Feeds:
Posts
Comments

Awal Masuk Sekolah

Saya masuk TK umur 4 tahun pas. Gara-gara sering didadahin anak-anak tetangga saat mereka mau berangkat sekolah. Dadah dadah mereka heboh sekali. Sampai salah seorang dari mereka nyaris terjungkal dari becak. Nama mereka Maiko dan Endro.

Saya nangis, dulu saya cengeng banget.
“Mau sekolaaaaahhh!!” Sambil saya sendiri engga tau sih sekolah itu mahluk apaan. Atau diapain dan ngapain.

Sebagai gambaran, saya adalah anak kurus ceking dengan rambut lurus jarang dengan mata sipit dengan bentuk tidak simetris antara kiri dan kanan. Berat saya dibawah rata-rata dan saya mencurigai diri sendiri bahwasanya saya mengidap cacing pita. Atau cacing gilig. Soalnya saya sering mengalami gatal di pantat. Kata orang namanya kremian. Artinya ada cacing di perut. Hubungannya dengan gatal di dubur saya tidak tahu. Bahkan katanya kalau makan kelapa itu juga bikin kremian. Kata orang begitu ya saya terima saja. Lagian memang saya ngalamin cacing itu memang pernah keluar hidup-hidup. Hiiyy..ngeri weiceh.

Bapak saya yang saat itu masih ceking juga dan mirip banget dengan Rudi Hartono, mendaftarkan saya dan mengantar hari pertama saya masuk TK. Bapak pastinya ijin untuk datang telat ke kantor, nanti siang dia juga yang akan menjemput.

Ibu saya membekali saya minum di termos plastik bertali. Isinya air bening. Dan kue sejenis kue semprit dengan bentuk bunga dengan selai di tengah. Sisa lebaran yang sudah lewat beberapa bulan. Doakan semoga belum tengik. Sepertinya ibu saya lega saya masuk sekolah. Saat itu adik saya baru lahir dan saya tukang buat onar di rumah. Ibu saya saat itu masih bekerja sebagai sekretaris dua orang bule ekspatriat. Satu tempat kerja dengan ayah saya di Balai Pertanian.

Saya memakai baju baru. Yang dibelikan uwak saya yang tinggal di Bandung. Seingat saya cuma Uwak Engkus yang kerja di bank BRI itu yang selalu membelikan saya baju-baju bagus dan lucu di setiap lebaran. Warna baju-baju itu dan modelnya masih saya ingat sampai sekarang. Kalau uwak-uwak yang lain mah cuek. Oh ya saya hanya punya uwak. Bapak ibu saya dua-duanya anak bungsu.

Baju baru yang saya pakai ini cantik sekali. Kata saya loh ya. Roknya mengembang sampai dibawah lutut. Biru tua dengan polkadot kecil kecil. Atasnya putih dengan aplikasi bunga besar sekali warna merah di dada. Tanpa lengan dan lehernya berenda. Punggungnya terbuka karena ini model backless.

Saya belum pakai seragam. Karena belum jadi di tukang jahit.

Ayah saya mengantar naik vespa tua. Saat itu belum tua. Tahun 1979. Pak Harto masih jadi presiden dan wakilnya Adam Malik. Warnanya abu-abu metalik. Saya naik di depan sambil memegang speedometer. Sesekali saya memencet klaksonnya..
“TEEEET!”
Dan mengagetkan angsa dan bebek yang berpapasan dengan kami di jalan.

Balai Pertanian ini dulu bernama LP3 Sukamandi, dulunya lagi bernama IRRI, International Rice Research Institute, sebelum dinasionalisasi pemerintah. Bapak saya pegawai negeri lulusan universitas di Bandung jurusan pertanian. Kalau tidak salah spesialisasinya adalah Agronomi. Artinya lupa. Nanti lah saya cari di google.

Komplek perumahan ini terpencil di daerah pantura Subang, dengan sawah terbentang luas hampir 6000 hektar menuju garis horison. Dikelola oleh PT Sang Hyang Seri. Dimana Sang Hyang Seri ini memiliki komplek perumahan kuno peninggalan Belanda, yang rumahnya besar-besar dengan pohon yang besar-besar pula. Tau ada pohon Baobab yang dipindahkan ke Universitas Indonesia di Depok dan sekarang lagi meranggas mati? Nah itu asalnya dari sini. Dan menurut saya bodoh banget orang yang merintahin buat mindahin pohon-pohon itu.

Jalanan di kampung dekat komplek adalah perkampungan dengan rumah-rumah bedeng. Ada juga yang bagus, tapi kebanyakan adalah rumah kecil berbilik bambu, namanya kampung Wesel. Pasti dari bahasa Belanda. Katanya dulu disini ada rel kereta api yang mengangkut hasil perkebunan Belanda ke Batavia. Dulu Belanda menanam nanas, karet dan jarak. Ini saya tahu soalnya baca sejarah LP3 di perpustakaan balai pertanian. Nanti, pas saya sudah SMP. Ini kan cerita lagi TK.

Jalanan tanah dengan sisa aspal yang sudah bolong-bolong besar ini kerap dihiasi tumpukkan tahi kerbau dan sapi. Ukurannya besar sekali, sampai saya pikir diameternya sebesar ban mobil. Yang masih segar sangat menyebalkan, kaki kita bila terbenam menginjak akan menjadi hijau bau. Dan teman kita suka mengerjai kita kalau jalan kaki untuk meleng dan menginjaknya. Percayalah, saya sering mengalami ini.

Tiba di sekolah TK Sang Hyang Seri ini saya sangat antusias. TK ini berupa bangunan dengan tap rendah. Terdiri dari hanya dua kelas saja, di jalan depan TK banyak pohon besar. Saat itu sedang berbunga kecil-kecil warna kuning dan harum. Bunga-bunga rontok itu memenuhi jalanan depan sekolah. Cantik sekali. Karena banyak pohon besar, udara disini terasa sejuk berangin. Kalau nama pohon bunga kuning ini saya tidak tahu, yang jelas banyak pohon Kihujan dan Baobab disini. Juga pohon Mahoni yang buahnya katanya pahit banget dan sering dibuat mainan kapal terbang oleh anak-anak laki.

Untuk absensi kami dibagi gantungan dari kayu yang harus dicantelkan di sebuah papan berbentuk pohon besar. dari kayu pula. Gantungannya berbentuk buah-buahan, ada jeruk apel anggur pisang dan sebagainya. Saya kebagian jambu mede. Saat itu saya engga tau ada buah bernama jambu mede. Apalagi bentuknya. Dan orang kadang menyebutnya jambu monyet. Saya tidak antusias mendapat bentuk buah aneh tersebut. Menurut saya bijinya yang nongol mencurigakan itu terlihat aneh dan memalukan.

Kalau saya tahu ini adalah buah dengan biji yang bernilai komoditi ekspor, dan bijinya bikin enak untuk dicampur coklat, kayaknya saya engga akan sekecewa itu dapetin gantungan absensi berbentuk buah abnormal itu.

Kursi di kelas adalah bangku-bangku kayu dicat warna-warni. Ada merah kuning hijau dan biru dan warna mencolok lainnya. Di sebuah lemari di sisi kelas, terdapat boneka tangan. Puppet. Yang digunakan ibu guru untuk bercerita. Nama guru TK saya adalah Bu Etty dan dia mirip Merriam Bellina. Rambutnya keriting badannya langsing dan kulitnya putih bersih. Dan dia galak. Menurutku dia galak karena sering menegur bila anak-anak terlalu berisik atau banyak mengobrol.

Jam istirahat kami berlarian keluar. Di halaman ada perosotan, tangga-tangga besi untuk bergelantungan, ban karet untuk melompat-lompat dan jungkat-jungkit. Ada bak pasir juga dengan ember-ember.

Maiko mendekatiku dengan anak-anak lain yang rupanya sudah jadi ganknya. Saya yang sedang berusaha bergelantungan di sebuah pegangan besi, ditunjuk olehnya dengan tangannya,

Dan dia berteriak,

“LIHAT BAJU YANG DIPAKAI MIRA MERANGSANG!”

Sumpah mampus demi apapun saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan merangsang. Tapi yang jelas saya merasa malu sekali, apalagi anak cowok yang baru saja berkenalan dengan saya dan sama-sama sedang bergelantungan menatap saya dengan heran. Anak cowok itu bernama Andrew dan dia wangi minyak kayu putih campur bedak. Bulu matanya lentik dan dia cakep.

Malu oleh teriakan Maiko saya hanya bisa menangis tersedu-sedu dan menutup muka dengan tangan.

Kadas dan Kurap

Walau saya cakep, tak urung saya kena juga penyakit kulit yang tidak keren sama sekali ini. Saya sendiri agak bingung, ini gatal dan kemerahan di kulit namanya kadas atau kurap ya? Tadi googling malah ngeri sendiri lihat gambar-gambarnya, soalnya yang saya mah gak gitu-gitu amat bentuk rupanya.

Yang jelas mah bukan panu. Panu mah kan yang putih putih gitu kan di kulit?

Doa Dalam Diam

Aku menyimpan harapan dalam hati. Apakah dalam kehidupan sekarang atau nanti. Kapanpun itu. Untuk bisa bersama kamu. Dalam satu masa dimana aku dan kamu saja, sepasang sebagaimana siang dan malam, air dan api, tanpa ada yang lainnya.

Aku berdoa dalam diam, karena kata-kata ini tak terucapkan. Dan kuminta kepada pemilik semesta, karena hanya kepada dia aku berdoa dan meminta. Kepada siapa lagi? Aku hanya punya dia. Mengenai terkabul atau tidak pinta dari aku yang hina dina, tentu adalah urusannya.

Kugumamkan harapan dan keinginan, saat kulihat cahaya naik di pagi hari, saat gelap tersibak. Kadang saat kelam menjelang. Atau disaat kulihat hijau daun dan bunga mekar, di saat apapun saat kulihat segala yang indah, karena cinta itu indah, dan cinta itu kamu. Cuma kamu.

Pastinya kau diciptakan dengan sengaja untuk membuat hatiku mengarah padamu, seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, walau kau jungkirbalikkan selalu saja di alur yang itu-itu saja. Pasti. Betul kan?

Iya aku menuduh.

Artikel ini dimuat di Majalah Esquire Indonesia edisi Februari 2015

Menampilkan sisi terbaik dalam diri tidak hanya performansi fisik belaka. Tapi juga dengan gaya hidup dalam keseharian. Gaya hidup sehat, kepedulian terhadap lingkungan, cerdas dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, adalah beberapa hal yang patut dimiliki seorang pria agar memiliki totalitas dalam memaknai kehidupan.

Dalam era saat ini dimana banyak hal sudah terotomatisasi dan banyak serba hal menjadi instan, akhirnya makanan cepat saji di sekitar kita menjadi sumber ancaman bagi kesehatan. Peningkatan produksi pangan sebanyak-banyaknya menjadi prioritas untuk memenuhi kebutuhan manusia secara umum. Penggunaan pestisida dan bahan-bahan kimia lainnya membuat makanan kita banyak mengandung zat yang berbahaya.

Untuk itu gaya hidup sehat ini, saat ini makanan organik menjadi alternatif untuk menjaga kesehatan tubuh dan menghindari makanan yang memiliki residu-residu zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Bertani organik menjadi trend saat ini, karena selain menghasilkan sumber makanan yang aman bagi kesehatan manusia juga ramah pada lingkungan. Penggunaan pestisida berlebihan juga merusak lingkungan dimana tidak hanya serangga merugikan tapi juga serangga yang menguntungkan. Air tanah dan lingkungan habitat alami makhluk hidup pun menjadi terkontaminasi. Pada akhirnya semakin banyak zat-zat kimia terdapat di alam dan sumber makanan kita menjadi makin tidak sehat dan tidak alami.

Kesadaran untuk pertanian organik ini sudah berkembang dengan pesatnya sejak tahun 1990. Pada 2011, sekitar 37.000.000 hektar (91.000.000 hektar) di seluruh dunia yang bertani organik, mewakili sekitar 0,9 persen dari total lahan pertanian dunia. Bertani ala organik sendiri, tidak hanya untuk artian dalam skala luas saja. Tapi juga di halaman kita sendiri pun sangat oke. Di satu sisi kita memanfaatkan lahan yang kurang produktif, di sisi lain kita mendapatkan sumber makanan, bumbu dan obat-obatan dari halaman kita sendiri, yang sehat, aman dan terawasi.

Apa sih bertani organik itu? Pertanian organik adalah bentuk atau cara pertanian dengan menggunakan berbagai teknik yang ramah lingkungan, seperti merotasi tanaman (sehingga kualitas tanah tidak rusak), penggunaan pupuk hijau, kompos, dan pengendalian hama tanaman secara alami. Penggunaan pestisida sendiri dapat digunakan asal menggunakan bahan-bahan yang alami dan ramah lingkungan. Ada juga cara mengkombinasi penanaman tanaman dengan tanaman lain, sehingga dapat mengusir serangga merugikan, namun mengundang serangga yang menguntungkan tanaman. Misalnya penanaman tomat yang bersisian dengan basil dapat mengusir serangga seperti kutu yang mengganggu tomat.

Bertani organik tidak terbatas hanya pada tanaman tapi juga terkait dengan pemeliharaan hewan ternak. Ternak yang dipelihara secara organik artinya tidak hanya diberi pakan yang natural dan sehat, tapi juga diberi lingkungan yang alami sehingga hidup sehat dan bahagia. Jadi bertani organik ini sangat memperhatikan ekosistem, hubungan timbal balik antar setiap organisma memberikan satu kesatuan yang seimbang terhadap alam dan lingkungan.

Untuk manusia perkotaan sendiri bagaimana? Bertani ala organik dan menjadi gaya hidup sehat ini tetap bisa dilakukan lho. Caranya? Banyak cara menuju Roma, dan bertani organik ini sangat seksi untuk saat ini.

Bila memelihara ayam dan bebek belum memungkinkan, tidak usah cemas dengan dedikasi hidup sehat dan memulai pertanian organik kita. Kita bisa memulai dengan membuat kompos dari sampah organik rumah tangga kita. Selain itu dalam rumah pun kita bisa memanfaatkan wadah-wadah tak terpakai menjadi kontainer dan pot cantik untuk bertanam herbs secara indoor dan outdoor. Lahan sempit tak jadi masalah, atap, balkon, dan halaman belakang, bahkan tembok halaman bisa kita jadikan media untuk bertanam.

Gunakan metode bertanam dengan kombinasi tanaman yang saling menguntungkan satu sama lain. Pupuk organik dan kompos buatan sendiri sangat baik untuk menjaga kualitas tanaman dan hasilnya. Banyak tanaman yang ditanam di kontainer tumbuh dengan baik dan memberi hasil yang menggembirakan, siap pakai untuk dapur Anda dan untuk memasak kapanpun Anda ingin.

“Tidak ada yang lebih seksi kemudian melihat lahan penuh tanaman yang tumbuh dengan sehatnya.” kata seorang petani herbs organik dari Bandung. “Sebuah bidang yang penuh gizi tanpa semprotan kimia, tersedia untuk memberi makan orang-orang terdekat. Pertanian adalah buah kerja penuh cinta dikhususkan untuk melihat keajaiban. Dari menanam benih di tanah dan kemudian kita memiliki makanan sebagai hasilnya. Ada begitu banyak percintaan terjadi dalam susunan biologi dan kimiawi tanah, sampai mikroorganisme terkecil dalam hiruk-pikuknya alam ciptaan Tuhan bekerja”.

Sebagai manusia dengan gaya hidup yang terbaik, menyehatkan lingkungan dan turut serta dalam memproduksi makanan sehat berbagai tanaman buah-buahan dan sayuran, bertani organik muncul dan membentuk masa depan manusia dengan makanan sehat yang aman. Apalagi yang bisa lebih seksi daripada keinginan dan dedikasi untuk berada turut serta dalam pelestarian alam, menumbuhkan makanan sehat yang lezat untuk konsumsi kita dan orang-orang tercinta?

Selada Hidroponik

Saking cantiknya sampai sayang mau dimakan.

image

Ini aneka selada jenis butterhead, ada freckles, cimmaron, buttercrunch.

image

Ada kale juga jenis lacinato dan blue curled.

Bertanam ala hidroponik ini bener-bener bikin saya tergila-gila.

Afternoon Rendezvous

Kevin selalu bilang bila dia datang ke Bandung. Kadang kami bertemu, kadang tidak. Beberapa waktu lalu bahkan bertahun-tahun tidak bertemu. Ada jeda waktu lama dimana aku berpikir aku sudah melupakan dia. Tapi tidak di bulan ini. Bulan ini adalah bulan ketiga dimana terhitung kedua kalinya, saat bertemu kembali Kevin di Jakarta. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Dan dia memelukku erat sambil berulang-ulang, berkata, “aku suamimu” “yang kamu ceraikan, kamu tinggalkan”. Aku bingung sampai tak tahu berkata apa. Sedih, itu jelas. Lainnya entah. Terlalu banyak perasaan teraduk disana. Seperti terbukanya kotak Pandora.

Bulan ini, bulan Juli tahun 2012. Kevin bilang akan ke Bandung. Menginap di Hyatt.

“Mau ketemu?” tanyanya.
“Entahlah”, kataku. Gimana nanti deh.

Hari ini Kevin sudah tiba, aku tahu. Karena dia bilang. Katanya siang ini aku datang saja ke hotel. Ambil kunci di resepsionis dan tunggu saja di kamarnya. Dia ada meeting seharian. Aku masih entah.

Di kantor temanku bilang,

“Kyra, kau tahu? Ada Kevin!” katanya antusias.
“oh ya..” jawabku.
“ah kamu pasti sudah tahu!”, kata Nuy. Aku tidak menjawab. Tapi rasanya pipiku memanas.

Siang Kevin meneleponku. Jadi tidak katanya ketemu? Duh.

Akhirnya jam 2 lebih aku berangkat. Parkir di basement Kevin sudah menungguku di balik pot besar.

“Kamu sudah makan?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Beli bakso aja yuk?” ajaknya. Aku sih nurut saja. Bakso adalah makanan favoritnya selain nasi uduk.

Akhirnya kami membeli bakso di Bandung Indah Plaza, sering disebut dengan satu kata akronim BIP. dipaca BE I PE, bukan dibaca BEEP.

Kevin tidak banyak bicara. Dia makan diam-diam. Aku juga. Tib-tiba dia bertanya,

“Suamimu baik kepadamu kan?”

Aku mengangguk saja, tanpa menatap matanya.

“Tidak pernah memukul? Tidak pernah menyakiti kamu?”

Aku jawab tidak.

“Aku senang dengernya. Buatku yang penting kamu ada yang jagain”, katanya lagi.

Aku menunduk menyembunyikan air mata yang rasanya mau turun.

Teleponnya berdering, rupanya dari rekan-rekan dia yang sedang meeting di Hyatt. Kevin menjawab di telepon, sambil mengaduh,

“Aduuh, maaf saya sakit perut, minta waktu dulu ya beberapa menit” katanya.

Setelah makan kami melihat-lihat toko, Kevin bilang dia mencari dompet untuk kartu-kartu. Tangannya diulurkan ke belakang, itu kode agar aku menggemgamnya. Dari dulu ini kebiasaan kami berjalan berdua, Kevin berjalan di depanku dengan tangan ke belakang, dan aku memegang tangannya di belakang Kevin. Kami berjalan dengan Kevin di depan. Dan aku mirip Squaw, istri Indian, yang berjalan selalu di belakang suaminya.

Kembali ke Hyatt aku akan ke basement lewat lobby. Kevin sigap menarik tanganku bersembunyi di belakang pilar. Ternyata di lobby tampak rekan-rekan kerja satu perusahaan kami bubar dari ruang meeting. Handphone Kevin berdering, aku mendengar lawan bicaranya,

“Meetingnya diistirahatkan dulu pak, soalnya engga ada Bapak yang pimpin, jadi kami belum bisa memutuskan, Bapak masih sakit perut??”

Tampak atasanku yang juga ikut meeting keluar dari ruang meeting dan menyalakan rokok.

Aku dan Kevin berpandangan di balik tempat sembunyi, sebuah pilar dan pot besar, yang rawan sekali ketahuan.

***

Semalaman Di Kursi

Beberapa waktu lamanya aku dan Kevin intens saling berkirim sms atau menelepon. Kebanyakan sih Kevin yang menelepon. Dia seringkali bercerita tentang apa saja, tentang teman-teman kantornya, Yully, Noni dan Greta. Lalu ada Hans yang menyebalkan dan Donny yang bego. Bercerita tentang ikan bakar makan siangnya yang katanya gede banget, cerita tentang pacar Noni yang pilot, dan rencananya mengempiskan ban mobil Hans kapan-kapan. Banyak cerita. Terutama dia suka bercerita tentang indahnya Jayapura. Kata dia, cantiknya seperti kota Hongkong di waktu malam. Sudah pernah ke Hongkong? tanyaku. Belum, jawabnya. Sudah kukira.

Tagihan teleponku melonjak. Pastinya juga Kevin. Sampai suatu akhir bulan aku akan membayar tagihan telepon handphoneku, ternyata sudah ada yang bayar. Kevin. Demikian seterusnya setiap bulan.

Dua bulan setelah kami bertemu itu dan berlanjut dengan hubungan telepon, Kevin memberitahu aku bahwa dia akan ke Bandung urusan pekerjaan di perusahaan induk perusahaan kami bekerja. Aku senang dan gugup. Resah sekali rasanya menunggu hari itu tiba. Kevin bilang dia tidak sendiri, tapi akan bersama teman-teman dari area lain. Dia akan naik kereta api dari Jakarta. Aku akan menjemput di stasiun Bandung.

Hari-hari selalu mendung karena sedang musim hujan. Sore itu Kevin datang. Aku menjemputnya di stasiun. Dia menginap di wisma kecil dekat kantor pusat kami. Bisa jalan kaki jadinya.

Ternyata Kevin tidak kebagian kamar, jadi dia menitipkan saja tas pakaiannya di kamar Merry. Aku dan Kevin ngobrol berdua di lantai dua wisma Nyiur Indah ini. Ada ruang duduk dengan sofa dan kursi, berkarpet dengan meja rendah. Sampai larut malam, dan aku ditahan untuk tidak pulang.

Kevin memintaku tidur dengan teman-teman perempuan lain, tapi aku tidak mau. Jadi aku tidur di sofa. Kevin tidur di lantai di karpet di bawah sofa tempatku tidur. Tangannya memegang tanganku sepanjang malam. Entah jam berapa aku tertidur. Tapi aku bermimpi, Kevin mengecupku sekilas.

Entah betul atau cuma mimpi aku tidak tahu.

***

Hari dimana Kevin harus pulang, aku mengantarnya lagi ke statsiun kereta. Berat sekali rasanya melepas dia pergi, Entah bagaimana aku bertemu lagi. Kevin bilang, “tenang saja, kalau sudah waktunya pasti ada jalan untuk ketemu”, katanya ceria.

Sore itu kembali hujan, aku turun dari mobil tapi Kevin memintaku untuk naik lagi saja, dia akan langsung naik ke kereta. Sebelum aku masuk ke mobil, dia meraih pundakku memelukku dan menciumku di tengah hujan yang mulai deras. Kami tidak peduli dan terus berciuman. Sampai akhirnya dia melepas bibirku tersenyum, mengecup rambutku, mengecup keningku, mengecup kedua mataku. Lalu mengucapkan selamat tinggal.

Itu ciuman pertamaku dengan Kevin. Sebetulnya aku lupa. Kevin yang pernah menanyakan padaku apakah aku ingat ciuman pertamaku dengannya. Aku jawab di Jayapura. Ternyata salah. Kevin yang mengingatkan detail ini kepadaku. Belasan tahun kemudian.

***

**

Hari Sesudahnya dan SMS

Hari ketiga di tempat terisolasi ini. Aku tidak terlalu memperhatikan Kevin. Lagipula setiap hari ada tugas yang banyak. Malam-malam aku dan Dian sibuk mengerjakan tugas yang diberikan trainer untuk presentasi esok hari. Aku lihat Kevin dan Simon sih riang gembira selalu, tugas-tugas juga selalu selesai dan dipresentasikan dengan baik. Kalau sedang berkumpul di ruang rekreasi, kerjaan mereka berdua adalah menelepon. Kadang mereka ke ruang fitness, lain hari entah apalagi.

Simon menunjukkan foto pacarnya yang ada di dompetnya padaku. Aku melongo melihatnya, loh kok kayak kenal, kataku. Ternyata dia Sinta teman satu kampus denganku, namun beda jurusan. Kelak Sinta sering curhat padaku, tentang hubungan cintanya dengan Simon. Mereka beda keyakinan. Simon katolik, dan Sinta protestan.

Kevin sendiri setelah asik kasak kusuk menelepon di pojokan dengan entah siapa dengan mesranya, duduk disebelahku dan menunjukkan sms-sms di handphonenya padaku. Norak sekali. Ngapain juga aku disuruh baca. Sekilas kulirik, ternyata dia dan pacarnya saling memanggil dengan kata “Mama” dan “Papa”. Huekk.

Ada peserta training di kelasku bernama Inne. Dia cantik sekali. Tinggi langsing, mata besar dengan bulu mata lentik. Dia juga percaya diri dan sangat mendominasi di kelas. Dan sepertinya dia menikmati perhatian para lelaki padanya. Beberapa banyak yang sering iseng untuk menarik perhatian Inne. Tapi rupanya sih Inne naksir Kevin. Sering kulihat dengan sudut mataku, ia menatap Kevin atau mengajak berdiskusi dan sudah pasti Kevin selalu diajak sekelompok dengannya bila ada tugas kelompok.

Dian teman sekamarku dan sama-sama dari Bandung, tadi malam ngotot bilang padaku kalau Kevin naksir aku.
“Masa sih?” kataku sambil bengong memindahkan saluran tv dari setu saluran ke saluran lain.
“Iya, aku sering lihat dia tuh suka liatin kamu!”
“Tapi kayaknya Inne suka..” kataku datar
“Ah Inne mah cari perhatian aja, soalnya Kevin cuek, sementara yang lain banyak yang jadi pengagum!” kata Dian semangat.
“Kevin udah punya pacar Dian”, kataku.
“Aku baca sms di handphonenya, tadi dia yang kasih lihat malah”
“Oh ya..? Siapa?”
“Pramugari katanya, gak tau sih namanya siapa”
“Trus kamu bilang apa?”
“Gak bilang apa-apa.., gak ngerti juga maksudnya apa..pamer gitu?”
“Iseng kali..” Dian lalu asik menelepon pacarnya, kepalanya ditutup selimut. Terdengar gumaman dari balik selimutnya. Aku heran dia bisa bernapas. Aku sih tidak bisa ngobrol dibawah selimut. Pasti pengap.

Keesokan hari kami mendapat tugas untuk membuat prakarya. Bebas dibuat dari bahan apa saja dan harus dipresentasikan di depan kelas. Ini bukan tuga kelompok, jadi setiap individu membuat tugasnya sendiri-sendiri. Kami boleh membeli bahan-bahan sederhana di kota terdekat, yang penting sih bukan apa yang dibuat, tapi bagaimana kita nanti presentasi menjelaskan proses pembuatan dan tujuannya. Kira-kira begitu.

Kami pergi naik angkot beramai-ramai ke kota Purwakarta, kota terdekat dari tempat kami diisolasi. Kevin menolongku naik, duduk di sebelahku, merangkul pundakku bila angkot terguncang akibat masuk ke lubang-lubang jalan yang besar, dan membantuku turun. Inne yang duduk di depanku, tampak sangat tidak suka.

Di pertokoan Kevin menemaniku, aku membeli sumpit-sumpit bambu, lem dan kertas. Sempat saat aku berdiri di trotoar depan toko dia menghilang,
“Tunggu ya..” katanya.
Aku menunggu sambil mengobrol dengan Dian, teman-teman yang lain tampak lalu lalang kesana kemari membeli makanan ringan dan sebagainya. Ada juga yang beli bakso.
Kevin datang membawa kantung plastik dan mengangsurkan padaku.
“Ini buat kamu”, katanya.
Isinya anggur dan jeruk. Sambil mencari angkot untuk pulang, kami tertawa-tawa sambil makan buah-buah tersebut.

Malamnya aku sampai malam berkutat membuat lampion dari bahan-bahan yang aku beli tadi sore. Dian membuat sabun dengan pita-pita dan jarum pentul. Huh ternyata ribet. Lem yang aku beli tidak melekat kuat. Jadi kuikat dengan benang. Hasilnya tidak seratus persen seperti yang aku harapkan. Agak miring-miring sudutnya.

Besoknya adalah hari presentasi. Kami satu per satu ke depan dan menjelaskan proses dan apa yang kami buat. Macam-macam yang dibuat teman-teman. Ada yang membuat origami, topi kertas, bunga kertas, asbak, dan sebagainya. Inne membuat lukisan dua ekor kijang di sebuah bukit dengan background matahari senja. Kijangnya tampak sebagai silhoutte. Bagus sih.

Teman yang presentasi akan dikritisi dan diberi komentar oleh teman-teman yang lain. Aku sih tidak banyak memberi komentar, paling bertanya sedikit pada proses pembuatan dan perencaraan terkait project tersebut.

Inne dipuji-puji oleh barisan pengagumnya, dan dia tampak bangga.

Giliranku ke depan, aku jelaskan bahwa yang aku buat adalah lampion walaupun tanpa lampu di dalamnya atau pun lilin. Yang lain tidak banyak berkomentar, namun tiba-tiba Inne berdiri, dan mencecarku dengan pertanyaan, lalu dia berkomentar,

“Ini hasil karya paling jelek yang saya lihat”, katanya sinis. Aku hanya mengangkat alis. Ada apa dengan Inne.

“Kalau kata saya ini mirip banget dengan toilet di kampung yang di atas kolam itu!”, katanya sambil tertawa.

“Gak ada mirip-miripnya dengan kap lampu, cuma mirip WC” katanya.

Aku heran, salah apa aku pada Inne? Tapi aku hanya mengucapkan terima kasih atas kritikannya dan kembali duduk. Aku malu sekali jadi aku diam saja sambil agak menundukkan kepala. Saat itu memang aku agak pendiam, kurang percaya diri dan agak pemalu.

Hari terakhir, semua harus mengisi kertas tentang pendapat terhadap peserta lain. Baik itu jelek maupun bagus. Semua bebas mengkritik atau memuji. Bebas.

Aku sih memberi komentar netral pada semua orang, oh ya kami total hanya 12 orang 5 wanita dan 7 pria. Jadi tidak terlalu pegal mengisi 12 lembar kertas. Kami lalu diminta ke depan untuk membaca pendapat orang lain tentang diri kita. Satu persatu.

Kami tertawa-tawa saat ada yang membaca komentar yang lucu. Kebanyakan sih komentar lucu-lucu tentang sifat dan kepribadian orang yang bersangkutan. Atau prestasi menonjol dari Acil, atau biang onar seperti Kevin. Sampai terakhir giliran Inne membaca kertas-kertas yang berjudul namanya.

Dia tersendat membacanya, satu per satu dari satu kertas ke kertas lain, isinya kurang lebih sama, kecuali punyaku dan satu kertas lain, mungkin Acil. Karena Acil selalu sebangku dengannya dan terlihat memuja Inne. Karena aku tidak menuliskan hal-hal yang mengkritisi.

“Inne kamu cantik, tapi sombong”
“Inne kamu sok pintar dan menganggap orang lain semua bodoh”
“Inne kamu percaya diri tapi senang melecehkan orang lain”
“Kamu pikir keren ya mengolok-olok orang lain? Belajarlah menghargai orang”

Sampai kertas terakhir, kulihat air mata mulai bercucuran di pipinya. Lalu dia dengan terbata-bata berkata, bahwa dia tidak pernah bermaksud buruk pada semua orang, dan dia tidak menyangka semua orang berpendapat dia begitu menyebalkan. Kalau apa yang dia perbuat menyinggung orang lain, dia minta maaf. Begitu katanya.

Aku tidak yakin ucapan dia ini tulus. Karena mata dan bibirnya terlihat tidak sinkron. Matanya menyorotkan kekesalan, bukan penerimaan.

Sambil tersedu Inne duduk kembali dan kulihat Acil menghibur sambil menepuk-nepuk pundaknya.

***
Hari terakhir tiba, 8 hari kami disini. Cukup lama ya? Bis kecil yang membawa teman-teman ke Jakarta sudah datang. Aku sendiri dijemput adikku kembali ke Bandung. Dian dijemput pacarnya. Aku melambaikan tangan pada teman-teman yang berangkat. Kulihat Kevin melambaikan tangan, dan berteriak,

“Makasih celananya yaaa!”

Aku menjulurkan lidah sambil melambai padanya. Entah kapan bertemu lagi. Lokasi kerja Kevin di Jayapura. Jauh sekali ya?

***
Sampai rumah orang tuaku, kulihat ada mobil yang kukenal. Jantungku serasa berhenti. Mobil mantanku. Mau apa dia kesini? Aku masuk dan terlihat dia sedang duduk di ruang tamu. Tampangnya tampak berlipat dan marah.

Dia berdiri menghampiriku, tanpa banyak kata lalu menampar pipiku.

Aku sangat marah. Ingin kutampar lagi pipinya, tangannya memegang tanganku, terasa sakit sekali.
Aku berteriak-teriak minta dilepaskan, lalu perutnya kutendang. Tampak orangtuaku keluar dari ruang dalam. Aku berlari mengambil kunci mobilku, lalu aku pergi. Di jalan aku menelepon orangtuaku. AKu bilang aku mau tidur di hotel saja. Kusebutkan sebuah nama hotel tak jauh dari tempat kerjaku.

***

Malam hari aku termenung di kamar hotel. Sendirian. Aku sedih dan kesal sekali. Mau apa mantanku itu? Urusan kami sudah beres. Kenapa dia berani memukulku di depan orang tuaku? Sudah gila rupanya. Dari telepon aku diceritakan kalau dia berusaha menyusulku tapi ditahan ayahku. Setelah beberapa omongan marah dari ayahku, dia lalu pergi. Harusnya lapor polisi kataku, tapi tamparan di pipiku tidak terlalu keras sepertinya. Sekarang tidak terasa sakit dan tidak ada bekas merah lagi.

Jam menunjukkan jam 8 malam. Aku berendam di bathtub kamar mandi. Kuletakkan handphoneku di pinggir beralaskan handuk biar tidak basah.

Terdengar sms berbunyi, aku raih dan membacanya.

“Hai Kyra..lagi apa? pasti kamu sedang mikirin aku. Pasti kamu rindu. Tenang saja, aku juga kangen kok sama kamu…”

Kevin yang mengirim sms itu.

***

Lost in Translation dan Foto

Siang-siang bolong sedang berpikir setengah melamun untuk membuat konsep surat, Kevin menelepon. Seperti biasa tanpa basa-basi.

“Eh Kyra, dengarkan baik-baik ya…aku punya buku baru..”
“Buku apaan?”

Tumben banget Kevin baca buku. Sejauh dan seingat aku dia tidak suka baca buku apapun, buku terakhir yang dia baca dan itupun dia kasihkan buat kubaca berjudul “CARA MEMBACA SIFAT DARI WAJAH DAN TAHI LALAT”. Yang menurut dia itu buku yang bagus banget.

“Buku lelucon. Asli lucuuu banget!” katanya sambil tertawa geli sendiri.

“Aku bacakan ya? Dengerin!”, lanjut Kevin, terdengar bunyi kertas buku dibuka-buka. Lalu dia membacakan lelucon-lelucon berbahasa Manado. Oh ya Kevin ini memang suku Manado. Nama belakangnya adalah Kevin Rorimpandey. Manado asli. Kalau tidak salah dia pernah cerita bapaknya dari Sangir. Yang aku tahu dari buku IPS jaman SD banyak penduduknya jadi pelaut. Aku pernah bilang mungkin saja dia imigran dari Philipinna.

Dia membacakan sekitar belasan lelucon berbahasa Manado, yang mana dia baca sendiri, lalu ketawa sendiri. Aku sih mendengarkan saja sambil kadang ikut tertawa, padahal tidak mengerti. Sesekali menanyakan arti kata ini itu. Ini jam kerja loh, dan dia membaca buku lelucon ini lama sekali. Setelah puas membaca dan tertawa, kebanyakan dia yang tertawa dan aku sih mendengar sambil bengong. Lalu dia bilang,

“Udah ya..”, lalu menutup telepon.

Lain waktu aku iseng meneleponnya dan menceritakan lelucon bahasa Sunda. Menurutku sih lucu banget. Kevin tidak terdengar bersuara, apalagi tertawa. Lalu dia bilang,

“Kok engga lucu?”

***

Di suatu siang di waktu lainnya. Kami sedang duduk-duduk nonton TV. Acaranya absurd. Tapi Kevin suka. Itu tuh reality show Jepang, Benteng Takeshi. Dan dia tertawa sampai guling-guling menonton acara itu. Aku sih ikut menonton saja. Kalau menonton TV Kevin menguasai remote. Dan dia suka nonton acara lawak semacam stand up comedy Indonesia yang menurut saya tidak lucu. Kevin terus menonton walau tidak tertawa. Pernah aku tanya, kalau engga lucu ngapain ditonton? Dia jawab, ini lagi cari lucunya dimana.

Siang ini karena dia asik sendiri menonton akhirnya aku membaca buku, tapi Kevin terus mengajakku nonton. Dia engga mau seru sendiri rupanya. Akhirnya aku meletakkan buku dan ikut nonton. Aku bilang pada Kevin yang duduk sebelahku agak ke depan,

“Pantatmu tepos”

“Oh ya?”

“iya, rata banget”.

“Masa sih? Coba kau foto”

“Hah?”

Lalu tanpa basa basi dia melorotkan celananya membelakangiku.

“Foto coba, aku ingin lihat”

Ya sudah aku foto saja dengan kamera handphoneku. Kevin mengenakan celananya kembali.

“Tuh lihat, pantatmu rata”, kataku datar.

“Engga terlalu ah, lumayan”  katanya sambil menatap lekat-lekat foto yang sama sekali jauh dari estetika tersebut. Lalu ujarnya,

“Hapus ah..”

“Iya lah aku hapus. Ngapain simpan foto beginian. Mending kalau mirip pantat Mel Gibson jaman lagi jaya-jayanya. Dia punya sih kencang ketat dan padat!”

Kataku sambil menghapus foto itu di handphoneku.

***

Aku sampai pada tahap dimana aku tidak tahu alasan apa yang membuat aku begitu mencintai Kevin. Dalam hal menyebalkan dia super menyebalkan. Dalam hal pelupa, dia juaranya. Dan dia juga tidak pernah setia. Yang kepergok saja banyak, apalagi yang tidak. Ada yang aneh dengan mekanisme cinta. Ada yang membuat aku selalu kembali padanya, memikirkannya, dan merasa sebagian diriku ada padanya, dan dia juga ada padaku.

Hal termanis yang pernah dia bilang padaku adalah bahwa selalu ada ruang khusus di hatinya untuk aku. Lumayan manis ya, mengingat orangnya sepertu itu. Tapi pernah juga dia bilang, dia tidak tahu kenapa dia mencintaiku, mungkin karena sudah kelamaan, katanya. Bahkan terakhir dia pernah bilang, dia selalu sayang padaku, tapi sayang yang sudah berbeda dengan dulu. Mungkin maksudnya bukan sayang dan cinta yang menggebu. Jenis yang sepertinya, bisa ketemu ya sukur, engga juga engga apa-apa.