Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Travel’ Category

Batam hari ke 2 – Barelang oh Barelang

Kantor kami di Batam letaknya strategis sekali, yaitu di kawasan Batam Center. Selain model gedung yang unik (entahlah gaya arsitektural apaan, saya sih engga ngerti) menempel pada gedung, satu menara yang menurut saya sih mirip minaret. Dan dari kemarin saya sudah berniat untuk naik sampai puncak bila ada kesempatan.

Dari ruangan meeting, saya dapat melihat pemandangan ke arah teluk eh selat dimana banyak ferry dan kapal-kapal kecil lainnya lalu lalang (mungkin yang lebih tepat sih hilir mudik). Kata teman sih, kalau cuaca sangat cerah, pulau Singapura dan high rise buildingnya bisa terlihat cukup jelas. Sebetulnya ini bukan kali pertama saya ke Batam, namun dulu hanya sebentar mampir untuk kemudian menyeberang ke Singapura.
(more…)

Read Full Post »

Di Batam hari ke 1

Setelah delay luar biadab akhirnya kami sampai dengan selamat (namun dengan leher pegal) di Bandara Hang Nadim jam 1 malam. Disambut dengan luar biasa gembira oleh Pak Kumis teman kami disana, terutama sih dia  gembira bertemu dengan Wawa saudara kembarnya dalam hal kejahilan dan kebathilan.

Bahkan di jalan, ide-ide yang tidak pada waktunya mulai bermunculan di otak ke dua pria tersebut, misalnya membangunkan teman-teman sekantor kami ke tempat kostnya, atau menonton pertunjukkan malam, yang tentu saja oleh saya dan Nuning tolak. Karena kami sudah sangat merindukan bantal. Namun tidak menolak sih kalau diajak ke tempat tukang bakso atau bubur ayam. (more…)

Read Full Post »

Ke Batam bersama Kerupuk Bondon

Sehubungan kepergian saya ke Batam bocor kepada teman-teman yang ada di Batam (saha atuh nya nu ember??), langsung deh salah satunya Pak Iman Kumis (pria anggota ‘sirait’ bersaudara) yang beberapa lalu dimutasi promosikan ke Batam menelepon dan memesan beberapa makanan sebagai berikut:
Brownies Kukus Amanda, Kurupuk Bondon aneka rasa (pedas dan non pedas), Cheese Stick dan Cheese Roll PrimaRasa, Batagor (boleh Abuy, Riri, atau Kingsley) yang sudah digoreng.
Total jendral maaak….! sampai berkeresek-keresek … terutama itu si kurupuk bondon duuh… sudah murah menuh-menuhin tempat lagi! Hiks tamatlah cita-cita saya untuk hanya membawa ransel kecil nan mungil. Belum lagi di undangan tertera kudu bawa notebook. Halah, angkaribung ja…
Ternyata Citilink delay uey, dari jam 4 menjadi jam 10 malam, dengan alasan yang membuat pikiran tidak tenteram yaitu: kerusakan mesin pesawat saja. *garuk-garuk pala*

Read Full Post »

Catatan Dua Minggu @ Jakarta

Cuma nyaris sih ..engga genap dua minggu,  sempat bolak- balik ke Bandung soalnya. Berikut catatan saya tentang Jakarta.

Pengetahuan saya tentang peta dan arah di  Jakarta dari tahun ke tahun ternyata tidak mengalami peningkatan. Memalukan. Bagi saya Jakarta masih seperti puzzle raksasa yang potongan-potongannya belum bisa saya satukan. Saya tidak tahu mana utara dan selatan, barat dan timur – soalnya dibesarkan di kampung yang sejauh mata memandang cuma sawah sih-,  jadi sudah terbiasa menentukan arah dengan melihat dimana matahari terbit dan terbenam di horizon sebagai penunjuk arah (ah ahlesan 🙂 ).  Pengetahuan saya tentang Jakarta masih terbatas antara Kantor, Hotel, dan Mal terdekat. Sisanya? Nol besar.

Lalu tentang kendaraan umum. Metromini di Jakarta mengerikan. Lebih memicu adrenalin dibandingkan dengan semua wahana yang ada di Dufan dijadikan satu. Menurut Tub, kendaraan warna oranye busuk tersebut cuma punya dua kecepatan : lelet sekali dan ngebut sekali. Kalo baswei sih menyenangkan,  dan setiap saya mendengar “check your belonging and then step carefully” saya jadi teringat Hericz si pecinta baswei.

Saya juga mencatat ada pengamen di Jakarta (seperti juga pengamen yang tak beradab di kota-kota lainnya), melakukan tindakan premanisme dengan memaksa-maksa, dan kemudian melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan dengan mengeluarkan perkataan yang berbau penghinaan. Halah, terus kalo memang tidak ada uang kecil apa mesti saya kasih selembar uang lima puluh ribu dan minta kembalian? Saya jadi teringat peristiwa bertahun-tahun lalu dimana saya ditilang, dan kepada sang oknum polisi yang mengajak berdamai (loh dia yang ngajak damai ya, bukan saya malah) saya meminta uang kembalian dari uang sepuluh ribu yang saya berikan. Hehehehe..

Sampai akhirnya tadi malam saya kembali ke Bandung. Senang sekali rasanya melihat tulisan Welcome To Bandung di tol Padaleunyi menuju Padalarang. Ah Bandung …. Home Sweet Home! 

Read Full Post »

Tadi sore saya berjalan-jalan di seputaran Jl. Dago, Aceh, Lombok, Banda, Bawean, Riau dan saya lupa lagi bersama mon petite amie. Ternyata menyenangkan. Apalagi udaranya segar selepas hujan. Bukan berarti ini yang pertama kali. Dulu-dulu pernah juga. Misalnya ke Dago Pakar, Puncrut atau ke Maribaya, tapi itu mah keluar kota ya? Pernah juga waktu ikut gerak jalan yang diadakan oleh Telkom. Tapi engga asyik. Gimana mau asyik. Selain ngos-ngosan, sepertinya saya keseringan membetulkan tali sepatu. Panas pula. Kalah pula.

Jalan-jalan santai menyenangkan. Karena jadi banyak yang dilihat. Misalnya kita menghitung jumlah tukang jahit di Jalan Cakranegara. Lalu menandai pedagang bakso yang enak di Jalan Sabang. Ada pula restoran Jepang khusus Yakiniku yang terlihat menarik untuk dikunjungi di daerah dekat Jalan Flores.

Jalan Riau yang memiliki deretan Factory Outlet dipenuhi pengunjung luar kota yang masih belum kehilangan minat rupanya dalam berburu pakaian di kota Bandung ini. Selain itu Jalan Riau dipenuhi oleh pedagang Brownies kukus bermobil maupun berkaki lima. Brownies yang hitam (atau coklat tua?) legit selain merk Amanda yang jadi pelopor di Bandung ini sekarang diikuti oleh merk-merk lainnya yang rupanya tak mau kehilangan peluang dalam memasarkan Brownies kukus. Entah ada berapa merk, tadi saya lupa tidak menghitungnya

Sayangnya bangunan perumahan Bandung Tempo Dulu di seputaran jalan yang saya lewati rupanya kini makin beralih rupa. Saya pecinta rumah gaya dulu yang terlihat sejuk, antik, cantik, namun kokoh. Cuma sebatas senang melihat saja, karena kalau untuk memiliki setelah dipikir-pikir peluang saya untuk memiliki adalah nol. Uang tak ada, yang mewariskan kepada saya siapa gerangan, sedang untuk memasang undian berhadiah pun tidak pernah saya lakukan.

Banyak sekali rumah-rumah cantik berubah rupa jadi mengerikan. Dalam arti, hanya ingin terlihat BESAR saja, tanpa model yang sesuai dengan lingkungan sekitar, dan tanpa makna. Ceuk urang nu teu ngarti ieu mah nya, punten ka nu gaduh :). Halaman dihabiskan, pohon-pohon ditebangi. Kalau saya Idefix dalam cerita komik Asterix mungkin dari tadi saya sudah melolong-lolong.

Akhir dari jalan-jalan saya disudahi dengan minum jus Strawberry segar di pinggir jalan. Enak.

Read Full Post »

« Newer Posts