Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Foods and Drinks’ Category

 

Kemarin sepulang kerja, saya mampir ke Yogya Dept Store di Jl Riau. Tempat belanja favorit saya selain Setiabudi Supermarket. Keliling-keliling saya lewat ke jamur section. Sedang ada promo sepertinya, belum pernah segala jamur dipajang sebanyak ini. Sedang mengambil sebungkus jamur coklat Suisse Brown kesukaan saya (saya biasa membuat omelet atau memanggang jamur ini, rasanya lebih renyah dari jamur champignon), seorang pria berdemo memasak. Membuat jamur goreng tepung. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

image

Kalau ke Sushi Tei saya dan keluarga engga bakal jauh-jauh yang dipesan pasti salmon. Akhir-akhir ini saya lagi suka kepala salmon bakar. Tapi bukan bumbu saus teriyaki. Yang cuma dibumbui garam saja.

Foto di atas bagian atas sudah saya cuwil. Bentuknya jadi kelihatan aneh.

Selain kepala salmon bakar ini, salmon sashimi juga selalu menjadi pilihan. Yang bagian belly apalagi. Rasanya saat melebur di mulut enak sekali. Dilengkapi rasa shoyu dan ledakan wasabi sesudahnya. Sensasinya luar biasa.

Chuka Iidako juga selalu dipesan. Karena asik dimakan dengan wasabi. Tapi sore tadi ada sepotong yang bentuknya mirip banget alien dari ilustrasi HG Wells. Itu loh mahluk Mars katanya. Saya jadi ogah memakannya. (more…)

Read Full Post »

Cock A Leekie Soup

Image

edenbrothers.com

Hari hujan dan saya sedang menunggu anak-anak pulang sekolah. Kebetulan hari ini saya tidak ke kantor (yippiee!). Enaknya masak apa ya. Sehubungan kemarin saya telah menulis tentang Burns Night atau Burns Supper, dimana hidangan utamanya selain Haggis Neeps and Tatties, dihidangkan juga Cock A Leekie, sup ayam ala Scotland, saya jadi kepikiran. (more…)

Read Full Post »

Akhir pekan kemarin, ada adik ipar saya datang ke rumah kami. Anak-anak saya sangat senang, karena Delli, adik ipar saya tersebut, orangnya sangat cheerful, periang, happy jolly go lucky, or something like that. Dimas serasa dapat kakak laki-laki yang bisa menemaninya berduet main gitar. Jadilah kamar saya sering ditempati mereka, ber-jam session main gitar, atau main game bola. Kenapa sih pada seneng numplek blek di kamar saya? Ini dikarenakan kamar saya mirip pavillion, menghadap ruang taman terbuka dan jendelanya besar-besar. Lagipula memang paling nyaman dibanding ruang lain. Walau berisik seperti jadi tempat kost-kostan pria, saya biarkan saja.

10156155_10152063867413037_236673699217636161_n

Ini dua adik ipar saya, Sinta dan Delli.

Hari Sabtu saya lagi engga mood masak. Pengennya langsung makan! Tapi berhubung kami week end, pingin dong makanan yang istimewa, tapi untuk keluar makan, lagi engga mood juga, tahu sendiri lah, Bandung kan akhir-akhir ini selalu macet dipenuhi pelancong di akhir pekan. Bakalan macet kemana-mana dan juga tempat-tempat makan favorit akan penuh.

Berhubung adik ipar dan suami saya pernah tinggal lama di Syria, saat mertua saya bertugas disana, saya jadi kepikiran ingin menikmati makanan Timur Tengah.  Saya teingat  ada restoran favorit saya di daerah Tamansari yang menyediakan makanan Middle Eastern ini, namanya The Food Opera. Alamatnya di Jl Tamansari No 30 Bandung dan ada satu lagi di Jl Ir Haji Djuanda No 151, tempatnya cozy banget. Romantis. Makanannya juga enak-enak. Engga cuma makanan Timur Tengah yang disediakan, ada makanan Itali, western dan makanan khas Nusantara juga ada.

(more…)

Read Full Post »

Cozy Sunday

image

Hari ini menyenangkan sekali. Bangun siang, ngurus kebun herbs. Setelah saya mandi, kami sekeluarga plus adik saya sekeluarga pergi berenang ke D’groove. Ini memang tempat olahraga dan kebugaran favorit kami, deket soalnya. Cuma sekitar 5 menit kurang sudah sampai. Saya sebelum jadi member suka membeli voucher berenang disana satu buku sekaligus, jatuhnya jauh lebih murah. Masalahnya kadang kami kumat males pergi berenang, sehingga tau-tau masih ada belasan voucher dengan batas waktu  sebentar lagi habis.

(more…)

Read Full Post »

Belum pernah ke Korea (seperti saya) atau engga jago masak (maaf  ini bukan saya), dan ga bisa baca kata Tteokbokki (ini saya juga), ga berarti dan ga bukan,  ga boleh bikin makanan Korea dong ya.  Boleh-boleh saja. Sah menurut hukum manapun. Kecuali ditambahkan bahan yang ga halal menurut kepercayaan agamanya.

Nah untuk siapapun penggemar makanan Korea, atau tergila-gila sama hal berbau Korea sehingga misalnya karena naksir Kim Hyung Joon, dan ngarep suatu saat jadi cewek bahkan istrinya, sehingga jadi kegerahan pengen bisa masak makanan Korea. Ini wajar, karena ada yang bilang, bikin cowok suka itu salah satunya dengan pinter masak. Sama sekali ga bisa disalahkan bila ada yang nulis salah satu dari 10 cara menggaet Kim Hyung Joon adalah, belajar masak makanan Korea.

Untuk itu saya bagi resep rahasia saya bikin Tteokbokki. Rahasia yah, jangan dibilang-bilang. Kan rahasia.

Sebelumnya saya mau cerita dulu soal Tteokbokki. Karena kalau bikin makanan itu ada baiknya tau latar belakang dan sejarahnya, atau masalah kebudayaan serta ciri khas kuliner mana. Kenapa? Ya ga apa-apa sih, salah satunya cuma agar kita keliatan lebih pinter. Itu aja.

Tteokbokki itu awalnya adalah makanan atau kuliner kerajaan di jaman Dinasti Joseon. Wow keren ya. Dinasti Joseon itu kerajaan yang memimpin di Korea dalam kurun waktu lumayan panjang, berabad-abad. Persisnya sih dari tahun 1392 sampai dengan 1910. Awalnya Tteokbokki ini dihidangkan dengan 5 warna.  Merah, kuning, hitam, biru, putih yang melambangkan Korea. Dan dulu karena cabe belum musimnya, Tteokbokki tidak menggunakan gochujang atau saus cabe pedas itu.

Nah ini yang harus disiapkan untuk membuat Tteokbokki. Yaitu sebungkus Tteok beku. Ini bisa dibeli di supermarket yang menjual bahan makanan dan bumbu asing. Kalau di Bandung, ada di supermarket Setiabudi, itu tuh di belokan ujung jalan Setiabudi yang menuju Cihampelas. Ada di kiri jalan ya. Awas jangan kelewat.  Tteok juga ada di Yogya Riau Junction. Tapi kemunculannya bagai jerawat saya. Kadang ada kadang tidak. Jadi adanya Tteok ini bisa dipakai sebagai bahan taruhan dengan teman. Ada ga Tteok hari ini di Yogya? kalau ada saya bayar kamu serebu, kalau ga ada kamu yang bayar serebu. Ok?

tettok

Sebungkus Tteok beku ini harganya Rp 28.000 di Setiabudi Supermarket. Ini gambarnya kebalik ya. Ok never mind.

Untuk membuat Tteok beku ini menjadi layak makan tentu saja harus dibangkitkan dari kondisi beku. Caranya macem-macem. Yang jelas dipanaskan. Bisa dijemur, dibiarkan begitu saja, atau direndam air panas aka direbus. Saya memilih yang terakhir.

Setelah Tteok ini kenyal dan layak dimakan, yang disiapkan berikutnya adalah sausnya. Karena saya orangnya praktis dan ekonomis, maka saya memilih saus yang sudah jadi. Hehehe.

saos

Lalu? Taraa…..aduklah Tteok alias kue beras ini dengan saus pedas. Lalu panaskan bersama. Biar terlihat bagus, taburkan sedikit wijen dan irisan bawang daun.

Ini resep praktis Spicy Stir-Fried Rice Cakes.

Kalau ingin versi susah alias membuat saus sendiri, saya sama sekali tidak akan menyalahkan Anda, hidup ini pilihan.

Untuk yang ingin menjajal kemampuan dalam membuat saus pedas, ini resep dan bahannya:

1 cangkir kaldu ikan (atau air biasa campur kecap ikan deh kalau ga ada tapi saya ingatkan lebih enak pakai kaldu  ikan ini)
3 sendok makan Korean red chili pepper paste (gochujang) bisa  dibeli di tempat yang saya sebutkan di atas
1 – 3 sendok makan Korean red chili pepper flakes (gochugaru) -buat yang suka lebih pedas
1 sendok makan soy sauce
1 sendok makan gula pasir
1 sendok makann corn syrup (or tambahan satu sendok lagi gula pasir)
2 sendok makan bawang putih cincang

Campur bahan-bahan di atas, masak sampai mengental. Tambahkan minyak wijen dan wijennya sekalian bila suka.

Demikian resep Tteokbokki untuk cemilan hari libur dan hari biasa. Di jam berapa saja. Tapi cocok banget sih buat malam-malam dingin berangin dan bengong. Ok ga usah bengong, dingin dan berangin saja deh.

Selamat menikmati.

tteokbokki-recipe 3

Koreanbapsang.com

Read Full Post »

20130419_124402

Randang Padang Restu Mande di Laci Kantor

Makanan Tradisional

Siapa bilang rendang itu makanan khas Minang? Eh emang bener sih makanan asli dari suku Minang, Sumatera Barat atau seringkali disebut sebagai makanan khas Padang, mungkin pertanyaannya yang harus diganti, siapa bilang yang suka rendang itu cuma orang Minang? Nah kalau ini pasti jawabannya, tentu tidak, karena 11 dari 10 orang suka rendang.  Lho kok bisa? Ya bisa aja. Karena yang nulis blog ini saya.  *maksa*.  Eh maksud saya sebenarnya gini nih, ini karena rendang itu sensasinya telah bikin ketagihan banyak orang, dan tidak mengenal suku, bangsa, dan ras manapun di belahan di dunia ini.

Banyak orang cinta makanan Padang, dan terutama memang yang sering dibayang-bayangkan orang sampai ngiler adalah rendang.  Ini serius. Saya pernah suatu waktu di Malaysia untuk suatu training, dan trainer kami yang aslinya dari Hongkong, begitu saya memperkenalkan diri dari Indonesia, kontan wajahnya berubah, dan dia berkata, “Indonesia? ooooh  saya suka sekali makan rendang. Enak sekali!”  Katanya dengan wajah kepingin dan mata yang menerawang, mungkin membayangkan nasi hangat mengepul beserta rendang dengan bumbunya yang enak sekali itu.  Saya yang melihat wajah dan mulut yang meneteskan air liur jadi ikutan pengen ngiler, eh pengen makan rendang. Soalnya saat itu makanan di hotel benar-benar membosankan.

Rendang Padang

Nah dari pengalaman beberapa kali ke luar negeri, saya jadi kapok. Maksudnya kapok kalau gak bawa rendang. Rendang ini praktis banget sebagai bekal perjalanan jauh. Saat selera makan merosot jauh, atau kita menemukan bahwa menu yang ada tidak cocok dengan selera, rendang lah solusinya.  Ya memang rendang adalah makanan yang kaya dengan bumbu khas Indonesia.  Juga rendang cocok di berbagai lidah dari berbagai bangsa. Ajaib ya. Rendang juga bisa match dengan berbagai makanan.  Bisa kita temukan spaghetti dengan rendang, atau burger rasa rendang, juga pizza dengan topping rendang. Jadi  pas banget kalau rendang mewakili Indonesia sebagai makanan tradisional bangsa Indonesia yang go internasional.

Bicara soal rendang, karena kalau masak sendiri kadang suka cape, bayangkan usaha untuk membikin rendang itu, selain prosesnya cukup lama, yang bikin saya agak kesulitan membuat sendiri yaitu nguleknya! Duh ngulek cabe itu pediiih saudara-saudara. Belum lagi bawangnya. Bikin mata berair. Jadi gimana caranya bisa membawa-bawa rendang kemana kita suka? Masalahnya kalau bikin sendiri atau beli dari resto Padang terdekat, kemasannya yang kurang baik untuk bisa dibawa bepergian atau untuk disimpan lama, atau ke-otentikan rasa yang kurang pas. Nah ini penting banget. Otentik. Catet.  Sebagai pecinta makanan Padang dari beberapa generasi (walaupun saya orang Sunda, namun adik saya dan beberapa sepupu saya menikah dengan suku Minang) membuat saya mengenali suatu rasa rendang yang otentik dengan sebenarnya, dengan rendang yang kurang otentik karena rasa yang kurang ‘benar’.

Rendang Kemasan Restu Mande

Oh ya saya katakan beberapa generasi karena selain orang tua saya juga gemar makan rendang, kini anak-anak saya juga menyukainya. Bahkan ketagihan! Untuk itu saya beruntung mendapatkan Randang Padang Restu Mande, yang rasanya otentik, juga bisa disimpan lama. Praktis dan ekonomis.  Juga bicara soal kemasan, Randang Padang RestuMandeini memiliki kemasan yang baik sekali sehingga awet. Bila ingin dipanaskan juga mudah. Bila ingin dibawa bepergian, juga tidak usah cemas akan bocor, kemasannya kuat dan ukurannya pas.

20130418_184741

Kami Pemangsa Rendang!

Saya jadi ingin bercerita pengalaman saya menikmati rendang padang ini, yaitu rendang padang kemasan produksi Rendang Padang Restu Mande. Kebetulan sekali di Bandung ini mudah sekali memesan rendang asli enak ini. Bisa dikirim ke rumah atau ke kantor. Pesan pagi, sore sudah sampai. Jadi one day delivery service, bahkan bisa datang lebih cepat, pernah juga datang pas di waktu makan siang di kantor.  Dengan resiko jadi diserbu bareng teman-teman kantor.  Sampai sekarang saya suka menyimpan beberapa kemasan Randang Padang Restu Mandedi kantor. Ibaratnya sedia payung sebelum hujan, sedia rendang pedang dalam kemasan sebelum katering di kantor kurang enak rasanya.  Atau bila tidak sempat makan siang, tidak perlu khawatir kalau ada rendang di laci. Tinggal cari nasi. Jadi deh makan siang lezat dan nikmat.  Harus menyediakan lebih, karena biasanya teman-teman ada saja yang nimbrung.

IMG_20130422_205038

Dimas Penggemar Rendang

Rendang kemasan beberapa kali pernah saya temukan, tapi saya belum pernah mencoba sebelumnya, salah satunya karena tidak yakin dengan metode pengemasan dan rasanya.  Namun dari seorang teman saya mendapatkan info mengenai rendang kemasan Restu Mande ini. Juga lain ceritanya dengan saat pertama mengenalkan Randang Padang Restu Mande ini di rumah. Biasanya kalau tidak membuat sendiri ya beli dari rumah makan.  Setelah mencicipi rendang kemasan Restu Mande, sekeluarga jatuh cinta dengan rasanya.

Anak laki-laki saya Dimas, yang doyan makanan pedas, paling suka Randang Padang Restu Mande yang Spicy (Hot) Taste.  Nah adiknya ini Drea, kurang suka pedas. Tapi kalau pedas dikit sih engga apa-apa.  Dia ngiler melihat kakaknya begitu menikmati rendang. Nah untuk dia saya sediakan Randang Padang Restu Mande rasa Original, Tidak terlalu pedas. Randang Padang Restu Mande ini juga selain daging sapi menyediakan juga daging ayam. Anak saya yang kadang kurang suka mengunyah daging sapi karena dianggapnya lebih keras dari daging ayam, bisa menikmati juga Randang Padang Restu Mande daging ayam dengan rasa Original. Kalau saya dan suami sih suka yang Spicy (Hot) Taste, pedas itu merangsang soalnya, seru!. Nah asiknya lagi Randang Padang Restu Mande ini kalau buat kami sekeluarga, di kemasannya diberi bumbu yang banyak! Ini penting sekali, soalnya kami semua senang sekali dengan bumbu kering itu. Bahkan sering dijadikan bahan rebutan saat makan bersama.

Sekilas tentang rendang itu sendiri, rendang sebagai makanan tradisional khas Minang yang menjadi makanan khas Indonesia, di tahun 2011 telah dinobatkan menjadi salah satu di World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) yang digelar oleh CNN International. Keren banget kan? Sebagai pecinta rendang, dan sebagai bangsa Indonesia, tentu saja kita semua bangga, iya tidak?.

Adapun mengenai rendang itu sendiri ternyata mengandung falsafah yang mendalam.  Daging sapi atau Dagiang melambangkan Niniak Mamak, atau para pemuka adat.  Kelapa atau Karambia melambangkan kaum Cadiak Pandai atau kaum cendekia/intelektual.  Cabe atau Lado, yang rasanya pedas dan tegas melambangkan kaum Alim Ulama. Terakhir, bumbu-bumbu atau Pemasak, melambangkan masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Tak heran ya, kalau rendang ini di dalam perayaan keagamaan, acara penting atau kenduri, selalu disajikan sebagai makanan kehormatan.

Rendang padang itu sendiri ada yang yang basah ada yang kering. Yang kering ini santannya sudah meresap dan mengering bersama bumbu, dagingnya mengeras dan rasanya luar biasa enak.  Ini yang biasa dijadikan hidangan istimewa dan disebut sebagai rendang sejati. Warnanya agak coklat kehitaman, awet disimpan lama.  Rendang jenis ini yang dikemas oleh Randang Padang Restu Mande.  Lezat tiada dua. Otentik dan tidak mengandung pengawet juga MSG.

Restu Mande Go International

Falsafah Randang Padang Restu Mande adalah “through the world” mengantarnya menjadi makanan tradisional milik bangsa Indonesia yang go international. Untuk itu selain bisa menjadi santapan sehari-hari, Randang Padang Restu Mande bisa menjadi bekal perjalanan untuk bepergian jauh (bahkan untuk keliling dunia kalau mau), buah tangan, juga menjadi kebanggaan warga negara Indonesia yang ingin memperkenalkan makanan tradisional Indonesia ke mata dunia, misalnya tetangga-tetangga sekitarnya di luar negeri.

Penasaran? Bila ingin tahu lebih jauh atau memesan rendang Padang makanan tradisional dalam kemasan yang sudah go internasional ini bisa klik http://www.restumande.com  Saya tidak akan heran bila nanti Randang Padang Restu Mande ini jadi makanan favorit keluarga Anda. Seperti keluarga saya 🙂

Bila ingin makan langsung on the spot, bisa datang ke alama berikut ini:

RM. Restu Mande
Jl. Brigjen Katamso No. 64, Bandung Indonesia
Tel : +62 22 723 7360, +62 22 722 84079
Fax : 022 723 7360

Read Full Post »

Sebagaimana postingan saya terdahulu mengenai cara membuat Kimchi dan Kimchi Jjigae  sekarang saya ingin memposting beberapa makanan Korea yang suka saya buat kalo lagi iseng. Untuk bumbu makanan Korea sekarang banyak bisa dibeli di Supermarket. Untuk di Bandung, saya biasa membeli di Yogya Supermarket Jl Riau, tapi kemarin saya kesal sewaktu kesana, mangkuk batu (dolsot) yang dulu saya incar, sudah tidak ada. Dan ajaibnya pegawai disana bahkan tidak tahu yang saya maksud,  jelas-jelas minggu kemarin masih ada. Lain kali saya akan menjadi impulse buyer, begitu ingin langsung beli, daripada banyak mikir tahu-tahu sudah raib. Dan juga disana tidak ada Gochujang, saus Korea. Yang lebih komplit memang di Toko Setiabudi Jl Setiabudi Bandung. Disana saya bisa membeli cabe bubuk Korea (Gochugaru) kiloan. Bahagia banget rasanya pas nemu disana. Gochujang untuk saus Korea, adalah tak tergantikan untuk keseharian masakan Korea bareng dua teman saus yang lain doenjang dan ganjang

Bumbu lain yang saya pakai adalah cuka beras, minyak dari biji anggur untuk menumis, dan bubuk kaldu dari anchovy (ikan teri).  Tidak terlalu ribet sebenarnya dibanding bikin Kari India. Makanan yang biasa saya buat, misalnya Pajeon. Pancake sayuran dan seafood. Bikinnya gampang, ada tepung Ottogi siap pakai untuk membuat Pajeon yang hangat dan nikmat. Lalu Bibimpap, tidak pake dolsot juga pakai mangkuk tanah liat Jepang juga jadi deh. Dan lain-lain masakan yang mudah-mudah saja. Kalau punya persediaan kimchi, iseng-iseng masak makanan Korea jadi mudah. Kadang pajeon juga bisa menggunakan kimchi untuk fillingnya.

Ini foto-fotonya ya, rada burem soalnya motretnya malam-malam tanpa blitz.

yang kanan bawah bukan bikinan saya

Ottogi, Gochugaru, Rice Vinegar

Read Full Post »

Touch Korea Tour Bagian Pertama – Buzz Korea
Tiga makanan Korea yang ingin dicoba setengah mati. Di Korea.

Korea Selatan adalah tempat wisata tujuan utama yang ingin saya kunjungi saat ini. Mengapa? Karena Korea terkenal dengan keindahannya, seni dan budaya juga makanannya. Adapun saya menyertakan tulisan ini sebagai keikutsertaan saya dalam mengikuti program Touch Korea Tour yang diselenggarakan oleh Korea Tourism Organization (Indonesia). Siapa tahu saya bisa menikmati makanan Korea di Negara asalnya, dan bertemu Kim Hyung Joo.  Maraknya budaya pop Korea atau tersebarnya gelombang budaya Pop Korea di segala penjuru dunia disebut dengan istilah Hallyu, atau Korean Wave – Gelombang Korea. Perlu diakui Hallyu atau Gelombang Korea khususnya di Indonesia ini banyak mempengaruhi kita melalui film drama Korea yang sangat digemari publik Indonesia.  Selain Hallyu yang datang melalui musik, drama, dan fashion, dan memicu banyak orang untuk mempelajari budaya dan bahasa Korea,  untuk saya sendiri secara pribadi saya merasa memiliki kedekatan tertentu secara kekeluargaan dengan Korea. Karena selagi saya kecil dulu tetangga sebelah rumah saya adalah orang Korea, seorang ayah, ibu dan dua orang anaknya. Sang Ayah adalah ahli peneliti tentang padi berkebangsaan Korea, yang memiliki kontrak kerja beberapa tahun di Indonesia. Melalui tetangga saya yang baik hati tersebut saya mengenal beberapa makanan Korea, bahasanya, dan keramahtamahannya. Sehingga membaca tentang Korea, sekaligus juga mengingatkan saya akan masa kecil saya dan kenangan indah didalamnya.

Makanan Korea yang Cantik

Bila saya berwisata ke Korea Selatan, ada tiga makanan Korea yang ingin saya coba setengah mati. Semoga saya bisa mencicipinya di negara asalnya ini. Kenapa? Makan disana pasti lebih menyenangkan.  Soalnya tentu saja cita rasa makanan di negaranya sendiri akan lebih otentik ditambah dengan suasana Korea. Sebetulnya beberapa makanan Korea yang saya sebutkan mungkin bisa ditemukan di restoran-restoran Korea di Indonesia. Tapiiiiiiii….tetap saja mencoba makanan khas di negara asalnya adalah sesuatu yang tak tertandingi. Lalu apakah tiga makanan Korea yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini? Yuk mari yuk  kita bahas satu persatu.

Bulgogi. Dibaca Bul-go-gi. Dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Grilled Marinated Beef. Tulisan dalam bahasa Korea adalah  불고기.  Lalu siapakah yang belum pernah mendengar makanan Korea yang satu ini? Makanan ini sangat terkenal!. Saya sih engga tega kalau bilang yang engga pernah mendengar Bulgogi itu ketinggalan jaman, tapi ya gimana yah… Soalnya saking terkenalnya makanan ini sampai-sampai umumnya food stall di acara nikahan juga seringkali menyajikan Bulgogi ini sebagai salah satu hidangannya. Yang artinya makanan ini asli enak! Dan sudah umum dikenal di Indonesia. Bulgogi, dalam bahasa Korea artinya ‘Fire Meat’ karena secara tradisional Bulgogi ini dipanggang di bara api, namun terkadang juga dimasak di panggangan besi. Istimewa dari Bulgogi adalah  bumbu-bumbu yang disertakan dengan daging saat dipanggang, lalu daging yang digunakan adalah irisan daging empuk sirloin atau irisan daging istimewa lainnya dari bagian daging sapi. Sebelum dipanggang, Bulgogi direndam dulu untuk memperkuat rasa dan aromanya juga menambah keempukan daging. Bayangkan saja, Bulgogi diberi bumbu perendam soy sauce, gula, minyak wijen, bawang putih, merica, juga bawang daun, bawang merah, juga jamur! Menuliskan Bulgogi dan bumbu-bumbunya saja saya sudah lapar. Sungguh penuh penderitaan menuliskan artikel tentang Bulgogi di blog ini, rasanya bahkan saya bisa mencium keharuman aroma Bulgogi di atas panggangan saat menulis ini.  Kata orang kalau ke Korea tidak mencicipi Bulgogi disana sama saja bohong, alias berkunjung ke Korea belum dinyatakan sah. Saya tidak mau dikatakan berkunjung ke Korea secara illegal, sehingga saya sudah bertekad apabila saya bisa berkunjung ke Korea, makan Bulgogi ini adalah WAJIB hukumnya.

Kimchi. 김치.  Ada yang membacanya dengan Kim Chee, atau Gimchi atau Kimchee. Tapi apapun penyebutan dan pengejaaannya, jangan bimbang dan khawatir dan percayalah, rasanya tetap enak. Dan bila Anda penggemar film Korea seperti saya, tentunya Anda akan melihat bahwa menonton film Korea berarti juga menahan lapar tiada tara. Bagaimana tidak, banyak adegan makan yang mengundang selera di filmya. Anak saya saja yang penggemar film Korea, selalu merengek ingin diajak makan di restoran Korea, karena jadi korban saking ngilernya melihat adegan makan-makan nonton film Korea. Di beberapa film Korea yang saya tonton, rupanya membuat Kimchi sudah merupakan tradisi dan budaya bagi warga Korea.  Kimchi sendiri terdiri banyak sekali jenis, makanan ini bisa dibedakan berdasarkan region, atau daerah yang membuatnya, sehingga menjadi ciri khas daerah tertentu, atau dibedakan berdasarkan musim; musim semi, musim panas, musim, musim dingin, cita rasanya dicocokkan dengan kondisi musim tertentu. Whoaa keren. Tapi  berbagai jenis kimchi terbanyak dipersiapkan sebagai musim dingin. Orang Korea biasanya punya refrigrator khusus untuk menyimpan Kimchi ini.  Kimchi adalah side dish, atau makanan pendamping dari makanan utama. Nilai gizinya tinggi dan merupakan makanan sehat yang direkomendasikan berbagai sumber karena bersifat anti oksidan yang dapat mencegah kanker dan penyakit yang diakibatkan virus. Saya sendiri adalah penggemar kimchi, saya sering membuatnya sendiri di rumah berdasarkan resep-resep yang saya cari di internet dan warisan resep dari tetangga masa kecil saya yang merupakan orang Korea asli. Namun tetap saja, makan Kimchi di negara asalnya adalah sesuatu yang tak ternilai, merupakan eksplorasi dan penghargaan atas tradisi dan nilai sejarah berusia ribuan tahun, karena kimchi sudah tertuliskan dalam puisi klasik Cina yang berusia 2600 sampai dengan 3000 tahun yang lalu. Makan kimchi di Korea buat saya adalah suatu nilai filosofi yang mendalam atas pemahaman sejarah awal peradaban manusia. Mendalam sekali ya pemikiran saya?.

Ddukbokkie – Rice Cake Street Food – 떡볶이 Menurut referensi, makanan yang harum ini adalah wangi  yang tercium enak sekali di udara Korea pada  malam hari. Di kota besar seperti Seoul, banyak pedagang yang menjualnya sehingga merupakan jajanan pinggir jalan yang sangat terkenal. Terus terang saya tidak tahu cara membaca Ddukbokkie ini. Tak apalah, bila saya ke Korea akan saya pelajari cara pengucapan yang benar untuk kata ini.  Saus untuk makanan ini luar biasa lezat, manis namun penuh dengan aroma dan rasa yang khas, rasa bumbu ini melengkapi rasa dari rice cake yang dimasak dengan rasa yang kenyal dan lembut. Terkadang untuk Ddukbokkie ini ditambahkan ikan dan telur. Konon banyak orang mengantri untuk mencicipi Ddukbokkie yang lezat, juga hot and spicy ini.
Kalau saya menemukan lampu tua berisi jin berkuncir berwarna biru seperti di cerita Aladdin dan Lampu Ajaib, yang berbaik hati menanyakan tiga permintaan saya saat ini, tanpa basa basi saya akan meminta  3 makanan Korea di atas dibanding hal lainnya. Menuliskan tentang makanan Korea yang unik dan penuh cita rasa, telah membuat saya benar-benar lapar saat ini.
Sumber gambar: yang jelek itu koleksi pribadi
yang bagus bertajuk makanan Korea yang cantik dari website resmi Visit Korea

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: