Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Jengkol sebagaimana nama yang dikenal di Indonesia, atau Jering sebagaimana dikenal di Malaysia, atau Dogfruit dalam bahasa Inggris- walau saya tidak mengerti apa hubungan jengkol dengan anjing. Satu, jengkol bukan buah kesukaan anjing. Kedua, jengkol tidak berbentuk seperti anjing. Ketiga, bau jengkol tidak berbau seperti bau anjing, tepatnya jengkol berbau khas jengkol. Titik.

Mungkin dulu ada bule main ke Bandung, lalu dia makan di warung nasi Ceu Imas atau Ma Ata bersama temannya, seorang pemuda yang senang mengumpat. Si pemuda makan Jengkol yang dimasak semur dengan bumbu yang luar biasa ‘lekoh’ dan ‘lekker’ sehingga keluar umpatan dari mulutnya, “Anjing, ngeunah pisaaan euuuuy!!!” “Anjiiing, ieu jengkol kacida ngeunahna!!”.

Si bule temannya heran “why you’ve said ‘anjing’? Anjing means dog right? Are you eating dog meat?” Kata si bule sambil melirik-lirik piring temannya.
Temannya si pengumpat menjawab, “No,no. I am not eating any kind of processed dog. Dog is harom you know, you know harom? Harom means strictly prohibited. I am eating fruits. A gummy and chewy fruits. This is some kind of incredible and heavenly delicious food from miraculous fruits. People called it here as Semur Jengkol.”

“But you’ve said ‘anjing’ several times. Okay, why don’t we call it as dogfruit? Easier for me to pronounce anyway. J E N G H OL is very hard to say on my tongue, remember me so much to Jenghis Khan”
“Okay deal, as long as you happy with that, dogfruit, okay…. Jengkol or dogfruit, whatever you called it anyway, they really make my day”.

Nah demikianlah mengapa jengkol disebut Dogfruit, di atas segala kejayaan dan juga caci maki pada dirinya. Memang Jengkol sering dicari, juga dimaki. Untuk orang yang membenci, bau jengkol bagai bau neraka. Sedangkan bagi pencinta jengkol, bau jengkol seperti bau…..surga? Ah tentu tidak. Sebagai fans dan pembela jengkol yang fanatik, cukup kami nyatakan bahwa kami para penggemar jengkol adalah orang-orang yang realistis dan jujur pada kenyataan.. Fakta jengkol menghasilkan bau sebelum dan sesudah diolah kami terima dengan ikhlas dan lapang dada.

Untuk membuat semur jengkol yang fantastis and less odour, beberapa petunjuk mengatakan untuk merebus jengkol dengan abu gosok atau beberapa sendok kopi. Atau bisa juga dengan nengganti air perebus berkali-kali. Bisa juga untuk mengurangi kadar jenkolic acid dalam jengkol, orang mengkonversi jengkol menjadi sepi. Yaitu menguburnya beberapa hari sampai nyaris berkecambah.

Memasak jengkol mudah. Sebagaimana memasak semur daging, bumbunya bawang putih, bawang merah, salam sereh, jahe, lengkuas, kunyit, cabe merah,sedikit santan, tomat. Semua dihaluskan dan ditumis sampai harum baru kemudian dimasak bersama ‘the glorious mighty jengkol’. The Jengkol is dead! Long life the king of fruit!!.

Jengkol adalah sejenis legume atau pea, polong-polongan. Adalah tanaman asli Asia Tenggara. Bukan, bukan tanaman asli dari dataran Eropa. Anda jangan berpikir sejauh itu. Nama latin jengkol adalah Archidendron Pauciflorum. Di Indonesia biasa dimasak rendang atau semur. Yang muda jadi lalapan. Di Burma biasa dipanggang atau direbus dan disantap dengan saus ikan acar sebagai teman nasi. Thailand dan Malaysia pun mengenal masakan dari jengkol.

Orang Sunda kadang menyebut masakan semur jengkol dengan sebutan semur Hati Macan. Atau dalam bahasa Sunda, Ati Maung. Terdengar lebih gagah dan berwibawa memang. Harga jengkol saat ini memang tidak murah-murah amat. Terakhir sih di Mang Dodo, tukang sayur langganan saya yang sering mendelivery sayur-mayur dan daging tanpa diminta, alias ‘jual dedet’ atau sistem jual paksa- adalah Rp 22.000/kg. Itupun jengkolnya campur antara yang tua dan yang muda. Tapi harga ini menurut saya bisa-bisanya Mang Dodo me-mark up. Umumnya kalau lagi mahal menurut info harga pasar induk Caringin, hanya sekitar Rp 10.000 per kg. Kebutuhan konsumsi jengkol yang tinggi khususnya di Jawa Barat, membuat beberapa bulan terakhir terdapat sedikit krisis pada stok jengkol. Menurut gosip kebutuhan jengkol per hari untuk Jawa Barat adalah 100 ton. Ini baru di Pasar Induk Caringin saja. Banyak amat ya. Berapa ya kakus dan kamar mandi yang terkontaminasi dengan bau akibat jengkol sebanyak itu. Bayangkan saja.

Menurut info dari artikel di Trubus Online, selain bercitarasa khas, biji jengkol juga kaya nutrisi. Riset menunjukkan jengkol mengandung protein, karbohidrat, berbagai jenis vitamin, kalsium, dan fosfor. Bahkan kandungan vitamin C dalam setiap ons biji jengkol berkisar 57–91 mg. Vitamin C jeruk paling banter cuma 50 mg/100 ons daging buah. Selain vitamin C, biji jengkol juga mengandung vitamin B kompleks dan vitamin A. Keduanya berfungsi menjaga fungsi penglihatan dan peredaran darah. Mengapa jengkol banyak disukai? Menurut saya karena tekstur jengkol yang kenyal namun lembut dan pulen, kalau dalam bahasa Sunda istilahnya ‘Cakial Kuled’. Dimasak bersama bumbu pedas, jengkol yang berkeluarga dengan polong-polongan ini memberikan aroma dan rasa gurih keluarga polong-polongan yang khas. Juicy and tasty, kalau raja Inggris bilang sih.

Beberapa sumber menyebutkan pula bahwa jengkol baik untuk pencegahan diabetes dan mengurangi resiko penyakit jantung. Adapun resiko jengkol bagi ginjal karena asam jengkolat seringkali mengkristal, apabila PH darah kurang dari 7, itu bergantung pada pola hidup sebagian orang dan bersifat genetik atau keturunan. Jadi resiko jengkoleun atau sakit kencing karena jengkol ini berbeda-beda untuk setiap orang. Sedangkan menghilangkan bau jengkol, bu Nani – seorang Manager di kantor saya tempat bekerja memberikan tips meminum kopi setelah makan jengkol. Terbukti sih mengurangi rasa aneh berbau jengkol di mulut. Lalu untuk kamar mandi yang beraroma semerbak, bilaslah dengan air banyak-banyak, dan bawalah pengharum ruangan di tas Anda apabila perlu berbilas di kamar mandi umum atau di rumah orang lain.

Sekali lagi, Long Live the Jengkol!

Advertisements

Read Full Post »

My lovelies, ada yang di antara Anda pernah beratraksi di jalanan untuk mendapat imbalan? Kalau saya sih, sebentar saya ingat-ingat dulu…sepertinya sih sekali sewaktu ospek masuk kuliah dulu. Komplit dengan kostum kaus kaki bola beda warna, topi sebelah dari bola sepak plastik, rambut dikuncir ala orang gila di film cerita si Unyil, dan karung goni besar. Penampilan spektakuler saya di Bandung Indah Plaza. Saya lupa saya ngamen atau baca puisi ya? Yang jelas sih engga dapat duit, karena suara saya memang terlalu merdu untuk bisa dinikmati manusia di kapasitas telinga normal. Tapi yang pasti sih saya mendapat malu. Setengah mati.

Street performance atau atraksi jalanan, menelusuri sejarahnya, sudah berlangsung sejak lama. Lama sekali. Sebelum saya lahir dan Anda lahir. Dan sebelum Kakek Nenek saya lahir. Dan sebelum siapapun yang baca blog ini lahir. Begitulah. Bentuk street performance berupa mengamen di jalanan atau dengan istilah ‘busking’  tercatat dalam bahasa Inggris sejak tahun 1860. Namun street performance sendiri sudah dikenal sejak jaman Romawi Jadul. Bahkan Romawi Kuno sudah menerapkan hukum bagi street performer yang menyanyi atau membuat parodi dalam rangka mengejek pemerintah. Dalam hukum dua belas meja* disebutkan hukumannya tidak tanggung-tanggung, yaitu hukuman mati. *Note: Hukum Dua Belas Meja; The Law of Twelve Tables  atau dalam bahasa Yunani; Leges Duodecim Tabularum.

Jadi Street Performance dikategorikan sebagai seni jalanan yang sudah berumur sangat tua dan diketahui terdapat di seluruh penjuru dunia. Baik berupa akrobat, menjadi patung, pantomim, bernyanyi, berpuisi, memainkan alat musik, atau joget-joget bareng ular. Di Indonesia, terutama di Bandung sih, entah deh di kota lain, terdapat Doger Monyet yang menurut saya sih sangat tidak berperikemonyetan. Saya tidak mau mengkategorikannya sebagai seni. Soalnya kasihan sekali melihat monyet dipaksa berbuat sesuatu yang dilatih dengan disiksa terlebih dahulu. 

Artis terkenal dunia seringkali iseng ngamen di jalanan, Joshua Bell sang violinist ternama, pernah mengamen di metro stasiun dan mendapat $32,17 untuk aksi 45 menitnya. Dari 1097 orang yang lewat hanya satu orang yang mengenalinya, dan dia menggunakan biola Stradivarius antiknya yang berharga $2000.000,-. Demikian pula Sting pernah mengamen, seorang wanita yang mengenalinya ditukas oleh suaminya dengan mengatakan “‘You silly cow. It’s not him. He’s a multi-millionaire.’

Nah di jalan Buah Batu sebelum perempatan Soekarno Hatta dari arah pintu gerbang Tol Buah Batu, ada seorang street performance berjenis kelamin dengan status diragukan apakah lelaki atau perempuan. Tapi dia favorit saya. Bahkan saya menganggap dia mirip Mulan Jameela. Sungguh!. Setiap hari dia bernyanyi berlenggak lenggok. Dan pakaiannya dia sesuaikan dengan musim atau moodnya barangkali. Sekali waktu saya melihat dia berbusana lengkap dengan pakaian sekretaris kantoran. Rok mini, blazer, sepatu hak tinggi, tas kulit. Make up? Full make up tentu saja. Tak lupa dengan kecrekan tutup botolnya. Ia akan bernyanyi, melengking, dan mendesah, sambil meliukkan badan. Setiap hari pakaiannya berganti, warnanya selalu mix and match. Atau terlalu match sampai-sampai berwarna biru sebadan-badan, atau ungu terong dari atas sampai bawah.

Ini fotonya: 

Image

cantik kan?

 

Read Full Post »

Read Full Post »

Karena satu dan lain hal beberapa minggu lalu saya menjalani pembedahan laparotomy. Dokter yang menangani saya adalah dr  Maringan DL Tobing SpOg. Beliau adalah suami dari penyanyi era JK Records Christine Panjaitan yang cantik dan  bersuara merdu itu. Nah, Dokter Maringan orangnya ramah, metodis, tinggi dan berkumis, dan pandai berbahasa Sunda. Hal yang terakhir sebenarnya tebakan saya saja karena pernah mendengarnya ‘heureuy’ dengan dokter anestesi dengan bahasa sunda dengan ‘paseh’ (siapa bilang orang Sunda ga bisa bilang F? itu pitnah!). Oh ya  Saya selalu heran kenapa kebanyakan dokter kandungan selalu saya temukan berkumis. Apakah sudah menjadi trade mark di kalangan jajaran dokter? Ada yang bisa membantu memberi penjelasan untuk masalah ini?.

Awalnya saya mendapat rekomendasi untuk ditangani dokter Maringan ini dari adik ipar saya yang juga dokter, sarannya  karena saya bermasalah di saluran tuba (yang pastinya menurut saya saluran tuba itu kecil dan sempit)  dan dokter Maringan adalah spesialis untuk bedah mikro (apapun itu ya arti dari bedah mikro, saya juga ga paham kok soal kedokteran hehehe, yang jelas menurut saya bedah mikro terdengar sulit dan butuh keahlian tinggi).

Logika saya sih cuma begini: Makro => besar, luas, global, jadi gede gampang keliatan.  Mikro => kecil, mungil, lucu, ga kelihatan jelas dengan mata telanjang, jadi susah. Yang mana logika saya bertentangan dengan nama Mikrolet, yang tidak terdengar kecil dan tidak juga berasosiasi dengan sesuatu yang imut ataupun  kelucuan. Ah sudahlah, never mind!, tong dipikran nya! saya juga suka pusing kok dengan tulisan saya sendiri.

Setelah beberapa kali konsultasi akhirnya kami bersepakat untuk menentukan hari H untuk operasi di RS Santosa Bandung, kenapa di RS Santosa? Ini alasannya: satu, RS Santosa tidak jauh dari rumah saya, dua, RS Santosa punya kafe  di lobby depan dan menjual kopi yang enak dan roti cinnamon roll yang harum, tiga, dokter Maringan juga menyarankan disana karena masalah peralatan yang lebih mendukung, empat beberapa kali saya dirawat disana, belum pernah nemu suster judes maupun suster ngesot, lima, dan sebenarnya nomor lima ini adalah nomor satu dalam prioritas saya, yaitu perusahaan tempat saya bekerja memiliki kerjasama dengan RS tersebut, dimana saya bisa menjalani perawatan disana dengan berbekal guarantee letter dari perusahaan untuk pembayaran. Jadi saya tidak perlu gadai menggadai atau menjual koleksi perangko dan koin saya (misalnya, dan sebetulnya misalnya banget, karena saya tidak punya koleksi perangko maupun koin) untuk membayar down payment biaya rumah sakit yang kadang melangit.

Berbekal surat dari HRD dari perusahaan tempat saya bekerja yang sangat sigap dalam penyediaan dukungan masalah administrasi dan surat menyurat karyawannya (untuk ini saya benar-benar berterima kasih dan mengacungkan semua jempol yang saya miliki), saya datang ke rumah sakit, setelah menjelaskan maksud dan tujuan, saya menyerahkan surat pengantar dokter dan surat sakti pengantar dari perusahaan, bingung juga pas ditanya, mau di kelas apa bu? sebetulnya saya tidak keberatan di kelas apapun, toh saya tidak akan lama dirawat hanya 3 harian saja, dan juga saya pernah masuk di kelas 3 di RS tersebut dan nyaman-nyaman saja sih menurut saya. Saya baru pertama kali masuk RS dengan berbekal guarantee letter, biasanya bayar duluan dulu dengan uang sendiri baru diklaim untuk reimburse di kantor. Jadi saya bilang sama petugasnya, kelas mana saja deh yang tercover dengan plafond yang diberikan perusahaan. Ternyata saya dimasukkan ke kelas 1. Di kelas 1 RS Santosa, satu kamar berdua. Satu hal yang saya selalu sensi mengenai rumah sakit ataupun hotel, yaitu kamar mandinya. Untunglah di RS ini kamar mandinya bersih dan cukup nyaman. Ah tarik nafas lega deh.

Saya masuk rumah sakit sekitar jam 10 pagi sedangkan operasi akan dilaksanakan jam lima sore. Puasa kalau tidak salah cukup 5 jam sebelum operasi. atau 4 jam? ah lupa deh. Yang jelas jam 10 ini saya masih boleh minum dulu dan makan sedikit. Jam 11 saya masuk kamar, dan bingung mau ngapain. Tidur males, lari keliling kamar juga bukan ide bagus ya?. Akhirnya karena saya berbekal iPad dan Macbook, jadinya saya coba browsing dan main game Facebook kesayangan saya, the Sims Social. Namun koneksinya kurang memadai untuk main games. Kalau untuk browsing baca berita sih oke oke saja. Akhirnya saya tiduran saja ditemani suami saya tercinta yang ijin dari kantornya untuk menemani saya. Ternyata mendingan masuk RS untuk operasi siang-siang untuk operasi sore-sore dibanding dengan datang malam-malam untuk operasi pagi-pagi. Karena kalau datang malam-malam kita akan diinfus malam itu juga, dan banyak prosedur lainnya seperti cukur mencukur daerah perut dan daerah sana, yang sebetulnya saya juga bingung ini termasuk harus apa tidak. operasi yang dulu-dulu saya selalu mengalami cukur mencukur, colok-colok jarum infus dan pengkateteran kandung kemih yang menyebalkan itu. Tapi tidak untuk operasi kali ini. Hore!. Karena saya sudah bawa data lab dan hasil EKG dari hasil pemeriksaan lab sehari sebelumnya, saat ini saya tidak perlu dicek lab lagi.

Pemasangan jarum infus dilakukan jam 15.30 dimana suster yang melakukan rupanya piawai dibanding yang dulu-dulu. Saya memiliki pembuluh darah yang sulit dilihat dan kecil, sehingga rupanya untuk petugas medis yang amatir atau belum jago tusuk menusuk jarum akan sangat menyulitkan. Biasanya setiap saya diambil darah atau diinfus, petugas akan mengeluh ‘duuh susah banget kelihatan pembuluh darahnya, bu’, dan saya akan disiksa dengan beberapa kali colok mencolok dan tusuk menusuk yang tanpa hasil, sampai kedua atau ketiga kali baru tuh si pembuluh darah lucu itu dapat ditemukan. Nah sustet yang menusuk pembuluh saya hari ini patut diberi piagam penghargaan! karena dia berhasil menemukan pembuluh darah saya dengan satu kali tusuk. Walau sempat juga berkomentar pembuluh darah saya selain sulit ditemukan juga bercabang. Mungkin itulah sebabnya kenapa saya lebih keren daripada orang-orang lain. Pembuluh darah saya berbeda!.

 

 

Read Full Post »

Beesy Buzz

Saya punya peliharaan, bukan benar-benar dipelihara sih. Tapi dia memang datang dan pergi ke kebun belakang rumah saya. Anggaplah saya pelihara, karena saya khusus menanam bunga-bunga jenis “save the bees” dari Botanical Interest, untuk makhluk kecil yang berdengung itu, sebanyak 2 kontainer. Tadinya saya hanya menanam herbs, tapi karena senang dengan kedatangannya saya tambah koleksi tanaman saya dengan bunga-bunga yang disukai lebah.

Lebah kecil berwarna kehijauan itu saya beri nama Beesy Buzz, karena dia selalu sibuk berdengung. Awalnya dia datang saat Basil saya mulai berbunga, disusul Cilantro, Nasturtium, Calendula dan bunga-bunga lain. Rupanya dia jenis solitaire bee, karena dia selalu sendiri. Tapi pernah di suatu Minggu pagi yang cerah dia mengajak temannya, berdua mereka sibuk berdengung, dari satu bunga ke bunga lain, dengan kecepatan jet tempur.

Bentuk tubuhnya buntet, warnanya hijau metalic, dan saya sungguh menyukai dia dibanding lalat-lalat hijau yang selalu datang tiap saya menggoreng ikan asin peda. Dimana tinggal Beesy Buzz saya tidak tahu, karena sekitar rumah saya adalah komplek perumahan,dan dibatas tembok belakang adalah perkampungan padat penduduk yang tidak mengenal pentingnya menanam pohon, mengingat semua halaman kebanyakan senang diberi lapisan semen abu-abu, saya tidak yakin Beesy Buzz datang dari daerah sekitar sini. Mungkin dia terbang jauh-jauh dari pepohonan daerah entah mana, berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah saya, kecapaian dan kelelahan. Lalu bersemangat setelah menemukan pollen dan sedikit nectar.

Lain kali saya akan menanam bunga-bunga yang disukai burung. Senangnya nanti  bila mereka berdatangan ke kebun belakang saya, menjadikannnya oase,  di tengah kota yang senang menebang pohon-pohon tua untuk memberi jalan pemuja dewa fashion di kuil factory outlet ini.

Read Full Post »

Nah setelah saya punya banyak persediaan kimchi, untuk hari-hari hujan yang sudah dimulai di Bandung ini, saya bisa membuat kimchi jjigae. Rasanya asam, pedas, gurih, pokoknya kaya dengan rasa. Kimchi Jjigae adalah sup khas Korea dengan bahan utama Kimchi yang sudah terfermentasi dengan baik. Kalau belum asam banget? ya ga apa-apa. Tapi rasanya akan lebih mantap (kata orang sih) kalau kimchinya sudah masam seperti yoghurt.

Yang bisa dicampur untuk Kimchi adalah tuna atau daging sapi tipis-tipis untuk yakiniku, jenis sirloin atau tenderloin kalau tidak ingin banyak lemak. Aslinya sih kadang pakai daging babi. Tapi kalau masakan saya sih, strictly no pork no lard. Membuat kimchi jjgae sangat mudah. Sayang saya tidak punya panci tanah liat ataupun panci batu. Jadi pakai panci yang ada saja.

Bahan-bahan yang disiapkan:

satu mangkuk kimchi yang sudah masam,

daging sapi sukiyaki atau sekaleng tuna tergantung selera

jamur (kalau ada, kalau tidak ada ya sudah, engga usah memaksakan diri)

tofu, tahu jepang atau tahu sutera (kalau tidak ada juga tidak usah memaksakan diri, saya pernah pakai tahu sumedang yang belum digoreng, beli ke tukang goreng tahu yang lewat)

setengah butir bawang bombay diiris-iris

beberapa siung bawang putih dicacah

setangkai bawang daun diiris halus untuk taburan

bubuk cabai kalau masih merasa kurang pedas

Setelah semua bahan siap, mari kita berdoa. Kenapa harus berdoa? Kalau saya sih baca Bismillah dst. Soalnya bagi saya memasak itu merupakan ritual yang bener-bener bisa menenangkan hati dan pikiran. Kalau kita memasak dengan jiwa yang sehat dan tenang, rasanya seperti meditasi. Setiap irisan setiap adukan akan kita lakukan dengan penuh kasih sayang dan terima kasih. Dijamin rasa masakan yang dibuat dengan damai dan bahagia menghasilkan masakan yang enak. Bener deh ga boong. Coba aja masak sambil marah-marah, kemungkinan gosongnya kan gede. Makanya saya kalau masak selalu hari Sabtu dan Minggu, karena kalau hari kerja jadinya buru, dan rasanya jadi tidak asyik.

Pertama-tama tumis cacahan bawang putih dan bawang bombay, gunakan grape seed oil kalau mau, biasanya di tempat masakan Korea tersedia. Kalau tidak ada, pakailah minyak zaitun agar lebih sehat, kalau masih tidak ada, pakai aja minyak kelapa yang ada tidak usah banyak-banyak, karena daging juga mengandung lemak. Intinya, jangan sampai tidak jadi masak kalau kita masih bisa menemukan substitusi bahan tertentu. Setelah harum dan daging tidak berwarna pink lagi, masukan kimchi. Tambahkan air dari kimchi, dan air biasa. Masak perlahan dengan api kecil, tambah gula atau cabe bubuk kalau rasanya masih kurang spicy. Tapi biasanya rasa dari kimchi sudah cukup. Karena kimchi yang saya buat sudah menggunakan potongan cumi, rasa Kimchi Jjigae ini gurih tanpa harus ada tambahan bumbu penyedap atau MSG. Tambahkan irisan tahu. Jangan diaduk nanti tahunya hancur. Biarkan beberapa saat sampai …. sampai kira-kira sudah enak dimakan deh. Lalu taburkan irisan bawang daun. Selamat menikmati!

Read Full Post »

Hearty and Healthy Cook in Sunday

Berhubung tanaman herbs di rumah sudah bejibun, jadinya masak apa aja yang membutuhkan bumbu dapur masakan Eropa lebih gampang, dan lagi karena butuhnya sedikit untuk pas masak saja, tinggal metik-metik sedikit-sedikit. Tanaman herbs yang sudah banyak (banyak sekali) ditanam di halaman rumah adalah : tarragon, mint, cilantro, oregano, thyme, chives, garlic chives, marjoram, sage, parsley, basil (rupa-rupa basil!) dill, fennel, dan rosemary. Karena hobi saya nonton Asian Food Channel, dan video acara masak-memasak Jamie Oliver di Youtube, kalau nemu bumbu-bumbu yang tidak ada di pasaran atau supermarket saya tidak cemas. Tinggal metik saja di kebun belakang.

Selain bumbu, saya pun menanam kangkung, macam-macam selada, dan rocquette atau arugula, dan cabe. Gak tanggung-tanggung selain cengek lokal yang harganya kemarin meroket karena isu panen cabe gagal karena debu merapi, saya pun menanam berbagai cabe terpedas di dunia: bhut jolokia, scorpion trinidad, dan goliath jalapeno. Sayang beberapa pohon bunganya rontok, karena saya terlalu kencang nyemprot pake selang air. Mungkin unsur dendam karena harga cabe mahal yang menyamai harga emas Dubai, makanya saya jadi kesetanan nanam cabe, walaupun niatnya buat dikonsumsi sendiri.

Bikin guacamole? hayu. Bikin spaghetti? oke, tinggal metik basil dan oregano. Lasagna? gampang. Bikin barbeque, ada rosemary dan thyme siap selalu. Keuntungan punya tanaman herbs sendiri, saya tidak perlu stok bumbu kering. Lagipula bila ingin beli bumbu segar di supermarket, ketersediaannya kadang ada kadang tidak. Kalau beli bumbu kering, saya kurang suka, karena aroma bumbu kering dan awetan dengan bumbu segar perbedaannya signifikan. Lagipula bumbu yang menanam sendiri saya yakin tidak mengandung insektisida atau residu bahan kimia lain, karena saya memang tidak pernah menyemprot dengan yang begituan. Ada gosip kalau herbs bahkan tidak perlu pakai pupuk buatan, cukup dengan kompos. Karena aroma dan rasanya akan terganggu apabila pakai pupuk pabrikan.

Ini foto-foto masakan saya dengan bumbu segar dari halaman rumah sendiri:

 

Read Full Post »

Bikin Kimchi Yuk!

Karena satu dan lain hal, dalam satu minggu ini rasanya saya hampir tiap hari bikin kimchi. Salah satu sebabnya karena teman-teman di kantor juga pada doyan, dan saya juga lagi suka makan kimchi. Jadi habis terus. Perubahan pola makan kami menjadi senang makan kimchi mungkin efek dari maraknya film-film Korea saat ini. Bagaimana tidak, rasanya dari dua film korea yang saya tonton, banyak adegan makan -yang kelihatannya enak, dan adegan membuat kimchi.

Sebenarnya saya sih dibilang korban film Korea ada benar dan tidak benarnya. Sebelum nonton film Korea (saya baru nonton dua: Playful Kiss dan Meteor Garden versi Korea, itupun karena ada Kim Hyun Joong), saya suka membeli kimchi yang sudah jadi di supermarkert di bagian makanan impor. Lumayan mahal, karena 100 gram kimchi harganya lebih dari Rp 25.000,- , bandingkan dengan bahan bakunya, sawi putih hanya beberapa ribu rupiah dengan ukuran segede gaban. Alasan saya sering makan kimchi, pencernaan saya rasanya terbantu habis-habisan, lagi pula urusan berat badan yang sedang menyebalkan angkanya ini membuat saya mencari alternatif cemilan yang tidak berkadar lemak dan kolesterol yang tinggi.

Tetangga saya jaman jadul dulu orang Korea, yang suka sekali membuat kimchi setiap selalu. Katanya mah..”sudah tradisi…”, kalau ada acara kumpul ibu Dharma Wanita kompleks perumahan ortu saya, pasti nyonya Korea itu mengajarkan membuat kimchi. Kimchi tidak hanya dibuat dari sawi putih, menurut penuturannya apapun yang namanya sayur dan buah bisa dibuat kimchi. Yang utama sih sawi putih, mentimun, dan lobak.  Siap bu!

Resep kimchi yang saya sering buat adalah gabungan dari apa yang ibu saya ingat dari Nyonya Korea, dan hasil searching di Youtube. Tapi akhirnya sering saya modifikasi sendiri. Yang saya siapkan adalah:

1. Sawi Putih

2. Selada Air atau Watercress (biar ada ijo-ijonya)

3. Lobak

4. Wortel (biar ada oranyenya)

5. Apel dan Apel Pir (buah Pir yang bentuknya kayak apel, kulitnya warna coklat)

6. Bawang Daun, Bawang Bombay, Bawang Putih, Jahe

7. Cabe bubuk Korea, biasa dijual di supermarket di makanan impor section bagian makanan Korea. Harganya Rp 60.000,- an yang biasa saya beli. Kalau pake cabe bubuk lokal, bubuknya terlalu halus dan warnanya oranye. Tidak merah gonjreng dengan serpihan yang “flaky”. Kalau kepepet banget pengen nyoba dan supermarket jauh, coba aja dengan gerusan cabe merah. Tapi rasanya akan sedikit “bau langu” . Tapi sebenarnya asli di Korea, cabe ini digunakan sesudah abad ke 15, sebelum abad 15, tidak pake cabe. Belum nyampe dulu kapal laut tukang dagang cabe kesana.

8. Kecap ikan, garam, gula. Kecap ikan Korea, lebih kental dari kecap ikan yang biasa, misalnya merk Royal Gold Fish yang biasa untuk makanan Thailand. Merknya saya lupa. Tapi tidak pake kecap ikan korea juga tidak apa-apa.

9. Kerang basah atau cumi yang sudah kita bersihkan diberi garam banyak-banyak dan disimpan di freezer selama satu minggu.

10. Tepung beras atau tepung maizena atau tepung terigu (saya suka pakai apa aja yang sedang ada di dapur)

Nah setelah semua siap, mari kita berdo’a. Agar pembuatan kimchi ini lancar, hasilnya enak, penuh cita rasa, dan tidak ada bubuk dan pasta cabe yang nyiprat ke mata. Membuat kimchi menurut master chefnya Korea, entah saya baca dimana, harus penuh dengan kasih sayang dan niat yang tulus. Sehingga akan menghasilkan kimchi yang ‘hearty and healthy’ kimchi.

Langkah pertama, potong-potong sawi putih boleh memanjang atau kotak-kotak, sesuai selera. Taburi garam yang banyak setiap sela daunnya. Lalu tutup baskom berisi sawi tersebut. Silahkan Anda tidur. Atau kalau tidak ingin tidur dulu, bolak balik daun sawi tersebut setiap 30 menit. Saya memilih untuk menggarami daun sawi pada malam hari. Karena saya memilih tidur dulu daripada membolak-balik sawi setiap 30 menit. Nah pagi-pagi setelah bangun tidur, daun sawi sudah layu, air yang keluar akan banyak sekali. Buang airnya, cuci sawi dengan air bersih 6 kali, agar garamnya larut. Tiriskan dan sisihkan dulu.

Potong-potong lobak dan wortel dengan bentuk memanjang seperti batang korek api. Potong-potong apel dan pir berbentuk dadu, sisakan lobak, apel dan pir untuk diblender. Potong-potong bawang bombay dan bawang daun dengan bentuk memanjang juga. Sisihkan sebutir bawang bombay untuk diblender bareng lobak, apel, dan pir bareng dengan jahe dan bawang putih. Setelah yang dipotong-potong siap, cuci bersih dan tiriskan. Buat bubur kental dari tepung dengan air. Dinginkan. Blender bawang bombay, apel, pir, lobak, bawang bombay, bawang putih bareng dengan satu cangkir kecap ikan.

Ini saat yang kita tunggu-tungggu, gunakan sarung tangan untuk mengaduk, karena kalau tidak tangan yang bau bawang dan panas oleh cabe itu sangat pedih jendral. Karena saya tidak punya sarung tangan (belum sempat beli) saya pakai kantung kresek yang sudah dicuci bersih untuk membungkus tangan saya.

Campurkan bahan yang diblender dengan bubur tepung yang sudah dingin, beri garam gula secukupnya, dan 2,5 cangkir bubuk cabe atau kalau ingin pedas banget seperti maicih level 10 sih ya terserah, tambah saja lagi. Kepedesan di luar tanggung jawab penulis blog nya!. beri potongan lobak, wortel, apel, pir, selada air, bawang daun, dan bawang bombay.  Aduk-aduk merata. Tambahkan cumi yang sudah dicuci dan dipotong-potong atau kerang. Setelah selesai mengaduk, setiap lembar daun sawi diberi olesan bumbu cabe pasta ini. Yang rapi ya ngolesnya, lalu bentuk dengan rapi lalu tempatkan di wadah plastik sampai semua bumbu habis. Kalau masih sisa buat saja lagi kimchi dengan lobak, inilah yang bernama Kaktugi.

Simpan di wadah plastik dengan jenis air tight container, simpan di kulkas, atau kalau ingin cepet terfermentasi di simpan di suhu ruang. Bukti kalau sudah asam, bila dibuka terlihat ada buih dan gelembung-gelembung di cairan bumbu kimchi tersebut. Nah kimchi siap dinikmati, bisa dibuat nasi goreng kimchi, mie kuah kimchi, atau dimakan begitu saja sebagai side dish.

Demikian resep kimchi dari Chef Mirre Marcellieau. Sampai jumpa di resep berikutnya!

Kalau males bikin dan ingin beli kimchi buatannya saya, silakan. Kalau masih kota Bandung bisa didelivery kok. Kontak saja di 0811 2206060  dengan catatan hanya bisa kirim-kirim hari sabtu dan minggu saja. Oh ya gambar sungai di atas tidak ada hubungan dengan kimchi, cuma buat nunjukkin aja kalau makan yang seger-seger itu enak, kayak lagi di gunung.

 

Read Full Post »

Oregano atau Marjoram?

Serius, dua-duanya sangat sulit dibedakan. Daunnya mirip, baunya pun mirip. Jadi apabila memasak, satu yang lainnya bisa menjadi substitusi. Oregano banyak digunakan dalam masakan Itali. Tapi kemarin teman saya bereksperimen dengan indominya, dia memberikan cacahan oregano. Katanya sih rasanya mantap. Indominya jadi wangi dan berbau “Italy”.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

%d bloggers like this: