Feeds:
Posts
Comments

Tilang! Lagi-lagi Ditilang

Lewat Alun-alun Bandung di ujung jalan Asia Afrika dengan pertemuan Jalan Banceuy adalah pertigaan dimana saya sampai hatrick, alias tiga kali ditilang di tempat yang sama. Entah kenapa saya apes sekali lewat disitu. Padahal itu rute saya pulang kerja setiap hari.

Pertama kali saya ditilang disitu, pertama di tempat yang sama ya, karena untuk peristiwa tilang lainnya itu beda cerita. Saat pertama di situ itu karena saya lupa menyalakan lampu mobil. Pas diberi tahu polisi, saya menjawab, ya gimana pak namanya juga lupa. Lagian lampu jalan terang dan mobil lain juga terang, mana saya sadar kalau lampu mobil saya mati. Terus polisinya nanya, emang engga sadar lampu di dashboard mati. Engga, jawab saya sambil menggeleng lemah.

Oke itu yang pertama di tempat itu.

Kedua kalinya ditilang disitu, adalah karena saya mengambil jalur kanan dimana seharusnya jalur kanan itu langsung belok ke Jalan Banceuy. Kenalah saya distop polisi. Pertanyaan standar,

“Ibu tahu pelanggaran apa yang sudah ibu lakukan?”

Saya pura-pura tidak tahu saja.

“Ibu seharusnya belok kanan”

“tapi saya engga mau belok kanan, rumah saya kan disana, bukan ke kanan”

“Kalau mau lurus, ibu ambil jalur tengah dong!” Kata polisi itu.

Saya menjawab tak kalah sengit,

“Dari tadi juga saya mau ambil ke kiri, tapi bis-bis yang disitu itu engga mau ngalah, saya ga dapat kesempatan ambil jalur tengah!”

Saat itu saya pasrah diajak damai. Melayang sudah lembaran limapuluh ribu rupiah.

Ketiga kali saya ditilang disitu, begitu ditanya kesalahan saya, saya langsung menjawab tegas,

“Tahu pak! Karena saya di jalur kanan!”

Lalu karena saya saat itu sudah tidak ingin ada suap menyuap antara saya dengan bapak-bapak penegak hukum, kebenaran dan keadilan itu, saya bertekad untuk disidang saja sesuai jalur resmi.

Saya pasrahkan SIM dan STNK saya untuk diperiksa.

Lalu kata polisinya,

“damai saja ya Bu”

“engga ah engga mau, tilang saya saja, mana surat tilangnya pak, saya mau disidang saja”

“Lho bu, mending damai!” Memang kita mengenal yang namanya damai itu indah, tapi tidak untuk kasus ini seharusnya.

“Engga ah engga mau!” saya berjuang dengan gigih.

“Bu, masa engga ada uang. Limapuluh ribu saja”

Saya terpana,

“Pak serius nih, segitunya?” kata saya. Segitunya butuh duit maksudnya.

“hehe..hehe…” Polisi itu tertawa sumir.

“Ya udah deh, lain kali ini saja ya pak! lain kali saya milih sidang saja” kata saya sambil menyerahkan uang perdamaian.

Besoknya pas saya cerita di kantor, saya mendapat tuduhan bahwa saya mau diajak berdamai dikarenakan polisinya ganteng.

Ih.

Tilang! Never Ending Story

Kalau kita sering ditilang, pas ditilang di kali berikut-berikutnya, sudah tidak akan kaget lagi. Setelah beberapa kali mengalami tilang, malah kadang-kadang saya suka iseng melipir membawa kendaraan yang saya bawa mendekati para polisi yang sedang melakukan razia. Namun anehnya saat kita membawa SIM dan STNK lengkap, walau kita sudah berusaha dekat-dekat dengan yang sedang merazia, tetap saja suka dicuekin. Beda halnya jika kita memang punya salah, tidak bawa SIM atau tidak pakai helm, dari kejauhan saja Polisi-polisi itu bagaikan sudah punya insting hiu mencium bau darah, segera saja kita akan kena semprit dan disuruh kepinggir.

Masih seputar cerita tilang, seperti yang saya ceritakan juga di posting sebelumnya, bahwasanya mobil Civic hitam tua hasil cicilan itu sampai pada waktunya menjadi tukang mogok. Saya ingat saat itu mobil saya sedang susah distarter. Akinya sudah jelek barangkali, atau entah apanya. Sudah jelas saya ini punya aura jelek mengundang polisi untuk menilang saya, eh saya pun punya penyakit sering lupa bawa SIM dan STNK. Beberapa kali bila ketinggalan SIM atau STNK, saya suka balik lagi ke rumah walau sudah sampai kantor, tapi semakin kesini, saya cuek saja. Pasrah.

Suatu hari saat mobil saya susah distarter, saat pulang kantor, saya berhasil menghidupkan mobil saya dengan cara dimasukkan gigi sambil mobilnya didorong di parkiran mobil kantor yang memiliki banyak turunan dari satu lantai ke lantai parkir lainnya. Yang penting sampai rumah dulu, begitu pikir saya. Baru besok akan saya masukkan bengkel untuk dicek. Saat itu saya pun lupa tidak bawa SIM dan STNK. Komplit. Apakah saya lupa tidak membawa dompet dan duit juga? Bisa jadi.

Saat saya menyetir saya selalu bahagia, karena selalu sambil bernyanyi merdu dan menyetel musik atau mendengarkan radio. Nah sore itu sesampainya di jalan Otista, mendekati lapangan Tegalega, saya melihat ada banyak polisi sedang melakukan razia.

Mati deh! pikir saya. Lagu yang sedang saya nyanyikan, berhenti sebelum reffrain. Tamat riwayat saya sekarang, pas razia pas tidak bawa SIM dan STNK. Pasti saya disangka bawa mobil curian. Walau tampang saya sama sekali tidak seperti tampang pencoleng mobil, tapi bisa jadi kan, saya dianggap penadah atau anggota komplotan?

PRITTTT!!! Suara sempritan ini lama-lama tidak asing ya?

Saat saya meminggirkan mobil karena dihadang polisi, matilah mesin mobil saya si jago mogok itu.

Waduh, saya langsung panik. Di kantor kan banyak yang bisa dimintai tolong untuk dorong-dorong mobil. Lha disini mah susah atuh.

Langsung saya mengomeli polisi yang memberhentikan saya.

“Pak, mobil saya ini lagi susah distarter, tadi saja bisa nyala karena didorong! ini gimana nih sekarang jadi mati??!!! Bapak sih pakai nyuruh saya berhenti segala!”

Saya mengomeli polisi yang tampangnya berubah jadi bingung itu sambil berusaha menstarter mobil kembali dan tanpa hasil.

“Wah, bu maaf ya, gimana ya? Kami kan sedang menjalankan tugas” Kata seorang polisi itu.

“Ya udah deh pak, tolong bantu dorong saja, nanti saya masukkan giginya sambil distarter sambil Bapak dorong!” perintah saya tegas.

Polisi yang malang itu lalu memanggil dua orang teman polisinya. Bertiga mereka mendorong mobil saya.

“SATU……DUA …….TIGAA…..!!!!”

Bapak-bapak polisi berseragam itu kompak berlari mendorong mobil saya.

Masih belum nyala.

“SEKALI LAGI PAK!” saya memberi aba-aba.

“SATU ……DUA….TIGAAAA!!!!”

BRRRMMMMM BRMMMMMM…akhirnya mobil saya menyala sambil melaju. Saya ucapkan terima kasih sambil melambaikan tangan.

“MAKASIH YA PAAAKKKKK1!” langsung saya buru-buru tancap gas kabur dari lokasi kejadian perkara.

Selamat saya tidak sempat diperiksa SIM dan STNK yang memang lupa saya bawa.

Tilang! Another Story

Saya sering ditilang. Tapi sumpah! Bukan karena keinginan saya. Yang jelas sih keinginan polisinya. Seperti saya sudah ceritakan di posting blog saya sebelumnya tidak ada unsur kesengajaan disini. Lebih banyak pada faktor apes atau kekeliruan yang tidak disengaja.

Kedua kalinya saya ditilang, entah ditahun berapa. Yang pasti saya sudah bekerja di tempat sekarang. Mobil saya adalah Honda Civic mungil warna hitam dua pintu hasil nyicil. Pagi-pagi saya lewat perempatan Pajajaran dan Abdul Rahman Saleh, itu lho yang ada Patung Nurtanio di taman dekat situ, nah disana kan jarak dari ujung jalan Abdul Rahman Saleh ke jalan Pajajarannya lumayan jauh tuh.

Pas lampu kuning karena kosong saya tancap gas, dan…

PRITTTTTT!!!!!

Bermunculan polisi dari pinggir jalan Pajajarn menepikan mobil saya ke pinggir jalan.

Seperti biasa dengan mengucapkan salam, pak Polisi itu meminta saya menurunkan kaca mobil. Meminta untuk memeriksa SIM dan STNK saya. Dan keluarlah pertanyaan standar.

“Bu, tahu kesalahan yang ibu lakukan?”

Saya menggeleng lemah dengan wajah polos  juga dengan tatapan mata yang saya besarkan agar mirip mata anak kijang tak berdosa.

“engga tuh Pak”

“Bu. kalau lampu kuning itu artinya siap-siap berhenti, bukan siap-siap tancap gas”

“Iya pak, saya ini buru-buru mau ke kantor, kalau kesiangan gawat pak. Bos saya galak banget, saya bisa dihukum berat”

Jaman itu belum musim iklan di tipi untuk himbauan agar polisi tidak menerima suap. Tapi suwer saya juga tidak berusaha menyuap polisi. Dia sendiri yang menawarkan damai kepada saya. Pas saya keluarkan dompet, ternyata isinya cuma 5000 rupiah. Sambil tersenyum nyengir saya tawarkan satu-satunya lembaran 5000 rupiah itu pada Pak Polisi.

“Bu, kerja dimana sih, masa cuma bawa uang 5000 perak??!!”

“Lho pak, engga ada hubungan dong dengan kerja dimana, kebetulan saja saya belum ke ATM!” jawab saya tersinggung berat. Rasanya perusahaan tempat saya kerja dilecehkan oleh polisi itu gegara saya cuma bawa uang limarebu.

“ya udah deh, ga papa. Lain kali jangan melanggar aturan ya Bu” kata polisi itu.

Dalam hati, saya menambahkan, lain kali jangan cuma bawa duit lima rebu rupiah. Ga enak damainya.

 

Sang Pewaris (Bab 3)

ImageTiba-tiba aku terbangun dari mimpi.

Tepat setelah tangan dingin itu menyentuh pundakku dari belakang. Pas sebelum aku menoleh untuk melihat wajah yang punya tangan, dan semoga memang siapapun itu memiliki wajah.

Aku berkeringat di dahi, tapi juga kedinginan. Selimutku sebagian sudah jatuh ke lantai. Sambil mengusap keringat di dahiku dengan tangan, kuraih selimutku dan merapikannya. Kulihat jam sudah melewati pukul dua belas malam.

Kuraih handphoneku dan kulihat aplikasi chatku, barangkali ada pesan masuk. Ramai teman-temanku bercanda di grup, sampai jam segini masih saja saling menimpali. Aku tiduran lagi sambil membaca-baca. Bibi Angelie tidur di kamar sebelahku. Kamar nenek yang paling besar di rumah ini ada di lantai bawah dan sekarang kosong.

Kamar nenek menghadap kebun mawar dan tanaman lainnya yang aku tak tahu apa saja namanya. Kamarku di lantai atas dan menghadap ke barat dengan pemandangan dengan jurang penuh pepohonan di belakang rumah. Demikian juga kamar Bibi Amelie. Aku beranjak dari tempat tidur membuka jendela, iseng ingin menghirup udara segar dan melihat kegelapan malam. Angin malam yang dingin terasa mengelus wajahku. Rumah tua nenek ini berada di utara di perbukitan kota. Perumahan tempat tinggal kami ini memiliki jarak cukup renggang antara satu rumah dengan lainnya, udara disini sangat sejuk karena dekat hutan yang agak jauh dari hiruk pikuk kota.

Aku melihat ke jendela sebelah. Jendela kamar Bibi Amelie tertutup rapat.  Tak kudengar suara apapun dari kamarnya. Tak ada cahaya dari sela-sela tirainya. Bibi Amelie senang tidur dalam kegelapan.

Aku duduk dekat jendela kamar sambil menyapa teman-temanku di Line Group. Karena ada Kevin yang rupanya masih online dan dia menyapaku lewat jalur pribadi, aku menutup jendela dan kembali tiduran di tempat tidurku, dan melanjutkan chat dengannya. Kevin teman yang bekerja di tempat yang sama denganku. Aku agak naksir dia. Dia manis. Dan rasanya menyenangkan ada teman bicara di larut malam ini setelah mendapat mimpiku yang aneh.

Umurku 27 tahun dan Kevin berbeda satu tahun denganku. Beberapa kali kami sudah pergi keluar setelah jam kantor, namun masih bersama teman-teman lainnya. Aku tidak terburu-buru dengan hubunganku dengan Kevin. Aku menikmati saja pendekatan pelan antara kita. Bukan niatku untuk buru-buru menikah, lagipula -mungkin sifat keturunan dari keluargaku, ada saat-saat dimana aku benar-benar suka sendirian sepulang kerja dan menikmati hening di rumah yang kadang berlangsung berhari-hari dan berminggu-minggu lamanya.

Hari-hari berikutnya kembali normal. Benar-benar seperti hariku sebagaimana biasa. Aku berangkat kerja jam 7 pagi atau lebih sedikit, perjalanan ke pusat kota ke tempatku bekerja memakan waktu setengah jam atau lebih, sehingga aku biasa sampai jam 8 kurang. Pulang  ke rumah biasanya Bibi Amelie sudah memasak untukku, atau aku tinggal menghangatkan makanan yang dia simpan di lemari es, bila aku ingin makan malam. Dan aku masih jarang berbicara dengannya. Kadang-kadang kami memasak bersama, atau membaca buku di ruangan yang sama. Namun percakapan antara kami nyaris nol. Dan aku lebih sering berinteraksi di aplikasi handphoneku dengan teman-teman daripada berbicara dengan orang yang serumah denganku. Bagiku itu akhirnya jadi biasa saja, dan aku berpikir aku semakin mirip nenek dan Bibi Amelie. Lama-lama di rumah aku bisa lupa berbicara.

Suatu hari sepulang kerja, aku tidak melihat Bibi Amelie dimanapun. Di meja makan kulihat secarik kertas yang ditulis terburu-buru, terlihat dari tulisan yang rapi namun makin ke bawah semakin acak-acakan dan tarikan tandatangannya yang terlihat menggores cepat. Bibi Amelie bilang siang tadi dia pergi ke kota lain dimana dia tinggal sebelumnya, untuk menengok rumahnya yang akan disewakan kepada peminat yang sudah menghubunginya pagi ini.

Jadi malam ini aku sendiri di rumah ini.

Karena aku sering merasa nyaman untuk duduk di ruang perpustakaan, aku memutuskan untuk bersantai disana setelah mandi. Aku berselonjor di sofa sambil menonton TV. Novel yang kubaca sudah berganti dengan judul lain, yang dulu saat  aku baca disini dimana aku menemukan cermin besar di dinding itu mencair sudah selesai aku baca.

Rupanya aku tertidur di sofa.

Jam berdentang membangunkan aku. Jam duabelas malam. Melodinya panjang sekali. Aku beranjak duduk lalu memperhatikan cermin. Bayanganku tidak tampak, tapi cermin tampak terang bersinar.

Aku penasaran melihat cahaya yang benderang dari cermin itu. Seperti cahaya siang hari saat matahari cerah.

Melangkah aku buru-buru ingin menyentuh cermin itu lagi. Terlihat di dalam cermin pantulan yang menampakkan pemandangan berbeda dari sebelumnya dan seharusnya.

Aku melihat danau dan pepohonan hijau yang indah. Langit biru dan awan-awan putih. Ha! Ini tengah malam. Bisa-bisanya cermin ini memantulkan pemandangan siang hari.

Kusentuh permukaannya, dan benar saja jari-jariku mulai terbenam disana sampai pergelangan.

Tidak mudah menembus tanganku cermin itu. Rasanya seperti menembus cairan pekat sekali dengan membran di atasnya. Seperti lapisan karet tebal yang aku harus tembus, tapi terasa hangat. Tidak dingin membekukan tulang seperti waktu lalu.

Jam masih berdentang. Aku tiba-tiba memutuskan untuk mundur dan mengambil ancang-ancang. Aku berlari dari jarak agak jauh dari cermin, langsung menuju ke cermin itu dan dengan sekuat tenaga menabrakkan diriku ke permukaan cermin itu.

Serasa melewati tirai tebal dari karet dan masuk kedalam cairan pekat. Aku pengap tak bisa bernapas. Megap-megap aku merasa diriku melewati cairan pekat itu dan terjun bebas ke udara kosong. Aku melayang di udara, menukik dengan kecepatan mengerikan, panik aku memejamkan mata. Pasrah pada apa yang akan terjadi.

DAN AKU TERCEBUR!. Tepatnya aku tercebur dan menimpa seseorang!

Aku merasa membentur seseorang dan kami berdua tercebur bersama ke dalam air yang ternyata tidak terlalu dalam. Sebatas dada dalamnya. Segera setelah aku berpijak sambil megap-megap aku menyibakkan rambutku yang basah dan melihat seseorang di depanku.

Dia tinggi, jauh lebih tinggi dari aku. Rambutnya hitam, matanya sangat hijau  berkilau seperti hijaunya batu permata.

Dan dia mengutuk dan memaki-makiku. Sepertinya itulah yang aku dengar.

 

 

Sang Pewaris – Bab 2

Jam berbandul yang berada dalam dudukan kayu itu kini berhenti berdentang. Aku terhenyak. Saat kaget tadi tanganku sudah aku tarik kembali karena terkejut. Kusentuh kembali permukaan cermin itu. Keras. Dingin. Dan licin. Tidak ada tanda-tanda bahwa tadi sesaat permukaannya telah mencair. Aku menoleh keluar ruangan dair pintu ruang perpustakaan yang terbuka, melihat kalau-kalau Bibi Angelie mendengar jeritanku. Namun rupanya suaraku tadi tidak keras, karena terdengar dari kejauhan langkah-langkah samar Bibi Angelie yang halus dan tenang. Kalaupun dia mendengar, Bibi Angelie juga bukan orang yang gampang kaget dan lari tergopoh-gopoh mencari asal suara. Pernah di suatu hari hujan yang sangat deras dengan petir yang menggelegar, Bibi Angelie tampak tenang-tenang saja setiap terdengar suara dentuman petir yang kadang mengagetkan.

Aku ketuk-ketuk permukaan cermin dengan heran. Pemandangan di cermin pun terlihat normal dan selayaknya cermin yang baik dan benar. Ada pantulan ruangan perpustakaan rumah kami yang kuno namun terang dan nyaman. Kucari bayangan cangkir kopiku. Ha! tampak di cermin itu, walau uap panasnya kini sudah tak nampak menguar. Sudah mendingin rupanya.

Untuk meyakinkan diri kuraba seluruh permukaan cermin, kusentuhkan juga ujung hidungku ke permukaan cermin bertemu dengan bayanganku sendiri disana. Iseng.  Tidak terjadi apa-apa. Baiklah. Rupanya ini halusinasiku belaka. Mungkin karena aku belum makan malam. Aku tidak pernah percaya cerita horror, hantu dan sebangsanya. Pastilah ini hanya khayalanku semata.

Aku duduk kembali. Kembali membaca buku. Kuputuskan tidak akan mengatakan soal cermin-cair-tembus-seperti-air ini kepada Bibi Angelie. Kami juga jarang mengobrol. Kadang-kadang bahkan aku tidak merasa ditemani olehnya. Kalau tidak membuat biskuit dan memasak, maka Bibi Angelie sibuk dengan urusannya sendiri entah apa. Bisnis online dan websitenya, bisa jadi memantau bursa saham. Karena beberapa kali aku melihat dia membuka website yang penuh dengan indeks pergerakan saham dan mata uang asing.

Saat aku membuka lembaran buku, aku melihat tangan kananku agak kemerahan sampai batas pergelangan tangan, rasanya masih kebas seperti habis terkena es dan udara yang sangat dingin. Kugosok tangan kananku. Kembali aku bertanya-tanya. Jadi cermin tadi imajinasiku saja ataukah nyata? Ah masa bodohlah.

Aku beranjak ke kamarku. Kubawa buku novel yang masih belum selesai kubaca. Depan pintu kamar aku berpapasan dengan Bibi Amelie.

“Aku di kamar dulu ya Tante..” kataku, kepadanya.

“Engga makan dulu my dear?” tanyanya halus. Bibi Amelie bersuara dalam dan enak didengar. Mungkin bila saja dia bernyanyi akan terdengar merdu, tapi aku tidak pernah mendengar satu lagupun tersenandung dari bibirnya.

“Tidak ah Tante, aku ingin tiduran saja. aku tidak lapar” kataku.

Tangan Bibi Amelie terulur menepuk pundakku.

“Good night sweetie” katanya.

Walau tak banyak bicara, tak banyak kata, dan kadang seperti tidak ada, Bibi Amelie baik kepadaku. Demikian pikirku.

Aku beranjak ke tempat tidur. Besok hari Sabtu. Libur. Jadi aku bisa puas tidur. Membenamkan diri di bantal empuk aku memainkan handphoneku, melihat-lihat sosmed, tertawa-tawa membaca pesan dari teman-temanku, dan tahu-tahu aku tertidur.

***

Aku bermimpi. Setidaknya demikian aku berpikir saat itu. Karena pemandangan ini bukan di alam yang biasa dan nyata sehari-hari di kehidupanku. Aku berada di tempat asing yang sama sekali belum pernah aku datangi. Langit gelap dan aku menyusuri jalan setapak yang berkelok dilapisi batu. Jalan tua yang berlumut. Cahaya hanya dari lampu-lampu jalan berbentuk ketupat dan besi tempa berukir, cahayanya dari api yang dinyalakan di sumbu minyak.  Redup sekali hampir-hampir tak kulihat jalan di depanku.

Pohon-pohon besar menjulurkan rantingnya menggores wajahku. Pohon-pohon itu berdiri di sepanjang jalan kecil ini di kiri dan kanan. Terlihat sumur tua dengan batu-batu di pinggirannya, kayu tempat gantungan embernya seperti pancangan tiang gantung untuk orang yang dihukum mati. Kelelawar atau makhluk serupa kelelawar melewati terbang rendah hampir mengenai kepalaku. Suara kepakan halusnya cukup memecah kesunyian yang benar-benar terasa menggantung di udara.

Aku terus berjalan, karena aku merasa harus terus berjalan.

Tiba-tiba dari kegelapan di depan, pohon-pohon besar di kiri kananku mulai merenggang, dan aku menabrak pagar besi yang tinggi dan dingin. Aku berpegang pada batang besi pagar itu, sambil satu tangan menggosok dahiku yang terasa tidak terasa sakit karena menabrak tadi. Tentu saja tidak sakit, ini mimpi kan. Pikirku.

Tampak dari antara ruji-ruji besinya sebuah halaman besar tidak terurus dengan pohon tua tanpa daun dengan ranting menjulur, besar dan tinggi dan kelam, sebuah kastil yang tinggi dan hitam tanpa lampu, bagai bayangan raksasa di kegelapan malam ada dihadapanku.

Saat aku menatap heran kastil yang hitam dengan bayangan hitamnya dan dilatar belakangi langit biru tua kehitaman, bulan sabit tampak muncul pelan karena awan gelap yang mentabirinya mulai membuyarkan diri tertiup angin malam yang dingin.

Ah pikirku, setidaknya ada secercah cahaya. Di halaman kastil gelap ini tidak tampak lampu-lampu minyak seperti di jalan berbatu tadi, kalaupun ada, rupanya tidak dinyalakan. Aku bergidik karena dingin dan sedikit terusik oleh suasana yang yang mencekam.

Tidak, aku bukan seorang penakut. Dibesarkan hanya berdua dengan nenek. Aku sering ditinggal di rumah sendiri. Rumah tua dengan halaman besar dan berjarak cukup jauh dari tetangga. Aku biasa berada dalam kesunyian. Sepi adalah musikku sehari-hari di rumah. Aku tidak suka bingar, aku tidak mau di pasar. Aku biasa berteman sunyi sendiri di malam hari, bahkan tanpa menyalakan TV. Toh walau di rumah sendiri untuk mengobrol kadang aku bertelepon dengan teman-temanku, kalau aku mau. Tapi walau sering sendirian, aku juga tidak ingin masuk kategori gadis anti sosial. Aku punya beberapa teman dekat di kantor yang biasa aku berjalan-jalan ke pertokoan atau haha hihi menikmati suasana di kafe dan restoran.

Tapi ini suasana yang mencekam, suasana seperti di abad pertengahan. Jalan tua berlumut dan pohon-pohon besar dan kastil yang hitam tanpa lampu cukup membuat jantungku berdebar. Segenap indraku serasa bersiap untuk menerima kekagetan yang mungkin saja terjadi akibat kesunyian yang menekan ini.

Tiba-tiba serasa ada bayangan di belakangku mendekat. Aku merasakannya di belakangku walau aku belum menoleh. Bulu kudukku berdiri dan rambut-rambut halus di tanganku terasa meremang. Angin dingin berhembus seiring sosok yang mendekat di belakangku itu, sebelum aku sempat menoleh, terasa ada tangan yang terjulur menepuk pundakku tiba-tiba. Tangan sedingin es yang membuat aku serasa diceburkan ke danau yang dingin hanya dengan sentuhannya itu.

***

 

 

Sang Pewaris

Namaku Miranda Dracco. Sepeninggal nenek, aku tinggal bersama adik perempuan ayahku satu-satunya. Tepatnya Bibi Angelie yang datang ke rumah peninggalan nenek untuk tinggal bersamaku. Kedua orangtuaku sudah tidak ada sejak aku kecil. Bibi Angelie setahuku tidak menikah, dan dia tidak pernah menikah, atau pernah. Entahlah, Bibi Angelie sangat pendiam dan tertutup.

Di usianya yang masih sekitar 40 tahun, Bibi Angelie masih tampak cantik, jika saja ia mau. Tubuhnya kecil ramping namun tampak kuat dan gesit. Pakaiannya ringkas dan senang mengenakan cardigan warna hitam di atas blusnya yang juga hitam. Rambutnya selalu diikat erat dibelakang kepalanya, dia mengenakan kacamata model kuno bentuk mata kucing dengan bingkai tebal. Perhiasan satu-satunya hanya kalung perak berbandul medalion besar dengan ukiran sulur daun, mawar dan tengkorak kecil dan entah simbol-simbol apa seperti tulisan rune kuno,  yang tak pernah lepas dari lehernya. Sehari-hari dia mengenakan sandal ringan bertumit rata, dan selalu menutup mulutnya erat sambil membersihkan rumah atau memasak.

Aku tidak pernah memiliki memori kedua orangtuaku, bahkan foto mereka aku tak punya. “Hilang semua” kata nenek singkat. Seperti Bibi Angelie, Nenek pun tak banyak bicara. Namun aku tahu dia sayang padaku. Dia jarang bahkan hampir tak pernah marah. Matanya hangat saat membuatkan sarapan atau makanan kesukaanku. Kadang menemaniku sampai aku terlelap di tempat tidur bila aku enggan tidur sendiri.

Bibi Angelie tinggal di kota lain. Aku tak tahu dia bekerja apa dan dimana tadinya. Aku hanya bertemu dengannya sesekali bila ia datang menengok nenek. Kadang mereka berdua mengobrol dengan suara pelan dan rendah sampai larut malam. Aku sering melihat mereka berdua berbincang saat aku terbangun tengah malam. Namun bila mereka melihat aku bangun, segera mereka mengalihkan pembicaraan sehingga aku tidak pernah tahu mereka membicarakan apa.

Rumah nenek adalah rumah kuno berbahan bangunan batu dan berlantai kayu dengan halaman yang rapi.  Rumah cukup besar dengan jendela yang juga besar-besar. Walau kuno karena banyak cahaya rumah tempat tinggalku ini tidak nampak suram. Ada dua pohon besar di kiri dan kanan halaman. Akar-akarnya menonjol melingkar di atas tanah. Kadang membuatku tersandung. Halaman selalu hijau dengan rumput yang dipotong rapi, dan gerumbulan mawar dan bunga-bunga yang terawat. Sebelum meninggal, nenek sangat senang merawat taman. Dia dibantu oleh tukang kebun yang datang sesekali.

Dibesarkan nenek yang pendiam, tidak membuatku menjadi pendiam. Aku cerewet sekali, bahkan bila tidak mendapat jawaban apa-apa dari nenek. Seringkali obrolanku adalah monolog. Dan aku seringkali mengajak bicara perabotan di rumah. Dari cermin hingga lemari, atau bahkan panci dan kursi. Atau semut-semut yang lewat.

Sebenarnya karena selepas kuliah aku langsung bekerja, hidup sendiri bukanlah masalah buatku. Jadi tanpa Bibi Angelie yang datang untuk tinggal bersamaku sebenarnya tak mengapa. Aku juga bisa menghidupi diriku sendiri. Tapi kata Bibi Angelie, dia mengkhawatirkan aku. Lagipula nenek menitipkan aku kepadanya, sebagai satu-satunya keluarga yang ada.

Pindah dari rumah yang ditinggalinya, Bibi Angelie tidak membawa banyak bawaan untuk keperluan pribadi. Hanya pakaian di koper kecil, tapi tak heran karena dia bukan tipe perempuan senang berdandan. Lalu sebuah jam kuno berukuran cukup besar  dengan bandulnya, dan sebuah cermin berbingkai kayu model antik dengan warna usang, walau kedua barang tersebut berwarna pudar; jam kuno dan cermin antik itu terlihat mahal karena kayunya terlihat kokoh kuat dan berkualitas tinggi.

***

Jam kuno dan cermin antik. Menurutku itu janggal untuk barang pindahan. Seperti tidak ada barang lain saja yang lebih pantas untuk dibawa. Tapi karena Bibi Angelie saja menurutku sudah antik, setelah dipikir lagi tidak mengherankan juga rasanya bila dia membawa mesin jahit kuno sekalipun. Malah akan mengherankan bila dia membawa sesuatu yang modern. Ipad atau seperangkat home theater, misalnya. Tampang kunonya tidak cocok dengan gadget modern. Tapi walau kuno dan bertampang misterius, Bibi Angelie sering memakai perangkat komputer yang aku pasang di ruang perpustakaan, dan dia tampak sibuk berkirim e-mail dan browsing. Jadi tidak canggung dengan beberapa perangkat modern di rumah, walau kalau melihat tampang dan penampilannya, rasanya aku dibawanya ke abad yang silam.

Jam kuno dan cermin berwarna usang dengan kayu jati itu ditempatkan di ruang perpustakaan. Aku yang sering membaca buku disana di waktu senggang, kadang terkaget dengan bunyi dentang jam yang memecah kesunyian di rumah nenek ini. Cermin yang tingginya melebihi badanku ini  sudah digosok rupanya oleh Bibi Angelie, permukaannya tampak licin berkilau seperti permukaan es yang bening. Beda dengan saat dibawa Bibi Angelie dulu, kacanya tampak buram, tak nampak bayangan jelas disana saat aku berusaha bercermin disana saat dibawa masuk.

***

Suatu malam aku membaca buku di perpustakaan. Aku membenamkan diri di kursi sambil sesekali menghirup coffee latte-ku yang masih beruap panas. Bibi Angelie terdengar menyiapkan sesuatu di dapur. Mungkin membuat teh. Dia seperti nenek dalam segala hal, termasuk kesukaannya memasak, dan berdiam diri di kursi dapur memandang taman di belakang melewati jendela sambil meminum teh. Kadang aku seperti melihat nenek. Mereka begitu mirip satu sama lain.

Saat jam berdentang, seperti biasanya aku terkaget sendiri. Baru jam sembilan malam. Melodi yang didentangkan jam itu tidak sepanjang jam duabelas malam. Entah kenapa suara jam yang melagukan suatu nada yang seolah terdengar dari waktu lampau itu menarik aku mendekat. Aku beranjak dari kursi setelah meletakkan buku di meja sebelah cangkir kopiku.

Aku melangkah mendekat jam besar di pojok ruangan itu seolah ada tangan-tangan halus tak kelihatan yang menarik aku mendekat. Aku terhenti di depan jam. Di dinding tampak cermin yang berkilau dengan permukaan seperti es itu. Aku penasaran melihat kilaunya. Aku melangkah bergeser mendekati cermin di dinding. Kulihat wajahku disitu. Mukaku tampak agak pucat dengan rambut agak berantakan. Hidungku namun agak merah di ujung, mungkin karena udara yang tiba-tiba terasa dingin di malam ini. Aneh, sore menjelang malam  tadi rasanya suhu masih cukup hangat.

Walau nenekku berambut pirang dan bermata biru, demikian juga Bibi Angelie, aku sama sekali tidak mirip mereka berdua. Kulit mereka putih kemerahan, atau merah muda menurutku, sedangkan kulitku pucat tanpa warna. Kadang terlalu putih pucat tampaknya. Rambutku hitam kelam, bahkan terlalu hitam. Seperti jelaga. Perawakanku juga lebih kecil dan ringkih dibandingkan  dengan  Bibi Angelie yang tampak tinggi langsing namun berisi. Hidungku sedikit mencuat, dan mataku coklat luntur nyaris pudar, itu istilahku untuk sepasang mata yang coklat muda yang tidak menarik. Dan yang paling parah, menurutku aku tidak cantik. Kata nenek sih, aku itu cantik, kecantikan yang mirip ibuku yang berdarah Indonesia.  Tapi semua nenek memang memuja cucunya kan? Sedangkan menurutku nenekku lah yang sangat cantik, atau demikian pastinya sewaktu dia masih muda. Demikian juga Bibi Angelie, aku tahu dia cantik sekali, alisnya tampak melengkung indah dan matanya luar biasa.  Namun kecantikannya selalu disembunyikan dibalik baju hitam-hitamnya yang tanpa potongan jelas, kacamata tebalnya, dan rambutnya yang diikat terlalu kencang.

Ku tatap bayanganku di cermin, tak lama pandanganku beralih ke belakang.

Ada pemandangan tak biasa dan tak seharusnya.

Bayanganku berlatar belakang bukan ruangan perpustakaan. Harusnya di belakangku tampak rak buku, meja kerja dan sofa. Meja kecil dengan kopi dan buku yang sedang kubaca. Itu seharusnya.

Di belakang wajahku yang terpantul di cermin, di latar belakangnya tampak gelap dan suram. Seperti langit tanpa awan yang sangat kelam. Ada bayangan pohon tua besar tanpa daun dengan ranting-ranting yang mengering. Lalu ada bayangan sebuah kastil. Bayangan saja. Tampak gelap di kejauhan. Aku terpana.

Tak sadar tanganku terangkat menyentuh permukaan cermin.

Tidak terasa ada permukaan kaca yang keras. Yang ada tanganku masuk perlahan dan terbenam disana sampai pergelangan. Seperti mencelupkan jari dan tanganku ke air es yang sangat dingin membekukan tulang, tanganku terbenam ke dalam cermin.

Aku menjerit kaget.

Apakah Cinta

Apakah cinta

saat kita tertawa bahkan untuk hal yang tidak sama

untuk canda yang harus kujelaskan karena kau miskin kosa kata

atau lontaran kalimat  dari kamu”bisa gak nanya  yang lebih berbobot dari ini?”

kalau aku bertanya hal-hal yang itu lagi,

(biasanya tanya “sayangkah kamu kepadaku”)

Apakah cinta

kita berjalan di jalur berbeda

tak bertemu kadang bertahun lamanya

untuk kecup yang hanya lewat suara

dan tawa

dan air mata

dan kesedihan yang tak terkata

karena waktu melaju tanpa dapat kita ulang dari pertama

Artis-artis yang Geer

Kayaknya emang kalau orang yang ngetop (atau ngerasa ngetop) udah ngerasa default ya kudu senyum-senyum sama setiap orang.

Tapi percaya deh, engga semua orang tau kalau Anda itu artis, atau aktor, atau apapun lah istilahnya buat seleb-seleb itu.

Contohnya saya.

Saya bukan penonton sinetron, film Indonesia, dan penonton berita seleb. Ya kalaupun sempat nonton saya juga kan engga ngapalin nama-nama dan wajah kalian para seleb itu. Kecuali orangnya ga nanggung cakepnya. Biasanya saya ngeh kalau sama yang begitu.  Dan saya ga pernah ngerasa harus histeris kalau papasan dengan seleb. Jadi hey, kalian para seleb, aman deh kalau papasan sama saya.

Saya ingat dulu sekali, saya pernah papasan dengan Indra Lesmana di suatu mall. DAN DIA TERSENYUM LEBAR SEKALI. Sampai-sampai saya kaget, apa dia ini teman saya dimana gitu ya kok segitu ramah tersenyum. Setelah lewat baru saya ingat namanya dan profesinya. Itu satu.

Pernah juga saya papasan dengan Indra Bekti. Sumpah kalaupun iya saat itu ingat dia Indra Bekti, ya tetap saja, silakan lewat. Wong saya juga gak kenal dia. Tapi kembali, saya mendapat SENYUM YANG LEBAR SEKALI. Sampai saya merasa bisa menghitung jumlah giginya.

Untuk yang kurang ngetop, bahkan kalau saya disenyumin saya suka nanya, “Eh kamu itu teman dimana ya, kayaknya kita kenal deh”.  Ini pernah kejadian di lobby kantor. Maklum, jaman dulu saat di kantor menerima pembayaran untuk kartuHALO, banyak seleb-seleb datang dan bayar sendiri tagihan handphonenya.

Jadi daripada seleb-seleb yang nanggung ngetop itu bikin malu saya, lebih baik kalian jangan suka senyum-senyum gitu deh.

Ada juga kejadian saat saya nonton konser di Sabuga ITB. Lupa siapa saja penyanyi yang konser, yang jelas salah satu grup penyanyinya dulu ada Elfa’s Singer. Nah sesaat sebelum acara dimulai, saya merasa mules luar biasa. Jadi saya lari pontang-panting mencari toilet terdekat, yang artinya keluar lagi dari ruang auditorium.

Pas saya lari lintang pukang begitu, ada Yana Julio beserta pengawal-pengawalnya atau apalah namanya (raider gitu?) baru datang.  Suwer saya ga tertarik buat mendekati Yana Julio. Namun karena pintu toilet ada di belakang dia, tentu saja saya berlari seolah menuju kepada dia. Eh, dengan sigap para pengawalnya membentuk pagar betis dan membentangkan tangan seolah-olah menghalangi saya yang kayaknya mau menomplok pada penyanyi yang saat itu tampak pucat banget wajahnya (Sepertinya pakai bedak tebal).

Yey, geer! saya kan lagi lari menuju wese.  Siapa juga yang mau nomplok Yana Julio. Ngefans juga kagak saya mah.

Terakhir belum lama ini saya antri ATM mau ngambil duit sepuluh gepok.

Lagi asik antri sambil bengong dan melihat-lihat sekitar, saya melihat ada cowok tinggi dengan rambut keriting bersandar di dinding. Cakep juga sih, rada gondrong acak-acakan dengan rambut kayak mie gitu. DAN DIA TERSENYUM LEBAR PADA SAYA!. Saya agak shock dapat senyum selebar itu. Setengah mati saya mengingat-ingat apa dia ini teman saya sekolah dimana gitu. Sambil saya membalas senumnya dengan cengiran sumir, saya melihat Sherly asisten rumah tangga saya yang ikut belanja dengan saya, terlihat salah tingkah dan mulutnya nyaris meneteskan air liur.

Pas sudah beres dari urusan ATM, sambil menggamit Sherly masuk ke Dept Store, saya ngomong sama dia.

“Sher, tadi liat cowok tinggi keriting yang nyandar di tembok? Ngapain dia senyum-senyum mulu ya?” tanya saya.

“ADUUUH IBUUUU!” kata Sherly dengan nada tinggi,

“Dia kan Dwi Sasono, pemain sinetron Buuu!”

“Trus kenapa kalau main sinetron, tetap aja ga inget kok!”

“Halah bu dia kan suaminya Widi AB Three itu loooh!”

“Oh gitu ya…” jawab saya,

“Ibu pikir dia naksir, abis senyum-senyum mulu, bikin geer aja”.

Tilang!

Saya ini bukan pelanggar peraturan.
Suwer.
Saya tertib.Sejauh yang saya yakini sih.

Eh aturan yang mana yah? Ini bisa mengundang perdebatan panjang.
Intinya saya bukan tipe pemberontak dan rebelious gitu lah. Saya kan pemalu, agak takut kalau menarik perhatian orang. Dan sementara itu kan kalau yang namanya pelanggar aturan, pastinya suka draw attention kan?

Kalaupun saya melanggar aturan, pastinya itu bukan bentuk kesengajaan.

Namun walau saya ini penurut aturan, ternyata saya keheranan sendiri mengingat betapa seringnya saya ditilang, baik dilakukan secara sendiri maupun kolektif. Maksudnya kalau lagi bareng teman pun suka kejadian kena tilang juga, entahlah kenapa. Mungkin aura saya menarik polisi untuk mendekat.

Nah aneh kan.
Tapi lebih aneh lagi ada teman saya yang belum pernah kena tilang. Ini ajaib. Mengingat lalu lintas kita yang gila-gilaan padat berseliweran motor dan mobil, juga rambu-rambu yang tidak jelas, dan polisi yang suka ngumpet dan menyamar (iya gitu?), adalah sesuatu yang extra ordinary kalau tidak pernah ditilang.

Pertama saya ngalamain ditilang itu long long time ago, waktu saya masih kuliah. Saat itu saya dibonceng teman sekelas saya si Atom. Nama panggilan Atom ini jelas ada sebabnya.

Continue Reading »