Apa film pertama yang Anda tonton di bioskop? Kalau saya, berhubung masa kecil saya dihabiskan di desa pantai utara yang jauh timana timendi, alias jauh dari kota, membuat saya tergolong manusia yang amat telat mengenal yang namanya bioskop. Bioskop yang bagus maksudnya. Kalau BSS alias Bioskop Sangat Sederhana sih ya tidak bisa dibilang telat. Rasanya sewaktu kecil pun saya jarang menonton TV malah. Gara-gara TV hitam putih kami tersambar petir, dan entah kenapa ibu saya ogah-ogahan sekali membeli yang baru. Saya sedih sekali waktu TV kami gosong itu, karena menganggap Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, dan Ira Maya Sopha bertempat tinggal di tabung-tabung kecil aneh dan lucu yang berada di belakang layar TV itu (saya suka berdiam di belakang lemari tempat TV diletakkan, dan mencari-cari darimana orang-orang di layar TV itu muncul). Untunglah ternyata para bintang cilik itu ternyata selamat sampai besar, tidak ikut gosong bersama TV kami.
Film produksi bule yang pertama saya tonton adalah Flash Gordon. Saya menonton di bioskop kecil di kota Karawang bersama orang tua saya. Sepertinya waktu itu umur saya 5 atau 6 tahun. Karawang adalah kota terdekat dari kampung saya. Kampung saya itu di pantai utara, ditengah-tengah perjalanan antara Karawang dan Cirebon. Saya sangat terimpresi dengan film itu. Terutama oleh Kaisar Ming yang saya pikir-pikir sekarang mirip Dedy Corbuzier, lagu Flash-nya yang dilengkingkan Freddie Mercury, dan bulu ketiak Flash Gordon yang lebat banget, terlihat jelas sewaktu tangannya diikat ke atas gara-gara ditawan oleh pasukan kerajaan Kaisar Ming. Hal-hal aneh memang biasa diingat oleh anak umur segitu mungkin ya?. Tidak banyak yang bisa saya ingat sih soal bioskop dimana film itu diputar, kecuali gelapnya. Tapi saya tenang menonton dalam gelap karena diapit oleh ibu bapak saya. Tapi sampai saya besar tidak pernah namanya nonton bareng ibu saya berlangsung aman nyaman dan tenang. Pasti kena sensor manual. Saya ingat pernah menonton film Basic Instinct bareng ibu saya pas saya sudah di bangku SMU, hampir setengah film muka saya ditutup oleh sweater oleh ibu saya.
Film Indonesia yang pertama saya tonton adalah: SANGKURIANG. Huehehehehehe. Bintang filmnya adalah Suzanna dan Clif Sangra. Saya menontonnya waktu saya SD. Bersama sepupu saya yang jauh lebih tua, di sebuah bioskop yang bangunannya dari bilik dan tiang bambu. Tanpa atap. Alias Misbar. Kalau gerimis ya ditanggung bubar. Kecuali yang menonton bawa payung mungkin. Misbar disini ya bioskop sederhana dimana kita bayar karcis masuk, bukan layar tancap yang dipasang di lapangan itu.
Bioskop misbar ini satu-satunya di kampung saya. Kalau promosi film baru hebohnya bukan main. Sebuah mobil bak dengan pengeras suara akan berkeliling meneriakkan film yang akan diputar malam itu. Berhubung di kampung yang jarang bangunan dan banyak lapangan luas, suara mobil keliling itu terdengar dari radius berkilo-kilometer jauhnya. Terkadang teriakan promo itu diselingi musik. Mungkin saat si pengiklan kehausan karena kebanyakan teriak-teriak. Lagu yang paling sering diputar dan diperkeras dengan toa itu adalah lagu “Still Loving You” nya Scorpion. Lagu tidak ada hubungannya dengan film. Karena yang diputar sih kebanyakan film Indonesia seperti Warkop atau film aksi seperti film Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin.
Kami berjalan kaki cukup jauh menuju bioskop misbar itu. Penontonnya membludak dan mengantri. Biaya tiketnya hanya beberapa ratus rupiah. Sebagai bahan referensi, saat itu semangkok bakso Mang Husin yang enak banget bisa dibeli dengan harga seratus rupiah saja (btw Mang Husin kemana ya sekarang?). Bioskop bilik bambu itu dilengkapi dengan bangku. Lantainya ditaburi sekam padi tebal. Mungkin agar tidak becek. Bangku terbuat dari tiga lenjer batang bambu. Pantat saya sering kejepit kalau saya merubah posisi duduk saya. Film diputar dengan terkadang terhenti sering kali. Tapi tanpa “huuuuu” dari penonton. Mungkin sudah dimaklum. Kami semua menunggu dengan sabar beberapa menit sampai film dilanjut kembali. Rasanya pada saat itu saya menonton Suzanna kok sepertinya dia cantik sekali ya? Dan yang paling yang saya ingat adalah adegan: bokong telanjang Clif Sangra sewaktu berenang. D’oh. Mungkin memang ada yang salah dengan ingatan saya sewaktu SD ya?
Film Indonesia kedua yang saya tonton di bioskop Misbar adalah film G 30 S/PKI. Saat itu setiap tanggal 30 September di sekolah-sekolah di daerah saya, menonton film tersebut adalah wajib hukumnya. Bahkan satu hari dikhususkan tidak ada kegiatan belajar mengajar karena dari sekolah diberangkatkan berkloter-kloter rombongan anak-anak sekolah untuk menonton film tersebut. Keseringan menontonnya dulu membuat saya kadang-kadang sekarang kangen ingin menontonnya lagi. Terutama untuk bernostalgia dengan quote-quote dari film tersebut. Coba siapa yang tidak ingat kalimat “Djawa adalah Koentji”… benar tidak Kawan?.


pertamax
Waduh, pas hari ini, saya teringat untuk mengisi blog saya tentang desa Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur di blog ini : http://ngunuttulungagungjawatimur.blogspot.com/, tentang kenangan2 di sana.
Saya teringat dulu waktu SD (1973-1980an) pernah ikut keliling mobil ini, dan juga teringat bioskop misbar di desa saya…
Mohon ijin untuk pasang artikel ini di blog saya, dengan saya cantumkan LINK ke sini.
Sukses buat ibu Mira!
[…] terkait: https://miramarsellia.com/2010/04/03/bioskop-misbar/ […]