Feeds:
Posts
Comments

Aku Cari Kamu

image

Kucari kamu dalam setiap malam
Dalam bayang masa suram
Kucari kamu dalam setiap langkah
Dalam ragu yang membisu
Kucari kamu dalam setiap ruang
Seperti aku yang menunggu kabar dari angin malam

Aku cari kamu
Disetiap malam yang panjang
Aku cari kamu
Kutemui kau tiada

Aku cari kamu
Di setiap bayang kau tersenyum
Aku cari kamu
Kutemui kau berubah

Kucari kamu dalam setiap jejak
Seperti aku yang menunggu kabar dari matahari

(Ngutip dari Payung Teduh)

Terakhir aku ketemu kamu..tiga puluh tahun lalu. Dan aku juga lupa dimana. Dan bagaimana apalagi hari apa.

Tahu-tahu kau menghilang. Tak ada lagi lewat kelas di jalan kecil itu sepulang sekolah. Tak Lagi belajar ngaji bersama atau muncul di mesjid shalat Tarawih.

Kata orang entah siapa aku juga lupa. Kamu pindah ke kota lain. Tanpa pesan tanpa kata apalagi selamat tinggal. Aku terlalu malu untuk bertanya pada siapapun. Karena kau pergi begitu saja kan? Yang artinya..ya aku tidak berarti apa-apa.

Dan tigapuluh tahun aku tidak lupa. Aku juga selalu mencari walau tidak benar-benar mencari. Karena kalaupun kucari entah juga untuk apa terjadi. Aku harus bagaimana. Kau pasti juga tidak lagi sendiri.

Ada keinginan untuk katakan kalau dulu aku mengingatmu selalu. Aku merekam tentangmu dalam ingatan yang dalam. Tentangmu senyum dan juga pandangan mata. Gerakmu dan nada bicara. Pandanganmu sesekali padaku saat kau angkat wajah dari buku yang kau baca.

Aku belum tahu apa itu suka. Ataukah rasa. Apalagi cinta. Tapi cuma kamu yang mendiamkan aku saat aku terlalu banyak tingkah. Mengusik aku dengan malu yang tak hingga bila kau menatap dengan pandanganmu tak suka.

Dan..
Akhir tahun 2015..tanpa cerita tanpa tahu awal darimana semudah itu aku menemukan kamu.

Tatap mata yang sama. Senyum yang tak berbeda.

Tapi… Tiada lagi yang bisa dikatakan. Semua sudah berlalu tanpa ada celah kesempatan atau sekedar waktu tersisa.

Awal Desember lalu di tahun 2015 yang baru saja lewat, saya berkesempatan untuk kembali menyambangi Papua. Ini tempat dimana saya selalu ingin datang kembali. Andai saja engga berat di ongkos. Buat saya Papua punya tempat istimewa di hati. Dan hanya saya yang tahu kenapa.

Saya berangkat dari Jakarta dengan pesawat Garuda. Sebetulnya banyak yang bilang lebih nyaman dengan pesawat Batik Air yang langsung terbang ke Jayapura tanpa transit. Tapi saya juga tidak terlalu ingin diam di bandara sendirian menunggu jam 12 sembari ngantuk. Jadi saya tetap berangkat jam 9 malam saja. Transit dua kali, yaitu di Denpasar dan Timika.

Ternyata sulit tidur juga kalau posisi duduk di pesawat. Sampai di Timika sekitar pukul 5.30 dan  saya sudah merasa cranky. Jam 9 saya tiba di Jayapura. Dijemput oleh driver dari perusahaan saya bekerja, yang saya suka karena begitu antusias untuk menunjukkan indahnya Danau Sentani pada saya dilihat dari Puncak Mc Arthur.

Dari puncak Mc Arthur ini kita dapat melihat indahnya Danau Sentani, bandara, dan juga gunung Cyclops yang menjulang dengan awan-awan putihnya. Pemandangan ke puncak Mc Arthur juga sangat indah di sepanjang kiri kanan, rapi dan bersih karena dikelola oleh militer. Bila akan ke puncak, kita harus minta ijin dulu dan meninggalkan kartu identitas. Jangan khawatir, bapak-bapak tentara disana sangat ramah.

sentani

Saya menginap di hotel Swiss-Belhotel Papua. Tiba di hotel jam 12 dan saya sudah bisa check in. Baru terasa lelahnya perjalanan dari Bandung sampai disini.  Kamar yang nyaman membuat saya langsung tertidur sampai sore. Dan apa yang saya lihat dari jendela kamar membuat saya, …tidak bisa banyak berkata-kata. Pemandangan begitu indahnya.

jayapura

 

 

 

 

 

Andai saja boleh memilih…

kangen katamu.

aku tanya lagi, pura-pura tidak mendengar.

Lalu kamu jawab lagi, aku kangen.

lalu percakapan selama satu jam. sampai satu obrolan yang aku bilang padanya,

kau bukan lelaki setia. kenapa..tidak ada yang lainnya. katamu.
kau beristri, jawabku sederhana. dan kau masih saja menemui aku.

tapi tidak ada wanita lain, katamu lagi. hanya kau. dan orang di rumah. selama ini.

dan kemudian perkataanmu selanjutnya yang membuat jeda panjang sesudahnya.

kau bilang, dan andaikan saja aku boleh memilih kau dan dia… nada suaramu sangat sedih.

aku hanya akan pilih kamu saja seorang.

aku diam. sesak itu belum terasa di dada. lalu aku jawab dengan campur tawa memecah suasana yang mendadak beku.

“oooh..begitu? mungkin memang dulu aku sedang apes”

My Precious: Drea

IMG_20150919_135955[1]I love her smile.

IMG_20150919_140012[1]and her smile..

IMG_20150920_114000[1]And her curly hair..

IMG_20150920_112504[1]very curly hair

IMG_20150920_113854[1]

and she is my precious girl. I love her.

I was there for you..

Bon Jovi.

Kurang lebih sebulan sebelum konser Bon Jovi di Jakarta tanggal 11 September 2015 lalu, jeng iNa menanyakan pada saya,

“Mi jadi nonton Bon Jovi?”

Saya sulit menjawab. Sebetulnya saya pengen nonton. Banget malah. Tapi hati kecil saya melarang saya beli tiket. Karena hati kecil saya juga yang sudah meyakinkan pada diri saya, kalau saya bakal nonton Bon Jovi walau bagaimanapun caranya. Dan dengan cara gratisan. Ini misterius dan sulit diceritakan. Saya cuma yakin. Itu saja.

Jadi saya tetap tidak beli tiket. Walau hari makin dekat. Buka website penjualan tiket pun tidak. Harga tiket berapa saya tidak tahu.

Dan seperti dugaan saya, suami saya bilang,

“Ma, ada temen Papah mau kasih tiket Bon Jovi. Karena katanya dia kenal kamu. Namanya Fajar. Kamu kenal tidak?”

“Engga”, kata saya. Wajah pria yang bernama Fajar saja saya tidak bisa mengingat yang mana dan bentuknya seperti apa.

“Soalnya, karena dia kenal sama Mama makanya mau kasih tiket Bon Jovi”, lanjut suami saya.

“Oh gitu?”  ujar saya setengah kagum pada diri sendiri.

“Tapi dia emang minta tuker sama batu akik kesayangan Papah sih, itu yang Kalimaya Pancawarna”

“Oh ya kasih aja”, kata saya dengan tetap tidak mengurangi rasa kagum pada diri sendiri. Suami saya memutar bola matanya

Tapi perlu dicatat, teman suami saya ini orangnya kalau dari cerita sih, jahil banget. Jadi saya sih walau yakin dikasih tiket tetap saja menyisakan tidak yakin juga. Jadi kalau ada teman yang tanya mau nonton engga, saya jawabnya engga.

Sampai 2 hari sebelum hari H, saya tanya suami saya,

“Tiketnya jadi tak?”

“Entahlah”

“Ya sudah, tanyain dong”

Suami saya menelepon temannya. Lalu dia menelepon saya kembali.

“Ma, kata dia waktu ditanya, gimana tiketnya? dia jawab ‘aman'”,

“Trus aku tanya lagi, ambil tiketnya dimana? dia jawab ‘lahaciya”.

Hadoh…tukan..pasti deh dijailin. Kata saya.

Akhirnya pada tanggal 11 September 2015, saya mendapat kepastian jam 11 siang saat saya mengetik sesuatu kerjaan, saya dapat kabar dari suami kalau tiketnya diambil saja sebelum ke konser Bon Jovi, ke kantor di bilangan MT Haryono. Haduuhhhh, jam berapa ini, akhirnya dengan mengebut saya jemput suami saya ke kantornya, dan tanpa basa-basi, kami berangkat siang itu juga menuju Jakarta.

Di jalan saya menelepon jeng iNa untuk janjian di GBK. Karena suami saya mah engga mau nonton Bon Jovi, dia lebih suka nonton Zaskia Gothic dengan goyang itiknya itu.

Jam 3.30 kami udah parkir manis di GBK, karena jeng iNa dan RaRa masih pada di FX, saya sih ngopi-ngopi cantik saja dengan suami. Satu hal yang saya suka kepanasan di Jakarta itu yaitu bikin minum kopi pakai es jadi enak banget!. Serius. Di Bandung engga pernah saya senikmat itu minum air es. Itu hanya bisa dirasakan nikmatnya di daerah panas dengan badan keringetan.  Udah gitu bukannya nyari tempat teduh, saya malah duduk di bangku yang panas kena sinar matahari sore, biar engga kagok kepanasannya.

Oh ya, ternyata saya salah nangkring. Harusnya di Yellow Gate, ternyata malah di Red Gate. Untung ketemu RaRa, kalau engga bablas deh saya bakal salah antri. Jadi aja saya lari-lari kejar iNa yang udah duluan ke Yellow Gate. Jauh bok! Saya nelepon jeng iNa dan bilang, “Jangan bergerak! saya menuju kesitu” “Siap!” jawabnya.. Pasti dengan sikap sempurna.

Singkat cerita, disanalah dia Bon Jovi, lumayan lah, ‘hanya’ berjarak puluhan meter saja dari tempat saya berdiri, jingkrak-jingkrak, dan menjerit bersama iNa, saat orang lain tidak ada yang histeris, karena timing kami berbeda, kami histeris dan menjerit, saat kamera menyorot bokong Bon Jovi, yang ..ehm, masik ketat padat dan terlihat mumpuni untuk diremas.

Dan terima kasih! Bon Jovi masih sehat, ganteng dan bisa menyanyi 17 lagu tanpa terlihat kecapean. Makin berkeringat, makin hot.

Dan saya memaafkan orang sebelah kanan yang menginjak kaki saya, orang belakang saya yang lompat-lompat dan sikutnya menggetok kepala saya, dan orang sebelah kiri saya yang bernyanyi sekuat tenaga mengikuti lagu yang sedang dilantunkan.

Ya beginilah letak serunya nonton konser di festival.

Tapi usia emang ga bisa boong ya.

Usai nonton saya tepar, kehausan, kelaparan dan masuk angin.

Sambil nyelonjorin kaki ke dashboard saya bilang sama suami, “kapooook pah, pegel!”

Suami saya yang setia nunggu di parkiran nanya. “Kalau Muse konser gimana?” Jawab saya, “ya itu mah harus nonton!”.

Trus tanya dia lagi, “kalau Van Halen?” Kata saya “ya harus nonton jugaaa…eh emang si eddy masih hidup?”.

Kata suami saya..”ya kalau gitu mah jangan bilang kapok dong”.

Malam itu saya tidur dengan puas walau kaki encok.

Kenapa Kita Suka Film Drama Korea?

422569Saya ini penonton film drama Korea kambuhan. Engga banyak sih yang saya sudah nonton. Tapi kalau udah nonton satu film, saya engga akan berhenti sampai subuh. Dan wassalam, di kantor saya terkantuk-kantuk dengan kantung mata yang saya sembunyikan dengan concealer hasil beli dari ebay dari penjual di Korea (saya penggemar kosmetik Korea).

Kata teman sebelah meja di kantor, “hati-hati loh nonton marathon gitu, ada yang mati gara-gara kebanyakan nonton film Korea gak tidur-tidur!”. Waduh serem.

Dan di suatu meeting yang bikin ngantuk kemarin, setelah beberapa sesi pembahasan yang bikin tambah ngantuk, saya keluar ruangan dulu untuk nyolong snack coffee break sebelum waktunya dan bikin kopi hitam tanpa gula, ternyata sudah ada emak-emak rekan kerja saya sebanyak 3 gundukan di sofa dekat meja snack. Udah colong start juga rupanya.

Sambil menguap saya cerita kalau habis nonton dua film Jang Geun Suk selama beberapa hari ini. Pembahasan berlanjut menjadi kenapa kami menyukai film drama Korea. Pembicaraan ini serius sekali sambil berisik dan tertawa dan kayaknya mengalahkan suara orang yang meeting di dalam. Ternyata kami semua pecandu film Korea. Terutama sih yang genre drama komedi romantis. Bukan yang banyak tangisan dan serius gitu.

Jadi gini, setelah pembicaraan mengenai beberapa film yang sudah kami tonton, kami sampai pada kesimpulan bahwa kami menyukai drama Korea karena hal-hal penting dibawah ini:

Pemain cowoknya sebagai lead aktor, walaupun mungkin banyak yang menganggap saking cantiknya lama-lama kalau dilihat ya ganteng juga. Walau kami semua sepakat bukan cakep dengan kriteria umum. Yah kan pipi mereka mulus-mulus, bibir merah, alis rapi, rambut kadang berpotongan ajaib, jauh banget kan dengan tipe Adam Levine atau Hugh Jackman? Ya tapi kami suka. Malah nyaingin cewek saking mulusnya. Tapi tetep….cakep! Mau gimana lagi? Kalau saya sih suka Jang Geun Suk pas lagi jutek mukanya. Dulu suka Lee Min Hoo, tapi setelah teman saya nunjukkin wajah dia sebelum operasi plastik, saya jadi ilang feeling. Trus pernah sih suka sama Kim Hyun Joong, tapi sekarang saya move on dari dia setelah kalau dipikir-pikir dia terlalu ceking dan karakternya gitu-gitu aja di film.

Jalan ceritanya walau absurd banyak scenes yang lucu banget bikin ketawa ngakak. Kadang ngakak karena saking lucunya adegan, atau kita bisa ngakak saking absurdnya juga. Tidak perlu mikir banyak kalau nonton drama Korea, jangan dipikir kenapa ada saudara kembar yang operasi plastik ke Amerika (padahal Korea juga tempatnya oplas) dan anehnya gak pernah kontak adik kembarnya walau handphone sudah diciptakan. Jangan dipikir kenapa ada perjanjian 100 hari pernikahan cuma buat pembuktian sesuatu (saya sampai lupa sesuatu itu apa). Pokoknya ga penting lah jalan ceritanya. Nikmati saja kelucuan adegan-adegannya.

Pakaian-pakaian di film modelnya cakep-cakep dan stylish abis. Seorang pemusik kere bisa ganti belasan jaket di beberapa episode, dan seorang perempuan miskin abis yang cuma bisa makan ramen bisa memakai pakaian aneka rupa dengan model kekinian. Yang bahkan lebih bagus dari pemain cewek saingan dia yang ceritanya anak konglomerat.

Lagu-lagu OSTnya walaupun cheesy enak didengar. Banyak lagu-lagu dari drama Korea yang jadi hits di tanah air kita, dan sering terngiang-ngiang di telinga kita karena sepanjang 16 episode saat nonton banyak diulang-ulang. Setelah nonton satu film, biasanya kita gatal untuk downloan OSTnya.

Banyak adegan ciumannya bikin ngakak. Banyak adegan ciuman dilakukan aktor pria dengan cuma menempelkan bibir saja dan terlihat kaku abis. Si cewek pun tak kalah kaku, biasanya matanya melotot seperti ikan mas koki, lalu kemudian memejamkan mata erat-erat dengan tubuh dan tangan kaku seperti sikap sempurna.

Korean Drama atau K-drama ini ngerti banget perasaan cewek. Terutama urusan suka sama cowok trus engga bisa mengungkapkan. Mirip lah dengan kebanyakan kami-kami ini kalau suka tapi tengsin buat bilang. Maunya ketauan engga sengaja atau cowoknya ngerti sendiri. Apesnya suka ditikung saingan yang lebih agresif. Ya gitu-gitu deh. Jadi pas suka pas patah hati atau pas jadian, mirip banget lah sama yang dialami. Jadi ada perasaan emosi yang nyambung dengan jalan ceritanya.

Pemandangan alamnya bagus-bagus. Apalagi kalau musim gugur. Ebuset cakep beuts.

Makanannya (terlihat) enak-enak. Walaupun cuma toge berkuah. Abis dimakannya sama nasi panas yang mengepul gitu. Kayaknya enak pas dimakan lagi kedinginan.

Nah menurut kalian yang baca dan nyasar ke blog ini gimana? punya pendapat yang sama?

Tempatku tinggal jauh dari kota. Di sekitar komplek kami tidak ada tempat hiburan, toko, apalagi yang namanya supermarket. Yang terdekat berada di jalan raya di luar kompleks perumahan adalah warung yang berjualan minyak tanah dalam drum dan aneka keperluan rumah tangga sederhana.

Jajanan saat itu yang bisa dibeli untuk anak-anak adalah coklat dengan bungkus warna merah putih dengan seekor ayam jago tercetak di kertas luarnya. Permen dalam dus kecil denga  gambar bunga-bunga di luarnya yang merknya sama dengan nama sebuah klub sepak bola Inggris, dan minuman rasa jeruk atau mangga dalam kemasan UHT. Tidak ada yang lain. Itu sudah mewah sekali.

Mie instan saja baru muncul dua merk. Pernah saat aku berumur 3 atau 4 tahun aku diberi mie instan kuah oleh ibuku. Aku sangat suka rasanya sehingga minta tambah. Total aku makan 1 1/2 porsi. Setelahnya aku sakit perut dan kembung. Berjam-jam aku menangis sementara ayahku menggendongku keluar rumah dan aku menghirup udara segar diluar sambil terua digendong ayah. Ibuku bilang itu “weureu” dalam bahasa Sunda. Artinya keracunan makanan karena kekenyangan. Setelah itu aku kapok makan mie instan. Lama sekali sesudahnya baru mau mencicipinya lagi.

Di jalan raya besar depan komplek yang merupakan jalan utama dan konon dibangun oleh Daendels sebagai jalan yang terbentang dari Anyer sampai dengan Panarukan, rumah-rumah gubuk atau terbuat dari bilik bambu berjejer. Ada satu dua dari tembok. Tapi kebanyakan adalah rumah dari bilik. Mayoritas adalah petani buruh dan tukang becak.

Ada kantor polisi kecil, kantor pos kecil, puskesmas, dan sekolah dasar. Berderet diselingi rumah-rumah tadi sampai ke terminal. Restaurant satu-satunya yang terdekat adalah sebuah restaurant dengan nama Restoran Indonesia. Menunya aku tidak tahu apa saja. Ibuku bila kesitu selau memesan satu menu saja. Yaitu Lontong Cap Go Meh.

Tidak lama seberang jalan Restoran Indonesia sebuah restoran bakmie dibuka. Ternyata milik adik dari pemilik Restoran Indonesia. Ayah Ibu kerap makan disana jika akhir minggu. Dan aku tidak pernah bisa menghabiskan mie di mangkuk untukku walau itu adalah setengah porsi saja. Menurutku banyak sekali soalnya. Minuma  yang selalu dipesan adalah es susu soda.

Terminal sekaligus pasar di tempat ini sepertinya pusat kegiatan paling ramai di desa Sukamandi Jaya. Di bagian depan adalah tempat nongkrong para preman dan entahlah orang-orang bagaimana, sebuah bangunan di bagian depan berdindinh terbuka dan diisi pedagang-pedagang poster dan barang-barang rongsokan atau onderdil bekas. Tukang becak banyak nongkrong di depan pasar yang kerap sekali becek dengan lumpur hitam saat musim hujan dan baunya bukan main.

Aku tidak populer di sekolah. Sepertinya anak-anak lain tidak suka main denganku. Biasanya aku dikucilkan sambil berbisik-bisik. Mungkin karena aku dekil. Judes pula. Aku juga tidak pernah membawa kue-kue yang enak ke sekolah. Jadi mereka tidak bisa tukar menukar kue seperti sesama mereka.

Aku kadang membawa kue marie regal yang kadang sudah melempem. Kue semprit sisa lebaran yang bau karet gelang karena lupa kumasukkan dengan karet gelang di kotaknya, atau cuma bekal potongan gula merah. Roti lapis mentega dan gula itu jarang sekali. Itu mewah. Apalagi kalau pakai meisjes. Ayah dan ibuku tidak kaya tapi ya tidak miskin juga. Tapi mereka hidup hemat.

Sejak lama mereka menerapkan sistem memenuhi pangan sendiri dari sekitar rumah. Apa sih istilahnya sekarang? Yang jelas rasanya kebutuhan makanan sudah terpenuhi dari halaman kami sendiri, bahkan beras pun ayahku punya sawah sendiri yang digarap orang lain dengan sistem bagi hasil. Ikan ada, ayam ada, bahkan kambing. Telur tersedia baik dari ayam maupun bebek. Jeruk, jambu air, mangga bergantian berbuah sesuai musimnya. Jagung, semangka, kacang panjang, tomat, singkong dan mentimun. Tapi ibuku kadang ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan lain, misalnya sesekali membeli udang atau ikan asin.

Saking banyaknya mangga bila musim mangga tiba, aku sangat pemilih dalam hal buah mangga. Mangga matang pohon yang ranum yang sudah ditandai biasanya. Kalau mangga yang hasil peraman atau kurang manis, no way. Aku sangat pemilih. Soalnya berlimpah. Jenis mangga macam-macam. Arumanis, golek, cengkir, dan simanalagi. Favoritku Arumanis.

Demikian juga dengan jambu. Aku sangat pemilih, pohon buah jambu kelutuk tidak menghasilkan buah yang sama. Ada yang manis renyah, ada yang masam. Ada yangdaging buah tipis, ada yang tebal. Ada yang berdaging buah merah, ada yang putih. Kesukaanku yang bentuknya seperti apel. Bijinya sedikit, rasanya manis dan daging buahnya renyah.

Kembali soal sekolah di TK. Aku tidak punya teman. Cuma seorang anak laki-laki bernama Andrew yang suka mengajak aku ngobrol atau menemaniku main ayunan. Itupun jarang kebagian. Ayunan dan perosotan adalah mainan primadona, dan dikuasai gang anak komplek Sang Hyang Seri. Aku yang datang dari komplek sekolah adalah warga nomor dua.

Padahal kalau main perosotan aku bisa berbagai macam gaya. Gaya duduk terbalik, gaya superman, gaya tiduran, dan macam-macam. Permainan lainnya macam gelantungan di besi-besi bukan favorit anak perempuan, karena celana dalam bisa terlihat oleh orang dibawah. Tapi aku sih dulu tidak peduli.

Kadang aku mendengar gang anak-anak perempuan berbisik-bisik tiap aku lewat, dengan bisikan yang dikeraskan, “CENTIL!”, kata mereka. Bahkan anak-anak yang datang dari satu komplek denganku juga tidak suka main denganku. Mungkin takut ketularan kutu. Mereka semua punya teman gandengan masing-masing.

Aku di kelas sangat antusias. Mengerjakan berbagai tugas dengan semangat, dan suka bertanya ini-itu pada guru. Bahkan protes kalau ada sesuatu yang menurutku tidak sesuai pemahamanku sebagai anak TK.

Sekarang ke sekolah aku tidak pakai mikrolet. Tapi langganan naik becak. Nama penarik becak tersebut adalah Mang Bi’an. Mang Bi’an tinggi kurus dan giginya ompong, sehingga terlihat seolah selalu tersenyum lebar. Kami naik becak berenam, sampai penuh becak itu dengan anak-anak TK bau kencur itu. Sampai sekali waktu, becak itu terguling karena bannya menggilas batu besar. Lutut kami luka-luka. Dan ternyata becak terguling itu tidak terjadi satu kali. Sering.

Favoritku duduk di dudukan becak depan. Merasakan angin segar yang bertiup dan sesekali kakiku bisa menyentuh aspal jalan.

Mang Bi’an punya anak sembilan. Yang kecil seumur denganku. Namanya Nuri. Istrinya gendut sekali dan suka pakai kain kebaya kekecilan dengan kain lurik sebagai bawahan baju. Rambutnya yang beminyak digelung dan di sudut bibir kanan atasnya ada kutil hitam besar sebesar buah leunca. Kalau tidak tahu buah leunca ya buah blueberry lah, tapi lebih besar sedikit dari blueberry.

Mang Bi’an selalu membawa bekal martabak. Bukan martabak lezat dan enak berlemak seperti jaman sekarang. Tapi martabak kampung yang terasa banyak sekali pakai soda kue. Isinya kacang yang rasanya sudah bukan seperti kacang. Tapi kacang bulukan. Soalnya sudah tidak renyah lagi. Martabak ini dibungkus koran. Mang Bi’an selalu membaginya pada kami. Dan percayalah, sampai sekarang aku selalu menganggap martabak Mang Bi’an ini martabak terenak di dunia.

Sampai akhirnya saat kenaikan kelas. Aku diikutsertakan drama musikal yang menggunakan lagu ini, “Kakak Mia, Kakak Mia, minta anak barang seorang, kalau dapat kalau dapat, hendak saya suruh berdagang”…dst. Aku tidak terpilih menjadi Kakak Mia, ataupun petani ataupun pedagang. Aku menari-nari di belakang entah gerakan apa dengan membawa selongsong dus dilapisi kertas berwarna.

Saat pengumuman juara kelas, aneh sekali ternyata aku menjadi juara. Disebutnya dulu bintang kelas. Agak lucu juga bahwa bintang kelasnya adalah seorang anak perempuan dekil yang kadang kancing bajunya hilang lepas, suka meler ingus, rambut merah terbakar matahari dan berkutu.

Komplek kecil di dalam komplek yang lebih besar, tempat tinggal baru kami dinamakan orang-orang disini “komplek eksper”. Asal kata dari “Expert” karena yang tinggal di komplek berisi 7 rumah ini adalah para ekspatriat. Ayah saya bukan ekspatriat, walau wajahnya mirip pemain bulu tangkis Rudy Hartono, dia bukan dari Hongkong. Rudy Hartono pun bukan dari Hongkong sepertinya.

Rumah kami dinamakan Eksper Nomor Enam. Segera ayahku membuat kolam ikan di sekitar rumah, hampir sekeliling adalah kolam. Bahkan parit pun berisi ikan. Di belakang rumah ayahku membuat kandang bebek, di pinggir rumah sebelah kiri ada kandang kelinci, ayam bangkok, ayam kate, kambing, dan kalkun!. Ayahku tergila-gila memelihara ternak dan hewan. Selain anjing kami juga punya kucing, bahkan monyet, dan elang. Dua terakhir dilepas kembali ke alam bebas. Ayahku juga memelihara burung. Seperti perkutut, tekukur dan jalak. Tapi banyak dilepaskan lagi. Kecuali merpati. Yang memang dipelihara dengan dilepas dan selalu balik lagi minta jagung kering.

Tak terhitung pohon buah-buahan yang ditanam ayahku sekitar rumah. Kelapa saja ada. Jambu air, jambu kelutuk, mangga aneka jenis, jeruk, belimbing, dan aneka bumbu dapur di halaman belakang. Aku menamai tiap pohon dengan nama-nama tokoh kartun. Dan sering memanjatnya satu-satu. Tapi favoritku adalah pohon kersen, pohon ketapang, pohon belimbing dan jambu air. Aku namakan batang bercabang yang enak diduduki di pundak pohon kersen sebagai “singgasana”. Jambu kelutuk batangnya licin dipanjat. Kalau belum pernah dipanjat batangnya memiliki kulit kerak yang belum terkupas, licin sekali bila lepas. Walau licin pohon jambu itu punya kelebihan, bisa dipanjat sampai batang kecil. Batangnya lentur tidak mudah patah. Kalau sering dipanjat batang licin bisa jadi kesat. Karena kayunya kuat dan liat, kayu jambu sangat baik untuk dibuat ketapel.

Pohon mangga tidak enak dipanjat. Batangnya rengas dan kulitnya kasar, getah daun mangga juga bikin gatal. Kena pakaian pun meninggalkan noda. Aku sangat suka memanjat pohon, bahkan pohon kelapa. Tapi pohon kelapa tertinggi tidak berani, jadi yang tingginya 5 meter saja, sering kupetik sendiri buah kelapa hijau yang airnya manis bukan main. Pohon jambu air juga rengas, tapi paling tidak buahnya kan enak dimakan, jadi aku suka memanjat pohon jambu air. Sampai kenyang makan buah jambu, baru turun. Atau kalau ibuku sudah berteriak-teriak meminta aku mencuci piring. Yang aku tidak suka pada pohon jambu air dan juga mangga, banyak semut apinya. Kami menyebutnya semut Rarangge. Larva dan telurnya yang disimpan oleh semut itu berupa gulungan daun yang disatukan, disebut kroto dan menjadi favorit makanan burung.

Aku juga suka memanjat pohon Flamboyan, walau batang sulit sekali dipanjat karena bundar dan besar, sedikit cabangnya dibawah. Licin pula. Karena aku suka sekali bunga oranye bergaris kuningnya yang sangat mencolok mata dan cerah. Sekali waktu aku jatuh dari pohon Flamboyan. Sakit sekali karena jatuhnya terlentang. Bertahun-tahun kadang suka masih terasa ada sakit menusuk di punggung belakang. Mungkin akibat dari jatuh itu.

Selain sekitar pohon di rumah sendiri yang sering kupanjat, pohon tetangga pun sering kupanjat. Rumah Eksper Nomor Satu adalah rumah direktur. Didepannya ada pohon-pohon cemara besar. Itu juga sering kupanjat bersama Lina, panggilan putri Pak Siwi. Kami namai pohon-pohon itu Helicopter. Jadi kami punya beberapa Heli untuk pergi ke berbagai tujuan. Ada Heli-1, Heli-2 dan sebagainya.

Rumah Eksper Nomor Dua diisi keluarga Indonesia juga. Namanya Pak Tohar. Sebelumnya juga rumah mereka adalah bersebelahan saat kami tinggal di rumah kami yang tipe kecil. Jadi kami kembali bertetangga.

Rumah Eksper Nomor Empat ditempati suami istri berkebangsaan Spanyol. Bernama Mr Graces. Istrinya bernama Maria. Cantik bukan main. Bayangkanlah bintang film telenovela yang cantik. Sudah? Ya seperti itulah. Kalau Mister Garses, berambut keriting di kedua sisi, tengahnya botak, berkumis tebal. Menurutku tidak cakep sama sekali. Mereka punya 5 ekor anjing. Empat Doberman dan satu Bulldog. Yang selalu menggonggong saat aku datang disuruh ibu mengantar makanan untuk mereka. Kebiasaan jaman itu kalau memasak sesuatu suka kirim-kirim tetangga. Demikian juga sebaliknya. Tetangga sering kirim-kirim kami.

Aku selalu menyebut diriku anak Tuan Garces setiap ada yang bertanya aku tinggal dimana, atau anak siapa. Entah kenapa.

Rumah Exper Nomor Empat diisi oleh pria berkebangsaan USA, bernama Mr Palmer, nama lengkapnya adalah Louis Palmer. Kata ibu, Louis itu dibaca Lui. Rambutnya disisir ke dengan tujuan yang tidak jelas, seperti gaya rambut Donald Trump, tapi ini lebih pendek. Istrinya orang Filipina, namanya Elena. Kulitnya gelap, rambutnya panjang keriting. Sering pakai pakaian terusan berupa rok panjang warna cerah dengan tali kecil di pundak. Dia tampak cantik dan eksotis seperti penari Flamenco. Aku pernah datang diajak orangtuaki ke rumah mereka suatu hari saat mereka mengadakan pesta. Aku diberi sebotol coke yang baru kutahu saat itu radanya seperti itu. Saat pertama minum hidungku terasa tertusuk oleh semburan soda. Rasa minuman itu menurutku aneh dan sensasional pada saat itu.

Rumah Nomor Lima diisi orang Jepang bernama Mr Miyamoto Muchida. Istrinya cantik sekali dengan rambut yang selalu disanggul kecil, mata sipit menjungkit, dan kulit yang sangat mulus seperti porselen. Pakaiannya selalu rapi berupa baju terusan selutut dengan corak bunga. Anaknya empat, dua yang besar perempuan tinggal di Jepang. Namanya Hiroko dan Hideko. Aku jarang bertemu mereka. Pernah mereka datang dengan pesawat berdua saja dari Jepang. Dan aku sangat heran anak seusia SD dan SMP berani pergi antar negara berdua saja.

Yang dua lagi kembar. Namanya Akira dan Reiyo. Mereka berambut lurus dengan poni dan selalu berpakaian sama. Aku tidak bisa membedakan mana Akira dan mana Reiyo. Mereka sangat identik. Kedua anak itu sangat suka sate. Pernah kami mengadakan pesta tahun baru, dan mereka mengunyah sate tak henti-henti.

Di rumah eksper Nomor 7 yang ada di belakang rumah kami, tinggal keluarga bangsa Korea. Ibuku menyebutnya Mr and Mrs Park. Anaknya ada dua. Namanya Mi’ah dan Cong Ah. Aku memanggil Cong Ah si Congek. Aku nakal sekali waktu kecil, asal tahu saja.

Pakaianku selalu dekil karena sering memanjat pohon. Kakiku sering telanjang jarang pakai sandal, karena sering memanjat pohon dan main di atap rumah. Rambutku warna kuning jagung, kering dan kepanasan. Selalu berkutu. Kulitku coklat gosong. Dan aku tidak suka melihat diriku sendiri di cermin. Jelek. Belum lagi kurusnya minta ampun. Aku bisa menghitung tulang rusukku dan tulang panggulku menonjol. Aku susah sekali makan.

Kalau bosan manjat pohon, aku main lumpur di kolam ikan, atau mengejar-ngejar ayam. Bersepeda keliling komplek dan mencari-cari tempat untuk berpetualang, karena buku bacaan favoritku adalah Enyd Blyton, Lima Sekawan.

Saat itu aku TK O Besar, begitu disebutnya, artinya itu duduk di tahun kedua. Tahun pertama disebut TK O Kecil. O-dibaca Nol, bukan huruf O. Reiyo dan Akira juga pergi ke TK yang sama denganku. Ibunya sering diundang dan mengajari kami Origami. Reiyo dan Akira sangat pandai membuat berbagai macam bentuk dari kertas warna-warni. Guru TK kami saja kalah telak. Sat set sut, mereka melipat kertas. Jadi burung. Lipat-lipat lagi, jadi kodok. lipat-lipat lagi, jadi kursi dan piano. Ibunya lebih canggih, dengan berbagai bentuk kertas dan cara melipat yang rumit, dia bisa membuat bola besar dengan duri bentuk segitiga bercucuk-cucuk. Bahkan tanpa lem.

Mi’ah dan Cong’ah hanya sebentar jadi tetangga kami. Mereka kembali ke Korea. Atau tugas di negara lain, aku lupa. Jadi aku tidak sempat bermain dengan mereka lama-lama. Ibuku yang sering belajar membuat kimchi dan Mrs Park. Walau kata ibuku rasanya lebih enak Asinan Bogor kemana-mana.

Siang hari sepulang sekolah aku bermain dengan Reiyo dan Akira, mereka kadang hanya bercelana dalam dan berkaus singlet saja saking panasnya udara di daerah ini. Orangtua mereka menyediakan satu kamar khusus untuk mereka bermain yang berisi aneka mainan banyak sekali. Yang paling aku kagumi adalah mainan kereta api yang seperti sungguhan, relnya dipasang dari kamar ke kamar, melewati terowongan dari buku dan aneka kontur alam buatan dari berbagai kotak, sepatu, dan aneka benda.

Aku tidak berani memegang mainan mereka kalau tidak diijinkan. Berbicara dengan Nyonya Muchida dan si kembar, aku menggunakan bahasa Tarzan. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Inggris aku tidak bisa, si kembar juga tidak. Jadi ya sudah. Bila memasak Nyonya Muchida tidak pernah menggunakan alat masak seperti sutil, selalu dengan sumpit. Bahkan untuk menggoreng telur.

Tuan Muchida membuatkan kedua anak itu rumah kayu kecil yang bagus sekali. Beratap Isinya adalah karya-karya mereka berupa gambar yang dipasang di dinding dalam rumah dengan paku payung. Kalau kami masuk bertiga rasanya sempit sekali.

Aku pernah dimarahi Nyonya Muchida dengan bahasa Jepang, karena menembak pipi salah satu anak kembar itu dengan pistol dengan peluru batang karet. Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Hanya bisa melihat telunjuk jarinya yang kecil runcing yang diacung-acungkan ke dekat wajahku dan tangan satunya bertolak pinggang.

Keluarga Muchida rupanya punya kebiasaan mengibarkan bendera. Entah apakah ini kebiasaan orang Jepang pada umumnya atau mereka saja. Mereka punya tiang bendera yang tinggi dan selalu mengibarkan bendera. Tidak hanya bendera bangsa Jepang, Hinomaru, yang berupa bulatan merah di tengah itu, tapi juga macam-macam bendera warna warni. Bahkan ada bendera dengan bentuk ikan. Moncongnya berupa bulatan kawat, dan bendera ikan berbagai bentuk ikan itu dikibarkan berbarengan. Bila tertiup angin maka terlihat seperti serombongan ikan berwarna-warni aneka bentuk yang meliuk-liuk.

Isi rumah keluarga Muchida tentu saja lebih bagus daripada rumah kami. Mereka punya piano besar dengan warna pelitur hitam, ada pedalnya terbuat dari kuningan. Nyonya Muchida dan si kembar kadang-kadang bermain piano saat aku sedang disana. Lagu-lagu Jepang sepertinya, karena tidak ada yang kukenal. Rumah mereka selalu rapi dan bersih, di atas meja kaca selalu ada vas berisi bunga. Ada akuarium dari kaca, tapi isinya bukan ikan, melainkan aneka ular. Sepertinya peliharaan Tuan Muchida. Ada yang hijau ada yang belang kuning.

Rumah kami jarang rapi dan selalu berisik. Aku dan adikku selalu bertengkar berebut apa saja. Ibuku jarang melerai kecuali kami sudah saling cakar dan babak belur.

Aku pergi ke sekolah TK naik mikrolet, dengan deretan kursi di dalamnya, milik kantor lembaga tempat ayah bekerja. Mobil ini bercat putih dengan polet biru muda, dan selalu berbau aneh, yang bikin aku pusing dan mual setiap menaikinya.

Suatu hari Reiyo dan Akira berulang tahun. Kami semua satu komplek perumahan diundang ke rumahnya. Aku tidak ingat makanannya ataupun apa acaranya. Yang jelas aku ingat setiap ada yang ulang tahun aku tidak pernah menolak untuk bernyanyi di depan semua anak lainnya. Lagunya apa saja yang aku ingat. Bintang Kecil atau semacamnya.

Yang unik dari ulang tahun ini dibanding ulang tahun anak lain adalah saat kami pulang selain diberi kantung berisi aneka makanan kecil dan permen juga bungkusan kado kecil. Ini lucu buat kami karena kan biasanya yang diundang yang memberi kado pada yang ulang tahun. Kadoku berisi aneka pinsil warna dengan tulisan Jepang, dan sebuah penyerut pinsil berbentuk capung berwarna merah yang bagus sekali.

Belum lama kami naik ke kelas O Besar, Reiyo dan Akira beserta orangtuanya tentu saja, kembali ke Jepang. Aku sedih sekali. Aku bahkan tidak bisa mengucapkan selamat berpisah atau apapun karena bahasa kami tetap saja bahasa Tarzan.

Aku diberi berbagai macam buku pelajaran sekolah (yang semuanya berbahasa Jepang), sebuah palang besi dan dudukannya yang sering dipakai si kembar bergymnastic gelantungan dan jungkir balik, yang segera kupakai untuk membuat ayunan dari kain selendang. Ibuku diberi aneka perabot. Gelas-gelas sake dan botol-botol sake. Beberapa diner set porselen dan ditawari untuk membeli piano besar mereka dengan harga Rp 500.000. Saat itu 500.000 besar sekali karena gaji ayahku hanya Rp 70.000 sebulan. Jadi ibuku menolak, dia menyesalinya sampai sekarang. Aku juga diberi boneka yang cantik sekali dengan baju seragam sekolah anak perempuan Jepang, yang seperti seragam pelaut itu. Boneka ini ada piringannya di punggung sehingga bisa disetel untuk bernyanyi. Namun aku yang nakal segera saja mencoreti muka boneka ini dengan spidol dan mencukur rambutnya menjadi acak-acakan. Bila ingat ini rasanya aku ingin menampari diriku sendiri saking menyesalnya.

Oh ya dan sampai sekarang aku hapal lagu kebangsaan Jepang.

Kimigayo wa
Chiyo ni yachiyo ni
Sazare-ishi no
Iwao to narite
Koke no musu made

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 560 other followers

%d bloggers like this: