I am in love with Kyoto.
I want to ride my bicycle.
Kyoto – Hari Pertama
Apa hubungannya Kyoto ibu kota lama Jepang ini dengan lagu Queen? Jadi menurut informasi dari hasil tanya-tanya dan browsing katanya menjelajah Kyoto itu paling enak dengan bersepeda. Waduh. Saya sih suka bersepeda. Tapi sedang tidak dalam mood untuk cape. Saya ingin menyimpan tenaga saya untuk makan-makan dan foto-foto.
Setelah mencari beberapa alternatif ternyata banyak sewa sepeda di Kyoto itu sepeda listrik. Horayy! Engga usah mikir keringetan dan cape nanjak di jalanan. Dan ternyata tempat sewa sepedanya banyak di sekitar hotel saya yang tidak jauh dari Stasiun Kyoto.
Oh ya dalam menyusun itinerary jalan-jalan ke Jepang ini saya mencari hotel yang jaraknya bisa koprol dari stasiun utama. Hotel dan penginapan yang saya booking rata-rata hotel harga sedang yang jaraknya radius 400 meter dan maksimal 1 km dari stasiun utama, atau paling tidak dekat subway. Karena jalan-jalan saya kali ini bukan ala backpacker. Mungkin lain waktu backpackeran deh, kalau untuk sekarang koper friendly route aja deh.
Hotel kami dekat Stasiun Kyoto dengan berjalan kaki sekitar 400 meter. Trotoar mulus sehingga tidak sulit membawa koper beroda. Setelah menitipkan koper, kami menyewa sepeda listrik. Saat itu sepeda-sepeda sedang laku disewa, banyak temat sudah sold out, kami beruntung ada dua orang yang mengembalikan sepeda saat kami tiba.
Tempat sewa sepeda kami bernama Kyoto Ecotrip. Biaya sewa sebesar Y1800 sampai dengan Y2000 untuk sepeda listrik. Kami diberi peta lengkap dan petunjuk jalur mana yang boleh dilewati sepeda dan tidak. Tujuan pertama kami adalah daerah Gion, lalu akan lanjut ke Nishiki Market. Tapi si mas rental sepeda bilang kalau di Nishiki Market sepeda tidak boleh dinaiki harus dituntun. Ok deh.
Bila tidak ingin bersepeda tentunya banyak alternatif lainnya seperti bis dan subway. Berikut adalah tempat-tempat menarik di Kyoto untuk dikunjungi sesuai itinerary saya:
09.00 berangkat ke Kyoto dari Osaka dengan Hikari kurang lebih hanya 18 menit, kereta lain sekitar 30 menit.
09.30 Tiba di Kyoto
10.00 Menitipkan koper di hotel
10.30 Menyewa sepeda
11.00 Menuju Gion dengan sepeda waktu tempuh sekitar 30 menit
12.00 Tiba di Yasaka Shrine
13.00 Makan siang
14.00 Berjalan-jalan dan menyusuri tempat menarik sekitar area Gion
15.00 Menyusuri Kamo River dengan sepeda
16.00 Menyusuri Nishiki Market
17.00 Mengembalikan sepeda
Ternyata area Gion sangat nyaman untuk bersepeda, banyak sekali orang bersepeda. Hanya saja tidak boleh parkir sembarangan atau melalui jalur sembarangan. Jadi tetap harus tertib mengikuti aturan lalu lintas. Banyak pula tempat sewa kimono di daerah Gion, kisaran sewa mulai harga IDR 300.000, tambah mahal tergantung jenis kimono dan asesoris yang ingin dikenakan termasuk hairdo.
Karena lelah, kami memutuskan untuk melanjutkan menelusuri Kyoto esok hari. Dengan moda transportasi kereta dan bis. Dekat stasion Kyoto juga ada mall Aeon, kita bisa mampir sejenak untuk ngopi-ngopi cantik. Untuk membeli snack dan lainnya, banyak terdapat 7 Eleven, Family Mart, dan Lawson. Bisa membeli onigiri atau nasi instant buat yang kangen makan nasi, hehehe.
Kyoto – Hari Kedua
Ginkakuji Kuil Perak
Tujuan pertama kami hari ini adalah Ginkakuji atau Kuil Perak. Menuju kesana menggunakan bis nomor 100 dari Kyoto Stasiun. Perjalanan cukup lama, hampir 1 jam karena melewati banyak halte. Kalau ingin lebih cepat bisa naik subway kemudian ganti dengan bis. Tapi kami males ganti moda transportasi mending sekali naik saja walaupun lebih lama.
Turun dari bis ternyata kami berjalan menyusuri Philosopher Path menuju Ginkakuji Shrine. Bunga Sakura sudah lewat musimnya disini..daun-daun hijau sudah menggantikannya. Bila sedang musim bunga sakura, Philospher Path adalah salah satu tempat menikmati keindahan bunga sakura di Kyoto.
Sampai di Ginkakuji, kami menikmati taman yang sangat indah. Ada jalan setapak ke atas bukit pula dimana kita bisa menikmati pemandangan kuil dan tamannya, dilatar belakangi dengan pemandangan kota Kyoto dari kejauhan. Cantik sekali.
Dari Ginkakuji kami lalu berangkat ke Kinkakuji, kuil emas. Naik bis satu kali dengan nomor 102. Memang saat saya berlibur ini sedang musim libur. Orang Jepangnya sendiri sedang liburan. Kebayang dimana-mana antri dan penuh.


Leave a comment