Selama enam bulan terakhir ini, karena satu dan lain hal, saya kehilangan kepemilikan atas mobil tua saya yang biasa saya kendarai ke kantor. Untuk itu saya naik motor, merk yang sama dengan milik Joan dan Macnoto. Pinginnya sih CBR 150 tapi engga boleh euy sama Emak saya. Walaupun tentu saja saya tetap optimis untuk memiliki mobil lagi. Buktinya saya baru saja mengisi kupon Yogya Dept Store dengan harapan mendapat Grand Prize APV. Dan tentu saja berdoa; dengan cita-cita semoga dewa-dewa komisaris atau siapapun di atas sana yang membuat keputusan untuk berbaik hati menurunkan bonus akhir tahun secukupnya untuk mobil baru. Tentu saja, harapan yang sangat sangat ehm apa ya? Ngelunjak?
Archive for the ‘Uncategorized’ Category
Serba Serbi Naik Motor
Posted in Uncategorized on Tuesday, 31 October 2006| 15 Comments »
Komunikasi dan Arogansi Sektoral
Posted in At works, Uncategorized on Wednesday, 11 October 2006| 6 Comments »
Untuk kaum pekerja yang umumnya memiliki jam kerja jam 8 pagi sampai jam 5 sore (normal, tidak kesiangan, jalan tidak macet) dan jam 9 siang sampai dengan 7 malam (merasa bersalah karena kesiangan dan mengkompensasi dengan bekerja sampai malam tanpa lembur), kantor adalah rumah kedua. Sebagian besar hidup dihabiskan di kantor. Di rumah tentu saja porsinya lebih sedikit untuk berinteraksi dengan orang lain, karena dikurangi jatah untuk tidur.
Untuk itu, berinteraksi sosial dengan manusia lain tentu saja lebih banyak dengan teman-teman kantor, baca: ngegosip, curhat, cerita soal film, pinjem uang. Terlebih lagi soal pekerjaan. Pasti banyak urusan yang melibatkan diskusi-diskusi, obrol-obrol, dan apapun yang kita sebut sebagai berkoordinasi dan berkomunikasi. (more…)
Dago Pakar – Maribaya
Posted in Uncategorized on Friday, 1 September 2006| 40 Comments »
Mau berolahraga murah dan sehat? Jalan kaki sepanjang hutan Dago Pakar sampai dengan Maribaya dijamin murah dan sehat. Murah karena bayar tiket masuk Dago Pakar sekitar Rp 3000,- dan bayar lagi sekitar Rp 3000,- juga saat masuk ke kawasan Maribaya.
Hari Minggu kemarin dalam rangka pupujieun menurut istilah dalam Bahasa Sunda, saya dan teman-teman lain dari Kampung Gajah : Bunda, Jay, Deden, Surur, Abi, pergi mengukur jarak antara Dago Pakar sampai dengan Maribaya.
Tentu saja sebelum kami berangkat, tepat di pertigaan menuju Dago Pakar dan Dago PLTA Bengkok, kami menyempatkan diri untuk menikmati bakso kampung di pinggir jalan. Rasanya cukup lezat dan harganya murah. Setelah itu barulah kami bergerak dengan berjalan kaki karena kami yakin kalau naik mobil perangnya Abi atau naik angkot itu sama sekali engga aci. (more…)
Anakin, you’re breaking my heart…
Posted in Uncategorized on Tuesday, 22 August 2006| 16 Comments »
Film yang tidak/belum/mungkin tidak akan pernah bosan saya tonton berulang-ulang selain Lord of The Rings, tentu saja adalah Star Wars. Biasanya setelah memilih-milih keping DVD (bajakan tentu saja…=> engga tau malu memang, tapi apa boleh buat yang asli mahal sih) koleksi saya yang kebanyakan beli di Pasar Kota Kembang Bandung (sebagian kecil), dan koleksi punya teman yang ada di rumah (sebagian besar), akhirnya setelah memilih dan memilah selalu dan selalu jadinya saya nonton Star Wars lagi. Disetel dari berurut maupun tidak berurut, tergantung mood. (more…)
17 Agustus – Mengenang Pesta Rakyat di Sukamandi
Posted in Uncategorized on Tuesday, 1 August 2006| 26 Comments »
Bagi sebagian besar penduduk Indonesia, padi adalah kehidupan. Malai dan bulirnya membentuk budaya, pola makan, dan ekonomi berjuta jiwa. Bagi mereka, sungguh tak terbayangkan bagaimana menjalani hidup tanpa padi (Yapadi)
Saya dibesarkan di LP3 – IRRI Sukamandi Subang, singkatan dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian International Rice Research Institute. Sukamandi, berada Kabupaten Subang, di pesisir Pantai Utara Jawa Barat, sekitar 120 km ke arah timur Jakarta. Sejak didirikan, institusi ini telah tiga kali mengalami pergantian nama sesuai fungsinya yaitu Lembaga Penelitian Pertanian (LP3) Cabang Sukamandi (1972 – 1980), Balai Penelitian Tanaman Pangan (BALITTAN) Sukamandi (1980 – 1994) dan Balai Penelitian Tanaman Padi ( BALITPA) (1995 – sekarang). Sukamandi sendiri adalah desa yang kebanyakan masyarakatnya hidup dari bertani.
Engga nyambung dengan topik di atas, saya lanjutkan dengan kenangan perayaan 17 Agustus di perumahan saya tersebut. Nah dalam memperingati hari kemerdekaan negara kita yang tercinta ini (tetap tercinta walaupun penuh dengan segala carut-marut kebobrokan korupsi dan kemiskinannya), panitia di Balai biasanya mengadakan acara yang meriah sekali, dan sangat serius digarap. Acara di kompleks saya selalu mengundang masyarakat desa sekitar perumahan dan mereka turut bergembira dengan menonton segala pertunjukan dan acara yang ada. (more…)
Saung Angklung Udjo
Posted in Uncategorized on Wednesday, 26 July 2006| 50 Comments »
Saya ingin kesana! Malu rasanya sebagai orang Sunda yang tinggal di Bandung -bahkan dulu sempat tinggal selama 3 bulan di rumah saudara di Padasuka- tapi saya belum sempat pergi ke Saung Udjo! Sudah lama saya ingin sekali menyempatkan pergi kesana -kalau bisa sih ngajak rombongan dari Kampung Gajah- apalagi kemarin saya menemukan brosur yang menarik tentang Saung Udjo.
Berikut sedikit cerita tentang Saung Udjo yang saya dapat dari beberapa sumber, termasuk brosur yang tadi.
Saung Angklung Udjo berlokasi di Jl.Padasuka No 118, Bandung 40192 Jawa Barat, Indonesia Telp +62 22 7271714 Fax +62 22 7201587. Saung Udjo menampilkan seni pertunjukan yang bernuansa bambu, dari alat musik yaitu angklung, tempat duduk penonton sampai dengan sentra pentas. Selain itu terdapat permainan kecapi dan suling yang melantunkan kawih Cianjuaran. O ya di brosur juga dituliskan terdapat pula pertunjukkan kesenian khas Jawa Barat seperti wayang golek, rampak kendang, seni beladiri Pencak Silat, Sendratari, drama Sunda, Puisi Sunda, dan Tari Topeng khas Cirebonan.
Pengunjung -katanya lagi- dapat menikmati minuman khas Sunda, bandrek dan bajigur. Tuh buat orang Jakarta siapa kemarin yang bilang ke saya ingin menikmati bajigur, bagaimana kalau kita minum-minum bajigur sambil nonton pertunjukkan di Saung Udjo? Tambahan lagi di sekitar pelataran seni itu tumbuh rumpun-rumpun bambu yang resik dan alami. Segar kan? Nah, kalau ini saya tahu pasti. Dulu pernah ngintip-ngintip sih, waktu jalan kaki sepulang sekolah.
Pengunjung yang datang dapat menikmati nuansa Kampoeng Soenda bahkan turut mencoba mempraktekkan sendiri alat musik angklung tersebut. Saung Angklung Udjo memiliki jadwal pertunjukkan rutin setiap sore di lokasi.
Eh tapi ada yang saya catat nih dalam mencapai lokasi Saung Udjo tersebut. Macetnya itu lho! Duh teu kiat. Jalan Padasuka itu sempit dan tidak nyaman dilalui kendaraan roda apapun dan bahkan untuk berjalan kaki. Berdebu, dan banyak pabrik tekstil di kanan kiri. Dulu sih tiap ada bis turis datang langsung deh macetnya bisa sampai bego. Coba ya pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan soal akses jalan ini.
What you are
What job you have chosen
Do it well
Do it with love
Without Love
You are dead before you die
Udjo Ngalagena
Catatan tambahan : sekarang sudah tidak malu lagi karena hari Minggu tanggal 20 Agustus 2006, saya sudah sukses pergi kesana! *bangga*
I am thirty something, happy and proud..
Posted in Uncategorized on Monday, 17 July 2006| 37 Comments »
Hihihi thirty something, ya deh 32, kebayang kalo dipasang lilin sejumlah umur di kue, bakal berdesak-desakan.
Saya jarang merayakan ulang tahun, seingat saya malah cuma waktu kecil doang , kayaknya ibu saya pun merayakan ulang tahun saya demi tuntutan pergaulan ibu-ibu kompleks perumahan saja. Mengingat ibu saya dalam hal ulang tahun juga pelupanya minta ampun (sama dengan anaknya). Seperti kemarin waktu saya ajak makan-makan dia menjawab “lho bukannya ulang tahunnya bulan depan?” …yay.. But I love you very much Mom, inget ataupun ga inget kapan melahirkan saya.
Bukan menganggap hari ulang tahun tidak istimewa atau apa. Cuma mungkin kepalang tertanam di benak, bahwa semua hari adalah istimewa. Tidak ada hari buruk, hari sial atau hari tidak boleh berjalan ke arah utara (primbon bener ya?) semua hari adalah hari baik, kecuali bad hair day mungkin,nah kalau itu saya sering mengalami pas pergi ke kantor basah-basah habis keramas tanpa sempat dikeringkan pengering rambut. Pasti deh seharian rambut saya kucluk seperti tikus kejebur got.
TAPI hari kemarin bener-bener hari istimewa. Duh mau nangis lagi nih. Hari Minggu kemarin, teman-teman yang saya sayangi nyaris semua berkumpul di Dufan…hihihi biasa nih Kampung Gajah bikin acara kopdar. Dari malam Minggunya sendiri pas jam 00. lewat sekian sudah menerima telepon dari Bunda, disusul sms dari teman-teman Kampung, teman Kantor, dan sahabat waktu SMP.
Sewaktu kumpul di parkir Dufan, dapat kue Black Forest yang spesial banget, niup lilin dan makan-makan kue dan maksa Jay jadi meja. Seterusnya kita keliling-keliling Dufan, dan engga habis rasanya ketawa oleh Deden (duh maaf Den..saya masih nyangka kamu akting doang pas klenger naik Ontang-anting. Kejutan belum berhenti ternyata, selain mendapat kado cantik dari Nugi (isinya buku..! hore tau aja saya seneng buku dan memasak trus dapat coklat juga yang enak banget!), sewaktu kumpul dan makan, saya mendapat poster gede yang bagus banget (sumpah bagus banget!!), soalnya saya disitu juga -anehnya- jadi cakep. Dan ada foto-foto teman juga sebagai pemain film maupun kru, hehehe..ada tokoh antagonis segala: Lola, Jim, Abi, Wesly, Hengky, dan Oki (ekspresi mereka ngepas banget!), dan tokoh baik-baik lainnya seperti Bunda, Jay, Tub, Blub, Lea, Indra, Adis, Surur, Fahmi, dan Deden. Eh ada wajah komik Henny juga!. Sayang kok engga ada foto Dony ya?.
![]()
Terima kasih yang tidak terhingga buat teman-teman yang kemarin kumpul di Dufan, beneran deh kalau ada yang bilang 17 tahun itu ulang tahun yang istimewa itu salah…hehehe..yang bener ulang tahun ke 32..(maksa). Buat Nugi, Golda, Riky, Deden, Jay, Abi, Lola, Bunda, Hengky, Surur, Adis, Lea, Indra, Diana, Edi, Fahdi, Jim, Wesly, Marcos, dan Oki yang udah bawa-bawa poster keliling Dufan, ya ampun Ki…itu kan berat banget…kamu boong sama saya bilang ringan segala!. Dan juga Tub, Blub, Henny (sedih kalian engga bisa ikut ke Dufan). Makasih juga buat teman-teman di Kampung Gajah yang udah kasih selamat. …Waaah..hampir mewek lagi nih.
Terima kasih buat kebahagiaan yang telah kalian bagi dan beri selama ini.
Acara TV di Indonesia
Posted in Uncategorized on Thursday, 6 July 2006| 18 Comments »
Tadi malam sambil menunggu siaran sepakbola yang gagal total karena ketiduran, saya mengacak-acak semua channel TV. Tumben, karena biasanya saya milih baca buku, arisan di Kampung Gajah, menggambar atau bengong. Sebenarnya sih karena siangnya saya dicela habis sama teman-teman sekantor karena pengetahuan saya yang rendah dan minim soal acara TV (misalnya sampai sekarang saya belum pernah nonton kuis Super Deal, tidak tahu yang mana Pretty Asmara, dan baru tahu barusan kalau vokalis Ungu itu namanya Pasya).
Heran, pada saat musim liburan sekolah begini, tayangan film semua umur (tadi malam misalnya ada film lucu si dokter sableng Dr. Doolittle) malah ditayangkan sekitar jam sepuluh malam, kalau tidak salah, dimana anak-anak yang manis sudah pada tidur. Sementara sinetron-sinetron yang rada absurd tentang jin yang aneh-aneh, hantu, pocong, atau pertengkaran yang heboh tampar-tamparan, maki-makian, injek-injekkan, nangis, usir-mengusir, – halah apa lagi ya? ditayangkan di jam-jam malam hari dimana anak-anak masih pada segar bugar dan jagjag waringkas.
Soal tayangan acara TV yang banyak mengundang protes ini mungkin bukan cerita baru. Dan saya bukan orang pertama yang pingin ngumpat. Mungkin bagus tidak bagus juga beda-beda tergantung persepsi orang-orang. Tapi ya itulah media TV sebagai sarana edukasi rasanya sekarang makin minim acara yang tergolong mendidik. Mungkin terlalu takut dengan selera pasar. Tapi kalau soal selera, misalnya ini mah ya, saya juga kan dulu kadang-kadang kumat malasnya dan sangat tidak berselera untuk sekolah, kuliah, les dan sebagainya, pokoknya yang berbau pendidikan gitu dah. Tapi kan kalau udah dipaksa, dijalani, dicekoki, dicerna, dan akhirnya dinikmati ya kan hasilnya ada juga yang nempel. Toh itu sesuatu hal yang baik dan berguna.
Jadi apa salahnya menayangkan sesuatu yang baik, mendidik, dan berbudaya, suka engga suka mungkin kita terpaksa nonton daripada bengong, dan paling tidak buat anak-anak ada sesuatu bekal yang berguna, dibanding menempelnya kata-kata seperti “Mati Kamu!!”, “Kubunuh Kau” dan makian-makian lainnya yang tidak tega saya tayangkan disini.
Mandi – dari Masa ke Masa
Posted in Uncategorized on Thursday, 1 June 2006| 23 Comments »
Siapa yang tidak suka mandi?. Mandi buat saya adalah ritual penting sebelum memulai hari dan mengakhiri hari. Tanpa mandi pasti serasa ada yang salah atau kurang. Walaupun saya menghindari mandi kalau tidak tidur semalaman. Soalnya suka jadi panas dingin. Tapi paling tidak, badan diseka dengan handuk panas. Kalau tidak ada, ya pakai tisu basah.
Mandi paling asik sih di kampung, di sungai yang berbatu-batu di belakang rumah nenek saya. Gosok badan memakai daun Ganyong (Canna Edulis Ker.) atau daun Petai Cina (Leucaena Leucocephala). Tapi awas hati-hati periksa dulu daun-daunan ini! Dulu saya pernah memakai daun yang ada ulatnya, huaaahh..penuh deh badan dengan bentol-bentol. O ya, di kampung tidak usah takut sama yang yang ngintip, karena orang di kampung mah engga hobi ngintip. Lagipula di kampung saya banyak pemandian outdoor yang disebut jarambah, terbuat dari bambu dan kayu yang memakai air pancuran dan berada diatas kolam ikan. Kalau ada yang lewat ya lewat saja, tanpa pernah menolehkan kepala sedikitpun (semoga sopan-santun ini dapat terus bertahan!).
Saat ini beberapa tempat spa, selain menyediakan mandi kembang ala putri-putri jaman baheula juga menyediakan pula mandi-mandi lain, seperti mandi rempah (kunyit, jahe, dan rupa-rupa bumbu dapur lainnya), mandi coklat, mandi lumpur, mandi susu (halah), mandi champagne, dan entah apa lagi pokoknya yang bisa dicampurkan ke dalam air mandi selain cairan desinfektan dan cairan Bubble Bath.
Selain mandi dengan rupa-rupa air, juga ada mandi matahari alias sunbathing yang jelas engga populer di Indonesia karena alasan budaya dan juga ngapain juga hot-hot under the sun?. Jangankan mandi matahari, produk kecantikan sekarang sih rame-rame mempromosikan pemutih wajahlah, pemutih badanlah, seakan-akan standar cantik itu artinya berkulit putih (untuk hal ini saya tidak setuju sama sekali, walaupun saya berkulit putih lho, dan tanpa harus memakai detergen pemutih). Eh bahkan katanya ada moonbathing segala. Walaupun saya belum nemu referensi tentang Mandi Bulan ini. Yang saya tau kalau mandi sinar bulan mah dilakukan sama orang-orang yang ngelmu, atau ngasih makan piaraan makhluk halusnya dengan cara semedi di bawah sinar bulan. Entahlah. Ini cuma cerita.
Menurut Om Wiki, kata Bath sendiri berasal dari kota Bath di Inggris dan terkenal oleh tiga tempat air panas muncratnya. Penduduknya dikenal dengan nama Bathonians. Di jaman Roman Empire yang terkenal penduduknya sebagai orang-orang yang rajin mandi dan gemar membangun tempat pemandian-pemandian yang indah (baca deh komik Asterix), sempat Attila the Hun, terkagum-kagum oleh tempat pemandian orang Romawi yang menurutnya merupakan bukti tingkat peradaban yang tinggi (Jadi Attila bingung bagaimana mengalahkan tentara Romawi yang tempat mandinya saja sudah sangat canggih menurutnya). Saya juga kagum melihat Gerard Butler yang main film sebagai Attila the Hun, cakep sih.

