Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Personal’ Category

Anak Merokok, Harus Bagaimana?

c360_2016-07-02-10-58-21-626Ini kayaknya problem orang tua semesta yang anaknya baru menanjak gede. Emang tidak semua anak, ya sih..tapi andaikan nih ya..andaikan Anda menemukan anak baru gede, entah SMP atau SMA merokok; apakah menemukan bungkus rokok di kamarnya, ataupun misalnya kegep merokok, atau menemukan bajunya bau rokok, apa yang akan kita lakukan?

Anak laki saya yang ganteng dan sekolah di SMA, merokok. Tepatnya beberapa waktu lalu dia ketahuan dan susah sekali diberitahu untuk berhenti merokok. Sekarang sudah engga lagi. Jadi mari kita bahas sejarah bagaimana seorang anak jadi merokok, dan sukur Alhamdulillah, berhenti merokok.

Sewaktu SMP, anak laki saya benci pada yang namanya rokok. Cewek merokok apalagi, emak-emak merokok? Lebih parah lagi. Pokoknya dia say no to rokok. Apalagi anak saya punya asma kambuhan. Udara bersih segar selalu menjadi prioritasnya. Lalu bagaimana cerita anak saya itu menjadi terjerumus kepada rokok?

Pergaulan. Iya. Namanya berteman dengan orang-orang, tepatnya disini anak-anak SMA yang lagi coba-coba nyari jati diri dan merokok, ternyata membuat anak saya jadi merokok. Mau marah (iya sih marah) tapi katanya marahin anak juga salah marahnya bisa fatal, mending kalau nurut, kalau tambah melawan gimana.

Saya sih pendekatannnya persuasif saja. Saya katakan saya tidak suka anak saya merokok dengan berbagai alasan logis yang saya bias kemukakan. Kesatu, tentu saja kesehatan. Kedua, masih kesehatan. Ketiga, pemborosan, saya coba kemukakan hitung-hitungan pemborosan yang dia lakukan VS uang yang bisa dia tabung untuk beli mother drive atau sound card buat komputer. Keempat, soal prinsip. Masa bodo sekitar kita mau ngerokok atau tidak, orang yang punya prinsip mah engga akan tergoda. Engga akan takut diledek, apalagi dihina untuk hal-hal yang gak penting seperti keberanian. Berani atau tidak kan ukurannya bukan dari merokok.

Obrolan macam gini saya lakukan setiap ada kesempatan, tapi bentuknya diskusi saja, tanpa menggurui dan mengomeli dia. Lagipula tipikal anak saya keras, kalau dimarahi malah melawan. Sepertinya kunci disini adalah cara berkomunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak.

Sekarang anak saya lagi rajin olahraga, merokoknya berhenti juga. Banyak makan sayur, dan bawa bekal makanan ke sekolah. Jajan pun dia sekarang jarang. Katanya lagi menerapkan pola hidup sehat. Pas saya tanya kenapa, dia bilang, ya kepingin saja. Mendingan olahraga, makan makanan sehat. Lagi ngebet pengen punya badan bagus, lagian merokok bikin napasnya sesak katanya. Saya jadi bernapas lega. Tanpa harus marah-marah, tanpa harus menghukum, dan tanpa cara-cara keras lainnya.

Mungkin ada yang mau meniru cara saya?

Advertisements

Read Full Post »

Kota Yogyakarta memang istimewa. Tidak ada habisnya untuk diceritakan. Tidak salah bila film AADC 2 dibuat disana. Romantisnya dapet. Tapi tetep saya sih kok ya engga baper nonton AADC 2. Saya terfokus pada Rangga yang berubah lebih ‘kuleuheu’, agak dekil gitu loh keliatannya. Beda dengan Rangga yang masih SMA, kinclong abis. Mungkin akhir-akhir ini Niko sering travelling. Lihat saja akun instagramnya. Kayaknya dia sering kelupaan pakai sunblock.

Berkesempatan ke Yogya walau cuma dua malam berharga banget rasanya. Minggu lalu saya berkesempatan untuk ke Yogya lagi setelah sekian tahun berlalu. Kali ini saya dan anak saya bertiga berangkat ke Yogya dari Bandung. Ternyata Bandara Husen udah bagusan ya. Jadi ingat dulu pernah pulang dari Singapore hampir saja ketimpa plafon yang ambruk di pintu kedatangan. Saking udah bobroknya.

Tiba di Yogya sudah jelang malam. Kami menginap di Phoenix Hotel di Jl Sudirman atas rekomendasi teman-teman saya. Kata mereka hotelnya keren dengan nuansa bangunan jaman Hindia Belanda.  Supir yang menjemput kami bernama pak Fitra sangat ramah dan tahu banget soal kuliner Yogya.  Kami ditawarkan untuk mencicipi sate Klathak di Jl Imogiri. Ada dua yang terkenal katanya, Sate Klathak Pak Pong atau Sate Klathak Pak Bari.

Pak Pong atau Pak Bari dua-duanya juga saya engga kenal. Jadi bebas saja deh. Tadinya pingin ke sate klatak tempat Cinta dan Rangga ketemuan itu, tapi Pak Fitra lebih rekomendasi ke Pak Pong. Dia engga nonton film AADC katanya. Jadi pilih yang rame aja. Ukuran dia yang enak itu yang rame dan antrinya lama. Kalau saya sih sebenarnya maunya yang sepi dan engga ngantri. Tapi saya nurut aja deh kalau sama orang Yogya, secara dia yang punya kota.

img_20161014_185923

Kalau anak saya  Drea, engga tahan banget dengan bau kambing. Dia nyaris tidak makan apa-apa. Bau kambing memang terasa saat kita memasuki tempat makan tersebut. Tapi satenya tidak bau kambing sama sekali. Sate kambing atau sate klatak ini adalah sate the best I ever had. Sumpaj, enaaaakkkk banget!. Karena saya penyuka daging sate yang tanpa bumbu, maka sate klatak dengan bumbu garam doang dan merica ini sangat sangat kena di lidah saya. Satenya empuknya pas. Tidak lembek tidak keras. Saya dan Anis memesan juga tengkleng, yang juga luar biasa enak.

img_20161014_191737

Harga per porsi sate Rp 20,000.- dengan dua tusuk sate yang menggunakan jari-jari sepeda. Tapi satenya panjang dan dagingnya banyak. Jadi satu porsi cukup untuk kami masing-masing. Saat itu tidak terlalu ramai, jadi pelayanan cepat tanpa harus menunggu lama.  Rasanya saya masih ingin makan kesini lagi besok. Tapi mengingat saya takut hipertensi saya kambuh sepertinya saya harus menahan diri untuk jangan rakus. Nanti darah tinggi kumat saya ngegelepek pingsan di kota orang kan engga lucu. Serem malah.

Dari tempat sate langsung pulang ke hotel tanpa mampir sana sini, karena baju jadi bau bakaran kambing (menurut Drea), yang bikin kepingin mandi.

img_20161015_172504

The Phoenix Hotel Yogyakarta

Tiba di hotel saya suka sekali dengan interior dan suasana kolonialnya. Agak spooky sih karena di lorongnya sepi, tapi sangat nyaman. Kamar kami juga luas dengan jendela yang bisa dibuka lebar terletak di lantai dasar dekat dengan kolam renang. Kolam renangnya tampak indah dikelilingi bangunan kamar dengan lampu-lampu yang bercahaya dengan cantiknya.

img_20161014_202517Besok pagi tanpa sarapan dulu dan anak-anak masih tidur saya dengan semangat Panglima Besar Jenderal Sudirman bertekad kuat untuk lari pagi di seputaran kota Yogya ini dengan target 10 Km. Rutenya kemana? Kagak tahu, yang penting kan bawa handphone. Kalau nyasar ya tinggal lihat GPS. Kecenderungan saya yang tinggi untuk nyasar tidak menyurutkan semangat saya untuk menelusur jalan-jalan kota yang masih sepi di pagi hari ini.  Lagian kalau nyasar siapa juga sih yang mau menculik emak-emak gendut dan kelihatannya bertampang wagu ini. Kagak jelas ada duitnya apa kagak, jutek iya. Preman juga pasti males malak. Lagipula kota Yogya terkenal dengan kota aman damai dengan tingkat kejahatan rendah.

img_20161015_072610

Pinggir Kali Code

Pagi hari di kota Yogya indah sekali. Banyak anak-anak sekolah berseragam dengan rok kotak-kotak mengendarai sepeda berangkat sekolah, padahal hari Sabtu ya. Tukang-tukang makanan menyiapkan gerobaknya dan banyak orang-orang tua menyapu halaman depan rumahnya dari dedaunan.  Atap-atap rumah di bantaran Kali Code tampak semarak dengan warna-warna terang, menyemburat di sinar matahari yang baru muncul diam-diam. Saya banyak berhenti untuk melihat sekitar. Ada rumah-rumah tua yang merupakan warisan budaya, bangunan-bangunan rumah sakit yang masih dalam bentuk aslinya, becak-becak lucu yang bentuknya berbeda dengan becak di kota lain

img_20161015_064302

Tak terasa karena sambil menikmati pagi di kota yang baru bangun ini saya jogging sampai dengan 10 km, rutenya entah, soalnya beberapa kali saya melewati jalan yang sama, saya pun melewati stadion dimana rupanya akan ada konser Slank nanti malam. Yang saya heran kebanyakan para Slanker yang membawa spanduk dan bendera bertuliskan nama-nama daerah darimana mereka berasal ini, tampaknya tidak mandi beberapa hari. Anis kemudian memberitahu bahwa fans Slank ini ciri khasnya memang jarang mandi. Ah yang benar? Yang jelas anak muda yang bahkan bergelatakan di trotoar ini nampaknya kurang memperhatikan sanitasi diri. Bahkan mereka tampak perlu menyisir rambutnya.

Oh ya kemanapun saya lari, seperti biasa abang-abang tukang becak selalu berusaha melemahkan semangat saya, “Mba..wong naek becak saja..cape lari-lari, mending naek becak yuk, mau kemana sih…sudah lima ribu sajaaa..” dengan logat Jawa mereka yang medok. Saya tergoda juga sih memang untuk berhenti dan makan soto, tapi lupa engga bawa uang.

Usaha saya sampai bisa lari ini engga mudah sebenarnya. Perlu setahun lebih untuk bisa melebihi jarak 5 Km. Dulu jalan kaki 2 Km saja rasanya udah juara banget ngalahin Usain Bolt. Ini juga pace saya engga bagus sih, masih kayak siput. Tapi lumayan lah daripada dulu jalan kaki saja saya ogah. Anak saya bilang bahkan gaya lari saya mirip kodok. Yang mana menurut saya adalah analogi yang salah. Kodok melompat soalnya bukan lari.

screenshot_2016-10-15-07-50-12_com-nike-plusgps

Pulang ke hotel, sekitar jam setengah delapan pagi, eh ternyata anak-anak bahkan belum bangun. Pemalas sekali. Saya ajak mereka sarapan. Ada air mancur di dekat bangku-bangku dan meja makan berpayung, saya duduk disana. Saya perhatikan banyak orang-orang asing yang menginap di hotel ini. Tak heran juga sih, karena nuansa kolonial hotel ini memang menarik sekali.

Saya ditawari untuk meminum jamu. Saya mencoba brotowali dan pahitnya engga hilang-hilang walaupun sesudahnya saya meminum air jahe campur gula merah dua gelas. Saya pikir ibu-ibu yang memberi puting mereka brotowali untuk menyapih anak menyusui itu adalah kejahatan tingkat tinggi. Tak heran kalau bayi bisa menangis berhari-hari bila menjilat brotowali. Saya aja shock berat.

Selanjutnya perjalanan saya di Yogya dalam rangka Get Away Week End ini akan saya lanjut di postingan lain, kalau disini kepanjangan soalnya.

 

 

Read Full Post »

Hari Sabtu dan Minggu kemarin adalah akhir pekan yang menyenangkan banget buat saya. Namanya juga pulang ke Bandung kumpul dengan keluarga. Hari Sabtu pagi dimulai dengan kegiatan menyenangkan pula. Pijat! ada ibu-ibu langganan saya bernama Mba Mega yang setiap pekan ke rumah saya untuk pijat dan lulur. Serius, saya berani bersumpah pijatan tangannya lebih nyaman dari semua spa atau tempat pijat apapun yang pernah saya coba.

Lalu siangnya karena Drea belum pulang juga dari ekskul, akhirnya saya pergi berdua dengan suami ke PVJ untuk nonton. Kalau Dimas jangan diharap deh. Lagipula dia baru pulang kemping di Burangrang, mana mau dia pergi. Lagi normal saja ogah, apalagi sedang ngantuk model gini.

Saya antusias sekali. Soalnya lagi banyak film-film bagus yang dinanti. Sabtu ini saya nonton di CGV yang sedang direnovasi sebagian, bikin sumpek dan bingung deh. belum lagi antrian toilet yang mengular. Menyebalkan. Tapi tidak mengurangi semangat saya nonton sih. Salah satunya karena saya suka film koboi. Wild Wild West. Jaman keemasan cowok-cowok ganteng naik kuda. Walau dekil berdebu tetap ganteng. Jago tembak pula.

Jadi untuk sore ini saya nonton Seven Magnificent. Denzel Washington kata review disebut-sebut sebagai magnet daya tarik buat film ini, beberapa nama lain saya tidak ingat-ingat amat, kecuali Ethan Hawk yang mantan suami Uma Thurman. Tapi biar saja tidak ingat nama-namapun yang main ganteng-ganteng. Juga ada Haley Bennet jadi tokoh cewek yang menurut saya cantik bukan main. Saya mengingatnya sebagai penyanyi di film Music and Lyric yang dibintangi Hugh Grant dan Drew Barrymore.

Saya bukan reviewer film yang baik. Soalnya tidak suka mengkritisi. Saya mudah terpuaskan. Mau ceritanya klise atau tidak, selama yang main ganteng dan seru ada tembak-tembakannya, saya sudah bahagia. Tapi menurut saya film ini sama sekali tidak jelek. Berapapun rating Rotten Tomatoes yang didapat saya tetap suka dan menganggap tidak rugi sama sekali nonton film ini.

Saya sih cuma sibuk menghitung jumlah peluru dari tiap pistol yang ditembakkan, kalau lebih dari enamm saya baru keheranan. Dan saya juga tidak habis mengerti kenapa gaya Denzel Washington nembak itu kayak yang engga stabil, nyanggeyeng kalau kata bahasa Sunda, kaki berdiri dengan lutut agak rapat terus bertopang ke kaki satunya. Lah kan aneh ya.

Saya engga mau bahas jalan cerita, ntar jadi spoiler. Pernah dengar engga ada orang yang teriakin spoiler terus digebukin orang sebioskop? nah saya engga mau jadi orang kayak gitu.

magsevenheader

Hari Minggu saya pergi berdua saja dengan Drea, ke PVJ lagi. Astaga. Drea sampai tanya Emak engga bosan apa ke PVJ melulu. Terus kata saya, ya maunya sih ke Pacific Place de, tapi kan PP mah di Jakarta. Menyenangkan sekali jalan berdua anak ini. Lebih rame sih memang kalau ada Anis, Dinda dan Dimas. Pasti lebih rame. Terutama ada Dimas yang suka jahil pada yang lain.

Eh sebelum ke PVJ sebetulnya saya ke Istana Plaza dulu, dengan teman Drea. Jadi kami bertiga. Drea perlu beli handphone baru. Lalu kami makan bertiga di Pepper Lunch. Sempat juga foto-fotoan bertiga ala alay jaman sekarang. Hihi.

img1475385577685

Nah di PVJ kami menonton Miss Peregrine’s House for Peculiar Children. Tadinya pengen nonton di 4DX tapi jadwalnya lebih sore, sementara itu saya malas pulang malam, soalnya macet luar biasa deh kalau keluar dari PVJ.

Film dari Tim Burton selalu menarik. Agak-agak dark gitu kan, sedikit horror tapi engga nakutin. Menyenangkan sekali menonton film yang tervisualisasi dengan indah dari sebuah cerita fantasi. Engga sadar saya menghabiskan popcorn saya satu wadah, untung beli yang kecil, ini aja udah bikin saya kleyengan. Ampun, saya kan punya kecenderungan hipertensi. Langsung saja saya minum air putih banyak-banyak.

Mau bahas tentang film ini tapi saya keburu ngantuk. Maaf deh, engga jadi ya.

peregrins-film-headerv1-front-main-stage

 

 

 

Read Full Post »

…dan aku mencintaimu, terkadang

Sepertinya hari ini otakmu sedang ada di tengah. Tumben. Biasanya gila kan. Gila sesaat, namun gila sesaat yang menahun. Saat otakmu tidak berada di tempatnya, kau akan melupakan aku. Seminggu, dua minggu, berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun. Eh rasanya tidak sampai bertahun-tahun, enam bulan kalau tidak salah sih. Enam bulan pernah berlalu dimana kau tidak meneleponku sama sekali. Tahun kapan itu aku lupa. Sudah lama.

Saat kau waras kau mengabari aku kemana kau pergi. Kapan berangkat, kapan tiba. Saat kau waras (atau saat kau butuh teman bicara) kau meneleponku tak kenal waktu. Tengah malam, dini hari, atau saat aku sedang mandi. Tidak pernah ada jadwal pasti.

Aku sudah terbiasa.  Terbiasa dengan ketidakpastian.

Seperti hari ini. Kau manis sekali. Kau telepon aku saat tiba di kota tujuan itu. Barusan selesai meeting yang panjang kau juga bercerita panjang kali lebar kali tinggi, antusiasme, harapan, kebanggaan, semua kau ceritakan. Lalu kau berbicara lewat texting kata-kata mesra yang keterlaluan seperti isi surat Che Guevara kepada kekasihnya.

dan rasanya saat ini aku juga mencintaimu. Sangat.

Mungkin besok aku membencimu, seperti dua hari yang lalu.

 

Read Full Post »

Biola dan Drea

img_20160925_081847_1474766521085

Beberapa bulan lalu, sekitar dua bulan lalu sih sepertinya, Drea anak saya yang kecil merajuk.

Katanya ingin les biola. Lagi kecil sih sewaktu masih SD dia pernah les privat biola juga, cuma jadinya modiste -modal ledis becus henteu, istilah dalam bahasa Sunda yang artinya modal habis bisa kagak. Mungkin dulu keinginan belajarnya belum kuat, sehingga yang terjadi hanya bunyi ngak ngek ngok tidak jelas seperti suara kucing terinjak.

Lalu dulu dia lelah sendiri.

Mengingat kedua kakaknya sangat sangat menyukai bermain musik dan bisa memainkan berbagai alat musik, tak urung saya kasihan juga. Soalnya kalau kedua kakaknya konser mini di rumah, yang satu main piano yang satu main gitar, ya Drea cuma andil tepuk tangan doang.

Akhirnya saya menyetujui untuk Drea les lagi (koreh tabungan di celengan ayam tembikar). Lagipula menurut pendapat emaknya pribadi, secara fisik Drea ini memadai buat main biola. Loh kok secara fisik? Biasa lah kan ya kalo emak-emak kan suka muji anaknya sendiri, nah menurut saya Drea ini cukup cantik buat bisa nyaingin Vanessa Mae. Loh kok ya kesitu ya?

Setelah daftar les tentu saja saya membeli biola. Karena hemat dan pengiritan mode on, saya belinya biola bekas. Murah meriah, lagi pula dasar emaknya ini oon kagak ngarti alat musik, sing penting biola ya biola, engga tau kalau ternyata ada harga ada rupa. Setelah beberapa kali les, Drea putus asa, gurunya juga. Karena biolanya terus-terusan fals. Senarnya putus melulu, karena kalau diputar setelannya suaranya susah pas.

Akhirnya saya beli biola baru yang rada mahalan menurut ukuran dompet saya yang diskonan. Untungnya ada seorang om-om baik hati yang tidak mau disebutkan namanya apalagi difoto menyumbang 3/4 dari harga biola tersebut. Saya protes sih, kenapa 3/4? kan nanggung banget ya? Kenapa engga seluruhnya aja dibayarin? Tapi saya hanya mendapat juluran lidah dari wajahnya.

Sekarang setelah biolanya rada bagusan, ternyata kemajuan Drea tergolong pesat. Yang artinya sekarang dia sudah bisa memainkan berbagai lagu yang bisa ditebak lagu apa. Suara biolanya juga terdengar merdu. Entah apa pengaruhnya yang jelas sekarang anak saya itu rajin latihan memainkan biola setiap saat.

Semoga suatu hari nanti saya bisa duduk di kursi paling depan dan bertepuk tangan paling keras saat dia konser di panggung. Hihihi.

Kalau yang dibawah ini foto kakaknya.

c360_2016-08-12-18-29-20-619

Read Full Post »

Di Tepi Jalan Itu..

Aku ingat aku pernah merajuk padamu. Aku bilang belasan tahun bersamamu tidak sekalipun kamu ajak aku untuk makan malam romantis bercahaya temaram, diiringi musik klasik dan kita berpakaian rapi. Aku bergaun hitam semacam di film Breakfast in Tiffany, dan kau..entahlah..sulit membayangkan kamu berpakaian rapi. Candle light dinner seperti di film-film itu.

Kamu tidak menjawab, hanya mengerang.

Tapi dua malam lalu sepulang kerja, kita berjalan berdua. Sempat kau lingkarkan lenganmu di bahuku sambil kau mengucapkan selamat untuk sesuatu, lalu kau mengajakku makan ketoprak di warung pinggir jalan, tempat kuli-kuli bangunan dan tukang ojeg biasa menghabiskan sisa penat mereka, menikmati makanan murah terjangkau saku.

Seperti biasa kau memesan dengan ekstra pedas, dan untukku sedang pedasnya. Kita berdua makan bersisian di bangku kayu reyot, di tenda dalam yang disampirkan pada gerobak, dengan dua gelas teh manis hangat di wadah plastik. Sambil makan kita bercakap-cakap, dan kau menumpahkan isi kepalamu itu, tentang pekerjaan-pekerjaan kita, rencanamu, dan kejadian-kejadian di kantor hari ini dan yang lalu. Seperti biasa aku pendengar yang baik bagimu, sesekali menanggapi dan berdiskusi. Bagiku tidak hanya suaramu yang aku suka untuk aku dengarkan, tapi bau tubuhmu dekat denganku, selalu menguarkan rasa kedekatan itu, bahwa aku dan kamu telah seringkali tak terpisahkan barang sesenti.

Hampir dua jam aku duduk bersama kamu, sehabis makanan kita habis kita masih mengobrol sambil menghirup teh yang terasa sangat menyamankan dada kehangatannya. Aku menatap langit di kejauhan yang kelam walaupun tak berawan. Bulan entah dimana dan bintang tak pernah tampak di langit ibu kota ini. Kudengar suara-suara kuli bangunan di gedung tinggi sekali yang sedang dibangun, mereka bercakap entah apa. Dan kita terlonjak kaget saat ada serpihan beton yang jatuh di dekat gerobak.

Entah kenapa ada perasaan sentimentil menyeruak di dadaku. Bukan restoran mewah dengan dinding beludru. Atau juga steak dengan medium welldone ataupun salmon dengan saus lemon. Juga pemain musik dengan biola yang mengalun lembut. Bukan itu ternyata. Langit beku dan lampu-lampu gedung yang mulai dinyalakan sejak senja datang, percakapan kuli-kuli dan para tukang sepulang kerja, deru mesin campur debu, ternyata mengalahkan semua itu. Rasanya aku juga kini tidak menginginkan seikat mawar, dengan sebungkus gado-gado  pagi hari yang kadang kau belikan, karena kamu tahu aku sering lupa makan, itu juga mengalahkan sterling silver rose dengan sisipan bunga tulip belanda.

Disini di sisi gerobak ini aku menyadari satu hal. Karena dekat dengan kamu. Mendengarmu bercerita, merasakan bahwa kau mempercayakan banyak hal kepadaku, itu lebih dari candle light dinner yang tadinya kuinginkan. Tidak perlu sofa untuk bersandar dengan gelas kristal di tangan, bangku kayu reyot pun lebih dari cukup, karena kamu, karena ada kamu. Semua menjadi berharga di hadapanku.

Read Full Post »

Foto itu..

i really like this pic..

seperti melihat masa lalu yang indah, romantis, momen bahagia yang tidak dapat terulang lagi.

seperti melihat kamu.

Read Full Post »

Over a Span of Twenty Years..

I love him dearly since I was..

and he loves me.

 

Sebulan lebih tak ada tanya tidak juga terdapat kata, apalagi bertemu. Kamu menghilang dan aku pun diam saja. Menjadi dekat secara jarak ternyata tidak mendekatkan kita untuk hal lainnya.

Namun tiba-tiba di suatu hari, kau katakan lewat pesan pendek, “Nah kamu tidak usah cemas lagi, sekarang kamu bisa melihatku setiap hari..”.

Tahukah kamu pesan pendek itu, ” I love you” dan balasanmu “love you too” adalah kebahagiaanku selama 2×24 jam berikutnya.

 

Read Full Post »

makanan pedas: Antara Cinta dan Benci

Cukuplah saya katakan bahwa saya memiliki kisah yang up and down dengan makanan pedas. Dalam kasus ini adalah Cakalang Rabe. Makanan Manado.

Rumit dan penuh komplikasi. Saya menyukainya sekaligus membencinya, pada saat sakit perut akibat memakannya. Seperti saat ini. Rasanya menyebalkan. Pengen putus dan engga kenal lagi sama si Cakalang Rabe. Andaikan saja dia cowok. Sayangnya dia ikan asap dari jenis ikan yang bersaudara dengan tongkol dan dibumbui dengan amat royalnya oleh mereka itu, mereka disini maksudnya adalah para penggagas masakan Manado sehingga pedas seperti sekarang.

Kalau sudah mules begini rasanya ingin berhenti saja dari segala macam makanan pedas di dunia ini. Apa daya kalau sudah ketemu muka lagi ya dimakan lagi. Seksi soalnya. Pedas dan merangsang. Kombinasi maut ya kan?

Dan hampir saja saya ingin menuntut restoran yang jual cakalang rabe  ini untuk kasus pembohongan publik. Masa di menu nyantumin gambar cabe tiga biji buat menunjukkan level pedasnya. Harusnya mah 42 biji kali. Wong pedesnya minta ampun.

Tadi siang di kantor saya sudah merasakan efeknya di perut. karena pagi-pagi sarapan cakalang rabe. Ini memang rada di luar rencana. Sebabnya semalam saat di Beer Garden saat saya nongkrong cantik dengan teman- teman saya, kami membicarakan makanan Manado. saya jadi ingat punya seporsi cakalang di kulkas. Sambil ngobrol dengan mereka pun saya memikirkan cakalang tersebut. Padahal obrolan sedang seru-serunya. Diantaranya adalah pembahasan sejarah pakaian dalam yang dikeluarkan oleh Agent Provocateur.

Juga pembahasan mengenai video editing bagaimana menghilangkan warna ketiak item di video klip di talent yang cakep tapi rupanya lupa mengurus warna kulit di bagian ketiak itu. saya curiga dia dulu engga pakai deodorant, tapi pakai kapur sirih campur jeruk nipis. Resep ampuh orang tua dulu tapi efek sampingnya bikin ketiak gosong.

Ini postingan jelas engga mutu dan ngawur. dimaklumi saja ya..kan saya nulisnya lagi sakit perut.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d bloggers like this: