Feeds:
Posts
Comments

imagesMembahas keunikan negara lain itu asik. Seperti misalnya siang ini saya memikirkan cabe-cabe Meksiko yang sedang saya tanam: Jalapeno, Habanero dan Serrano. Ah jadi pengen cepat pulang ke rumah . Saya senang melihat sebutir biji cabe mulai mengeluarkan akarnya yang kecil yang menusuk tanah gembur, lalu menyusul dua keping daun. Lalu merekah perlahan.

Jalapeno, siapa yang suka makan taco atau nachos? atau saus salsa dengan keripik jagung atau tortillas? Pastilah disana ada irisan cabe meksiko yang manis pedas, Jalapeno. Rasanya khas, tidak terlalu pedas menyengat.  Segar merangsang.

Jalapeno muncul dalam berbagai varian masakan Meksiko. Juga membawa ciri khas pada masakan Tex-Mex. Texas di Amerika sangat terpengaruhi oleh Mexico untuk kulinernya. Contohnya masakan Chilli con Carne. Makanan ini sangat tipikal Tex-Mex-nya.  Di Indonesia pun kerap kita menemukan masakan cabe masak kacang bersaus pedas dan tomat ini.  Kadang Jalapeno juga dibuat jelly dengan metode pengkentalan ala membuat selai. Juga jalapeno sering dibuat campuran minuman. Bahkan Jalapeno seringkali dijadikan jus untuk pengobatan alergi dan pengobatan penyakit jantung.

Jalapeno yang dikeringkan dengan cara diasapi dinamakan chipotle. Rasa khasnya dengan bau asap membuatnya menjadi saus yang khas untuk masakan tertentu. Misalnya chipotles en adobo, cabe asap kering yang dijadikan saus kental basah untuk merendam masakan daging. Daerah produsen chipotle yang terkenal adalah Chihuahua. Ya, ini sama dengan tempat asal anjing Chihuahua yang kecil mungil itu.

Jalapeno juga enak digoreng tepung, tepung yang digunakan adalah tepung roti atau panko, remah roti yang kasar. Dikeluarkan biji cabye, diisi dengan campuran daging dan keju. Ada juga tumisan jalapeno yang digulingkan dalam minyak sampai berkilau lalu diberi topping lelehan keju. Jalapeno Poppers adalah juga makanan cemilan yang digemari untuk menonton bola atau soccer, dibungkus dengan irisan daging asap, diisi keju krim atau keju cheddar.  Duh jadi pengen nyemil jalapeno!

Untuk Serrano, cabe yang bentuknya mirip Jalapeno namun lebih panjang dari Jalapeno yang buntet dan silinder, memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi dari Jalapeno. Sering digunakan untuk pembuatan campuran irisan segar tomat, bawang putih, alpukat, perasan air jeruk nipis, mentimun, lobak, daun cilantro, semuanya diris-iris dan dalam keadaan mentah. Kadang juga diberi irisan buah mangga segar. Nama campuran irisan ini adalah pico de gallo, yang berarti paruh ayam jantan. Jangan tanya saya kenapa dinamakan demikian. Sumpah saya engga tahu.

Paruh ayam jago ini enak disantap dengan totopos. Apakah itu totopos? totopos seperti halnya opak di Jawa Barat. Bentuknya bulat tipis dan renyah.  Sebetulnya mirip keripik jagung Tortilla, namun Totopos memiliki sedikit  campuran dari kacang hitam yang dihaluskan. Nama Totopos berasal dari kata tlaxcaltotopochtl.  Kata ini berasal dari kata tortilla, tlaxcalli, plus kata untuk petir. Campuran dari tiga kata ini bisa berarti  tortilla yang berisik sekali bila dikunyah.

Lain Jalapeno, lain Serrano, lain pula cerita Habanero walau sama-sama dari Mexico. Habanero adalah cabe pedas yang teramat seksi. Dia merah, pedas, beraroma sitrus dan memiliki wangi bunga-bunga. Menjadikan habanero cabe yang disukai untuk campuran minuman. Terutama sebagai campuran Tequila dan Mezcal. Mezcal adalah minuman keras khas Mexico lengkap dengan cacing hidup di dalamnya untuk menambah cita rasa dan warna minuman tersebut. Habanero pada tequila dan mezcal dicampurkan beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung selera untuk cita rasanya.

Seiring dengan meningkatnya penggunaan media online dalam segala aspek kehidupan manusia modern saat ini, membuat bisnis dan perniagaan pun banyak beralih ke media online. Berbagai cara dan media digunakan untuk menarik minat pembeli, sehingga beribu-ribu penjualan via media online dapat ditemukan saat ini di internet.

Bagi pengguna internet dan penjual via media online, sudah tentu diperlukan tools berupa website yang mumpuni untuk berjualan. Banyak ‘lapak’ yang ditawarkan penyedia online untuk berjualan, namun tak mudah mendapatkan yang benar-benar handal. Membuat website sendiri untuk berjualan juga merupakan pilihan. Namun hal itu tidak semudah membalik telapak tangan. Waktu dan biaya yang tidak sedikit diperlukan untuk membuat sebuah website berupa toko online yang cantik dan menarik. Belum lagi banyak yang ingin memiliki toko online, namun tentu saja memiliki keterbatasan untuk membangun website sendiri, apalagi secara tepat dan pas sesuai keinginan.

Toko online yang diharapkan penjual tentu saja toko online yang memiliki kapabilitas yang handal. Yang utama tentu saja toko online tersebut mudah dioperasikan, tidak rumit, tidak ribet, enak dilihat, memiliki fitur lengkap untuk berjualan, juga mudah navigasi serta menarik minat pembeli dengan kemudahan pemilihan barang, pembelian dan pembayaran. Toko online yang dibuat dengan baik dengan tampilan menarik tentu saja merupakan aset berharga bagi penjual online.

Saya sendiri berpengalaman dan berjualan secara online. Sudah lama saya ingin memiliki website sendiri namun apa yang saya punya sekarang kurang sesuai dengan keinginan saya juga tampilannya tidak terlalu menarik. Untunglah saya menemukan jejualan.com

Hari gene ga punya website sendiri buat jualan? Kok kedengerannya rada gimana gitu ya. Kurang keren. Soalnya kalau punya website sendiri tentu saja akan lebih terlihat profesional dalam menjalankan bisnisnya. Lagipula penghasilan dari bisnis online alias berjualan di internet ini bukan main-main hasilnya. Saya juga merasakan sendiri. Memiliki bisnis online sangat menguntungkan dari berbagai aspek. Salah satu yang paling utama adalah bisa dipantau dimana saja. Tidak membutuhkan tempat yang besar dan mahal untuk lapak, serta sangat praktis. Tentu saja bisnis online juga membutuhkan kepercayaan yang tinggi antara pembeli dan penjual. Memiliki website yang dikelola secara profesional juga adalah salah satu bukti untuk meraih kepercayaan pelanggan.

Gilanya jejualan.com adalah tingkat kepraktisannya. Dalam waktu 20 detik saja kita sudah bisa menset-up alias memulai sebuah toko online yang cakep banget. Saya mencobanya sendiri untuk toko online saya. Awalnya saya menyangsikan apakah orang gaptek seperti saya bisa mensetting sebuah toko online yang bagus. Ternyata menggunakan jejualan.com untuk lapak berjualan online semudah membalik telapak tangan. Ga percaya? Yuk mari kita lihat langkah-langkah yang dilakukan untuk membuka toko online di jejualan.com

Screenshot_2013-02-21-23-15-10

Pertama Anda bisa membuka website http://jejualan.com dan langsung dapat mendaftar untuk mencoba fitur-fitur yang ditawarkan untuk membuka sebuah toko online. Langkah-langkahnya mudah, sebagai berikut:

Di kolom pendaftaran masukkan nama Anda, e-mail yang anda gunakan untuk konfirmasi dan keperluan administrasi pendaftaran, no telepon anda, juga nama Toko yang Anda inginkan. Ada dua paket yang ditawarkan, paket Gold sebesar Rp 60.000 per bulan dan paket Platinum sebesar Rp 200.000,- per bulan. Anda dapat memilih paket yang manapun yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan bisnis Anda. Nah untuk mencoba fitur-fitur dan fasilitas yang disediakan oleh Jejualan.com ada waktu untuk mencoba selama 15 hari dimana Anda bisa menjelajah layanan yang ditawarkan oleh Jejualan.com.

Screenshot_2013-02-21-23-17-01

Saya sendiri telah mencoba membuka lapak di jejualan.com sangat kebetulan saya pun sedang mencari toko online untuk bisnis saya. Sudah lama saya merindukan website yang memudahkan saya untuk berjualan secara online. Namun tidak ribet!.  Maklum saya kan sedikit gaptek walau kadang tidak mau mengakui.

Yang saya suka banget saat mencoba fasilitas di jejualan.com, saat saya mengupload foto-foto barang dagangan saya juga memasang harga dan stok barang, semuanya dapat saya lakukan dengan mudah.

Demikian juga dalam menyiapkan no rekening bank yang saya gunakan untuk pembayaran. Tampilan website dagangan saya tampak profesional dan cantik.

Saya juga sangat suka daftar biaya pengiriman melalui kurir dapat ditampilkan oleh jejualan.com sehingga memudahkan saya dan pelanggan untuk bertransaksi. Tanpa pusing dengan ongkos yang mesti dihitung, karena dapat dimunculkan secara otomatis.

Oh ya bila berlangganan di jejualan.com ini kita tidak perlu lagi membayar biaya domain dan hosting lagi. Karena sudah termasuk dalam paket. Ada diskon juga lho! bila berlangganan langsung untuk satu tahun, maka akan mendapat potongan pembayaran sebesar 10%. Menarik.

Selain itu untuk lebih mengkontrol penjualan, sms otomatis akan terkirim atas semua transaksi kepada kita dan kepada pelanggan. Report sms ini akan memudahkan kita untuk melakukan konfirmasi atau menfollow up suatu penjualan walaupun kita tidak sedang mantengin website kita.

Dengan adanya website yang profesional dan juga marketing tools yang lengkap, akan memudahkan pelanggan mencari produk yang kita jual, Search Engine Optimization (SEO) yang dilakukan oleh jejualan.com akan menampilkan lapak jualan kita di halaman utama mesin pencarian, sehingga kesempatan kita untuk bersaing dalam penjualan online akan lebih ke depan dibanding para pesaing.

Customer Support dari jejualan.com pun sedia 24 jam sehingga apabila ada trouble atau butuh bantuan bila ada hal-hal yang berhubungan dengan lapak kita yang kita merasa sulit atau bermasalah, dapat dengan mudah menghubungi jejualan.com di jam berapapun.

Kalau saya pribadi, yang paling saya suka setengah mati dari jejualan.com ini kemudahan dalam membuat katalog produk, beneran deh! Gampang banget. Belum lagi pilihan template yang ada bermacam-macam. Dapat disesuaikan temanya dengan produk kita. Pokoknya jadi cool, dan keren abis. Buat yang gaptek pun tidak akan ketahuan lagi gapteknya. Buat yang ingin tampil profesional, juga ini saatnya. Saya sendiri sudah membuktikan kok.

Berapa Harga Integritas

Malam-malam tak kunjung pejam ini bikin pikiran melayang mencari topik yang sekiranya bikin ngantuk. Dan karena berita yang berseliweran di sosial media masih berkutat di hal-hal yang itu-itu saja, mau tidak mau jelang dini hari ini topik pikiran menjadi ke situ-situ juga, walau kadang saya suka terjerat pada pola kelakuan tiga monyet bijak, yang kerap kita dengar sebagai frasa ’see no evil hear no evil speak no evil’, yang terjemahannya oleh bule sering disamakan dengan ‘turning a blind eye”, cuek pada segala sesuatu informasi yang males untuk dilihat, didengar, dan ikutan ngomong. Tapi tak urung, kadang gatal ini membuat ingin berpendapat.

Ini soal integritas. Ada yang bilang bangsa ini krisis integritas. Seperti kelangkaan BBM saja. Integritas yang harusnya sudah bawaan orok menjadi barang langka. Emang pada bocor kemana integritas kita ya.

Bicara soal integritas, saya jadi ingat pakta integritas. Lembaran kertas yang harus saya tandatangani setiap saya mengikuti suatu negosiasi untuk suatu pengadaan. Bertahun-tahun saya bekerja, saya sudah lupa berapa reem kertas habis dicetak, ditandatangani dan diarsipkan (untuk kemudian jarang dibuka kembali), yang mencantumkan nama saya dan tandatangan saya yang mirip cakar angsa.

Saya berandai. Bila satu lembar pakta integritas bernilai taruhlah kurang lebih Rp 100 juta, untuk 3000 lembar kertas saja sudah bernilai 3000 x 100 juta (eh berapa lembar duit itu ya? malam-malam berhitung itu melelahkan). Kalikan sekian persen, mungkin itulah harga integritas saya. Ini kalau kita mau itung-itungan integritas dengan lembaran rupiah.

Waktu pertama aturan melampirkan pakta integritas ini dibuat, saya suka lantang bicara kepada orang-orang di sekitar saya yang kadang cuma melongo (memang saya orangnya berisik), “Integritas ini percuma saja kalau dicetak dan ditandatangani, ga ada gunanya. Yang penting niat orangnya. Berapa pohon kita tebang buat dijadikan kertas integritas ini, kalau kelakuan kita masih saja ijo liat duit,* yang penting nih hati”. Kata saya, sambil menunjuk dada sendiri. Padahal sih mungkin saja saya cuma malas ngeprint. Kepingin gaya aja teriak-teriak soal integritas.

Tapi bukan itu yang ingin saya majukan ke depan sekarang. Lalu kalau integritas tidak bisa dipagari dengan lembaran kertas, dan ribuan jajaran KPK, terus siapa yang patut disalahkan buat kebocoran integritas sampai bikin bangsa ini krisis yak?. Paling bolak-balik lagi ke faktor ajaran orang tua dan faktor lingkungan. Terdengar cliche. Tapi nyata. Siapa lagi yang bisa mengajarkan integritas selain ayah dan ibu. Juga kita sendiri pada anak-anak kita.

Mengajarkan untuk tidak makan lima ngaku satu di warung penjual gorengan. Mengajarkan untuk harga diri kita jangan ditukar dengan selembar kertas contekan pas ulangan. Mengajarkan bahwa di balik bangsa yang besar, ada ibu-ibu yang berotak encer yang tidak panas melihat tetangga punya tas Hermes baru. Sudahkah kita jadi orang tua yang benar dalam mengajarkan integritas? Jangan-jangan generasi berikutnya bangsa ini bukan krisis integritas lagi. Tapi minus integritas.

*duit yang bukan hak kita, kalau yang hak sih saya tetep ijo

Jari yang Paling Efektif

Suatu siang saya asik membaca di ruang tamu sambil mendengarkan percakapan dua anak bengal kakak beradik. Tumben pada akur. Biasanya seperti anjing tetangga dan kucing saya. Sama-sama ga tahan kalau lihat pihak lain lagi damai dan anteng.

“Mas, mas kalau ngupil suka pakai jari yang mana?” si adik bertanya, sambil sibuk mewarnai sesuatu

Kakaknya yang sedang memasang senar gitar dan menyetemnya menjawab santai, “Yang kelingking dong, kan kecil. Jadi bisa jauh daya jangkaunya. Emang Dede pakai jari yang mana?”

“Yang jempol, soalnya kan jempol gede. Pas banget di lubang hidung. Jadi enak bersihinnya”

“Ih tapi kan susah, ga bisa dalam masuknya”

“Tapi kalau jempol, kan ga keliatan ngupil banget, bisa pura-pura keliatan kayak lagi nyubit cuping hidung”

“Aku sih masih tetap enak pakai kelingking,daya jangkau dan putarannya lebih enak, coba deh bandingin”

“coba aja sendiri pakai jempol…”

“Ah ga mau, kita tanya Emak aja yuk”. Rupanya dua-duanya sepakat.

“Maaakkkkk…. kata Emak enak ngupil pakai jari yang mana??”

Sambil meletakkan buku dan memandang ga sabar pada dua anak yang berdiskusi tidak penting ini saya menjawab,

“Aku bersihin di kamar mandi di wastafel, pakai tissue. Ga pake acara kamuflase segala dan ga di depan orang!”

Kata saya galak dan judes. Mereka berdua ngakak.

1361030336720796078

source pic: studyinjogja.com

 

Saya tidak bisa duduk lama di dalam kelas. Kelas apapun. Dari TK sampai sekarang. Duduk lama membuat saya bosan dan blingsatan. Pantat akan terasa panas, gelisah, dan mata berkunang-kunang. Apalagi bila belum sarapan. Lengkap sudah penderitaan.

Saya langganan kena timpukan. Baik dari guru di depan kelas maupun teman yang tidak ikhlas, melihat saya mengantuk.  Untunglah saat sudah menginjak usia pertengahan..ehm matang, seperti saat ini, tidak ada pembicara di depan saya yang tega menimpuk saya lagi. Paling dengan sopan menyilahkan saya membuat kopi, atau mengganti topik. Mungkin muka bantal saya jadi indikator bagi si pembicara, bahwa jam istirahat atau coffee break sudah di depan mata.

Eh jadi untuk Anda yang suka berbicara di depan kelas atau di depan peserta sebagai trainer atau pembicara, ini tips-tips bagi Anda menghadapi pembosan seperti saya.

    • Ringkaskan slide presentasi Anda dalam 5 lembar slides saja dan maksimal 7 slides. Itupun harus  sudah dengan dengan halaman pembuka dan ucapan terima kasih.

     

      • Buat per halaman resume singkat dengan huruf besar-besar. Slide yang interaktif memungkinkan dengan sedikit musik dan animasi, tapi jangan over. Nanti saya malah asyik melihat pop up huruf yang nongol, bukan pada materi.

       

        • Bila harus menyajikan data, jangan sekali-kali memadatkan data dan statistik tersebut dalam sebuah slide dengan huruf kecil-kecil mungil. Sumpah deh ga keliatan! Lagian saya sering lupa engga bawa kacamata. Bila data tersebut penting, sajikan saja dalam kertas yang diprint, dan dibagikan kepada peserta. Atau bila ingin irit penggunaan kertas, bagi data digital tersebut kepada peserta. Jaman sudah canggih kan.

         

          • Jangan membelakangi saya, eh kami para pendengar setia Anda. Bagaimana caranya Anda harus selalu menghadap ke arah kami. Jangan asik sendiri, jangan sibuk berkutat dengan laptop, dan jangan berbicara menggumam.

           

            • Jangan sesekali merendahkan audience Anda, dengan berkata, “saya sengaja membuat presentasi dalam bahasa Indonesia, karena kalau bahasa Inggris, takut engga pada ngerti”. Okelah kalau maksudnya melucu. Tapi kok ga lucu ya.  Walau bener juga sih, kalau bahasa Inggris atau Perancis, saya ga akan ngerti, perlu tiga kali terjemah di otak saya soalnya, dari Inggris ke Indonesia, baru ke bahasa Sunda. Memakan waktu untuk proses.
            • Bila memungkinkan, perbolehkan kami untuk mendengar presentasi sambil minum kopi dan mengunyah makanan kecil. Kalau bisa buah-buahan. Bayangkan, bila seharian meeting dan presentasi, sementara hidangannya adalah gorengan dan makanan-makanan manis. Satu minggu dibeginikan akan membuat saya harus lari keliling lapangan bola beberapa kali untuk menurunkan berat badan.

            Demikian saran untuk teknik presentasi bagi Anda, yang suka presentasi, siapapun Anda.

            from Bandung with Love

            Ga terasa saya sudah bekerja 17 tahun di perusahaan dimana saya bekerja sekarang ini. Lama juga ya? *ngeri sendiri*. Pertama bekerja dulu saya tidak punya gambaran akan berapa lama saya akan bekerja di suatu perusahaan. Bahkan saat wawancara saya ditanya apa cita-citamu bekerja di perusahaan ini? Saya jawab dengan mantap, tenang, dan jelas,” saya ingin punya rumah dan memelihara anjing Siberian Husky, pak!”. Jawaban yang sederhana, simpel, namun babar blas tidak nyambung. Namun agak lebih baik dibanding jawaban teman saya yang sama bekerja dengan saya, karena dia menjawab, “Ingin punya longyam* dan berwiraswasta, pak!”. Lah kalau ingin berwiraswasta ngapain ngelamar di korporasi ini?  Namun anehnya kami berdua diterima. Mungkin jawaban kreatif adalah salah satu syarat utama.

            Biasanya setiap tahun di bulan Desember saya memang menulis catatan atau ngeblog, menceritakan kesan dan pesan (juga cita-cita) persis seperti buku kenangan jaman dulu ya, selama bekerja kantoran ini. Tahun kemarin terlewat deh, baru nulis sekarang. Kelupaan gara-gara sibuk dengan pemilihan gubernur Jabar (ga nyambung, wong saya bukan tim sukses siapapun).

            Masih segar dalam ingatan saya, saya dulu yang berumur 22 tahun, masih imut lah, melamar kerja dengan berbekal semangat belaka. Karena posisi yang saya lamar tidak ada hubungan dengan latar belakang pendidikan. Soal psikotest rupanya saya lewati dengan sukses, mungkin berkat gumaman lagu Bon Jovi di mulut saya mengganggu konsentrasi peserta lain sehingga nilai saya lebih baik dari mereka. Juga soal sebanyak 10 isian, yang saya isi cuma 4 itupun ngarang, sepertinya mendapat skor yang bagus karena saya menulisnya dengan huruf ukiran yang manis.

            Pas wawancara juga saya mungkin mendapat nilai plus di mata pewawancara saya, karena saya berani ngajak taruhan si pewawancara disaat saya ditanya berapa komposisi presentase saham para pemilik perusahaan yang saya lamar ini, saking yakinnya dengan  masing-masing presentase komposisi saham yang sebenarnya saya baca di buku kuning telepon.  Apalagi saat diledek gaya bicara saya yang sedikit ngapak dan juga berlogat sunda medok. Saya bangga sekali menjawab kalau saya memang orang kampung. Tepatnya kamseupay. Kampungan sekali udik payah deh lu…. (I curse you Marissa Haque! emang kenapa kalau jadi orang kampung?).

            Saya belajar dari banyak orang disini. Memang di setiap tempat, bertemu orang, di sudut pasar dimanapun, kita akan selalu belajar. Hidup adalah belajar kali yee. Saya ingat atasan saya pernah berkata, mengapa dia betah bekerja di perusahaan yang sama berpuluh tahun. Jawabnya buat dia bekerja adalah passion. Dan ini passionnya. Itulah sebabnya dia tahan bolak-balik ke Surabaya setiap minggu naik kereta api, karena dia mutasi ke Surabaya dan keluarganya di Bandung. Juga atasan saya lainnya, saat saya tertukar memasukkan surat ke dalam amplop, dia hanya menatap saya dan berkata “Kamu sudah bosan makan nasi?”. Katanya sarat makna.

            Ah hidup. Semoga dalam hidup ini saya menemukan selalu passion saya. Sampai nanti di garis mati.  Selamat hari jadi ke 17 untuk diri saya sendiri. Sweet seventeen.

            *longyam: balong hayam. kandang ayam untuk menternak ayam yang dipasang di atas kolam ikan. kotorannya untuk pakan ikan

            Fuck off…

            Kadang aku ingin berlari dalam kesendirian melintasi hutan melintasi padang, dan hanya ajak bicara anjing yang menyalak garang. Dalam gila matanya aku tahu dia mengerti pedihku. Kami sama-sama pernah tersepak dan menyelipkan buntut di antara kedua kaki belakang dan terkaing-kaing. Namun sahabat terakhirku sudah pergi. Kini kembali aku disini menatap sekeliling dengan nanar. Apakah aku terjebak atau hanya ilusi.

            Ini tentang kesendirianku.

            Kucari-cari dalam diam. Namun juga dirimu juga terlalu banyak berubah warna. Kelam dan abu-abu seperti warna hujan di penghujung senja tanpa cercah cahaya. Kadang ledakan marahmu memerah mengobar angkasa. Aku terduduk di sudut dan memeluk lututku. Bertanya-tanya aku kah penyebab warnamu ataukah orang lain yang aku tidak tahu.

            Ini tentang dirimu.

            Tersenyum saat orang berkata mengapa aku selalu ceria. Dia tak tahu bahwa luka-luka sudah berkarat ada juga yang borok dan bernanah. Dosa tak tertanggung yang harus kuhadapi kelak entah seperti apa. Dan biarlah saat ini aku hadapi sisa hidup dengan tawa. Karena saat pedang itu tiba memancung kepala, sudah tak akan ada lagi senyum di bibir tersisa.

            Ini tentang hidupku.

            I Hate Drama Queen

            **Lagi sebel sama si Ratu Drama

            Kalau saya mendengar kata Drama Queen yang terbayang oleh saya bukan sosok femme fatale, baca: fam fatal, sosok wanita misterius dan ‘seductive’, tapi malah membayangkan Red Queen di film Alice in Wonderland dengan sutradara Tim Burton. Yang kepalanya besar seperti lampu bohlam dan melembung seperti umbi talas. Kejam dan jahat.osok wanita misterius dan ‘seductive’, tapi malah membayangkan Red Queen di film Alice in Wonderland dengan sutradara Tim Burton. Yang kepalanya besar seperti lampu bohlam dan melembung seperti umbi talas. Kejam dan jahat.

            Padahal bukan gitu sebenarnya gambaran dari Drama Queen. Drama Queen adalah seseorang yang mengeluarkan emosinya dengan berlebihan dan dengan cara yang dramatis. Kadang tidak proporsional dengan keadaan sebenarnya. Eh saya juga sepertinya kadang begitu sih. Sekali waktu mungkin saya pernah mencoba menjadi Drama Queen. Saat seseorang menyakiti  saya, saya akan menjadi sangat sensitif. Lalu mencoba menjadikan diri saya sebagai korban yang lucu tak berdosa. Innocent victim gitu deh. Mencari-cari alasan pembenaran diri saya. Lalu mulai menyalah-nyalahkan orang lain. Memperlihatkan betapa saya ini telah tersakiti, diperlukan tidak adil dan dirugikan oleh sistem.

            Apa tuh istilah yang happening saat rame-rame kasus bank Century?  oh ya, dampak sistemik. Entah siapa ya yang jadi Drama Queen disana.

            Saya, atau orang lain yang bersikap demikian, mungkin berbuat seperti itu terutama untuk mencari perhatian. Dan yang terutama memperoleh simpati. Banyak orang yang mendramatisir sesuatu untuk memperoleh simpati ini. Dengan menempatkan diri sebagai korban yang walau tidak imut dan lucu, setidaknya pembelaan dan juga perhatian, dari orang-orang sekitar  tentu akan berdatangan. Politikus senang memainkan peran sebagai Drama Queen ataupun Drama King. Bila menjadi pihak yang terlihat terzolimi, maka akan mudah mendapat simpati dan dukungan. Akibatnya menangguk suara akan mudah pada saat pemilu. Terbukti saat PDI-P menjadi pihak yang terlihat diperlakukan tidak adil. Terbukti, menang kan saat Pemilu?.

            Moga-moga Bapak Presiden kita tidak termasuk ke dalam Drama King, walau senang bernyanyi dan mirip dengan bapaknya Nobita (lho apa hubungannya?).

            Beberapa teman saya temukan pernah menjadi korban sang aktris Drama Queen. Ratu jejaden ini senang sekali mengeksploitasi pasangannya. Pernah teman saya kalang kabut meninggalkan pekerjaan, karena pacarnya si ratudangdut drama meradang dan mengancam akan bunuh diri gantung diri di pohon toge. Pas disamperin dengan bela-belain naek kereta  pake acara berdiri pula, tau-tau pas datang si ratu drama sandiwara radio itu lagi enak-enakan nyalon. Nah lho. Herannya pas saya bilang si cewek itu adalah tukang pencari perhatian kelas gerimis bubar, cowoknya masih saja membelanya. Sampai akhirnya kepentok sendiri beberapa kali. Baru deh akhirnya sadar juga. Namun harga yang dibayar sudah terlalu mahal untuk mengikuti keinginan ratu opera sabun ini. Menurut saya lho ya.

            Karena mungkin saja banyak contoh baik dari politikus maupun non tikus, menjadi Drama Queen itu ternyata asyik dan menguntungkan, maka praktik menjadi Drama Queen ini acap kali sering kita temukan di sekitar kita. Di media online maupun media kopdar.  Drama Queen sering melebih-lebihkan sesuatu, membuat suatu cerita menjadi dramatis daripada kebenaran yang terjadi sebenarnya.

            Seorang Drama Queen juga bisa digambarkan sebagai seorang diva, seorang perfeksionis neurotik dan egois yang rentan terhadap tuntutan mendadak dan ledakan. Dia mungkin iri atau dengki orang lain, yang karena memiliki pikiran soal  kegagalan pribadi  yang menyakitkan, akan memicu ledakan emosi atau pikiran irasional  untuk membalas dendam. Di dunianya, orang bisa baik dengan dirinya atau melawan dia, tidak ada tahapan di antaranya.

            Ngaca ah, pantes ga saya jadi Drama Queen.  Malu juga kalau iya.

            Lullaby..Lullaby..

            Lullaby atau di-Indonesiakan sering disebut dengan lagu Nina Bobo, dikarenakan lagu yang paling ngetop disini emang cuma lagu Nina Bobo kali ya. Coba kita tengok liriknya sebentar:

            Nina bobo..oh Nina bobo

            kalau tidak bobo digigit nyamuk

            Bobolah bobo adikku sayang

            kalau tidak bobo digigit nyamuk

            Lagu yang memiliki nada sederhana, cenderung datar dengan lirik diulang memang menjadi ciri khas lullaby ini. Karena memang tujuan lagu ini untuk mempercepat proses tidur seorang anak.

            Lirik yang digunakan untuk lagu menidurkan anak-anak ini beraneka ragam. Dari keindahan alam semesta, mengenal binatang dan tanaman,  tema religius, atau bahkan lagu dengan janji-janji aneh. Misalnya saja sebuah lagu dari Moravia (Moravia dimana sih?).

            “Spi, Janíčku, spi” (“Sleep, Johny, sleep”) ini adalah lagu Moravia yang menjanjikan bocah laki-laki bernama Janíček, buah apel berwarna merah, hijau, bahkan berwarna biru, asal dia mau tidur. Kasihan Janíček. Buah apel biru baru bisa didapat melalui proses rekayasa genetika. Bakal lama deh.

            Jujur saja kalau saya suka Metallica untuk lagu pengantar tidur.  Ga salah kalau majalah Rolling Stone mengatakan lagu ini mungkin adalah lagu metal lullaby pertama. Coba dengar lagu Enter Sandman. Potongan liriknya kan begini:

            Something’s wrong, shut the light 
            Heavy thoughts tonight 
            And they aren’t of snow white 
            Dreams of war 
            Dreams of lies 
            Dreams of dragons fire 
            And of things that will bite, yeah 

            Sleep with one eye open 
            Grippin’ your pillow tight 

            Exit light 
            Enter night 
            Take my hand 
            We’re off to never never-land 

            Kalau ibu saya sebagaimana ibu-ibu yang baik lainnya di era 80-an, menyanyikan lagu lullaby untuk saya selain mendengarkan beliau mengaji, juga membaca doa, seringkali adalah tembang Sunda kuno. Atau kadang kalau lagi iseng (dan bahkan paling sering), karena mama saya penggemar film koboi, memutarkan untuk saya  ost film “A Few Dollars More” komposernya adalah Ennio Moricone. Asyik ya?