
pasar tradisional. dok pribadi
Pagi ini tukang sayur yang biasa memanggil-manggil saya bak fans berat terhadap aktris idolanya, tidak berjualan. Karena persediaan bahan memasak sudah kosong melompong dan membuat mie siap saji adalah hal terakhir di pikiran saya, dengan semangat dan tekad saya pergi ke pasar tradisional. Sekitar 1 km jaraknya dari rumah. Sehingga saya memutuskan berjalan kaki saja.
Pasar tradisional di daerah saya ini layaknya The Last of The Mohican, atau The Last Samurai, atau apalah yang berbau sesuatu yang tradisional namun makin terpinggir dan makin melipir. Sudah berdiri dekat pasar tersebut sesuatu gedung perbelanjaan yang berakhiran nama Square. Kita memang hobi memakai nama tempat dengan kebule-bulean. Padahal kadang tidak pas juga. Masa iya misalnya pasar di Cilentah, dinamakan Cilentah Square, Atau Cilentah Plaza, atau Cilentah Mall. Tapi kalau dipaksakan jadi nama Kotak Cilentah juga aneh ya?

angklung. dok pribadi
Jalan kaki pagi-pagi ke pasar ini layaknya Petualangan Sherina. Baru setengah perjalanan saya sudah dimaki-maki orang gila yang sedang berorasi di pinggir jalan. Saya sampai terlonjak karena kaget. Namun rupanya bukan saya saja yang terperanjat. Beberapa orang yang lewat setelah saya juga tampak terkejut karena mendapat semburan kemarahan yang tak jelas ujung pangkalnya.
Tiga perempat jalan menuju pasar, saya yang sedang berpikir untuk membeli cireng aneka rasa sepulang dari pasar, kembali saya dikagetkan oleh seseorang yang tidak waras juga. Dia berjalan tanpa arah dan membabi buta, hendak menubrukkan badannya ke arah saya. Sontak saya mengeluarkan jurus..eh meloncat kaget sampai melompati selokan. Kok banyak sekali tantangan yang harus dihadapi ya dalam rangka menuju pasar ini. Saya membatin.

kue tradional. dok pribadi
Sesampainya di pasar, saya bersukur karena pasar tampak kering tanpa becek. Walaupun tetap penuh sesak oleh manusia. Dari pedagang asongan, sampai pedagang yang menghampar di jalan, dari pengemis sampai tukang dagang lap, semua ada. Selalu yang saya suka di pasar tradisional adalah melihat orang-orang. Melihat pedagang dengan berbagai ekspresi. Ada yang ramah ada yang ketus. Ada orang Sunda, ada orang Padang, ada orang Jawa, ada orang Batak. Semua berusaha berbahasa Sunda dengan logat daerah yang masih terasa kental di lidah mereka.
Tak terasa tangan saya penuh oleh berbagai belanjaan. Dari sayur mayur, sampai temulawak, kue jajan pasar, sampai cutik kayu, ikan asin, sampai daun pisang, juga keranjang rotan yang saya beli karena lupa tidak bawa wadah dari rumah. Di pasar tradisional tidak ada troli belanjaan, satu putaran dengan membawa belanjaan berat saya langsung berkeringat. Belum lagi berdesakan. Tapi itulah yang dinamakan suasana.
Di suatu lorong pasar yang sempit, tiba-tiba datanglah serombongan orang membawa berbagai macam alat musik tradisional. Angklung dan juga kendang, dengan ukuran aneka rupa. Mereka mengamen. Pakaiannya pakaian tradional, pangsi hitam dengan ikat kepala batik. Juga selempang kain batik melilit pinggang. Karena lorongnya sempit mereka berdiri mengular. Satu orang bertugas membawa wadah untuk pengisian uang sekedarnya.
Lagu-lagu riang mengalun, dan mereka ceria dan bersemangat memainkan alat musiknya. Saya tanya ternyata mereka berasal dari Tegal. Lha..jauh-jauh ke Bandung ya? Tak lupa mereka juga memberikan nama dan nomor telepon pada secarik kertas bagi orang yang meminta kontak. Siapa tahu ada yang ingin mengundang mereka ke acara selamatan. Tarifnya 1,5 juta untuk satu hari dari pagi sampai sore, dengan jumlah personil sekitar 7 orang. Jauh sekali dengan tarif seorang penyanyi yang dibawahi oleh Republik Cinta Management lengkap dengan raidernya (ya iya lah).
Pemusik tradisional, pedagang dan pasar tradisional, makin terpinggir makin tersingkir. Sampai kapan dapat bertahan?


Leave a comment