Feeds:
Posts
Comments

Kemarin beberapa hari lalu di tanggal 14 Maret 2015 saya menonton konser Raya Iwan Fals di NET. Walau telat hanya kebagian nonton beberapa lagu di lap terakhir, tak urung membuat kekaguman saya pada sosok Iwan Fals serasa bangkit lagi. Beberapa penyanyi papan atas turut bersama Iwan Fals berkolaborasi dalam tajuk acara berjudul Nyanyian Raya tersebut. Namun tetaplah, fokus utama adalah sang legenda itu sendiri. Semalaman saya jadi membaca-baca ulang tentang Iwan Fals dan mendengarkan lagu-lagu lama Iwan Fals yang saya sukai.

Ingatan saya kembali pada jaman tahun 80-an. Saat itu saya masih SD. Perkenalan saya dengan lagu Iwan Fals adalah di suatu hari saat saya yang masih duduk di kelas 4 SD mengacak-acak laci tempat kaset dan lemari berisi piringan hitam orang tua saya. Di antara lagu-lagu Elvis Presley, Jim Reeves, Nat King Cole, dan lagu-lagu klasik seperti gesekan biola Mozart dan Bach, saya menemukan sebuah kaset bersampul pria berambut keriting acak-acakan dan saat itu belum berkumis. Wajahnya biasa saja, namanya juga anak kelas 4 SD. Tertarik saya menyetelnya, bukan karena judul album Sarjana Muda, atau tatapan mata sendu di sampul itu. Tapi di antara kaset-kaset Barat dan lagu-lagu Indonesia seperti Bimbo kesukaan ibu saya, kok ada kaset yang nyeleneh begini. Pastinya punya bapak saya, yang kadang-kadang beli kaset lagu dangdut, kebalikan selera dari ibu saya yang doyan musik klasik.

Saya setel berulang-ulang dan segera saya menyukai lantunan lagu-lagu di kaset itu. Suara di kaset itu tidak fals seperti nama penyanyinya. Kadang ada sih lagu yang dinyanyikan cempreng namun riang seperti lagu Oemar Bakrie dan Ambulan Zig Zag. Lagu-lagu lainnya menyentuh hati. Saya tidak menyimak kalimat dalam syair lagunya, namanya juga anak SD, tapi saya sangat menyukai lagu Hatta dan Sarjana Muda, karena sangat sedih namun enak didengar. Lagu cinta lain seperti lagu Yang Terlupakan menjadi hapalan, segera saja kaset Iwan Fals tersebut saya putar berulang-ulang sampai belel dan kadang kusut pitanya dan harus diputar ulang dirapikan pakai pinsil. CUma orang jadul yang tahu teknik beginian lho.

Menginjak SMP, masih saja lagu Iwan Fals menemani. Inilah hebatnya Iwan Fals, ditengah maraknya gempuran lagu-lagu asing, Freddie Mercury sedang jaya-jayanya, ga tau lagu Radio GaGa dan I Was Born to Love you gak gaul deh pokoknya, Madonna lagi ngetop sengetop-ngetopnya, Cindy Lauper, Tiffany,Debbie Gibson itu lagu-lagu saya waktu di SD dan SMP. Belum lagi Beatles masih kerap dinyanyikan band-band lokal, Iron Maiden, Kiss Led Zeppelin, AHA dan The Police, posternya dimana-mana bahkan di pasar dan terminal juga dijual di daerah pantura tempat saya tinggal. Tapi tetap saja kalau kita nongkrong di kantin sekolah sambil nyolong gorengan (ngaku makan satu padahal lima), kami anak-anak SMP suka sekali menyenandungkan lagu Buku ini Aku Pinjam. Nyaris jadi lagu kebangsaan mengalahkan lagu-lagu wajib di hari Senin saat upacara.
biru
Saya ingat di saat uang jajan saya cuma Rp 5000,- sampai dengan Rp 10.000 saja, -limaribu atau sepuluh ribu itu sebulan ya bukan sehari, dan saya ingin sekali membeli kaset baru. Teman-teman saya lagi gemar membeli lagu-lagu festival seperti Harvey Malaiholo dan Bornok Hutauruk. Dengan uang jajan sebesar itu tentu saja saya harus nabung mengorbankan tidak beli bakso, minuman dingin sirop dengan perisa entah apa dan pastinya diberi pewarna tekstil diberi es yang dingin, atau harus jalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya di terik matahari pematang sawah pantai utara yang ganas sepulang sekolah demi menyisihkan uang jajan. Ga naik becak atau naik omprengan. Demi kaset saya rela.

Suatu hari setelah uang saya terkumpul untuk membeli kaset, saya pergi ke pasar desa di pantura tersebut. Pasar ini menyatu dengan terminal, bau amis ikan, lumpur yang bau dan banyak preman. Bahkan konon pelarian pembunuh dari Nusa Kambanngan dari kota kerap lari ke daerah ini. Konon loh ya, saya sendiri sih merasa aman tenteram tinggal disana. Kepala preman di pasar ini soalnya dulu adalah anak tetangga ibu saya di Bandung dan kerap berjualan lontong dan es lilin buatan ibu saya, yang kemudian lari ke pasar ini setelah menggetok temannya dengan botol minuman sampai ..entahlah nasibnya bagaimana.

Toko kaset satu-satunya itu kecil saja dan kurang layak disebut toko karena berupa lapak, berada di bagian kanan belakang pasar, dekat dengan tukang kain dan peralatan kelontong. Kasetnya tidak banyak tentu saja, dan kaset-kaset tersebut dijejerkan bersama jualan lainnya, seperti koin kuno tembaga jaman Hindia Belanda, pisau lipat, kalung-kalung metal dan emblem pramuka. Saat saya akan membeli kaset Festival yang saya incar, saya melihat kaset berwarna biru telor asin, dengan sampul wajah pria berkumis dan berambut keriting dengan judul album Aku Sayang Kamu. Seketika saya goyah, antara kaset Iwan Fals atau lagu-lagu festival. Sebenarnya kalau dulu cewek suka lagu-lagu Iwan Fals agak anti mainstream, yang lain demennya Trio Libels dan Chrisye. Yang suka Iwan Fals adalah cowok-cowok bengal doyan bolos yang suka main gitar di sekolah sambil ganggu cewek lewat. Setelah menimbang, memikirkan, dan ngitung duit recehan yang saya punya yang dibungkus sapu tangan, akhirnya karena cuma cukup beli satu kaset saja, saya beli kaset Iwan Fals. Lagu-lagu cinta Iwan memang tidak biasa, liriknya nakal, blak-blakan dan cuek. Kita bisa menemukan kalimat tidak biasa untuk menunjukkan rasa suka dan pemujaannya. Seperti kata “betina”, “wajah lumayan dapat poin enam”, -ini suka tapi kok ngeledek ya? Belum lagi kata-kata “Sampai mampus aku rindu”. Tidak umum kan?

Kelas tiga SMP, Iwan Fals tambah bergaung namanya di semua kalangan rupanya. Bayangkan saya ini tinggal di desa terpencil. Siapa yang tak tahu Iwan Fals di sekolah saya? Juga protes-protes sosialnya semakin garang terdengar, jaman itu yang berani menentang Orde Baru ya sama saja siap dihilangkan, baik secara baik-baik atau misterius. Suara Iwan Fals adalah suara rakyat, sengaja tidak sengaja terwakili lewat lagu-lagunya. Peristiwa yang terjadi dalam keseharian, dari kenaikan bensin, sampai penggusuran, cerita pelacur, dan gali, anak penjual koran, dan wakil rakyat yang tukang tidur saat sidang, kelaparan Ethipia, bencana kapal tenggelam, tabrakan kereta, tak luput dipotret oleh Iwan Fals dan disenandungkan dengan lagu-lagu yang bertema balada, kadang ngerock and roll, kadang lembut mendayu. Banyak lah. Selera macam-macam orang pun terwakili di sana. Kita bisa mengingat peristiwa dalam 40 tahun ini melalui lagu-lagu Iwan Fals. Juga saat kita jatuh cinta, saat patah hati, saat rindu ibu, rindu pemimpin, seolah-olah lagu Iwan Fals adalah sound track bagi hidup saya dan mungkin juga yang lainnya dalam masa dari akhir tahun 70-an sampai dengan sekarang.

Saya ingat sekali teman pria saya di kelas tiga SMP, sempat datang di suatu sore naik sepeda ke rumah saya. Di bawah pohon kersen, kami duduk-duduk sambil waspada, takut bapak saya nongol. Soalnya bapak galak banget dan tidak suka kalau ada anak cowok datang ke rumah dengan alasan apapun. Kecengan saya ini cakep sekali, mirip Galang Rambu Anarki anaknya Iwan Fals almarhum. Tapi cakepan Galang sih. Dia membawa kaset dengan lagu Bento. Berapi-api dia bercerita lagu yang kontroversial tersebut, dan menyetelnya di walkman kecil yang dibawanya. Saya jadi suka. Eh gak jelas nih, suka lagu Bento atau sama cowok teman saya itu ya?.

Sampai saat SMA di Bandung, lagu-lagu Iwan Fals masih tak lekang digempur lagu-lagu luar. Kalau pulang sekolah sudah pasti anak-anak cowok akan memainkan lagu u-lagu kebangsaan mereka, Never Say Goodbye-nya Bon Jovi, lagu-lagu manisnya Fire House, White Lion, dan metalnya Metallica, Skid Row, dan lainnya, tapi tak akan terlewat juga itu lagu satu itu, PESAWAT TEMPUR-nya Iwan Fals. Dan entah kenapa kalau cewek-cewek lewat bisa ngepas liriknya pas menyanyikan “KALAU HANYA SENYUM YANG ENGKAU BERIKAN… WESTERLING PUN TERSENYUM!!” dan kami cewek-cewek akan lewat sambil malu-malu.

Saat saya membaca putra kesayangan Iwan Fals meninggal, sayapun menangis sedih. Lucu ya, kenal saja tidak sama Iwan Fals, tapi rasanya kesedihan dan kepiluannya Bang Iwan dan Mba Yos begitu terasa, mungkin karena kita mengenal putra sulungnya lewat lagu Galang Rambu Anarki, kebahagiaan seorang ayah, rasa heran dan campur aduknya memiliki anak pertama, kita turut merasakan lewat lagunya, dan saat kepergiannya kita pun serasa berempati juga karenanya. Lama berselang di tv saat saya melihat Iwan Fals kembali menyanyikan lagu tersebut bersama sang istri, tak terasa air mata saya menetes. Tegar mereka bernyanyi, namun alangkah sedih rasanya.

Dan kini saat saya memiliki anak-anak yang sudah besar-besar, saya kagum karena anak-anak saya juga senang memainkan lagu Iwan Fals baik di piano maupun di gitar. Tahukah mereka bahawa ibunya dibesarkan dengan lagu-lagu yang sama? Iwan Fals sudah melewati tiga generasi, atau mungkin lebih, karena saat Iwan Fals ngetop dulu kakek saya kan masih ada, dan namanya masih berkibar dan dicintai oleh masyarakat.

Iwan Fals bagi saya adalah legenda hidup itu sendiri.

Etiket Kerja

Etiket berbeda dengan etika. Etiket yang saya maksud adalah etiquette. Sopan santun. Seperti halnya dalam hal makan di meja makan atau dalam jamuan, etiket dikenal sebagai tata krama, yang tentu saja tujuannya agar kita dapat saling menghargai sesama manusia dan memiliki rasa estetika dalam berhubungan dengan orang lain.

Dalam dunia kerja, etiket kerja adalah sesuatu hal yang tidak tertulis. Bisa saja seseorang merasa dirinya sudah bekerja dengan baik, tapi kok tidak bisa membangun team work atau hubungan komunikasi yang enak dengan rekan kerja, atasan, maupun anak buah. Mungkin dia melupakan etiket.

Dibawah ini adalah contoh-contoh etiket dalam bekerja yang sebaiknya diperhatikan agar kita dapat tetap bisa bekerja sama dengan orang lain dan memiliki hubungan yang harmonis.

1. Perhatikan kebersihan dan hygienitas diri dalam hal pakaian. Pakaian tidak mesti mahal, namun bersih dan rapi serta tidak berbau. Jangan gunakan parfum yang menyengat dan berlebihan, percayalah tidak semua orang bisa menyukai selera parfum Anda, hati-hati dalam memilih parfum.
2. Jaga bau badan dan bau mulut Anda. Mungkin saja dua hal ini adalah hal yang sangat sulit disampaikan orang lain kepada Anda, bahkan oleh orang terdekat Anda sekalipun. Cek gigi apakah gigi Anda berlubang, dan apakah mengeluarkann bau tidak sedap atau halitosis. Tidak hanya gigi berlubang yang menyebabkan bau mulut, tapi juga gangguan pencernaan. Rambut pun bisa mengeluarkan bau tidak sedap bila memakai minyak rambut berlebihan dan berpewangi. Ketiak bisa jadi mengeluarkan bau tidak sedap. Jangan gunakan pakaian yang tidak menyerap keringat dan gunakan deodorant yang baik agar bau badan Anda terjaga. Ada cerita seorang petinggi SDM kepada saya bahwa dia pernah menolak seorang pelamar kerja karena bau badannya yang menyengat pada saat wawancara. Apa jadinya bila nanti bekerja bila mengganggu orang seruangan dengan bau badannya yang menyengat? Begitu katanya.
3. Jangan membawa makanan kesukaan Anda yang berbau menyengat ke meja kerja betatapun Anda suka makanan itu. Bisa jadi Anda menyukai duren, tapi belum tentu orang di sekitar Anda, demikian juga makanan lainnya yang memiliki bau menyengat yang menyebar bila berada di ruangan ber-AC, misalnya pempek.
4. Bila Anda seorang atasan, hargailah anak buah Anda dengan mengetahui dan mengenal nama keluarga anak buah Anda, tidak ada salahnya Anda mengingat salah satu nama anak dari anak buah Anda, atau nama suami atau istrinya. Hal itu pun akan membantu bila Anda memerlukan untuk berbasa-basi dalam pembicaraan dengan anak buah Anda, walaupun tidak perlu berlebihan juga untuk mengetahui atau mengorek sampai dalam mengenai masalah pribadi, kecuali memang anak buah Anda memerlukan Anda untuk mendengarkan ‘curhat’ mereka.
5. Balaslah sms atau pesan dari rekan kerja, atasan, ataupun anak buah Anda, sesegera mungkin. Kalau memungkinkan segeralah telepon balik apabila ada telepon. Ingat, biasanya tidak mungkin bila anak buah, atasan, atau rekan menelepon Anda untuk iseng belaka. Hargai mereka dengan merespon dengan baik dan sesegera mungkin, dan mintalah maaf bila berhalangan untuk menjawab segera.
6. Seorang atasan yang baik tidak datang begitu saja, dan pulang mendahului anak buah tanpa kata dan tanpa basa-basi. Walaupun Anda seorang atasan, hargailah anak buah Anda sebagai manusia, tidak pulang lebih dahulu tanpa kata, ataupun datang terlambat tanpa memberitahu terlebih dahulu. Apalagi sampai cuti atau tidak masuk tanpa memberi tahu. Ingat jaman sekarang sudah canggih, pemberitahuan melalui grup komunikasi di handphone Anda akan lebih baik sehingga anak buah akan merasa dihargai.
7. Jangan berpakaian terlalu seksi atau terbuka bagi wanita, dan juga berpakaian dengan model aneh bagi pria. Biarkan orang lain melihat kemampuan Anda, bukan bagian tubuh Anda yang terbuka.
8. Jangan berbicara keras-keras di telepon, bicaralah dengan suara sedang saja.
9. Datanglah tepat waktu baik ke tempat kerja maupun menghadiri undangan meeting.
10. Bersihkan meja kerja Anda, jangan selalu mengandalkan orang lain untuk membersihkannya.
11. Bila sakit lebih baik Anda meminta ijin untuk masuk daripada menularkan penyakit Anda kepada orang lain. Percayalah, teman-teman Anda tidak akan terkesan dengan dedikasi Anda dalam bekerja bila Anda juga sambil membersihkan ingus dan batuk-batuk yang menggangggu.
12. Jagalah komunikasi dengan rekan kerja Anda, sebagai contoh ada seseorang yang datang dan pergi setiap hari dan bisa dihitung dengan jari kapan dia berbicara dengan rekan kerja lainnya dalam satu minggu. Bahkan bisa satu minggu ia tidak bertegur sapa dengan anak buahnya. Ini adalah contoh yang buruk sekali bila Anda seorang atasan. Ingatlah bahwa Anda perlu menjaga komunikasi yang efektif dan anak buah Anda adalah manusia, bukan barang.
13. Jangan menggunakan kata-kata kasar atau memaki-maki. Jangan pula berkata dengan suara keras dan kasar kepada rekan kerja Anda.

Etiket Tempat Kerja ini merupakan hal yang penting untuk diingat bila Anda ingin meningkatkan hubungan dengan rekan kerja, anak buah dan juga atasan. Walaupun standar untuk etiket berbeda-beda di tempat kerja satu sama lain namun sangat penting untuk diindahkan. Berkomunikasilah jika ada masalah dengan rekan kerja atau atasan melalui jalur yang tepat sehingga tidak ada masalah yang lebih besar lagi di kemudian hari. Juga etiket kerja ini penting untuk selalu menghormati dan kooperatif dengan orang-orang yang bekerja dengan Anda.

Repertoire

past-present-future

Seseorang bijak mengatakan padaku:

Bahwa kau adalah masa laluku, kini dan nanti.

Aku katakan dia benar untuk masa lalu, tapi kini? Tidak ada kini untuk kita. Dan nanti? Apakah kita masih memiliki nanti? Aku bilang terlalu menyeramkan untukku berharap nanti.

Tapi dia bilang, “Siapa yang tahu?” katanya penuh misteri.

Sebersit bahagia merebak. Siapa yang tahu. Hidup adalah misteri itu sendiri. Indah, pedih, manis, pahit.. terlalu banyak rasa dalam waktu yang singkat untuk hitungan usia semesta.

Dan sekelumit tahu itu ada dalam perasaanku, suatu keyakinan yang sulit diceritakan, bahwa saat aku mengingat kau, begitupun juga lintasan aku ada di jiwamu.

Adegan ini berlangsung di sebuah restaurant Jepang yang sepi. Lampu temaram dengan model lampu teplok di dinding. Sekat-sekat dari kertas dan berbingkai kayu dan bambu menjadi batas-batas antar meja dengan metode duduk lesehan. Bantal-bantal empuk menyangga punggungku. Warnanya merah dan hitam. Di mejaku ada origami kecil berupa burung-burungan dari kertas warna-warni. Kecil sekali sampai aku bingung cara melipatnya agar bisa rapi dan presisi.

Suasana terbilang sepi. Ada beberapa pasangan dan keluarga yang juga makan disini. Tapi mereka berbicara pelan. Hanya terdengar sesekali denting suara sumpit beradu dengan mangkuk-mangkuk, kucuran ocha mengisi gelas tebal dari keramik, setiap kosong pelayan selalu siap mengisi kembali dari teko berbentuk lucu dengan pegangan dari bambu.

Aku duduk menghadapi temanku di seberang meja. Dia minta waktu untuk berkeluh kesah padaku. Aku menyetujuinya tanpa banyak tanya. Pesanan kami sudah datang. Aku memesan ramen dan kusesali. Mangkoknya besar sekali nyaris ukuran baskom. Seekor ikan mas kecil bisa berenang di dalamnya. Melihatnya saja aku mendadak kenyang. Temanku memesan sushi yang belum juga disentuhnya. Ia tampak lelah. Matanya kuyu kurang tidur, dan aku yakin dia juga malas makan akhir-akhir ini walau aku masih yakin dia tidak malas mandi. Tercium samar parfumnya yang lembut.

Dia menyibak rambutnya yang sebahu, mengambil karet dari tasnya dan menguncirnya,
“Aku lelah, Sestina..” katanya pelan.

“Ya aku mengerti..hubungan seperti yang kau punya pastilah butuh endurance..” aku tidak tersenyum, aku disini untuk mendengarkan, bukan memarahi atau menertawakan. Kuaduk ramenku dan kuambil sepotong jamur dengan sumpit.
Nara memiliki hubungan yang sudah berlangsung cukup lama, hampir tiga tahun. Dengan seorang pria beristri. Aku cukup mengenal si pria walau terbilang tidak terlalu akrab.

“Aku tidak tahu lagi harus bagaimana.. sepertinya memang sudah waktunya aku menyerah..” Nara menarik napas panjang, matanya terlihat memberat dengan lapisan seperti kaca, dia mengerjapkan matanya. Mungkin menahan agar tidak menjadi titik air yang jatuh.
“Hubungan ini adalah hubungan yang sia-sia.”
“Aku bukan orang jahat, Rick bukan orang jahat, kami hanya saling mencintai di waktu yang salah…aku mengerti sekali bila Rick tidak mau menyakiti hati istrinya, meninggalkan anak-anak, membuat orangtuanya kecewa..” Nara menarik napas panjang.
“Lagipula sepertinya pun dia tidak ada niat untuk berpisah dengan keluarganya. Hatinya terbelah, dia ingin denganku tapi tak bisa menikah denganku… dan hal ini membuatku sakit..”
“Cukup sudah malam-malam berlalu aku memikirkannya, sedang di rumah pulang ke istrinya..sementara aku berkirim pesan sembunyi-sembunyi, menunggu balasan, menunggu telepon kalau dia sempat.., itu menyiksa”
“Belum lagi pikiran-pikiran seperti apa malam dia lewatkan, bercinta dengan istrinya, bermain dengan anak-anaknya, sementara aku …? Siapa aku? Hanya perempuan sial yang mengharapkan sesuatu yang mustahil terjadi”.

Ramenku sudah habis, tapi kuahnya tertinggal banyak, dan aku kemudian memesan matcha ice cream. Sambil meneguk ocha yang terasa pahit di lidah namun segera mengusir rasa asin dan lemak yang terasa di mulut, aku memegang tangan Nara. Pelayan datang pelan membawa es krim pesananku. Nara baru menelan sushinya sepotong. Dia nyaris tersedak karena wasabi yang dioleskannya rupanya kebanyakan.

“Sudahlah,..aku tahu kamu sedih..tapi ini akan lewat. Kamu juga kan bukan perempuan gila yang jadi error bila berhubungan dengan pria. Tidak ada dalam kamus kamu untuk stalking, meneror, ataupun coba-coba menghubungi perempuan itu…, biar saja toh Rick yang rugi engga dapetin kamu”, Aku nyengir sumir. Aku yakin dengan pasti Nara memang lebih keren dari istri Rick, yang memang bisa dikatakan….ah sudahlah.. tidak baik membicarakan saingan.

Sebagai gambaran Nara adalah perempuan mandiri, cantik, pintar, penuh percaya diri. Dia pandai bergaul dan memiliki karir serta bisnis pribadi. Dia juga mampu memainkan berbagai alat musik, dan menguasai beberapa bahasa asing. Banyak pria yang naksir padanya, cuma memang cinta bertemu kadang datang dari arah yang salah, dari Rick yang sudah beristri dan beranak dua.

“kalau kamu sudah memutuskan untuk melupakan, aku yakin kamu pasti bisa..” aku mencoba menghiburnya.
“suatu hari nanti kamu akan mendapatkan lagi lelaki ganteng dengan selera humor yang baik dan kamu akan punya anak-anak lucu yang bau susu”, aku berbicara agak cadel karena lidahku agak kelu karena es krim matcha ini beku sekali.
“dan kamu akan mentraktir aku lagi disini, dan kita akan tertawa mentertawakan kebodohan kita..”

“Sulit ya Sestina..”, katanya.
“Aku menangis berhari-hari, rasanya dadaku sakit sekali. Literally”, katanya.
“Pasti..tapi itu akan berlalu..” Aku tahu, aku tahu itu. Aku tidak membohongi Nara, karena akupun pernah mengalami hal yang sama.

Keinginan

Kadang karena kelewat ingin
Kucari dia di setiap lembar daun yang tumbuh
Di setiap butir hujan yang jatuh
Karena aku kelewat ingin
Kucari dia juga di lembaran angin
Berusaha menyibak setiap bilahnya yang dingin
Kadang juga di debu berhamburan
Mungkin ada saja di titik kecil hampir terlewat
Kelewat ingin sampai dia kupanggil
Di hela napas kusebut namanya menggigil
Mungkin karena sering dan kelewat ingin
Akan ada sebutir maaf kau sisakan walau cuma terakhir

Sangkamu

Sangkamu mungkin ini mudah..
Mendayung perahu melawan arus menentang arah
Tak usah berpikir tak usah bertanya
Hanya menjalani saja tanpa mengukur rasa
Sangkamu pasti ini mudah
Menjalani malam dengan banyak menerawang
Memikirkan kau dengan tubuh, wajah dan nama yang tak ingin aku kenal
Padahal aku berbaring berkubang luka
Terheran sebanyak itu darah mengalir dari duka

Majalah Esquire Indonesia

image

Dari dulu memang saya jarang membaca atau bisa dikatakan hampir tidak pernah berlangganan majalah wanita. Majalah yang saya beli secara berlangganan cuma dua. National Geographic dan Reader Digest. Yang kedua sekarang sudah berhenti.

Majalah lainnya yang suka saya beli eceran adalah majalah tentang rumah dan kebun, dan majalah teknologi strategi militer (dulu karena suka ada poster pesawat tempur sebagai bonus), majalah film dan majalah fotografi, majalah IT, majalah masakan dan majalah golf. Trus beberapa majalah khusus pria. Nah loh..saya  ini lelaki apa perempuan ya.

Mungkin karena saya tidak modis dan cara berpakaian saya sangat praktis. Tas yang saya punya hanya ransel. Ransel untuk laptop dan ransel untuk backpacker. Tas perempuan satu-satunya adalah tas kulit warna merah hasil dari seserahan sewaktu lelaki saya menikahi saya. Sepatu apalagi. Kalau tas saja cuma ransel pastilah saya tidak punya stilletto. Jelas saya bukan target bagi para pengiklan tas merk Hermes ataupun sepatu merk Louboutin.

Bukannya engga suka sih sama barang-barang perempuan. Yang namanya punya tentu saya bisa melihat barang bagus atau tidak. Cuma ya gitu…engga nafsu atau horny ngeliatnya. Apalagi buat beli.

Ok..kembali pada majalah favorit saya sekarang punya majalah pria yang saya suka. Majalah Esquire Indonesia. Dulu juga pernah sih beli sesekali secara eceran. Saya suka isinya yang ga mengekspos tubuh wanita berlebihan. Satu dua ada yang ditampilkan secara seksi sih okelah. Isinya yang lain pun banyak rubrik menarik. Sosia, budaya, politik dan berbagai tips. Travelling dan gaya hidup juga. Semua disajikan pas. Jadi asik aja buka dari awal sampai dengan akhir.

Pas lagi bulan Februari 2015 ini ada tulisan saya di rubrik budaya yang membahas tentang urban farming. Hehe tambah suka sama majalah Esquire. Versi onlinenya saya beli di getscoop. Harganya lebih murah dari versi cetak.

Perempuan Lain

Perempuan lain itu kerap membuatku habis pikir. Kadang marah tak kunjung padam saat aku terlambat membalas pesan (karena meeting dan diskusi seharian) -lagipula bila penting kan dia selalu bisa meneleponku. Kadang bisa satu minggu atau lebih dia hilang tanpa pesan. Tidak ada pesan apalagi telepon, pesanku hanya mendapat notifikasi telah dibaca tanpa balasan. Lalu yang lebih parah kadang dia menghapus accountnya.

Perempuan lain itu tidaklah begitu cantik, dan untuk ini juga aku tidak habis pikir. Dan dia tidak lagi muda. Dia sebaya denganku dengan perbedaan satu tahun saja. Tubuhnya sudah melar tak lagi kencang, dagunya mulai menunjukkan lipatan, dan pinggangnya longgar. Payudaranya yang dulu menantang kini nampak enggan menentang. Walau aku belum kehilangan minat kepada keduanya. Bagian tubuhnya ini adalah favoritku. Matanya masih melirik galak, dan bibirnya masih dengan tarikan tipis kalau dia sedang jengkel, atau maju ke depan kalau sedang kesal. Ini juga yang membuatku kerap terbahak.

Perempuan lainku ini dengan dunianya sendiri, yang kadang beririsan denganku kadang tidak. Dia dengan anak-anak dan suami, pekerjaannya, keluarga, rumahnya dan kehidupannya yang terpisah denganku dan juga kotaku. Perempuan lainku bertemu denganku tak tentu. Kadang semisal komet yang melewat cepat, sehingga bahkan tidak sempat kulihat, kadang hitungan jam saja kucuri waktu di hotel itu saat aku bisa melarikan diri dari rapat. Bisa juga saat ada kesempatan beberapa malam dia ada dalam pelukan.

Perempuan lainku.

Perempuanku. Dalam diriku kucamkan dia milikku, aku menguasai dia sebagai teritoriku, dan dia bersama lelaki lain hanya karena aku menitipkan jasadnya. Dia punyaku, puncak ekstasi dia hanya bisa dilakukan olehku karena hanya aku yang tahu caranya memasuki relungnya yang terdalam dengan metode yang hanya aku yang punya. Walau untuk ini saat kunyatakan (bukan kutanyakan) dia tertawa dan berkata, “Sok tahu, kamu”. Atau kali lain dia katakan, “Pede banget lu”.

Ya aku memang percaya diri. Karena perempuan lain itu bagian dari diriku. Aku sendiri tidak memiliki untuk jawaban kenapa. Kasihan, cinta, sayang, bukan sesuatu hal yang dapat kumengerti seperti perkalian. Seperti halnya ini perempuan lainku pernah tanyakan, kujawab, “Ini sesuatu yang tak dapat kujelaskan”.

Perempuan lainku tidak pernah bertanya tentang istriku. Kehidupanku dengan keluargaku, atau rekan-rekan lain yang pribadi. Aku yang sering bertanya padanya, terutama tentang hal yang satu itu. Karena dalam diriku sebenarnya, menggelegak kebencian itu. Aku benci pesaing. Seperti halnya pejantan alpha, aku tidak rela betinaku dengan pejantan lain.

Perempuan lainku menarikku seperti gravitasi, aku masih saja terus memutarinya. Pasang dan surut bagai gelombang, ada dan tidak ada, pertemuan tanpa pertemuan, namun masih saja tali tak terlihat itu mengikat.

Perempuan lain.

Lirik Ratapan

christinarosseti

Sebuah Dirge adalah suatu komposisi lagu berupa ratapan atau hymne, ungkapan kesedihan dan dukacita biasanya untuk kematian. Dalam puisi, Dirge biasanya lebih pendek dan mendalam dibandingkan dengan Elegy. Satu puisi yang saya sering baca dan saya catat di telepon saya adalah puisi dari Christina Rosseti, penyair wanita jaman Victoria di abad 19.

A Dirge

By Christina Rossetti

Why were you born when the snow was falling?

You should have come to the cuckoo’s calling,

Or when grapes are green in the cluster,

Or, at least, when lithe swallows muster

For their far off flying

From summer dying.

Why did you die when the lambs were cropping?

You should have died at the apples’ dropping,

When the grasshopper comes to trouble,

And the wheat-fields are sodden stubble,

And all winds go sighing

For sweet things dying.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 308 other followers

%d bloggers like this: