Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘wawancara’

Hari-hari menjelang ulang tahunnya perusahaan tempat saya bekerja membuat saya menjadi agak melankolis. Sedikit romantis. Dan ngarep hujan gerimis.

Saya jadi teringat saat-saat saya dulu saat setengah mati ingin pindah kerja dari perusahaan yang baru sepuluh bulan saya kerjai. Eh apa yah istilah yang tepat.

Bukan. Bukan karena bos saya kurang ganteng atau apalah. Apalagi disana ada pegawai bernama Erwin. Jangkung dan cakep. Kayak Chow Yun Fat. Beneran deh ga boong. Saya suka ngintipin dia diam-diam dari balik laci-laci file.

Oh ya itu tadi. Bos saya galak banget. Namun segalak-galaknya dia lebih galak istrinya. Seorang manager keuangan di lembaga riset negeri. Konon bos saya pernah diuber istrinya dan akan digebuk dengan gagang sapu. Serem.

Nah kembali ke cerita awal. Kegalakan bos saya bikin saya pengen pindah. Segera. Pada kesempatan pertama. Erwin ataupun Chow Yun Fat beneran tidak akan bisa menghalangi saya. Tekad saya sudah bulat. Sebulat donat.

Akhirnya saya mengirim lamaran dari iklan sebuuh koran lokal. Saya ga ada ide perusahaan apa itu. Cuma menyebutkan srbuah perusahaan telekomunikasi. Okay whatever. Just take me out from here, Johnny!. Wait. Johnny ini siapa?.

Ternyata saya terpanggil untuk psikotest. Tempatnya di hotel Santika Bandung. Saya pakai baju merah atas bawah. Entah kenapa warna merah selalu bikin saya pede. Berani. Bersemangat. Dan merasa pintar. Walau

cuaca hujan dan jalanan becek sekalipun. Merah selalu bikin hari saya cerah.

Psikotest berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lama amat ya. Untuk dikasih makan. Sekotak KFC. Saya yang naif ini merasa terharu. Baru kali itu selama saya melamar pekerjaan saya diberi KFC. Nasi dan ayam! Bayangkan. Plus segelas Coke.

Read Full Post »

Interview

Sudah bertahun-tahun silam saya ngerasain yang namanya diinterview. Baiklah, maaf bukan bertahun-tahun yang lalu, BELASAN tahun yang lalu malah. Time flies so fast when you having fun with wonderful person. Yang wonderful disini maksudnya saya, yang having fun, ya orang-orang disekitar saya.

Saya selalu bermasalah dengan yang namanya ujian atau wawancara alias interview ini. Saat ujian akhir SMP saya ketiduran di kelas saat ujian. Untung lulus. Saat ujian masuk kuliah, pinsil saya yang satu-satunya patah. Dan saya tidak membawa serutan. Dan saya tidak berani pinjam. Dan saya juga ujian sambil merasakan mules karena lagi sedikit diare. Untung lulus.

Interview saya yang paling ngenes, yang saya lupa masuk ruangan interview dengan bawa  barang belanjaan dengan banyak keresek. Yang ngenes lainnya, surat lamaran saya tertukar, dan ketahuan pas lagi diwawancara. Saya ngelamar ke HSBC dan UOBB, tapi surat lamaran keduanya tertukar. Lulus? tentu tidak. Mereka tidak bodoh.

Ada juga saat saya diwawancara dengan yakin dan fasih dalam bahasa Inggris, dan saya menyatakan saya adalah pekerja keras yang tidak pernah puas dengan hasil yang telah dicapai apabila belum sempurna. Pewawancara saya cuma bilang, “Yeah, terlihat jelas sekali pada nilai-nilai di ijazah Anda” Katanya sambil melirik fotokopian transkrip nilai saya yang banyak memuat nilai D. Tapi anehnya saya diterima.

Di tempat saya bekerja sekarang juga sebenarnya tidak kalah ngenes.

Awalnya saya ikut ujian tertulis. Dari 10 soal saya hanya bisa menjawab 4. Benar-benar cuma 4 pertanyaan yang bisa saya jawab, itupun banyak yang memakai pola mengarang bebas. Di sebelah saya adalah teman kuliah saya yang ikut ujian masuk kerja juga bareng dengan saya. Dia tampak mengisi soal dengan lengkap, teliti, dan rapi. Dan menjawab KESEPULUH soal itu dengan baik.

Saya ingin nyontek. Ingin sekali. Dan saya juga berpikir, teman saya ini juga orangnya baik. Pasti ngasih.

Tapi entah darimana, harga diri saya yang biasanya jarang muncul, saat itu menyeruak begitu hebatnya. Saya tidak jadi nyontek. Saya berpikir, saya melamar di perusahaan besar. Kalau saya berhasil masuk dengan hasil nyontek, dimana kebanggaan diri saya.

Akhirnya karena yang lain masih menulis jawaban sementara saya bengong, saya minta kertas lagi. Dan menulis ulang 4 jawaban yang segitu-gitunya. Di kertas yang baru. Dengan huruf kecil-kecil dan rapi berbaris.

Wawancaranya sendiri jauh dari teori pelajaran sekolah ataupun urusan nilai di ijazah saya yang jeblok. Bapak yang mewawancara saya terlihat sangat cool, cuek, dan berwibawa (belakangan saya mendapat info dia adalah Direktur Keuangan di perusahaan yang saya lamar yang sengaja turun gunung untuk interview).

Tidak banyak yang beliau tanyakan, salah satunya dia hanya menanyakan apa saya bersedia ditempatkan di Papua. Yang saya jawab dengan sangat antusias “Bersediaa….!”  Papua dalam gambaran pikiran saya adalah daerah yang eksotis, coba bayangkan: seafood, hutan yang hijau, laut yang biru lazuardi, koteka, dan pilot-pilot yang gondrong dan pemberani. Itu yang ada di otak kecil saya yang naif.

Selanjutnya beliau menanyakan berapa gaji yang saya inginkan. Saya jawab “lima ratus ribu saja”. Dia menjawab “Banyak amat!!” dengan nada yang takjub. Saya jadi ikut takjub. Jawab saya “Beneran kebanyakan pak?”  Dia menjawab “Iya, coba kamu rinci untuk apa uang sebanyak itu”.

Kalau saya tidak salah ingat sih, tahun segitu  untuk gaji lima ratus ribu merupakan gaji  yang dibawah standar untuk lulusan D3. Tapi saya memang naif.

Lalu saya minta kertas kosong, dan saya mengisi dengan riang gembira, anggaran saya sebulan dengan uang lima ratus ribu. Diantaranya adalah ongkos naik angkot, ongkos naik becak, pembelian kopi (saya maniak kopi), lipstik dan bedak, dan menabung. Sisanya saya lupa. Sang Direktur (yang saya tahu belakangan itu) mengangguk-angguk puas dengan anggaran saya yang aneh. Pertanyaan berikutnya saya tidak begitu ingat, kecuali untuk pemilik saham perusahaan yang saya lamar, saking yakinnya saya dengan komposisi sahamnya dimiliki oleh anu dan anu sekian persen dan sekian persen, saya sampai mengajak si Bapak Direktur untuk bertaruh sewaktu beliau bilang jawaban saya salah.

Singkat cerita saya diterima.

Kesimpulan saya, hal -hal seperti: dipanggil interview, beli rumah, dapat kerjaan, dapat pacar ganteng (dan sukur-sukur jadi suami, dan ketemu  Jun Ho member 2 PM yang jago nge-rap dan beat box adalah faktor jodoh dan nasib. Kadang kita begitu yakin dengan sesuatu, namun kita gagal. Ada saat dimana kita tidak yakin, tapi kita berhasil. Jadi sebenarnya kita ini harus yakin apa tidak sih? Katanya untuk meraih sesuatu kan kita harus yakin. Tapi kadang bila terlalu yakin, hasil yang tidak kita harapkan akan membuat kita terpukul. Jadi gimana dong? Susah ya.

Menurut saya, kita harus yakin akan sesuatu yang ingin kita raih, tapi kita juga harus berbesar hati bila hasilnya tidak sesuai keinginan kita. Sejauh kita berusaha maksimal, hasil apapun harus bisa kita terima dengan tabah. Setabah mendapat nilai statistik D walau sudah dua kali ngulang dan  belajar mati-matian.

Jadi untuk hari Senin nanti dimana saya akan menghadapi wawancara untuk layak tidak menjadi Tim Touch Korea Tour untuk jalan-jalan ke Korea yang diadakan oleh Korea Tourism Organization Indonesia, saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri. Karena perasaan exciting campur harap-harap dan cemas ini tidak bisa dialami setiap hari. Hasilnya seperti apapun, diserahkan kepada takdir Yang Maha Kuasa…. sejauh ini saya sudah bersiap-siap. Lebih kepada menyiapkan mental. Untuk persiapan mental ini saya sudah berusaha untuk menghapal  Hands Up – nya 2PM untuk menambah semangat, dan mengucapkan Greetings dalam Bahasa Korea….

Hullyeo peojineun umage matchweo
Everyone put your hands up and get your drinks up
On sesangi hamkke michyeo
Everyone put your hands up and get your drinks up

Now
Put your Hands Up, Put your Hands Up, put, put, put, put, put
Put your Hands Up, Put your Hands Up, put, put, put, put, put
Put your Hands Up, Put your Hands Up, put, put, put, put, put
Put your Hands Up, Put your Hands Up, put, put, put, put, put

Bollyumeul nopyeo seupikkeo teojidorok
Geurigo modu hamkke michyeo jeongshin ppajidorok
Jeongshin ppajidorok, jeongshin ppajidorok
On momeul heundeureo bwa bwa
Amu saenggak an nadorok

……………………………………………….. dst dst

Read Full Post »


Sebenarnya saya tidak bekerja di bagian HRD, bukan sama sekali bukan. Juga saya tidak banyak diwawancara maupun mewawancara. Kedua kegiatan tersebut hanya pernah saya lakukan dalam beberapa hitungan jari. Ketiga saya juga bukan pakar. Apalagi pakar telematika. Lho kok berani-beraninya nulis tips. Ya ini mah sekedar berbagi aja. Setidaknya saya mengumpulkan info dari hasil nguping dari teman-teman yang ngomongin pengalaman diwawancara ataupun mewawancara. Sumber info lumayan banyak sih, ada yang level pejabat teras, ada juga level pejabat tiris. Jadi bacalah tips ini dengan santai saja, percaya boleh, ga percaya lebih disarankan. Ini untuk melamar di perusahaan korporasi bertema konvensional yah, kalau di luar yang begini saya juga kurang tahu.

Bacalah do’a sebelum pergi wawancara. Shalatlah untuk yang beragama Islam. Shalat sunat malam  tolong diutamakan juga, setelah shalat wajib, kenapa? Karena berdo’a menenangkan jiwa, biar engga gugupan dan tenang saat wawancara. Lalu jangan lupa minta restu orang tua. Cium tangan kedua orang tua, minta restu ibu, dan minta maaf kalau banyak salah. Minta do’akan juga sama orang tua. Ini serius lho. Kalau soal berdoa dan minta restu orangtua saya engga main-main.

Perhatikan potongan rambut dan cara berpakaian. Ini berlaku untuk melamar pada jenis perusahaan yang Anda lamar. Kalau melamar jadi pegawai salon potong rambut, ya silahkan saja bergaya potongan rambut aneh atau model ala Harajuku. Mau bercelana paku-paku juga boleh saja kalau melamar ke toko besi, eh ke perusahaan yang bertema rock and roll. Tapi TIDAK BERAMBUT ANEH DAN BERBAJU ANEH kalau melamar ke perusahaan yang serius dan mengutamakan citra perusahaan yang serius.  Berambut model poni lempar tidak disarankan pada kaum cowok, nanti anda melempar-melempar poni atau mengibas rambut saat wawancara, itu akan mengganggu pemandangan. Lalu rambut yang diwarnai melebihi kapasitas normal warna yang umum juga kurang disarankan, misalnya warna hijau burung betet.

Jangan meletakkan kaca mata di atas kepala saat wawancara, pakailah di depan kedua mata Anda, jangan diubun-ubun. Jangan ketawa, soalnya ini benar-benar terjadi.  Jangan mengecat kuku dengan warna merah darah atau warna hitam, atau warna warni merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu  di kesepuluh kuku Anda. Jangan pakai asesoris berlebihan, jangan berpakaian terlalu seksi. Serius, ini pernah terjadi di kehidupan nyata, bukan dalam mimpi saya.

Jangan ngacay. Tahukan Anda apa itu ngacay? Ngacay itu ngeces, artinya entah kenapa mungkin diwawancara itu saking menegangkan atau menerbitkan air liur ya? Kok sampai ada orang yang ngeces saat wawancara. Jangan menggoyang-goyangkan kaki dan kursi saat wawancara. Duduklah dengan tenang, tidak kaku tapi juga tidak terlalu santai.

Jangan gugup. Ingatlah Anda bukan menghadapi pisau Guillotine. Yang mewawancara juga makan nasi sama seperti Anda, ya kalau bule yang mewawancara lain lagi sih makanannya, tapi anggaplah semua orang sama-sama makan nasi. Jadi bersikaplah biasa.

Jangan terlalu cerewet saking pedenya, misalnya ditanya A, menjawab B sampai dengan Z. Terlalu singkat seperti ya dan tidak doang juga jangan. Kreatiflah dalam menjawab, tapi jangan nyerocos.

Jangan bawa belanjaan dan kantong keresek banyak-banyak kalau mau pergi wawancara. Siapa sih orang bodoh itu? Ya itu saya. Saya pernah bawa belanjaan saat mau wawancara. Mungkin pewawancara bingung, saya ini PRT dimana sampai nyasar bawa belanjaan segala.

Jangan memakai parfum terlalu banyak. Nanti yang mewawancara pingsan.

Jujurlah dalam menjawab. Jujur lebih baik daripada tidak jujur. Melucu boleh. Tapi awas kalau garing.

Siapa bilang kalau punya prestasi olahraga dan kesenian tidak merupakan nilai plus? Saya pribadi dan teman-teman umumnya senang sekali kalau mendapat anggota tim di perusahaan saya bekerja, seseorang yang jago tenis meja, tenis lapangan, billyard, volley ball, basket, sepakbola, dan bisa main gitar, drum, keyboard, dan juga menyanyi. Sangat membantu kalau pertandingan olahraga dan kesenian antar divisi atau perusahaan lain.

Punya pengalaman kerja bakti di lingkungan RT RW lebih baik daripada tidak punya kegiatan sama sekali. Tunjukkan Anda bisa bekerja sama dalam team.

Bersalaman mungkin terdengar sepele, tapi kalau tangan sedingin es saat salaman juga menimbulkan kesan aneh. Apakah Anda baru keluar dari lemari es, atau bersaudara dengan Edward Cullen? Atau sedang gugup berat? Bersalaman secukupnya jangan terlalu keras, atau terlalu lemah. Biasa saja. Bersalaman terlalu keras juga mengakibatkan saya selalu diledek, oleh pewawancara saya. Sampai saat ini.

Semoga berhasil!

 

Read Full Post »

%d bloggers like this: