Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Gasibu dari Masa ke Masa

Hayo ada yang tahu apa singkatan dari Gasibu? Bukan, bukan Gapangan Sipak Bula. Bukan pula perubahan nama dari Gazeebo. Tapi singkatan dari Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara. Jaman dulu bernama Wilhelmina Plein -Lapangan Wilhelmina, kemudian menjadi Lapangan Diponegoro, sampai berganti nama menjadi Gasibu karena pada tahun 1955 dipakai untuk tempat berlatih sepak bola. Gasibu terletak pas di depan Gedung Sate. Fungsinya berubah-ubah dari tempat olahraga, terkadang untuk konser musik, upacara 17 Agustus-an, tempat penjajaan sex (gosipnya sih begitu) dan tiap hari Minggu menjadi pasar kaget yang benar-benar kaget.

Pada tahun 1988-an saya ingat setiap sore di jalan sebelah lapangan Gasibu menjadi trek-trekan balap motor. Motornya terdiri dari berbagai jenis, dan pengendaranya suka-suka, nampaknya siapa saja yang berminat dan punya nyali. Entah kriteria apa yang menjadi dasar diadakannya lomba bagi pembalap-pembalap dadakan itu. Sampai akhirnya kebut-kebutan liar itu dilarang. Di tahun 1996 sepulang kantor saya masih sering pergi kesana untuk lari sore, atau lari pagi di hari Minggu. Dulu masih layak untuk menjadi tempat lari. Walaupun ramai, namun tidak terlalu banyak pedagang kaki lima. Lapangan Gasibu pun terletak sepelemparan batu ke Taman Lansia, tempat yang nyaman berpohon rindang yang pas untuk piknik dan duduk-duduk. Bagi pengunjung dari luar kota yang narsis, berpoto ria di depan Gedung Sate menjadi ajang untuk menunjukkan sudah berkunjung ke Bandung.

Hari ini saya menyempatkan diri ke Gasibu setelah sekian lama absen. Luar biasa. Pedagang sudah meluber sampai ke jalan Trunojoyo dan jalan Diponegoro depan Radio Sky dan 7 Sins (kafenya Luna Maya itu), segala barang jualan beraneka ragam ada disana. Tampaknya seluruh pedagang, baik kagetan maupun tidak kagetan, tumpek blek ke sana. Banyaknya pedagang dan pejalan kaki rupanya tidak menumbangkan semangat angkot dan pengendara bermotor untuk tetap melewati jalan disana. Membuat suasana menjadi tambah hiruk pikuk oleh suara klakson.

Saya pernah iseng menghitung jenis barang dagangan di Gasibu. Tapi akhirnya cape sendiri. Banyak barang dan jasa yang hampir tidak pernah bisa ditemukan mall seperti kadal kering (katanya sih obat buduk dan koreng), koin dan uang lama, pijat pengobatan memakai telur ayam, keset 10 ribu tiga (yang jualnya memaksa sekaligus memelas), pertunjukan doger monyet, dan tukang ramal.

Berjalan kaki dari Jl Trunojoyo sampai Jl Cisangkuy, membuat sepulang baliknya saya membawa hasil belanjaan yang tidak masuk akal karena tidak nyambung; keset hasil jual dedet pedagangnya, dua ikat pucuk daun labu, seekor kelinci, kaos bertema Bandung (I love Bandung dan Bandung Paris Van Java yang sebenarnya sekarang sih lebih cocok disebut Venezia Van Java, saking seringnya kebanjiran), kue ape, kue bandros, onde-onde kuning keemasan tabur wijen yang bulat dan hangat. Kaos kaki sepuluh ribu tiga dan remote control (remote control TV di kamar sudah sering bengong karena sering dipukuli dan dibanting), oh ya dan beberapa porsi tutut – keong sawah yang bernama keren Bellamya javanica van den Bush, yang dibumbu gule.

Melihat antusiasme orang dan pedagang sebanyak itu, menunjukkan minat warga Bandung untuk kebutuhan berinteraksi di ruang terbuka. Namun kenapa hanya Gasibu yang paling diminati? Untuk mencegah tumpek blek di Gasibu yang menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan, dan juga sampah!, akan lebih baik apabila di daerah-daerah Bandung yang lebih pinggir untuk memiliki ruang terbuka pula bagi warga.

Read Full Post »

Bioskop Misbar

Apa film pertama yang Anda tonton di bioskop? Kalau saya, berhubung masa kecil saya dihabiskan di desa pantai utara yang jauh timana timendi, alias jauh dari kota, membuat saya tergolong manusia yang amat telat mengenal yang namanya bioskop. Bioskop yang bagus maksudnya.  Kalau BSS alias Bioskop Sangat Sederhana sih ya tidak bisa dibilang telat. Rasanya sewaktu kecil pun saya jarang menonton TV malah. Gara-gara TV hitam putih kami tersambar petir, dan entah kenapa ibu saya ogah-ogahan sekali membeli yang baru. Saya sedih sekali waktu TV kami gosong itu, karena menganggap Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, dan Ira Maya Sopha bertempat tinggal di tabung-tabung kecil aneh dan lucu yang berada di belakang layar TV itu (saya suka berdiam di belakang lemari tempat TV diletakkan, dan mencari-cari darimana orang-orang di layar TV itu muncul). Untunglah ternyata para bintang cilik itu ternyata selamat sampai besar, tidak ikut gosong bersama TV kami.

Film produksi bule yang pertama saya tonton adalah Flash Gordon. Saya menonton di bioskop kecil  di kota Karawang bersama orang tua saya. Sepertinya waktu itu umur saya 5 atau 6 tahun. Karawang adalah kota terdekat dari kampung saya. Kampung saya itu di pantai utara, ditengah-tengah perjalanan antara Karawang dan Cirebon. Saya sangat terimpresi dengan film itu. Terutama oleh Kaisar Ming yang saya pikir-pikir sekarang mirip Dedy Corbuzier, lagu Flash-nya yang dilengkingkan Freddie Mercury, dan bulu ketiak Flash Gordon yang lebat banget, terlihat jelas sewaktu tangannya diikat ke atas gara-gara ditawan oleh pasukan kerajaan Kaisar Ming.  Hal-hal aneh memang biasa diingat oleh anak umur segitu mungkin ya?. Tidak banyak yang bisa saya ingat sih soal bioskop dimana film itu diputar, kecuali gelapnya. Tapi saya tenang menonton dalam gelap karena diapit oleh ibu bapak saya. Tapi sampai saya besar tidak pernah namanya nonton bareng ibu saya berlangsung aman nyaman dan tenang. Pasti kena sensor manual. Saya ingat pernah menonton film Basic Instinct bareng ibu saya pas saya sudah di bangku SMU, hampir setengah film muka saya ditutup oleh sweater oleh ibu saya.

Film Indonesia yang pertama saya tonton adalah: SANGKURIANG. Huehehehehehe. Bintang filmnya adalah Suzanna dan Clif Sangra. Saya menontonnya waktu saya SD. Bersama sepupu saya yang jauh lebih tua, di sebuah bioskop yang bangunannya dari bilik dan tiang bambu. Tanpa atap. Alias Misbar. Kalau gerimis ya ditanggung bubar. Kecuali yang menonton bawa payung mungkin.  Misbar disini ya bioskop sederhana dimana kita bayar karcis masuk, bukan layar tancap  yang dipasang di lapangan itu.

Bioskop misbar ini satu-satunya di kampung saya. Kalau promosi film baru hebohnya bukan main.  Sebuah mobil bak dengan pengeras suara akan berkeliling meneriakkan film yang akan diputar malam itu.  Berhubung di kampung yang jarang bangunan dan banyak lapangan luas, suara mobil keliling itu terdengar dari radius berkilo-kilometer jauhnya. Terkadang teriakan promo itu diselingi musik. Mungkin saat si pengiklan kehausan karena kebanyakan teriak-teriak. Lagu yang paling sering diputar dan diperkeras dengan toa itu adalah lagu “Still Loving You” nya Scorpion.  Lagu tidak ada hubungannya dengan film. Karena yang diputar sih kebanyakan film Indonesia seperti Warkop atau film aksi seperti film Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin.

Kami berjalan kaki cukup jauh menuju bioskop misbar itu. Penontonnya membludak dan mengantri. Biaya tiketnya hanya beberapa ratus rupiah. Sebagai bahan referensi, saat itu semangkok bakso Mang Husin yang enak banget bisa dibeli dengan harga seratus rupiah saja (btw Mang Husin kemana ya sekarang?). Bioskop bilik bambu itu dilengkapi dengan bangku. Lantainya ditaburi sekam padi tebal. Mungkin agar tidak becek.  Bangku  terbuat dari tiga lenjer batang bambu. Pantat saya sering kejepit kalau saya merubah posisi duduk saya. Film diputar dengan terkadang terhenti sering kali. Tapi tanpa “huuuuu” dari penonton. Mungkin sudah dimaklum. Kami semua menunggu dengan sabar beberapa menit sampai film dilanjut kembali. Rasanya pada saat itu saya menonton Suzanna kok sepertinya dia cantik sekali ya?  Dan yang paling yang saya ingat adalah adegan: bokong telanjang Clif Sangra sewaktu berenang. D’oh. Mungkin memang ada yang salah dengan ingatan saya sewaktu SD ya?

Film Indonesia kedua yang saya tonton di bioskop Misbar adalah film G 30 S/PKI.  Saat itu setiap tanggal 30 September di sekolah-sekolah di daerah saya, menonton film tersebut adalah wajib hukumnya. Bahkan satu hari dikhususkan tidak ada kegiatan belajar mengajar karena dari sekolah diberangkatkan berkloter-kloter rombongan anak-anak sekolah untuk menonton film tersebut.  Keseringan menontonnya dulu membuat saya kadang-kadang sekarang kangen ingin menontonnya lagi.  Terutama untuk bernostalgia dengan quote-quote dari film tersebut.  Coba siapa yang tidak ingat kalimat “Djawa adalah Koentji”… benar tidak Kawan?.

Read Full Post »

Mutu dan Coét.

Mutu dan Coet dari Meksiko

Mutu dan Coét menurut saya mungkin merupakan alat masak yang paling bertahan dari peninggalan jaman prasejarah awal yaitu  jaman batu. Alat masak ini tetap tidak tergeserkan walau sudah ada macam-macam blender, grinder, dan food processor lainnya.  Konon aroma masakan yang dihasilkan oleh gilingan mutu dan coét adalah lebih enak dan khas. Yang mengaku dirinya ahli masak belumlah lulus apabila belum bisa menggerus biji cabe sampai halus dengan mutu dan coét.

Di berbagai belahan dunia, setiap bangsa memiliki mutu dan coét dengan versi masing-masing.  Eh buat yang belum tahu apa itu mutu dan coét, mutu itu ulekan dan coét adalah….. pasangan ulekan!. Orang Meksiko menyebutnya dengan molcajete untuk coét, dan tejolote untuk mutu; berfungsi dengan baik untuk membuat guacamole, makanan khas Meksiko terbuat dari alpukat (iya alpukat yang sering kita buat jadi es pokat) yang dapat ditelusur asal-usul dan resepnya dari bangsa Aztec sejak tahun 1500-an. Tidak sulit membuat guacamole, alpukat digerus tapi tidak hancur, beri perasan jeruk nipis, irisan tomat dan garam, juga irisan cilantro; daun ketumbar, bila mau tambah lagi dengan jalapeno (cabe memeksikoan).  Jadi deh. Colek dengan keripik nachos.

Mutu dan coét, alias molcajete dan tejolote, alias mortar dan pestle, alias orallu kallu  ; orang menyebutnya begitu di India, dan suribachi dan surikagi bila di Jepang, adalah benda yang dalam mitos orang Sunda, bila ingin memiliki anak lelaki atau anak perempuan, bisa tukar menukar mutu dan coét. Jadi bila ingin anak lelaki tukarlah coet milik Anda dengan pemilik mutu yang menginginkan anak perempuan. Soal keberhasilan? Tentu saja tidak dijamin.

Di cerita rakyat Rusia, adalah tukang sihir bernama Baba Yaga , yang

Baba Yaga penyihir Tumpak Coet

menerbangkan dirinya dengan menaiki coet raksasa walau terkadang sih tetap dengan kendaraan konvensional tukang sihir yaitu sapu.  Mungkin dia naik coet kalau sedang bosan naik gagang sapu.  Hebat. Menerbangkan sapu saja sudah sangat sulit, apalagi menerbangkan benda terbuat dari batu yang ditinjau dari bentuknya saja tidak ada aerodinamiknya sama sekali. Tepuk tangan buat Baba Yaga.

gambar-gambar dari wikipedia.com

Read Full Post »

Salon Keliling

Kalau jaman jadul dulu (ih redundan) sih, ada yang namanya onder de boom atau “DPR” alias Dibawah Pohon Rindang, yaitu tukang cukur yang mangkal di bawah pohon yang rindang. Jaman sekarang pun masih ada tentu saja. Namun sudah amat jarang. Mungkin karena pohon rindangnya juga sudah banyak berkurang. Ada pula onder de brug yaitu tukang cukur di kolong jembatan.  Konon tidak hanya mencukur rambut, para tukang cukur bawah pohon dan bawah jembatan  ini juga ahli membersihkan lubang telinga dan membersihkan lubang hidung.  Bicara tukang cukur, jadi ingat film Tim Burton Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street, maklum ada kekasih saya sepanjang masa, si ganteng pujaan hati; Johnny Depp tea.

Jaman jarang (jaman sekarang) sih (hihihi tetap redundan), yang namanya tukang cukur sudah beraneka ragam bentuk rupanya. Untuk para perempuan, biasanya ya nyalon sekalian nyepa. Salon dan Spa dimana-mana menyediakan perawatan menyeluruh dari ujung rambut sampai dengan ujung jempol. Untuk pria, biar tidak terlalu genit namun tetap bergaya metroseksual, mungkin bercukurnya  di barber shop. Trivia quiz:  apa sih bedanya berpotong rambut di salon dan di barber shop?.

Saya tergolong pemalas untuk urusan perawatan rambut. Memotong rambut pun seadanya. Kadang-kadang malah begitu saja memotong ekor kuda saya dengan gunting kertas dari laci kantor apabila sudah berpikir kepanjangan. Malas ke salon ini tidak untuk alasan apa-apa. Cuma tidak betah saja berlama-lama di tempat seperti itu. Kalau banyak perempuan seperti saya, maka bangkrutlah Vidal Sassoon.

Untunglah saya dipertemukan dengan tukang cukur keliling. Satu hari Minggu saja, seluruh anggota keluarga bisa dia garap dari urusan potong rambut, hair mask, creambath, sampai dengan pijit.  Untuk yang tidak mementingkan model rambut Harajuku atau model jingjet alias asimetris ala BCL (wait! emang BCL rambutnya asimetris?), mas Wisnu ini cukuplah.  Lima ribu rupiah untuk potong rambut, sepuluh ribu untuk krimbat, dan limabelas ribu untuk massage yang wadaw…! biarpun sakit tapi enak banget. Lagipula mas Wisnu ini bisa ditelepon dan kita membuat janji di hari dan jam yang kita mau.  Di hari Minggu berhujan-hujan pun, dia datang dengan berpayung. Ceria dengan tas besarnya yang penuh dengan peralatan.

Menurutnya daripada buka salon yang butuh modal puluhan juta dan perlu tempat strategis (dengan kemungkinan duduk bosan menunggu pelanggan datang), menurutnya delivery service macam ini lebih menyenangkan dan tidak butuh modal banyak, lagipula terbukti banyak pelanggan puas yang menjadi langganan tetap.

Read Full Post »

Dan ramah tumbila. Alias kutu busuk. Bantal guling kasur ramah lingkungan adalah yang berisi kapuk. Jangan main-main dengan pohon kapuk ini, bangsa Maya di Amerika Latin dahulu sangat menghormati pohon randu yang disebut Ceiba ini. Guatemala dan Puerto Rico bahkan menjadikannya sebagai pohon nasional. Namun pohon ini tidak membawa keberuntungan bagi Raja Aztec Cuauhtemoc, dia mati digantung oleh Hernan Cortes dari Spanyol di pohon randu.

Ceritanya begini, oleh karena ada Metro Big Sale di Bandung Super Mall di minggu-minggu ini, saya ikutan nyeklok kesana bersama teman-teman kantor. Sepulangnya saya bergembira karena mendapatkan diskon 70% untuk sebuah bantal tidur. Oh jangan kira karena diskon saya jadi ngeborong bantal dan segala asesoris tidur teman-temannya. Karena saya egois, saya hanya membeli satu saja kok. Rencananya ya untuk saya sendiri tidur. Bantal yang saya beli terbuat dari bahan microfiber. Yang artinya terbuat dari apa saya juga tidak tahu. Kalau dari bentukan kata; micro berarti keciiiiiil banget, dan fiber artinya serat. Microfiber…serat yang keciiiiiiil banget….jelasnya mah teuing hehehe saya lagi kebluk googling.

Berhubung saya bangga banget punya bantal baru, saya menelepon Abiwara untuk cerita soal bantal ini. Ya ya ya, beli bantal adalah topik yang  engga penting. Tapi dengan dia topik apapun bisa menjadi penting, kami sering membahas apple pie dengan metode pembuatannya dan juga macam-macam resep di http://www.applepie.org saat kami berlatih kata di dojo tempat kami berlatih iado. Topik yang penting bagi pencinta makanan namun sama sekali tidak berhubungan dengan shinken. Kecuali bila memang kami bermaksud menebas kue pai apel dengan katana, yang tentu saja tidak mungkin terjadi.

Saya bercerita bahwa macam-macam diskon itu tidak hanya untuk bantal dengan isian dari bahan dacron, namun juga untuk bantal berisi bulu angsa yang sudah didiskon 70% pun masih tetap mahal, sekitar enam ratus ribuan rupiah.  Buat saya yang sebetulnya menyukai bantal lepek berbau aneh hasil tidak dicuci bertahun-tahun, bantal bulu angsa itu luar biasa kemahalan.  Lagi pula, kata saya pada teman saya, berapa banyak angsa yang digunduli untuk satu buah bantal saja.  Langsung terbayang oleh saya angsa-angsa tak berbulu yang kedinginan.  Menurut Abi sih, angsa tersebut tidak keburu mondar-mandir gundul mereka pasti sudah jadi bahan makanan. Tapi daging angsa menurut saya sih jarang ditemukan pada menu makanan, kecuali mungkin hatinya doang yaitu menjadi ‘pate de fois gras‘.

Akhirnya pembahasan kami sampai pada satu topik terpenting, yaitu bantal guling kasur ramah lingkungan yaitu yang berisi kapuk, alias randu.  Membicarakan kapuk, menjadikan saya langsung merindukan kasur berisi kapuk.  Bau kasur kapuk yang dijemur itu enaaaaak sekali. Di hari panas yang bermatahari cerah, menjemur kasur di halaman sambil menggebuknya agar menggembung adalah kegiatan yang mengasyikan.  Apalagi setelah itu kita bisa jungkir balik di atas kasur kapuk yang hangat sehabis dijemur.  Tapi rasanya jarang sekarang kita bisa menemukan kasur kapuk yang dibungkus kain belang-belang meriah itu.  Mungkin di pasar tradisional masih ada. Suatu hari nanti saya akan membeli bantal guling kasur berisi kapuk itu lengkap dengan penggebuknya.

Untuk bernostalgia.

Gambar penggebuk rotan kasur saya ambil dari http://pandasurya.files.wordpress.com, buat mas/mba yang punya gambar, punten ya saya ngambil tanpa ijin.  Minta ijinnya disini saja ya, semoga diijinkan. Terima kasih sebelumnya.

Read Full Post »

Judul-judul Film

Bila saya berada di fancy restaurant  (yang sebenarnya sangat sangat jarang terjadi), saya senang membaca buku menu dan mengamati judul sebuah makanan, dan bagaimana makanan tersebut dibumbui dan dimasak. Sungguh menarik. Membacanya pun menyenangkan. Konon, tidak ada yang mengalahkan gaya Perancis dalam mendeskripsikan sebuah menu. 

Hubungannya dengan judul film? Nah itu dia, terkadang kita menilai isi dari judul.  Sedangkan beberapa judul-judul film yang ada sekarang, sungguh menghilangkan selera. Il-ang Feel-ing banget dah.  Rupanya setelah membuat judul aneh dan saya yakin tidak nyambung dengan cerita,  yaitu “Hantu Puncak Datang Bulan” (siapa yang di puncak dan siapa yang datang bulan sungguh tidak jelas), produser rupanya masih gatel untuk bikin judul aneh. Aneh disini yaitu dalam artian norak yang bombastis.  Baru-baru ini muncul lagi di ranah perfilman Indonesia  “Dendam Pocong Mupeng”.

Dan melihat tubuh telanjang ataupun setengah telanjang (apapun itu) Andi Soraya yang kemungkinan berselulit disana-sini, adalah hal terakhir yang saya ingin lakukan.

Ditulis saat berpikir bahwa  proses pembodohan massal itu tidak hanya melulu  oleh mecin.

Read Full Post »

Buat saya kenapa menggunakan bank Syariah jawabannya sederhana. Karena bank Syariah itu ada dan memberikan layanan yang baik dan menetapkan persyaratan mudah dalam banyak aspek. Karena kita perlu menabung dari sebagian penghasilan kita untuk sewaktu-waktu diperlukan apabila ada kebutuhan. Dan apabila saya menempatkan dana di suatu lembaga keuangan, saya hanya perlu yakin bahwa lembaga tersebut menjalankan suatu usaha dan perputaran dana yang tidak bertentangan dengan agama yang saya anut.  Hanya sesederhana itu. Saya tidak memikirkan bunga, tidak memikirkan bagi hasil, tidak memikirkan keuntungan, tidak memikirkan undian. Kalaupun bank Syariah memberikan pembagian keuntungan bagi hasil, itu sekedar nilai tambah, atau value added service bagi saya.

Selanjutnya mengenai fasilitas dan kemudahan urusan perbankan, saya pikir Bank Syariah telah memberikan layanan prima dalam banyak aspek. Simpanan dana pihak ketiga dalam bentuk tabungan dengan prinsip syariah adalah Wadiah Dhamanah.   Wadiah adalah dimana penerima titipan (dalam hal ini bank) dapat memanfaatkan harta titipan tersebut dengan seizin pemilik yaitu nasabah dan bank bertanggungjwab untuk menjamin dan mengembalikan titipan tersebut secara utuh setiap saat, saat si pemilik menghendakinya. Wadiah dhamanah, adalah bahwa pihak yang dititipi (dalam hal ini bank) memiliki tanggung jawab atas keutuhan harta yang dititipkan sehingga bank itu sendiri boleh memanfaatkan harta titipan tersebut.  Tabungan Bank Syariah dapat diambil setiap saat, dan tidak ada imbalan sebagai syarat, kecuali dalam bentuk pemberian bonus yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Saat ini bank Syariah beberapa bank di Indonesia memberikan pelayanan perbankan yang tidak kalah dengan bank konvensional.  Kartu ATM dari bank Syariah dapat dipergunakan untuk tarik tunai di banyak ATM Bersama di Indonesia dan juga ATM Visa Plus di seluruh dunia.  Kartu ATM pun dapat digunakan sebagai kartu debit untuk berbelanja, isi ulang telepon selular, pembayaran bermacam-macam tagihan, dan transfer dana antar rekening bank yang tergabung dalam jaringan ATM Bersama dengan biaya relatif rendah. Bank Syariah dimana saya sebagai nasabah, pada saat ini pun memberikan ketentuan dan tarif yang mudah dan relatif rendah.  Bahkan biaya administrasi rekening dan biaya administrasi kartu per bulan pun bebas biaya.  Autodebet zakat penghasilan pun dapat diajukan sehingga memudahkan bagi nasabah dalam urusan zakat dan memberikan ketenangan akan harta yang akan kita gunakan telah bersih dari kewajiban yang harus dipenuhi dalam ketentuan zakat.

Tentu masih banyak keraguan bagi para calon nasabah mengingat banyaknya Bank Syariah yang menginduk pada Bank Konvensional, apakah pengelolaan dana di kedua bank tersebut yang memiliki induk sama tersebut tercampur baur dalam pengelolaannya. Saya berpendapat bahwa edukasi dari pihak perbankan sendiri dan komitmen dari pihak bank kepada nasabah adalah penting bagi nasabah untuk menghilangkan keraguan dan rasa was was akibat masalah tersebut.  Adanya iming-iming hadiah berupa undian dari pengelola bank induk untuk pembukaan rekening dan peningkatan tabungan di bank syariahnya saya pun berpendapat bahwa hal tersebut kurang baik untuk promosi. Walaupun bank menerangkan bahwa hadiah tersebut tidak diambil dari keuntungan pengelolaan dana nasabah.  Saya pikir edukasi dari manfaat dan keamanan pengelolaan bank syariah lebih penting daripada iming-iming sekedar undian yang malah memberikan keraguan akan komitmen bank tersebut dalam menjalankan syariat agama Islam.

Kurangnya pemahaman masyarakat sendiri akan bank syariah adalah diakibatkan karena kurangnya pemahaman akan manfaat bank syariah itu sendiri. Informasi yang minim mengenai istilah perbankan yang digunakan dalam bank Syariah kerap membingungkan nasabah yang tidak semua mengerti bahasa Arab. Sosialiasi dan pemberian wacana pemahaman yang informatif sangatlah penting agar bank Syariah dapat berkembang dengan baik di Indonesia.

http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/03/26/catatan-pribadi-tentang-perbankan-syariah/

Read Full Post »

Hijaulah Rumahku Hijaulah Bumiku

Mencintai lingkungan hidup dan melestarikan sumber daya alam harus dimulai sejak dini. Mengapa? Karena generasi muda adalah penerus. Mereka akan melanjutkan kehidupan selanjutnya dari apa yang kita wariskan sekarang.  Bumi yang kita tempati adalah anugerah dari Tuhan yang wajib kita jaga, kita pelihara, dan kita cintai. Tentu kita tidak ingin mewariskan kondisi alam yang rusak kepada anak cucu kita nanti. Bumi tempat tinggal kita adalah tempat untuk kelangsungan hidup anak cucu generasi mendatang. Tak hanya milik umat manusia namun juga milik seluruh mahluk ciptaan Tuhan.

Bagaimana agar kita peduli apa yang terjadi pada bumi sekarang ini? Bagaimana agar kita dan anak-anak kita sadar bahwa perubahan yang kita lakukan terhadap alam sekitar, terutama pada sumber daya alam, mengakibatkan perubahan pada iklim di bumi kita, pemanasan global, dan menurunnya kualitas elemen pendukung kehidupan kita; air, tanah, dan udara.  Pendidikan, kampanye, dan ajakan hendaknya dijalankan oleh semua elemen masyarakat, baik dari pemerintah, pendidik, aktivis dan masyarakat umum. Sehingga setiap unsur dari masyarakat mendapat pengetahuan tentang pentingnya pelestarian lingkungan, dan mengetahui dampak dari setiap perbuatan yang tidak bertanggungjawab pada sumber daya alam, akan mengakibatkan kesengsaraan bagi kita sendiri, dan warisan yang buruk bagi anak cucu kita nanti.

Mengajak anak di rumah untuk mencintai lingkungan dapat dimulai dengan menanam pohon bersama, memelihara bunga-bunga, menghemat penggunaan air dan listrik, serta membiasakan membuang sampah dengan memilah-milahnya, dan belajar membuat kompos.  Sambil memelihara tanaman, anak-anak dapat belajar mengenai pentingnya penghijauan.  Hubungan dengan pelajaran di sekolah, pendidikan agama, dan kecintaan pada lingkungan hidup dapat dibahas dan dilakukan beserta prakteknya dengan melakukan hal-hal di atas bersama-sama.  Merawat bersama-sama tanaman dan tumbuhan merupakan kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan dan dapat dilakukan bersama oleh setiap anggota keluarga.

Setiap hari libur, kami di  rumah membiasakan diri untuk merawat halaman dan kebun kecil kami, dimana terdapat pepohonan dan bunga-bungaan. Sambil bekerja, saya  memberitahukan nama-nama pepohonan, baik nama daerah maupun nama latin kepada anak-anak. Namun untuk menumbuhkan kreativitas dan rasa memiliki, jadilah pohon-pohon dan ikan-ikan di kolam kami, memiliki nama unik sendiri-sendiri.  Anak saya di rumah menamai pohon durian kami dengan nama Marjum, dia menyayangi pohon durian yang dia tanam itu dengan menyiraminya dan melakukan pemberian pupuk secara rutin.

Selain menanami halaman dengan pepohonan, mengajarkan anak untuk menghemat air dan penggunaan listrik, anak pun dibiasakan untuk membawa bekal minum ke sekolah dengan wadah sendiri. Kenapa? Agar tidak banyak sampah plastik yang dibuang dari pembelian minuman.  Sayang sekali di kota kami tidak ada counter pembelian air minum otomatis, dimana kita dapat membeli minum dengan memasukkan koin dan meletakkan wadah yang kita bawa pada keran yang mengucurkan air bening sesuai pembelian kita.  Bahkan lebih baik lagi apabila gratis.

Saya sendiri saat ini selalu berusaha untuk membawa kantung belanjaan sendiri untuk berbelanja, sehingga mengurangi plastik-plastik yang biasa diberikan pedagang untuk mewadahi belanjaan kita. Coba hitung berapa kantung plastik yang kita dapat dari sekali pembelanjaan ke pasar.  Plastik adalah musuh besar bagi lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai. Perlu ratusan tahun agar plastik dapat terdekomposisi.

Pemerintah telah menetapkan Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun tidak hanya pemerintah dan aktivis yang perlu pro aktif dalam pengelolaan sumber daya alam, saya yakin bahwa tanggungjawab memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan, melakukan penghijauan dan melestarikan alam, adalah tanggung jawab setiap individu. Kita semua memiliki tanggung jawab itu, sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warga dunia.  Dan kita pun bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak kita agar memiliki kesadaran tersebut agar terus berlanjut sampai generasi yang akan datang.

http://nokiagreenambassador.kompasiana.com/2010/03/24/hijaulah-rumahku-hijaulah-bumiku/

Read Full Post »

Biscotti Penghilang Kantuk

Setelah dulu pernah mengalami kesulitan mendapatkan tidur yang nyenyak dan berkualitas, alias insomnia, sekarang saya mengalami penyakit mengantuk berkepanjangan siang malam. Suami saya menyebut saya kebluk. Alias pemalas. Malam hari di rumah, pulang kantor setelah mandi dan makan dan bengong sebentar (padahal baru sekitar jam delapan atau sembilan malam), saya akan buru-buru mencari bantal, berselimut, dan tidur nyenyak sampai pagi.

Tidak hanya malam hari, di kantor pun sekarang saya seringkali mengantuk. Saya sampai kebingungan sendiri meletakkan kepala kudu dimana. Leher rasanya sudah tak mampu lagi menyangga kepala. Biasanya saya akan bolak-balik ke toilet cuci muka, menempelkan hidung di jendela melihat gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu, atau bolak-balik berjalan-jalan dari meja ke meja, mengganggu teman yang lain.

Sesiangan ini kembali saya mengantuk berat. Saya mencurigai saya pernah digigit lalat Tse Tse -si lalat penggigit yang membuat penyakit manusia menjadi tukang tidur, di suatu tempat di suatu waktu. Masalah si Tse Tse Fly hidupnya di tengah benua Afrika di antara gurun Sahara dan gurun Kalahari, saya tidak mau tahu. Bisa saja dia nebeng pesawat dari Afrika sana ke Bandung sini.  Ini kan jaman globalisasi.

Berbagai cara saya cari untuk menghilangkan kantuk yang menyiksa ini, saya berterimakasih pada Abiwara yang menemani saya browsing melihat-lihat Katana. Sebenarnya sih dia browsing di Jakarta, dan saya browsing di Bandung.  Ada bermacam-macam Katana berdasarkan jenis penempaan : Hanwei, Damascus Steel, Cold Steel, Dynasty Forge, Musashi, Masahiro, Imperial Forge…dan banyak lagi. Terutama saya menyukai Roiyaru Sanmai Katana jenis Thaitsuki Nihonto , tapi harganya…huehehehehe…

Saat kantuk sudah tak tertahankan – bahkan cuci muka sudah tidak menolong, teman saya mendapat kiriman sekardus Biscotti. Extremely freakin’ delicious! Saya mencicipi berbagai rasa: ada kayu manis + pala, jahe, keju, dan macam-macam lagi. Kantuk saya langsung hilang seketika! Mungkin saya sedang defisit gula darah, atau memang sedang hobi makan, sehingga obat kantuk saya ternyata adalah: MAKANAN!



Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »