Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Bandung’ Category

Kota Kembang julukannya, Bandung adalah salah satu destinasi yang populer untuk dituju ketika liburan. Selain dimanjakan oleh tempat-tempat wisatanya, para pelancong juga dimanjakan oleh kulinernya. Mulai dari tempat makan kaki lima hingga resto-resto mewah tersebar banyak menambah ramai variasi kuliner di kota ini.

Biasanya, warga Bandung atau wisatawan menikmati jajanan Bandung di alun-alun. Letaknya tepat di sebelah Masjid Agung Bandung. Keadaan yang ramai dan banyak terdapat pedagang makanan menambah asyik suasana nongkrong atau bersantai, apalagi di sore hari.

Selain bersantai, pelancong juga bisa menikmati suasana kota Bandung dari atas, karena terdapat dua menara berlantai 19 yang mengapit Masjid Agung Bandung. Menara ini biasanya dibuka hari Sabtu dan Minggu, dan keindahan Kota Bandung akan terlihat 360 derajat jika dilihat dari atas menara ini.

mesjid

Suasana alun-alun dan Masjid Agung Bandung (gulalives.com)

Jika ingin menikmati liburan seru dengan wahana bermain, Bandung juga memiliki wahana hiburan yang populer di Trans Studio Bandung. Berbagai macam tempat bermain, seperti jet Yamaha racing Coaster, ayunan Giant Swing, Negeri Raksasa yang tinggi dan putaran Vertigo siap memacu adrenalin pengunjung. Letaknya tidak jauh dari alun-alun.

Beralih dari Trans Studio, tempat lain yang terkenal dan sering dikunjungi adalah Lembang. Di Lembang terdapat Farm House, yaitu tempat yang menawarkan konsep Eropa Klasik mulai dari peternakan, perkebunan dan desa kurcaci. Di daerah ini juga pengunjung bisa menikmati kuliner tahu susu Lembang yang sangat enak dengan harga yang terjangkau.

hobbit

Rumah kurcaci di Farmhouse Lembang (merdeka.com)

Sebagai salah satu kota yang sering dijadikan tujuan wisata, tentu Bandung memiliki banyak penginapan di area pusat kota dan sekitar obyek wisatanya dengan harga jujur dan termurah.Salah satu hotel yang akan memanjakan pengunjungnya dengan wisata kulinernya adalah Hotel Harris Bandung, karena menu-menunya yang beragam mulai dari nasional hingga internasional.

Selain makanan dan tempat wisata, Bandung juga dipenuhi dengan tempat-tempat perbelanjaan fashion. Salah satu tempat belanja yang cukup terkenal di Bandung adalah di sepanjang Cihampelas. Pengunjung akan dimanjakan oleh FO yang menawarkan produk-produk fashion yang hits. Pengunjung juga bisa berbelanja sambil menikmati aneka jajanan karena di sepanjang jalan terdapat banyak pedagang jajanan ataupun tempat makan.

Tempat wisata lain yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Bandung adalah Sendang Geulis Kahuripan. Tempat ini sedang naik daun karena di sini terdapat mata air yang sangat bening dan jernih. Suasananya di pedesaan, sehingga udaranya masih sangat terasa sejuk dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Wisatawan biasanya selfie atau narsis sambil menyelam di dalam air. Airnya yang jernih membuat spotnya terlihat indah hingga dasarnya dapat terlihat.

sendang-geulis

Air yang jernih di Sendang Geulis Kahuripan (blog.reservasi.com)

Masih berhubungan dengan alam, Bandung memiliki dua kawah favorit wisatawan, yaitu kawah putih Ciwidey dan kawah Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kawah putih memiliki keunikan berupa tanahnya yang berwarna putih karena memiliki kandungan belerang dan airnya yang suka berubah warna, sedangkan Tangkuban Perahu memiliki dinding kawah yang unik dan eksotis.

Tidak jauh dari Ciwidey, terdapat hamparan kebun strawberry yang indah dan memikat mata. Pengunjung bisa berjalan-jalan sambil foto-foto, bahkan bisa memetik buah strawberry langsung lho di sini. Kemudian buahnya ditimbang dan harus membayar sesuai dengan berat strawberry yang dipetik untuk bisa membawa pulang buahnya.

starwberry

Kebun strawberry Ciwidey (waterwaterfall.blogspot.com)

Bandung juga punya tempat wisata budaya, namanya Saung Angklung Udjo. Yaitu tempat pelestarian Angklung dan budaya Sunda. Pengunjung dapat juga menikmati pertunjukan angklung di sini pada setiap siang atau sore hari. Tempatnya khas karena didominasi oleh bambu dan alunan suara angklung selalu mengalir di sini.

Acara yang sering ditampilkan di Saung Angklung Udjoa dalah tari topeng, helaran, orchestra angklung dan wayang golek. Jika lapar, di sini juga terdapat Saung dan Dapur Udjo, yang menyediakan macam-macam makanan khas Sunda dengan cita rasa yang enak. Dan untuk melengkapi kunjungan, di sini juga terdapat tempat suvenir khas Saung Angklung Udjo.

pesta-angklung

Pentas seni Angklung di Saung Angklung Udjo (Djedjalanan.wordpress.com)

Nah, selain tempat-tempat wisata, bandung juga terkenal dengan banyak taman kecil yang masing-masing memiliki keunikan tersediri. Misalnya Taman Jomblo, Taman Lansia, Taman Filem, Taman Fotografi, Pet Park, Taman Super Hero dan lain-lain.

Untuk melengkapi keseruan liburan di Bandung, jangan lupa bersantai di salah satu tamannya ya dan pastikan jangan lupa dibawa jajanannya. Selamat jalan-jalan sambil icip-icip!

Advertisements

Read Full Post »

Jalan-jalan Sore

image

Paling enak kalau Bandung engga macet, cuaca adem cenderung dingin, ada rintik-rintik romantis hujan dikit plus angin yang lembut membelai. Hufft.

Plus bolos dari kantor. Eh.
Dan pas lagi engga puasa.

Tujuan saya kalau engga macet ke pvj. Deket sih dari rumah. Masih satu rayon. Halah. Belum lepas nih dari bayang-bayang rayonisasi sekolahan di Bandung.

Nyaman banget sore tadi bengong cakep di Killiney Kopitiam. 

These are some photos, if you’d like to see.

image

image

image

Read Full Post »

Warung di Bandung

Ceritanya ini tentang seputar tempat makan berupa warung, kedai, dan kaki lima, hawker, food stall, naon we lah. Jadi bukan resto yah. Nu penting, tempat yang murah, meriah dan ngeunah yang ada di Bandung. Ada juga sih yang bukan di Bandung. Mie Ayam! paling enak di terminal Subang. Masalahnya saya engga tau sekarang masih ada atau engga. Sudah lama banget tidak kesana.

Warung Indung
Sebenarnya bukan warung yah. Tepatnya sih kafe. Tapi berhubung makanannya murah meriah dan ngeunah tadi ya bolehlah disebut warung sebagaimana kehendak yang punya tempat. Warung Indung teh merenah pisan. Bahkan saking enaknya nongkrong disitu saya sebenarnya malas cerita di blog ini. Nanti jadi pada banyak orang datang kesana gimana? Sekarang saja kita sudah kesulitan untuk ngetek tempat di pendopo yang nyaman sekali untuk main gaple atau remi itu. Makanan disana sederhana saja. Mie instan; direbus atau digoreng. Plus keju atau kornet. Roti bakar aneka olesan, dan nasi bumbu ayam yang anehnya tidak ada ayamnya. Dan bubur ayam. Namun berhubung sudah berminggu-minggu katanya tukang bubur ayamnya tidak kirim lagi stok kesana, bubur ayamnya jadi tidak tersedia. Yeee.. tapi enak lho bubur ayamnya. Dan jangan lupa! Disana disediakan kopi tubruk istimewa. Kopi Aroma yang kesohor itu. Kopi khas produksi Bandung yang uenak pisan. Harga makanan disana relatif murah. Jelas lah, yang disediakan juga tidak aneh-aneh kok. Tapi sekali lagi, tempatnya nyaman. Letaknya di seberang Oriflame, tak begitu jauh dari hotel Grand Serela. Agak sulit terlihat seperti halnya Leaky Couldron. Jadi kalo ke Warung Indung jangan cari Warung Indungnya, carilah Oriflame sebagai ancar-ancar.

Sop Kambing Banceuy
Kenapa semua penjual sop kambing selalu bilang berkumis? Nah favorit saya sih yang buka stand depan kopi Aroma kalau malam hari. Itu enak banget. Eh tapi saya coba juga di tenda-tenda lain di jalan Banceuy, ternyata enak juga kok. Yah memang saya sulit menilai makanan. Rasa-rasanya semua juga enak yah. Jadi bisa saya katakan yang tidak enak yang harganya mahal. Nah yang depan Kopi Aroma ini lumayan murah, dibanding yang mahal. Halah. Hehe, kalau lagi punya duit rasanya murah. Yang jelas dengan nasi dan teh botol dingin ditambah es dan semangkuk penuh/nyaris tumpah/banyak/aneka rupa bagian tubuh dan kepala kambing itu kira-kira Rp 15.000,- Bisa kurang sepertinya, soalnya sih saya suka ambilnya seabruk-abruk sih. Saya sempat lirik orang sebelah dia bayar lebih rendah dari saya. Oh ya sebagai tambahan, yang di Jalan Cikapundung juga enak kok.

Warung Makan Ceu Imas
Di dekat terminal kebon kelapa. Eh masih ada engga sih terminal kebon kelapa? Ya udah, dekat ITC kebon kelapa deh. Waduh kalo ceu Imas di waktu jam makan siang, penuh sesak. Orang, asap, keringat tidak ada bedanya. Duduk di meja makan bisa sikut ketemu sikut.Nah, sambal di ceu Imas ini khas banget. Pedasnya itu lho, engga ketulungan. Belum lagi karedok leunca yang terasa terasinya, dan harum baunya dengan campuran kemangi. Sumprit, patut dicoba. Ayam gorengnya enak, Ikan gorengnya enak, Cumi gorengnya enak. Enak. Enak. Enak semua deh. Bila sulit parkir disana, parkir saja di ITC kebon kalapa. Jangan parkir dekat pembuangan sampah yah. Asli bau banget. Tinggal jalan kaki dikit ke tempat Ceu Imas. Jangan lupa mencoba ayam bakarnya juga. Teman-teman saya di kantor hampir semua mencandu sambalnya Ceu Imas. Pada saat bulan puasa, teman kantor saya banyak sekali yang menyambat nama Ceu Imas di waktu jam makan siang.

Warung-warung makan di pinggir Hotel Le Meridien Orchard
Eh naha bet ka Singapore yah? hihihih. Abis pas ngetik ini saya ngiler bayangin ikan pari bakar disana. Enak banget. Harganya SGD10 tanpa nasi. Ukurannya yang medium. Duh itu sambalnya enak banget. Sambal belacan mungkin yah namanya. Belum lagi ada saus rasa jus lemon yang pedas banget tapi bikin pingin lagi dan lagi. Ikan pari bakarnya bertulang rawan yang renyah. Dagingnya lembut dan berserat panjang. Oh ya kepiting saus Singapore juga enak banget. Oh ya tempat makan ini sampai lewat tengah malam juga masih buka. Kalau ke Hotel Supreme, deket banget bisa jalan kaki. Oke deh ini mah cuma intermezzo.

Ceu Mar

Tukang main malam-malam dan kelaparan pada jam-jam aneh sepatutnya tahu Ceu Mar yang sohor dari jaman dia mulai kesohor. Konon dulu Ceu Mar hanya buka tengah malam sampai subuh menjelang. Namun sekarang mungkin karena hukum permintaan pasar, Ceu Mar sudah buka dari jam 9 malam. Tempatnya di ujung pertigaan Jl ABC dan Cikapundung atau Braga yah? yeee..saya malah lupa. Pokoknya sanaan gedung PLN yang di jalan Asia Afrika deh. Kalau ingin disebut “Kasep” atau “Geulis” datanglah makan di Ceu Mar. Walaupun Anda berwajah kurang bagus, Ceu Mar akan dengan senang hati menyapa dengan sebutan yang membesarkan hidung tersebut. Bolak-baliklah nambah lagi makan kalau Anda masih ingin dipanggil dengan sebutan Si Tampan dan Si Cantik tersebut. Oh ya menu di ceu Mar sangat rumahan. Jadi tak salah bila Anda ngidam semur jengkol untuk datang ke Ceu Mar. Hati Macan keprek tersebut selalu tersedia kok.

Timbel Istiqomah

Nasi timbel dinamakan demikian karena berlokasi di depan mesjid Istiqomah, Jalan, eh jalan apa yah? Jalan Cilaki gitu? CMIIW. Poho euy. Ada nasi beras merahnya lho. Goreng Ayam, Goreng Ikan, sambal pedas, tahu tempe, duh apalagi ya? Pokoknya enak murah dan kenyang. Duduknya di bangku-bangku plastik di pinggir jalan. Kalau hujan ya wayahna we. Tapi sepertinya sekarang sih ada tendanya. Nah setelah menikmati nasi timbel ini, lanjutkanlah dengan penutup es duren ketan hitam yang segar dan nikmat. Bila masih lapar, ada baso malang Mandeep tak jauh dari situ yang rasanya mantap. Serius.

Read Full Post »

Kalau rata-rata rekan kerja saya di kantor punya langganan salon untuk perawatan dan sekaligus hairdressernya di tempat-tempat ternama misalnya Johnny Andrean, Yopie Salon, atau Martha Tilaar, atau Ananta kalau di kota Bandung, maka saya juga punya. Tapi bukan salon ternama. Salon langganan saya namanya Salon Diana, letaknya sepelemparan batu dari komplek saya tinggal, depan gang Saluyu, daerah Cijerah Bandung.

Salon Diana tidak punya pegawai. Hanya ada Mang Epul dan istrinya yang berjualan di warung depan salonnya, yang berkursi hanya untuk dua orang pelanggan. Itupun tidak bisa dua orang sekaligus, karena dari mencuci rambut, memotong, mengeringkan, sampai mengecat rambut itu semua Mang Epul yang kerjakan sendiri. Saya pernah tanya di suatu kesempatan, kok tidak punya asisten. Jawab Mang Epul karena semua pelanggannya tidak ada yang mau dilayani oleh asisten semua harus dikerjakan oleh Mang Epul sendiri. Jadi akhirnya sang asisten diberhentikan dengan hormat.

Mang EpulSalon Diana ini ukuran ruangnya sekitar 6×4 meter, ada dua cermin dan dua kursi untuk pelanggan, sebuah kulkas dengan pintu yang karatan di pojok berisi minuman dingin, sebuah boneka berhias gaun manik-manik yang saya tebak buatan istrinya tampak menjadi hiasan di meja kecil. Lemari yang menempel di dinding berisi macam-macam merk obat pewarna rambut dan pelurus dan pengeriting rambut. Juga krim untuk creambath. Lalu ada kursi yang tiduran untuk cuci rambut. Airnya dari ember dengan gayung. Kalau ingin air panas untuk cuci rambut, istri mang Epul akan merebusnya dulu di dapur belakang. Ada sofa kecil dari kulit imitasi tempat pelanggan duduk mengantri. Dindingnya bercat oranye terang dengan gantungan kalender, juga hiasan cross stitch gambar singa dan bunga, yang saya tebak buatan istrinya juga.

Selain tempatnya yang kurang apik,  sempit, lagi pula kurang  menarik, orang yang selewatan tidak akan menganggap Salon Diana punya kelebihan. Apalagi mang Epul sering menghilang. Kalau bosan mencukur rambut atau meluruskan rambut, atau mengeriting rambut (manusia memang banyak maunya soal rambut ya?), Mang Epul akan pergi memancing. Jadwal memancingnya pun kurang jelas. Biasanya hari Rabu, tapi bisa juga hari lain dimana sempat dan saat rasa bosannya dalam mencukur menyeruak.

Saya sekeluarga, langganan salon Mang Epul. Suami saya, dan anak saya yang laki-laki, kalau pergi untuk bercukur ke Mang Epul, dan salonnya sangat penuh dengan antrian, atau seperti biasa, misalnya tutup dadakan karena Mang Epul pergi mancing, mereka akan pulang lagi ke rumah untuk datang ke Mang Epul di hari lain. Padahal salon lain juga banyak, Tak kurang dari belasan, barbershop ada di jalan utama depan komplek saya, belum lagi kalau di daerah pasar. Atau mau ke salon yang bagusan, ke Mall Istana Plaza juga lumayan dekat.  Tapi mereka emoh. Alasannya karena cukuran mang Epul hasilnya kena di hati mereka, pijatan tangan mang Epul juga luar biasa nyaman. Saya bahkan curiga Mang Epul punya tenaga dalam.

Dari mulai pijatan saat keramas, lanjut dengan pijatan saat creambath, lalu pijatan pada kepala yang menyeluruh, ditambah pijatan pada pundak dan tangan, kadang bahkan totok wajah segala, kadang lagi bahkan ditambah pijatan di kaki (kalau sempat dan  tidak banyak yang antri), hilang sudah letih lelah dan salah urat dan sakit kepala oleh pijatan Mang Epul ini. Saya dengan sok tahu bahkan menganggap teknik pijat mang Epul ini antara tradisional totok, Shiatsu, dan pijat Thailand. Tapi ini analisa dangkal dari saya yang amatir soal pijat, soalnya saya juga belum pernah pijat Shiatsu dan Thailand. Paling juga pernah di tempat pijat seperti spa, yang kalau menurut saya, menang di fasilitas dan bagusnya tempat, tapi mahal dan pijatnya tidak semuanya enak. Malah saya pernah pijat refleksi kaki, hasilnya malah sakit kaki. Tapi bau wewangian di tempat spa dan minuman jahe campur entah apanya sih memang saya akui sangat nyaman dan segar.

Selain layanan cukur dan perawatan dan perubahan warna atau bentuk rambut (berubah bentuk dari lurus menjadi keriting dan sebaliknya, maksud saya), di tempat mang Epul suka dibikinin kopi atau teh sama istrinya, atau minuman soft drink lain yang tersedia di kulkasnya. Kadang kalau kita lapar, istrinya pun bersedia membelikan capcay, atau lo mie, di restoran seberang jalan, daripada kita bengong nunggu dengan perut lapar. Salon Mang Epul, adalah salon bernuansa kekeluargaan. Kadang ditingkahi keributan anaknya yang menangis, atau obrolan rumah tangga antara dia dan istrinya. Sementara kami sang pelanggan biasanya bengong saja, atau ikutan nimbrung ngobrol kalau gatel pengen komentar.

Menunggu Mang Epul pulang Kenduri

Pengalaman saya dipotong rambut di tempat mang Epul adalah termasuk ditinggal kenduri, sementara rambut saya dalam kondisi dibungkus handuk sehabis cuci rambut. Ceritanya suatu hari Minggu,  saya dan suami datang untuk potong rambut, mang Epul yang akan pergi kenduri rupanya tak tega menolak kami. Dia mencuci rambut saya dengan gelisah. Sehingga akhirnya saya tanya kenapa, dia jawab akan pergi ke undangan tetangga di gang sebelah yang kenduri sunatan anaknya. Jawab saya ya engga apa-apa pergi dulu ke undangan, saya dan suami akan menunggu saja.  Akhirnya dia pergi dulu dengan mengendarai motor. Saya dan suami saya, menyetop tukang cuan kie yang lewat, makan dulu sambil nonton tv, sambil menunggu Mang Epul pulang dari kenduri, dengan rambut saya yang masih basah dibungkus handuk.

Read Full Post »

Satu lagi makanan khas Sunda yang selalu dicari para penggemar kuliner yang mampir ke Kota Kembang.  Batagor. Huhuy siapa yang tidak kenal batagor. Singkatan dari Baso Tahu Goreng, bukan Bata Goreng. Gimana kalo ga digoreng? Oh tidak bisa, itu tidak sah.

Sejarah batagor ngetop di Bandung sulit ditelusuri siapa pencetusnya. Seingat saya dulu, depan SMA Negeri 2 Bandung, sekolah saya tercinta, berjayalah sepanjang masa, sekitar tahun 1988 mungkin yah tersebutlah warung batagor, DARTO judulnya. Batagor Darto cukup ngetop. Tanya deh orang-orang Bandung dulu, kalo engga tahu, sudah bisa dipastikan, dia orang Bandung kajajaden, alias jajadian.

Ada juga yang menyebutkan pencetus batagor pertama adalah batagor Isan, daerah Kopo. Saya sih percaya saja, mau Isan atau Darto, siapa aja deh yang penting enak. Saat ini Darto sudah tidak ada warungnya, kalau Isan masih ada. Batagor Isan bentuknya lebih mungil. Kalau secara selera, saya lebih suka batagor Isan dibanding lainnya, ga terlalu berasa aneh-aneh atau over fishy.

Di Bandung sendiri, sejauh yang saya tahu, pemburu oleh-oleh kerap membeli Batagor Ririe, Jl Malabar, Batagor Kingsley Jl Veteran, Batagor Abuy, dulu mah Jl Lengkong, lalu tentu saja Batagor Isan the legend. Kadang membeli batagor seperti antri di dokter, pakai nomor segala. Tapi sebenarnya penjual batagor menyebar di seluruh antero kota Bandung. Cobalah nangkring pinggir jalan, beberapa lama kemudian bila anda beruntung, akan lewatlah tukang batagor. Tapi ga janji yah.

Batagor resminya diberi bumbu kacang, kecap dan irisan mentimun. Varian lain ditemukan dalam bentuk berkuah. Yang membuat batagor Bandung berbeda, menurut saya karena tahu Bandung saja sudah beda dari daerah lain. Tidak ada tahu tercipta di dunia  seenak tahu Bandung.  Tahu Bandung itu halus lembut dan bercita rasa selayaknya tahu yang baik dan benar. Sehingga perpaduan tahu yang enak dengan kekenyalan ikan olahan terasa ngepas di lidah.

Sore-sore sehabis hujan adalah waktu yang paling tepat menikmati tahu. Atau di waktu minum teh, kalau orang Inggris bilang mah Afternoon Tea. Afternoon tea is a small meal snack typically eaten between 2pm and 5pm. The custom of afternoon tea originated in England in the 1840s. Tapi sungguh saya tidak percaya kalau orang British yang menemukan waktu minum tea. Nyi Iteung dan Kabayan juga setiap jam segitu juga pada asik minum teh, ngopi dan makan rebus ubi-ubian dan kacang. Siapa bilang orang Inggris yang menemukan waktu ngupi-ngupi yang tepat? Yang jelas mah orang Indonesia lah. Kan jam segitu adalah waktu istirahat sehabis nyangkul dan menggembala kerbau. Apalagi orang Sunda dulu tidak mengenal makan malam. Jam 4-5 adalah waktu terakhir makan. Makanya orang dulu ga ada yang gendut kali yah.

Read Full Post »

Taman Kota Bandung

Taman kota adalah salah satu heritage yang harus kita jaga dan kita lestarikan di kota Bandung? Kenapa? Taman-taman yang berada di kota Bandung selain memiliki nilai sejarah yang telah bercerita banyak sebagai duta tentang keindahan Bandung tempo dulu, juga memiliki fungsi yang sangat vital sebagai paru-paru kota dan reservasi air dan pelestarian alam berupa pemeliharaan kekayaan botani.  Darimana asal nama Bandung Kota Kembang? Selain karena kecantikan para mojang priangan yang terkenal, tentu saja dari keindahan bunga-bunga yang terdapat di setiap di taman kota Bandung.

Sebagai forest park, taman kota di Bandung memegang peranan penting  dalam ekologi di pemukiman masyarakat kota dalam banyak faktor, yaitu sebagai penyaring udara, konservasi air tanah, area untuk sinar matahari, tempat tinggal bagi hewan, dan juga tempat rekreasi bagi masyarakat.  Kualitas udara kota Bandung yang makin menurun dapat ditanggulangi dengan pemeliharaan taman-taman kota dan jalur hijau di kota Bandung dengan lebih baik.

Tidak sedikit taman-taman di kota Bandung yang memiliki nilai sejarah, Haryoto Kunto menyebutkan di buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sedikitnya ada empat taman bersejarah yaitu Ijzerman Park (Taman Ganesha), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku), dan Insulinde Park (Taman Nusantara).  Dan tidak sedikit juga taman-taman bersejarah yang sudah raib dari muka Bandung seperti halnya banyak bangunan bersejarah yang didemolisasi oleh para manusia yang berjiwa progresif revolusioner.

Website resmi pemerintah kota Bandung pun hanya secuil dalam memberikan informasi mengenai taman-taman di kota Bandung ini. Selain sedikit informasi yang ada juga minim, tidak ada informasi mengenai sejarah dan data yang lengkap mengenai keberadaaan taman-taman ini. Hanya menyebutkan enam dari banyak taman yang ada yaitu: Kebun Binatang Taman Sari, Taman Cilaki, Taman Budaya Dago, Taman Lalu Lintas, Taman Hutan Raya Juanda, dan Taman Maluku.

Taman dan bangunan bersejarah di Bandung memiliki suatu ikatan penting. Taman bagi bangunan adalah paru-paru pemberi udara, sebagai pelembut dan penambah keindahan kokohnya bebatuan, satu kesatuan yang tak terpisahkan bagi estetika dan juga  bagi kesehatan penghuni.  Juga sebagai warisan sejarah, salah satu  dari kekayaaan Bandung Heritage.  Selain itu tanpa adanya taman-taman kota, hutan konservasi dan danau (ingat situ Aksan yang tinggal kenangan!), Bandung menjadi daerah rawan banjir.  Dalam dua hari hujan besar ini saja, jalan utama yaitu Asia Afrika dan Sudirman, sudah seperti sungai.

Read Full Post »

Tulang Jambal

Tulang Ikan Jambal atau sering disingkat Tuljam ini menjadi salah satu favorit tempat makan di Bandung.  Pertama saya makan di tempat makan dengan hidangan khas masakan tulang jambal di kota Bandung ini, saya bengong menatap piring saya. Ditemani sedikit kemangi, irisan mentimun, nasi panas, tergolek dua potong tulang ikan yang dimasak dengan cabe. That’s all.  Sama seperti waktu ibu saya bengong mendapat kiriman gulai kepala kambing dari saudara ipar saya yang orang Padang. Benar-benar tengkorak kambing yang digulai. “Mana dagingnyaaa…??”

Masakan tulang ikan jambal ini dibumbui luar biasa pedas menggunakan cabe gendot (Capsicum annuum var. abbreviatum F.). Untuk diketahui, cabe jenis gendot ini pedasnya seperti hulu ledak nuklir.  Soal pedasnya jangan ditanya. Katakanlah, cabe rawit, cabe keriting, cabe merah biasa, jalapeno, shisito, itu mah lewat tidak ada apa-apanya.  Saingannya mungkin pedasnya cengek domba dikombinasi dengan ledakan wasabi. Pedasnya cabe gendot ini membuat telinga berdenging dan hidung berair.  Kalau Kapten Haddock yang memakannya mungkin dia akan bilang “seperti menelan gunung berapi’ seperti pada cerita Tintin di Tibet.

Rere, teman saya yang bersama makan di tempat itu, bahkan tidak tahan untuk meneruskan.  Tulang ikannya dia mutasikan ke piring saya. Saya sih masih bertahan untuk menikmati tulang-belulang itu walau dengan telinga berdenging, hidung berair, dan menangis.  Untung saya tidak pingsan. Sambil ngomel, saking pedasnya saya bilang saya ingin ngajak berkelahi yang masak.  Herannya saya dan teman saya ini ketagihan.  Mungkin pada dasarnya selera asal kami adalah penggemar ikan asin.  Dimana apabila kita sudah jenuh dengan makanan-makanan yang biasa, tulang ikan jambal super pedas itu jadi menghantui.

Tadinya tempat makan tulang jambal ini di Jalan Ternate Bandung, namun sekarang pindah ke Jalan Sumatera dan satu lagi saya lupa dimana. Selain masakan limbah ikan jambal ini, sebetulnya tersedia pula hidangan lain, seperti gepuk.  Tapi kalau makanan lain sih tidak rame, alias tidak unik.  Bahkan pernah beberapa petinggi di perusahaan saya bekerja, sewaktu sedang meeting di hotel berbintang lima di kota Bandung, minta didelivery masakan tulang ikan jambal ini. Dengan berbekal wadah plastik kedap, Office Girl kantor kami yang kami panggil Ibu Direksi, mengantar pesanan tulang belulang itu ke hotel berbintang tersebut.  Rupanya kejenuhan akan masakan hotel berbintang memang dapat diobati dengan keasikan mengorek daging yang tersisa di tulang ikan pedas itu.

Salut untuk pemilik usaha tulang ikan jambal tersebut untuk keberanian dan kreativitasnya dalam memulai suatu usaha yang tidak terpikirkan sebelumnya dengan bahan baku yang sederhana.

Read Full Post »

Lady Bikers; Aye!

Kemarin sore sepulang jam kantor sewaktu hujan gerimis sedang (gerimis memiliki berbagai ukuran; halus, sedang, dan besar; pengkategorian berdasarkan ukuran tetes dan suara yang dihasilkan), saya sedang di penghujung jalan asia afrika, menuju lampu merah di depan sana. DAN TIBA-TIBA, siuuut siuutt nguuuung brem breeeeem!!!!, seorang perempuan (keliatan dari rambut dan bentuk badannya) mengendarai motor, berhelm pink full face (merknya Ink), bercelana jeans model pinsil yang dari produk metetet collection itu, T-shirt ketat yang memperlihatkan area kulit telanjang di bagian di punggung bawah. Dia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, berzigzag dan berikutnya, GEDUBRAK!  dia mengerem tiba-tiba dan jatuh lintang pukang tepat di depan moncong mobil saya.

Terkaget-kaget saya membuka kaca mobil, dan melongo melihatnya. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja.  Bapak-bapak yang mengendarai motor dan berhenti di sebelah saya berkata “Eta budak tatadi tos kekebutan ti Simpang Lima keneh Neng, tah nya becek-becek kieu atuh teu make kira-kira, matak paur nu ningalina bisi cilaka!” yang artinya: Tuh anak sudah main kebut-kebutan dari Simpang Lima, kondisi jalan becek gini gak pake kira-kira, bikin cemas yang melihat saja takut dia celaka. Pengendara-pengendara motor lain terdengar bergumam pula memberi komentar.

Remaja perempuan itu bangun, terlihat sedikit pusing, dibantu orang-orang, dia menuntun motornya ke pinggir jalan, duduk bengong dan minum teh botol. T-shirtnya belepotan tanah. 

Tidak satu dua kali saya melihat pengendara motor perempuan di Bandung yang tampaknya tidak berhati-hati dalam berkendara.  Bukan saya bermaksud gender. Sudah jelas kalau anak laki-laki kebut-kebutan dan celaka juga banyak.  Tapi ya tampaknya mereka memang selain  tidak berbakat jadi Valentina Rossi, tampaknya banyak mengabaikan faktor keamanan pula.  Waktu  istirahat siang  di Jalan Sunda di hari yang sama saya melihat tiga perempuan tanpa helm berboncengan motor, apakah berlatih sirkus saya tidak tahu. Cuma dengan cara membawa motornya saja sudah ‘nyanggeyeng’ dengan megang setang motor yang kagok begitu, saya yang melihatnya jadi serem sendiri takut tersenggol mobil-mobil.

Lagipula ada yang salah dalam hal saya perhatikan saat wanita berkendara motor rupanya. Cara duduk di motor tampak tidak nyaman, terlalu maju ke depan tampak agak berbahaya untuk menjaga keseimbangan. Pakaian yang kurang layak untuk berkendara. Yaitu T-shirt yang “nyingsat” alias kurang bahan. Jadi banyak area kulit terbuka terlihat tepat di atas celana.  Selain potensi masuk angin yang tinggi, juga ditakutkan akan membuat pengendara-pengendara pria bermotor maupun bermobil akan kurang konsentrasi dan akan saling seruduk. Lalu beberapa tampaknya senang berkendara motor di tengah badan jalan dengan kecepatan tanggung sehingga bikin bingung mobil di belakangnya.

Oh ya saya juga berkendara motor kadang-kadang,   tapi saya sekarang  mengendarai motor dengan perlengkapan lengkap (jaket, helm, dsb) dan kecepatan standar agar lebih dapat menikmati semilir angin. Pokoknya lebih sayang nyawa daripada gaya lah. Lagian mau gaya ke siapa. Udah celaka mah nyeri we nu aya.  Percayalah, saya juga pernah jatuh dari motor, dan malu digotong orang lebih besar dibanding sakitnya.

Read Full Post »

Sepanjang Jalan Asia Afrika

asia afrikaSaya sudah 11 tahun berkantor di jalan Asia Afrika. Tapi belum pernah menyusuri sepanjang jalan yang penuh sejarah ini dari ujung ke ujung sambil menikmatinya. Kalau memandangi dari atap gedung sih sering, dari tahun ke tahun hanya bisa merutuk, melihat beberapa rumah atau bangunan antik di Asia Afrika dan Naripan dibongkar atau direnovasi dan berganti wajah, yang sayangnya seringkali malahan jadi lebih jelek daripada aslinya. Yah saya pribadi mah sebenernya tidak setuju bila bangunan peninggalan sejarah ini dirombak wajahnya. Kalau dipelihara sih oke. Pendapat saya sih, harusnya bagian kota lama harus dilestarikan. Kalau mau bangun mall atau kantor mah kesana sajalah, jauh-jauh, ke pinggiran. Biar enggak tumplek blek di tengah kota semua. Kalau tidak salah dulu ada upaya dari Bapak Haryoto Kunto untuk memohon kepada pemerintah agar Gedung Singer dekat Simpang Lima tidak dibongkar. Namun upaya Bapak Haryoto Alm. dkk rupanya tidak membuahkan hasil.

simpang limaNah kemarin pada saat di kantor ada acara buka puasa bersama, dan saya salah kostum karena lupa (seharusnya berbusana Muslim sebagaimana dress code yang diumumkan lewat broadcast sms) malahan bersepatu boot, kaus hitam dan coat panjang selutut. Yang sebenarnya cocok dengan udara Bandung yang bila malam dingin berangin akhir-akhir ini. Dan adalah Abiwara yang seperti biasa dengan ide tiba-tibanya ingin motret-motret di Simpang Lima pada senjakala. Dan adalah saya, yang cuma setor muka sebentar di acara buka bersama yang sudah dimulai dari jam 4 sore dengan hiburan Nasyid dsb, yang kemudian malah bergabung dengan para tukang potret yang keranjingan jeprat-jepret itu; Jay, Abi dan Surur. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: