Feeds:
Posts
Comments

Demi Lovato New Appearance

Dari dulu karena anak-anak saya selalu ngikut Disney Channel. Jadinya ya apal banget Demi Lovato di film Camp Rock bareng Joe Jonas dan sodara-sodaranya. Saat itu dia masih berponi dan terlihat sebagaimana gadis kecil.

Nah lho, di video barunya Heart Attack ini bener-bener udah keliatan dewasa. Dan saya SUKA BANGET, liat penampilannya juga lagunya. Sepertinya hari ini saya sudah nyetel lebih dari sepuluh kali. Juga di Radio Prambors rasanya saya hampir tiap hari dengar lagunya disetel. Barengan lah seringnya sama lagu Christina Aguilera yang Feel This Moment itu.

Jaket kulit, jumpsuit, sepatu dengan sol tebal, anting-anting perak model spike panjang, eye shadow gothic, semua membuat penampilannya bener-bener beda.

 

 

Horee Liburan di Puncak!

Seperti juga orang-orang lain yang baik dan normal, tentu saja saya sebagai  orang bekerja kantoran, sangat menyenangi dua hal.

Yaitu liburan dan gajian.

Nah di minggu awal bulan Juli lalu saya sempat mengambil liburan alias cuti. Namun tiga hari berlalu seolah tanpa cuti, gara-gara hari cuti pertama saya sibuk seharian mengantar teman untuk ketemuan dengan penerbit buku, di hari kedua saya harus ke kantor untuk mengambil dokumen yang diperlukan untuk ketemuan dengan notaris, dan saya rempong sampai sore antara bolak-balik dua bank dan notaris.

Yang jelas keesokan harinya pagi buta di hari Sabtu, suami saya tiba-tiba ngomong entah ngigau, katanya “kita ke Puncak yuk, mumpung anak-anak libur sekolah”.

Saya tanpa pikir panjang bilang hayuk aja. Bangun dari tidur tanpa gosok gigi dan cuci muka, langsung browsing internet untuk booking hotel.

Karena tidak berani coba-coba hotel lain, dan taunya emang cuma Novus dari dulu hehehe, akhirnya walau sudah melihat-lihat di internet beberapa hotel lain memang saya tetap memilih menginap di Hotel Novus Puncak. Anak-anak saya suka disana. Sarapan paginya enak, dan saya suka kamar dan pepohonan di lanskapnya. Untungnya masih ada satu kamar kosong di Junior Suite. Sekitar 2 juta permalam. Tadinya pengen nyoba sih Pool Suite tapi beda harganya cukup signifikan, mengingat kolam privatnya juga ga gede dan kamarnya sama persis dengan Junior Suite, ya saya akhirnya tetap pilih Junior Suite saja.

Saya lebih suka booking hotel via internet, praktis dan gak riweuh. Datang pun tidak banyak ngapa-ngapain lagi, tinggal konfirmasi dan tandatangan.

Bangun tidur anak-anak sangat antusias. Setelah beres-beres dan mandi langsung dah capcus ke Puncak.

Perjalanan lancar jaya menuju Puncak. Sempat mampir di Cianjur nyari bubur ayam. Tapi bubur langganan engga jualan.

Jam tiga sorean kami sampai di Puncak. Engga ngapa-ngapain malah semua tumplek blek di kamar. Saya memesan tambahan kasur alias ekstra bed. Untuk satu kamar, ekstra bed yang dibolehkan itu dua. Karena Junior Suite cukup luas, nambah 2 ranjang kecil masih lumayan lega, ditambah balkon juga menambah kesan luas kamarnya.

Kamar kami di lantai dua dan menghadap ke lembah yang hijau dan pohon yang rapat. Di pintu keluar ada tulisan untuk berhati-hati dengan monyet, karena kadang ada yang  mampir nongol ke kamar kita. Apalagi kalau wajah kita mirip, siap-siap aja ditengok mereka.

Dimas yang hobi nonton langsung cari-cari pelem di tv kabel, Dinda yang doyan makan langsung minta pesanan makan di kamar, Drea yang seneng mandi langsung aja mandi. Saya dan suami sih karena doyan tidur yang langsung tiduran.

Makan malam kami ke tempat langganan di restoran Bumi Aki, agak naik lagi ke arah Puncak Pass dari Novus, tapi engga terlalu jauh.  Walaupun penuh kami kebetulan langsung dapat tempat yang nyaman dan lesehan.

Oh ya suka banget sup buntut disini. Enak banget!

Makanan lain pun enak-enak. Untuk yang suka hal ekstrem, ada telor dadar pete yang boleh dicoba. Saya sih udah nyoba. Nyam deh pokoknya.

Minuman paling enak disini menurut saya adalah teh jahe. Maklum di Puncak kan dingin. Pas banget buat menikmati teh jahe. Kalau Dimas senengnya bandrek susu. Katanya rasanya sangat exquisite.

Beberapa foto-foto ada dibawah ini

Liburan memang menyenangkan. Always.

20130706_184630 Camera 360 puncak-hotels-room-2 puncak-hotels-room-3 Camera 360 resort-puncak-room (1)

Naaaah kabar gembira, kami Rafina Green Corner kini punya update stok bibit bermacam-macam tanaman herbs mediterania dan Eropa. Ada Oregano, Rosemary, Thyme, Peppermint, Spearmint, Basil Globe, Basil Genovese, Basil Italian Large, Basil purple..sage, coriander (cilantro), dill mammoth, dill bouquet, dll. Seru kan?

Buat yang hobi menanam terutama untuk yang ingin punya kebon herbs sendiri, atau nama kerennya herbs garden, ini tantangan yang sangat menarik.

Oh ya kami juga memiliki stok bibit lavender. lavender asli. Bukan lavender-lavenderan yang wanginya ga jelas.

Untuk yang berminat bisa memesan via sms ke 0811 222 5 222
Harga per sachet Rp 50.000,-
Isinya? ditanggung lebih banyak dibanding bibit yang dijual dengan merk Mr Fothergills atau Yates. Berapa banyak lebih banyaknya? ratusan butir lebih banyak.

Ayo tunggu apa lagi, mumpung stok lagi ada. oh ya untuk yang mau mampir ke Facebook silakan di https://www.facebook.com/RafinaGreen disana banyak list daftar bibit dan foto-fotonya.

http://www.vegetablegardener.com/item/4796/how-to-grow-artichokes/page/all

Kebiasaan Dinda

Anak perempuan saya Dinda punya kebiasaan unik sejak lahir. Dari bayi sambil menyusu dia senang memegang bibir saya. Kadang disentuh-sentuh dengan ujung jari. Kadang dipegang semua dengan jemarinya yang kecil sekali dan halus.

Dengan mata bayinya sambil menyusu mungkin dia berpikir, “oh ini dia ibu saya, cantik sekali ya…” *geer*.  Saya sih suka dengan kebiasaan itu walaupun terbawa sampai balita. Kalau tidur baik menyusu atau tidak, tangannya pasti mencari-cari bibir saya.

Sekarang Dinda sudah besar. Sudah duduk di bangku smp. Kebiasaan memegang bibir saya sudah hilang. Mungkin karena sudah jarang tidur dengan saya lagi.

Tapi saya kadang kangen dengan masa-masa Dinda bayi dan suka memegang bibir saya. Jari-jari bayi itu harum sekali. Mungkin seperti itu wangi surga ya?.

Alarm

imagesSaya tidak suka bangun pagi. Sejak kapan ya? Sejak saya bisa mengingat.
Tapi sepertinya perlu dikoreksi sedikit. Saya tidak suka bangun pagi dengan TERPAKSA.

Saya perlu bangun pagi dengan tenang. Dengan damai. Dengan keharuman kopi yang baru diseduh dan wangi pancake yang nikmat. Hmmmm.

Atau dengan kicauan burung merdu dan sentuhan  lembut dan kecupan hangat di kening…*ngayal.

Nah itulah sebabnya saya tidak suka bunyi alarm. Tidak suka mungkin masih terlalu lembut. Saya benci alarm lebih tepat.

Bunyi alarm itu menyakitkan. Mengganggu. Dan mengubah mimpi yang tenang dan damai menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Alarm is evil device. Dia diciptakan untuk menyiksa telinga.

Saya tidak mengerti kenapa anak saya suka bangun dengan alarm. Bunyinya macam-macam. Ada yg sangat mengganggu seperti alarm kebakaran. Ada yang berulang-ulang dengan bunyi dentang yang seperti datang dari jauh…kemudian semakin mendekat…mendekat…dan memaksa.

Yang lebih menyakitkan, dua anak saya sendiri tidak pernah bangun dengan alarm yang mereka setel. SAYA yang selalu bangun karenanya. Dan karena mereka sering tidur di kamar saya dibanding di kamar mereka sendiri. Maka hampir setengah hari-hari dalam seminggu saya akan dibangunkan dengan paksa. Dengan siksaan. Dengan alarm yang berbunyi menyakitkan.

Suatu malam saya bilang kalau saya ini, ibu yang mengandung dan melahirkan mereka, bisa bangun tanpa alarm. Saya terangkan alasan macam-macam bahwa bangun dengan cara mengagetkan itu tidak baik bagi kesehatan. Kesehatan jiwa terutama. Dan fungsi snooze adalah alat penyiksa yang diciptakan Nazi untuk teror.

Saya ajarkan untuk menyetel otak agar membangunkan kita di jam yang kita inginkan adalah..menjitak kepala sendiri sebelum tidur dengan jumlah jitakan adalah jam berapa yang kita inginkan untuk bangun.

Coba saja.

It works.

For me at least

Hari-hari menjelang ulang tahunnya perusahaan tempat saya bekerja membuat saya menjadi agak melankolis. Sedikit romantis. Dan ngarep hujan gerimis.

Saya jadi teringat saat-saat saya dulu saat setengah mati ingin pindah kerja dari perusahaan yang baru sepuluh bulan saya kerjai. Eh apa yah istilah yang tepat.

Bukan. Bukan karena bos saya kurang ganteng atau apalah. Apalagi disana ada pegawai bernama Erwin. Jangkung dan cakep. Kayak Chow Yun Fat. Beneran deh ga boong. Saya suka ngintipin dia diam-diam dari balik laci-laci file.

Oh ya itu tadi. Bos saya galak banget. Namun segalak-galaknya dia lebih galak istrinya. Seorang manager keuangan di lembaga riset negeri. Konon bos saya pernah diuber istrinya dan akan digebuk dengan gagang sapu. Serem.

Nah kembali ke cerita awal. Kegalakan bos saya bikin saya pengen pindah. Segera. Pada kesempatan pertama. Erwin ataupun Chow Yun Fat beneran tidak akan bisa menghalangi saya. Tekad saya sudah bulat. Sebulat donat.

Akhirnya saya mengirim lamaran dari iklan sebuuh koran lokal. Saya ga ada ide perusahaan apa itu. Cuma menyebutkan srbuah perusahaan telekomunikasi. Okay whatever. Just take me out from here, Johnny!. Wait. Johnny ini siapa?.

Ternyata saya terpanggil untuk psikotest. Tempatnya di hotel Santika Bandung. Saya pakai baju merah atas bawah. Entah kenapa warna merah selalu bikin saya pede. Berani. Bersemangat. Dan merasa pintar. Walau

cuaca hujan dan jalanan becek sekalipun. Merah selalu bikin hari saya cerah.

Psikotest berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lama amat ya. Untuk dikasih makan. Sekotak KFC. Saya yang naif ini merasa terharu. Baru kali itu selama saya melamar pekerjaan saya diberi KFC. Nasi dan ayam! Bayangkan. Plus segelas Coke.

Sepatu Boot

Saya selalu suka sepatu boot. Walaupun agak canggung memakainya disini. Eh di kantor maksudnya. Sepatu boot emang cocoknya buat jalan ngasruk-ngasruk di padang rumput berbatu atau alam liar lainnya. Sambil naik kuda. Bukan di kantor yang berkarpet tebal, suka kesandung-sandung soalnya. Lagian kebiasaan mengetik sambil melipak kaki di kursi dan nyeker kesana kemari dengan sandal sulam dari Padang saya ini membuat pemakaian sepatu boot ini menjadi tidak efektif. Sangat  tidak efektif.

Pertama kali saya pakai boot ke kantor saat saya hamil. Saya pakai boot dengan alasan ngidam. Memang asyiknya hamil itu bisa menjadi alasan kuat untuk beli barang yang biasanya ga biasa pakai menjadi bisa dipakai dengan cuek, pakai alasan paten takut bayi ngeces. Padahal apa juga hubungannya sama boot. Nah dulu sepatu boot yang saya pakai kira-kira model begini, tapi haknya wedges.

$(KGrHqVHJEwFFy,lgeEwBRf)FQZJ(g~~60_57

Sekarang saya lagi pengen beli sepatu boot lagi. Tapi model cowgirl. Halah. Cuma mehel euy. Dan ongkos kirimnya ke Indonesia ternyata menyamai setengah dari harga sepatunya. Belum ntar nyangkut pula di Bea Cukai, dan saya disetrap buat  ongkos pajaknya. Uh, muh…leaaaass.

Ini kira-kira model yang saya pengen:

$(KGrHqJHJCYE-9QjCbyjBPzjz-cmrQ~~60_57

Biar kata saya sudah nyaris bekerja 18 tahun di perusahaan telekomunikasi selular, ternyata ga bikin saya hapal berbagai jenis singkatan yang ada berseliweran di perusahaan saya.

Kalau ada penilaian untuk kinerja dan kemampuan dimana salah satu tesnya adalah hapalan singkatan saya pasti gagal di awal.  Miserably.

Terutama untuk singkatan dan istilah di Network.

Dalam suatu meeting yang membahas upgrade dan swap antenna

Sekian lama pembahasan membahas tentang MUX . Entah mahluk apa itu MUX. Semua orang berbicara tentang satuan bernama MUX.

Lalu saya tanya pada teman saya yang bernama Troy.

Saya selalu mengingat dia sebagai Helen of Troy. Walaupun dia lelaki. Dia mengingatkan saya pada epik sebuah perang yang melibatkan kuda kayu besar. Namun Troy tidak berasal dari Troya. Dia asli Yogya.

“Troy, MUX itu apa sih?”

Dia menjawab dengan cepat dan mantap.

“Itu, cangkir besar buat minum”.

See that? Ga ada orang yang pengen saya jadi pinter di perusahaan ini.

Suatu waktu juga di saat lain. Bukan meeting tapi. Saya melihat dengan bengong dan cantik berkas-berkas pengajuan pengadaan dan perbaikan site. Beberapa menyebutkan RAU dan CKD.

Saya lalu bertanya kepada teman saya, Wahyu.

“Mas, apa itu RAU?” tanya saya

Dia menjawab, “Radio AUtdoor”

“Oh okay, lalu kalau CKD itu apa?” lanjut saya.

“Cistem Knock Down” katanya lagi.

Tuh kan. Gimana saya mau pinter kalau orang-orang yang saya tanya jawab begitu.

Tergila-gila Bikin Pancake

Sudah sejak hari Minggu saya bikin pancake.

Pagi bikin pancake. Malam bikin pancake.

Hari Senin kemarin saya nitip lagi beli butter dan sirup coklat ke teman kantor saya, yang ketauan pergi di jam istirahat ke Riau Junction. Saya nitip beli sirup mapel dan butter. Tapi kalau engga ada sirup coklat Hershey juga boleh. Hershey itu siapa sih? kok dia bisa bikin sirup coklat seenak itu ya?

Oh ya, saya juga dibelikan jus buah kedondong sama Nur. Ternyata buah kedondong itu kalau dijus enaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget rasanya. Coba deh. Untuk yang cuma tau kedondong cuma bisa dibikin rujak atau sambal, Anda telah kehilangan momen untuk menikmati rasa jus yang istimewa, jus kedondong.

Dan sekarang sudah hari Selasa. Malam hari pulang kantor Saya tetap bikin pancake.

Dimas dan Drea tidak protes. Mereka senang.

IMG_20130512_152305

Tampak atas dengan mentega.

Camera 360

Tampak pinggir tanpa mentega. Yay! Cakep ya pancake bikinan saya