Feeds:
Posts
Comments

Percakapan Pagi Hari

Pagi hari adalah saat dia menelepon. Percakapan panjang dan lama. Biasanya tentang mimpi-mimpi kami berdua. Yang tidak masuk akal dan kemungkinan terjadi hanya satu berbanding milyaran bintang di langit. Tapi kami tertawa dan bahagia dengan mimpi kami. Karena mimpi kebahagiaaan itu milik kami sendiri. Sangat pribadi. Primitif dan sederhana sebetulnya.

Tentang anak lelaki yang ingin dia miliki dariku. Tentang keinginan menuntaskan rindu di rumahku. Atau perjalanan berdua ke negara-negara lain. Kadang berkhayal pergi berdua saja ke Taman Safari di Bogor. Atau ke Lego Land. Bukan sesuatu yang aneh dan luar biasa sebenarnya. Tapi bagi kami itu sesulit menyelesaikan persamaan kuadrat dengan otak terbelakang.

Jadi cukup aku dan dia tertawa saja. Kadang dengan helaan napas panjang. Kadang dengan saling menyalahkan. Untuk mimpi-mimpi sederhana kami. Bahkan kami tidak bisa meraihnya. Karena jalan yang sudah aku dan dia tempuh sudah bercabang dua dengan arah berbeda. Tidak ada titik temu. Kecuali percakapan tentang masa lalu. Dan kata-kata berandai-andai selalu.

Aku dan dia saling berbagi cerita sambil berbaring..serasa bersisian walau diantara kami terbentang jarak seribu pulau.  Lalu terlontar,
“Bukankah kita bahagia begini saja?”
Katanya suatu waktu.
“Bagaimana dengan dosa” tanyaku pada dia.
“Dosa kalau aku menyakiti kamu” katanya sederhana.
“Dosakah kalau aku selalu ingin menjaga kamu?”
Aku terdiam.

Lalu pembicaraan terganti dengan desah dan dipanggilnya namaku dengan resah.

Di Jelang Malam Hujan

image

Sesungguhnya aku sangat serakah padamu. Aku ingin memetakanmu di hadapanku. Menggelarnya pada meja panjang dan besar. Menggunakan alat-alat untuk menandai sebelah mana aku akan jajah lagi dan kuasai.

Sampai tak ada lagi yang lahan yang tersisa. Akan kutancapkan bendera kemenangan di setiap bagian. Kutunjukkan padamu dan dunia, bahwa kau milikku. Hanya aku yang punya.

Tak ada bagian dari dirimu yang ingin kubagi pada yang lain. Jiwamu, tubuhmu, apalagi detak jantungmu, hatimu. Aku ingin rindu kamu, kegilaan hasratmu, pikiranmu, sebagian jiwamu. Ada padaku.

Tapi apa cerita. Delapan belas tahun sudah. Kumiliki hanya bayangan. Ada dan tidak ada. Sesaat. Sekejap. Dan aku terbangun berkali-kali dengan kebingungan. Aku tak dapat bedakan mimpi dan nyata. Aku hidup dalam mimpi dan jaga adalah tidurku.

Kebencian itu juga aku punya. Kecemburuan yang menyiksa. Kesedihan yang sering datang tiba-tiba. Andai aku bisa untuk membalikkan langit, bulan sabitnya untuk mencabik perempuan itu yang ada di dekatmu.

Karena aku cuma kamu dan kamu cuma aku.

Setelah Pertemuan

Rasanya aneh sendiri apabila pikiran tentang dia mulai datang, selalu tanpa peringatan tanpa alarm tanpa rambu-rambu. Begitu saja rasa sakit itu menjalar dari ujung jari, merambati aliran darah, lalu berkumpul di suatu titik dada, dalam satu tusukan tajam. Nyeri.

Aku tidak pernah bisa mendapatkan keindahan dari rindu. Karena terasa pedih yang sangat menyakitkan sehingga mengaburkan kelabat-kelabat indahnya ingatan. Rasa kehilangan itu terasa seperti kekurangan udara. Di tengah keramaian atau tawa teman di hadapan, terkadang kurasakan berat kutarik napas, rasa seperti air naik perlahan sampai batas kepala, dan aku menggapai, mengangkat tubuh agar masih tetap mendapat hirupan demi hirupan agar tetap hidup. Sesak.

Setiap pertemuan hanya menambah torehan luka. Dan aku tetap gila. Saat pikiran warasku berkata untuk menjauh dari dia, kegilaan itu akan kembali datang di saat menemukan kesempatan, mencuri waktu untuk bersama berdua, dan kembali berjauhan dengan tambahan luka, dan kegilaan yang parah.

Bila ini cinta, aku ingin mengembalikan pada yang punya. Aku tak sanggup menanggungnya. Aku tidak sekuat seperti yang kukira semula, aku luka, pengap dan gila, karena rindu dan keinginan untuk untuk bersamanya.

Tak Terkata

image

Karena aku tidak bisa mengucapkannya  dengan benar dan suara bisa saja menurunkan artinya….maka aku disini berdiam menatap wajah yang tertidur lelap. Puluhan menit berlalu dan aku memperhatikan nafas yang turun naik, sebentuk alis mata yang kini jadi tak beraturan, kusentuh sehalus daun jatuh untuk kurapikan.
Dia masih tertidur tanpa terbangun. Lelah.

Berhadapan kami berbaring. Walau dia bilang sulit tidur bila harus memeluk tak urung tangan kirinya terulur dan menangkup di pinggangku.

Aku senang melihatnya tidur. Berlama-lama aku menatapnya. Garis-garis yang mulai tampak di sekitar mulut, keningnya yang berkerut karena pikir dan kerja keras…tampak melembut dibalut mimpi.

Besok atau lusa entah kapan momen ini dapat terulang. Mungkin ya mungkin tidak. Mungkin saja kami tiba-tiba menyadari bahwa hal seperti ini adalah sesuatu yang tersia. Hanya ilusi. Mengabur seperti asap tertiup angin dan hilang di udara tipis. Tak berbentuk atau menemukan bentuk. Bukan sesuatu yang solid karena tidak berakar di bumi dan memiliki pilar.

Aku hanya menatap dia di malam itu sambil berpikir belasan tahun yang sudah berlalu. Kami lalui tanpa bersisian tanpa banyak kata tanpa banyak bunga tanpa janji tanpa makan malam romantis dan pesta tahun baru beserta kembang api yang dapat disaksikan berdua sambil bergandeng tangan.

Aku hanya ingin membekukan saat ini. Untuk sebuah perasaan tak terungkap dengan kata. Untuk suatu saat mungkin kuingat dalam helaan napas dan doa permohonan ampun atas dosa.

Pria Beraroma

Saya sedang berada dalam lift hotel,  dengan kaca  disekeliling ruang berbentuk kubus ini membuat saya berpikir untuk memencet jerawat di hidung yang sepertinya sudah bisa dipetik hasilnya alias komedonya.

Saat tangan saya bergerak ke arah jerawat..pintu lift terbuka dan seorang makhluk yang melewati batas ketampanan yang standar memasuki lift dan berdiri di depan saya.

Dia tinggi. Saya yang bersepatu hak tinggi sepuluh senti hanya sampai di batas  dada atasnya. Dia bertubuh atletis dengan otot secukupnya tidak berlebihan menonjol seperti matras Palembang.

Karena berdiri dekat sekali dengan saya terlihat permukaan kulitnya yang bersih dan memiliki rambut-rambut halus di pundak dan lengannya yang tumbuh rapi seperti halaman rumput istana Kensington dan tampak
menggemaskan untuk dicabuti pelan-pelan (sadiiiisss…).

Lalu tercium aroma tubuhnya dengan wangi awapuhi (sejenis lempuyang, kerap disebut jahe wangi). Lelaki ini berorama rempah dan bahan dupa! Saya jadi ingin meletakannya di altar dan menyulut ujungnya pelan-pelan.

Di Medan itu paling enak untuk jalan-jalan keliling kota pakai bentor. Apalagi pas saya datang ini cuaca sedang dingin, sedikit berangin dan cenderung mendung. Sehingga terasa sejuk angin menerpa saat kita berkeliling menikmati suasana. Dan tidak sulit mendapatkan bentor mangkal atau lewat. Mereka selalu ada. Di sekitar hotel, atau di jalan-jalan utama. Siap membantu. Seperti Pramuka.

Adik saya begitu mengetahui saya akan pergi ke Medan, berkata dengan wajah tanpa dosa, datar dan jelas bisa terbaca di matanya kata “OLEH-OLEH” dengan huruf besar kapital yang dicetak tebal dan diberi highlight warna ijo terang. “Nitip beliin katel dong!” Catatan bagi pembaca: beliin ini berarti tidak ada penggantian uang, diskon ataupun potongan kupon. Murni gratisan. Katel itu wajan dalam bahasa Sunda. “HAH?! Katel?” Tanya saya dengan kaget tapi cantik. “Ngapain beli katel di Medan??” tanya lanjutan saya dengan berwibawa. Biasanya orang minta dibelikan duren, pie duren atau bolu Meranti. Jarang sekali ada yang minta dibelikan perabot dapur.

“Wajan besi ini kata temannya Neng namanya Khang Kau. Tebal dan kuat dan gak bikin masakan gosong, bagus buat bikin kwee tiaw atau mie goreng dan tumisan” “Adanya di Pasar Sambas”. Lalu dia membaca sms dari temannya lagi, yang katanya si Neng  ibu temannnya ini pernah menjinjing mahluk bernama Khang Kau ini ke kabin pesawat.

Isi smsnya sebagai berikut:

Wajan besinya namanya Khang Kau, bisa dibeli di toko kelontong di  Pasar Sambas di Jalan Sisingamangaraja. Naik becak saja kesitu.

Saya dan adik saya Meta, spontan berkata “Naik becaknya darimana?”

Dan seolah Gita temannya itu bisa mendengar dari jarak jauh karena dia punya telinga super, smsnya yang berikutnya menyusul:

Naik becaknya terserah darimana saja.

Halah. Petunjuk yang sama sekali tidak membantu untuk saya yang belum pernah tahu kota Medan. Untuk naik kereta api dari bandara saja petunjuknya saya masih tanya-tanya ke google.

Oke, saya sih kalau dapat tantangan emang suka tertarik. Membeli wajan di kota Medan buat saya salah satu tantangan. Apalagi harus ke pasar tradisional. Ini saya suka.

Dan kemarin pagi saat saya mati gaya karena baru bisa ke kantor di Medan ini lewat jam makan siang, akhirnya saya iseng kenalan bertanya pada abang pengayuh bentor. Mengayuh sepertinya kurang cocok, karena becaknya digandeng motor. “Bang, bisa antar ke pasar Sambas?” Dia ternyata sangat antusias. Pas ditanya ongkosnya berapa, dia jawab berapa saja yang penting ridho.. Wah ini misterius sekali. Ridho itu bisa berarti sedikit atau banyak. Lah kalau saya ridhonya cuma serebu perak gimana ya? Abang ini gak ada antisipasi banget deh.

Berangkat ke pasar, Abang Bentor ini banyak bercerita tempat-tempat menarik dan gedung-gedung tua peninggalan kolonial yang menurutnya bagus-bagus. Dia bahkan selalu berhenti untuk menawarkan saya memotret gedung-gedung tua. Kok ya sepertinya ada chemistry ya antara saya dan dia. Darimana dia tahu saya suka gedung tua? Gawat nih bisa-bisa ntar kita jadian.

Sampailah kami di pasar Sambas. Ternyata tidak sulit mencari Khang Kau ini. Petugas tokonya dengan baik hati menenteng segayung air saat saya menyentuh wajan. Karena langsung saja tangan saya saya jadi cemong kena jelaga di wajan itu, mungkin si abangnya cemas saya mencemongkan hidung saya tanpa sengaja.

Khang Kau ini berat sekali! Ya iyalah…ini besi cor! Ini bahan buat perisai tentara Romawi jaman invasi Alexander Agung. Bisa juga buat topi baja kalau kita diserang dari udara. Saya bahkan jadi memikirkan Thorin Oakenshield dan perisai dari dahan kayunya saat melihat wajan besi ini. Kangen ih sama Thorin. Dan Kili..ehm.

Walau berat dan saya ragu juga untuk membawanya, saya malah beli dua! dan satu lagi dari bahan alumunium, jadi total tiga. Yang alumunium karena terbujuk penjualnya yang bilang bahwa ketebalan alumunium wajan Medan beda dengan wajan Jawa. Wajan di Jawa sudah turun kualitasnya sehingga mudah bocor. Pasti ada mafia penurunan kualitas wajan di Jawa sehingga kalah kualitas dengan wajan Medan yang selalu dicari orang bahkan dari Jakarta. Lalu dia menunjukkan wajan dari Jakarta..”Tuh lihat Kakak, beda kan? wajan Jakarta jelek!” Katanya bernada sok tahu dan yakin. Dia terdengar seperti Percy Weasly yang sibuk mengurus kuali bocor hasil impor.

Sekarang pas mau pulang saya memikirkan, akankah saya selamat melewati detector logam di Bandara? bagaimana jika saya ditahan dan kena tuduhan bahwa saya ahli perancang bom yang mampu merakit alat peledak rakitan dengan menggunakan wajan. Cemas deh.

Pulang dari Pasar Sambas, Abang Bentor mengajak saya ke Mesjid Raya Medan. Mesjid yang dibangun di tahun 1906 ini diprakarsai dan dibiayai oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam. Banyak sekali wisatawan yang datang untuk berfoto di depan Mesjid. Abang Bentor menyilahkan saya untuk melihat-lihat ke dalam. Bahkan dia menawarkan memotret saya disana. Cuma saya tolak, saya bilang, saya ini sudah cukup eksis dengan foto-foto narsis, tidak perlu lah menambah enek orang-orang yang melihat sosmed saya. Saya sekarang fokus pada objek lain saja selain wajah saya. Si abang cuma mengangguk-angguk. Mungkin dia bingung. Tadi dia bilang baru kali ini antar pengunjung kota Medan beli wajan, sekarang kok ada wanita cantik yang gak mau difoto di tempat wisata.

20141229_111537

Dari Mesjid, kami lanjut ke Istana Maimoon, si Abang juga menjelaskan sejarahnya dan Meriam Puntung yang ada di depan istana Maimoon, berikut cerita Puteri Hijau. Lengkapnya ada di Wikipedia kalau mau baca ya. Atau saya tulis blog lain kali dengan syarat dan ketentuannya: tidak janji.  Ngomong-ngomong Abang Bentor ini harusnya diangkat jadi Duta Wisata Medan deh, lancar sekali dia bercerita tentang Kesultanan Deli dan sejarah-sejarah lain, termasuk cerita tentang Pajak Ikan atau Pasar Ikan yang tidak berjualan ikan sama sekali tapi pasar kain dan pakaian, juga pasar buku bekas yang pindah tempat dari jembatan Titi Gantung ke jalan lain di dekat Taman Merdeka.

20141229_112240_Richtone(HDR)

Lalu Abang Bentor, mengajak saya mengunjungi rumah besar peninggalan Tjong A Fie. Orang Cina terkaya di Medan pada abad 19 dan awal 20. Mansionnya yang berdiri dengan luas sekitar 6000 meter persegi dijadikan   museum dan dapat dikunjungi untuk melihat perjalanan hidup Tjong A Fie dahulu.

2014-12-30 12.28.36_resized

Ternyata tempat ini sangat amat menarik bagi saya. Saya sangat menyukai rumah tua, arsitektur yang unik, dan perabot kuno. Antusias sekali saya berjalan-jalan dari ruang ke ruangan, menatap berbagai foto-foto lama, dan membayangkan betapa mewahnya dulu tempat ini saat di masa jayanya.2014-12-30 12.43.53

Tiketnya Rp 35.000, di beranda depan juga dijual buku-buku yang berkaitan dengan sejarah Cina Peranakan, juga buku memoar tulisan putri tertua Tjong A Fie, yang bernama Tjong Fuk Yin atau dikenal dengan Queeny Chang. Seharusnya mungkin saat kita masuk dan melihat-lihat ke dalam, diantar oleh pemandu. Namun saat saya kesana, tak seorangpun pemandu mengantar saya. Saya juga bingung, apakah memang kita harus berjalan sendiri atau ditemani. Rumah ini besar sekali dan tak seorangpun tampak ada di dalam.

2014-12-30 12.31.57

Lampu-lampu walau bersinar tak mampu mengusir suramnya bangunan dengan ruangan yang usianya lewat satu abad ini. Barang-barang dan perabot tua, tampak sekali amat cantik dan mewah pada jamannya. Di ruang pertama kita masuk, di sebelah kanan ruangan terdapat grand piano tua berwarna hitam, sebuah lemari bar dengan botol-botol wine kosong. Kursi-kursi kayu tampak kokoh tak lapuk dimakan usia, lantai ruangan ini berornamen daun dan bunga, saya jadi teringat rumah tua kakek saya dulu, lantainya pun berhias seperti ini.  Mungkin dulu ruangan luas ini sering dipakai untuk menjamu tamu atau mengadakan pesta. img1419919581530_resized (1)

Rumah ini memiliki ruang kosong di tengah dengan ceruk persegi panjang dengan dasar dan pinggiran batu-batu kali berbentuk balok. Sepertinya dulunya adalah kolam dangkal. Mungkin dulu isinya ikan koi dan teratai. Dengan langit terbuka seperti ini, pastinya indah sekali apabila turun hujan jatuh ke kolam. Masuk ke dalam sebelah kiri terdapat ruang kamar yang besar dengan ranjang berkanopi yang sangat indah walau sudah tua sekali terlihatnya, alas tidurnya tampak bersulam dengan pola yang rumit. Warnanya sudah sangat pudar, sehingga tampak kecoklatan.  Saya kaget saat menoleh ke belakang terdapat dua manequin tanpa kepala dengan pakaian lelaki dan perempuan khas Cina. Juga terdapat mesin jahit di pojok ruangan. Ada meja bundar dekat tempat tidur dengan buku-buku bertuliskan huruf mandarin. Foto-foto Tjong A Fie dan istri tergantung di dinding, juga foto Sultan Deli yang sangat bersahabat dengan Tjong A Fie semasa hidupnya.img1419919238923_resized (1)

Foto-foto Tjong A Fie ini sangat unik karena ada mengenakan pakaian khas Timur Tengah. Ada juga foto dengan wajah wanita bule yang tampak buram. Buram karena memang pelukisnya rupanya sengaja membuatnya blur. Entah kenapa, apakah sedang belajar teknik sfumatto seperti Da Vinci atau lupa mengenakan kacamata saat melukis. Saya perhatikan dari lekat-lekat, tampaknya lukisan wanita berpakaian pemerah susu dari Belanda.

Selanjutnya saya memasuki ruang makan yang pastinya dulu sangat menyenangkan. Soalnya makanan Cina kan enak-enak. Sebagai penggemar makanan Cina, saya membayangkan mangkok dan piring yang berornamen hias warna kemerahan itu berisi aneka Dim Sum, juga makanan lain yang menggugah selera, misalnya bebek panggang. Saya juga melihat sampai belakang dimana terdapat dapur kuno. Bahan bakarnya menggunakan kayu bakar, ada banyak lubang-lubang tempat mendudukkan panci dan wajan. Perabot tua tampak dalam lemari. Di sebelah luar terdapat gilingan dari batu. Mungkinkah alat pembuat tahu?

Saya pun naik ke lantai atas dimana banyak terdapat ruangan-ruangan, kursi-kursi dan meja untuk duduk-duduk dan tempat sembahyang. Rumah ini terbuat terutama dari kayu. Pastinya kayu yang berkualitas sangat tinggi sehingga tetap kuat bertahan sampai sekarang. img1419919038141_resized

Saya senang sekali di museum Tjong A Fie ini, saya asik memperhatikan gramofon tua dan pemutar piringan hitam yang lebih modern yang sebenarnya mungkin berada disitu setelah Tjong A Fie tiada. Masih ingin saya berlama-lama disitu, karena saya sangat suka museum.  Tapi saya teringat Abang Bentor yang masih ingin mengantar saya ke tempat lainnya.

Oh ya tadi waktu pergi dia minta ongkos Rp 30.000,- saja, tapi dengan tour guide profesional seperti dia yang bahkan sampai mengantar saya ke pasar dan membawakan wajan besi saya, kiranya pantaslah dia diberi beberapa kali lebih banyak dari tarif yang dia minta.  Saya masih ingin balik lagi ke Tjong A Fie mansion hari ini, ingin beli bukunya. Tapi sempat engga ya? Besok saya sudah harus pulang ke Bandung.

Sekilas tentang Tjong A Fie, dia adalah seorang Hakka atau dari suku Khe, yang lahir di tahun 1860, pergi merantau ke Medan menyusul kakaknya dengan berbekal 10 keping uang Manchuria yang dijahitkan di sabuk celananya. Setelah menempuh perjalanan panjang dengan kapal layar sampailah di Medan dan mendapatkan kakaknya telah menjadi Majoor der Chineezen atau pemimpin komunitas Tionghoa yang ditunjuk oleh Belanda. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, Tjong A Fie sukses sebagai pengusaha dan politikus yang sangat dekat hubungannya dengan Sultan Deli Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah.

Sebagai seorang pengusaha, politikus, philantropis dan salah satu  orang yang membangun kota Medan, Tjong A Fie adalah contoh manusia luar biasa.  Ada motto atau semboyan hidup Tjong A Fie yang pikir sangat menunjukkan karakternya sebagai berikut:

“There on the earth where I stand I hold the sky,  success and glory consists not in what I have gotton but in what I have given”

 

 

 

 

 

 

FYI

lonely-house-ellidaey-iceland-9Seperti halnya minggu-minggu lalu, bulan, tahun dan saat yang sudah lewat, bahkan terakhir di hari dimana kau duduk di depanku adalah kau sibuk sendiri dengan perangkat selularmu.

Sampai aku pada bagian, bahwa sebenarnya untuk apa eksistensiku. Mematung di depanmu melihat kening, tanpa kontak mata bahkan aku juga tak tahu pikiranmu apa. Lalu untuk apa?

Jadi kamu jadikan aku hanya sebagai bagian dari potongan waktu tersisa saat kau punya, itu pun saat yang kau curi saja, saat tak ada kegiatan lain dan mati gaya. Tanpa bicara tanpa emosi. Untuk apa kau tawarkan meja berhadapan ini di sebuah restauran yang hiruk pikuk, kalau hanya untuk begini? Aku bicara sendiri dan kau sibuk sendiri.

Kita bercinta tapi hati terisolasi. Seperti rumah di tengah laut, kau beri tempat tapi tak beri kau jembatan untuk menjangkau seberang. Hanya kadang melihat ombak menyentuh bibir pantai, sambil berharap perahu itu akhirnya datang untuk samudera jiwa agar menjelang.

Hayang nyabok siah!

Jasper von Viper

image

 

Nama Siberian Husky saya sesuai stamboom adalah Jasper Von Viper. Kok kayak nama uler ya? Viper Gabon. Tapi panggilannya adalah Josh atau Jose. Atau Joshie, Joe atau Joice (ini kalau Drea yang manggil). Kalau saya manggilnya Jojosh. Makin jauh aja dari nama Jasper.

Kesukaannya kabur ke depan pagar rumah tetangga dan menempelkan hidungnya pada Kana, anjing tetangga yang berbulu keriting itu. Saya tidak tahu jenis apa. Kalau dengan Kana, Josh bersahabat. Sepertinya beberapa kali mereka sudah mengobrol tentang gosip dunia anjing. Kalau dengan anjing tetangga sebelah, seekor Golden Retriever yang berisik dan tukang menggonggong, Josh tidak suka. Demikian sebaliknya.

Josh paling suka membalikan tempat minumnya sehingga becek di lantai lalu kemudian dia akan bermain guling-guling-ciprat-ciprat-serodotan dengan air tergenang tersebut. Hobinya yang lain adalah berebut bantal dengan saya. Bantal leher khusus untuk saya di mobil kalau bepergian, sekarang bentuknya sudah runyam.

Josh juga senang mengejar kecoak dan menginjaknya. Ini hobi yang saya setujui sekali. Pernah dia menunggui kecoak yang bersembunyi di balik printer sampai lama, dan kemudian mungkin karena bosan menunggu, printernya Josh jungkir balikkan.

Sebagaimana anjing Siberia atau Alaska yang doyan dingin, Josh pun benci panas. Siang-siang bila tidak menemukan tempat dingin dia akan bersembunyi di kamar mandi. Tiduran di lantai yang dingin. Untuk  itu biasanya Josh tinggal di kamar ber-AC. Bahagia banget dia berbaring di lantai dingin dengan AC yang diset 16 derajat Celcius.

Kami sekeluarga menyayanginya. Saat dia datang di bulan Oktober lalu, seisi rumah memeluknya dan menggendongnya. Saat itu dia terlihat gendut dan lucu. Masih menyusu, kasihan sekali sudah dipisahkan dari ibunya. Jalannya saja kadang sempoyongan dan terpeleset bila menemukan undakan. Tapi dia tidak pernah melolong sedih, karena selalu kami temani.

Sekarang Josh sedang nakal-nakalnya, tapi lucunya Josh sangat takut pada payung. Suami saya cemas, bagaimana kalau ada maling datang dan berpayung.

 

Bisma oh Bisma..

Saya ini penggemar Mahabharata garis keras. Dari yang namanya buku berbahasa Sunda jadul terbitan Balai Pustaka, ataupun terjemahan dari bahasa Sanskerta ke Inggris yang Krishna-Dwaipayana Vyasa version, ataupun komiknya RA Kosasih sudah khatam dibaca. Bolak-balik. Tengah depan, atau depan ke tengah. Tergantung kesukaan hati saat itu.

Filmnya juga nonton. Dan yang sekarang tayang di ANTV ini bisa jadi versi yang lumayan mirip aslinya, walau ada dikit-dikit yang melenceng, tapi gak parah amat lah, maklum dijadikan film, mungkin kudu ada bumbu Bollywoodnya. Lagipula yang produksi Startv ini yang jadi Karna alias Aham Sharma ganteng euy. Membuat hasrat saya bangkit (weitss, apapula ini).

Karena saya penggemar Mahabharata hardcore, tentu saja saya ingin bercerita pada anak saya mengenai kisah abadi sepanjang masa ini. Ibunya penggemar dan pembaca Mahabharata tingkat akut, masa anaknya tau juga engga kisah Pandawa Kurawa dan perang besar Bharatayudha? Memalukan pastinya. Ibu penggemar cerita macam apa yang tidak menularkan pada anaknya. Minimal tahu dong harusnya. Jangan cuma tau pelem Korea aja.

Nah suatu malam, Drea protes pada saya yang tidak berkedip memandang bulu dada Karna. Jelas ini bohong, karena dada Karna tidak berbulu. Dan semua pemain film Mahabharata ini ga ada yang berbulu kok dadanya, mungkin diwax. Eh bukan karena saya suka dada berbulu yah. Entah kenapa nih kok jadi bahas dada buluan.

Intinya Drea heran kenapa saya suka banget film Mahabharata. padahal sih ya efek-efeknya mengecewakan. culun gitu lah. Jauh banget sama efek-efek di filmnya Peter Jackson atau Christopher Nolan. Gustiii..yaiyalaaa.

Akhirnya karena saya merasa ini momen yang pas untuk mengenalkan pada Drea tentang kisah epik Mahabharata, maka mulailah saya bercerita tentang kisah Mahabharata. Dari awal dong. Dari nama asal Bharata dan Raja Santanu dinasti Kuru ini. Sampailah cerita saya tentang Dewi Gangga dan kelahiran Bheesma atau Bhisma Pitamaha.

Saya bercerita bahwa Bheesma dulu adalah salah satu dari Vasu, dewa yang menguasai elemen-elemen dari alam. Dan Bheesma dulu bernama Dewabrata. Bheesma harus lahir ke dunia sebagai manusia untuk beberapa lama. karena kutukan saat dia menjadi Vasu.

Pada saat saya bilang “Nah dan kemudian lahirlah Bhisma..”
Drea menjawab dengan nada datar “…ohhh..Bhisma Smash..”