Feeds:
Posts
Comments

Suatu Pagi di Pasar Tradisional

13603971621820560736

pasar tradisional. dok pribadi

Pagi ini tukang sayur yang biasa memanggil-manggil saya bak fans berat terhadap aktris idolanya, tidak berjualan. Karena persediaan bahan memasak sudah kosong melompong dan membuat mie siap saji adalah hal terakhir di pikiran saya,  dengan semangat dan tekad saya pergi ke pasar tradisional. Sekitar 1 km jaraknya dari rumah. Sehingga saya memutuskan berjalan kaki saja.

Pasar tradisional di daerah saya ini layaknya The Last of The Mohican, atau The Last Samurai, atau apalah yang berbau sesuatu yang tradisional namun makin terpinggir dan makin melipir. Sudah berdiri dekat pasar tersebut sesuatu gedung perbelanjaan yang berakhiran  nama Square.  Kita memang hobi memakai nama tempat dengan kebule-bulean. Padahal kadang tidak pas juga. Masa iya misalnya pasar di Cilentah, dinamakan Cilentah Square, Atau Cilentah Plaza, atau Cilentah Mall. Tapi kalau dipaksakan jadi nama Kotak Cilentah juga aneh ya?

1360397447537018799

angklung. dok pribadi

Jalan kaki pagi-pagi ke pasar ini layaknya Petualangan Sherina. Baru setengah perjalanan saya sudah dimaki-maki orang gila yang sedang berorasi di pinggir jalan. Saya sampai terlonjak karena kaget. Namun rupanya bukan saya saja yang terperanjat. Beberapa orang yang lewat setelah saya juga tampak terkejut karena mendapat semburan kemarahan yang tak jelas ujung pangkalnya.

Tiga perempat jalan menuju pasar, saya yang sedang berpikir untuk  membeli cireng aneka rasa sepulang dari pasar, kembali saya dikagetkan  oleh seseorang yang tidak waras juga. Dia berjalan tanpa arah dan membabi buta, hendak menubrukkan badannya ke arah saya. Sontak saya mengeluarkan jurus..eh meloncat kaget sampai melompati selokan. Kok banyak sekali tantangan yang harus dihadapi  ya dalam rangka menuju pasar ini. Saya membatin.

1360397592221954835

kue tradional. dok pribadi

Sesampainya di pasar, saya bersukur karena pasar tampak kering tanpa becek. Walaupun tetap penuh sesak oleh manusia. Dari pedagang asongan, sampai pedagang yang menghampar di jalan, dari pengemis sampai tukang dagang lap, semua ada. Selalu yang saya suka di pasar tradisional adalah melihat orang-orang. Melihat pedagang dengan berbagai ekspresi. Ada yang ramah ada yang ketus. Ada orang Sunda, ada orang Padang, ada orang Jawa, ada orang Batak. Semua berusaha berbahasa Sunda dengan logat daerah yang masih terasa kental di lidah mereka.

Tak terasa tangan saya penuh oleh berbagai belanjaan. Dari sayur mayur, sampai temulawak, kue jajan pasar, sampai cutik kayu, ikan asin, sampai daun pisang, juga keranjang rotan yang saya beli karena lupa tidak bawa wadah dari rumah. Di pasar tradisional tidak ada troli belanjaan, satu putaran dengan membawa belanjaan berat saya langsung berkeringat. Belum lagi berdesakan. Tapi itulah yang dinamakan suasana.

Di suatu lorong pasar yang sempit, tiba-tiba datanglah serombongan orang membawa berbagai macam alat musik tradisional. Angklung dan juga kendang, dengan ukuran aneka rupa. Mereka mengamen. Pakaiannya pakaian tradional, pangsi hitam dengan ikat kepala batik. Juga selempang kain batik melilit pinggang. Karena lorongnya sempit mereka berdiri mengular. Satu orang bertugas membawa wadah untuk pengisian uang sekedarnya.

Lagu-lagu riang mengalun, dan mereka ceria dan bersemangat memainkan alat musiknya. Saya tanya ternyata mereka berasal dari Tegal. Lha..jauh-jauh ke Bandung ya? Tak lupa mereka juga memberikan nama dan nomor telepon pada secarik kertas bagi orang yang meminta kontak. Siapa tahu ada yang ingin mengundang mereka ke acara selamatan. Tarifnya 1,5 juta untuk satu hari dari pagi sampai sore, dengan jumlah personil sekitar 7 orang.  Jauh sekali dengan tarif seorang penyanyi yang dibawahi oleh Republik Cinta Management lengkap dengan raidernya (ya iya lah).

Pemusik tradisional, pedagang dan pasar tradisional, makin terpinggir makin tersingkir. Sampai kapan dapat bertahan?

Resolusi Hijau 2013

1356489170186561844
roof garden. pic from: themaisonette.com

 

 

Resolusi untuk Lingkungan Hidup

Di awal tahun yang baru ini, tahun 2013, dikarenakan banyaknya isu untuk permasalahan pemanasan global, juga maraknya hal-hal lain yang merujuk pada makin rusaknya lingkungan di sekitar kita, baik itu permasalahan sampah maupun kualitas udara, maka resolusi saya untuk tahun yang baru ini adalah berusaha berkontribusi sedapat-dapatnya walaupun kecil namun mungkin dapat memberi arti apabila diikuti oleh satuan masyarakat terkecil lainnya, sehingga dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi lingkungan.

Menurunnya kualitas udara akibat polusi, berkurangnya air tanah, suhu yang meningkat di perkotaan, banjir dari tahun ke tahun, penanggulangan sampah, adalah masalah-masalah lingkungan yang sering kita teriakkan dan kita pertanyakan. Namun bila kita tanya pada diri kita sendiri, apakah yang telah kita lakukan untuk lingkungan kita sendiri, minimal di tingkat rumah tangga? Sudahkah kita berperan aktif bagi kelestarian lingkungan dan melakukan  usaha untuk meningkatkan atau mengembalikan kembali kualitas alam sekitar?

 

Selain menjalankan hidup peduli lingkungan dengan pengelolaan sampah domestik menjadi kompos, memanfaatkan halaman sekecil apapun untuk tanaman yang bermanfaat sebagai bumbu dapur dan tanaman obat kesehatan, membuat lubang biopori untuk rembesan air hujan, saya pun ingin mencontoh warga negara Singapura yang peduli pada green urban development. Lihatlah di Singapura, sampai beton pada jalan layangpun kini penuh dengan tanaman hijau yang asri. Memang salah satu cara untuk mengurangi pemanasan global dan penghematan energi akibat penggunaan AC di ruangan adalah menurunkan suhu bangunan dengan membuat roof garden di atap rumah atau bangunan beton lainnya.

Jadi untuk di tahun yang baru nanti, saya membuat resolusi untuk memaksimalkan pembuatan roof gardendi rumah sendiri  dan mengkampanyekannya untuk mengajak warga lainnya untuk melakukan hal yang sama (minimal di lingkungan RT/RW/Kelurahan sendiri).  Saya harap kontribusi hijau dari lingkungan yang terkecil ini dapat bermanfaat  sebagai ketahanan pangan juga penyeimbang dan tambahan paru-paru bagi lingkungan sekitar yang sudah menjadi hutan beton.

Dibawah ini adalah gambar rancangan saya untuk memaksimalkan atap rumah saya agar bisa ditanami oleh tumbuhan yang bermanfaat untuk rumah tangga, juga berkontribusi untuk penghijauan dan peningkatan kualitas lingkungan :

 

 

 

 

13564875501719717147
Roof Garden Sketch. Dok Pribadi

 

 

Lalu Kenapa Harus Roof Garden?

Roof garden adalah taman atau kebun yang berada di atap dari sebuah bangunan. Fungsinya tentu saja banyak selain sebagai dekorasi rumah. Dengan tanaman hijau yang ditanam disana, udara segar dan bersih dapat dihasilkan. Burung-burung liar juga bisa memiliki tempat bersarang atau mencari makanan disana. Sebagai rekreasi untuk keluarga pun menyenangkan. Lagipula memanfaatkan atap sebagai tempat penanaman tanaman yang bermanfaat untuk pangan dan hiasan juga membuat air hujan dapat tertampung dan lebih dulu dimanfaatkan disana sebelum terbuang dan diserap tanah dibawahnya.  Mengenai hasilnya, tentu saja tanaman yang dipelihara disana dapat mengurangi beban biaya dapur untuk bumbu masak, juga sebagai alat bantu perekonomian keluarga, karena saya memiliki bisnis penjualan tanaman bumbu dan herbs sebagai usaha sampingan.

Saat ini banyak bangunan rumah yang dibuat tinggi dengan dak beton namun minim tanaman dia atasnya. Kala saya memandang sekitar di lingkungan perumahan saya, betapa saya lihat adalah abu-abu dan abu-abu dimana-mana. Tembok-tembok di sekitar saya menambah suasana gersang dan panas apabila matahari sedang terik. Pegunungan di kejauhan yang dulu hijau tampak makin tandus, menyedihkan untuk dipandang. Andaikan banyak perumahan dan gedung sekitar kita memanfaatkan atap bangunannya untuk penghijauan maka dapat dipastikan kualitas lingkungan hidup kita pun akan meningkat, selain pemandangan menjadi lebih indah. Saya jadi teringat Hanging Garden di jaman Babylonia, dulu banyak rumah dan istana yang membuat kebun-kebun indah di atas bangunan mereka.

 

 

1356488126868278901
source: wikipedia.org

 

 

1356488157329961552
source: wikipedia.org

 

 

Menurut beberapa jurnal penelitian, suhu yang dapat diturunkan oleh adanya roof garden di bangunan-bangunan kota adalah sekitar 3.6 derajat Celcius sampai dengan 11.3 derajat Celcius, namun tergantung dimana kota tersebut berada. Penurunan suhu dalam ruang dengan adanya kontrol temperatur oleh tanaman hijau di atap bangunan ini memotong pula penggunaan pendingin udara, sehingga dapat dilakukan penghematan energi dan biaya listrik yang besar karenanya. Terhitung apabila di Tokyo, 50% dari bangunan yang memadai  ditanami dengan membuat roof garden di atasnya, maka suhu yang dapat diturunkan adalah  sekitar 0.11-0.84 °C (0.2-1.51 °F), yang setara dengan penghematan sebesar 100 milyar yen atau 1.2 juta USD per harinya untuk biaya listrik AC.

Indonesia adalah negara kaya dengan berbagai jenis vegetasi. Lagipula seperti halnya lagu Koes Ploes dan pepatah orang dulu, bahwa segala macam tanaman amat mudah tumbuh di tanah kita yang subur ini. Tongkat kayu dan batupun dapat tumbuh jadi tanaman. Kiranya bila kita membuat kebun di rumah sendiri baik itu vertikal di dinding rumah maupun horizontal di atap rumah, adalah mudah saja dalam perawatannya. Iklim kita yang tropis ini pun memungkinkan tanaman untuk hijau terus sepanjang tahun. Betapa indah kiranya dalam pikiran saya, bila sesuatu resolusi dyang kecil dan dimulai dari diri sendiri ini dapat diikuti dan dilakukan oleh banyak orang di kota kita, hutan beton abu kelabu kota akan jadi hijau dan sedap dipandang mata.

 

data source info: http://en.wikipedia.org/wiki/Roof_garden

 

http://www.newscientist.com/article/dn12710-green-roofs-could-cool-warming-cities.html

 

 

 

 

Warung di Bandung

Ceritanya ini tentang seputar tempat makan berupa warung, kedai, dan kaki lima, hawker, food stall, naon we lah. Jadi bukan resto yah. Nu penting, tempat yang murah, meriah dan ngeunah yang ada di Bandung. Ada juga sih yang bukan di Bandung. Mie Ayam! paling enak di terminal Subang. Masalahnya saya engga tau sekarang masih ada atau engga. Sudah lama banget tidak kesana.

Warung Indung
Sebenarnya bukan warung yah. Tepatnya sih kafe. Tapi berhubung makanannya murah meriah dan ngeunah tadi ya bolehlah disebut warung sebagaimana kehendak yang punya tempat. Warung Indung teh merenah pisan. Bahkan saking enaknya nongkrong disitu saya sebenarnya malas cerita di blog ini. Nanti jadi pada banyak orang datang kesana gimana? Sekarang saja kita sudah kesulitan untuk ngetek tempat di pendopo yang nyaman sekali untuk main gaple atau remi itu. Makanan disana sederhana saja. Mie instan; direbus atau digoreng. Plus keju atau kornet. Roti bakar aneka olesan, dan nasi bumbu ayam yang anehnya tidak ada ayamnya. Dan bubur ayam. Namun berhubung sudah berminggu-minggu katanya tukang bubur ayamnya tidak kirim lagi stok kesana, bubur ayamnya jadi tidak tersedia. Yeee.. tapi enak lho bubur ayamnya. Dan jangan lupa! Disana disediakan kopi tubruk istimewa. Kopi Aroma yang kesohor itu. Kopi khas produksi Bandung yang uenak pisan. Harga makanan disana relatif murah. Jelas lah, yang disediakan juga tidak aneh-aneh kok. Tapi sekali lagi, tempatnya nyaman. Letaknya di seberang Oriflame, tak begitu jauh dari hotel Grand Serela. Agak sulit terlihat seperti halnya Leaky Couldron. Jadi kalo ke Warung Indung jangan cari Warung Indungnya, carilah Oriflame sebagai ancar-ancar.

Sop Kambing Banceuy
Kenapa semua penjual sop kambing selalu bilang berkumis? Nah favorit saya sih yang buka stand depan kopi Aroma kalau malam hari. Itu enak banget. Eh tapi saya coba juga di tenda-tenda lain di jalan Banceuy, ternyata enak juga kok. Yah memang saya sulit menilai makanan. Rasa-rasanya semua juga enak yah. Jadi bisa saya katakan yang tidak enak yang harganya mahal. Nah yang depan Kopi Aroma ini lumayan murah, dibanding yang mahal. Halah. Hehe, kalau lagi punya duit rasanya murah. Yang jelas dengan nasi dan teh botol dingin ditambah es dan semangkuk penuh/nyaris tumpah/banyak/aneka rupa bagian tubuh dan kepala kambing itu kira-kira Rp 15.000,- Bisa kurang sepertinya, soalnya sih saya suka ambilnya seabruk-abruk sih. Saya sempat lirik orang sebelah dia bayar lebih rendah dari saya. Oh ya sebagai tambahan, yang di Jalan Cikapundung juga enak kok.

Warung Makan Ceu Imas
Di dekat terminal kebon kelapa. Eh masih ada engga sih terminal kebon kelapa? Ya udah, dekat ITC kebon kelapa deh. Waduh kalo ceu Imas di waktu jam makan siang, penuh sesak. Orang, asap, keringat tidak ada bedanya. Duduk di meja makan bisa sikut ketemu sikut.Nah, sambal di ceu Imas ini khas banget. Pedasnya itu lho, engga ketulungan. Belum lagi karedok leunca yang terasa terasinya, dan harum baunya dengan campuran kemangi. Sumprit, patut dicoba. Ayam gorengnya enak, Ikan gorengnya enak, Cumi gorengnya enak. Enak. Enak. Enak semua deh. Bila sulit parkir disana, parkir saja di ITC kebon kalapa. Jangan parkir dekat pembuangan sampah yah. Asli bau banget. Tinggal jalan kaki dikit ke tempat Ceu Imas. Jangan lupa mencoba ayam bakarnya juga. Teman-teman saya di kantor hampir semua mencandu sambalnya Ceu Imas. Pada saat bulan puasa, teman kantor saya banyak sekali yang menyambat nama Ceu Imas di waktu jam makan siang.

Warung-warung makan di pinggir Hotel Le Meridien Orchard
Eh naha bet ka Singapore yah? hihihih. Abis pas ngetik ini saya ngiler bayangin ikan pari bakar disana. Enak banget. Harganya SGD10 tanpa nasi. Ukurannya yang medium. Duh itu sambalnya enak banget. Sambal belacan mungkin yah namanya. Belum lagi ada saus rasa jus lemon yang pedas banget tapi bikin pingin lagi dan lagi. Ikan pari bakarnya bertulang rawan yang renyah. Dagingnya lembut dan berserat panjang. Oh ya kepiting saus Singapore juga enak banget. Oh ya tempat makan ini sampai lewat tengah malam juga masih buka. Kalau ke Hotel Supreme, deket banget bisa jalan kaki. Oke deh ini mah cuma intermezzo.

Ceu Mar

Tukang main malam-malam dan kelaparan pada jam-jam aneh sepatutnya tahu Ceu Mar yang sohor dari jaman dia mulai kesohor. Konon dulu Ceu Mar hanya buka tengah malam sampai subuh menjelang. Namun sekarang mungkin karena hukum permintaan pasar, Ceu Mar sudah buka dari jam 9 malam. Tempatnya di ujung pertigaan Jl ABC dan Cikapundung atau Braga yah? yeee..saya malah lupa. Pokoknya sanaan gedung PLN yang di jalan Asia Afrika deh. Kalau ingin disebut “Kasep” atau “Geulis” datanglah makan di Ceu Mar. Walaupun Anda berwajah kurang bagus, Ceu Mar akan dengan senang hati menyapa dengan sebutan yang membesarkan hidung tersebut. Bolak-baliklah nambah lagi makan kalau Anda masih ingin dipanggil dengan sebutan Si Tampan dan Si Cantik tersebut. Oh ya menu di ceu Mar sangat rumahan. Jadi tak salah bila Anda ngidam semur jengkol untuk datang ke Ceu Mar. Hati Macan keprek tersebut selalu tersedia kok.

Timbel Istiqomah

Nasi timbel dinamakan demikian karena berlokasi di depan mesjid Istiqomah, Jalan, eh jalan apa yah? Jalan Cilaki gitu? CMIIW. Poho euy. Ada nasi beras merahnya lho. Goreng Ayam, Goreng Ikan, sambal pedas, tahu tempe, duh apalagi ya? Pokoknya enak murah dan kenyang. Duduknya di bangku-bangku plastik di pinggir jalan. Kalau hujan ya wayahna we. Tapi sepertinya sekarang sih ada tendanya. Nah setelah menikmati nasi timbel ini, lanjutkanlah dengan penutup es duren ketan hitam yang segar dan nikmat. Bila masih lapar, ada baso malang Mandeep tak jauh dari situ yang rasanya mantap. Serius.

Trip to Bromo: Untold Story

Insiden Wadah Celana Dalam

Perjalanan ke Bromo bulan lalu masih menyisakan sekelumit senyum dan cengiran malu. Buat yang sudah berlaku malu-maluin.  Di kereta menuju Malang yang terlambat itu, AC yang kadang mati kadang hidup membuat jadi serba salah. Mau selimutan atau engga? Jadi plin plan gini sepanjang jalan. Jadi ga jelas mau ngapain sepanjang jalan.

Karena susah tidur jadi kurang kerjaan juga, saya dengan bangga menunjukkan wadah toiletries saya kepada teman sebelah saya, yang merupakan bekas wadah celana dalam. Kata teman saya, kok pake begituan? saya jawab, bagus kan ada cangkolannya. Lagipula saya bilang saya ga punya wadah plastik untuk membawa sikat gigi dan lain-lain perlengkapan bersih-bersih. Ini kan keren, kata saya. Bekas wadah celana dalam merk Marks & Spencer.

Lalu satu persatu teman-teman saya menunjukkan wadah toiletries mereka. Wadalah, bagus-bagus. Ada yang hitam ada yang merah, dengan emblem logo perusahaan kami. Lalu kenapa saya tidak punya barang yang sama? Sambil cemberut saya mengutuk, lain kali bila ada pengadaan untuk pembuatan souvenir saya tidak akan ikut tandatangan. Yang lain ketawa-ketawa saja mendengarnya. Katanya salah sendiri saya suka asik sendiri, jadi pas ada yang bagi-bagi souvenir saya tidak kebagian.

Insiden Tukang Kuda dan Bokong

Pulang dari Bromo, di jalan ada sedikit kehebohan dalam bertukar cerita. Saya mendengarkan saja.

“Eh waktu naik kuda, pantat kamu dipegang gak waktu lompat naik ke kuda?”

“Iya, wah kamu juga?”

“Iya, saya juga,..mungkin udah standard operation procedure disana kali ya, kalau mau naik ke ke atas kuda kudu didorong sambil dipegang pantat”

“Iya saya juga sama, oh kamu juga. Sukurlah kirain saya doang!”

Saya nyeletuk,

“Sorry yee, saya ga dipegang-pegang bokongnya sama tukang kuda”

“Lho kok bisa??” yang lain pada kagum setengah tidak percaya.

“Ya bisa lah, lagian kalian mau naik kuda kayak manjat tembok, terang aja didorong sama tukang kudanya, lompat dong kayak saya, itu tuh,…kayak mau lompat tali yang udah tinggi sekepala, lincah gitu lho….”

Yang lain pada menyesali insiden pegang bokong tersebut. Gak ada yang rela rupanya, kalau saya selamat dari jamahan.

I am Weirdo

Kalau lagi kesal emang ga bagus dengar lagu-lagu sedih. Inget dulu udah sedih, kesal, susah tidur pas bisa tidur eh ketimpa gitar yang digantungkan di dinding di atas kepala. Lagian bego juga, kenapa mesti digantung disitu?

Ada masa-masa dimana kesendirian itu begitu terasa menggantung di udara. Sampai rasanya udara yang dihirup itu keluar masuk dengan nafas kesendirian. Sesak. Merasa sendiri dan merasa kosong. But hudehel, why bother with that…toh diri kita semua masing-masing pada dasarnya adalah sendiri, datang tak diundang pergi tak diantar, pulang juga nanti sendiri.

Feel… so…alone…. harusnya lagu Sting eh The Police yang diembed disini..So lonely..tapi bodo amat.. soalnya entah kenapa dasar saya suka mellow hollow pas lihat video clip ini, yasudah ini saja yang dipasang

Viva Cobain

Kalau jelang tengah malam gini jadi inget masa-masa sendal jepit. Masa-masa sekolah dulu. Kemana-mana memang saya pakai sandal jepit karet swallow yang kadang putus cangkolannya dan saya kepaksa nyeker.

Jadi inget Kurt Cobain. Bukan karena kenal. Karena jaman temen-temen saya asik sama NKOTB sampai jaketnya gambar NKOTB, buku tulis sampai asesorisnya gambar NKOTB, saya tetap stick to the rule saya sendiri. Heavy metal. Ok Nirvana genrenya ya grunge, tapi bodo amat ah, anggap aja mirip. Toh kalau dibanding sama musiknya NKOTB jauh badai sama pagi sepoi semilir berhias embun pagi.

Saya dulu dekil, berjeans yang juga kucel, dan kadang jarang ganti kaos Nirvana saya yang album Bleach itu. Ada juga kaos si Cobain entah lagi apa dah nutupin idungnya ngisep sesuatu. Alasan saya suka Nirvana? Cobain cakep. Kedua masih, karena Cobain cakep. Ketiga, yah tau sendirilah Nirvana. Denger aja sendiri musiknya.

Kangen Cobain malam ini. Bodo deh lu, pake bunuh diri (kalau emang bener bunuh diri).

Saya selalu mengasosiasikan tulisan sebagai masakan. Mungkin karena saya adalah mahluk pemangsa duren, yang senang membaca dan senang makan. Oh ya apakah saya hobi banget makan duren? Tidak juga sih, cuma entah kenapa lagi mikir duren barusan. Jadi inget duren di kampung, udah berbuah apa belum ya? Kok belum ada yang kirim kesini.

Oh ya soal tulisan dan masakan. Saya membaca tulisan seperti menikmati makanan. Ada yang saya icip-icip saja, ada yang saya pandangi, ada yang saya pelototi, ada yang bikin saya mual, ada yang saya nikmati perlahan.  Yang saya nikmati akan saya kunyah 20 kali, saya memikirkan cita rasanya, bumbu apa yang dipakai, tingkat kematangan, dan saya telan. Lalu saya cerna. Ehm enak.

Saya ibaratkan penulis sebagai tukang masak. Ada yang jago masakan tradisional, ada yang internasional. Ada yang senang bikin gado-gado, ada yang jago banget seperti chef hotel berbintang. Setiap sajiannya selalu menarik, bermakna, bergizi, dan berwarna.

Ada yang nyomot bahan masakan dari tukang sayur lewat, atau dari sisa-sisa persediaan di kulkas (ini saya banget). Ada yang memikirkan bahan baku tulisannya dengan mendalam, mencermati setiap bahan, menelaah resep dan referensi, dicicipi, dibaca kembali, baru dihidangkan.

Karena saya masak eh menulis di kala sempat dan tanpa tenggat, model suka-suka,  mohon maaf kalau sajian masakan saya suka berantakan. Tidak ada ujung pangkal, tanpa garnish tanpa pemanis, kadang-kadang lupa menghidangkan makanan penutup.

Tapi menulis juga seperti memasak, adalah proses. Tidaklah bisa kalau tidak biasa, dan tidaklah menjadi chef yang baik kalau tidak mengalami jadi tukang cuci piring. Setiap orang bisa memasak, mengutip dari  Gusteau yang mencoba meyakinkan Remy si tikus,  ”anyone can cook.”  Kata Gueteau di film Ratatouille.

 

Salut Kepada Penulis Bernyali!

Saya belum pernah tamat membaca buku Dibawah Bendera Revolusi.  Untuk satu dan dua alasan konyol.  Kesatu saya memang lamban berpikir. Jadi membaca buku yang berat secara harfiah  (karena memang berat kok kalau dibawa-bawa) dan berat secara figuratif memang membuat asupan oksigen ke otak saya berkurang. Kedua saya emang ga pinter-pinter amat untuk bisa mengerti jalan pemikiran Bung Karno.

TAPI ada semangat yang tersirat dari buku tersebut bahkan dengan memandangnya saja. Dimana Bung Karno menulisnya, dimuat di koran dan media apa tulisan-tulisannya, pada saat bagaimana beliau menuangkan pikirannya tersebut, di umur berapa, untuk apa, siapa yang sedang berkuasa saat itu, dan kenapa Bung Karno menulis tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku tersebut.

Judul-judul yang ditulispun membangkitkan semangat dengan pilihan kata indah penuh gelora, dan BERANI:

– Nasionalisme, Islam dan Marxisme
– Indonesia Menggugat
– Demokrasi politik dan demokrasi ekonomi
– Memperingati 50 tahun wafatnya Karl Marx
– Indonesia versus fasisme

Selain Bung Karno, kita pun memiliki deretan negarawan dan penulis bernyali lainnya. Bahkan masuk bui. Saya sih tidak ingin dipenjara gara-gara menulis, tapi sungguh saya angkat topi untuk orang-orang yang berani mengungkapkan tulisannya dan nama aslinya. Bagai sabetan pedang bayangan, tulisan dapat menghujam langsung pada pemikiran. Apakah lagi yang bisa mengubah sejarah dan pemikiran manusia jika bukan tulisan? Ada yang bilang tulisan adalah tahtatertinggi dalam peradaban manusia.

Sayangnya saya lupa siapa yang bilang.

Saya tidak negatif dalam memandang penggunaan pseudonym dalam penerbitan sebuah tulisan.  Situasi sulit bagi wanita di jaman dulu juga membuat Charlotte Bronte menggunakan nama pena Currer Bell saat menerbitkan novel Jane Eyre.  Bisa juga seperti di film Lethal Weapon, Trish Murtaugh istri Roger Murtaugh adalah penulis cerita erotis yang menggunakan nama Ebony Clark, yang mana penghasilan dari menulis cerita erotis ini memungkinkan keluarga Roger Murtaugh berkecukupan dan memiliki rumah bagus yang tidak sesuai dengan gajinya sebagai polisi. Kalau pakai nama asli, bisa geger dong kepolisian sono ada polisi beristri penulis cerita erotis (eh inget film ini membuat saya tertawa sendiri).

NAMUN saya sungguh salut untuk penulis berani dan bernyali. Dalam kekaguman saya, dia  meraih tempat tinggi untuk  berderet dengan nama-nama pendiri bangsa ini.

Trip To Bromo

1359392776777057729

dok pribadi

 

Sudah lama saya ingin pergi ke Bromo. Seingat saya sejak saya membaca kisah tentang Suku Tengger sewaktu saya SD dulu. Nama tokoh anak yang jadi sentral cerita saya lupa. Malah nama kerbau yang dikorbankan ke kepundan Bromo yang saya ingat. Nama kerbaunya Mia. Sama dengan nama kecil saya.

Dan memang penting bagi kita untuk mencanangkan sesuatu keinginan dengan amat sangat dalam hati kita. Seperti yang saya selalu saya suka kutip dari bapak pengarang novel Paulo Coelho,“When you want something, all the universeconspires in helping you to achieve it.”

Saya memang selalu komat-kamit dalam hati, betapa sukanya saya travelling. Keliling kampung saja saya suka, keliling pulau Jawa apalagi, dan bila saya bisa keliling dunia suatu hari nanti, saya akan…… berteriak-teriak ala Indian mengelilingi patung Totem sambil membawa kapak perang. Engga behave sama sekali ya? Biarin.

Akhirnya minggu kemarin, tepat, eh kurang lebih 30 tahun setelah saya membaca tentang Suku Tengger dan Upacara Kesodo serta kisah letusan Gunung Bromo dan Mia si kerbau yang dikorbankan oleh penduduk desa karena tinggal dia satu-satunya kerbau yang tersisa setelah Bromo meletus-  saya akhirnya bisa pergi ke Bromo di Jawa Timur.

Mungkin buat sebagian orang, apa sih excitenya pergi ke suatu tempat sampai segitu senangnya? Saya katakan, saya sangat gembira bisa bepergian. Alasannya nanti saya akan jabarkan belakangan. Mungkin bila punya nama Indian, nama saya adalah Si Kaki Gatal. Dan karena pipi saya juga tembem, maka nama lengkap Indian saya adalah Si Pipi Tembem Berkaki Gatal. Bagus juga ya.

Perjalanan dengan Kereta Api

Karena naik pesawat kadang tidak seru juga karena singkat, maka saya dan teman-teman memilih bepergian ke kota Malang dengan kereta api. Kereta api Malabar jurusan Bandung Malang ini terlambat 45 menit dari jadwal, tapi tetap tidak mengurangi kegembiraan kami. Keluar dari rutinitas sekali-kali memang membuat kami kembali seperti anak sekolah menengah yang akan pergi berdharmawisata.

Makanan yang ditawarkan di atas kereta datang lebih lambat daripada kereta yang juga terlambat. Satu jam lebih! Tapi karena pramukereta yang menyampaikan permintaan maaf sangat ramah dan lucu, dan kita terlalu gembira untuk merusak hari dengan marah-marah, kami tidak komplen sedikitpun.

AC yang mati dan sering sekali kereta berhenti, tetap tidak mengurangi semangat kami untuk tidur sepanjang perjalanan. Lah iya wong ga ada yang bisa dilihat, kan perjalanan malam hari. Pagi merekah, dan kereta sampai di Nganjuk. Saya heboh sekali karena sampai di Nganjuk,  untuk alasan yang tidak jelas sebenarnya. Hanya karena saya pernah punya atasan yang berasal dari Nganjuk.

Oh ya dan perjalanan yang dimulai dari Bandung jam 4 sore ini, terlambat hampir dua jam sampai di kota Malang sehingga kami sampai sekitar jam 11 siang. Whoaa… Kalau naik pesawat sudah sampai ke Merauke nih. Malah lebih lah, sampai Merauke balik lagi ke Jayapura. Sekitar segitu lah. Betapa relatifnya waktu.

Karena kami baru akan pergi ke Cemoro Lawang nanti malam, maka sesiangan ini kami habiskan dengan berjalan-jalan di kota Malang yang indah dan tenang. Saya selalu ingat puisi Antara Tiga Kota dari Cak Nun, yang menggambarkan kota itu memiliki sifat feminin, maskulin, atau antara keduanya. Untuk kota Malang saya menyamakannya dengan kota yang bersifat feminin, tenang, dan anggun. Kalau Bandung, walau feminin, namun kadang terlalu heboh seperti wanita yang bingung mau berdandan seperti apa ketika hendak ke pesta. Terlalu banyak ganti make up dan tidak bisa memutuskan ingin pakai gaun apa. Itulah Bandung sekarang menurut saya.

Naik Ojeg Ke Penanjakan

Saya nyaris tidak tidur. Jam tiga dinihari tanpa terkantuk-kantuk kami bersiap dari penginapan di Cemoro Lawang untuk bersiap ke Penanjakan dengan jeep, yang sudah ready steady go. Sebagai info saya dan 3 teman saya adalah spesialis naik mobil mogok. Maksudnya, setiap ada acara atau bepergian, bila kami berempat disatukan dalam satu kendaraan maka, wuuush..bad thing happen.  Di Yogya tahun lalu,  saat pergi ke Merapi, kumpulan para dogol penjaga pantai ini juga menaiki jeep yang kemudian mogok selama satu jam di antah berantah. Kalau saya jangan ditanya, sendiri pun saya sering mengalami mobil mogok. Untuk alasan yang pastinya tidak berhubungan, kami menganggap bahwa sinyal tubuh  kami sangat berpengaruh pada aktivitas mesin.  Mungkin berkaitan dengan aura.

1359392924811330978

dok pribadi

 

Seperti yang sudah-sudah, saat menyusuri jalan yang menanjak berguncang-guncang dengan jeep, tiba-tiba jeep berhenti dan supir meminta kami semua turun. Karena akan menderek mobil di belakangnya yang katanya mogok. Di dini hari gelap gulita di pinggir jalan yang dingin, saya sempat memotret bunga krisan yang mekar menguning. Setelah pertengkaran mulut dengan pimpinan rombongan sebagian dari kami naik ke jeep lain, karena jeep yang tadi menderek jadi ikutan mogok juga. Dan kami berempat ribut terlebih dahulu untuk alasan kenapa kita tadi tidak berpisah kendaraan, karena kalau digabung inilah kejadiannya. Mogok maning mogok maning.

Karena tidak muat dalam satu jeep tebengan, akhirnya saya naik ojeg. Demi segala yang indah dan suci di dunia ini, naik ojeg jam 3 pagi di Gunung Penanjakan dengan angin yang dingin ini sungguh sangat dingin. Angin yang berhembus ke wajah saya membuat saya berpikir saya sedang ditampari dengan jurai-jurai es. Nyaris saya berpikir untuk memeluk tukang ojeg untuk mencegah radang beku seperti di buku-buku bila orang terserang badai dan tertimbun salju. Namun saya masih waras, dan nginyem menjauh di belakangnya dengan jarak aman tanpa kontak badan dengan mengganjalnya dengan tas saya.

Kabut yang Menutup

Kami sampai di ketinggian Gunung Penanjakan dimana sudah banyak orang berkumpul layaknya pasar malam. Sebelumnya saya melihat jeep yang diparkir berjajar banyak sekali, segala warna-warni itu dengan jenis kendaraan yang sama, mengular berjumlah ratusan kiranya. Oh ya tukang ojeg disana suka sekali menarik-narik kita berebut agar kita naik di motornya. Ingin sekali menjitak mereka satu persatu. Tertib dikit kenapa sih. Kan bingung jadinya ditarik sana sini seperti anggota fans club bertemu aktris idola. Emangnya kita seleb sinetron apa.

1359393076694354864

Dok Pribadi

 

Kabut menutupi hampir seluruh pemandangan sekitar. Hanya sepucuk Gunung Semeru di kejauhan yang tampak nongol sedikit dari hamparan kabut. Pagi merekah dan kabut belumlah sirna. Beberapa rombongan tidak sabar dan pergi meninggalkan tempat. Kami sih malah sibuk membetulkan lipstik antara kami. Karena menurut kami bibir membiru kedinginan itu membuat wajah menjadi kurang bagus bila difoto.

Sesaat kami sibuk sendiri. Dimana tak lama kemudian setelah acara jeprat jepret sesama kami, saya menoleh ke arah bawah melintasi pagar pembatas. Sekejap saja kabut tebal itu sudah sirna. Dan saya melihat pemandangan tercantik seumur hidup saya dalam hal melihat pegunungan. Bromo, Batok, Widodaren dan Watangan, gunung-gunung cantik yang berada dalam satu pelataran, dibayangi oleh sang raksasa Semeru. Layaknya Eurymedon, raja raksasa di mitologi Yunani yang berdiri tegap menjaga para bidadari.

Saya sampai lupa bernafas.

Segala gambar yang pernah kita lihat tentang pegunungan Tengger tidak ada artinya bila tidak melihat dengan mata yang bertengger di kepala sendiri. Angin dingin yang berhembus, hawa sejuk yang menusuk hidung, dan sinar matahari yang mulai nampak menyelusup di antara kabut dan awan, adalah tidak ternilai adanya untuk menambah keindahan pandangan. Tengger sangat sedap dihirup dan dipandang.

Naik Kuda, Kepundan, Savana dan Pasir Berbisik

Setelah kami turun dari Penanjakan dan kembali ke jeep, yang sudah ditukar dengan yang tidak mogok, kami melanjutkan perjalanan menuju pelataran pasir dekat Pura besar menuju Gunung Bromo. Karena banyak di antara kami yang berprinsip bila ada kuda mengapa tidak dinaiki, dan tidak ada kuda tukang kudanya pun jadi -memilih untuk menggunakan kuda untuk berkendara menuju kaki Gunung Bromo dengan ratusan anak tangga yang menuju puncak tersebut.

Anak tangga menuju kepundan tampak terjal. Kami bertiga yang paling pemalas dalam hal menaiki tangga melakukan tawar menawar. Akhirnya kami sepakat untuk berhenti dan beristirahat setiap 50 anak tangga. Baru naik 50 anak tangga, kami tawar menawar kembali dari 40 anak tangga turun menjadi 30, sebelum akhirnya sepakat di angka 25. Anak kecil yang mendahului kami dengan kekuatan mendaki seperti kambing gunung tidak membuat kami iri. Teman-teman yang sudah di atas dan menyoraki juga kami tidak peduli.

Akhirnya dengan tersengal-sengal (kami beralasan bahwa udara di ketinggian memang memiliki kadar oksigen yang tipis) sampailah saya pada pemandangan yang spektakuler dari sebuah lubang raksasa. Layaknya sumur besar yang langsung menuju ke perut bumi, pemandangan kawah ini sangat memiriskan hati. Oh disinilah Mia si Kerbau dikorbankan. Pikir saya.

13594099131574385728

dok pribadi

 

Lanjut perjalanan dari kepundan Bromo, kami menuju padang savana. Pemandangan di sini sangat cocok untuk shooting film ataupun pemotretan yang membutuhkan latar belakang alam yang indah dan ingin beradegan kejar-kejaran ala film India. Bukit-bukit dengan rumput hijau yang mulus dan rata, tampak seperti Tumuli Park di kerajaan kuno Silla di Gyeongju Korea. Saya jadi berpikir  dan menghayal, apakah mungkin saja bukit-bukit yang mulus dan berbentuk kurva sinusoidal ini adalah kuburan para raja duaribu tahun lalu sebagaimana halnya di Silla Kingdom. Oh ya saya belum pernah ke Korea. Namun saya berani bertaruh bahwa Bromo tak kalah indah dengan tujuan wisata alam disana.

Dari Savana kami bergerak dengan jeep kembali menuju area Pasir Berbisik, dimana ada batu yang berbentuk singa. Namun karena ada tong sampah besar di dekatnya, saat itu batu singa tidak tampa seperti singa. Lebih mirip gundukan batu dengan tong sampah. Sayang sekali.

Saya sendiri berpikir betapa menyenangkan berlama-lama di area Tengger ini untuk melihat-lihat dan memotret. Namun apa daya, hari melewati siang dan kami harus pulang. Karena kami memikirkna bentuk pinggul yang takut berubah bentuk akibat duduk terlalu lama di kereta, untuk pulang ke Bandung kami menggunakan pesawat keesokan harinya. Sehingga di malam hari sebelum pulang  kami dapat menikmati suasana Surabaya.

Travel itu Menyenangkan Bagi Jiwa dan Raga

Ada beberapa alasan kenapa bepergian itu menyenangkan. Saya mengutip sebagian dari huffingtonpost.com beberapa alasannya. Yaitu:

    • Bepergian membuat kita mengenal adat dan budaya juga sejarah suatu tempat

     

      • Membuat kita memiliki koneksi terhadap kebudayaan daerah lain dan juga orang-orangnya

       

        • Menenangkan jiwa  dan mengistirahatkan badan kita karena sesekali keluar dari rutinitas dan kegiatan harian yang itu-itu saja

         

          • Menghilangkan stress dan membuat kita memiliki entusiasme dalam kehidupan

           

          • Membuat kita lebih mengenal diri kita sendiri, dan mengetahui arti dari sebuah perjalanan. Cintai diri kita, cintai hari-hari kita, dan cintai kehidupan kita.

          Demikian cerita perjalanan saya. Semoga menghibur yang membaca.