Feeds:
Posts
Comments

Tempatku tinggal jauh dari kota. Di sekitar komplek kami tidak ada tempat hiburan, toko, apalagi yang namanya supermarket. Yang terdekat berada di jalan raya di luar kompleks perumahan adalah warung yang berjualan minyak tanah dalam drum dan aneka keperluan rumah tangga sederhana.

Jajanan saat itu yang bisa dibeli untuk anak-anak adalah coklat dengan bungkus warna merah putih dengan seekor ayam jago tercetak di kertas luarnya. Permen dalam dus kecil denga  gambar bunga-bunga di luarnya yang merknya sama dengan nama sebuah klub sepak bola Inggris, dan minuman rasa jeruk atau mangga dalam kemasan UHT. Tidak ada yang lain. Itu sudah mewah sekali.

Mie instan saja baru muncul dua merk. Pernah saat aku berumur 3 atau 4 tahun aku diberi mie instan kuah oleh ibuku. Aku sangat suka rasanya sehingga minta tambah. Total aku makan 1 1/2 porsi. Setelahnya aku sakit perut dan kembung. Berjam-jam aku menangis sementara ayahku menggendongku keluar rumah dan aku menghirup udara segar diluar sambil terua digendong ayah. Ibuku bilang itu “weureu” dalam bahasa Sunda. Artinya keracunan makanan karena kekenyangan. Setelah itu aku kapok makan mie instan. Lama sekali sesudahnya baru mau mencicipinya lagi.

Di jalan raya besar depan komplek yang merupakan jalan utama dan konon dibangun oleh Daendels sebagai jalan yang terbentang dari Anyer sampai dengan Panarukan, rumah-rumah gubuk atau terbuat dari bilik bambu berjejer. Ada satu dua dari tembok. Tapi kebanyakan adalah rumah dari bilik. Mayoritas adalah petani buruh dan tukang becak.

Ada kantor polisi kecil, kantor pos kecil, puskesmas, dan sekolah dasar. Berderet diselingi rumah-rumah tadi sampai ke terminal. Restaurant satu-satunya yang terdekat adalah sebuah restaurant dengan nama Restoran Indonesia. Menunya aku tidak tahu apa saja. Ibuku bila kesitu selau memesan satu menu saja. Yaitu Lontong Cap Go Meh.

Tidak lama seberang jalan Restoran Indonesia sebuah restoran bakmie dibuka. Ternyata milik adik dari pemilik Restoran Indonesia. Ayah Ibu kerap makan disana jika akhir minggu. Dan aku tidak pernah bisa menghabiskan mie di mangkuk untukku walau itu adalah setengah porsi saja. Menurutku banyak sekali soalnya. Minuma  yang selalu dipesan adalah es susu soda.

Terminal sekaligus pasar di tempat ini sepertinya pusat kegiatan paling ramai di desa Sukamandi Jaya. Di bagian depan adalah tempat nongkrong para preman dan entahlah orang-orang bagaimana, sebuah bangunan di bagian depan berdindinh terbuka dan diisi pedagang-pedagang poster dan barang-barang rongsokan atau onderdil bekas. Tukang becak banyak nongkrong di depan pasar yang kerap sekali becek dengan lumpur hitam saat musim hujan dan baunya bukan main.

Aku tidak populer di sekolah. Sepertinya anak-anak lain tidak suka main denganku. Biasanya aku dikucilkan sambil berbisik-bisik. Mungkin karena aku dekil. Judes pula. Aku juga tidak pernah membawa kue-kue yang enak ke sekolah. Jadi mereka tidak bisa tukar menukar kue seperti sesama mereka.

Aku kadang membawa kue marie regal yang kadang sudah melempem. Kue semprit sisa lebaran yang bau karet gelang karena lupa kumasukkan dengan karet gelang di kotaknya, atau cuma bekal potongan gula merah. Roti lapis mentega dan gula itu jarang sekali. Itu mewah. Apalagi kalau pakai meisjes. Ayah dan ibuku tidak kaya tapi ya tidak miskin juga. Tapi mereka hidup hemat.

Sejak lama mereka menerapkan sistem memenuhi pangan sendiri dari sekitar rumah. Apa sih istilahnya sekarang? Yang jelas rasanya kebutuhan makanan sudah terpenuhi dari halaman kami sendiri, bahkan beras pun ayahku punya sawah sendiri yang digarap orang lain dengan sistem bagi hasil. Ikan ada, ayam ada, bahkan kambing. Telur tersedia baik dari ayam maupun bebek. Jeruk, jambu air, mangga bergantian berbuah sesuai musimnya. Jagung, semangka, kacang panjang, tomat, singkong dan mentimun. Tapi ibuku kadang ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan lain, misalnya sesekali membeli udang atau ikan asin.

Saking banyaknya mangga bila musim mangga tiba, aku sangat pemilih dalam hal buah mangga. Mangga matang pohon yang ranum yang sudah ditandai biasanya. Kalau mangga yang hasil peraman atau kurang manis, no way. Aku sangat pemilih. Soalnya berlimpah. Jenis mangga macam-macam. Arumanis, golek, cengkir, dan simanalagi. Favoritku Arumanis.

Demikian juga dengan jambu. Aku sangat pemilih, pohon buah jambu kelutuk tidak menghasilkan buah yang sama. Ada yang manis renyah, ada yang masam. Ada yangdaging buah tipis, ada yang tebal. Ada yang berdaging buah merah, ada yang putih. Kesukaanku yang bentuknya seperti apel. Bijinya sedikit, rasanya manis dan daging buahnya renyah.

Kembali soal sekolah di TK. Aku tidak punya teman. Cuma seorang anak laki-laki bernama Andrew yang suka mengajak aku ngobrol atau menemaniku main ayunan. Itupun jarang kebagian. Ayunan dan perosotan adalah mainan primadona, dan dikuasai gang anak komplek Sang Hyang Seri. Aku yang datang dari komplek sekolah adalah warga nomor dua.

Padahal kalau main perosotan aku bisa berbagai macam gaya. Gaya duduk terbalik, gaya superman, gaya tiduran, dan macam-macam. Permainan lainnya macam gelantungan di besi-besi bukan favorit anak perempuan, karena celana dalam bisa terlihat oleh orang dibawah. Tapi aku sih dulu tidak peduli.

Kadang aku mendengar gang anak-anak perempuan berbisik-bisik tiap aku lewat, dengan bisikan yang dikeraskan, “CENTIL!”, kata mereka. Bahkan anak-anak yang datang dari satu komplek denganku juga tidak suka main denganku. Mungkin takut ketularan kutu. Mereka semua punya teman gandengan masing-masing.

Aku di kelas sangat antusias. Mengerjakan berbagai tugas dengan semangat, dan suka bertanya ini-itu pada guru. Bahkan protes kalau ada sesuatu yang menurutku tidak sesuai pemahamanku sebagai anak TK.

Sekarang ke sekolah aku tidak pakai mikrolet. Tapi langganan naik becak. Nama penarik becak tersebut adalah Mang Bi’an. Mang Bi’an tinggi kurus dan giginya ompong, sehingga terlihat seolah selalu tersenyum lebar. Kami naik becak berenam, sampai penuh becak itu dengan anak-anak TK bau kencur itu. Sampai sekali waktu, becak itu terguling karena bannya menggilas batu besar. Lutut kami luka-luka. Dan ternyata becak terguling itu tidak terjadi satu kali. Sering.

Favoritku duduk di dudukan becak depan. Merasakan angin segar yang bertiup dan sesekali kakiku bisa menyentuh aspal jalan.

Mang Bi’an punya anak sembilan. Yang kecil seumur denganku. Namanya Nuri. Istrinya gendut sekali dan suka pakai kain kebaya kekecilan dengan kain lurik sebagai bawahan baju. Rambutnya yang beminyak digelung dan di sudut bibir kanan atasnya ada kutil hitam besar sebesar buah leunca. Kalau tidak tahu buah leunca ya buah blueberry lah, tapi lebih besar sedikit dari blueberry.

Mang Bi’an selalu membawa bekal martabak. Bukan martabak lezat dan enak berlemak seperti jaman sekarang. Tapi martabak kampung yang terasa banyak sekali pakai soda kue. Isinya kacang yang rasanya sudah bukan seperti kacang. Tapi kacang bulukan. Soalnya sudah tidak renyah lagi. Martabak ini dibungkus koran. Mang Bi’an selalu membaginya pada kami. Dan percayalah, sampai sekarang aku selalu menganggap martabak Mang Bi’an ini martabak terenak di dunia.

Sampai akhirnya saat kenaikan kelas. Aku diikutsertakan drama musikal yang menggunakan lagu ini, “Kakak Mia, Kakak Mia, minta anak barang seorang, kalau dapat kalau dapat, hendak saya suruh berdagang”…dst. Aku tidak terpilih menjadi Kakak Mia, ataupun petani ataupun pedagang. Aku menari-nari di belakang entah gerakan apa dengan membawa selongsong dus dilapisi kertas berwarna.

Saat pengumuman juara kelas, aneh sekali ternyata aku menjadi juara. Disebutnya dulu bintang kelas. Agak lucu juga bahwa bintang kelasnya adalah seorang anak perempuan dekil yang kadang kancing bajunya hilang lepas, suka meler ingus, rambut merah terbakar matahari dan berkutu.

Komplek kecil di dalam komplek yang lebih besar, tempat tinggal baru kami dinamakan orang-orang disini “komplek eksper”. Asal kata dari “Expert” karena yang tinggal di komplek berisi 7 rumah ini adalah para ekspatriat. Ayah saya bukan ekspatriat, walau wajahnya mirip pemain bulu tangkis Rudy Hartono, dia bukan dari Hongkong. Rudy Hartono pun bukan dari Hongkong sepertinya.

Rumah kami dinamakan Eksper Nomor Enam. Segera ayahku membuat kolam ikan di sekitar rumah, hampir sekeliling adalah kolam. Bahkan parit pun berisi ikan. Di belakang rumah ayahku membuat kandang bebek, di pinggir rumah sebelah kiri ada kandang kelinci, ayam bangkok, ayam kate, kambing, dan kalkun!. Ayahku tergila-gila memelihara ternak dan hewan. Selain anjing kami juga punya kucing, bahkan monyet, dan elang. Dua terakhir dilepas kembali ke alam bebas. Ayahku juga memelihara burung. Seperti perkutut, tekukur dan jalak. Tapi banyak dilepaskan lagi. Kecuali merpati. Yang memang dipelihara dengan dilepas dan selalu balik lagi minta jagung kering.

Tak terhitung pohon buah-buahan yang ditanam ayahku sekitar rumah. Kelapa saja ada. Jambu air, jambu kelutuk, mangga aneka jenis, jeruk, belimbing, dan aneka bumbu dapur di halaman belakang. Aku menamai tiap pohon dengan nama-nama tokoh kartun. Dan sering memanjatnya satu-satu. Tapi favoritku adalah pohon kersen, pohon ketapang, pohon belimbing dan jambu air. Aku namakan batang bercabang yang enak diduduki di pundak pohon kersen sebagai “singgasana”. Jambu kelutuk batangnya licin dipanjat. Kalau belum pernah dipanjat batangnya memiliki kulit kerak yang belum terkupas, licin sekali bila lepas. Walau licin pohon jambu itu punya kelebihan, bisa dipanjat sampai batang kecil. Batangnya lentur tidak mudah patah. Kalau sering dipanjat batang licin bisa jadi kesat. Karena kayunya kuat dan liat, kayu jambu sangat baik untuk dibuat ketapel.

Pohon mangga tidak enak dipanjat. Batangnya rengas dan kulitnya kasar, getah daun mangga juga bikin gatal. Kena pakaian pun meninggalkan noda. Aku sangat suka memanjat pohon, bahkan pohon kelapa. Tapi pohon kelapa tertinggi tidak berani, jadi yang tingginya 5 meter saja, sering kupetik sendiri buah kelapa hijau yang airnya manis bukan main. Pohon jambu air juga rengas, tapi paling tidak buahnya kan enak dimakan, jadi aku suka memanjat pohon jambu air. Sampai kenyang makan buah jambu, baru turun. Atau kalau ibuku sudah berteriak-teriak meminta aku mencuci piring. Yang aku tidak suka pada pohon jambu air dan juga mangga, banyak semut apinya. Kami menyebutnya semut Rarangge. Larva dan telurnya yang disimpan oleh semut itu berupa gulungan daun yang disatukan, disebut kroto dan menjadi favorit makanan burung.

Aku juga suka memanjat pohon Flamboyan, walau batang sulit sekali dipanjat karena bundar dan besar, sedikit cabangnya dibawah. Licin pula. Karena aku suka sekali bunga oranye bergaris kuningnya yang sangat mencolok mata dan cerah. Sekali waktu aku jatuh dari pohon Flamboyan. Sakit sekali karena jatuhnya terlentang. Bertahun-tahun kadang suka masih terasa ada sakit menusuk di punggung belakang. Mungkin akibat dari jatuh itu.

Selain sekitar pohon di rumah sendiri yang sering kupanjat, pohon tetangga pun sering kupanjat. Rumah Eksper Nomor Satu adalah rumah direktur. Didepannya ada pohon-pohon cemara besar. Itu juga sering kupanjat bersama Lina, panggilan putri Pak Siwi. Kami namai pohon-pohon itu Helicopter. Jadi kami punya beberapa Heli untuk pergi ke berbagai tujuan. Ada Heli-1, Heli-2 dan sebagainya.

Rumah Eksper Nomor Dua diisi keluarga Indonesia juga. Namanya Pak Tohar. Sebelumnya juga rumah mereka adalah bersebelahan saat kami tinggal di rumah kami yang tipe kecil. Jadi kami kembali bertetangga.

Rumah Eksper Nomor Empat ditempati suami istri berkebangsaan Spanyol. Bernama Mr Graces. Istrinya bernama Maria. Cantik bukan main. Bayangkanlah bintang film telenovela yang cantik. Sudah? Ya seperti itulah. Kalau Mister Garses, berambut keriting di kedua sisi, tengahnya botak, berkumis tebal. Menurutku tidak cakep sama sekali. Mereka punya 5 ekor anjing. Empat Doberman dan satu Bulldog. Yang selalu menggonggong saat aku datang disuruh ibu mengantar makanan untuk mereka. Kebiasaan jaman itu kalau memasak sesuatu suka kirim-kirim tetangga. Demikian juga sebaliknya. Tetangga sering kirim-kirim kami.

Aku selalu menyebut diriku anak Tuan Garces setiap ada yang bertanya aku tinggal dimana, atau anak siapa. Entah kenapa.

Rumah Exper Nomor Empat diisi oleh pria berkebangsaan USA, bernama Mr Palmer, nama lengkapnya adalah Louis Palmer. Kata ibu, Louis itu dibaca Lui. Rambutnya disisir ke dengan tujuan yang tidak jelas, seperti gaya rambut Donald Trump, tapi ini lebih pendek. Istrinya orang Filipina, namanya Elena. Kulitnya gelap, rambutnya panjang keriting. Sering pakai pakaian terusan berupa rok panjang warna cerah dengan tali kecil di pundak. Dia tampak cantik dan eksotis seperti penari Flamenco. Aku pernah datang diajak orangtuaki ke rumah mereka suatu hari saat mereka mengadakan pesta. Aku diberi sebotol coke yang baru kutahu saat itu radanya seperti itu. Saat pertama minum hidungku terasa tertusuk oleh semburan soda. Rasa minuman itu menurutku aneh dan sensasional pada saat itu.

Rumah Nomor Lima diisi orang Jepang bernama Mr Miyamoto Muchida. Istrinya cantik sekali dengan rambut yang selalu disanggul kecil, mata sipit menjungkit, dan kulit yang sangat mulus seperti porselen. Pakaiannya selalu rapi berupa baju terusan selutut dengan corak bunga. Anaknya empat, dua yang besar perempuan tinggal di Jepang. Namanya Hiroko dan Hideko. Aku jarang bertemu mereka. Pernah mereka datang dengan pesawat berdua saja dari Jepang. Dan aku sangat heran anak seusia SD dan SMP berani pergi antar negara berdua saja.

Yang dua lagi kembar. Namanya Akira dan Reiyo. Mereka berambut lurus dengan poni dan selalu berpakaian sama. Aku tidak bisa membedakan mana Akira dan mana Reiyo. Mereka sangat identik. Kedua anak itu sangat suka sate. Pernah kami mengadakan pesta tahun baru, dan mereka mengunyah sate tak henti-henti.

Di rumah eksper Nomor 7 yang ada di belakang rumah kami, tinggal keluarga bangsa Korea. Ibuku menyebutnya Mr and Mrs Park. Anaknya ada dua. Namanya Mi’ah dan Cong Ah. Aku memanggil Cong Ah si Congek. Aku nakal sekali waktu kecil, asal tahu saja.

Pakaianku selalu dekil karena sering memanjat pohon. Kakiku sering telanjang jarang pakai sandal, karena sering memanjat pohon dan main di atap rumah. Rambutku warna kuning jagung, kering dan kepanasan. Selalu berkutu. Kulitku coklat gosong. Dan aku tidak suka melihat diriku sendiri di cermin. Jelek. Belum lagi kurusnya minta ampun. Aku bisa menghitung tulang rusukku dan tulang panggulku menonjol. Aku susah sekali makan.

Kalau bosan manjat pohon, aku main lumpur di kolam ikan, atau mengejar-ngejar ayam. Bersepeda keliling komplek dan mencari-cari tempat untuk berpetualang, karena buku bacaan favoritku adalah Enyd Blyton, Lima Sekawan.

Saat itu aku TK O Besar, begitu disebutnya, artinya itu duduk di tahun kedua. Tahun pertama disebut TK O Kecil. O-dibaca Nol, bukan huruf O. Reiyo dan Akira juga pergi ke TK yang sama denganku. Ibunya sering diundang dan mengajari kami Origami. Reiyo dan Akira sangat pandai membuat berbagai macam bentuk dari kertas warna-warni. Guru TK kami saja kalah telak. Sat set sut, mereka melipat kertas. Jadi burung. Lipat-lipat lagi, jadi kodok. lipat-lipat lagi, jadi kursi dan piano. Ibunya lebih canggih, dengan berbagai bentuk kertas dan cara melipat yang rumit, dia bisa membuat bola besar dengan duri bentuk segitiga bercucuk-cucuk. Bahkan tanpa lem.

Mi’ah dan Cong’ah hanya sebentar jadi tetangga kami. Mereka kembali ke Korea. Atau tugas di negara lain, aku lupa. Jadi aku tidak sempat bermain dengan mereka lama-lama. Ibuku yang sering belajar membuat kimchi dan Mrs Park. Walau kata ibuku rasanya lebih enak Asinan Bogor kemana-mana.

Siang hari sepulang sekolah aku bermain dengan Reiyo dan Akira, mereka kadang hanya bercelana dalam dan berkaus singlet saja saking panasnya udara di daerah ini. Orangtua mereka menyediakan satu kamar khusus untuk mereka bermain yang berisi aneka mainan banyak sekali. Yang paling aku kagumi adalah mainan kereta api yang seperti sungguhan, relnya dipasang dari kamar ke kamar, melewati terowongan dari buku dan aneka kontur alam buatan dari berbagai kotak, sepatu, dan aneka benda.

Aku tidak berani memegang mainan mereka kalau tidak diijinkan. Berbicara dengan Nyonya Muchida dan si kembar, aku menggunakan bahasa Tarzan. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Inggris aku tidak bisa, si kembar juga tidak. Jadi ya sudah. Bila memasak Nyonya Muchida tidak pernah menggunakan alat masak seperti sutil, selalu dengan sumpit. Bahkan untuk menggoreng telur.

Tuan Muchida membuatkan kedua anak itu rumah kayu kecil yang bagus sekali. Beratap Isinya adalah karya-karya mereka berupa gambar yang dipasang di dinding dalam rumah dengan paku payung. Kalau kami masuk bertiga rasanya sempit sekali.

Aku pernah dimarahi Nyonya Muchida dengan bahasa Jepang, karena menembak pipi salah satu anak kembar itu dengan pistol dengan peluru batang karet. Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Hanya bisa melihat telunjuk jarinya yang kecil runcing yang diacung-acungkan ke dekat wajahku dan tangan satunya bertolak pinggang.

Keluarga Muchida rupanya punya kebiasaan mengibarkan bendera. Entah apakah ini kebiasaan orang Jepang pada umumnya atau mereka saja. Mereka punya tiang bendera yang tinggi dan selalu mengibarkan bendera. Tidak hanya bendera bangsa Jepang, Hinomaru, yang berupa bulatan merah di tengah itu, tapi juga macam-macam bendera warna warni. Bahkan ada bendera dengan bentuk ikan. Moncongnya berupa bulatan kawat, dan bendera ikan berbagai bentuk ikan itu dikibarkan berbarengan. Bila tertiup angin maka terlihat seperti serombongan ikan berwarna-warni aneka bentuk yang meliuk-liuk.

Isi rumah keluarga Muchida tentu saja lebih bagus daripada rumah kami. Mereka punya piano besar dengan warna pelitur hitam, ada pedalnya terbuat dari kuningan. Nyonya Muchida dan si kembar kadang-kadang bermain piano saat aku sedang disana. Lagu-lagu Jepang sepertinya, karena tidak ada yang kukenal. Rumah mereka selalu rapi dan bersih, di atas meja kaca selalu ada vas berisi bunga. Ada akuarium dari kaca, tapi isinya bukan ikan, melainkan aneka ular. Sepertinya peliharaan Tuan Muchida. Ada yang hijau ada yang belang kuning.

Rumah kami jarang rapi dan selalu berisik. Aku dan adikku selalu bertengkar berebut apa saja. Ibuku jarang melerai kecuali kami sudah saling cakar dan babak belur.

Aku pergi ke sekolah TK naik mikrolet, dengan deretan kursi di dalamnya, milik kantor lembaga tempat ayah bekerja. Mobil ini bercat putih dengan polet biru muda, dan selalu berbau aneh, yang bikin aku pusing dan mual setiap menaikinya.

Suatu hari Reiyo dan Akira berulang tahun. Kami semua satu komplek perumahan diundang ke rumahnya. Aku tidak ingat makanannya ataupun apa acaranya. Yang jelas aku ingat setiap ada yang ulang tahun aku tidak pernah menolak untuk bernyanyi di depan semua anak lainnya. Lagunya apa saja yang aku ingat. Bintang Kecil atau semacamnya.

Yang unik dari ulang tahun ini dibanding ulang tahun anak lain adalah saat kami pulang selain diberi kantung berisi aneka makanan kecil dan permen juga bungkusan kado kecil. Ini lucu buat kami karena kan biasanya yang diundang yang memberi kado pada yang ulang tahun. Kadoku berisi aneka pinsil warna dengan tulisan Jepang, dan sebuah penyerut pinsil berbentuk capung berwarna merah yang bagus sekali.

Belum lama kami naik ke kelas O Besar, Reiyo dan Akira beserta orangtuanya tentu saja, kembali ke Jepang. Aku sedih sekali. Aku bahkan tidak bisa mengucapkan selamat berpisah atau apapun karena bahasa kami tetap saja bahasa Tarzan.

Aku diberi berbagai macam buku pelajaran sekolah (yang semuanya berbahasa Jepang), sebuah palang besi dan dudukannya yang sering dipakai si kembar bergymnastic gelantungan dan jungkir balik, yang segera kupakai untuk membuat ayunan dari kain selendang. Ibuku diberi aneka perabot. Gelas-gelas sake dan botol-botol sake. Beberapa diner set porselen dan ditawari untuk membeli piano besar mereka dengan harga Rp 500.000. Saat itu 500.000 besar sekali karena gaji ayahku hanya Rp 70.000 sebulan. Jadi ibuku menolak, dia menyesalinya sampai sekarang. Aku juga diberi boneka yang cantik sekali dengan baju seragam sekolah anak perempuan Jepang, yang seperti seragam pelaut itu. Boneka ini ada piringannya di punggung sehingga bisa disetel untuk bernyanyi. Namun aku yang nakal segera saja mencoreti muka boneka ini dengan spidol dan mencukur rambutnya menjadi acak-acakan. Bila ingat ini rasanya aku ingin menampari diriku sendiri saking menyesalnya.

Oh ya dan sampai sekarang aku hapal lagu kebangsaan Jepang.

Kimigayo wa
Chiyo ni yachiyo ni
Sazare-ishi no
Iwao to narite
Koke no musu made

Simple Yoga: Surya Namaskat

image

Kalau tidak sempat pergi berolahraga ke luar atau ingin melakukan  olahraga di rumah saja, saya sering melakukan surya namaskar 36 putaran.

Biasanya kalau di kelas Yoga, gerakan surya namaskar ini untuk pemanasan ke sesi berikutnya. Namun kalau di rumah saja bila tanpa bimbingan guru, saya sih cukup melakukan gerakan ini saja. Salah-salah keseleo gara-gara coba garuda pose kayaknya gak lucu, bakalan abis diketawain anak-anak.

Kalau ada yang mau bayarin saya jalan-jalan ke luar negeri, saya saat ini udah menentukan pilihan pertama. Bayarin saya ke Wales ya. Saya ingin pergi ke tempat yang unik ini dengan pelafalan nama tempat yang entah gimana ngucapinnya dan punya emblem nasional dengan gambar bawang daun alias leek.

Sepertinya akan menarik bila ada yang tanya,

“Mau pergi kemana Mi?”

Lalu saya akan membaca di oretan telapak tangan,

“errr…mau ke Llanfairpwllgwyngyllgogerychwyrndrobwllllantys”

yang entah gimana juga cara membacanya.

Llanfairpwllgwyngyllgogerychwyrndrobwllllantys ini artinya “Saint Mary’s Church in a hollow of white hazel near the swirling whirlpool of the church of Saint Tysilio with a red cave”

Dan saya engga ngetik ini ya, pastinya sih dapat copy paste.

IMG_6764-1500x1000

Suatu Tempat di Pantai Utara

Aku selalu ingin bercerita tentang tempat dimana aku dibesarkan. Tempat ini menurutku sangat indah dan sangat menarik. Mungkin karena aku bahagia tinggal disana. Padahal tempat ini adalah tempat terpencil, gersang, jauh dari kota, dan memiliki tingkat kriminalitas tinggi.

Tempat ini bernama desa Sukamandi Jaya, Kecamatan Ciasem Girang. Secara geografis desa ini berada di dekat sungai yang akan bermuara di pantai utara. Sehingga ada dekat pantai sana agak jauh dari desa tempatku tinggal, desa yang bernama muara. Rumah-rumah di desa sini banyak dari bilik bambu berlantai tanah dengan balai-balai bambu juga. Mata pencaharian sebagian penduduk di kala itu, adalah buruh tani, penarik becak, supir, pedagang di pasar, buruh kasar di kota, dan penjaja cinta di warung remang. Ini betul, warung remang banyak di daerahku tinggal dulu. Walau dulu saya tidak mengerti.

Perumahan tempatku tinggal adalah kesenjangan sosial yang jomplang dengan perumahan desa sekitar komplek. Komplek rumah saya adalah perumahan berbagai tipe sampai yang besar-besar untuk ekspatriat berkebangsaan asing, sekitar kami berpagar duri dan dijaga satpam siang malam 24 jam. Tapi satpam disana baik-baik dan ramah. Bersepeda, senjatanya hanya pentungan karet. Tidak ada yang kekar seperti tentara. Bahkan Mang Wartam, pendek kecil, satu lagi Mang Dadang, tinggi ceking. Ada sih yang agak tegap bernama Hasan Basri, dan dia menjalin cinta dengan pembantuku di rumah bernama Maryati, dan kemudian mereka menikah, pulang ke desa Hasan Basri di Jawa Tengah dan memiliki banyak anak.

Di kelilingi sawah yang sangat luas sampai ribuan hektar, dan desa kumuh berbilik bambu yang kadang beberapa orang menyambung hidup dengan ‘ngasag’, memilah dan mencari bulir-bulir padi sisa panen di pesawahan demi sesuap nasi, komplek kami bergelimang fasilitas. Beberapa rumah ekspatriat ini diperaboti dengan perangkat dan peralatan listrik bermerk General Electric. Sampai ke water heaternya yang besar dan membutuhkan catu daya listrik ribuan watt. Mesin cuci, kulkas yang besar, blender dan oven, juga kompor listrik semua ada dijadikan pelengkap rumah. Asisten rumah tangga, satpam, dan tukang kebun plus sopir dan mobil dinas sudah tersedia.

Saat aku dibawa ke desa ini dari Bandung oleh ibuku, katanya umurku 8 bulan. Ayah ibuku menempati rumah kecil tipe 45 berhalaman luas, ada kolam ikan di belakang rumah, pohon jamblang atau duwet berbuah ungu kehitaman yang sekarang mulai langka, halaman rumput yang lumayan lega dimana anjing kami biasa berlari-lari, dan sebuah pohon jambu klutuk yang batangnya besar-besar bengkok dan tumbuh rendah merunduk sehingga mudah dipanjat.

Adikku lahir saat aku berumur 4 tahun di suatu senja yang mulai gelap. Aku ingat sekali aku melongok ke kamar saat adik laki-lakiku ditimbang dan semua orang tampak girang melihat kelaminnya yang kecil dan coklat itu. Kamar di rumah ini hanya 2 jadi aku tidur dengan ayah dan ibu. Sehari-hari aku bermain dengan anjing atau bersembunyi di belakang lemari dan sibuk berbicara sendiri. Kadang aku menyelinap ke belakang TV hitam putih kami untuk mencari rumah Adi Bing Slamet dan Chica Koeswoyo, juga Bobby anaknya Muksin Alatas, yang sedang ngetop banget sebagai penyanyi anak-anak.

Aku heran dimana mereka bersembunyi saat TV dimatikan. Aku pikir mereka tinggal di rumah-rumah kecil berbentuk kaca yang ada di balik tv itu. Saat itu komponen TV bisa dilihat semua kalau tutup belakangnya diangkat. Aku selalu memanggil-manggil mereka agar keluar dan bernyanyi lagi di layar TV. Tapi rupanya sia-sia. Mereka hanya mau keluar bila jam sudah menunjukkan waktu petang. Itupun kalau setelah acara Hasta Karya, atau belajar Bahasa Inggris bersama Nyonya Nisrina Nur Ubay.

Ibuku dulu bekerja dan aku selalu menangis saat dia pergi ke kantor. Ingin ikut. Umur 5 tahun ayah membawa kami ke rumah yang lebih besar, di komplek ekspatriat yang rumahnya hanya 7 saja. Katanya diminta direktur instansi kami yang orang Manado dan baik hati itu. Namanya Bapak Bernard Hendrik Siwi. Putri tunggalnya bernama Natalia Carolina. Karena lahir di Amerika, di Caroline Utara.

Suatu sore dengan mobil bak terbuka kami pindah rumah. Anjing kami berlari mengikuti kami, sementara ibuku menggendong adik bayi laki-laki, dan aku disuruh menjaga bungkusan berisi pecah belah agar tidak terguncang dan pecah berantakan.

Dan rumah yang besar ini sungguh lapang. Aku sibuk kesana kemari melihat perabotan rumah dan perabotan rumah tangga yang tersedia yang menurutku mengherankan sekali. Aku kagum melihat blender dan oven besar yang sepertinya aku muat di dalamnya. Kulkas juga besar sekali aku juga bisa bersembunyi disitu.

Tiap kamar sudah tersedia ranjang dan lemari kayu yang tinggi sampai ke langit-langit. Ada kamar mandi besar dengan bath tub dan shower, yang mana ini sangat membuat aku bahagia dan seringkali aku mandi berjam-jam disitu.

Biarkan aku bercerita tentang rumah dimana aku tinggal bertahun-tahun kemudian ini, karena aku sangat mencintai rumah yang kini tinggal puing itu.

Dari segi model sebetulnya biasa saja dibanding dengan model rumah jaman sekarang, besarnya mungkin 250m2. Dari depan jalan utama ada jalan masuk sekitar 2o meter menjorok ke depan rumah. Rumah-rumah besar ini hanya 7 mengeliling sebuah lapangan rumput berbentuk oval dengan pepohonan akasia dan berbagai pohon peneduh lainnya di sekelilingnya.

Jalan masuk kecil ini dipagari dengan semak pohon bunga sepatu atau disebut juga bunga raya di pinggirnya. Bunganya berwarna merah, salem, oranye dan putih. Semarak dan cantik sekali. Bila dipangkas semak ini mengeluarkan wangi daun yang menyengat yang baunya sampai sekarang aku masih bisa membayangkan. Ada pohon flamboyan juga di halaman rumah kami yang luas ini, bunga-bunga merah oranyenya sangat bagus bila sedang berbunga dan berguguran ke halaman. Ada pohon-pohon mangga arumanis yang buahnya manis sekali, pohon jambu kelutuk yang rajin sekali berbuah sampai rasanya aku tidak bisa suka lagi buah jambu saking seringnya makan buah jambu. Ada pohon kersen yang menjadi pohon favoritku setiap selalu, dan masih banyak pepohonan lainnya yang aku sangat suka.

Rumah dinas ayahku berwarna abu-abu dan putih. Atapnya dari kayu sirap. Kamar berjumlah 4 dan 2 diantaranya dipasang AC yang saat itu adalah barang mewah sekali. dan juga ada gudang. Tiga kamar mandi dan ruangan-ruangan lain sesuai fungsinya. Tiba-tiba perabotan yang dibawa ibuku terasa sangat sedikit di rumah luas ini. Di teras depan ada ruangan dengan tembok dari batu alam. Ini ruangan terbuka dan setiap sisinya dipasang kawat nyamuk, mungkin ini tempat cari angin duduk-duduk di depan. Kawat nyamuk karena nyamuk disini ganas sekali. Satu sih, tapi temannya ribuan.

Mobil ayahku adalah Jeep Hardtop berwarna merah. Tadinya mobil kami adalah Landrover abu-abu, sempat ganti jadi Jeep Canvas. Yang terakhir ini Jeep Hardtop tetap dipakai ayahku puluhan tahun, sampai aku bekerja dan kami pindah ke Bandung.

Foto Itu

10317-28178
Suatu siang entah di hari apa tanggal berapa. Sudah lama jadi lupa detailnya. Aku dan dia pergi berjalan-jalan dengan mobilku berdua saja. Dan dia menyetel lagu dari radio kencang, dan aku benci lagunya. Aku tidak ingat lagu apa, yang jelas lagu berisik jenis house music yang aku sangat tidak suka. Dia tidak mau mematikan radio dan aku kesal sampai menangis.

Oh ya aku tidak suka jenis musik seperti itu. Musik dugem kalau orang bilang. Aku suka berkeringat dingin dan resah bila mendengar nada-nada jenis yang seperti itu.

Berkeliling Bandung tanpa tujuan akhirnya kami pergi ke Lembang, sampai di Lembang kami lanjut ke Gunung Tangkuban Parahu. Duduk-duduk pinggir kawah dan kedinginan oleh kabut dan gerimis tipis.

Dia memanggil tukang foto keliling, dan kami berdua berfoto berpelukan. Tepatnya, aku duduk di depan dia dan dia memelukku dari belakang. Kami berdua tersenyum. Bahagia. Dan masih muda. Tidak tahu ke depan hidup kami akan seperti apa. Namun saat itu kami masih punya mimpi untuk masa depan berdua. Senyum kami tercetak disitu.

Fotonya hilang. Aku tidak bisa menemukannnya sekarang. Dulu sempat bertahun-tahun foto berbingkai kayu coklat tua itu ada di meja kerjaku.

Beri Aku Lupa

Mungkin terdengar melankolis.

Tapi memang saat ini aku memang sedang mengingat-ingat, kapan aku terakhir merasa sangat bahagia.

Karena katanya bahagia itu tergantung pikiran kita sendiri. Bahagia atau sedih adalah hasil dari pemikiran kita sendiri dalam memandang sesuatu.

Kalau seperti itu kenapa aku harus merasa sedih? Kenapa kebahagiaan dan kesenanganku tergantung pada orang lain?

Kenapa aku harus merasa berat bernafas padahal udara yang kuhirup masih seperti kemarin.

Mengapa aku harus merasa sepi ditengah hingar bingar…mengapa aku harus merepotkan diri dengan pikiran itu-itu saja.

Katanya lupa itu ada untuk kita lepas dari luka. Agar hal-hal menyakitkan yang menoreh menutup kembali seperti daging dan kulit yang menyatu kembali. Yah masih ada bekas. Tapi tidak menganga dan mengucur darah. Andaikan dapat kupinta lupa, Tuhanku berikan aku lupa yang banyak. Khusus tentang hal yang satu itu. Agar aku tidak mengingat walaupun sekedar namanya. Agar aku tak mengeluh bahwa hidup ini lengang tanpa hadirnya.

Nocturno

Aku sangat mencintainya sampai sakit rasanya. Dan saking sakitnya rasanya  sampai menjadi kebas. Maksudku kadang perasaanku tumpul. Tidak bisa menangis karena buat apa menangis. Tidak bisa berpikir karena tak ada jalan lagi. Tidak bisa berbuat apa-apa tepatnya. Jalani saja.

Kevin pernah bilang saat aku tanya bagaimana perasaannya kepadaku, katanya dia sendiri tidak tahu bagaimana mengatakannya, karena buat dia ini adalah sesuatu sulit dijelaskan.

Suatu hari saat aku menelepon entah berapa tahun yang lalu, aku menangis.

Dia tidak suka aku menangis.

Dia bilang, bahwa kita tidak bisa bersama adalah terjadi karena wrong time wrong decision. 

Dan berulang-ulang setelah itu kita bisa berjam-jam membahas kenapa ini bisa terjadi. Biasanya saling menyalahkan satu sama lain. Kemudian pembicaraan kita terus berandai-andai. Andaikan dulu kita begini, andaikan dulu kita begitu.  Dan kedepannya, andaikan bisa begini andaikan bisa begitu.

Aku tidak tahu seserius apa Kevin dalam hal pembahasan ini. Nada suaranya jarang terdengar sedih. Biasa saja seperti tanpa emosi berlebihan. Bukan nada suaranya yang membuat aku tambah sedih. Tapi apa yang dia ucapkan.

Aku yang sedih kadang menangis. Kadang dia berandai punya anak laki-laki, kadang dia berandai untuk datang ke rumahku yang sekarang, berdiam di kebun dan menatap gunung Burangrang dan Malabar di kejauhan dari atap rumahku. Kadang dia juga tiba-tiba bersemangat mengajakku ke kampungku dan menginap di rumah nenekku. Atau menyuruhku pergi ke Manado dan melihat bekas sekolahnya dulu.

Dan pernah, dia bilang “Kenapa kamu menikah dengan yang lain? Padahal tidak usah, ada aku yang akan menjaga kamu”.

Aku jawab,

“Kamu engga pernah bilang begitu dulu”

Dia jawab,

“Aku tidak tahu kalau kamu mau untuk aku…”

Setelah itu kami tidak bisa bilang apa-apa lagi dan pembicaraan akan beralih pada hal-hal absurd dan tidak penting lainnya. Untuk mengalihkan pikiran dari hal yang bikin sedih dan ucapan penyesalan.

Bertahun aku pacaran dengan Kevin anehnya aku tidak pernah pergi nonton film bareng. Atau duduk di taman berdua misalnya. Atau pergi kemana naik motor berboncengan.

Kami banyaknya duduk saja mengobrol. Atau dia bekerja dengan laptopnya dan aku duduk saja memperhatikan. Dulu pernah suatu malam aku saking takutnya kehilangan momen bersamanya aku menahan diri tidak tidur. Aku takut tertidur dan hilang lah jam dimana aku bisa menatap wajahnya dan mengelus rambutnya sesekali. Padahal selalu waktu bersamanya sangatlah sedikit. Konyol betul ya. Kayak di cerita kartun Jepang saja. Tapi ya memang begitu adanya.


My shattered dreams and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands, standing close to someone else
Now I sit all alone wishing all my feeling was gone
I gave my best to you, nothing for me to do
But have one last cry

Chorus:
One last cry, before I leave it all behind
I’ve gotta put you outta my mind this time
Stop living a lie
I guess I’m down to my last cry

Cry……

I was here, you were there
Guess we never could agree
While the sun shines on you
I need some love to bring on me
Still I sit all alone, wishing all my feeling was gone
Gotta get over you, nothing for me to do
But have one last cry

Chorus:
One last cry, before I leave it all behind
I’ve gotta put you outta my mind this time
Stop living a lie
I know I gotta be strong
Cause round me life goes on and on and on
And on…..

I’m gonna dry my eyes
Right after I had my
One last cry

Chorus:
One last cry, before I leave it all behind
I’ve gotta put you outta my mind for the very last time
Been living a lie
I guess I’m down
I guess I’m down
I guess I’m down…
To my last cry…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 519 other followers

%d bloggers like this: