Feeds:
Posts
Comments

Win a Family Trip to Korea!

Hai untuk yang ingin jalan-jalan berlibur gratis bersama keluarga ke Korea, check this out ya!
Siapa tau kan beruntung, his name is also effort (terjemahan bebasnya: namanya juga usaha).
Kalau menang ajak-ajak saya ya..saya juga mau.

English version:

Would you like to spend an unforgettable, fun-filled winter in South Korea with your family or friends? Well, this may be your chance. KTO (Korea Tourism Organization) is sponsoring a FAMILY TRIP for 5 lucky winners that includes winter activities like skiing or sledding and tours to winter festivals.

Win a Family Trip to Korea!.

110

Para Lelaki Yang Berubah

Buat para adik-adik yang lucu-lucu dan imut-imut yang masih SMU atau udah kuliah, ini saya mau kasih petunjuk ya. Catat baik-baik.

Berdasarkan pengalaman (ciee!), ternyata pria itu ada beberapa jenis.

1. Lucu, imut dan cakep waktu sekolah, pas udah menua, jadi jelek, gendut, dan botak. Ini kasus terburuk.

2. Lucu, imut, dan cakep waktu sekolah, pas udah menua, jadi tambah ganteng, cakep, dan tetap lucu (contoh Richard Gere, George Clooney, adalah kasus nyata).

3. Lucu, imut, dan cakep waktu sekolah, waktu sudah menua, agak botak, agak gendut, tapi ga jelek. Mereka berhasil melewati fase pertengahan umur tigapuluhan, dengan sukses. Bahkan beberapa malah terlihat cakep dengan botaknya dan tubuhnya yang menjadi agak sintal. Ini kita sebut membotak dengan indah.

4. Jelek, gak populer, gak terlihat eksistensinya, tapi pas reuni, astaga KOK JADI GANTENG??? dan sukses pula..hihihih

Yang nomor 4 terakhir yang harus sangat diwaspadai. Ini adalah sesuatu yang kita sebut intan dalam lumpur. Harus sangat awas saat masa-masa sekolah untuk menemukan bibit pria seperti nomor 4.

Demikian. Ntar Tante terusin lagi yaaa…

cc: DRUAMIE

Hal Nyebelin Tinggal di Bandung

Sebenarnya ampir tidak ada yang menyebalkan.  Huhuy. Buktinya banyak orang yang senang tinggal di Bandung kan? Tapi saya mau bahas kira-kira apa yang nyebelin di Bandung.

Banyak pengemis, banci, tukang ngamen, doger monyet di perempatan jalan. Terutama di Buah Batu, dan Kiaracondong. Bayangkan udah panas-panas macet, kaget pula sama banci bawa kecrekan. Belum lagi anak kecil yang jadi pengemis, itu orang tuanya kemana ya, anaknya kok dibiarin di jalanan. 

Banyak angkot yang seenaknya berhenti dan jalan sembarangan. Bikin macet. Soalnya kebanyakan.

Mie ayamnya engga enak. Ini masalah saya pribadi sebagai penyuka mie ayam.

Katanya kota kembang tapi kembangnya engga ada dan banyak pohon ditebang.

Tempat-tempat di jalan banyak dijadiin pasar dan banyak sampahnya. Hii. Coba lihat deh Jalan Sudirman dan Jalan Kebonjati saat pasar Andir tumpah ke jalan. Nenek moyangnya jorok.

Bangunan tua dan cantik banyak dirubuhin diganti jadi mall atau distro. 

Kurang banyak taman. Trotoar buat pejalan kaki acakadul. Banyak pedagang kaki lima di jalanan. 

The Last

Aku memang bodoh
Untuk selalu mempertanyakan
Untuk selalu menjengkelkan
Harusnya kutelan saja
Tak usah banyak tanya tak usah banyak kata
Nikmati saja hujan sebentar di sore hari
Atau musim gugur yang hanya 14 hari
Mengapa pula harus melipir di pinggir jurang
Bila jatuh sakit sendiri dan tak bisa pulang

Dan sudah kau tutup pintu itu lagi
Aku mengetuk dan kau tak mau tahu barang sekali
Aku berdiri disini termangu mengutuk diri
Mempertanyakan cinta yang sudah bukan untuk dimiliki lagi
Memungut remah-remah dari sisa yang sudah terbawa angin
Tak akan kembali

Tak akan kembali

Ada becandaan jadul dalam bahasa Sunda yang menyebutkan “Sumur ngagantung talaga di awang-awang. Saumur hirup di Bandung teu nyaho harga bawang”. Okay ini hanya intermezzo, ga ada korelasinya sama tulisan di bawah. Ini hanya semacam internal joke buat yang berbicara Sunda sebagai bahasa ibu.

Kalau orang yang tinggal di New York kan namanya New Yorker yah? Kalau di Paris, namanya Parisienne. Nah kalau yang tinggal di Bandung alias penduduk Bandung namanya apa dong? Bandunger kah? Bandungienne? Ih teu ngeunaheun.  Atau cukup Urang Bandung Sadudulur meureun lah. *kehabisan ide*

Saya lahir di Bandung, tapi engga dari kecil melulu tinggal di Bandung, sempat lah saya melanglang buana ke Transylvania nyari Wolverine. Ngarang tentu saja. Saya dari umur balita sampai SMP tinggal di desa Sukamandi, di Pantura sono. Sejak SMA sampai sekarang, saya tinggal di Bandung.

Apa sih yang menarik di Bandung?

Adem. Beneran. Walau banyak yang bilang tidak seadem dulu. Paling engga masih ada lah sisa-sisa dinginnya yang tersisa apabila malam sudah berlalu. Tapi kalau siang-siang terus macet di daerah Pasar Baru mah gak janji ya, apalagi kalau ditambah ac mobil rusak.

Fashion. Buat yang suka dandan dan pingin berbaju unik dan nyentrik, kalian bisa dengan nyaman jalan-jalan di seputaran Cihampelas atau nongkrong di Paris Van Java tanpa terlihat mencolok. Orang Bandung tidak terheran-heran dengan dandanan nyentrik. Lagipula buat yang cari pakaian dengan mode lucu-lucu bisa ngubek-ngubek di distro atau FO yang bertebaran. Jangan di mall. Itu mah model bajunya standar atuh.

Makanan Enak. Apa sih yang engga enak di Bandung? Mie ayamnya. Nah kalau ini saya akui tukang mie ayam pinggir jalan kalah enak deh sama Jakarta atau bahkan kota lain. Ga tau kenapa. Mie ayam di Bandung saosnya salah kalau menurut saya. Tapi jangan tanya untuk mie bakso, mie kocok, kue-kue, kerupuk, cilok, peuyeum, apa aja rasanya enak deh disini. Percaya deh, buktinya banyak orang datang ke Bandung pada ngeborong makanan.

Orang-orang pada Ngomong Sunda. Nah ini asik kan? Klasik gitu loh. Bahasa daerah itu enak didengar. Masih banyak yang ngomong bahasa daerah Sunda di Bandung, dan menurut saya ini nilai tambah untuk keunikan suatu kota. Apalagi harusnya nama-nama tempat dan jalan juga kudunya dipertahankan pakai nama Sunda yang klasik dan unik. Pasti akan lebih menarik.

Sedikit pengantar tentang diri saya, ehm.

Saya ini suka belanja. Tentu saja dengan catatan. Catatan pertama adalah ya suka kalo pas ada dananya.  Kalau lagi engga ada dana, ngenes namanya. Nah udah rada lama saya juga senang belanja online. Belanja online pertama saya di website belanja di luar negeri. Nah kalau sekarang kan sudah banyak website untuk belanja katalog online dalam negeri, dan menurut saya ini lebih menyenangkan, karena banyak produk Indonesia yang engga kalah keren dengan produk luar, dan secara pembayaran juga lebih mudah.

Kalau di belanja online dalam negeri, saya termasuk yang suka coba-coba beli disana-sini di website yang jualan online. Kebanyakan sih beli buku dan pernak-pernik. Atau pakaian, atau macam-macam barang lainnya yang masih bisa dikirim dengan paket berupa parcel. Kalau beli kitchen set mah belum pernah. Walau saya pengen banget sih bisa beli Kitchen Set dari Ikea *ngehayal.

Saya sendiri juga buka usaha jualan online. Dan modal pertama untuk bisa dagang online, satu hal terpenting yaitu, HARUS BISA DIPERCAYA. O yah, ini beneran deh. Reputasi itu penting. Sekali ga dipercaya rusak susu sebelanga, bahkan satu kolam, kalau masih kurang banyak susunya.

Suatu hari seorang sobat saya mengenalkan website toko online baru untuk belanja. Namanya Tumbusapa.com. Wah, langsung naluri belanja saya timbul dengan semangat membara, hahay. Apalagi setelah dibuka ini website yang khusus barang-barang dalam negeri pilihan. Kualitasnya ok dan barang-barangnya artistik. Ada batik, ada kain tenun, ada pernak-pernik untuk rumah, ada aksesoris, berbagai tas dan dompet dari batik dan kain tenun, juga macam-macam perawatan tubuh dari bahan-bahan alami. Banyak deh!

Namanya unik ya, TumbuSapa. Karena penasaran saya buka di toko online tersebut pengen tahu artinya. Sebagaimana saya kutip dari toko online tersebut,

TumbuSapa adalah merek layanan dari toko online TumbuSapa yang berasal dari kata-kata asli bahasa daerah. Tumbu, berarti bakul besar bertutup untuk tempat menyimpan beras (bahasa Jawa, kamus besar). Sapa, berarti menyapa dengan keramahan (kamus besar). Sapa, dalam bahasa Batak juga berarti sejenis pinggan dari kayu nangka tempat nasi untuk makan bersama keluarga atau kerabat dekat.

Kedua kata tersebut melambangkan tempat untuk menyimpan kehidupan (beras atau nasi sebagai lambang kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang), juga melambangkan karakteristik Indonesia yang ramah, dan mementingkan kekeluargaan dan kerabatan serta kebersamaan.

Ternyata karena barang-barangnya pilihan, produk di TumbuSapa ini tidak tersedia dalam jumlah banyak. Wah kudu buru-buru belanja nih.

Untuk mengakses TumbuSapa, bisa dari PC, tablet maupun Smartphone. Saya sendiri mencoba dari PC.

Ok. Lanjut.

Saya terutama tergila-gila pas melihat baju batik cantik ini:

sony_0820

dan ini:

sony_0814

dan ini juga:

sony_0807

dan aksesoris cantik ini menjadi incaran saya.

img_0369

Tapi saya tidak mau dibilang egois, akhirnya beli juga sarung Bugis ini buat si Aa di rumah. Nanti dia pundung kalau engga dibeliin.

kain_songket_bugis

 

 

 

 

 

 

 

Sarungnya cakep kan?

Nah ternyata belanja di Tumbusapa.com ini mudah banget. Navigasinya cukup oke menurut saya. Ga pusing pakai muter-muter. Lagipula tampilannya elegan ga banyak iklan atau gambar yang ga penting, memberikan kesan elegant.

Screenshot_2013-11-07-23-19-32

Banyak pilihan dengan menu yang mudah ditelusuri

Screenshot_2013-11-07-23-21-57

Screenshot_2013-11-07-23-19-46 Screenshot_2013-11-07-23-29-07

Begitu kita sudah menentukan pilihan dan melakukan proses pemesanan, kita akan mendapat e-mail konfirmasi. Dengan link yang diberikan pada e-mail kita lalu dapat melakukan konfirmasi apabila pembayaran telah kita lakukan. Tumbusapa.com memberikan waktu 1×14 jam untuk pembayaran. Apabila tidak melakukan konfirmasi maka pesanan akan dianggap batal.

Pembayaran dapat ditransfer ke rekening BCA atau Mandiri. Karena sekarang dengan sms banking dapat melakukan pembayaran dimana saja kapan saja, maka saya saat mendapat e-mail dapat segera melakukan pembayaran melalui sms.

Oh ya pesanan saya dari tumbusapa.com sudah datang nih. Cuma satu hari kerja saja ternyata memakan waktu untuk pengiriman. Barangnya sesuai pesanan, dan kain batiknya terasa halus ditangan dengan jahitan yang rapi. Lihat! Cantik kan?

Margacinta-20131108-01232

Tepar! (Bagian 2)

Saya sarapan pagi sendirian. Celingukan mencari sekiranya teman-teman seperjuangan eh sepertrainingan tapi kok ya tidak ada yang punya ciri-ciri Telkomsel*.

Saya lewatkan cerita sarapan yang dijamin bikin bertambah berat badan sekilo per hari itu.

Hari pertama training dimulai dengan…kedinginan!

Ini ruangan entah diset berapa deh pendinginnya. Saya aja yang biasa tidur dengan AC diset di 16-18 derajat Celcius, tak urung gemeletukan kedinginan.

Bodohnya dan menunjukkan betapa coolnya saya, untuk pergi selama 4 hari ini saya tidak membawa jaket atau sweater barang sepotong pun.

Ternyata bareng training ini setengahnya sudah saya kenal dengan baik, dan ada Ami! Teman SMA saya yang kocak. Tapi dia lokasi kerjanya di Jakarta, saya kan di Bandung. Ternyata kita engga satu meja, yang kalau semeja bisa dipastikan bakalan kebanyakan cerita-cerita seru soal siapa di sekolah dulu yang sekarang tetap ganteng, membotak dengan jelek, membotak tapi tambah ganteng dan opsi lain-lainnya.

Saking dinginnya saya dan satu teman lain, memakai taplak meja yang tebal untuk kita jadikan penutup badan. Ih! emangnya mau miara pinguin apa, kok bikin ruangan sedingin ini.

IMG_0893

I should have known better
Than to let you go alone
It’s times like these
I can’t make it on my own
Wasted days, and sleepless nights
An’ I can’t wait to see you again

 

…dan asap rokok itu meluruh setelah mencoba meraih langit-langit

dan kamu yang tak banyak kata, hanya tatapan namun tak juga ku tahu arti pandangmu apa…

tahun-tahun berlalu dan ini kita kembali disini

mencuri waktu dari putaran yang tak pernah lagi bisa kita miliki

Seperti Vega dan Altair

 

I can’t stop the feeling
I’ve been this way before
But, with you I’ve found the key
To open any door
I can feel my love for you
Growing stronger day by day
An’ I can’t wait too see you again
So I can hold you in my arms

 

Betapa waktu berlalu

mengentalkan kenangan denganmu

mengkristal di dalam pikiranku

Selalu dan selalu

selalu kau ada disitu

 

I find I spend my time
Waiting on your call
How can I tell you, babe
My back’s against the wall
I need you by my side
To tell me it’s alright
‘Cause I don’t think I can take anymore

 

betapa ini yang dinamakan rindu

bagaimana bisa kuceritakan dengan kata

hanya pelukan dan kecupan dan uraian air mata

entah kau tahu atau mengerti saat kata-kata sudah tak memiliki arti

dan yang kutunggu hanya untuk bisa semalam saja merasakan kembali

di pelukanmu mendengar degup jantungmu merasakan aliran darahmu

 

Is this love that I’m feeling
Is this the love that I’ve been searching for
Is this love or am I dreaming
This must be love
‘Cause it’s really got a hold on me
A hold on me

Image

Tepar! Bagian I

Seminggu kemarin dari hari Selasa, saya pergi ke Jakarta. Berat hati sih meninggalkan tanaman-tanaman herbs saya, anak-anak dan belahan jiwa saya, …. oke, ga gitu banget sih, ini versi lebay. Anak-anak dan belahan hati saya cuek semua ditinggalin, malah anak saya yang bungsu langsung mengklaim kasur dan selimut saya selama saya pergi (kasur dan selimut saya ini selalu jadi bahan rebutan, kapan-kapan saya cerita deh).

Hari Selasa saya seharian di kantor Area Telkomsel Jabotabek Jabar, di Atrium Kuningan. Sibuk dengan mantan bos saya menutup Purchase-Purchase Order yang jumlahnya ratusan (apa ribuan ya) yang harus diclosed di sistem. Apapun itu lah. Ga seru kok, tapi buat yang ngerjain sih seru-seru aja, buktinya saya heboh banget setelah semua selesai dengan manis dan terFinally Closed dengan baik. Emang kerjaan saya seputaran PO kok. Dari membuat sampai menutup. Gitu. Tapi ga sampai bayar juga untungnya.

Sepulang dari kantor area saya check in di hotel langganan buat training. Biasa deh di Hotel Sultan. Yang dulunya namanya Hilton, yang dulunya katanya punyanya Ponco Sutowo, yang katanya dulu Adiguna Sutowo nembak mati pelayan disini karena salah ngasih tagihan. D’oh.

Ternyata..

Ga bisa langsung check in. Penuh katanya. Lah bijimane ini. Namanya udah dibooking buat peserta training kan harusnya gak penuh dong ya, eh harusnya udah dialokasikan dong. Cape debat sama resepsionis yang alisnya digambar tebal itu saya memilih opsi menunggu dua jam. Apesnya lagi lobby bertempat duduk penuh semua kursinya. Jadi voucher welcome drink pun urung digunakan. Saya masuk kafe Airman, apa Aircraft? Apa ya, apalah deh namanya lupa.

Kafenya suram dengan nuansa maskulin …mungkin niatnya gitu, maskulin maksud saya.

Kursinya kulit warna hitam. Gak nyaman dan gak cozy sama sekali. Saya duduk bengong menatap panggung kosong. Hanya ada satu dua, eh tiga deng, bule disini. Yang satu ngobrol dengan temannya. Yang satu di pojokan dekat jendela, dan dia ngomel-ngomel entah apa soal service ke waiter. Saya malas dengerin.

Disitu saya colokin charger hape samsung galaxy note saya yang udah soak melulu. Maklum udah bisa dibilang uzur untuk dunianya hape. Tapi saya emang punya prinsip, kalau belum matot alias mati total, atau bengong bego karena kejebur, ya ngapain ganti hape. Pake aja dulu sampai bajret.

Duduk bengong ga pesan minum kan malu-maluin yah? Jadinya saya pesan pisang goreng dan teh manis, yang total harganya Rp 114.000 plus pajak. Agak garuk-garuk kepala, maklum saya langganan warung nasi Barokah dan Mak Ata yang biasanya duit segitu bisa makan sampai eneg, dapat bonus semur jengkol pula.

Udah ngabisin pisang goreng yang lebih enak bikin sendiri dan minum teh leci, yang lecinya susah banget dicolok pakai sendok, melejit terus!, akhirnya saya balik lagi ke resepsionis buat check in, yang ternyata….

Masih gak bisa!

Saya bukan tipe pemarah. Saya ini aslinya lucu dan nggemesin. Tapi tak urung saya jadi cemberut juga. Mana udah cape banget gara-gara seharian melototin Closingan PO seperti saya ceritakan di paragraf pertama, eh kedua deng.

Akhirnya mungkin gara-gara takut lihat saya ngamuk injek-injek tanah dan gebrak meja ala Arya Wiguna (Demi Tuhaaaannnn!) setelah itu saya ditawarkan pindah ke Sultan Residence. Alias Apartemen yang katanya jaraknya dekat dari hotel, dua tiga kali koprol lah. Dengan sangsi saya mengiyakan, soalnya saya udah gatal-gatal pengen mandi. 

Saya diantar Bellboy yang tinggi banget dan wajahnya mirip Tarzan Srimulat yang udah bubar itu (udah bubar belum sih?), ternyata gak dua tiga kali koprol juga, lumayan lah bikin keringetan di udara panas Jakarta. 

Eh apartemennya muram banget. Lampu-lampunya suram, catnya juga warna kelam. Baru kali ini saya merhatiin ada gedung apartemen di dekat Sultan Hotel. Biasanya kalau ga kebagian di Lagoon Tower ya di Garden Tower. Baru sekarang nginjek kaki disini.

Naik ke atas, sampai ke lantai 15. Ih gelap. 

Pas dibuka, terlihat nyaman sih. Ada ruang tamu besar, dapur, meja makan, gudang…kamar..wait!

Wait!

Ini apartemen gede banget!

Ada tiga kamar tidur dan tiga kamar mandi. DAN SAYA SENDIRI!

Tolong!

Bellboy wajah Tarzan tinggi banget itu lalu menoleh dan berkata,

“Serem ya bu?” 

Ealah, ga perlu diperjelas kali.

***