Feeds:
Posts
Comments

Flavoured Ice Water

Kalau siang-siang panas paling enak deh bikin air es beraroma buah atau herba.

Gak pake gula, cuma air putih pakai es saja. Bisa pakai buah-buahan potong, macam nanas, jeruk, lemon, dan melon, dan untuk herbs-nya, saya biasa pakai thyme, rosemary, sage, sereh dan kalau mau rada aneh, bisa juga seledri.

Oh ya buah-buah yang enak juga bisa dipakai segala macam berry. Dari mulai Strawberry sampai dengan Blackberry. Dicampur lebih asik lagi. Pakai Blackcurrant juga enak. Cuma sayang, buah-buah impor sekarang mahal. Eh bahkan buah lokal juga mahal sih.

Kalau mau bereksperimen dengan buah lokal, jambu, pepaya, semangka, juga bisa-bisa aja dijadikan bahan.

Sehari-hari sih di rumah saya biasa bikin lemon water plus thyme. Segar dan bisa diisi ulang.

Image

flavored-water-recipes-best--ginger-mint

flavored-water-recipes-best-

Picture from: http://joannagoddard.blogspot.com

Ketimpa Pot

Beberapa hari ke belakang, di Bandung sering terjadi hujan angin.

Sudah jelas dari namanya bahwa hujan angin itu adalah hujan deras dengan campuran angin yang dahsyat.

Oh ya buat yang belum tahu, hujan angin di Bandung ini beberapa kali terjadi dicampur es pula. Es beneran!

Kalau Anda menganggap hujan es ini romantis seperti salju yang lembut dan halus turun di Swiss, nah, Anda salah besar. Lagian tau apa saya soal salju di Swiss yak, wong belum pernah kesono.

Nah balik lagi ke soal hujan es, di Bandung ini kalau sudah hujan es sama sekali engga ada romantis-romantisnya. Yang sempat ngalamin kena kepala, beneran rasanya kayak ditimpuk, dan yang pernah nyetir di tengah hujan es dan angin ini, bunyi pletok-pletok di kaca mobil itu agak-agak bikin ngeri-ngeri sedap.

Saya pernah lihat foto gegara hujan es yang lumayan dahsyat beberapa tahun lalu, kanopi rumah teman saya sampai jebol, esnya walau banyak tapi begitu nyampe tanah langsung cair. Jadi kalau mau difoto, kudu buru-buru.

Ukurannya ada yang sebesar kuku.

By the way, hujan angin kemarin-kemarin ini belum campur es. Tapi ternyata bikin pot-pot di atap rumah saya porak-poranda. Untuk kanopinya engga kebawa angin. Modelnya memang bukan model kubah yang bisa bikin turbulensi, tapi model miring aja, jadi angin bisa dengan mudah lewat tanpa sempat terperangkap macam layar atau layangan.

Pagi-pagi saat saya ke atas mendapatkan pohon tomat saya yang saya sayangi sepenuh hati telah bertumbangan dengan malangnya. Bahkan ada yang patah. Dengan lemah lembut saya ikat kembali dengan kawat bekas gulungan kabel charger telepon.

Pot-pot yang diletakkan di pinggir tembok bertumbangan dimana-mana, pot seledri menimpa artichoke saya yang lagi lucu-lucunya, dan beberapa giant mussel leek, patah-patah. Duh.

Yang lebih parah ada satu pot cabe yang jatuh ke rumah tetangga. Sudah 2 pot melayang ke rumah tetangga sebelah dan nyangkut di jeruji besi pergola. Tapi saya diam-diam aja. Soalnya tetangga saya ini galak banget. Demikian juga anjingnya.

Beberapa kali saya kena marah gegara dia sering kesiram kalau saya lagi nyemprot tanaman pakai selang. Apalagi kalau  tahu ada insiden pot jatuh segala, air dari talang air kena ke halaman dia aja, bisa bikin mereka nyap nyap.

Moga-moga mereka gak baca blog ini.

Saat saya membereskan pot-pot yang jatuh, berhubung lahan yang penuh dengan pot, jadinya saya melangkah dengan menginjak pinggiran pot-pot tersebut, apa daya, pot itu tidak bisa menahan beban bodi saya yang langsing ini.

Tumbang lah mereka saya injak, disaat saya sedang menggeser pot di atas tembok. Jatuh deh saya terperosok ditambah bonus ketimpa pot yang sedang saya geserkan.

Rasanya? Jangan tanya. Belum lagi tangan dan sikut saya lecet keparut tembok.

Hikmah cerita ini apa dong? Gak ada sih sebenarnya.

Cuma iseng cerita aja kejadian beberapa hari kemarin ini.

Terserah

dan terserah katamu

trauma yang menggores luka

satu kata bagimu seribu makna bagiku

mengingatkanku bahwa kau sudah biarkan aku sendiri

terserah bagaimana aku dengan takdirku

menjalani hari-hari sepi

……………….

menyeret luka sepanjang jalan

terserah

ada atau tidak ada aku tak akan memberi banyak beda

warna

ataupun 

apa-apa

Kita Sudahi Saja

Kita sudahi saja nyala api ini

kapal terakhir ke Valinor sudah lewat

dan sudah tidak ada yang akan membawa kita dari dunia tengah

Kita sudahi saja nyala api ini

aku cuma laron yang nyalang melihat api

dan yang kulakukan hanya akan menghanguskan diri 

mendekatimu membakar diriku jadi abu

Sudahi saja, sudahi saja

kau hanya cinta lama yang seberkas lewat

tanpa harap…. tanpa harap

tanpa….

 

 

Useless…..

Bertemu denganmu tidak membuyarkan rindu

Tidak menghilangkan rasa kehilangan

Tidak mengobati pilu malam-malam memikirkan kamu

Bertemu denganmu bagaikan meneguk air laut

Mencekik menyakitkan dada

Dan membuatku bertambah dahaga

Bertambah rusak porak poranda

kau lihat saja disana

isi dadaku berceceran berantakan

jantung dan darah merahnya

terserak di jalanan

terlepas 

terlindas

terhempas

Aku Benci

Ini obrolanku dengan pikiranku sendiri.

Kata orang pinter paling gak sehat itu membenci sesuatu. Energi negatif lah, mengotori pikiran lah..dan blah blah blah seterusnya.

Ya bener sih kalau dipikir.

Tapi buat aku yang paling aku benci adalah perasaan yang sehubungan dengan cinta. Jangan tanya definisi cinta lah. Pusing. Pokoknya yang aku maksud adalah perasaan menyukai lawan jenis. Berikut segala emosi yang mengikutinya.

Cinta yang aku maksud ini,  entah itu sayang, entah itu suka, entah itu rindu, entah itu nafsu. Pokoknya aku benci.

Aku benci rindu seseorang sampai sakit rasanya.

Aku benci selalu teringat seseorang sampai menitik air mata.

Aku benci pikiranku selalu kembali ke orang itu-itu saja.

Aku benci aku cemburu.

Aku benci perasaan itu.

Aku benci diriku yang dikendalikan emosi.

Aku benci diriku yang tertawa, menangis, tersenyum, bersedih, karena orang itu.

Aku benci seolah dia adalah pusat tata surya, dan aku berputar mengelilinginya, tak bisa lepas, tak bisa mental, karena tertarik oleh putaran gravitasi dirinya.

Aku benci aku yang tak bisa menggunakan logika, aku benci.

Aku benci perasaan-perasaan yang datang silih berganti tanpa terkendali.

Aku ingin diriku kembali.

Yang tanpa mengingatmu aku tetap bisa menjalani hari.

Aku ingin diriku kembali.

Yang melihatmu tanpa perasaan sedih tanpa rasa kehilangan tanpa rasa kerinduan meluap-luap.

Aku ingin diriku kembali.

Hanya diriku sendiri.

Braga Festival 2013

Kemarin sebetulnya saya sudah menulis tentang Braga Festival 2013 dalam rangka ulang tahun kota Bandung ke 203 ini di blog saya di kompasiana.com

Tapi entahlah, saya lebih suka ngeblog di blog saya pribadi ini dengan bahasa yang lebih bebas dan dengan pikiran-pikiran konyol saya. Entah kenapa kalau ngeblog di kompasiana, saya jadi lebih jaim, pemalu dan (semoga) berwibawa. Engga juga sih kalau berwibawa mah. Cuma karena tujuan saya menulis disana terkadang agar dimuat di kompas cetak, jadinya suka bikin saya rada hati-hati nulis. Biar ga ketauan ngaco aslinya. hehehehe.

Nah jadi kemarin pas ke Braga Festival biar ada teman, saya maksa-maksa anak saya Drea untuk bolos ngaji. Nah kan ketauan ibu macam apa saya ini kan.

Drea sih tanpa dipaksa sih senang aja kalau diajak bolos, baik sekolah maupun les.

Akhirnya saya pergi bertiga dengan Anis dan Drea. Dimas sih engga ikut dengan alasan tidak jelas, tapi nitip minta dibeliin gitar akustik. Lho.

Nyambungnya dimana coba. Toko alat musik kan di Jalan Purnawarman, lumayan jauh juga eh macet sih kalau jauh mah engga, dari jalan Braga.

Sampai disana saya menyusur dari jalan Cikapundung. Ada panggung gembira ria dengan tulisan Cikapundung Bray. Kata Bray emang lagi hype menggantikan kata Bro. kurang lebih artinya emang sama.

Belum berapa langkah napsu belanja Drea dan Anis langsung mengamuk rupanya. Jadinya mereka minta dibeliin sepatu flat dan tas tote. Emang lucu sih. Tapi ga lucu juga kalau berapa menit masuk area langsung belanja.

Di panggung ada Bandung Beat Box, yang berbunyi aneh tapi enak didengar bikin kami enggan beranjak. Saya sih mikir itu miknya apa engga penuh ludah ya? Kebayang muncratnya sudah pasti gila-gilaan melebihi pipa PDAM yang bocor.

Perjalanan lanjut ke Jalan Braga dimana ada panggung musik yang memainkan kecapi suling dan gamelan. Sindennya merdu sekali menembang. Entah lagu apa. Blank deh saya kalau lagu Sunda. Cuma tau pupuh-pupuh aja. Itupun ga sampai tujuhbelas.

Tema Braga Festival kali ini adalah Momento Mori. Mengenang para musisi dan legenda musik kota Bandung. Nike Ardilla, Harry Rusli dan Dedi Stanzah. Entah gimana saya suka kegeeran merasakan kedekatan emosi dengan dua nama yang disebutkan duluan.

Nike Ardilla karena sama-sama berasal dari Ciamis. Udah gitu lagi SMA saya sering lihat dia nongkrong dengan Baby temannya di depan rumah Baby yang pas sebelahan dengan rumah kos saya. Saya sih engga kenal dua-duanya. Cuma sering lihat aja.

Kalau Harry Rusli, ya karena satu almamater di SMA 2, walau beda angkatan jauh sekali. Hymne SMA 2 adalah ciptaan Harry Rusli. Sampai sekarang saya hapal liriknya.

Secara umum, Braga Festival ini menarik. Karena saya suka banget jalan-jalan nonton pentas seni jalanan. Tapi agak kecewa karena makanan tradisionalnya kok kurang banget ya. Malah kebanyakan sosis panggang segede-gede gaban.  Oh ya karena di Bragfes ini banyak momen dan objek menarik banyak sekali orang berkeliaran membawa kamera.

Anehnya tidak ada satupun fotografer yang motret saya.

Camera 360 IMG-20130929-01185 IMG-20130929-01188 rps20130929_183039_994 Path 2013-09-29 12_50

And thru the good and bad times, 
You have always been there…..

 

Malam ini kucari engkau lagi di antara genangan kopi pahit

Karena rindu ini meracuni dada

dan aku tak tahu harus bagaimana

 

We hold each other close, 
You tell me it’s alright

 

Hari gini mungkin orang bilang

segala macam bentuk alat komunikasi

telepon, sms, skype, bbm,  whatssap dan line

yahoo messenger yang segera kadaluwarsa

atau google talk dan sebangsanya

 

 

And I will always turn to you, 
You’re everything I need

 

 

Aku tahu semua nomormu

tapi tak satu membuatku

tak ada yang dapat  memicu keberanian

karena aku tahu, tak ada kata yang bisa kuucapkan

bahkan kepadamu sendiri

untuk menggambarkan pengapnya rindu ini

 

We’re more than lovers, more than friends

You tell me it’s alright

And sometimes I can’t give enough,

Bangku di Kebun Herbs

Tiap saya bercokol di kebun kecil saya di atap rumah, setiap kali itu pula saya jadi ingin punya bangku.

Pegeeel, kalau udah berjam-jam di kebun.

Apalagi kalau pakai acara mindah-mindahin pot, atau nanam-nanam ini itu.

Berhubung kebun saya di lantai 3 atap rumah, setiap kali ada yang ketinggalan di bawah, entah bibit atau lainnya, belum lagi tanah kompos, bisa bikin saya naik turun kesana berkali-kali.  Sampai gempor.

Nyari-nyari bangku taman yang cocok di Ace Hardware kok mahal bener ya. Kursi satu biji dan meja kecil satu emprit, harganya hampir 2 juta. Belum lagi kalau yang model rada panjang, alias bench gitu. Ada juga yang mirip jalinan rotan tapi dari bahan plastik harganya fantastis. Di atas 5 juta kalau engga salah.

Karena dekat kantor saya banyak pedagang pinggir jalan yang jualan kursi rotan, akhirnya saya beli kursi rotan aja deh. Harganya cuma beberapa ratus ribu. Nah kan jauh benar sama yang di toko tadi.

Lagian cantik juga kursi rotan dengan warna alami ini di antara kebun herbs. Walau teman saya lebih menyarankan warna putih aja. Lah gimana, dari sananya warnanya gini? Dicat aja katanya.

Bagaimana? Apa sebaiknya kursi ini dicat saja? Cantik kan ada kursi di antara pohon Basil, Rosemary, Artichoke, Thyme dan Oregano ini? Ada yang mau ikutan sama saya?

Camera 360