Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘keluarga’ Category

Alarm

imagesSaya tidak suka bangun pagi. Sejak kapan ya? Sejak saya bisa mengingat.
Tapi sepertinya perlu dikoreksi sedikit. Saya tidak suka bangun pagi dengan TERPAKSA.

Saya perlu bangun pagi dengan tenang. Dengan damai. Dengan keharuman kopi yang baru diseduh dan wangi pancake yang nikmat. Hmmmm.

Atau dengan kicauan burung merdu dan sentuhan  lembut dan kecupan hangat di kening…*ngayal.

Nah itulah sebabnya saya tidak suka bunyi alarm. Tidak suka mungkin masih terlalu lembut. Saya benci alarm lebih tepat.

Bunyi alarm itu menyakitkan. Mengganggu. Dan mengubah mimpi yang tenang dan damai menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Alarm is evil device. Dia diciptakan untuk menyiksa telinga.

Saya tidak mengerti kenapa anak saya suka bangun dengan alarm. Bunyinya macam-macam. Ada yg sangat mengganggu seperti alarm kebakaran. Ada yang berulang-ulang dengan bunyi dentang yang seperti datang dari jauh…kemudian semakin mendekat…mendekat…dan memaksa.

Yang lebih menyakitkan, dua anak saya sendiri tidak pernah bangun dengan alarm yang mereka setel. SAYA yang selalu bangun karenanya. Dan karena mereka sering tidur di kamar saya dibanding di kamar mereka sendiri. Maka hampir setengah hari-hari dalam seminggu saya akan dibangunkan dengan paksa. Dengan siksaan. Dengan alarm yang berbunyi menyakitkan.

Suatu malam saya bilang kalau saya ini, ibu yang mengandung dan melahirkan mereka, bisa bangun tanpa alarm. Saya terangkan alasan macam-macam bahwa bangun dengan cara mengagetkan itu tidak baik bagi kesehatan. Kesehatan jiwa terutama. Dan fungsi snooze adalah alat penyiksa yang diciptakan Nazi untuk teror.

Saya ajarkan untuk menyetel otak agar membangunkan kita di jam yang kita inginkan adalah..menjitak kepala sendiri sebelum tidur dengan jumlah jitakan adalah jam berapa yang kita inginkan untuk bangun.

Coba saja.

It works.

For me at least

Read Full Post »

Saya suka bingung sendiri kalau sudah ngumpul sama beberapa teman, yang baru kenal ataupun sudah kenal lama, kalau sudah duduk bersama ngumpul yang dikeluarkan adalah handphone atau gadget lainnya. Lalu semua sibuk masing-masing dengan gadgetnya. Saya sih biasanya jadi bengong melihat sekitar. Lho kok tiba-tiba sepi, begitu pikir saya.

Bukannya saya engga seneng yah, orang-orang pada maen hape atau sms-an, atau ngapdet status di sosmed seperti twitter, facebook, friendster (eh masih musim gitu?), atau apa lah, for your information, saya kan kerja di perusahaan telekomunikasi bergerak selular. Setiap saya melihat orang-orang yang telponan atau sms-an, apalagi kalau tau orang itu pake nomor dari operator tempat saya bekerja, hati saya girang banget. Seperti orang jualan yang melihat dagangannya laku.

Tapi oh puhleaase… masa iya gara-gara gadget kita jadi tidak berinteraksi dengan orang di sekitar kita? kalau saya ditengah orang yang pada maen gadget, saya suka bingung dan mati gaya sendiri, mau ngajak ngomong juga ga enak. Serba salah. Ntar buntut-buntutnya saya juga ngeluarin gadget saya sendiri dong. Padahal sih sebenernya males maen gadget, mendingan keluarin tali spintrong terus lompat-lompat dekat mereka.

Apalagi kalau liat orang nyetir mobil atau bahkan menyetir motor, yang tetap maen telponan dan sms-an. Pengen banget ngempesin mobilnya atau motornya. Sebegitu pentingnya maenin hape gitu ya, sampai harus menantang bahaya buat nyawanya sendiri dan orang lain? kalau engga sayang nyawa sendiri sih terserah, tapi kalau ada orang lain yang kudu ikutan beresiko kehilangan nyawa gara-gara ketabrak orang yang apdet status facebook sambil nyetir, itu mah kebangetan.

Terus lagi kalau sudah di rumah, apa iya ibu bapak dan anak semua maen gadget? mana dong quality time buat keluarga? kalau saya sih sudah di rumah biasanya matiin handphone, atau membiarkan handphone saya silent atau kehabisan batre dengan sendirinya, sebelum diperlukan lagi buat nelepon. Sengaja, biar ga ditelepon soal kerjaan hihihi, lagian ga pernah ding, bos saya pengertian. Sepertinya di tempat kerja saya, sudah otomatis kalau hari libur tidak banyak yang membicarakan kerjaan, kecuali darurat perang.

Sayang banget dengan maraknya berbagai gadget saat ini, dari iphone, tab, ipad, ipod, note, bb dan sebagainya kok malah menyempitkan hubungan sosial antar mahluk yang sebelahan, dunia makin meluas dan ada di genggaman, tapi juga makin sempit karena interaksi sosial dengan sekitar yang makin berkurang. Saya malah pernah membaca di blog keren seorang pioneer woman di Amerika, anaknya minta coklat susu dari lantai atas dengan sms kepada ibunya. Praktis sih, tapi teu sopan, hehehe. Demikian lah pengaruh gadget dalam merubah wajah dunia, sudahkah juga berubah wajah Anda?

sumber gambar:http://businformation.blogspot.com/2011/06/pengenalan-dasar-tentang-komponen.html

 

Read Full Post »

I went to Paris Van Java at Jalan Sukajadi Bandung recently. My dear husband took a snapshot of me in front of home furniture and accessories. I found it quiet interesting. Also I love the Warholize picture under the mirror. Lovely.

Snapshot

Read Full Post »

Anak saya yang perempuan suatu hari merengek pada saya. Karena minggu depan ada jadwal dari sekolahnya untuk bermain dan (katanya) belajar di kidzania, Jakarta. Ia ingin saya ikut dengannya, bersama rombongan ibu-ibu yang baik dan normal lainnya. Naik bis.

Saya meng-iyakan. Dikarenakan ada kecemasan terjadi post trauma pada anak saya kalau sudah dewasa nanti. Gimana coba ntar kalau dia cerita-cerita kalau ibunya waktu dia kecil tidak pernah antar piknik, outbond, ambilin rapor, ikut rapat orang tua murid, dan selalu pulang kerja malam hari setiap hari 5 hari dalam seminggu dan pada hari sabtu minggu selalu sibuk… Tidur.
Bagaimana kalau ceritanya dibumbui dengan saya bahkan tidak memberinya ASI ekslusif selama 6 bulan sebagaimana dianjurkan. Gimana coba kalau begitu.

Nah untuk menghindari anggapan mengerikan di atas, maka, voila inilah saya. Ikut dengan rombongan ibu-ibu di bis. Pakai celana jins, kemeja flanel, ransel berisi air mineral, selimut tipis dan baju ganti. Tidak lupa galaxy note dan bb, kalau-kalau mati gaya di bis.

Sepertinya hari itu dimulai dengan salah. Diawali dengan malas bangun, malas mandi, dan teh kotak yang ketinggalan. Bus untuk rombongan ibu-ibu pengantar beda dengan rombongan anak. Saya agak terlambat datang sehingga bis sudah penuh sesak. Lho saya duduk dimana dong? Kan udah bayar. Rupanya banyak ibu membawa balita dan bahkan toddlernya. Membuat bis penuh daripada yang seharusnya. Akhirnya saya duduk di bangku paling belakang. Terhimpit ketiak dan seorang ibu yang memangku anak umur setahun.

Perjalanan dimulai. Berisiknya bukan main. Dan ibu-ibu mulai makan. Banyak sekali. Kerupuk, keripik, gorengan, nasi uduk semur jengkol dan entahlah. Lalu dimulailah musik itu. Keras sekali disetel. Saya mengutuki supir  bis. Curiga dia tidak punya hati nurani. Lagunya dangdut koplo. Terhimpit dan tak berkutik, saya bahkan tidak bisa membuka gadget saya. Rasanya mental saya mulai melemah saat lagu dangdut menyanyikan lirik “abang berkumis kiwis kuwis yang ceriwis manis was wus wis….”. Andaikan saya diuji tes Roscharch inkblot, pasti hasilnya adalah jiwa yang merana.

Saya memikirkan Dalai Lama. Saya nemikirkan perdamaian dunia dan tempat-tempat bahagia. Lalu Saya memikirkan tubuh avatar saya di bulan Pandora. Saya terbang melewati mountain Halelujah dibonceng Toruk Makto. Indah.

Mimpi saya berakhir. Anak kecil sebelah saya mulai meraung dan menendang. Dia tak mau diam. Ia bernama Michael Owen. M i c h a e l O w e n?? Tidak salah? Tidakkah seharusnya dia bernama Asep Ujang Saepudin? Lagi pula siapa sih Michael Owen? Temannya David Beckham kan? Suami Victoria yang Syahrini kecentilan blingsatan waktu deket-deket dia?.
Bukan saya sensi soal nama. Lha ini kan Bandung. Jaraknya jauh dari London ataupun Manchester. Kenapa bukan memberi nama Permana Dikusumah misalnya. Terdengar kuno sih. Mesti saya akui.

Lalu ada anak perempuan depan saya yang belingsatan juga. Makan dan buang sampah sembarangan. Teriak-teriak. Menarik-narik gorden. Dan melempar-lempar tissue ke wajah saya. Ibunya cuma berkata, anaknya habis ganti batre tadi pagi.

Saya mau pulang. Saya menyerah.

Read Full Post »

Anggota di rumah saya bertambah satu.

Seekor kucing kurus kerempeng dan terlihat menderita asupan makanan tidak sehat dan bergizi buruk. Wajahnya tirus. Belekan. Perut kembung. Warna bulunya kuning burik. Atau kuning buruk? Entah. Yang jelas warnanya kusam, tidak menarik, dan rupanya telah menjadi korban tendangan beberapa kali. Dia kotor. Bau. Dan kucing.

Saya beri nama Kremeng. Kependekan dari Kucing Kerempeng.

Anak saya yang laki-laki (Dimas umur sebelas, nakal, bengal, banyak akal, banyak omong, jahil, pemalas, dan sekarang sedang cemas akan berat badan padahal berat badannya normal-normal saja menurut kacamata ibunya) yang membawanya ke rumah.

Teriakannya sepulang sekolah adalah:

“Maaaaa…Dimas dikasih anak kucing sama bapaknya temen Dimas!!!!!”

Suaranya riang, gembira, dan seperti telah memenangkan undian berhadiah Kijang Innova. Sementara saya langsung mengurut dada.  Kami di rumah sudah memelihara ikan-ikan mas, seekor kucing Persia anggun bernama Mouwla. Seekor kelinci bernama Lexi (yang kepanjangannya adalah Lexiana Yusuf, menurut nama keluarga suami saya), beberapa ekor kucing liar yang suka datang nebeng makan, dan seekor tokek (yang kadang datang kadang pergi). Ditambah satu ekor anak kucing gering lagi tidak membuat saya bahagia. Karena anak-anak saya hanya senang melihat saja, tanpa ingat memberi makan, memberi minum, mengurus kotorannya, dan lain-lain.  Jaid selama ini urusan pelihara-memelihara adalah kembali pada tanggung jawab siapa lagi kalau bukan saya.

Tapi untuk membuang si Kremeng saya jelas tidak tega.

Dimas dan Drea memandikan kucing kecil itu, menyekanya dengan handuk mereka (ini juga membuat saya teriak-teriak kesal), lalu mengeringkannya sampai kering dengan hair dryer. Lalu memberi anak kucing itu susu dan makanan kucing milik Mouwla, yang rupanya jengkel dan kesal melihat anggota baru itu. Mouwla menggeram dan mencakar setiap kucing kecil itu lewat.  Mouwla terlihat cemberut, dia duduk diam dengan kepala terangkat tinggi. Seperti ingin menunjukkan bagaimana kucing bangsawan seharusnya bersikap. Sementara si Kremeng, rupanya senang dengan tempat tinggal barunya, berlari kesana kemari, endus sana endus sini, berguling di karpet, melonjak-lonjak girang, dan kemudian tertidur di sofa kelelahan.

Mouwla melenggang dan bermain-main dengan Lexi di taman belakang. Lexi sendiri tampak tidak terganggu dengan adanya Kremeng. Rupanya selama kangkung dan sayur lain makanan pasokan untuknya lancar, tidak ada hal yang bisa membuatnya jengkel.

Sampai beberapa hari ini rupanya Mouwla masih kesal. Ia mogok makan di tempat makan yang sama dengan Kremeng, tidak mau naik lagi ke pangkuan saya atau Drea, dan pura-pura tidak mendengar kalau kami panggil.

Saya baru tahu, kalau kucing bisa cemburu.

Read Full Post »

Saya bukan ahli kesehatan jiwa dan juga pengamat perkembangan mental anak. Tapi bila ditanya apakah cerita-cerita untuk anak-anak penting untuk perkembangan jiwa mereka, maka tanpa pikir panjang, akan saya jawab “PENTING!”. Seberapa penting dan kenapa penting, wah teuing. Saya bukan ahlinya untuk menjabarkan. Yang jelas saya sih senang membaca cerita anak, membeli buku cerita anak, dan menyuruh anak membaca, sekali-kali sih saya bacakan juga, atau dengan liciknya saya akan bilang “Dede kan lagi belajar baca, jadi harus Dede yang baca dong, kalau Mak yang baca artinya Mak yang belajar baca, jadi sekarang Dede yang baca dan Mak mau dengerin”. Hihihihihi.

Kesimpulan singkat manfaat bacaan cerita anak dari hasil baca-baca sana-sini sih sebagai berikut:

Books help children develop vital language skills.
Reading can open up new worlds and enrich children’s lives.
Reading can enhance childrens’s social skills.
Reading can improve hand-eye coordination.
Reading can provide children with plenty of good, clean fun!

Tuh kan banyak manfaatnya. Selain itu bagi saya membaca cerita bersama menjadi alat untuk berkomunikasi yang efektif antara orangtua dan anak.

Pada waktu saya masih bocah, saya senang sekali membaca cerita-cerita rakyat, kisah para nabi, legenda baik lokal maupun dongeng dari berbagai negara di dunia. Salah satu buku favorit saya adalah Kumpulan Cerita Anak Sedunia oleh Hilda Boswell. Yang edisi bahasa inggris judulnya Hilda Boswell’s Treasury of Children’s Story.

Yang menarik pada Hilda Boswell, ilustrasinya sangat indah. Buku tersebut terbit tahun 1971. Sampai setua ini saya masih terkenang-kenang pada ceritanya, pada gambar-gambarnya yang lembut dan menawan. Raut anak-anak disana digambarkan begitu halus, dengan pipi merah jambu yang sehalus sutra. Peri-perinya tampak begitu cantik. Ratu Salju di cerita Lucy di Negeri Narnia begitu agung, begitu cantik, dan begitu dingin tampaknya.

Banyak cerita-cerita terkenal di buku tersebut, misalnya “The Story of Fairyfoot” by Frances Browne (from Granny’s Wonderful Chair), “The Selfish Giant” by Oscar Wilde, “The Substitute” by E.B. White (part of the Stuart Little story), “The Road to Dover” by Charles Dickens (part of the story of David Copperfield), “Through the Fire” by Mary de Morgan, “The Snow Child” by Nathaniel Hawthorne, “Tom” by Charles Kingsley (from Water Babies), “Lucy in Narnia” CS Lewis, part of Chronicles of the Narnia.

Berikut adalah cuplikan dari cerita Through the Fire-nya Mary de Morgan:

Through the Fire is a romantic tale set in Victorian London and occurs on the nights of Christmas Eve and New Year’s Eve when many magical things are possible. Little Jack befriends the Fire Fairy Princess Pyra who yearns to marry her beloved, the Water Fairy Prince Fluvius. They can only love from afar, lest her fire evaporate his water and his water extinguish her fire. Jack embarks on an adventure to the Old Man at the North Pole to seek an answer to their dilemma.

Read Full Post »

Cake from Hell

Sejauh saya ingat dalam karir saya di bidang masak memasak, saya tidak pernah sukses dalam membuat kue. Kue apapun, baik basah, kering, maupun setengah basah setengah kering. Tapi saya tidak pernah putus asa.  Terbukti dengan keputusan saya untuk memiliki mixer, oven dan loyang-loyang alumunium yang rencananya dimaksudkan untuk membuat (setidak-tidaknya belajar) kue.

Beberapa tahun lalu saya mencoba membuat kue tart. Berbekal buku resep bertumpuk hasil langganan dari tukang majalah yang biasa antar koran ke kantor, saya memilih-milih resep yang sekiranya mudah. Ngocoknya tidak ribet dan tidak banyak bahan baku yang aneh dan tidak dikenal. Akhirnya saya memilih kue tart atau sponge rasa jeruk lemon. Kelihatannya mudah Saudara-saudara! Bahan baku gula halus, tepung terigu, mentega, telur, baking powder, whipped cream, lemon, naon sih hesena? Tinggal ayak, kocok sebentar, panggang deh di oven. Saya yakin bisa membuat kue secantik contoh yang ada di gambar.

Ternyata prakteknya cukup membingungkan, belum lagi dapur berantakan karena banyak wadah, muka saya cemong oleh tepung, badan berkeringat, dan saya bingung dengan kocok-mengocok ini. Walaupun mengocok dengan mixer itu mengasyikkan. Saya suka melihat pola-pola dan gelembung yang terbentuk saat bahan-bahan dikocok dan kemudian mengembang.  Akhirnya sampailah pada tahap pemanggangan! Hore! Hore! Dengan harap-harap cemas saya tuangkan adonan ke dalam loyang, kemudian saya masukkan ke dalam oven.

Senang sekali saya mengintip kue dari balik kaca pintu oven. Apalagi saat melihat kue itu menanjak naik beberapa kali lipat ukuran semula. Tapi apa yang terjadi kemudian? Setelah kue itu terlihat matang, kue itu kemudian, mengempiskan dirinya. Aneh. Saya kemudian memberi semangat, AYO AYO! Jangan turun ke bawah! (Iya lah turun mah ke bawah). Pertahankan bentuk semula. Namun apa daya. Kue itu mogok. Dia berwujud seperti kue keriput yang melempem. Rasanya? Jangan tanya. Seperti telur campur karet.

Beberapa minggu lalu saya kembali pada cita-cita saya yang mulia. Membuat kue sendiri di rumah! Karena takut gagal, sayaAngel Food seperti yang seharusnya membeli satu dus bahan kue instant, hanya butuh tambahan telur, dikocok, dipanggang, maka VOILA! Jadilah kue. Tidak ada ayak-mengayak, tidak ada nimbang-menimbang, lagian timbangan kue saya sudah rusak, dan tidak ada kocok-mengocok yang bikin lieur. Toh di tulisan di bungkus dus, semua langkahnya sudah tertera jelas. Kalau sampai gagal lagi itu namanya keterlaluan. Kue yang saya pilih secantik namanya, Angel Food. Amrik sekali. Sebetulnya saya juga suka Devil’s Food yang penuh coklat itu tapi nanti saja deh.

Anak-anak saya antusias sekali mellihat ibunya begitu berdedikasi membuat kue. Bahkan mereka mencolek bahan yang masih belum dipanggang. Mereka yakin sekali rasanya pasti enak. Setelah saya mengeset oven pada suhu yang sesuai saya masukkan adonan itu ke dalam oven. Saya bahagia sekali melihat kue itu mengembang sempurna. Cantik sekali. Melihat situasi kue terlihat aman (tidak mogok naik, atau melempem tiba-tiba) , saya kemudian mandi dulu untuk menyegarkan badan.

Selesai mandi, saya kembali menengok kue saya. Wah! saya panik bukan buatan, kue saya yang cantik rupanya memilih bentuk menjadi arang. Atau ban mobil. Atau apapun sesuatu yang hitam, bulat, dan tidak sama sekali tidak seperti kue.

Anak-anak saya cemberut dan bilang “lain kali Ma beli saja deh, daripada gagal melulu”.  Dan inilah dia bentuk rupa kue terakhir  saya. Saya namakan The Cake from Hell.

Kue Tutung dari Neraka

Read Full Post »

Dimas 9 tahun

Kemarin Dimas ulang tahun. Awal pagi hari diributkan oleh teriakannya saat bangun pagi, “Horeee…hari ini Dimas 9 tahun!!” Lalu dia menciumi pipi saya dengan heboh untuk kemudian berjingkrakan di ruang depan. Sebetulnya dia baru 8 tahun. Tapi kemarin setelah perdebatan sengit yang diakhiri dengan Dimas cemberut dan marah-marah, saya malas mengoreksinya lagi. Entah darimana cara dia menghitung, pokoknya dia keukeuh umurnya 9 tahun. Nya atos we lah, orang lain lebih suka ngaku umur lebih muda (dalam hal ini orang itu adalah saya) ini keukeuh pingin setahun lebih tua. Yah suka-suka yang punya umur deh. Daripada dia berbuat anarkis dengan nyebur di kolam ikan, mengacak-ngacak airnya, dan membuat ikan koi saya semaput kan….. lebih baik saya mengalah.

Dimas dengan rajinnya sudah membungkus makanan ringan dalam plastik berbunga-bunga (gak ada yang gambar mobil, pesawat, atau spiderman) untuk Tante-tante cerewet teman saya di kantor. Niat pisan. Dia bilang sih dengan polosnya “siapa tau ada yang mau kasih kado” Huhehehuhuehehe… teknik negosiasi yang baik. Dengan modal snack dia ngarep dapet kado alat-alat gambar. Bukan saya yang ngajarin yah. Itu mah inisiatif dia sendiri. Asli. (more…)

Read Full Post »

%d bloggers like this: