Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Fiction’ Category

Au Milieu

Aku duduk di sofa lobby itu. Cuaca di luar mendung dan kelam di sore ini. Angin bertiup lirih menggoyang daun-daun di pohon. Mencoba merontokkan dedaunan yang sudah berwarna kuning, perunggu, kemeraham dan coklat. Terlihat dari kaca besar sekali yang membatasi ruang ini dari pepohonan.

Kumain-mainkan rokokku yang baru kuambil dari saku. Bungkusnya agak penyok karena saku yang melipat akibat posisi dudukku yang seenaknya. Kugapai ransel lusuhku mencari pemantik kesayangan hadiah dari teman bertuliskan Hardrock Cairo.

(more…)

Read Full Post »

Sang Pewaris (Bab 3)

ImageTiba-tiba aku terbangun dari mimpi.

Tepat setelah tangan dingin itu menyentuh pundakku dari belakang. Pas sebelum aku menoleh untuk melihat wajah yang punya tangan, dan semoga memang siapapun itu memiliki wajah.

Aku berkeringat di dahi, tapi juga kedinginan. Selimutku sebagian sudah jatuh ke lantai. Sambil mengusap keringat di dahiku dengan tangan, kuraih selimutku dan merapikannya. Kulihat jam sudah melewati pukul dua belas malam.

Kuraih handphoneku dan kulihat aplikasi chatku, barangkali ada pesan masuk. Ramai teman-temanku bercanda di grup, sampai jam segini masih saja saling menimpali. Aku tiduran lagi sambil membaca-baca. Bibi Angelie tidur di kamar sebelahku. Kamar nenek yang paling besar di rumah ini ada di lantai bawah dan sekarang kosong.

Kamar nenek menghadap kebun mawar dan tanaman lainnya yang aku tak tahu apa saja namanya. Kamarku di lantai atas dan menghadap ke barat dengan pemandangan dengan jurang penuh pepohonan di belakang rumah. Demikian juga kamar Bibi Amelie. Aku beranjak dari tempat tidur membuka jendela, iseng ingin menghirup udara segar dan melihat kegelapan malam. Angin malam yang dingin terasa mengelus wajahku. Rumah tua nenek ini berada di utara di perbukitan kota. Perumahan tempat tinggal kami ini memiliki jarak cukup renggang antara satu rumah dengan lainnya, udara disini sangat sejuk karena dekat hutan yang agak jauh dari hiruk pikuk kota.

Aku melihat ke jendela sebelah. Jendela kamar Bibi Amelie tertutup rapat.  Tak kudengar suara apapun dari kamarnya. Tak ada cahaya dari sela-sela tirainya. Bibi Amelie senang tidur dalam kegelapan.

Aku duduk dekat jendela kamar sambil menyapa teman-temanku di Line Group. Karena ada Kevin yang rupanya masih online dan dia menyapaku lewat jalur pribadi, aku menutup jendela dan kembali tiduran di tempat tidurku, dan melanjutkan chat dengannya. Kevin teman yang bekerja di tempat yang sama denganku. Aku agak naksir dia. Dia manis. Dan rasanya menyenangkan ada teman bicara di larut malam ini setelah mendapat mimpiku yang aneh.

Umurku 27 tahun dan Kevin berbeda satu tahun denganku. Beberapa kali kami sudah pergi keluar setelah jam kantor, namun masih bersama teman-teman lainnya. Aku tidak terburu-buru dengan hubunganku dengan Kevin. Aku menikmati saja pendekatan pelan antara kita. Bukan niatku untuk buru-buru menikah, lagipula -mungkin sifat keturunan dari keluargaku, ada saat-saat dimana aku benar-benar suka sendirian sepulang kerja dan menikmati hening di rumah yang kadang berlangsung berhari-hari dan berminggu-minggu lamanya.

Hari-hari berikutnya kembali normal. Benar-benar seperti hariku sebagaimana biasa. Aku berangkat kerja jam 7 pagi atau lebih sedikit, perjalanan ke pusat kota ke tempatku bekerja memakan waktu setengah jam atau lebih, sehingga aku biasa sampai jam 8 kurang. Pulang  ke rumah biasanya Bibi Amelie sudah memasak untukku, atau aku tinggal menghangatkan makanan yang dia simpan di lemari es, bila aku ingin makan malam. Dan aku masih jarang berbicara dengannya. Kadang-kadang kami memasak bersama, atau membaca buku di ruangan yang sama. Namun percakapan antara kami nyaris nol. Dan aku lebih sering berinteraksi di aplikasi handphoneku dengan teman-teman daripada berbicara dengan orang yang serumah denganku. Bagiku itu akhirnya jadi biasa saja, dan aku berpikir aku semakin mirip nenek dan Bibi Amelie. Lama-lama di rumah aku bisa lupa berbicara.

Suatu hari sepulang kerja, aku tidak melihat Bibi Amelie dimanapun. Di meja makan kulihat secarik kertas yang ditulis terburu-buru, terlihat dari tulisan yang rapi namun makin ke bawah semakin acak-acakan dan tarikan tandatangannya yang terlihat menggores cepat. Bibi Amelie bilang siang tadi dia pergi ke kota lain dimana dia tinggal sebelumnya, untuk menengok rumahnya yang akan disewakan kepada peminat yang sudah menghubunginya pagi ini.

Jadi malam ini aku sendiri di rumah ini.

Karena aku sering merasa nyaman untuk duduk di ruang perpustakaan, aku memutuskan untuk bersantai disana setelah mandi. Aku berselonjor di sofa sambil menonton TV. Novel yang kubaca sudah berganti dengan judul lain, yang dulu saat  aku baca disini dimana aku menemukan cermin besar di dinding itu mencair sudah selesai aku baca.

Rupanya aku tertidur di sofa.

Jam berdentang membangunkan aku. Jam duabelas malam. Melodinya panjang sekali. Aku beranjak duduk lalu memperhatikan cermin. Bayanganku tidak tampak, tapi cermin tampak terang bersinar.

Aku penasaran melihat cahaya yang benderang dari cermin itu. Seperti cahaya siang hari saat matahari cerah.

Melangkah aku buru-buru ingin menyentuh cermin itu lagi. Terlihat di dalam cermin pantulan yang menampakkan pemandangan berbeda dari sebelumnya dan seharusnya.

Aku melihat danau dan pepohonan hijau yang indah. Langit biru dan awan-awan putih. Ha! Ini tengah malam. Bisa-bisanya cermin ini memantulkan pemandangan siang hari.

Kusentuh permukaannya, dan benar saja jari-jariku mulai terbenam disana sampai pergelangan.

Tidak mudah menembus tanganku cermin itu. Rasanya seperti menembus cairan pekat sekali dengan membran di atasnya. Seperti lapisan karet tebal yang aku harus tembus, tapi terasa hangat. Tidak dingin membekukan tulang seperti waktu lalu.

Jam masih berdentang. Aku tiba-tiba memutuskan untuk mundur dan mengambil ancang-ancang. Aku berlari dari jarak agak jauh dari cermin, langsung menuju ke cermin itu dan dengan sekuat tenaga menabrakkan diriku ke permukaan cermin itu.

Serasa melewati tirai tebal dari karet dan masuk kedalam cairan pekat. Aku pengap tak bisa bernapas. Megap-megap aku merasa diriku melewati cairan pekat itu dan terjun bebas ke udara kosong. Aku melayang di udara, menukik dengan kecepatan mengerikan, panik aku memejamkan mata. Pasrah pada apa yang akan terjadi.

DAN AKU TERCEBUR!. Tepatnya aku tercebur dan menimpa seseorang!

Aku merasa membentur seseorang dan kami berdua tercebur bersama ke dalam air yang ternyata tidak terlalu dalam. Sebatas dada dalamnya. Segera setelah aku berpijak sambil megap-megap aku menyibakkan rambutku yang basah dan melihat seseorang di depanku.

Dia tinggi, jauh lebih tinggi dari aku. Rambutnya hitam, matanya sangat hijau  berkilau seperti hijaunya batu permata.

Dan dia mengutuk dan memaki-makiku. Sepertinya itulah yang aku dengar.

 

 

Read Full Post »

Sang Pewaris – Bab 2

Jam berbandul yang berada dalam dudukan kayu itu kini berhenti berdentang. Aku terhenyak. Saat kaget tadi tanganku sudah aku tarik kembali karena terkejut. Kusentuh kembali permukaan cermin itu. Keras. Dingin. Dan licin. Tidak ada tanda-tanda bahwa tadi sesaat permukaannya telah mencair. Aku menoleh keluar ruangan dair pintu ruang perpustakaan yang terbuka, melihat kalau-kalau Bibi Angelie mendengar jeritanku. Namun rupanya suaraku tadi tidak keras, karena terdengar dari kejauhan langkah-langkah samar Bibi Angelie yang halus dan tenang. Kalaupun dia mendengar, Bibi Angelie juga bukan orang yang gampang kaget dan lari tergopoh-gopoh mencari asal suara. Pernah di suatu hari hujan yang sangat deras dengan petir yang menggelegar, Bibi Angelie tampak tenang-tenang saja setiap terdengar suara dentuman petir yang kadang mengagetkan.

Aku ketuk-ketuk permukaan cermin dengan heran. Pemandangan di cermin pun terlihat normal dan selayaknya cermin yang baik dan benar. Ada pantulan ruangan perpustakaan rumah kami yang kuno namun terang dan nyaman. Kucari bayangan cangkir kopiku. Ha! tampak di cermin itu, walau uap panasnya kini sudah tak nampak menguar. Sudah mendingin rupanya.

Untuk meyakinkan diri kuraba seluruh permukaan cermin, kusentuhkan juga ujung hidungku ke permukaan cermin bertemu dengan bayanganku sendiri disana. Iseng.  Tidak terjadi apa-apa. Baiklah. Rupanya ini halusinasiku belaka. Mungkin karena aku belum makan malam. Aku tidak pernah percaya cerita horror, hantu dan sebangsanya. Pastilah ini hanya khayalanku semata.

Aku duduk kembali. Kembali membaca buku. Kuputuskan tidak akan mengatakan soal cermin-cair-tembus-seperti-air ini kepada Bibi Angelie. Kami juga jarang mengobrol. Kadang-kadang bahkan aku tidak merasa ditemani olehnya. Kalau tidak membuat biskuit dan memasak, maka Bibi Angelie sibuk dengan urusannya sendiri entah apa. Bisnis online dan websitenya, bisa jadi memantau bursa saham. Karena beberapa kali aku melihat dia membuka website yang penuh dengan indeks pergerakan saham dan mata uang asing.

Saat aku membuka lembaran buku, aku melihat tangan kananku agak kemerahan sampai batas pergelangan tangan, rasanya masih kebas seperti habis terkena es dan udara yang sangat dingin. Kugosok tangan kananku. Kembali aku bertanya-tanya. Jadi cermin tadi imajinasiku saja ataukah nyata? Ah masa bodohlah.

Aku beranjak ke kamarku. Kubawa buku novel yang masih belum selesai kubaca. Depan pintu kamar aku berpapasan dengan Bibi Amelie.

“Aku di kamar dulu ya Tante..” kataku, kepadanya.

“Engga makan dulu my dear?” tanyanya halus. Bibi Amelie bersuara dalam dan enak didengar. Mungkin bila saja dia bernyanyi akan terdengar merdu, tapi aku tidak pernah mendengar satu lagupun tersenandung dari bibirnya.

“Tidak ah Tante, aku ingin tiduran saja. aku tidak lapar” kataku.

Tangan Bibi Amelie terulur menepuk pundakku.

“Good night sweetie” katanya.

Walau tak banyak bicara, tak banyak kata, dan kadang seperti tidak ada, Bibi Amelie baik kepadaku. Demikian pikirku.

Aku beranjak ke tempat tidur. Besok hari Sabtu. Libur. Jadi aku bisa puas tidur. Membenamkan diri di bantal empuk aku memainkan handphoneku, melihat-lihat sosmed, tertawa-tawa membaca pesan dari teman-temanku, dan tahu-tahu aku tertidur.

***

Aku bermimpi. Setidaknya demikian aku berpikir saat itu. Karena pemandangan ini bukan di alam yang biasa dan nyata sehari-hari di kehidupanku. Aku berada di tempat asing yang sama sekali belum pernah aku datangi. Langit gelap dan aku menyusuri jalan setapak yang berkelok dilapisi batu. Jalan tua yang berlumut. Cahaya hanya dari lampu-lampu jalan berbentuk ketupat dan besi tempa berukir, cahayanya dari api yang dinyalakan di sumbu minyak.  Redup sekali hampir-hampir tak kulihat jalan di depanku.

Pohon-pohon besar menjulurkan rantingnya menggores wajahku. Pohon-pohon itu berdiri di sepanjang jalan kecil ini di kiri dan kanan. Terlihat sumur tua dengan batu-batu di pinggirannya, kayu tempat gantungan embernya seperti pancangan tiang gantung untuk orang yang dihukum mati. Kelelawar atau makhluk serupa kelelawar melewati terbang rendah hampir mengenai kepalaku. Suara kepakan halusnya cukup memecah kesunyian yang benar-benar terasa menggantung di udara.

Aku terus berjalan, karena aku merasa harus terus berjalan.

Tiba-tiba dari kegelapan di depan, pohon-pohon besar di kiri kananku mulai merenggang, dan aku menabrak pagar besi yang tinggi dan dingin. Aku berpegang pada batang besi pagar itu, sambil satu tangan menggosok dahiku yang terasa tidak terasa sakit karena menabrak tadi. Tentu saja tidak sakit, ini mimpi kan. Pikirku.

Tampak dari antara ruji-ruji besinya sebuah halaman besar tidak terurus dengan pohon tua tanpa daun dengan ranting menjulur, besar dan tinggi dan kelam, sebuah kastil yang tinggi dan hitam tanpa lampu, bagai bayangan raksasa di kegelapan malam ada dihadapanku.

Saat aku menatap heran kastil yang hitam dengan bayangan hitamnya dan dilatar belakangi langit biru tua kehitaman, bulan sabit tampak muncul pelan karena awan gelap yang mentabirinya mulai membuyarkan diri tertiup angin malam yang dingin.

Ah pikirku, setidaknya ada secercah cahaya. Di halaman kastil gelap ini tidak tampak lampu-lampu minyak seperti di jalan berbatu tadi, kalaupun ada, rupanya tidak dinyalakan. Aku bergidik karena dingin dan sedikit terusik oleh suasana yang yang mencekam.

Tidak, aku bukan seorang penakut. Dibesarkan hanya berdua dengan nenek. Aku sering ditinggal di rumah sendiri. Rumah tua dengan halaman besar dan berjarak cukup jauh dari tetangga. Aku biasa berada dalam kesunyian. Sepi adalah musikku sehari-hari di rumah. Aku tidak suka bingar, aku tidak mau di pasar. Aku biasa berteman sunyi sendiri di malam hari, bahkan tanpa menyalakan TV. Toh walau di rumah sendiri untuk mengobrol kadang aku bertelepon dengan teman-temanku, kalau aku mau. Tapi walau sering sendirian, aku juga tidak ingin masuk kategori gadis anti sosial. Aku punya beberapa teman dekat di kantor yang biasa aku berjalan-jalan ke pertokoan atau haha hihi menikmati suasana di kafe dan restoran.

Tapi ini suasana yang mencekam, suasana seperti di abad pertengahan. Jalan tua berlumut dan pohon-pohon besar dan kastil yang hitam tanpa lampu cukup membuat jantungku berdebar. Segenap indraku serasa bersiap untuk menerima kekagetan yang mungkin saja terjadi akibat kesunyian yang menekan ini.

Tiba-tiba serasa ada bayangan di belakangku mendekat. Aku merasakannya di belakangku walau aku belum menoleh. Bulu kudukku berdiri dan rambut-rambut halus di tanganku terasa meremang. Angin dingin berhembus seiring sosok yang mendekat di belakangku itu, sebelum aku sempat menoleh, terasa ada tangan yang terjulur menepuk pundakku tiba-tiba. Tangan sedingin es yang membuat aku serasa diceburkan ke danau yang dingin hanya dengan sentuhannya itu.

***

 

 

Read Full Post »

Sang Pewaris

Namaku Miranda Dracco. Sepeninggal nenek, aku tinggal bersama adik perempuan ayahku satu-satunya. Tepatnya Bibi Angelie yang datang ke rumah peninggalan nenek untuk tinggal bersamaku. Kedua orangtuaku sudah tidak ada sejak aku kecil. Bibi Angelie setahuku tidak menikah, dan dia tidak pernah menikah, atau pernah. Entahlah, Bibi Angelie sangat pendiam dan tertutup.

Di usianya yang masih sekitar 40 tahun, Bibi Angelie masih tampak cantik, jika saja ia mau. Tubuhnya kecil ramping namun tampak kuat dan gesit. Pakaiannya ringkas dan senang mengenakan cardigan warna hitam di atas blusnya yang juga hitam. Rambutnya selalu diikat erat dibelakang kepalanya, dia mengenakan kacamata model kuno bentuk mata kucing dengan bingkai tebal. Perhiasan satu-satunya hanya kalung perak berbandul medalion besar dengan ukiran sulur daun, mawar dan tengkorak kecil dan entah simbol-simbol apa seperti tulisan rune kuno,  yang tak pernah lepas dari lehernya. Sehari-hari dia mengenakan sandal ringan bertumit rata, dan selalu menutup mulutnya erat sambil membersihkan rumah atau memasak.

Aku tidak pernah memiliki memori kedua orangtuaku, bahkan foto mereka aku tak punya. “Hilang semua” kata nenek singkat. Seperti Bibi Angelie, Nenek pun tak banyak bicara. Namun aku tahu dia sayang padaku. Dia jarang bahkan hampir tak pernah marah. Matanya hangat saat membuatkan sarapan atau makanan kesukaanku. Kadang menemaniku sampai aku terlelap di tempat tidur bila aku enggan tidur sendiri.

Bibi Angelie tinggal di kota lain. Aku tak tahu dia bekerja apa dan dimana tadinya. Aku hanya bertemu dengannya sesekali bila ia datang menengok nenek. Kadang mereka berdua mengobrol dengan suara pelan dan rendah sampai larut malam. Aku sering melihat mereka berdua berbincang saat aku terbangun tengah malam. Namun bila mereka melihat aku bangun, segera mereka mengalihkan pembicaraan sehingga aku tidak pernah tahu mereka membicarakan apa.

Rumah nenek adalah rumah kuno berbahan bangunan batu dan berlantai kayu dengan halaman yang rapi.  Rumah cukup besar dengan jendela yang juga besar-besar. Walau kuno karena banyak cahaya rumah tempat tinggalku ini tidak nampak suram. Ada dua pohon besar di kiri dan kanan halaman. Akar-akarnya menonjol melingkar di atas tanah. Kadang membuatku tersandung. Halaman selalu hijau dengan rumput yang dipotong rapi, dan gerumbulan mawar dan bunga-bunga yang terawat. Sebelum meninggal, nenek sangat senang merawat taman. Dia dibantu oleh tukang kebun yang datang sesekali.

Dibesarkan nenek yang pendiam, tidak membuatku menjadi pendiam. Aku cerewet sekali, bahkan bila tidak mendapat jawaban apa-apa dari nenek. Seringkali obrolanku adalah monolog. Dan aku seringkali mengajak bicara perabotan di rumah. Dari cermin hingga lemari, atau bahkan panci dan kursi. Atau semut-semut yang lewat.

Sebenarnya karena selepas kuliah aku langsung bekerja, hidup sendiri bukanlah masalah buatku. Jadi tanpa Bibi Angelie yang datang untuk tinggal bersamaku sebenarnya tak mengapa. Aku juga bisa menghidupi diriku sendiri. Tapi kata Bibi Angelie, dia mengkhawatirkan aku. Lagipula nenek menitipkan aku kepadanya, sebagai satu-satunya keluarga yang ada.

Pindah dari rumah yang ditinggalinya, Bibi Angelie tidak membawa banyak bawaan untuk keperluan pribadi. Hanya pakaian di koper kecil, tapi tak heran karena dia bukan tipe perempuan senang berdandan. Lalu sebuah jam kuno berukuran cukup besar  dengan bandulnya, dan sebuah cermin berbingkai kayu model antik dengan warna usang, walau kedua barang tersebut berwarna pudar; jam kuno dan cermin antik itu terlihat mahal karena kayunya terlihat kokoh kuat dan berkualitas tinggi.

***

Jam kuno dan cermin antik. Menurutku itu janggal untuk barang pindahan. Seperti tidak ada barang lain saja yang lebih pantas untuk dibawa. Tapi karena Bibi Angelie saja menurutku sudah antik, setelah dipikir lagi tidak mengherankan juga rasanya bila dia membawa mesin jahit kuno sekalipun. Malah akan mengherankan bila dia membawa sesuatu yang modern. Ipad atau seperangkat home theater, misalnya. Tampang kunonya tidak cocok dengan gadget modern. Tapi walau kuno dan bertampang misterius, Bibi Angelie sering memakai perangkat komputer yang aku pasang di ruang perpustakaan, dan dia tampak sibuk berkirim e-mail dan browsing. Jadi tidak canggung dengan beberapa perangkat modern di rumah, walau kalau melihat tampang dan penampilannya, rasanya aku dibawanya ke abad yang silam.

Jam kuno dan cermin berwarna usang dengan kayu jati itu ditempatkan di ruang perpustakaan. Aku yang sering membaca buku disana di waktu senggang, kadang terkaget dengan bunyi dentang jam yang memecah kesunyian di rumah nenek ini. Cermin yang tingginya melebihi badanku ini  sudah digosok rupanya oleh Bibi Angelie, permukaannya tampak licin berkilau seperti permukaan es yang bening. Beda dengan saat dibawa Bibi Angelie dulu, kacanya tampak buram, tak nampak bayangan jelas disana saat aku berusaha bercermin disana saat dibawa masuk.

***

Suatu malam aku membaca buku di perpustakaan. Aku membenamkan diri di kursi sambil sesekali menghirup coffee latte-ku yang masih beruap panas. Bibi Angelie terdengar menyiapkan sesuatu di dapur. Mungkin membuat teh. Dia seperti nenek dalam segala hal, termasuk kesukaannya memasak, dan berdiam diri di kursi dapur memandang taman di belakang melewati jendela sambil meminum teh. Kadang aku seperti melihat nenek. Mereka begitu mirip satu sama lain.

Saat jam berdentang, seperti biasanya aku terkaget sendiri. Baru jam sembilan malam. Melodi yang didentangkan jam itu tidak sepanjang jam duabelas malam. Entah kenapa suara jam yang melagukan suatu nada yang seolah terdengar dari waktu lampau itu menarik aku mendekat. Aku beranjak dari kursi setelah meletakkan buku di meja sebelah cangkir kopiku.

Aku melangkah mendekat jam besar di pojok ruangan itu seolah ada tangan-tangan halus tak kelihatan yang menarik aku mendekat. Aku terhenti di depan jam. Di dinding tampak cermin yang berkilau dengan permukaan seperti es itu. Aku penasaran melihat kilaunya. Aku melangkah bergeser mendekati cermin di dinding. Kulihat wajahku disitu. Mukaku tampak agak pucat dengan rambut agak berantakan. Hidungku namun agak merah di ujung, mungkin karena udara yang tiba-tiba terasa dingin di malam ini. Aneh, sore menjelang malam  tadi rasanya suhu masih cukup hangat.

Walau nenekku berambut pirang dan bermata biru, demikian juga Bibi Angelie, aku sama sekali tidak mirip mereka berdua. Kulit mereka putih kemerahan, atau merah muda menurutku, sedangkan kulitku pucat tanpa warna. Kadang terlalu putih pucat tampaknya. Rambutku hitam kelam, bahkan terlalu hitam. Seperti jelaga. Perawakanku juga lebih kecil dan ringkih dibandingkan  dengan  Bibi Angelie yang tampak tinggi langsing namun berisi. Hidungku sedikit mencuat, dan mataku coklat luntur nyaris pudar, itu istilahku untuk sepasang mata yang coklat muda yang tidak menarik. Dan yang paling parah, menurutku aku tidak cantik. Kata nenek sih, aku itu cantik, kecantikan yang mirip ibuku yang berdarah Indonesia.  Tapi semua nenek memang memuja cucunya kan? Sedangkan menurutku nenekku lah yang sangat cantik, atau demikian pastinya sewaktu dia masih muda. Demikian juga Bibi Angelie, aku tahu dia cantik sekali, alisnya tampak melengkung indah dan matanya luar biasa.  Namun kecantikannya selalu disembunyikan dibalik baju hitam-hitamnya yang tanpa potongan jelas, kacamata tebalnya, dan rambutnya yang diikat terlalu kencang.

Ku tatap bayanganku di cermin, tak lama pandanganku beralih ke belakang.

Ada pemandangan tak biasa dan tak seharusnya.

Bayanganku berlatar belakang bukan ruangan perpustakaan. Harusnya di belakangku tampak rak buku, meja kerja dan sofa. Meja kecil dengan kopi dan buku yang sedang kubaca. Itu seharusnya.

Di belakang wajahku yang terpantul di cermin, di latar belakangnya tampak gelap dan suram. Seperti langit tanpa awan yang sangat kelam. Ada bayangan pohon tua besar tanpa daun dengan ranting-ranting yang mengering. Lalu ada bayangan sebuah kastil. Bayangan saja. Tampak gelap di kejauhan. Aku terpana.

Tak sadar tanganku terangkat menyentuh permukaan cermin.

Tidak terasa ada permukaan kaca yang keras. Yang ada tanganku masuk perlahan dan terbenam disana sampai pergelangan. Seperti mencelupkan jari dan tanganku ke air es yang sangat dingin membekukan tulang, tanganku terbenam ke dalam cermin.

Aku menjerit kaget.

Read Full Post »

Apakah Cinta

Apakah cinta

saat kita tertawa bahkan untuk hal yang tidak sama

untuk canda yang harus kujelaskan karena kau miskin kosa kata

atau lontaran kalimat  dari kamu”bisa gak nanya  yang lebih berbobot dari ini?”

kalau aku bertanya hal-hal yang itu lagi,

(biasanya tanya “sayangkah kamu kepadaku”)

Apakah cinta

kita berjalan di jalur berbeda

tak bertemu kadang bertahun lamanya

untuk kecup yang hanya lewat suara

dan tawa

dan air mata

dan kesedihan yang tak terkata

karena waktu melaju tanpa dapat kita ulang dari pertama

Read Full Post »

I should have known better
Than to let you go alone
It’s times like these
I can’t make it on my own
Wasted days, and sleepless nights
An’ I can’t wait to see you again

 

…dan asap rokok itu meluruh setelah mencoba meraih langit-langit

dan kamu yang tak banyak kata, hanya tatapan namun tak juga ku tahu arti pandangmu apa…

tahun-tahun berlalu dan ini kita kembali disini

mencuri waktu dari putaran yang tak pernah lagi bisa kita miliki

Seperti Vega dan Altair

 

I can’t stop the feeling
I’ve been this way before
But, with you I’ve found the key
To open any door
I can feel my love for you
Growing stronger day by day
An’ I can’t wait too see you again
So I can hold you in my arms

 

Betapa waktu berlalu

mengentalkan kenangan denganmu

mengkristal di dalam pikiranku

Selalu dan selalu

selalu kau ada disitu

 

I find I spend my time
Waiting on your call
How can I tell you, babe
My back’s against the wall
I need you by my side
To tell me it’s alright
‘Cause I don’t think I can take anymore

 

betapa ini yang dinamakan rindu

bagaimana bisa kuceritakan dengan kata

hanya pelukan dan kecupan dan uraian air mata

entah kau tahu atau mengerti saat kata-kata sudah tak memiliki arti

dan yang kutunggu hanya untuk bisa semalam saja merasakan kembali

di pelukanmu mendengar degup jantungmu merasakan aliran darahmu

 

Is this love that I’m feeling
Is this the love that I’ve been searching for
Is this love or am I dreaming
This must be love
‘Cause it’s really got a hold on me
A hold on me

Image

Read Full Post »

Terserah

dan terserah katamu

trauma yang menggores luka

satu kata bagimu seribu makna bagiku

mengingatkanku bahwa kau sudah biarkan aku sendiri

terserah bagaimana aku dengan takdirku

menjalani hari-hari sepi

……………….

menyeret luka sepanjang jalan

terserah

ada atau tidak ada aku tak akan memberi banyak beda

warna

ataupun 

apa-apa

Read Full Post »

Kita Sudahi Saja

Kita sudahi saja nyala api ini

kapal terakhir ke Valinor sudah lewat

dan sudah tidak ada yang akan membawa kita dari dunia tengah

Kita sudahi saja nyala api ini

aku cuma laron yang nyalang melihat api

dan yang kulakukan hanya akan menghanguskan diri 

mendekatimu membakar diriku jadi abu

Sudahi saja, sudahi saja

kau hanya cinta lama yang seberkas lewat

tanpa harap…. tanpa harap

tanpa….

 

 

Read Full Post »

Useless…..

Bertemu denganmu tidak membuyarkan rindu

Tidak menghilangkan rasa kehilangan

Tidak mengobati pilu malam-malam memikirkan kamu

Bertemu denganmu bagaikan meneguk air laut

Mencekik menyakitkan dada

Dan membuatku bertambah dahaga

Bertambah rusak porak poranda

kau lihat saja disana

isi dadaku berceceran berantakan

jantung dan darah merahnya

terserak di jalanan

terlepas 

terlindas

terhempas

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »