minuman. Talas juga melimpah sehingga oleh-oleh terkenal dari Pontianak adalah keripik talas. Nanas dan jeruk pun melimpah, banyak kuliner Pontianak yang menggunakan buah-buahan ini. Misalnya Pu Yong Hai, dadar telur tebal campur daging ayam, kepiting atau sapi, disini disajikan dengan potongan nanas dan siraman saus asam manis  yang segar.

Karena Pontianak juga banyak didiami oleh penduduk keturunan Cina, untuk perayaan tahun baru Cina atau Imlek biasanya dirayakan sangat meriah untuk acara festival Cap Go Meh. Cap Go Meh adalah hari ke limabelas di bulan pertama di tahun yang baru, dan di Pontianak festival ini menjadi perayaan yang sangat menarik perhatian turis. Kebudayaan Dayak, Melayu dan Tionghia mewarnai kebudayaan di Pontianak menjadikannya menarik penuh keunikan tersendiri.

dscn0627

Tempat menarik untuk dikunjungi dan menjadi ikon di kota Pontianak adalah tugu garis khatulistiwa terletak di Pontianak Utara. Melewati sungai Kapuas yang lebar dan menjadi urat nadi perekonomian, tak terlalu jauh dari pusat kota kita dapat berkunjung kesana dalam hitungan belasan menit saja. Tentu saja, di Pontianak dia macet ketat seperti Jakarta. Selain itu Istana Kadariah yang merupakan istana kesultanan Pontianak  yang didirikan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, merupakan tempat bersejarah yang wajib dikunjungi bila kita berkunjung ke Pontianak. Sultan  Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak ke-6, merupakan tokoh yang telah membuat desain lambang negara kita Burung Garuda.

dscn0661

Kangen Berarti..

Semalam aku ingat sedang bermimpi. Mimpi absurd karena disitu aku bertengkar dengan petugas pemeriksa di bandara. Aku meminta uang logam seratus rupiah dengan bulatan besar, di mimpi itu sepertinya besarnya menyamai bulatan sebesar bola pingpong. Dimana aku meminta petugas bandara itu memberikannya kepadaku untuk aku gunakan sebagai koin kerokan.

Saat itu rupanya handphoneku berdering. Tepatnya bergetar. Karena suara deringnya aku matikan. Rasanya dari tempat yang jauh sekali padahal tergeletak di samping tempat tidur.

Aku terbangun dan kulihat jam. Jam 12 lewat 30 menit. Ini lewat tengah malam. Handphoneku sudah berhenti bergetar. Kulihat siapa yang begitu punya nyali di malam buta menelepon.

Ternyata kamu.

Tak hendak kutelepon balik. Karena aku pikir kalau pun darurat biasanya disusul sms atau whatsapp message.

Pagi aku kirim pesan.

Kau menelepon tadi malam?

Ya. Jawabmu.

Aku pikir aku bermimpi.

Tidak.

Kepencet?

Tidak.

Kamu kangen?

………tidak ada jawaban….

 

Anak Merokok, Harus Bagaimana?

c360_2016-07-02-10-58-21-626Ini kayaknya problem orang tua semesta yang anaknya baru menanjak gede. Emang tidak semua anak, ya sih..tapi andaikan nih ya..andaikan Anda menemukan anak baru gede, entah SMP atau SMA merokok; apakah menemukan bungkus rokok di kamarnya, ataupun misalnya kegep merokok, atau menemukan bajunya bau rokok, apa yang akan kita lakukan?

Anak laki saya yang ganteng dan sekolah di SMA, merokok. Tepatnya beberapa waktu lalu dia ketahuan dan susah sekali diberitahu untuk berhenti merokok. Sekarang sudah engga lagi. Jadi mari kita bahas sejarah bagaimana seorang anak jadi merokok, dan sukur Alhamdulillah, berhenti merokok.

Sewaktu SMP, anak laki saya benci pada yang namanya rokok. Cewek merokok apalagi, emak-emak merokok? Lebih parah lagi. Pokoknya dia say no to rokok. Apalagi anak saya punya asma kambuhan. Udara bersih segar selalu menjadi prioritasnya. Lalu bagaimana cerita anak saya itu menjadi terjerumus kepada rokok?

Pergaulan. Iya. Namanya berteman dengan orang-orang, tepatnya disini anak-anak SMA yang lagi coba-coba nyari jati diri dan merokok, ternyata membuat anak saya jadi merokok. Mau marah (iya sih marah) tapi katanya marahin anak juga salah marahnya bisa fatal, mending kalau nurut, kalau tambah melawan gimana.

Saya sih pendekatannnya persuasif saja. Saya katakan saya tidak suka anak saya merokok dengan berbagai alasan logis yang saya bias kemukakan. Kesatu, tentu saja kesehatan. Kedua, masih kesehatan. Ketiga, pemborosan, saya coba kemukakan hitung-hitungan pemborosan yang dia lakukan VS uang yang bisa dia tabung untuk beli mother drive atau sound card buat komputer. Keempat, soal prinsip. Masa bodo sekitar kita mau ngerokok atau tidak, orang yang punya prinsip mah engga akan tergoda. Engga akan takut diledek, apalagi dihina untuk hal-hal yang gak penting seperti keberanian. Berani atau tidak kan ukurannya bukan dari merokok.

Obrolan macam gini saya lakukan setiap ada kesempatan, tapi bentuknya diskusi saja, tanpa menggurui dan mengomeli dia. Lagipula tipikal anak saya keras, kalau dimarahi malah melawan. Sepertinya kunci disini adalah cara berkomunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak.

Sekarang anak saya lagi rajin olahraga, merokoknya berhenti juga. Banyak makan sayur, dan bawa bekal makanan ke sekolah. Jajan pun dia sekarang jarang. Katanya lagi menerapkan pola hidup sehat. Pas saya tanya kenapa, dia bilang, ya kepingin saja. Mendingan olahraga, makan makanan sehat. Lagi ngebet pengen punya badan bagus, lagian merokok bikin napasnya sesak katanya. Saya jadi bernapas lega. Tanpa harus marah-marah, tanpa harus menghukum, dan tanpa cara-cara keras lainnya.

Mungkin ada yang mau meniru cara saya?

Kota Yogyakarta memang istimewa. Tidak ada habisnya untuk diceritakan. Tidak salah bila film AADC 2 dibuat disana. Romantisnya dapet. Tapi tetep saya sih kok ya engga baper nonton AADC 2. Saya terfokus pada Rangga yang berubah lebih ‘kuleuheu’, agak dekil gitu loh keliatannya. Beda dengan Rangga yang masih SMA, kinclong abis. Mungkin akhir-akhir ini Niko sering travelling. Lihat saja akun instagramnya. Kayaknya dia sering kelupaan pakai sunblock.

Berkesempatan ke Yogya walau cuma dua malam berharga banget rasanya. Minggu lalu saya berkesempatan untuk ke Yogya lagi setelah sekian tahun berlalu. Kali ini saya dan anak saya bertiga berangkat ke Yogya dari Bandung. Ternyata Bandara Husen udah bagusan ya. Jadi ingat dulu pernah pulang dari Singapore hampir saja ketimpa plafon yang ambruk di pintu kedatangan. Saking udah bobroknya.

Tiba di Yogya sudah jelang malam. Kami menginap di Phoenix Hotel di Jl Sudirman atas rekomendasi teman-teman saya. Kata mereka hotelnya keren dengan nuansa bangunan jaman Hindia Belanda.  Supir yang menjemput kami bernama pak Fitra sangat ramah dan tahu banget soal kuliner Yogya.  Kami ditawarkan untuk mencicipi sate Klathak di Jl Imogiri. Ada dua yang terkenal katanya, Sate Klathak Pak Pong atau Sate Klathak Pak Bari.

Pak Pong atau Pak Bari dua-duanya juga saya engga kenal. Jadi bebas saja deh. Tadinya pingin ke sate klatak tempat Cinta dan Rangga ketemuan itu, tapi Pak Fitra lebih rekomendasi ke Pak Pong. Dia engga nonton film AADC katanya. Jadi pilih yang rame aja. Ukuran dia yang enak itu yang rame dan antrinya lama. Kalau saya sih sebenarnya maunya yang sepi dan engga ngantri. Tapi saya nurut aja deh kalau sama orang Yogya, secara dia yang punya kota.

img_20161014_185923

Kalau anak saya  Drea, engga tahan banget dengan bau kambing. Dia nyaris tidak makan apa-apa. Bau kambing memang terasa saat kita memasuki tempat makan tersebut. Tapi satenya tidak bau kambing sama sekali. Sate kambing atau sate klatak ini adalah sate the best I ever had. Sumpaj, enaaaakkkk banget!. Karena saya penyuka daging sate yang tanpa bumbu, maka sate klatak dengan bumbu garam doang dan merica ini sangat sangat kena di lidah saya. Satenya empuknya pas. Tidak lembek tidak keras. Saya dan Anis memesan juga tengkleng, yang juga luar biasa enak.

img_20161014_191737

Harga per porsi sate Rp 20,000.- dengan dua tusuk sate yang menggunakan jari-jari sepeda. Tapi satenya panjang dan dagingnya banyak. Jadi satu porsi cukup untuk kami masing-masing. Saat itu tidak terlalu ramai, jadi pelayanan cepat tanpa harus menunggu lama.  Rasanya saya masih ingin makan kesini lagi besok. Tapi mengingat saya takut hipertensi saya kambuh sepertinya saya harus menahan diri untuk jangan rakus. Nanti darah tinggi kumat saya ngegelepek pingsan di kota orang kan engga lucu. Serem malah.

Dari tempat sate langsung pulang ke hotel tanpa mampir sana sini, karena baju jadi bau bakaran kambing (menurut Drea), yang bikin kepingin mandi.

img_20161015_172504

The Phoenix Hotel Yogyakarta

Tiba di hotel saya suka sekali dengan interior dan suasana kolonialnya. Agak spooky sih karena di lorongnya sepi, tapi sangat nyaman. Kamar kami juga luas dengan jendela yang bisa dibuka lebar terletak di lantai dasar dekat dengan kolam renang. Kolam renangnya tampak indah dikelilingi bangunan kamar dengan lampu-lampu yang bercahaya dengan cantiknya.

img_20161014_202517Besok pagi tanpa sarapan dulu dan anak-anak masih tidur saya dengan semangat Panglima Besar Jenderal Sudirman bertekad kuat untuk lari pagi di seputaran kota Yogya ini dengan target 10 Km. Rutenya kemana? Kagak tahu, yang penting kan bawa handphone. Kalau nyasar ya tinggal lihat GPS. Kecenderungan saya yang tinggi untuk nyasar tidak menyurutkan semangat saya untuk menelusur jalan-jalan kota yang masih sepi di pagi hari ini.  Lagian kalau nyasar siapa juga sih yang mau menculik emak-emak gendut dan kelihatannya bertampang wagu ini. Kagak jelas ada duitnya apa kagak, jutek iya. Preman juga pasti males malak. Lagipula kota Yogya terkenal dengan kota aman damai dengan tingkat kejahatan rendah.

img_20161015_072610

Pinggir Kali Code

Pagi hari di kota Yogya indah sekali. Banyak anak-anak sekolah berseragam dengan rok kotak-kotak mengendarai sepeda berangkat sekolah, padahal hari Sabtu ya. Tukang-tukang makanan menyiapkan gerobaknya dan banyak orang-orang tua menyapu halaman depan rumahnya dari dedaunan.  Atap-atap rumah di bantaran Kali Code tampak semarak dengan warna-warna terang, menyemburat di sinar matahari yang baru muncul diam-diam. Saya banyak berhenti untuk melihat sekitar. Ada rumah-rumah tua yang merupakan warisan budaya, bangunan-bangunan rumah sakit yang masih dalam bentuk aslinya, becak-becak lucu yang bentuknya berbeda dengan becak di kota lain

img_20161015_064302

Tak terasa karena sambil menikmati pagi di kota yang baru bangun ini saya jogging sampai dengan 10 km, rutenya entah, soalnya beberapa kali saya melewati jalan yang sama, saya pun melewati stadion dimana rupanya akan ada konser Slank nanti malam. Yang saya heran kebanyakan para Slanker yang membawa spanduk dan bendera bertuliskan nama-nama daerah darimana mereka berasal ini, tampaknya tidak mandi beberapa hari. Anis kemudian memberitahu bahwa fans Slank ini ciri khasnya memang jarang mandi. Ah yang benar? Yang jelas anak muda yang bahkan bergelatakan di trotoar ini nampaknya kurang memperhatikan sanitasi diri. Bahkan mereka tampak perlu menyisir rambutnya.

Oh ya kemanapun saya lari, seperti biasa abang-abang tukang becak selalu berusaha melemahkan semangat saya, “Mba..wong naek becak saja..cape lari-lari, mending naek becak yuk, mau kemana sih…sudah lima ribu sajaaa..” dengan logat Jawa mereka yang medok. Saya tergoda juga sih memang untuk berhenti dan makan soto, tapi lupa engga bawa uang.

Usaha saya sampai bisa lari ini engga mudah sebenarnya. Perlu setahun lebih untuk bisa melebihi jarak 5 Km. Dulu jalan kaki 2 Km saja rasanya udah juara banget ngalahin Usain Bolt. Ini juga pace saya engga bagus sih, masih kayak siput. Tapi lumayan lah daripada dulu jalan kaki saja saya ogah. Anak saya bilang bahkan gaya lari saya mirip kodok. Yang mana menurut saya adalah analogi yang salah. Kodok melompat soalnya bukan lari.

screenshot_2016-10-15-07-50-12_com-nike-plusgps

Pulang ke hotel, sekitar jam setengah delapan pagi, eh ternyata anak-anak bahkan belum bangun. Pemalas sekali. Saya ajak mereka sarapan. Ada air mancur di dekat bangku-bangku dan meja makan berpayung, saya duduk disana. Saya perhatikan banyak orang-orang asing yang menginap di hotel ini. Tak heran juga sih, karena nuansa kolonial hotel ini memang menarik sekali.

Saya ditawari untuk meminum jamu. Saya mencoba brotowali dan pahitnya engga hilang-hilang walaupun sesudahnya saya meminum air jahe campur gula merah dua gelas. Saya pikir ibu-ibu yang memberi puting mereka brotowali untuk menyapih anak menyusui itu adalah kejahatan tingkat tinggi. Tak heran kalau bayi bisa menangis berhari-hari bila menjilat brotowali. Saya aja shock berat.

Selanjutnya perjalanan saya di Yogya dalam rangka Get Away Week End ini akan saya lanjut di postingan lain, kalau disini kepanjangan soalnya.