Feeds:
Posts
Comments

Kebiasaan Dinda

Anak perempuan saya Dinda punya kebiasaan unik sejak lahir. Dari bayi sambil menyusu dia senang memegang bibir saya. Kadang disentuh-sentuh dengan ujung jari. Kadang dipegang semua dengan jemarinya yang kecil sekali dan halus.

Dengan mata bayinya sambil menyusu mungkin dia berpikir, “oh ini dia ibu saya, cantik sekali ya…” *geer*.  Saya sih suka dengan kebiasaan itu walaupun terbawa sampai balita. Kalau tidur baik menyusu atau tidak, tangannya pasti mencari-cari bibir saya.

Sekarang Dinda sudah besar. Sudah duduk di bangku smp. Kebiasaan memegang bibir saya sudah hilang. Mungkin karena sudah jarang tidur dengan saya lagi.

Tapi saya kadang kangen dengan masa-masa Dinda bayi dan suka memegang bibir saya. Jari-jari bayi itu harum sekali. Mungkin seperti itu wangi surga ya?.

Alarm

imagesSaya tidak suka bangun pagi. Sejak kapan ya? Sejak saya bisa mengingat.
Tapi sepertinya perlu dikoreksi sedikit. Saya tidak suka bangun pagi dengan TERPAKSA.

Saya perlu bangun pagi dengan tenang. Dengan damai. Dengan keharuman kopi yang baru diseduh dan wangi pancake yang nikmat. Hmmmm.

Atau dengan kicauan burung merdu dan sentuhan  lembut dan kecupan hangat di kening…*ngayal.

Nah itulah sebabnya saya tidak suka bunyi alarm. Tidak suka mungkin masih terlalu lembut. Saya benci alarm lebih tepat.

Bunyi alarm itu menyakitkan. Mengganggu. Dan mengubah mimpi yang tenang dan damai menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Alarm is evil device. Dia diciptakan untuk menyiksa telinga.

Saya tidak mengerti kenapa anak saya suka bangun dengan alarm. Bunyinya macam-macam. Ada yg sangat mengganggu seperti alarm kebakaran. Ada yang berulang-ulang dengan bunyi dentang yang seperti datang dari jauh…kemudian semakin mendekat…mendekat…dan memaksa.

Yang lebih menyakitkan, dua anak saya sendiri tidak pernah bangun dengan alarm yang mereka setel. SAYA yang selalu bangun karenanya. Dan karena mereka sering tidur di kamar saya dibanding di kamar mereka sendiri. Maka hampir setengah hari-hari dalam seminggu saya akan dibangunkan dengan paksa. Dengan siksaan. Dengan alarm yang berbunyi menyakitkan.

Suatu malam saya bilang kalau saya ini, ibu yang mengandung dan melahirkan mereka, bisa bangun tanpa alarm. Saya terangkan alasan macam-macam bahwa bangun dengan cara mengagetkan itu tidak baik bagi kesehatan. Kesehatan jiwa terutama. Dan fungsi snooze adalah alat penyiksa yang diciptakan Nazi untuk teror.

Saya ajarkan untuk menyetel otak agar membangunkan kita di jam yang kita inginkan adalah..menjitak kepala sendiri sebelum tidur dengan jumlah jitakan adalah jam berapa yang kita inginkan untuk bangun.

Coba saja.

It works.

For me at least

Hari-hari menjelang ulang tahunnya perusahaan tempat saya bekerja membuat saya menjadi agak melankolis. Sedikit romantis. Dan ngarep hujan gerimis.

Saya jadi teringat saat-saat saya dulu saat setengah mati ingin pindah kerja dari perusahaan yang baru sepuluh bulan saya kerjai. Eh apa yah istilah yang tepat.

Bukan. Bukan karena bos saya kurang ganteng atau apalah. Apalagi disana ada pegawai bernama Erwin. Jangkung dan cakep. Kayak Chow Yun Fat. Beneran deh ga boong. Saya suka ngintipin dia diam-diam dari balik laci-laci file.

Oh ya itu tadi. Bos saya galak banget. Namun segalak-galaknya dia lebih galak istrinya. Seorang manager keuangan di lembaga riset negeri. Konon bos saya pernah diuber istrinya dan akan digebuk dengan gagang sapu. Serem.

Nah kembali ke cerita awal. Kegalakan bos saya bikin saya pengen pindah. Segera. Pada kesempatan pertama. Erwin ataupun Chow Yun Fat beneran tidak akan bisa menghalangi saya. Tekad saya sudah bulat. Sebulat donat.

Akhirnya saya mengirim lamaran dari iklan sebuuh koran lokal. Saya ga ada ide perusahaan apa itu. Cuma menyebutkan srbuah perusahaan telekomunikasi. Okay whatever. Just take me out from here, Johnny!. Wait. Johnny ini siapa?.

Ternyata saya terpanggil untuk psikotest. Tempatnya di hotel Santika Bandung. Saya pakai baju merah atas bawah. Entah kenapa warna merah selalu bikin saya pede. Berani. Bersemangat. Dan merasa pintar. Walau

cuaca hujan dan jalanan becek sekalipun. Merah selalu bikin hari saya cerah.

Psikotest berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lama amat ya. Untuk dikasih makan. Sekotak KFC. Saya yang naif ini merasa terharu. Baru kali itu selama saya melamar pekerjaan saya diberi KFC. Nasi dan ayam! Bayangkan. Plus segelas Coke.

Sepatu Boot

Saya selalu suka sepatu boot. Walaupun agak canggung memakainya disini. Eh di kantor maksudnya. Sepatu boot emang cocoknya buat jalan ngasruk-ngasruk di padang rumput berbatu atau alam liar lainnya. Sambil naik kuda. Bukan di kantor yang berkarpet tebal, suka kesandung-sandung soalnya. Lagian kebiasaan mengetik sambil melipak kaki di kursi dan nyeker kesana kemari dengan sandal sulam dari Padang saya ini membuat pemakaian sepatu boot ini menjadi tidak efektif. Sangat  tidak efektif.

Pertama kali saya pakai boot ke kantor saat saya hamil. Saya pakai boot dengan alasan ngidam. Memang asyiknya hamil itu bisa menjadi alasan kuat untuk beli barang yang biasanya ga biasa pakai menjadi bisa dipakai dengan cuek, pakai alasan paten takut bayi ngeces. Padahal apa juga hubungannya sama boot. Nah dulu sepatu boot yang saya pakai kira-kira model begini, tapi haknya wedges.

$(KGrHqVHJEwFFy,lgeEwBRf)FQZJ(g~~60_57

Sekarang saya lagi pengen beli sepatu boot lagi. Tapi model cowgirl. Halah. Cuma mehel euy. Dan ongkos kirimnya ke Indonesia ternyata menyamai setengah dari harga sepatunya. Belum ntar nyangkut pula di Bea Cukai, dan saya disetrap buat  ongkos pajaknya. Uh, muh…leaaaass.

Ini kira-kira model yang saya pengen:

$(KGrHqJHJCYE-9QjCbyjBPzjz-cmrQ~~60_57

Biar kata saya sudah nyaris bekerja 18 tahun di perusahaan telekomunikasi selular, ternyata ga bikin saya hapal berbagai jenis singkatan yang ada berseliweran di perusahaan saya.

Kalau ada penilaian untuk kinerja dan kemampuan dimana salah satu tesnya adalah hapalan singkatan saya pasti gagal di awal.  Miserably.

Terutama untuk singkatan dan istilah di Network.

Dalam suatu meeting yang membahas upgrade dan swap antenna

Sekian lama pembahasan membahas tentang MUX . Entah mahluk apa itu MUX. Semua orang berbicara tentang satuan bernama MUX.

Lalu saya tanya pada teman saya yang bernama Troy.

Saya selalu mengingat dia sebagai Helen of Troy. Walaupun dia lelaki. Dia mengingatkan saya pada epik sebuah perang yang melibatkan kuda kayu besar. Namun Troy tidak berasal dari Troya. Dia asli Yogya.

“Troy, MUX itu apa sih?”

Dia menjawab dengan cepat dan mantap.

“Itu, cangkir besar buat minum”.

See that? Ga ada orang yang pengen saya jadi pinter di perusahaan ini.

Suatu waktu juga di saat lain. Bukan meeting tapi. Saya melihat dengan bengong dan cantik berkas-berkas pengajuan pengadaan dan perbaikan site. Beberapa menyebutkan RAU dan CKD.

Saya lalu bertanya kepada teman saya, Wahyu.

“Mas, apa itu RAU?” tanya saya

Dia menjawab, “Radio AUtdoor”

“Oh okay, lalu kalau CKD itu apa?” lanjut saya.

“Cistem Knock Down” katanya lagi.

Tuh kan. Gimana saya mau pinter kalau orang-orang yang saya tanya jawab begitu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers

%d bloggers like this: