Feeds:
Posts
Comments

Kota Kembang julukannya, Bandung adalah salah satu destinasi yang populer untuk dituju ketika liburan. Selain dimanjakan oleh tempat-tempat wisatanya, para pelancong juga dimanjakan oleh kulinernya. Mulai dari tempat makan kaki lima hingga resto-resto mewah tersebar banyak menambah ramai variasi kuliner di kota ini.

Biasanya, warga Bandung atau wisatawan menikmati jajanan Bandung di alun-alun. Letaknya tepat di sebelah Masjid Agung Bandung. Keadaan yang ramai dan banyak terdapat pedagang makanan menambah asyik suasana nongkrong atau bersantai, apalagi di sore hari.

Selain bersantai, pelancong juga bisa menikmati suasana kota Bandung dari atas, karena terdapat dua menara berlantai 19 yang mengapit Masjid Agung Bandung. Menara ini biasanya dibuka hari Sabtu dan Minggu, dan keindahan Kota Bandung akan terlihat 360 derajat jika dilihat dari atas menara ini.

mesjid

Suasana alun-alun dan Masjid Agung Bandung (gulalives.com)

Jika ingin menikmati liburan seru dengan wahana bermain, Bandung juga memiliki wahana hiburan yang populer di Trans Studio Bandung. Berbagai macam tempat bermain, seperti jet Yamaha racing Coaster, ayunan Giant Swing, Negeri Raksasa yang tinggi dan putaran Vertigo siap memacu adrenalin pengunjung. Letaknya tidak jauh dari alun-alun.

Beralih dari Trans Studio, tempat lain yang terkenal dan sering dikunjungi adalah Lembang. Di Lembang terdapat Farm House, yaitu tempat yang menawarkan konsep Eropa Klasik mulai dari peternakan, perkebunan dan desa kurcaci. Di daerah ini juga pengunjung bisa menikmati kuliner tahu susu Lembang yang sangat enak dengan harga yang terjangkau.

hobbit

Rumah kurcaci di Farmhouse Lembang (merdeka.com)

Sebagai salah satu kota yang sering dijadikan tujuan wisata, tentu Bandung memiliki banyak penginapan di area pusat kota dan sekitar obyek wisatanya dengan harga jujur dan termurah.Salah satu hotel yang akan memanjakan pengunjungnya dengan wisata kulinernya adalah Hotel Harris Bandung, karena menu-menunya yang beragam mulai dari nasional hingga internasional.

Selain makanan dan tempat wisata, Bandung juga dipenuhi dengan tempat-tempat perbelanjaan fashion. Salah satu tempat belanja yang cukup terkenal di Bandung adalah di sepanjang Cihampelas. Pengunjung akan dimanjakan oleh FO yang menawarkan produk-produk fashion yang hits. Pengunjung juga bisa berbelanja sambil menikmati aneka jajanan karena di sepanjang jalan terdapat banyak pedagang jajanan ataupun tempat makan.

Tempat wisata lain yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Bandung adalah Sendang Geulis Kahuripan. Tempat ini sedang naik daun karena di sini terdapat mata air yang sangat bening dan jernih. Suasananya di pedesaan, sehingga udaranya masih sangat terasa sejuk dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Wisatawan biasanya selfie atau narsis sambil menyelam di dalam air. Airnya yang jernih membuat spotnya terlihat indah hingga dasarnya dapat terlihat.

sendang-geulis

Air yang jernih di Sendang Geulis Kahuripan (blog.reservasi.com)

Masih berhubungan dengan alam, Bandung memiliki dua kawah favorit wisatawan, yaitu kawah putih Ciwidey dan kawah Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kawah putih memiliki keunikan berupa tanahnya yang berwarna putih karena memiliki kandungan belerang dan airnya yang suka berubah warna, sedangkan Tangkuban Perahu memiliki dinding kawah yang unik dan eksotis.

Tidak jauh dari Ciwidey, terdapat hamparan kebun strawberry yang indah dan memikat mata. Pengunjung bisa berjalan-jalan sambil foto-foto, bahkan bisa memetik buah strawberry langsung lho di sini. Kemudian buahnya ditimbang dan harus membayar sesuai dengan berat strawberry yang dipetik untuk bisa membawa pulang buahnya.

starwberry

Kebun strawberry Ciwidey (waterwaterfall.blogspot.com)

Bandung juga punya tempat wisata budaya, namanya Saung Angklung Udjo. Yaitu tempat pelestarian Angklung dan budaya Sunda. Pengunjung dapat juga menikmati pertunjukan angklung di sini pada setiap siang atau sore hari. Tempatnya khas karena didominasi oleh bambu dan alunan suara angklung selalu mengalir di sini.

Acara yang sering ditampilkan di Saung Angklung Udjoa dalah tari topeng, helaran, orchestra angklung dan wayang golek. Jika lapar, di sini juga terdapat Saung dan Dapur Udjo, yang menyediakan macam-macam makanan khas Sunda dengan cita rasa yang enak. Dan untuk melengkapi kunjungan, di sini juga terdapat tempat suvenir khas Saung Angklung Udjo.

pesta-angklung

Pentas seni Angklung di Saung Angklung Udjo (Djedjalanan.wordpress.com)

Nah, selain tempat-tempat wisata, bandung juga terkenal dengan banyak taman kecil yang masing-masing memiliki keunikan tersediri. Misalnya Taman Jomblo, Taman Lansia, Taman Filem, Taman Fotografi, Pet Park, Taman Super Hero dan lain-lain.

Untuk melengkapi keseruan liburan di Bandung, jangan lupa bersantai di salah satu tamannya ya dan pastikan jangan lupa dibawa jajanannya. Selamat jalan-jalan sambil icip-icip!

Hari Sabtu dan Minggu kemarin adalah akhir pekan yang menyenangkan banget buat saya. Namanya juga pulang ke Bandung kumpul dengan keluarga. Hari Sabtu pagi dimulai dengan kegiatan menyenangkan pula. Pijat! ada ibu-ibu langganan saya bernama Mba Mega yang setiap pekan ke rumah saya untuk pijat dan lulur. Serius, saya berani bersumpah pijatan tangannya lebih nyaman dari semua spa atau tempat pijat apapun yang pernah saya coba.

Lalu siangnya karena Drea belum pulang juga dari ekskul, akhirnya saya pergi berdua dengan suami ke PVJ untuk nonton. Kalau Dimas jangan diharap deh. Lagipula dia baru pulang kemping di Burangrang, mana mau dia pergi. Lagi normal saja ogah, apalagi sedang ngantuk model gini.

Saya antusias sekali. Soalnya lagi banyak film-film bagus yang dinanti. Sabtu ini saya nonton di CGV yang sedang direnovasi sebagian, bikin sumpek dan bingung deh. belum lagi antrian toilet yang mengular. Menyebalkan. Tapi tidak mengurangi semangat saya nonton sih. Salah satunya karena saya suka film koboi. Wild Wild West. Jaman keemasan cowok-cowok ganteng naik kuda. Walau dekil berdebu tetap ganteng. Jago tembak pula.

Jadi untuk sore ini saya nonton Seven Magnificent. Denzel Washington kata review disebut-sebut sebagai magnet daya tarik buat film ini, beberapa nama lain saya tidak ingat-ingat amat, kecuali Ethan Hawk yang mantan suami Uma Thurman. Tapi biar saja tidak ingat nama-namapun yang main ganteng-ganteng. Juga ada Haley Bennet jadi tokoh cewek yang menurut saya cantik bukan main. Saya mengingatnya sebagai penyanyi di film Music and Lyric yang dibintangi Hugh Grant dan Drew Barrymore.

Saya bukan reviewer film yang baik. Soalnya tidak suka mengkritisi. Saya mudah terpuaskan. Mau ceritanya klise atau tidak, selama yang main ganteng dan seru ada tembak-tembakannya, saya sudah bahagia. Tapi menurut saya film ini sama sekali tidak jelek. Berapapun rating Rotten Tomatoes yang didapat saya tetap suka dan menganggap tidak rugi sama sekali nonton film ini.

Saya sih cuma sibuk menghitung jumlah peluru dari tiap pistol yang ditembakkan, kalau lebih dari enamm saya baru keheranan. Dan saya juga tidak habis mengerti kenapa gaya Denzel Washington nembak itu kayak yang engga stabil, nyanggeyeng kalau kata bahasa Sunda, kaki berdiri dengan lutut agak rapat terus bertopang ke kaki satunya. Lah kan aneh ya.

Saya engga mau bahas jalan cerita, ntar jadi spoiler. Pernah dengar engga ada orang yang teriakin spoiler terus digebukin orang sebioskop? nah saya engga mau jadi orang kayak gitu.

magsevenheader

Hari Minggu saya pergi berdua saja dengan Drea, ke PVJ lagi. Astaga. Drea sampai tanya Emak engga bosan apa ke PVJ melulu. Terus kata saya, ya maunya sih ke Pacific Place de, tapi kan PP mah di Jakarta. Menyenangkan sekali jalan berdua anak ini. Lebih rame sih memang kalau ada Anis, Dinda dan Dimas. Pasti lebih rame. Terutama ada Dimas yang suka jahil pada yang lain.

Eh sebelum ke PVJ sebetulnya saya ke Istana Plaza dulu, dengan teman Drea. Jadi kami bertiga. Drea perlu beli handphone baru. Lalu kami makan bertiga di Pepper Lunch. Sempat juga foto-fotoan bertiga ala alay jaman sekarang. Hihi.

img1475385577685

Nah di PVJ kami menonton Miss Peregrine’s House for Peculiar Children. Tadinya pengen nonton di 4DX tapi jadwalnya lebih sore, sementara itu saya malas pulang malam, soalnya macet luar biasa deh kalau keluar dari PVJ.

Film dari Tim Burton selalu menarik. Agak-agak dark gitu kan, sedikit horror tapi engga nakutin. Menyenangkan sekali menonton film yang tervisualisasi dengan indah dari sebuah cerita fantasi. Engga sadar saya menghabiskan popcorn saya satu wadah, untung beli yang kecil, ini aja udah bikin saya kleyengan. Ampun, saya kan punya kecenderungan hipertensi. Langsung saja saya minum air putih banyak-banyak.

Mau bahas tentang film ini tapi saya keburu ngantuk. Maaf deh, engga jadi ya.

peregrins-film-headerv1-front-main-stage

 

 

 

Sepertinya hari ini otakmu sedang ada di tengah. Tumben. Biasanya gila kan. Gila sesaat, namun gila sesaat yang menahun. Saat otakmu tidak berada di tempatnya, kau akan melupakan aku. Seminggu, dua minggu, berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun. Eh rasanya tidak sampai bertahun-tahun, enam bulan kalau tidak salah sih. Enam bulan pernah berlalu dimana kau tidak meneleponku sama sekali. Tahun kapan itu aku lupa. Sudah lama.

Saat kau waras kau mengabari aku kemana kau pergi. Kapan berangkat, kapan tiba. Saat kau waras (atau saat kau butuh teman bicara) kau meneleponku tak kenal waktu. Tengah malam, dini hari, atau saat aku sedang mandi. Tidak pernah ada jadwal pasti.

Aku sudah terbiasa.  Terbiasa dengan ketidakpastian.

Seperti hari ini. Kau manis sekali. Kau telepon aku saat tiba di kota tujuan itu. Barusan selesai meeting yang panjang kau juga bercerita panjang kali lebar kali tinggi, antusiasme, harapan, kebanggaan, semua kau ceritakan. Lalu kau berbicara lewat texting kata-kata mesra yang keterlaluan seperti isi surat Che Guevara kepada kekasihnya.

dan rasanya saat ini aku juga mencintaimu. Sangat.

Mungkin besok aku membencimu, seperti dua hari yang lalu.

 

Biola dan Drea

img_20160925_081847_1474766521085

Beberapa bulan lalu, sekitar dua bulan lalu sih sepertinya, Drea anak saya yang kecil merajuk.

Katanya ingin les biola. Lagi kecil sih sewaktu masih SD dia pernah les privat biola juga, cuma jadinya modiste -modal ledis becus henteu, istilah dalam bahasa Sunda yang artinya modal habis bisa kagak. Mungkin dulu keinginan belajarnya belum kuat, sehingga yang terjadi hanya bunyi ngak ngek ngok tidak jelas seperti suara kucing terinjak.

Lalu dulu dia lelah sendiri.

Mengingat kedua kakaknya sangat sangat menyukai bermain musik dan bisa memainkan berbagai alat musik, tak urung saya kasihan juga. Soalnya kalau kedua kakaknya konser mini di rumah, yang satu main piano yang satu main gitar, ya Drea cuma andil tepuk tangan doang.

Akhirnya saya menyetujui untuk Drea les lagi (koreh tabungan di celengan ayam tembikar). Lagipula menurut pendapat emaknya pribadi, secara fisik Drea ini memadai buat main biola. Loh kok secara fisik? Biasa lah kan ya kalo emak-emak kan suka muji anaknya sendiri, nah menurut saya Drea ini cukup cantik buat bisa nyaingin Vanessa Mae. Loh kok ya kesitu ya?

Setelah daftar les tentu saja saya membeli biola. Karena hemat dan pengiritan mode on, saya belinya biola bekas. Murah meriah, lagi pula dasar emaknya ini oon kagak ngarti alat musik, sing penting biola ya biola, engga tau kalau ternyata ada harga ada rupa. Setelah beberapa kali les, Drea putus asa, gurunya juga. Karena biolanya terus-terusan fals. Senarnya putus melulu, karena kalau diputar setelannya suaranya susah pas.

Akhirnya saya beli biola baru yang rada mahalan menurut ukuran dompet saya yang diskonan. Untungnya ada seorang om-om baik hati yang tidak mau disebutkan namanya apalagi difoto menyumbang 3/4 dari harga biola tersebut. Saya protes sih, kenapa 3/4? kan nanggung banget ya? Kenapa engga seluruhnya aja dibayarin? Tapi saya hanya mendapat juluran lidah dari wajahnya.

Sekarang setelah biolanya rada bagusan, ternyata kemajuan Drea tergolong pesat. Yang artinya sekarang dia sudah bisa memainkan berbagai lagu yang bisa ditebak lagu apa. Suara biolanya juga terdengar merdu. Entah apa pengaruhnya yang jelas sekarang anak saya itu rajin latihan memainkan biola setiap saat.

Semoga suatu hari nanti saya bisa duduk di kursi paling depan dan bertepuk tangan paling keras saat dia konser di panggung. Hihihi.

Kalau yang dibawah ini foto kakaknya.

c360_2016-08-12-18-29-20-619

Di Tepi Jalan Itu..

Aku ingat aku pernah merajuk padamu. Aku bilang belasan tahun bersamamu tidak sekalipun kamu ajak aku untuk makan malam romantis bercahaya temaram, diiringi musik klasik dan kita berpakaian rapi. Aku bergaun hitam semacam di film Breakfast in Tiffany, dan kau..entahlah..sulit membayangkan kamu berpakaian rapi. Candle light dinner seperti di film-film itu.

Kamu tidak menjawab, hanya mengerang.

Tapi dua malam lalu sepulang kerja, kita berjalan berdua. Sempat kau lingkarkan lenganmu di bahuku sambil kau mengucapkan selamat untuk sesuatu, lalu kau mengajakku makan ketoprak di warung pinggir jalan, tempat kuli-kuli bangunan dan tukang ojeg biasa menghabiskan sisa penat mereka, menikmati makanan murah terjangkau saku.

Seperti biasa kau memesan dengan ekstra pedas, dan untukku sedang pedasnya. Kita berdua makan bersisian di bangku kayu reyot, di tenda dalam yang disampirkan pada gerobak, dengan dua gelas teh manis hangat di wadah plastik. Sambil makan kita bercakap-cakap, dan kau menumpahkan isi kepalamu itu, tentang pekerjaan-pekerjaan kita, rencanamu, dan kejadian-kejadian di kantor hari ini dan yang lalu. Seperti biasa aku pendengar yang baik bagimu, sesekali menanggapi dan berdiskusi. Bagiku tidak hanya suaramu yang aku suka untuk aku dengarkan, tapi bau tubuhmu dekat denganku, selalu menguarkan rasa kedekatan itu, bahwa aku dan kamu telah seringkali tak terpisahkan barang sesenti.

Hampir dua jam aku duduk bersama kamu, sehabis makanan kita habis kita masih mengobrol sambil menghirup teh yang terasa sangat menyamankan dada kehangatannya. Aku menatap langit di kejauhan yang kelam walaupun tak berawan. Bulan entah dimana dan bintang tak pernah tampak di langit ibu kota ini. Kudengar suara-suara kuli bangunan di gedung tinggi sekali yang sedang dibangun, mereka bercakap entah apa. Dan kita terlonjak kaget saat ada serpihan beton yang jatuh di dekat gerobak.

Entah kenapa ada perasaan sentimentil menyeruak di dadaku. Bukan restoran mewah dengan dinding beludru. Atau juga steak dengan medium welldone ataupun salmon dengan saus lemon. Juga pemain musik dengan biola yang mengalun lembut. Bukan itu ternyata. Langit beku dan lampu-lampu gedung yang mulai dinyalakan sejak senja datang, percakapan kuli-kuli dan para tukang sepulang kerja, deru mesin campur debu, ternyata mengalahkan semua itu. Rasanya aku juga kini tidak menginginkan seikat mawar, dengan sebungkus gado-gado  pagi hari yang kadang kau belikan, karena kamu tahu aku sering lupa makan, itu juga mengalahkan sterling silver rose dengan sisipan bunga tulip belanda.

Disini di sisi gerobak ini aku menyadari satu hal. Karena dekat dengan kamu. Mendengarmu bercerita, merasakan bahwa kau mempercayakan banyak hal kepadaku, itu lebih dari candle light dinner yang tadinya kuinginkan. Tidak perlu sofa untuk bersandar dengan gelas kristal di tangan, bangku kayu reyot pun lebih dari cukup, karena kamu, karena ada kamu. Semua menjadi berharga di hadapanku.

Foto itu..

i really like this pic..

seperti melihat masa lalu yang indah, romantis, momen bahagia yang tidak dapat terulang lagi.

seperti melihat kamu.

I love him dearly since I was..

and he loves me.

 

Sebulan lebih tak ada tanya tidak juga terdapat kata, apalagi bertemu. Kamu menghilang dan aku pun diam saja. Menjadi dekat secara jarak ternyata tidak mendekatkan kita untuk hal lainnya.

Namun tiba-tiba di suatu hari, kau katakan lewat pesan pendek, “Nah kamu tidak usah cemas lagi, sekarang kamu bisa melihatku setiap hari..”.

Tahukah kamu pesan pendek itu, ” I love you” dan balasanmu “love you too” adalah kebahagiaanku selama 2×24 jam berikutnya.

 

Cukuplah saya katakan bahwa saya memiliki kisah yang up and down dengan makanan pedas. Dalam kasus ini adalah Cakalang Rabe. Makanan Manado.

Rumit dan penuh komplikasi. Saya menyukainya sekaligus membencinya, pada saat sakit perut akibat memakannya. Seperti saat ini. Rasanya menyebalkan. Pengen putus dan engga kenal lagi sama si Cakalang Rabe. Andaikan saja dia cowok. Sayangnya dia ikan asap dari jenis ikan yang bersaudara dengan tongkol dan dibumbui dengan amat royalnya oleh mereka itu, mereka disini maksudnya adalah para penggagas masakan Manado sehingga pedas seperti sekarang.

Kalau sudah mules begini rasanya ingin berhenti saja dari segala macam makanan pedas di dunia ini. Apa daya kalau sudah ketemu muka lagi ya dimakan lagi. Seksi soalnya. Pedas dan merangsang. Kombinasi maut ya kan?

Dan hampir saja saya ingin menuntut restoran yang jual cakalang rabe  ini untuk kasus pembohongan publik. Masa di menu nyantumin gambar cabe tiga biji buat menunjukkan level pedasnya. Harusnya mah 42 biji kali. Wong pedesnya minta ampun.

Tadi siang di kantor saya sudah merasakan efeknya di perut. karena pagi-pagi sarapan cakalang rabe. Ini memang rada di luar rencana. Sebabnya semalam saat di Beer Garden saat saya nongkrong cantik dengan teman- teman saya, kami membicarakan makanan Manado. saya jadi ingat punya seporsi cakalang di kulkas. Sambil ngobrol dengan mereka pun saya memikirkan cakalang tersebut. Padahal obrolan sedang seru-serunya. Diantaranya adalah pembahasan sejarah pakaian dalam yang dikeluarkan oleh Agent Provocateur.

Juga pembahasan mengenai video editing bagaimana menghilangkan warna ketiak item di video klip di talent yang cakep tapi rupanya lupa mengurus warna kulit di bagian ketiak itu. saya curiga dia dulu engga pakai deodorant, tapi pakai kapur sirih campur jeruk nipis. Resep ampuh orang tua dulu tapi efek sampingnya bikin ketiak gosong.

Ini postingan jelas engga mutu dan ngawur. dimaklumi saja ya..kan saya nulisnya lagi sakit perut.

Pake handphone atau email atau sosmed emang enak. Tinggal copy paste dan klik broadcast terkirim sudah pada semua nama yang ada di address book kita. atau tag massal. Ada banyak cara deh buat ucapin selamat atau minal aidin walfaidzin di hari raya Idul Fitri.

Udah berlalu masa kita beli kartu lebaran bikin ucapan yang ditulis tangan dan ditandatangani. atau kalau pegel ya cuma ditandatangani dan dicap. ucapannya standar yang dicetak di kartu.

kalau saya emang punya cara sendiri. dari jaman kartu ucapan masih musim saya biasanya bikin sendiri. Kadang ditambahi gambar buatan sendiri. Kadang pakai puisi. Yang jelas semua ditulis tangan. Dan setiap orang yang saya kirim pasti beda ucapannya satu sama lain.

Pastinya orang-orang yang saya kirim artinya orang-orang yang saya anggap dekat atau spesial. soalnya kan pegal juga ya kalau bikin banyak. Atau membalas orang yang kirim saya ucapan selamat juga. Jadi semua saya anggap personal. Bukan produk massal.

Jaman sekarang karena kirim kartu udah engga musim, ya saya juga kirim juga sms atau lewat line dan whatsapp. Tapi tetap saja, saya anti copy paste. Saya ketik satu-satu nama orang dan ucapan yang berbeda untuk setiap orang. Pegel sih jempol. Tapi buat saya karena niatnya mempersonalisasi ucapan dan permintaan maaf kalau pas hari raya Idul Fitri ya engga apa-apalah jempol pegal setahun sekali.

Tapi saya juga engga nyalahin kok yang mau broadcast dan sms massal ucapan selamat. Yang penting pakai Telkomsel yaa…