Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tales and Who’s Story’ Category

Narsis

Pertama mengetahui kata Narcissus dari buku novel yang saya baca jaman SD dulu, tentang Jim Bowie, pahlawan Texas yang mempertahankan benteng Alamo sampai titik darah penghabisan, juga penggagas pisau Bowie yang terkenal untuk berburu itu (merancang dan memakai doang, kalau yang nempa ya Blacksmith). Narcissus ini adalah nama dari sahabat baik Jim Bowie yang mati akibat duel anggar dengan Contrecourt. Ceritanya begitu kalau tidak salah.

Dulu saya berpikir rada aneh juga ada nama laki-laki yang berarti nama bunga Narsis yang masih keluarga eh genus dari Amaryllidaceae ini. Namun ternyata tidak aneh ya karena Narcissus atau Narkissos ini adalah nama pria tampan yang dalam salah satu versi cerita mitos Yunani yang jatuh cinta sampai mati pada bayangannya sendiri. Walaupun nama bunga itu nama laki-laki, saya masih jarang baca dan dengar ungkapan misalnya “Wuset, tuh cowok ganteng banget ya, cakep banget secantik bunga bakung”. Oh ya, kecuali di cerita F4 Meteor Garden sih. Empat cowok ganteng yang setampan bunga-bunga itu ceritanya karena merasa saking cakep bahkan lebih cantik dari bunga, menamakan geng mereka Flower Four. (more…)

Read Full Post »

Jangjawokan

Walah,..what’s the meaning of “jangjawokan”?. Buat yang belum mengenal,  jangjawokan adalah mantera, jampi, atau spell, yang dimiliki oleh bangsa Indonesia khususnya sebutan di daerah Sunda, yang sebetulnya mungkin tidak kalah (bahkan mungkin mengungguli, hihihi….ya siapa tahu? kan belum diuji coba) dengan mantera-manteranya Harry Potter tokoh rekaan JK Rowling. Tapi  terlalu jauh mungkin ke negeri sana kalo mau ikutan turnamen Triwizard.

Dulu sewaktu saya kemping dengan teman-teman SMA (kempingnya tidak jauh-jauh, di halaman rumah saya …..hihihi) untuk memeriahkan suasana ceritanya, beberapa teman membuat skenario kesurupan. Ada-ada saja.  Untuk menambah suasana mistis, teman saya Nada, ceritanya akan merapalkan jampi-jampi pemanggil roh. Berhubung memang amatiran, jadinya tidak punya referensi jampi apapun. Akhirnya saya mengutip jampi sakit perut dari buku Ki Umbara; Diwadalkeun ka Siluman.

(more…)

Read Full Post »

Jam istirahat di kantor ini berhubung bulan puasa, dan tidak berminat untuk jalan-jalan ke mall atau pasar, Saya membaca beberapa buku yang saya bawa dari rumah diterbitkan oleh Seksi Kebudayaan Kandepdikbud Kabupaten Ciamis milik ibu saya.  Beberapa yang saya baca yaitu tentang Kerajaan Galuh,  Situs Karangkamulyan, Raja dan Bupati Galuh keturunan Prabu Haur Kuning, dan tentang Karesmen Adat Jatukrami di Tatar Galuh Ciamis.

Acara baca-baca buku ini karena beberapa kali saya menemukan kecap konci ke blog saya berkaitan dengan Ciung Wanara,  menjadikan saya  ingin menceritakan kembali apa yang saya baca dari buku-buku tersebut.   

Situs Karang Kamulyan dipercaya masyarakat Ciamis sebagai peninggalan kerajaan Galuh di jaman Ciung Wanara atau Sang Manarah. Menilik nama Galuh sendiri selain nama kerajaan, artinya adalah Permata,  sehingga ada pula istilah ilmu yang disebut ilmu kegaluhan yang berarti permata kehidupan  yang berada di tengah hati.  Dalam bahasa Sunda istilahnya adalah Galuh Galeuhna Galih.. (more…)

Read Full Post »

Mundinglaya Dikusumah (part I)

Bila mengingat cerita-cerita masa kecil yang diceritakan kembali oleh ibu saya, ada satu cerita favorit saya selain Si Leungli, Lutung Kasarung, Sang Hyang Borosngora, dan Ciung Wanara, yaitu Sang Mundinglaya Dikusumah. Yang paling menggelitik bagi pikiran saya waktu masih sebagai anak kecil lucu yaitu tentang syarat mas kawin yang diajukan Dewi Asri; peujit reungit sakapal. Halah, berapa milyar nyamuk mesti dibantai kan? Eh btw, soal cerita si Leungli, saya ingat waktu kecil sering menangis terguguk-guguk (eh kok kayak anjing? Harusnya tersedu-sedu mungkin) kalau ibu saya menyanyikan kidung si Leungli sebagai berikut:

Leungli leungli

mere bubur pare Malayu

ditutu dina parahu

diwadahan nampan emas    

Sedihnya sebelah mana sih engga jelas, cuma nadanya itu lho mengharukan banget. Saya pernah test drive pada beberapa anak yang saya ninabobokan dengan lagu itu, ternyata efeknya sama! Bukannya tidur tapi malah pada nangis. Atau mungkin efek suara saya yang jelek banget. Bisa jadi.

Kembali ke cerita Mundinglaya Dikusumah. Di Bandung banyak ditemukan nama jalan dengan nama tokoh-tokoh di cerita ini. Yaitu Kidang Pananjung, Guriang Tujuh (eh ada engga sih nama jalan ini? Harusnya sih ada), Mundinglaya (so pasti, orang tokoh utamanya kok),  Rangga Malela, Gelap Nyawang, euh lupa apa lagi ya? Sepertinya tidak semua tokoh di cerita ini dijadikan nama jalan juga, soalnya nama Dewi Asri dan patih Muaraberes tidak ada.  Buku referensinya ketinggalan di rumah euy. Ketahuan deh ya, ngeblog di kantor. (more…)

Read Full Post »

Palagan Bubat

Saya orang Perancis. Maksudnya Peranakan Ciamis. Saya orang Ciamis asli. Saya termasuk galur murni (kalau dimisalkan saya tanaman). Ayah, Ibu berikut Nenek, Kakek dari kedua belah pihak, sekian turunan belum menikah dengan orang di luar Ciamis. Walaupun masih perlu diselidiki lebih jauh kenapa saya sering telmi, masih untung saya engga idiot. Soalnya konon kalau anak hasil pernikahan antar saudara, gen resesif yang jelek-jelek bisa muncul.

Sebagai orang keturunan Kawali, Panjalu, Cipaku, Sadananya, tentulah saya mengetahui cerita dari mulut ke mulut (hiii…jorok) tentang leluhur saya. Cerita sejarah yang menyentuh hati saya, deuuh.. adalah tentang Palagan Bubat. Ibu saya waktu kecil suka cerita sebelum tidur, campur aduk dengan kisah Cinderella.

Mulai ah ceritanya,
Tragedi Palagan Bubat terjadi pada tahun 1357. Seperti dikisahkan dalam kitab Pararaton diantaranya :

Bre prabhu ayun ing putri ring Sunda. Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda

Terjemahannya adalah : Sri Prabu Hayam Wuruk ingin memperistri puteri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda. (more…)

Read Full Post »

Sundanese Tragedy…Why?

Kenapa Tragedi Sunda? tepat tragedinya orang Sunda menjadi judul blog ini. Engga kenapa-kenapa. Yang artinya alasannya biasa-biasa saja dalam arti belum ada dan belum nemu judul yang lebih kedengeran canggih.

Dari lubuk hati yang paling dalam sih sebenarnya cuma mau wawar-wawar ke dunia bahwa engga orang Yunani yang punya tragedi, atau Shakespeare aja yang bisa cerita tragedi. Orang Sunda juga punya. Contoh kecilnya Banjir Darah di Bubat dan Sendyakala ning Padjadjaran.

Tragedi lainnya, akan terus bermunculan dan diceritakan kembali di blog ini. Kalau sempat. Dan kalau koneksi internetnya engga ngadat. Dan yang paling penting, kalau ide nulisnya tidak mandek.

Read Full Post »

%d bloggers like this: