Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Current Affairs’ Category

Tentang Anthurium

Gegap gempita atau katakanlah hingar bingar soal Anthurium sudah lama berselang. Saya juga bukan mau bahas soal tanaman berdaun hijau yang katanya bertulang indah ini. Saya kan bukan pakar tanaman, tukang makan lalapan sih iya. Keinginan urun pendapat soal Anthurium tanaman pembawa stress dan meningkatkan aksi pencuri tanaman ini berasal dari tetangga orang tua saya yang kemarin kecurian Anthurium sekitar 10 atau 15 pot yang berharga minimal Rp 500 ribuan per tanaman. Sekarang tetangga saya yang sudah lanjut usia itu gara-gara kejadian tersebut jadi terbengong-bengong dan melamun sedih.

Nah kan kalau sudah begini apa bagusnya Anthurium? Ada cerita orang yang katanya karena tanaman yang dimilikinya tersebut sudah berharga puluhan juta rupiah, dibuatlah kerangkeng dan dikunci gembok segala. Halah, geuning alahbatan miara sato wae nya.. kalau beruang mah nah baru pantas kalau dikerangkeng. Sebenarnya yang bikin gosip tanaman ini berharga, cantik molek, anggun, keren siapa sih? Hayo ngaku!. Kasihan tuh orang-orang bukannya senang dan bahagia miara Anthurium, yang ada malah pada stress, tiap hari mesti jemur dan malam hari kudu dimasukan lagi ke rumah, persis layaknya miara burung Perkutut. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Air Tanah di Bandung

Memprihatinkan. Memang benar. Sudah dua minggu ini saya mengalami krisis mandi. Di kompleks perumahan saya, jumlah rumahnya cuma dua puluh saja. Memiliki sumur bor yang dipakai beramai-ramai. Berhubung komplek sebelah mengeluh karena adanya komplek baru – yaitu komplek rumah yang saya tempati,  katanya mengakibatkan debit air di sumur mereka menjadi berkurang, maka ada kesepakatan tidak tertulis untuk mengambil jatah air dari sumur bor di perumahan saya. Yang dua minggu lalu rupanya pengambilan air oleh mereka makin merajalela.  Berhubung di rumah saya tidak memasang pompa penyedot atau apalah, toren rumah saya kebagian air hanya kalau toren pusat penuh terisi. Karena sekarang tidak pernah terisi penuh lagi, ya otomatis saya tidak kebagian air.

Seperti halnya berita-berita di koran tahun 2006 yang mengatakan bahwa pada tahun 2007 Bandung akan mengalami krisis air, ya memang demikianlah adanya. Terbukti. Bahwa air tanah dari sumur dalam sekarang hanya dapat diperoleh dari kedalaman lebih 100 meter.  Sementara air permukaan kualitasnya tidak begitu baik.   Heuheu, padahal butuh waktu 500 sampai dengan 600 tahun untuk mengisi kembali air tanah tersebut dari resapan ke tempat yang lebih dalam secara alami. Yah 500 tahun lagi mah saya juga udah keburu mati.  Dan sebelum mati saya akan mengalami krisis air dan krisis mandi seperti ini seumur hidup.

(more…)

Read Full Post »

Narsis di Rase 102.3 FM

Suatu sore sehabis hujan di hari Minggu saya mendapat kehormatan diundang oleh Ceu Tarlen  dari Common Room untuk bincang-bincang tentang Blog di mobil van Rase depan Bandung Indah Plaza.  Acara tersebut ditayangkan di Rase FM kemarin, berlangsung selama sekitar satu jam dari jam 5 sore sampai dengan jam 6. Dipandu oleh penyiar radio Rase nu kasep, suaranya merdu, keren, sayang saya kok lupa namanya sekarang **getok kepala**.

Asik juga ngobrol santai seperti ini. Yang kita bicarakan yaitu soal ngeblog,bagaimana dan apa yang dapat kita tulis di sebuah blog. Saya sendiri sebetulnya tergolong manusia telat  bikin tulisan di blog. Berkat dorongan hati dan semangat narsislah sebetulnya akhirnya saya jadi nyaris rutin menulis. Nulis apa aja yang menarik buat diri kita dulu minimal. Masalah nanti blognya jablai atau tidak, yah kumaha engke bae. Abis kalo kita engga ambil langkah pertama untuk memulai – apapun itu engga cuma nulis aja – sampai kapanpun kan engga bakal ada kemajuan, engga mungkin ada jin yang tiba-tiba bikinin blog buat kita kan.

Buat saya ini pengalaman pertama untuk narsis di radio.   Heuheu. Makasih buat Ceu Tarlen dan Mas satunya yang saya lupa namanya. Juga makasih buat Deden dan Jay yang sempat-sempatnya motoin saya yang lagi nervous.

Read Full Post »

“Masa bodo. Bukan urusan gue” – dengan nada judes (Nur, 33 th, karyawati sibuk dengan akunting dan makan kurupuk bondon)

“Setuju”…(hehehe..cengar-cengir)..”selama ini Aa adalah panutan saya, terima kasih Aa telah memberikan contoh buat saya”  (Wawa, 37 th,  pegawai swasta, cunihin, merasa playboy padahal tidak laku).

“Whatever..kumaha Aa wae…….” (Nuning, 33 th, mapan, cantik, jomblo).

“Nggg…..” -Senyum-senyum (Indah, 22 th, pegawai magang, dicurigai dalam hati dia berharap menjadi istri ketiga).

(more…)

Read Full Post »

Bandung kering dan garing. Bukan cerita baru. Bukan hal yang mengagetkan buat sebagian besar orang . Mungkin bahkan sedikit yang peduli. Saya pun mungkin masuk ke golongan yang tidak peduli. Karena sampai saat ini saya belum pernah menggedor rumah pak Walikota atau Gubernur Jawa Barat misalnya, untuk protes kenapa Bandung Utara terus-terusan digunduli.

Pagi tadi saya melirik surat kabar, yang jarang sekali saya baca, akibat selalu merasakan rasa mentega tengik di mulut setiap kali membaca berita-berita tragis yang menyedihkan yang seringkali menjadi hiasan di halaman muka. Malah akhir-akhir ini saya malah mencari koran lampu merah – yang walaupun isi dan bahasanya noraknya minta ampun – paling tidak bisa membuat saya tertawa.

(more…)

Read Full Post »

Merindukan Buah Lokal

Bunga kesemek yang cantikKemarin saya jalan-jalan di seputaran Jl. Kepatihan sewaktu jam isitirahat. Senang banget menemukan tukang buah pinggir jalan yang menjual buah Kesemek. Seperti biasa buah centil berwarna oranye merah ini berbedak putih seperti perawan menor. Langsung deh saya ngeborong 2 Kg. Buah Kesemek atau Persimmon ini sekarang jarang ditemukan di pasar becek sekalipun. Malahan beberapa waktu lalu saya menemukan di toko buah mahal di daerah Dago, dan harga satu butirnya sama dengan harga 2 kg apabila beli di tukang buah pinggir jalan ini. Ternyata buah kesemek yang di toko itu mengimpor dari Thailand. Ya ampun, kesemek kesemek wae kudu ngimpor! Nurustunjung. O ya Saya mah disini engga akan bahas kandungan vitamin dan sebagainya soal kesemek ini, soalnya bisa dibaca di Wiki, hehehe.
Buah kesemek tanpa bedakSekarang buah lokal dan atau buah hutan rupanya makin menuju ke arah binasa. Tak ada lagi yang namanya lobi-lobi, pulasan, pukih, rukam, apalagi ya? Buah honje.. eh buah honje enak lho buat ngerujak, buah pisitan, kupa, bencoy…jamblang, ah pada menghilang kemana ya buah-buahan ini. Sudah kalah pamor rupanya dengan anggur Red Globe dan jeruk Valencia.

Lucunya kalaupun ada, harganya jadi selangit seperti kasus kesemek tadi. Karena malah didapat dari mengimpor. Kalau engga ngimpor mungkin engga keren. Entahlah. Yang jelas, mau menanam sendiri juga kumaha, punya halaman juga cuma muat ditanami pohon jeruk purut doang, itupun tiap hari daunnya makin gundul karena sering dipakai untuk bumbu masakan.

Read Full Post »

Sebel sama sampah di Bandung? Sama. Apalagi baunya. Juga tumpukannya yang segede gunung. Belum lagi saripati air sampah yang nempel ke ban mobil, yang sampai kemanapun belum ilang baunya kecuali setelah diguyuri air, disabuni, dan dimandian air kembang tujuh rupa. Geuleuh pisan sama yang namanya sampah plastik. Let's say NO to PLASTIK! Ok? Peace, Man.

Meneruskan posting saya sebelumnya tentang sampah, jadi daripada pusing nunggu tindakan pemerintah kota yang (mungkin) lamban, mendingan kita mulai sendiri bertindak mengendalikan sampah-sampah liar, misalnya diantaranya dengan hal-hal sebagai berikut:

Ngamodal atuh. Buat tempat sampah dengan tiga kategori pembuangan: organik, plastik, dan kaleng/kaca. Cobalah giatkan kembali prakarya dan hasta karya. Jadi bahan-bahan dari kayu dan besi/kaleng bisa dibuat karya seni atau peralatan lain yang berguna (teorinya sih begitu).

Gali logak, eh gali lubang tutup lubang. Sampah organik kubur saja jadikan saja kompos. kalau tidak punya halaman, cobalah pendekatan sama tetangga yang punya halaman gede. Minta nebeng bikin lubang dan ikutan mengubur sampah disana. Atau tanya kelurahan setempat dimana bisa bikin lubang kolektif, siapa tahu punya lahan milik desa yang bisa digunakan. Lumayan bisa salome buat ngubur sampah organik.

Hindarkan pemakaian PLASTIK. Kalau pergi ke pasar becek, supermarket, hipermart, atau apalah, pakailah tas sendiri yang dibawa dari rumah. Pakailah wadah dari bahan ramah lingkungan, misalnya dari bambu atau mendong. Jangan gengsi ke pasar menggendong bakul, atau boboko. Kalau kurang gede pakai saja tolombong. Biar nyetel, jangan lupa pakai kain samping untuk mengikat boboko tersebut ke pundak, seperti ibu-ibu jaman dulu kalau pergi ke pasar. Kalau masih kurang pede, pesan saja model ransel dari bahan mendong, yang nama latinnya Elaeoucorpus spp

Bicara soal mendong, kok susah ya nyari tikar dari bahan mendong di Bandung, kebanyakan tikar ya dari plastik. Harus beli di Ciamis atau Tasik mungkin. Padahal katanya barang kerajinan dari mendong sudah banyak diekspor, misalnya topi, tas, tikar dan boks. Tapi tetap saja rada susah nyari di pasaran. Pusat kerajinannya sih di negaranya Nugi, tepatnya di The King of Move.

Tanamlah pohon pisang. Buatlah lontong untuk bekal ke kantor. Bungkuslah makanan-makanan pula lainnya dengan daun pisang. Atau kalau ke pasar beli daging mintalah dibungkus dengan daun jati. Daun jati itu harum lho. Coba saja nasi yang dibungkus daun jati itu di Cirebon, apa sih namanya? Nasi Jamblang ya? Enak kan?.

O ya untuk orang yang buang sampah sembarangan atau lempar-lempar sampah ke jalan raya dari mobil, harap ditembak, tanpa diadili, dan tanpa kemungkinan banding.

Read Full Post »

Gempa yang terjadi engga terlalu terasa bikin pusing atau mual. Cukup bergoyang-goyang saja di kursi yang saya duduki sewaktu arisan di ruang tunggu arisan.

endhoot endhoot (16/03/2006 12:42:14): den, hadiah dari aku… apa ya…. cium aja yah?
kompiebutut (16/03/2006 12:42:14): *makan cake coklat*
endhoot endhoot (16/03/2006 12:42:14): hadiah buat nugi apa ya….. cium juga aja yah???
kompiebutut (16/03/2006 12:42:14): cium?
sirtub (16/03/2006 12:42:14): eh mao donk kaos telkomsel
si_abi (16/03/2006 12:42:14): wah ada deden
Mira (16/03/2006 12:42:33): GEMPAAAA
sirtub (16/03/2006 12:42:34): dulu gue dapet kaos telkomsel dikasih tika panggabean
si_abi (16/03/2006 12:42:34): MAKAN MAKAAAANNN!!
endhoot endhoot (16/03/2006 12:42:34): nah skrg deden ama nugi ciuman!
jayanef (16/03/2006 12:42:34): 3h, d3d3n, h34vy b1rd d4y!
kompiebutut (16/03/2006 12:42:34): eh ada abi…
Mira (16/03/2006 12:42:36): mau lari turun
sirtub (16/03/2006 12:42:58): hadiah karena bisa nebak kuis
kompiebutut (16/03/2006 12:42:58): m4k451H….
langitmalam_ini (16/03/2006 12:42:58):
sirtub (16/03/2006 12:42:58): sekarang tuh kaos udah sempit
henny.rolan (16/03/2006 12:42:58): gempa?
henny.rolan (16/03/2006 12:42:58): di ?
endhoot endhoot (16/03/2006 12:42:58): iya katanya ada gempaaaaaaaaaa… kok aku ga kerasa ya??? ajeb2 mulu sih
jayanef (16/03/2006 12:42:58): gak kerasa di sini
kompiebutut (16/03/2006 12:43:06): sama
Mira (16/03/2006 12:43:06): gag jadi udah berenti
henny.rolan (16/03/2006 12:43:18): gensetnya kali
langitmalam_ini (16/03/2006 12:43:18): >
sirtub (16/03/2006 12:43:46): gempanya ga di brodkes
sirtub (16/03/2006 12:43:46): pasti pir tu pir

Read Full Post »

Apa hubungannya? hihihi..tidak ada. Saya hanya menemukan bahwa tempat tidur saya setelah tempat tidur di rumah (jelas), kolong meja kerja di kantor, dan gudang Network Operation yang saya sulap jadi tempat tidur UGD dengan kasur lipat rahasia (maksudnya untuk yang ngantuk gawat darurat di kantor), adalah angkot dan kendaraan umum lainnya yang memungkinkan.

Ngantuk di angkot entah kenapa rasanya beda. Rasanya lebih dahsyat. Soalnya bingung nyimpen kepala dimana. Waktu jaman kuliah dulu rumah saya jauh dari kampus, saya ingat mengantuk akan mulai terasa pas saya melewati jalan Pajajaran (kenapa selalu di Jl Pajajaran saya engga ngerti). Selalu dan selalu, karena saya ketiduran, saya akan kebablasan terbawa sampai terminal di pasar Cijerah, yang berarti saya harus jalan kaki cukup jauh ke rumah, di siang hari panas terik pula.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: