Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Mama Cake’

Tulisan ini saya buat dalam rangka mengikuti Kompetisi Blog Mama Cake yang diselenggarakan oleh Falcon Pictures. Jujur sebelum saya baca baik-baik, saya nyangka ini lomba blog tentang blog emak-emak yang berkompetisi dengan menyajikan resep kue. Saya nyerah sebelum bertanding tadinya. Soalnya kenapa? Walaupun saya sudah masuk kategori emak-emak, bahkan memang dipanggil emak oleh anak-anak saya,  saya ini ga bisa bikin cake, brownies  atau kue, atau apapun yang berbentuk penganan manis berupa bolu yang membutuhkan pengocokan dan dihias-hias aneka warna. Sekali-kalinya belum lama ini saya berusaha membuat Angel Food, jadinya jadi Devil Food. Dalam arti sebenarnya. Kuenya gosong, hitam, seperti kerak neraka.

Eh ternyata kompetisi ini diselenggarakan berdasarkan sebuah film. Film lucu dan kocak, tentang persahabatan dan kisah perjalanan tiga sahabat untuk membeli kue di Bandung, gara-gara permintaan nenek salah satu dari tiga orang tersebut, yang sedang sakit keras. Di Bandung, di kota saya tinggal!. Saya lihat trailernya sebagaimana di atas, dan saya belum-belum sudah ngakak. Kayaknya seru nih. Sehingga akhirnya saya baca baik-baik syarat dan tema kompetisi blog ini. Temanya kompetisi blog adalah pendapat kita  tentang Manusia Pertama, nabi Adam yang mulia versus  berdasarkan Teori Evolusi Darwin.  Mana menurut loe?

picture from fanpop.com

Wah kalau soal perdebatan teori begini, saya menyerah saja kalau harus debat-debat segala. Satu keyakinan saya cuma satu manusia pertama ya Nabi Adam. Titik. Tanpa ditawar. Ini menyangkut keyakinan. Yang kau percaya itulah yang benar. Itu saja. Nah jadi kalau masalah percaya atau tidak percaya, saya sih disini cuma mau mengingatkan saja. Sebagai disclaimer, saya tidak pernah baca On The Origin of Speciesnya Darwin, gosipnya bukunya tebel. Jadi saya juga belum ada hasrat buat baca. Buku Dibawah Bendera Revolusi saja saya belum bisa tamat bacanya. Masih jadi PR saya untuk dibaca, entah PR sampai kapan.

Apa sih yang mau saya ingatkan? Anu noh. Soal percaya atau tidak percaya. Kalau kita percaya sesuatu niscaya kejadian. Jadi walaupun kita engga percaya sama teorinya Darwin yang diasumsikan banyak orang  bahwa asal mula manusia adalah kera, itu bisa jadi kejadian gara-gara hal sepele. Kita jadi monyet beneran walaupun berbentuk manusia. Ebuset deh. Masa iya sih? Jadi gini nih, contohnya gini. Misalnya kebiasaan memaki.  Kita bilang sama temen kita “Monyet Lu!” atau “Jelek lu kayak monyet” atau “Berisik banget lu kayak Wau Wau di kurungan” atau “Hei gorila, badan lu gede ga karuan!”, nah loh secara ga sadar kebiasaan buruk kita memonyetkan orang yang udah jelas manusia beneran.

Lalu kebiasaan buruk buang sampah sembarangan, atau perbuatan buruk lainnya dan kelakuan liar yang layaknya dilakukan oleh manusia kera bukan manusia beneran. Manusia belum beneran manusia kalau kelakuannya masih barbar. Jadi walau kita setengah mati ngaku kalau kita keturunan manusia yang mulia yaitu Nabi Adam, kalau kelakuan dan akhlak masih minus sih ya gimana yah. Saya mau bilang mirip monyet, ga tega juga euy. Perkataan negatif ntar jadi kenyataan ah. Mending saya doakan semua manusia kelakuannya baik-baik semua,  semulia leluhur yang kita yakini.

Kesampingkanlah Darwin. Biarkan dia berpendapat dan berteori. Justru harusnya kita berterima kasih kepada dia dan ilmuwan-ilmuwan lain yang mau cape-cape membuat teori dan menulis buku. Dengan adanya teori Darwin, membuat orang mempertanyakan dan memperdebatkan teori-teori yang mendukung ataupun yang menentang. Banyaknya diskusi akan membuka pikiran. Membuka banyak wawasan, dan membuka jalan untuk ilmu-ilmu lain yang bermanfaat bagi umat manusia. Untuk yang yakin dengan leluhur manusia adalah Adam, maka akan makin yakin. Jadi biarlah teori Darwin dengan para pendukung teorinya. Kita sih yang memilih keturunan Adam, terutama lebih baik  jaga sikap dan kelakuan saja, biar jadi manusia sejati,  tidak berperilaku seperti kera apalagi amuba.

Read Full Post »

%d bloggers like this: