Feeds:
Posts
Comments

Suatu Tempat di Pantai Utara

Aku selalu ingin bercerita tentang tempat dimana aku dibesarkan. Tempat ini menurutku sangat indah dan sangat menarik. Mungkin karena aku bahagia tinggal disana. Padahal tempat ini adalah tempat terpencil, gersang, jauh dari kota, dan memiliki tingkat kriminalitas tinggi.

Tempat ini bernama desa Sukamandi Jaya, Kecamatan Ciasem Girang. Secara geografis desa ini berada di dekat sungai yang akan bermuara di pantai utara. Sehingga ada dekat pantai sana agak jauh dari desa tempatku tinggal, desa yang bernama muara. Rumah-rumah di desa sini banyak dari bilik bambu berlantai tanah dengan balai-balai bambu juga. Mata pencaharian sebagian penduduk di kala itu, adalah buruh tani, penarik becak, supir, pedagang di pasar, buruh kasar di kota, dan penjaja cinta di warung remang. Ini betul, warung remang banyak di daerahku tinggal dulu. Walau dulu saya tidak mengerti.

Perumahan tempatku tinggal adalah kesenjangan sosial yang jomplang dengan perumahan desa sekitar komplek. Komplek rumah saya adalah perumahan berbagai tipe sampai yang besar-besar untuk ekspatriat berkebangsaan asing, sekitar kami berpagar duri dan dijaga satpam siang malam 24 jam. Tapi satpam disana baik-baik dan ramah. Bersepeda, senjatanya hanya pentungan karet. Tidak ada yang kekar seperti tentara. Bahkan Mang Wartam, pendek kecil, satu lagi Mang Dadang, tinggi ceking. Ada sih yang agak tegap bernama Hasan Basri, dan dia menjalin cinta dengan pembantuku di rumah bernama Maryati, dan kemudian mereka menikah, pulang ke desa Hasan Basri di Jawa Tengah dan memiliki banyak anak.

Di kelilingi sawah yang sangat luas sampai ribuan hektar, dan desa kumuh berbilik bambu yang kadang beberapa orang menyambung hidup dengan ‘ngasag’, memilah dan mencari bulir-bulir padi sisa panen di pesawahan demi sesuap nasi, komplek kami bergelimang fasilitas. Beberapa rumah ekspatriat ini diperaboti dengan perangkat dan peralatan listrik bermerk General Electric. Sampai ke water heaternya yang besar dan membutuhkan catu daya listrik ribuan watt. Mesin cuci, kulkas yang besar, blender dan oven, juga kompor listrik semua ada dijadikan pelengkap rumah. Asisten rumah tangga, satpam, dan tukang kebun plus sopir dan mobil dinas sudah tersedia.

Saat aku dibawa ke desa ini dari Bandung oleh ibuku, katanya umurku 8 bulan. Ayah ibuku menempati rumah kecil tipe 45 berhalaman luas, ada kolam ikan di belakang rumah, pohon jamblang atau duwet berbuah ungu kehitaman yang sekarang mulai langka, halaman rumput yang lumayan lega dimana anjing kami biasa berlari-lari, dan sebuah pohon jambu klutuk yang batangnya besar-besar bengkok dan tumbuh rendah merunduk sehingga mudah dipanjat.

Adikku lahir saat aku berumur 4 tahun di suatu senja yang mulai gelap. Aku ingat sekali aku melongok ke kamar saat adik laki-lakiku ditimbang dan semua orang tampak girang melihat kelaminnya yang kecil dan coklat itu. Kamar di rumah ini hanya 2 jadi aku tidur dengan ayah dan ibu. Sehari-hari aku bermain dengan anjing atau bersembunyi di belakang lemari dan sibuk berbicara sendiri. Kadang aku menyelinap ke belakang TV hitam putih kami untuk mencari rumah Adi Bing Slamet dan Chica Koeswoyo, juga Bobby anaknya Muksin Alatas, yang sedang ngetop banget sebagai penyanyi anak-anak.

Aku heran dimana mereka bersembunyi saat TV dimatikan. Aku pikir mereka tinggal di rumah-rumah kecil berbentuk kaca yang ada di balik tv itu. Saat itu komponen TV bisa dilihat semua kalau tutup belakangnya diangkat. Aku selalu memanggil-manggil mereka agar keluar dan bernyanyi lagi di layar TV. Tapi rupanya sia-sia. Mereka hanya mau keluar bila jam sudah menunjukkan waktu petang. Itupun kalau setelah acara Hasta Karya, atau belajar Bahasa Inggris bersama Nyonya Nisrina Nur Ubay.

Ibuku dulu bekerja dan aku selalu menangis saat dia pergi ke kantor. Ingin ikut. Umur 5 tahun ayah membawa kami ke rumah yang lebih besar, di komplek ekspatriat yang rumahnya hanya 7 saja. Katanya diminta direktur instansi kami yang orang Manado dan baik hati itu. Namanya Bapak Bernard Hendrik Siwi. Putri tunggalnya bernama Natalia Carolina. Karena lahir di Amerika, di Caroline Utara.

Suatu sore dengan mobil bak terbuka kami pindah rumah. Anjing kami berlari mengikuti kami, sementara ibuku menggendong adik bayi laki-laki, dan aku disuruh menjaga bungkusan berisi pecah belah agar tidak terguncang dan pecah berantakan.

Dan rumah yang besar ini sungguh lapang. Aku sibuk kesana kemari melihat perabotan rumah dan perabotan rumah tangga yang tersedia yang menurutku mengherankan sekali. Aku kagum melihat blender dan oven besar yang sepertinya aku muat di dalamnya. Kulkas juga besar sekali aku juga bisa bersembunyi disitu.

Tiap kamar sudah tersedia ranjang dan lemari kayu yang tinggi sampai ke langit-langit. Ada kamar mandi besar dengan bath tub dan shower, yang mana ini sangat membuat aku bahagia dan seringkali aku mandi berjam-jam disitu.

Biarkan aku bercerita tentang rumah dimana aku tinggal bertahun-tahun kemudian ini, karena aku sangat mencintai rumah yang kini tinggal puing itu.

Dari segi model sebetulnya biasa saja dibanding dengan model rumah jaman sekarang, besarnya mungkin 250m2. Dari depan jalan utama ada jalan masuk sekitar 2o meter menjorok ke depan rumah. Rumah-rumah besar ini hanya 7 mengeliling sebuah lapangan rumput berbentuk oval dengan pepohonan akasia dan berbagai pohon peneduh lainnya di sekelilingnya.

Jalan masuk kecil ini dipagari dengan semak pohon bunga sepatu atau disebut juga bunga raya di pinggirnya. Bunganya berwarna merah, salem, oranye dan putih. Semarak dan cantik sekali. Bila dipangkas semak ini mengeluarkan wangi daun yang menyengat yang baunya sampai sekarang aku masih bisa membayangkan. Ada pohon flamboyan juga di halaman rumah kami yang luas ini, bunga-bunga merah oranyenya sangat bagus bila sedang berbunga dan berguguran ke halaman. Ada pohon-pohon mangga arumanis yang buahnya manis sekali, pohon jambu kelutuk yang rajin sekali berbuah sampai rasanya aku tidak bisa suka lagi buah jambu saking seringnya makan buah jambu. Ada pohon kersen yang menjadi pohon favoritku setiap selalu, dan masih banyak pepohonan lainnya yang aku sangat suka.

Rumah dinas ayahku berwarna abu-abu dan putih. Atapnya dari kayu sirap. Kamar berjumlah 4 dan 2 diantaranya dipasang AC yang saat itu adalah barang mewah sekali. dan juga ada gudang. Tiga kamar mandi dan ruangan-ruangan lain sesuai fungsinya. Tiba-tiba perabotan yang dibawa ibuku terasa sangat sedikit di rumah luas ini. Di teras depan ada ruangan dengan tembok dari batu alam. Ini ruangan terbuka dan setiap sisinya dipasang kawat nyamuk, mungkin ini tempat cari angin duduk-duduk di depan. Kawat nyamuk karena nyamuk disini ganas sekali. Satu sih, tapi temannya ribuan.

Mobil ayahku adalah Jeep Hardtop berwarna merah. Tadinya mobil kami adalah Landrover abu-abu, sempat ganti jadi Jeep Canvas. Yang terakhir ini Jeep Hardtop tetap dipakai ayahku puluhan tahun, sampai aku bekerja dan kami pindah ke Bandung.

Foto Itu

10317-28178
Suatu siang entah di hari apa tanggal berapa. Sudah lama jadi lupa detailnya. Aku dan dia pergi berjalan-jalan dengan mobilku berdua saja. Dan dia menyetel lagu dari radio kencang, dan aku benci lagunya. Aku tidak ingat lagu apa, yang jelas lagu berisik jenis house music yang aku sangat tidak suka. Dia tidak mau mematikan radio dan aku kesal sampai menangis.

Oh ya aku tidak suka jenis musik seperti itu. Musik dugem kalau orang bilang. Aku suka berkeringat dingin dan resah bila mendengar nada-nada jenis yang seperti itu.

Berkeliling Bandung tanpa tujuan akhirnya kami pergi ke Lembang, sampai di Lembang kami lanjut ke Gunung Tangkuban Parahu. Duduk-duduk pinggir kawah dan kedinginan oleh kabut dan gerimis tipis.

Dia memanggil tukang foto keliling, dan kami berdua berfoto berpelukan. Tepatnya, aku duduk di depan dia dan dia memelukku dari belakang. Kami berdua tersenyum. Bahagia. Dan masih muda. Tidak tahu ke depan hidup kami akan seperti apa. Namun saat itu kami masih punya mimpi untuk masa depan berdua. Senyum kami tercetak disitu.

Fotonya hilang. Aku tidak bisa menemukannnya sekarang. Dulu sempat bertahun-tahun foto berbingkai kayu coklat tua itu ada di meja kerjaku.

Beri Aku Lupa

Mungkin terdengar melankolis.

Tapi memang saat ini aku memang sedang mengingat-ingat, kapan aku terakhir merasa sangat bahagia.

Karena katanya bahagia itu tergantung pikiran kita sendiri. Bahagia atau sedih adalah hasil dari pemikiran kita sendiri dalam memandang sesuatu.

Kalau seperti itu kenapa aku harus merasa sedih? Kenapa kebahagiaan dan kesenanganku tergantung pada orang lain?

Kenapa aku harus merasa berat bernafas padahal udara yang kuhirup masih seperti kemarin.

Mengapa aku harus merasa sepi ditengah hingar bingar…mengapa aku harus merepotkan diri dengan pikiran itu-itu saja.

Katanya lupa itu ada untuk kita lepas dari luka. Agar hal-hal menyakitkan yang menoreh menutup kembali seperti daging dan kulit yang menyatu kembali. Yah masih ada bekas. Tapi tidak menganga dan mengucur darah. Andaikan dapat kupinta lupa, Tuhanku berikan aku lupa yang banyak. Khusus tentang hal yang satu itu. Agar aku tidak mengingat walaupun sekedar namanya. Agar aku tak mengeluh bahwa hidup ini lengang tanpa hadirnya.

Nocturno

Aku sangat mencintainya sampai sakit rasanya. Dan saking sakitnya rasanya  sampai menjadi kebas. Maksudku kadang perasaanku tumpul. Tidak bisa menangis karena buat apa menangis. Tidak bisa berpikir karena tak ada jalan lagi. Tidak bisa berbuat apa-apa tepatnya. Jalani saja.

Kevin pernah bilang saat aku tanya bagaimana perasaannya kepadaku, katanya dia sendiri tidak tahu bagaimana mengatakannya, karena buat dia ini adalah sesuatu sulit dijelaskan.

Suatu hari saat aku menelepon entah berapa tahun yang lalu, aku menangis.

Dia tidak suka aku menangis.

Dia bilang, bahwa kita tidak bisa bersama adalah terjadi karena wrong time wrong decision. 

Dan berulang-ulang setelah itu kita bisa berjam-jam membahas kenapa ini bisa terjadi. Biasanya saling menyalahkan satu sama lain. Kemudian pembicaraan kita terus berandai-andai. Andaikan dulu kita begini, andaikan dulu kita begitu.  Dan kedepannya, andaikan bisa begini andaikan bisa begitu.

Aku tidak tahu seserius apa Kevin dalam hal pembahasan ini. Nada suaranya jarang terdengar sedih. Biasa saja seperti tanpa emosi berlebihan. Bukan nada suaranya yang membuat aku tambah sedih. Tapi apa yang dia ucapkan.

Aku yang sedih kadang menangis. Kadang dia berandai punya anak laki-laki, kadang dia berandai untuk datang ke rumahku yang sekarang, berdiam di kebun dan menatap gunung Burangrang dan Malabar di kejauhan dari atap rumahku. Kadang dia juga tiba-tiba bersemangat mengajakku ke kampungku dan menginap di rumah nenekku. Atau menyuruhku pergi ke Manado dan melihat bekas sekolahnya dulu.

Dan pernah, dia bilang “Kenapa kamu menikah dengan yang lain? Padahal tidak usah, ada aku yang akan menjaga kamu”.

Aku jawab,

“Kamu engga pernah bilang begitu dulu”

Dia jawab,

“Aku tidak tahu kalau kamu mau untuk aku…”

Setelah itu kami tidak bisa bilang apa-apa lagi dan pembicaraan akan beralih pada hal-hal absurd dan tidak penting lainnya. Untuk mengalihkan pikiran dari hal yang bikin sedih dan ucapan penyesalan.

Bertahun aku pacaran dengan Kevin anehnya aku tidak pernah pergi nonton film bareng. Atau duduk di taman berdua misalnya. Atau pergi kemana naik motor berboncengan.

Kami banyaknya duduk saja mengobrol. Atau dia bekerja dengan laptopnya dan aku duduk saja memperhatikan. Dulu pernah suatu malam aku saking takutnya kehilangan momen bersamanya aku menahan diri tidak tidur. Aku takut tertidur dan hilang lah jam dimana aku bisa menatap wajahnya dan mengelus rambutnya sesekali. Padahal selalu waktu bersamanya sangatlah sedikit. Konyol betul ya. Kayak di cerita kartun Jepang saja. Tapi ya memang begitu adanya.


My shattered dreams and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands, standing close to someone else
Now I sit all alone wishing all my feeling was gone
I gave my best to you, nothing for me to do
But have one last cry

Chorus:
One last cry, before I leave it all behind
I’ve gotta put you outta my mind this time
Stop living a lie
I guess I’m down to my last cry

Cry……

I was here, you were there
Guess we never could agree
While the sun shines on you
I need some love to bring on me
Still I sit all alone, wishing all my feeling was gone
Gotta get over you, nothing for me to do
But have one last cry

Chorus:
One last cry, before I leave it all behind
I’ve gotta put you outta my mind this time
Stop living a lie
I know I gotta be strong
Cause round me life goes on and on and on
And on…..

I’m gonna dry my eyes
Right after I had my
One last cry

Chorus:
One last cry, before I leave it all behind
I’ve gotta put you outta my mind for the very last time
Been living a lie
I guess I’m down
I guess I’m down
I guess I’m down…
To my last cry…

The last dance

Setelah jadian yang sebenarnya aku juga agak blur gimana awal ceritanya aku dan Kevin bisa sampai jadian, pokoknya singkat cerita kita pacaran, Kevin kerap datang ke Bandung.

Mengingat dia kerja di Jayapura, adalah aneh dia bisa sering datang. Paling tidak sebulan sekali. Bahkan bisa lebih. Setiap ada meeting ke Jakarta, Kevin pasti ke Bandung. Atau memang sengaja datang. Kadang sampai 3 hari dia disini.

Kevin jadi lebih tau jalan-jalan di Bandung dibanding aku sendiri. Apalagi dia juga sering pakai mobilku untuk keluyuran dengan teman-teman satu perusahaan kami. Sepertinya keluyuran tempat dugem. Awalnya sih sering kena tilang karena salah jalur jalan. Tapi lama-lama jadi sering ngebut karena hapal jalan.

Suatu hari Kevin ke Bandung, aku biasanya selalu ambil cuti kalau dia datang. Habisnya kan jauh. Ketemu juga susah kalau dipikir. Tiket Jayapura Jakarta dan lanjut ke Bandung kan engga murah.

Dia selalu menginap di daerah Dago atau Cipaganti. Saat itu aku juga sedanf mengambil kuliah ekstension di kampus Dipati Ukur. Pas Kevin datang kali ini aku sedang UAS.

Dia bilang bawa saja buku-buku catatan  dan latihan soalnya ke tempat dia menginap. Nanti belajar sama dia, katanya.

Percayalah, urusan belajar ini gagal total. Setiap aku baca catatan atau mengisi soal Kevin selalu mengajak ngobrol atau menjahiliku.

Karena kesal akhirnya aku letakkan buku dan menatapnya dengan putus asa.

“Eh Kyra, kamu bisa dansa?” tanyanya.

Aku menggeleng sambil menjawab,

“Engga bisa, tapi mamaku bisa. Cheek to cheek dan cha cha cha gitu deh”

“Yuk sini aku ajarin”, katanya sambil menarik aku berdiri.

Kevin memelukku dan mengajariku langkah-langkahnya.

“Kita orang Manado selalu suka berdansa”, katanya. Lalu katanya lagi,

“Nanti kalau kita menikah, pas pesta kita akan dansa pertama sebelum yang lain”

Aku sibuk dengan langkah kakiku jadi tidak menyimak apa yang dia katakan.

Kevin menggumamkan lagu sambil menarikku berdansa berkeliling di ruangan kecil ini. Entah lagu apa dan berapa banyak lagu yang dia nyanyikan.

Dan aku terus saja menginjak kakinya.

Dan tak satupun mata kuliah pada UASku yang nilainya layak untuk lulus.

Tentang Kangen

Tidak ada hujan tidak ada angin, suatu siang aku ditelepon Kevin.

“Kamu pasti lagi mikirin aku..”, katanya

“Engga..” kataku.

Jujur banget karena sesungguhnya aku lagi berpikir kenapa tagihan listrikku bulan ini naik 40% dari bulan kemarin.

“Ah iya ngaku aja”

“Dapat referensi darimana kalau aku mikirin kamu?”

“Keliatan kok dari sms terakhir yang kamu kirim, tekanan kalimatnya aja jelas nunjukkin kamu lagi mikirin aku”

“Oh ya?? perasaan sms-an terakhir itu bahas ukuran velg mobil”

“ah tapi kamu mikirin aku kaaan?”

“ya iya sih, aku mikirin kamu lah, tapi engga secara khusus, ya simultan aja bareng sama mikirin hal lain!” kataku ngotot.

“KAMU KOK SUSAH AMAT MENGAKUI KALAU KAMU LAGI MIKIRIN AKU???!!!”
lanjut Kevin,

“UDAH AKUI SAJA!”

astaga ini orang kemasukan jin apa? aku akhirnya buru-buru berucap, daripada dibilang keras kepala,

“IYA DEEEH, AKU KANGEN!”

“Nah gitu dong, mau mengakui..”, kata Kevin.

“?????”

Lain waktu aku iseng sms dia. Pakai huruf besar-besar.

“KEVIN, AKU KANGEN”

tak lama dia menjawab,

“Emang kamu lagi ngapain?”

aku jawab,

“Emang kalau kangen harus sambil ngapain?”

Sesungguhnya kami ini memang bukan tergolong orang yang bisa berkata-kata manis sepertinya.

Wawancara

Kadang kalau aku bosan dan Kevin sepertinya sedang tidak banyak pekerjaan (biasanya dia suka isi TTS, main domino online atau belajar bahasa Inggris, kadang Korea, kadang Jepang, kalau sedang tidak sibuk), kami akan ngobrol di telepon.

Tapi kalau menelepon pagi-pagi buta, biasanya dia juga sambil ngantuk. Aku sering bilang, kalau kamu tidur mending aku tutup teleponnya. Dia kerap jawab ini udah bangun cuma merem aja. Terus aku bilang aku sudah kehabisan lagu kalau kamu menelepon tapi sambil tidur, dan buang-buang waktu sekali bila cuma dengar napas orang yang tidur. Lagipula kan menyanyi bukan spesialisasiku. Kevin biasanya menjawab dengan menggumam, yang terdengar seperti kata “Rasputin..”, atau “Kapukin”.

Karena jelang pulang kerja ini aku lagi iseng, aku melakukan tanya jawab dengan Kevin. Di ruang kantor sudah sepi, sudah malam. Jadi aku menelepon sambil beres-beres meja.

“Kenapa kamu suka sama aku?”, tanyaku.

“Engga tau” katanya.

“Apa aku cantik?”

“Engga juga”

“Apa yang bikin kamu tertarik saat pertama ketemu?”

“Kamu mirip Cina”

“Selain itu?”

“Culun, terlihat bodoh campur polos”

“Kamu sayang sama aku?”

“Sayang lah, kalau engga sayang gak bakal dicari melulu. Kalau kamu?”

“Wah aku sih cuma tertarik sama kamu karena sex aja”, kataku. Ups.

“Wah masa sih?” kata Kevin terdengar heran, bukan tersinggung.

“Apa kenakalan kamu paling parah waktu sekolah dulu?”

“Ngiket bencong di tiang listrik”, ih mendengarnya aku sampai terhenyak.

“Kasiaaan tauuuu!”, kataku. Kevin tertawa. Abis lucu sih ujarnya.

Lanjutku,

“Suka berkelahi?”

“Sering”, lalu dia menyambung,

“eh tau engga, dulu waktu SMP aku jualan koran. Iseng saja seneng nongkrong dengan anak-anak jalanan. Padahal dulu sekolah di SMP swasta favorit”, kata Kevin antusias.

Lalu lanjutnya,

“kamu percaya engga aku dulu jualan koran?”

“kamu jual diri aja aku percaya apalagi cuma jualan koran”, kataku.

Wawancara terus berlanjut,

‘Apa kelemahan kamu?’

“Engga bisa bahasa Inggris”

“Apa kelebihan kamu?”

“Kalau mabuk, jadi bisa bahasa Inggris”

“Wah kalau mabuk bisa bela diri juga?” aku teringat film Drunken Master pas nanya ini.

“Kayaknya sih bisa, dulu kan belajar Kempo”

“Tapi dulu belajar Kempo karena ngejar cewek cantik yang ikutan Kempo juga sih”, lanjut Kevin.

1. Bisa tahu aku senang, marah, sedih, kesal, setiap perubahan emosi sekecil apapun dari nada suara saja.

2. Ingat hal-hal kecil kami saat pertama bertemu.

3. Entah kenapa saat aku dalam keadaan terpuruk, sedih, kesal, sakit, selalu dia yang pertama menelepon dan menghiburku.

4. Selalu mengangkat teleponku sesibuk apapun, walau sedang mandi, meeting atau ngobrol dengan pejabat penting.

5. Dulu selalu membelikan barang-barang kecil dari manapun dia pergi; gelang dari kerang, sebutir mutiara, sapu tangan dari kain tenun, gantungan kunci, dendeng kering, sampai satu peti buah matoa. Gelang kulit kerang yang dia belikan di pantai entah dimana itu, sampai sekarang ada di laci meja kerjaku.

6. Bila makan dia akan memindahkan makanan yang aku suka ke piringku dan makanan yang dia suka ke piringnya, misalnya tahu dia pindahkan ke piringku, tempe dia pindahkan ke piringnya, mentimun dia ambil, dan kemangi dia pindahkan ke piringku. Es di gelasnya dia pindahkan ke gelasku. Dan itu dia lakukan otomatis tanpa dia sadari kami sedang makan dengan orang-orang lain. Ingat film Two Weeks Notice, Sandra Bullock dan Hugh Grant saat mereka makan? Ya seperti itu.

7. Dia benar-benar suka padaku terlihat bukan dari kata-kata, tapi karena suka salah tingkah di depanku.

8. Tidak pernah memaksa untuk hal-hal yang aku tidak mau atau tidak suka.

9. Tidak cemburuan. Sama sekali tidak. Ini menyenangkan atau menyebalkan ya?

10.

1. Dia kadang menelepon tapi tidak bicara apa-apa. Malah tidur. Dan aku harus dengerin dia tidur dan kadang ngorok. Kalau ditutup dia akan menelepon lagi. Biasanya kalau bosan aku akan bernyanyi berbagai macam lagu yang aku bisa ingat. Terakhir bahkan aku menyanyi hampir 10 lagu, cuplikan ngasal dari The Beatles, Muse, Coldplay, dan lainnya. Soal fals sudah jelas, tapi aku juga tidak peduli.

2. Dia memanggil aku dengan nama Oneng. Kadang entah kenapa jadi jamak. Oneng-oneng.

3. Dia kerap menyuruhku mengerjakan berbagai macam hal. Menerjemahkan presentasinya, memotong celana ke tukang jahit, membesarkan baju ke tukang jahit, membeli mobil, menjual mobil, banyak lagi yang lainnya, dan terakhir meminta dicarikan pembantu.

4. Suka gak jelas dan disorientasi. Misalnya dia menelepon dan aku telat angkat karena asik ngegosip di pantry, sementara handphone di meja kerja. Pas aku telpon balik, dia cuma bilang,
“Sedang makan”
“Lho tadi ada miscalled, kan nelepon ya? Ada apa?”
“Kalau tadi nelepon itu sebelum makan”
“Jadi?”
“Sekarang sedang makan, jadi…udah dulu ya?”
“Oh ok”
Dan saya menutup telepon dengan bingung.
Siangnya aku tanya lagi lewat Line, tadi pagi ngapain nelepon. Dia jawab, kalau jarang nelepon nanti dibilang sombong.

5. Dia selalu memintaku untuk membantu menggaruk punggungnya.
Aku pernah bilang suatu hari sama dia, sambil meggaruki pungungnya dari kiri kanan atas bawah di berbagai koordinat yang dia tunjukkan,
“tau engga, Erick Estrada?”
“siapa itu?”
“Yang main jadi polisi di film CHIPS”
“jadul sekali tuh film, emang kenapa?”
“dia diceraikan istrinya, gara-gara tiap malam diminta menggaruki punggung”
“kamu tau darimana?”
“baca di majalah Hai”

6. Urusan makan dia engga bisa move on dari nasi uduk, tempe goreng kering, dan soto. Dari jaman kere sampai jadi pejabat, belum beranjak dari makan di warung bila pergi makan denganku. Dulu sekali aku pernah mengajak dia makan, di restoran makanan Jepang. Dan jadinya aku makan sendiri dengan Kevin hanya duduk diam nonton aku makan.

7. Suka marah untuk hal-hal absurd. Misalnya marah-marah gara-gara kutawarkan untuk membawa dongkrak saat dia membawa mobil tua dari Bandung ke Jakarta. Katanya, toh dia laki-laki, gampang tinggal pinjam di jalan pada mobil lewat kalau ada apa-apa. Dan aku sungguh tidak mengerti apa hubungannya antara kelelakian dengan membawa alat untuk tindakan jaga-jaga ban kempes.

8. Sering bercerita dan membacakan lelucon berbahasa Manado, heboh sendiri, tertawa sendiri, dan ngomel kalau aku tanya-tanya arti kata yang aku tidak bisa menebak artinya. Katanya bahasa Manado adalah bahasa paling keren sedunia dan harusnya mudah aku mengerti.

9. Selalu yakin kalau aku cuma menganggap dia satu-satunya orang yang paling aku sayang, dan sialnya dia benar.

10. Selalu ngomel dengan caraku menyetir dan problemku yang tidak bisa mengingat nama jalan dan rute.

11. Selera musiknya buruk.

12. Tidak pernah ingat satu quote pun dari film manapun.

Lho kok lebih dari sepuluh?